AL GIBRAN NAYAKA’s mini story

###################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ada yang sependapat jika aku bilang kalau tajukku kali ini terbaca manis? Jika ada, aku minta maaf, isi tajukku kali ini sangat jauh dari kata manis. Mungkin getir, dan pahit. Tak ada yang membuat gembira dari sebuah perpisahan, semuanya berasa sama… berat dan perih.

Sebenarnya ide untuk membuat kisah singkat begini sudah lama ada. Ketika masih aktif di tempat Kawan Tommy dulu, aku sempat mengajak salah seorang author untuk membantuku merealisasikan ide ini. Kenal Ardhinansa? Yep, dia author yang aku rayu untuk membantuku, tapi ternyata tak mulus. Jadi, aku menggarapnya sendiri kini.

Ada tiga kisah dengan satu tema di dalam postingan ini, kisah singkat yang menurutku sendiri malah tak jelas awal dan akhir. Bila ada yang bilang bagus, sebutkan kisah mana yang bagus, bila ada yang bilang ‘Nay, kamu tak berbakat menulis kisah pendek…’ itu artinya semua kisah dalam post ini jelek semua.

Last, seperti yang sudah-sudah, semoga kalian menikmati membaca IN THE NAME Of LOVE seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

Nayaka Al Gibran

###################################################

Mini SATU

“AKU MENCINTAINYA, MAMA…!!!”

Pemuda itu masih mematung di pintu. Matanya basah, wajahnya pucat pasi, jemarinya gemetar. Andai saja dua pria berbadan besar berseragam Satpam yang mengapitnya kiri kanan melepaskan tangan mereka dari lengannya, maka dapat dipastikan sang pemuda akan ambruk menghajar lantai keras kerena kedua kakinya juga tampak bergetar. Pemuda itu merasa jadi satu-satunya manusia paling layak dibenci saat ini, paling layak dibuat menderita. Betapa tidak, saat ini dia sedang menyaksikan bagaimana seorang anak tak dianggap anak lagi oleh wanita yang melahirkannya. Dia penyebabnya, dia yang membuat seorang anak kehilangan kasih ibunya, kehilangan tatapan kasih ibunya. Dia telah menyebabkan seorang anak tidak lagi dianggap darah daging…

“Aku mengemis di kakimu, Ma… aku mengemis…” Sang anak –dengan berurai air mata- bersimpuh sambil memegang erat kedua kaki mamanya yang bahkan sudah tak memandangnya sama sekali sejak dia berlutut tadi. Sang Mama duduk di kursinya dengan tatapan tak terpahami. Wajahnya tak terbaca. “Aku mencintainya…” ulang sang anak.

Pemuda di pintu merasa hatinya bagai terkoyak ketika si ibu menarik kedua kakinya dari genggaman anaknya, menarik kakinya menjauh. “Pergilah, tentukan jalanmu sendiri. Kau telah memilih… sejak kau menapak di rumah ini dengannya, sejak itulah kau sudah menentukan statusmu sendiri di rumah ini, statusmu yang baru… orang asing yang tak kukenali…”

“Aku mencintainya, Mama…!” Ratap sang anak.

“Berhenti menyebutku begitu, kau tak pantas lagi…”

“Aku mencintainya…” Dia mengulang lagi.

“Maka pergilah dengannya… kau tak diharapkan lagi di sini…”

“TANTE… DIA MASIH ANAK TANTE…!!!” Entah darimana si pemuda –yang masih tertahan di pintu- mendapatkan keberaniannya untuk membentak seperti itu. Dia sudah kehilangan kasih keluarganya, dulu. Dia tak ingin ada anak lagi yang akan kehilangan kasih keluarganya juga, dia tak tak ingin orang yang dicintainya mengikuti jejaknya.

“SIAPA KAU FIKIR DIRIMU BERANI BERSUARA DI RUMAHKU, HAH!!!” Sang mama meradang, pandangannya membara pada si pemuda. “SEMUA INI SALAHMU, KAU MERACUNINYA DENGAN PRIBADI SALAHMU ITU…”

“STOP, MA…!!!”

PLAAAKK

Satu tamparan mengahantam wajah si anak, tamparan pertama dari ibunya selama hidupnya yang sudah 24 tahun. “Berhenti memanggilku Mama…! Kau dengar? Berhenti!”

Tamparan itu tidak akan pernah terasa sakit, tidak akan. Justru hatinyalah yang terasa begitu perih saat ini. Karena mencinta, dia harus kehilangan segala yang dia kasihi, mamanya, mataharinya yang lain selain pemuda kekasihnya.

“Aku mencintainya…” Entah yang ke berapa kali.

