Pada senja, suatu ketika

: kepada Daniel Surya Atmaja

/1/

Sepeninggalmu, aku kerap berbicara dengan senja, sendiri tentu saja.

/2/

Danil, senja menyimpan banyak kenangan tentang dirimu. Tentang kita. Masih jelas bagaimana pesona tawamu menampik segala kesedihan yang terus kau pendam. Bahkan diammu adalah jeda yang selalu kusuka, begitu syahdu, seolah kau membiarkan pikiran kita berenang dalam kepala masing-masing. Namun apa kau tahu, aku selalu berusaha menyelami apa yang dibenakmu. Ketika itu betapa ingin aku memelukmu, namun tanganmu selalu datang terlebih dahulu mengacak rambutku.

Terkadang aku tak bisa menahan tangisku.

/3/

Apa kau tahu seberapa keras aku menatap hari dimana tak kutemukan sosokmu yang berlarian di tanah lapang milik Haji Bakrie? Apa kau bisa merasakan sesaknya dada ini tiap kali ada yang bercerita tentang kejadian bagaimana kau terenggut? Meski aku mendengarnya tak sengaja, lalu mulut-mulut itu akan terdiam ketika mata mereka menangkap sosokku.

Aku temanmu, tentu saja. Aku sahabatmu, kita menanggapinya demikian. Atau “Mereka  saudara kembar.” Itu kata para tetangga yang sering kita dengar. Jadi wajarkah aku jika kedukaan membawa kepincangan diri. Ah, tidak. Tidak akan cukup kata sahabat. Tidak. Kau adalah matahariku, kau penyangga hatiku dan kau telah merebut segala perhatianku sejak masa kita masih bermain lumpur dikala penghujan datang.

Dan, senja selalu tak memberiku jawaban kenapa kau pergi begitu cepat, bahkan tak satupun kata pamit sempat kau ucapkan kepadaku. Namun, siapakah aku yang dengan lantang berteriak kepada langit merah agar angin membawamu kembali disisiku, sementara kematian adalah suatu siklus dan takdir yang harus ditempuh. Siapakah aku dihadapan Izrail meminta menangguhkan nyawamu sedang Allah telah mengutus malaikat-Nya itu menjemputmu.

/4/

Sudah kubilang, aku lebih suka fajar ketimbang senja. Segala detak kehidupan akan memulai denyutnya. Namun kau bersikeras menitip kenang pada langit yang merona merah kala sore itu. Dan, sepertinya aku akan mengalah perihal kesepakatan kita tentang senja. Dulu, kau ingat bukan, dimana aku akan menolak tiap kali kau letakkan cerita pada langit merah itu. Sedang aku memilih untuk terus berjalan tanpa harus menunggu senja menumpuk kenang.

/5/

Selalu, rasa lelah yang amat sangat kurasakan diakhir percakapanku dengan senja.

Dan, aku tak kuat, sungguh. Tolong kembalilah. Airmataku ini Dan, liatlah, tak terbentung jika ingat besok pagi tak akan ada suara teriakanmu dan deru motor menjemputku, Dan, kenapa aku tak ikut mati saja saat itu. Mungkin aku tak akan  merasakan kerapuhan seperti ini.

Ryan Dharmaputra

————————————————-

Sekuel dari Kenangan nih. Silakan tinggalkan komentar. Terima kasih ^^. AAaargghh setresss ini memang ga bisa copas dari word yakkk T___T #nulis ulang #