Agustus 2011

Siang itu aku tengah menunggu kereta di sebuah stasiun tua, stasiun yang bahkan tak nampak seperti stasiun lagi. Hanya plang besar dan para calon penumpang setia penunggu kereta disitulah yang seakan memberikan nafas sisa pada stasiun ini. Kutatap plang bertuliskan Stasiun Porong diatasku itu. Tulisannya telah kusam, aku menduga usi plang ini usianya lebih tua dari umurku sendiri.
Mataku menerawang ke arah samping stasiun, menatap bekas reruntuhan pasar yang kini tak berpenghuni. Los-los pasar, kios yang tak terhitung jumlahnya, dan ruko-ruko yang berderet di bagian depan menghadap jalanan yang ramai. Kini semua itu telah lenyap, dan hanya satu kata penyebabnya. Bangkrut. Tak ada lagi denyut kehidupan disana. Dulu saat masih ramai-ramainya, aku sering menutup hidung melihat betapa joroknya pasar kecil itu. Pedagang yang menjual sayur mayur, buah, rempah-rempah dan bahan produktif lain tumpah ruah di tempat ini. Ukurannya memang tak sebanding dengan pasar di tempatku, namun rekor sampah yang dibuat hampir sama dengan yang ada di tempatku. Bencana lumpur menenggelamkan denyut kehidupan pasar ini, membuatnya sesak napas, hingga akhirnya kini yang tersisa adalah reruntuhannya.
Sejujurnya, tempat ini lebih mengerikan dibanding saat ramai-ramainya dulu. Puing-puing bangunan berserakan tak karuan seakan telah diserang oleh serbuan rudal balistik. Ruko-ruko yang berdiri berjajar itu kini telah lenyap. Mataku bahkan dapat melihat langsung jalanan yang ramai lengkap dengan segala kemacetannya yang kini menjadi pemandangan sehari-hari itu.
Aku melangkah masuk ke dalam stasiun. Membeli satu tiket untukku dan menunggu dengan perasaan nyaman yang agak dipaksakan. Bahkan tempat tunggunya pun begitu sederhana, kursi panjang yang berderet sepanjang ruangan stasiun.
Pandanganku menatap ke arah sekeliling, melihat berbagai kegiatan yang ada. Seorang Ibu paruh baya sedang duduk tertidur dengan sekeranjang besar berisi bawang merah dan bawang putih. Mungkin Ibu itu berencana menjualnya di Surabaya. Tidurnya terlihat damai, sekalipun terlihat beberapa bulir keringat di dahinya, yah, aku hanya bisa berdoa semoga dagangan Ibu itu laris manis di Surabaya nanti.
Ada juga beberapa anak kecil yang bermain-main diatas rel kereta api, betapa membahagiakannya melihat mereka tertawa kesenangan. Itulah yang aku sukai dari anak kecil. Mereka selalu total dengan apa yang mereka lakukan, saat ingin tertawa mereka akan tertawa sepuasnya, saat sedih mereka akan menangis sejadi-jadinya. Apa yang mereka pikirkan hanyalah saat ini, mereka tak peduli keadaan lampau atau nantinya di masa depan. Pikiran mereka selalu polos dan murni, aku kadang miris melihat betapa orang tua mereka telah menyusupkan berbagai pikiran negatif yang kadang mereka tak sadari efeknya ke depan. Berbagai kata “ tidak “ acapkali mereka terima daripada kata “ ya “ atau “ boleh “. Sehingga membentuk ulang pikiran dan alam bawah sadar mereka, dan itu mereka bawa hingga dewasa dan menjadi bagian dari karakter mereka.
Seorang bapak dan anaknya tengah duduk dengan sabar sambil bermain dengan rubiks, terlihat sekali anak itu tertarik untuk menyusun semua potongan rubiks itu agar berwarna sama. Aku tersenyum melihat ekspresi anak itu. Kadang saat merasa kesulitan dia akan mengerutkan kening pertanda bingung, namun akan sumringah saat dia akhirnya bisa menyelaraskan puzzle tersebut. Ekspresinya betul-betul lucu.
