So, sukses?”tanya Jamal sembari menyuguhkan tampang curiousnya yang enggak banget begitu aku mendudukkan pantat di bangku favoritku. Kebetulan pagi ini, jam pelajaran pertama sedang kosong.

“Apanya?”balasku pura-pura bego.

“Ya acara ngelabrak Stevan nya lah, masak acara khitanan kakek lo!”sambar Jamal geregetan. Membuat mukanya memerah gara-gara menahan emosi.

“Cuma satu kesimpulan”ujarku mendramatisir suasana.

“Apa?”

“Menyebalkaaaan!”teriakku lantang sembari memukul-mukul bahu Jamal untuk meluapkan kekesalanku pada ketua OSIS songong itu. Kulihat Jamal mengaduh pelan sementara anak-anak lain tampak melayangkan pandangan kearah kami berdua. Masa bodoh. Aku cuma butuh media pelampiasan emosi sekarang.

“Aduh Gung! Nggak usah pake acara mukul-mukul gue juga kali! Sakit tahu!”pekik Jamal yang berusaha melepaskan diri dari jerat kemurkaanku.

“Habis si Stevan itu nyebelin banget!! Masa dia bilang klub gue klub sampah! Argghh!! Gue nggak terima!!”

Jamal mendengus. “Jadi cuma gara-gara itu?”

Aku mendelik begitu mendengar kata CUMA dari bibir Jamal. “Si Stevan nyebelin itu mau ngegusur klub Little Monster Mal! Kebayang nggak betapa desperate nya gue gara-gara itu!” cerocosku.

Dan nyebelinnya, si Jamal kutu kupret itu malah ngakak sekencang-kencangnya.

“Hahahahaha! Are you serius? Hahaha”Jamal nampak memegangi perutnya yang empet gara-gara tertawa. “Bagus dong! Berarti dia tau banget apa yang harus dia lakuin sama klub useless punya lo itu! Hahaha!”

Maka tanpa basa-basi kutinju lengan Jamal dengan geram. Dia mengaduh pelan, namun tak kuhiraukan. “Lo kog malah belain dia sich!”

“Habis mau gimana? Orang bener kan kalo klub lo itu gak ada gunanya!”

Dan tinjuku mendarat ke lengan Jamal untuk kedua kalinya. “Arggh! Dasar Jamal nyebelin!!!”
“Terus mau lo sekarang gimana Gung!”ujar Jamal meringis sambil mengelus-elus lengan kanannya.

“Bantuin gue ngebujuk si Stevan kek biar dia berubah pikiran dan ngebatalin rencana nya buat ngegusur Little Monster

Dan Jamal kontan terkesiap, “What? Ngawur lo! Kenal aja kagak kog disuruh ngebujuk dia!”

“Trus gue harus gimana dong Mal! Masa gue harus rela ngebiarin itu Setan ngebubarin klub yang sudah susah payah gue dirikan!” ucapku terisak. Mendadak saja mataku perih. Entah kenapa, berurusan dengan ketua OSIS menyebalkan itu membuatku jadi cowok cengeng. “Itu sama aja ngebunuh gue secara perlahan.”

Dan detik berikutnya mukaku sukses tertekuk diatas meja. Air mataku tak terbendung, aku benar-benar nggak nyangka bakal selemah ini.

“Gung, dengerin gue deh! Kalo lo emang gak mau klub lo digusur, ya lo tunjukin dong betapa berharganya klub itu buat lo. Kali aja dia bisa berubah pikiran” bisik Jamal seraya menggusak pelan rambutku.

But what should i do Mal?”

“Ya gue nggak tahu, gue nggak tahu masalahnya. Tapi gue yakin, kalo lo mau berusaha, lo bakal bisa ngebikin Stevan berubah pikiran.”

“Jamal… emang si Stevan punya dendam apa sich sama gue sampai dia ampe sejahat ini sama gue! Klub gue kan bukan klub ilegal.”

Jamal hanya menggeleng kepala.

“Mungkin aja Stevan punya alasan lain melakukan penggusuran itu.”