Sang mama bangkit berdiri, “Pergilah… jika tidak… kau akan melihat apa yang akan terjadi pada wanita tua ini…”

“Aku tak akan pergi, aku tak akan kemana-mana…”

Entah darimana benda itu muncul, tiba-tiba saja merah dimana-mana. Benda berkilat itu basah darah lalu terbanting jatuh ke lantai yang sudah penuh titik-titik merah. Tubuh itu ambruk, merah masih mengalir dari lengannya.

“MAMAAAAAA…!!!” Sang anak meraung dan memburu pada sosok mamanya yang telah terbujur di lantai, dia tak sempat menahan tubuh tua itu.

“NYONYA!” Dua pria berseragam berseru serentak lalu menghambur mendapati sosok majikan mereka.

Seketika Si Pemuda –di pintu- merasa bagai dihantam godam. Gemetaran, dia berbisik, “Terkutuklah aku, Tuhan… terkutuklah aku…” Si Pemuda berlari menuju mobilnya yang diparkir jauh di luar gerbang sementara Sang Anak membopong sosok ibunya sambil tak henti berucap ‘Maafkan aku, Mama…’

Mereka perlu bergegas ke rumah sakit.

***

Bandara, satu sore di penghujung tahun…

“Atas nama cinta, ikhlaskan aku pergi. Aku tak ingin menimpakan petaka atas pundakmu. Bagaimanapun, mamamu adalah segalanya. Aku tak ingin kau menyesal sepertiku… aku tak ingin kau merasakan seperti yang aku rasakan. Aku tak ingin kau merasakan bagaimana tiap langkahmu selalu dibarengi penyesalan mendalam karena kau memilih cinta, bukan memilih mamamu. Kembalilah, mamamu lebih membutuhkanmu untuk menjadi anaknya, segalanya miliknya… ketimbang aku yang membutuhkanmu hanya sebagai kekasih… Atas nama cinta… ikhlaskan langkahku meninggalkanmu…”

Dan tangan mereka pun terlerai. Seorang kekasih pergi meninggalkan seorang kekasih meski cinta masih tak lekang di lubuk jiwa masing-masing mereka. Atas nama cinta, kadang perpisahan adalah jawaban paling adil untuk cinta tak pernah direstui.

Kekasih yang ditinggalkan berdiri hampa memandangi punggung kekasihnya yang kian jauh…

***

Mini DUA

SATU SENJA DI UJONG BATEE

Masa sekarang…

“Senja itu indahnya seperti kamu…” Ujar pemuda itu pada sosok yang duduk rapat di sampingnya sambil menatap senja.

‘Kamu sudah mengatakannya tak terhitung kali sejak pertama kau menemukanku lagi di sini bertahun lalu…’ Jawab sosok itu.

“Aku tahu, sayangnya… aku tak bisa memilikimu di luar waktu senja. Jika bisa, aku akan mengatakan bahwa kamu menakjubkan seperti fajar ketika kita bersama menatap matahari terbit di pagi hari, atau kamu gemerlap bagai bintang ketika kita berbaring bersama di atas rumput pada malam hari sambil menatap langit. Pun aku tak bisa mengatakan bahwa kamu sehangat surya ketika kita berpegangan tangan sambil berjalan di taman saat siang…” Si Pemuda menghela nafas. “Aku tak bisa memilikimu di waktu pagi, di saat siang, tidak pula di kala malam, jadi aku hanya bisa menyamakan indahmu dengan senja saja…”

Sosok di samping si pemuda tersenyum, ‘Andai dulu kita tak hanya bertemu saat senja, andai dulu kita tak hanya bertemu di Ujong Batee… mungkin kamu bisa melihatku di tempat lain… mungkin di Taman Sari saat pagi, mungkin di Putroe Phang ketika siang, atau di Ule Lheu bila malam. Tapi aku tak bisa kemana-mana, ingat… aku tak bisa berjalan…’

***

Satu masa sebelum 26 Desember 2004…

Dua orang remaja usia awal delapan belas duduk bercakap-cakap di bawah pohon cemara di tepian pantai. Saat itu senja. Seorang pria lingkungan 30-an duduk agak terpisah dari dua lelaki muda itu, pria itu adalah kakak dari salah satu mereka. Lelaki muda yang memiliki kaki kecil dan tak bertenaga yang sedang asik bercerita dengan satu lelaki muda lainnya adalah adik pria itu.

Pria itu baik, dia sangat sayang adiknya yang cacat. Setiap sore sepulang kerja, dia akan membopong adiknya masuk mobil dan membawanya ke Ujong Batee –pantai paling dekat dengan rumah mereka- untuk sekedar menuruti kesukaan sang adik pada senja. Dan akhir-akhir ini, si pria itu menemukan semangat baru pada diri adiknya. Semangat baru sang adik sejak dia punya kawan berbincang ketika menghabiskan senjanya. Kawannya itu seorang lelaki muda sebayanya. Anak kuliahan yang juga sangat menyukai senja. Mereka sedang bersama.