Pandanganku terhenti saat melihat seorang Ibu yang mungkin usianya sama dengan Ibuku tengah duduk di lantai bersama putranya. Usianya mungkin juga sama denganku, sebab postur tubuhnya tak jauh beda. Namun aku melihat sesuatu yang berbeda dari anak itu, tubuhnya agak ringkih, dan matanya kadang tak fokus. Bicaranya pelan sekali dan kadang tak jelas. Mereka duduk menghadap ke arah kereta yang datang, sesekali Ibu itu mendekatkan telinganya ke bibir anak tersebut, seakan mencoba untuk mendengar tiap perkataan dari putranya itu. Tak perlu diberitahu dan aku ceritakan pun pasti tahu apa yang sedang dialami anak seusiaku itu. Caranya menatap, matanya yang terlihat tak fokus, gestur tubuhnya.
Aku sedikit tertegun menatap anak itu, remaja seusianya biasanya tak akan mau dipeluk Ibunya seperti itu. Aku saja kadang jengah saat dipeluk Ibu seperti itu. Aku kan sudah besar, itulah yang kukatakan tiap kali beliau memelukku sayang. Tapi dia terlihat nyaman didalam pelukan Ibunya itu.
Seakan tak peduli dengan lantai stasiun yang kotor, Ibu itu dengan sabar dan penuh rasa sayang duduk dibelakang putranya, memeluknya dan terkadang mengarahkan tangan putranya ke arah yang ingin ditunjuk anak itu. Sambil sesekali menjelaskan kepada putranya apa yang dia lihat. Saat Ibunya berkata sesuatu di telinganya, seketika wajah anak itu terlihat gembira dan tertawa. Beberapa kali aku melihat Ibu itu mengecup kening putranya dengan sayang. Aku sangat yakin Ibu itu bahkan rela menghadang peluru untuk melindungi putranya itu, ralat, mungkin semua Ibu akan melakukan hal itu untuk anaknya. Mereka berdua seakan tak peduli dengan lalu lalang manusia dan segala hiruk pikuknya. Yang ada dunia adalah milik mereka berdua. Sesekali aku mendengar Ibu itu berbicara agak keras agar anaknya mengerti maksudnya.
“ Itu awan “ kata Ibu itu keras di telinga anaknya.
“ Oh … awan … awan … bagus ya Ma … awannya putih “ anak itu bertepuk tangan senang sambil sesekali menunjuk awan-awan di langit, Ibu itu terlihat ikut bergembira bersama putranya. Wajahnya memang terlihat lelah, namun lelah itu adalah lelah kebahagiaan. Perasaan lelah yang sirna saat melihat betapa kebahagiaan terpancar dari raut muka putranya itu.
Kemudian terdengar pengumuman tentang kereta yang akan datang, semua orang yang akan naik terlihat bersiap-siap untuk menunggu kereta. Tak terkecuali Ibu dan putranya yang duduk di lantai tadi. Ibu itu membantu putranya berdiri, sambil berjalan agak terseok. Anak itu berjalan di dampingi Ibunya. Begitu kereta datang, Ibu itu dengan penuh rasa sabar dan perhatian menunggu anak itu memanjat pintu kereta sambil sesekali mendorong anaknya agar naik. Setelah anaknya masuk ke dalam kereta, Ibu itu menyusul putranya masuk. Bahkan di dalam kereta pun, Ibu itu sekali lagi duduk di lantai kereta. Dengan sabar dia bersila di dekat putranya, hanya sekedar untuk menuruti keinginan putranya untuk duduk di lantai kereta.
Sekali lagi, Ibu itu duduk seakan di menduduki permadani Persia, melihat betapa nyamannya Ibu itu duduk di samping putranya yang bersila menatap jendela kereta. Beberapa penumpang mempersilahkan Ibu itu untuk duduk di bangku milik mereka, namun Ibu itu menolak. Dia tak mau duduk sementara anaknya “ ngemper di lantai dan “ tak ada yang memperhatikan. Mereka agak kasihan dengan Ibu itu, namun Ibu itu bersikap tak peduli. Yang dia pikirkan hanyalah bersama anaknya, menimati tiap detik kehidupannya bersama putra tercintanya itu.
