~ HILANG ~

Cuma sesaat itu yang ku tahu, cuma sebentar.

Aku ingin menghilang. Aku ingin melupakan, semua kenangan.

Karena aku tak lagi menganggapnya indah.

Bagiku kehilangan ingatan tentang mu itu lebih baik.

Tuhan, itu permohonanku.

.

.

Tak dibalas juga sms dariku. Padahal sudah satu jam lebih aku menunggu, ku lihat kembali layar HPku. Terkirim. Begitu yang tertulis di laporan Short Message Service itu. Tapi, kenapa tak ada jawaban. Pulsa habis? Itu satu-satunya pikiran positif yang menyelinap di benakku. Tapi, lebih banyak prasangka yang membuatku tak nyaman.

Lupakah dia padaku?.

Ini kali ketiga aku mencoba menjaga ‘ikatan’ ini. Dan seperti biasanya usahaku terasa sia-sia.

Aku lelah.

.

.

Seperti biasa aku terbangun pagi ini, rasanya begitu segar. Bisa kurasakan embun yang turun di pagi ini menusuk kulit ari ku. Dingin. Tapi, tak ada waktu untuk bermalas-malasan. Hari ini aku harus mencari buku sebagai referensi untuk tugas akhirku.

Sudah hampir satu jam aku ‘terjebak’ di toko buku ini. Referensi untuk TA ku sudah aku temukan. Dan dari tadi ku lihat ada laki-laki yang kutaksir seumuran denganku menatapku terus. Mencuri-curi pandang kearahku atau lebih tepatnya mengamatiku. Apa ada yang salah pada diriku ya? Apa aku salah kostum hingga terlihat aneh dimatanya? Tak ku pedulikan dia yang tetap menatapku kemanapun aku pergi.

“ Loh, Ade kan? Beneran, ternyata ini kamu ‘De!” seru laki-laki itu tiba-tiba. Aku terkejut, beberapa orang melihat ke arah kami karena laki-laki itu sedikit berteriak.

“Ya ampun ga nyangka bisa ketemu disini, lagi cari buku ya? Oh ya, maaf kalau sms mu ga aku balas, aku lagi ga punya pulsa.”

“Eh, kamu …” belum lagi aku selesai bicara laki-laki itu kembali berkata.

“Emang lagi cari buku apa ‘De? Eh, gimana masih suka gambar? Itukan hobimu, masih sering dijual juga? Kamu memang bisa aja ‘De,”

Laki- laki itu terus berbicara tanpa memberiku kesempatan untuk memotongnya. Herannya, selain tahu namaku dia juga tahu kesukaanku. Aneh.

“Maaf, tapi…”

“Kenapa De?”

“Kamu siapa?!”

Laki-laki itu terdiam, ditatapnya mataku tajam. Sesaat kemudian dia tertawa.

“Ade, ade… kamu jangan bercanda dong! Ga lucu! Aku ini ya Candra, memang siapa lagi?!”

“Candra?”

“Teman SMU mu dulu, kamu sering sms aku kan? Tiga hari yang lalu kamu juga sms aku,  apa aku udah berubah jadi ganteng banget sampai-sampai kamu lupa? Hahahaha…”

Laki-laki yang menyebut dirinya Candra itu tertawa lagi, ini bukan lelucon kan?

“Maaf ya, tapi aku bener-bener ga tahu siapa kamu. Aku ga tahu kalau dulu punya teman yang namanya Candra. Maaf ya? Aku bener-bener ga tahu!”

Aku serius dan candra tahu kalau aku tak sedang bercanda. Dia terdiam. Kami hanya saling berpandangan saja.

“Permisi ya.” Pamitku.

“A-Ade… tunggu! Apa kamu marah karena tak pernah satu pun sms mu yang ku balas? Kalau iya, maafin aku ya?”

Aku terhenti, Aku menoleh kepadanya dan menatapnya lekat-lekat.

“’Ga ada yang perlu di maafin, aku ga pernah kenal kamu, ga pernah sekalipun mengirim sms buat kamu, mungkin kamu salah orang, memang namaku Ade, tapi yang kau maksud mungkin Ade yang lain. Maaf ya, aku bener-bener ga kenal kamu. Permisi!”

Aku tinggalkan laki-laki yang kini tampak pucat itu, raut mukanya tampak shock dan tak percaya. Dan dia hanya bisa terdiam melihat kepergianku. Laki-laki aneh.

.

.

Aku menimang HPku. Karena penasaran, kutelusuri Phone Book mencari-cari diantara begitu banyak deretan nama. Aku terhenyak, ketika sebuah nama muncul di sana.

Candra.

Memang ada nama laki-laki itu di phone book ku. Tapi, sungguh aku tak tahu siapa dia. Aku tak mengenalnya. Segera ku Delete nama itu dari deretan phone book di HP milikku.

Sudahlah aku tak ingin mengingat-ingatnya lagi.

Sudah cukup.

.

.

Cuma sesaat itu yang ku tahu, cuma sebentar.

Aku ingin menghilang.

Aku ingin melupakan, semua kenangan.

Karena aku tak lagi menganggapnya indah.

Bagiku kehilangan ingatan tentang mu itu lebih baik.

Tuhan, itu permohonanku.

Itu permohonanku…

.

.

END

.

.