“Alasan lain?”

Aku sontak terkesiap. Benar juga apa yang dikatakan Jamal. Klub Little Monster bukanlah klub tak berijin. Aku punya ijin pendiriannya. Bahkan guru-guru dan pengurus lama tak mempermasalahkannya, bahkan ada yang mendukung. Tapi kenapa tiba-tiba Stevan punya rencana untuk membubarkan klub milikku. Apa dia punya alasan lain? Tapi apa?

“Kali aja si Stevan phobia atau bahkan punya masa lalu tentang Lady Gaga.”
Dan mataku kontan melotot mendengar ucapan Jamal barusan.

Whatt?? Lu gila, emang ada ya yang kayak gitu?”

“Ada lah”Jamal balas mendelik. “Yang namanya kayak gitu mah udah gak asing jaman sekarang!”

“Tapi apa? Masa iya dia phobia sama Lady Gaga yang keren itu?”

Who knows?”balas Jamal mengangkat bahu. “Itulah tugas lo buat nyari tahu ada apa sebenarnya. Kalau lo udah tau alasannya, lo bakal bisa mencegah Stevan melakukan pembubaran itu kan?”

Masuk akal, bisikku dalam hati. Mungkin aja Stevan punya masa lalu hingga dia ngebet banget sama rencananya itu. Jadi mulai sekarang mau tak mau aku harus mencari tahu tentang Stevan, tentang kenapa dia punya ide gila itu. Maka sembari mengangkat tangan gue meyakinkan diri.

“Oke! Gue bakal cari tahu tentang Stevan. Dan gue janji, gue bakal buat dia berubah pikiran.”

“Nah gitu dong, jangan cuma bisa mewek doang,”ejek Jamal setengah tertawa menyenggol bahuku. Akupun cuma manyun, menggembungkan pipiku dengan sebal.

***

Aku nggak pernah merasa se-penasaran ini sebelumnya. Tapi apa yang dikatakan Jamal kemarin membuat rasa penasaranku pada Sosok Stevan membuncah. Alasan lain. Aku benar-benar dibuat penasaran dengan alasan apa yang membuat Stevan menggusur klub Little Monster. Aku sudah memutuskan, aku harus mendapatkan informasi tentang Stevan, apapun dan bagaimanapun caranya. Aku rela jika harus mencuri datanya. Yang penting, aku tahu rahasia tentang dia dan Lady Gaga.

Maka dengan setengah ragu kubuka akun jejaring sosialku. Facebook. Tempat siapa saja saling terhubung. Begitu selesai ku ketikkan alamat e-mail dan kata sandi milikku, muncullah tampilan dindingku. Aku setengah nyengir melihat foto profilku. Foto aku tengah berpose dengan jaket bertulis “GAGA ” dibelakangnya. Jaket favorit yang merupakan simbol ku sebagai Little Monster.

Lantas tanpa basa-basi kuklik tombol pencarian pada halaman dindingku dan ku ketikkan nama sekolahku. Aku yakin aku bisa menemukan data tentang Stevan melalui facebook. Semua siswa di sekolahku diwajibkan untuk bergabung dengan grup sekolah di jejaring itu.

Dan aku pun tersenyum lebar begitu menemukan hasil pencarian. Binggo. Akun si Stevan ada di sana. StevanAugustinolicious, demikian namanya. Aku nyengir. Seorang ketua OSIS yang sok ideologis seperti dia ternyata terjangkit virus alay juga.

“Hemm.. cakep juga kalo diperhatikan itu bocah..”ujarku melihat foto profilnya yang lumayan enak diliat. Dia memakai kemeja kebesaran sekolah kami dengan pose cool ala model sampul majalah.

Detik berikutnya aku terlonjak. Shitt. Lagi-lagi aku terpukau melihat sosok menyebalkan itu.

Maka tanpa banyak peduli pada foto-foto menggoda Stevan yang lain, aku segera meng-klik tombol info. Kali aja ada deskripsi dirinya dan clue tentang Gaga di sana.

Dan detik berikutnya mataku melotot.