I wanna hold em like they do in Texas
Plays
Fold em let em hit me raise it baby
stay with me, I love it
Luck and intuition play the cards with
Spades to start
And after he’s been hooked I’ll play
the one that’s on his heart
Oh, oh, oh
I’ll get him hot, show him what I’ve
got
Oh, oh, oh
I’ll get him hot, show him what I’ve got

Dentuman lagu Pokerface itu tak berhasil membuatku memejamkan mata. Kulirik jam weker di meja belajarku. Pukul dua belas lebih dua puluh empat menit. Entah kenapa susah sekali untuk tidur. Lobus Prefulla di otakku masih saja memutar kejadian di sekolah siang tadi. Aku benar-benar tak habis pikir, berani-beraninya ada orang yang mau menghapus klub yang kupertahankan maha-maha itu. Seperti apa sich sebenarnya Stevan Augustino whatever yang menyebalkan itu, dan apa masalahnya denganku sehingga dia punya ide gila seperti itu. Jujur aku belum pernah melihat tampangnya secara langsung. Aku hanya pernah mendengar namanya saat kampanye pemilihan ketua OSIS dulu. Dan sekarang, aku benar-benar penasaran. Aku benar-benar ingin membuat perhitungan dengannya. Apa masalahnya dan punya dendam apa dia padaku. Sepertinya, besok aku harus bangun lebih pagi agar bisa memaksa Jamal menemaniku untuk bertemu dan membuat perhitungan dengan Stevan.

***

Keesokan paginya, aku datang pukul enam pagi. Setengah jam lebih cepat dari jadwal berangkatku biasa. Tanpa basa-basi, segera kuhampiri Jamal yang tengah berkutat dengan BlackBerry nya. Dia memang selalu datang pagi, biasanya cuma buat ngejar-ngejar tukang siomay depan sekolah yang cuma jualan pagi-pagi. Tapi pagi ini, kurasa dia datang pagi karena gertakanku semalam.

“Lama amat sich, gue udah nyaris jamuran nungguin lo”sembur Jamal begitu aku berhenti tepat di hadapannya.

“Baru juga jam enam pagi,”cerocosku. “Lagian emang jam segini si Stevan nya udah dateng.”

“Udah! Tadi gue liat dia dah gendon di ruang OSIS”jawab Jamal santai tanpa beralih dari layar ponselnya.

“Yaudah kalo gitu, ayo temenin gue ke ruang OSIS sekarang!”

Seketika Jamal mendelik. “Emang lo mau ngapain sich sama si Stevan pakai acara ketemu dia sepagi ini?”

“Gue mau bikin perhitungan sama dia!”

“Perhitungan?”Jamal mengernyit.

“Bukan urusan lo, yang penting sekarang cepat anterin gue ke ruang OSIS!”

Maka tanpa basa-basi segera kuseret tubuh jangkung Jamal dari bangku dan keluar kelas yang masih lengang. Setengah merutuk Jamal membawaku menyusuri koridor kelas dan menuju ruang OSIS yang terletak di tengah gedung sekolah. Masih nampak sepi.

“Udah gue anterin, sekarang lo masuk dan tuntasin urusan lo!” celos Jamal begitu kami berdua berhenti tepat di depan ruang bercat krem itu.

“Hei, gue belom tau yang mana yang namanya Stevan itu!”ucapku mencak-mencak.

“Di dalem cuma ada Stevan doang, jadi gak usah takut salah ngomelin orang. Udah ah, gue mau ke kantin Pak Afgan dulu, gara-gara lo gue belom sarapan!”jelas Jamal nyinyir sebelum melangkahkan pergi meninggalkanku sendiri di depan ruang ini.

Agak bergetar, kuremas jemariku yang berkeringat. Bagaimanapun, aku harus menyelesaikan semuanya pagi ini. Aku takkan pernah membiarkan seorangpun berani menyulut api dengan seorang Agung Nugraha Atmadjaya. Tak kan pernah.