Tenggorokanku tercekat melihat pemandangan itu, sungguh ….
Betapa putih hati Ibu itu. Dan aku pikir, semua Ibu pastilah seperti beliau. Ibu itu tak sedikitpun memikirkan dirinya, yang ada hanyalah bagaimana agar putranya itu terhibur di tengah keterbatasan yang dia miliki. Mungkin bagi beberapa orang, cacat mental seperti sebuah penyakit yang menjijikkan. Dan para penderitanya acap kali diremehkan. Hak mereka seakan dirampas. Dan tentu saja, umumnya orang melihat orang cacat selalu sebelah mata. Namun Ibu itu, dengan penuh rasa sayang dan kesabaran yang luar biasa selalu setia mendampingi putranya itu.
Tuhan, betapa aku langsung teringat kepada Ibuku sendiri. Melihat keikhlasan dan kesabaran di mata Ibu itu. Aku menjadi merasa berdosa kepada Tuhan dan Ibuku. Entah berapa kali aku tak mendengar nasihat beliau, sering memprotes kenapa aku tak mendapatkan yang aku inginkan. Mengeluh mengapa uang saku untukku sedikit sekali. Mengeluh kenapa aku belum mendapat sepatu baru, dan berbagai keluhan lainnya yang keluar dari mulutku. Aku yakin sekali Ibuku juga memikirkan hal-hal yang aku keluhkan tadi. Namun apa daya, hidup harus berputar, dan uang juga harus digunakan untuk kebutuhan yang lebih mendesak. Aku akui memang aku masih beruntung, Ibuku memiliki anggaran khusus untuk membeli barang-barang yang masuk kategori “mahal“ walaupun tak setiap hari. Setidak-tidaknya dua bulan sekali Ibuku akan sebisa mungkin menuruti keinginan anaknya yang seakan tak tahu terima kasih. Aku malu pada diriku sendiri. Sudahkah aku berbakti pada beliau ? sudah berapa banyak aku memberi namun sedikit menerima ? kalau saja bisa, aku ingin rasanya meloncat dari kereta dan berlari sekencang-kencangnya ke rumah, dan memeluk beliau sekarang juga. Meminta maaf atas semua kenakalan yang aku lakukan. Mengatakan betapa aku sangat menyayangi beliau, dan betapa yang telah beliau berikan selama ini tak akan dapat aku gantikan dengan cara apapun.
……

Aku memalingkan muka dari Ibu dan putranya itu, ada perasaan sesak yang seketika menghimpit dadaku melihat pemandangan tersebut, rasanya aku ditampar oleh tangan yang tak terlihat, menyadarkanku dari mimpi panjang akan keluhanku yang seakan tak tahu terima kasih, sementara tak sedikitpun aku mengucap syukur atas apa yang telah aku miliki saat ini.
Dalam hati, aku memohon ampun, dan mengucap syukur disaat yang sama, Tuhan telah mengingatkanku dengan cara yang manis, membuatku merasa bahwa hidupku indah sebagaimana adanya. Tuhan, terima kasih, satu doaku, berilah aku umur untuk menyayangi dan merawat kedua orangtuaku sebagai baktiku sebagai anak. Amin.

Ial

P.S. Well, this is the first time I publish my write creation to other people. Dan rasanya aneh, sumpah ! Cerita ini adalah cerita pertama yang aku buat, sebuah cerita yang tiba-tiba ‘menclok’ di kepala saat aku tengah menunggu kereta di Stasiun, sebuah cerita yang tiba-tiba ‘hinggap’ dikala aku sedang mengalami tensi panas dengan Ibuku tercinta. Masih banyak kekurangan dalam tulisan ini, entah itu diksi, majas, dan semua cengkok bahasa yang mungkin terdengar aneh. Anyhow, saya masih belajar memperbaiki model tulisan saya di tengah kesibukan kuliah yang memasuki semester akhir -jadi curhat gini sih Ial-
For Nay, gak usah kaget aku berubah nama jadi Ial, ternyata didenger-denger lebih enak. Hahaha😀
Hope you all enjoy my story at all :))