Maka dengan enggan, kulangkahkan kedua kaki memasuki ruangan itu dan mencari-cari sosok menyebalkan bernama Stevan Augustino itu.

Dan langkahku terhenti begitu mataku menangkap sesosok cowok berkacamata yang tengah sibuk dengan komputer di ruangan tersebut. Aku menelan ludah, ternyata ini yang namanya Setan Augustino Whatever itu. Lumayan juga. Body nya yang cukup tinggi dan atletis juga membuat mataku tak berkedip. Tapi wait, wait! Aku kog jadi mikir kayak gini! Hei! Bukankah lo tadi kesini buat bikin perhitungan sama Stevan, kog malah jadi mantengin dia kayak gini! Sadar Agung! Sadar! Pekikku dalam hati.

Dan ternyata, Stevan menyadari kehadiranku. Kulihat ia memalingkan muka, mengalihkan perhatian padaku. Nampak mata cokelatnya membeliak dibalik kacamatanya.

“Jadi elo yang namanya Stevan Augustino sang Ketua OSIS itu?”ucapku mantap sembari melempar tatapan meremehkan pada musuh besarku itu. Ya, mulai saat ini, dia sudah masuk ke dalam daftar my biggest enemy.

Sesaat Stevan membenarkan letak kacamatanya. Kemudian dengan senyuman lembut menjawab pertanyaanku. “Iya, aku Stevan, ada perlu apa ya?”

Kuakui aku agak gimana gitu saat ini. Ketampanan dan senyum Stevan yang aduhai membuat mood ngomel ku sedikit berkurang. Tapi aku tetap saja berusaha memperlihatkan wibawaku di depannya.

“Jadi elo ketua OSIS songong yang ngambil keputusan tanpa otak itu?” tuduhku.

Stevan seketika terkesiap, “Maksudnya?”

“Udah lah nggak usah sok lugu, gue nggak habis pikir kenapa elo sampai punya pikiran buat menggusur klub Little Monster!”cetusku emosi.

Dan Stevan tersenyum, senyum meremehkan kali ini.

“Jadi kamu ya yang mendirikan klub tak berguna itu, seperti ini ya seorang Agung Nugraha Atmadjaya?”selorohnya penuh rahasia, membuatku mendelik padanya.

“Sebenernya lo punya masalah apa sama gue sampai lo berani menggusur klub yang gue dirikan susah payah itu?”

Stevan mengangkat bahu, dan menghembuskan napas kencang.

“Bukankah jawabanku cukup jelas? Klubmu dan teman-teman monstermu itu tak ada manfaatnya, jadi buat apa dipertahankan hah?”

“Jangan bilang sesuatu yang kau tak pernah mengetahui!”sergahku.

“Memang itu kenyataannya kan?”balasnya kian meremehkan. Aku benar-benar tak menyangka kalau dia akan se-menyebalkan ini.

“Kami punya agenda kerja! Kami juga berkarya!”

“Mengumpulkan foto-foto perempuan aneh bernama Lady Gaga dan membuat video tak jelas sambil memamerkan kekaguman di twitter, apa itu bisa disebut agenda kerja?”

Aku tertegun, tak percaya dengan apa yang diucapkan barusan oleh cowok itu.

“Hei! Setidaknya kami lebih kreatif daripada anak-anak OSIS yang hanya bisa memplagiat program kerja senior-senior sebelum kalian!”kilahku membela diri, yang membuat Stevan sontak melebarkan mata.

“Hei jaga mulutmu!”

“Kenapa? Gue hanya berbicara realita kan?”ejekku menirukan apa yang tadi Stevan katakan padaku di awal.

“Pokoknya gue nggak bakal tinggal diam sebelum lo batalkan rencana penggusuran klub Little Monster itu.”

“Coba saja, aku tak takut!”

“Dan gue akan jadi orang pertama yang akan sangat marah kalau anak buahmu mengacak-acak basecamp kami lagi! Kau paham!” pungkasku sembari menggebrak meja sekretariat dengan geram sebelum beranjak meninggalkan cowok menyebalkan itu karena bel masuk baru saja berbunyi.