Dua lelaki muda itu berteman diawali keingin-tahu-an salah satu dari mereka. “Bagaimana kamu bisa ke sini?” itu pertanyaan lelaki muda –anak kuliahan- karena merasa heran melihat ada orang cacat dengan kaki kecil sedang duduk sendirian di bawah pohon cemara. Bagaimana dia bisa berjalan kemari? Kaki cacat itu jelas terlihat karena orang yang membuatnya heran hanya memakai celana sebatas lutut.

Tak merasa tersinggung, “Aku berhutang banyak pada kakakku…” Jawab lelaki muda berkaki cacat sambil menunjuk pada sosok pria yang sedang berjalan menghampiri dengan dua kaleng coke di tangan.

Lalu, hari-hari selanjutnya menjadi biasa. Mereka akan duduk berdua berdekatan di bawah pohon sambil mengobrol apa saja sementara pria kakak lelaki berkaki cacat duduk agak jauh dari situ atau meninggalkan mereka dengan bersiar-siar pada beberapa kesempatan. Keakraban dan kemesraan mereka hanya terjadi di kala senja di Pantai Ujong Batee.

***

26 Desember 2004…

Segalanya luluh-lantak. Air pasang seakan memusnahkan peradaban di sana. Lelaki muda hanya bisa melihat malapetaka itu dari layar warna di kediamannya yang hangat di satu pemukiman di Bireuen, dia sedang mengambil liburan kuliahnya dengan pulang ke kampung halaman. Namun saat itu dia yakin, Ujong Batee baik-baik saja, lelaki mudanya yang cacat pasti baik-baik saja.

***

Berbulan setelah 26 Desember 2004…

Lelaki muda kembali mendaftar ulang sebagai mahasiswa yang masih aktif di kampusnya, dia belum mati seperti kebanyakan rekan seperjuangannya. Hari-harinya seperti kembali normal lagi.

Namun, dia salah. Harinya ternyata sedikit tak normal lagi, dia sadar itu ketika menemukan bahwa Ujong Batee tidak seperti yang diingatnya dulu. Dia tak menemukan lelaki cacat itu lagi di bawah pohon cemara tempat mereka sering menghabiskan senja bersama. Lelaki cacat itu tak pernah datang lagi. Bahkan, pohon cemara tempat mereka bernaung tak lagi ada di sana. Lelaki muda mencari, tapi dia tak memegang alamat. Yang dia tahu, ‘Aku tinggal di sekitar sini, masih kawasan Ujong Batee juga…’ itu ucapan teman senjanya ketika cemara masih tegak. Tapi kemudian orang-orang berbicara padanya, “Tak banyak yang selamat di kawasan ini…”

Lelaki muda memilih tidak pulang ke daerah asalnya, dia berusaha tetap di sana dengan mencari penghidupannya agar dia bisa tetap ke Ujong Batee saat senja, walau harus duduk di bawah cemara berbeda, hingga sekarang…

***

Masa sekarang…

Lalu lelaki cacat itu hidup dalam kenangan si lelaki muda, sudah bertahun. Dia hadir dalam pandangan si lelaki muda yang kini sudah menjadi pria dewasa, 26 tahun. Berhari menghabiskan senja di sini telah membuat lelaki muda bertemu kembali dengan teman senjanya dulu, meski hayal, itu cukup baginya. Dia menemukannya kembali di sini, menemukannya yang tak tersentuh lagi.

“Seharusnya aku yang berjalan menujumu, bukan kamu yang harus dibawa berjalan ke satu tempat saja untuk kutemui…” Pemuda itu tersenyum. “Tapi aku bahagia, kamu tertahan di satu tempat, aku tak lagi bingung mencarimu kemana-mana… hanya di sini saja…”

‘Ya, kamu hanya perlu datang kemari saat senja… Atas nama cinta, aku akan tetap disini… lagipula, kemana aku bisa pergi? Aku tak bisa berjalan.’

Si pemuda tersenyum, “Atas nama cinta… aku akan terus memeluk senja di Ujong Batee hingga zaman membawa salah satu dari kita pergi, aku yang didatangi janji, atau kenanganku akan dirimu yang aus… Namun aku berdoa untuk kenanganku, semoga zaman tak mengikismu dariku…”

***

Mini TIGA

SURAT TERAKHIR

Sabang, 12 September 2012

Dear, Lelakiku…

 Ingatkah saat aku menuntunmu menuju tugu nol kilometer sembilan tahun lalu? Aku masih ingat itu, aku ingat bagaimana takjubnya kamu ketika berada di titik awal negeri kita. Aku belum pernah melihat turis domestik sehisteris kamu ketika berada di lantai tugu itu selama aku jadi tour guide, kamu yang paling gila. Tapi aku suka, album fotoku masih menyimpan gambar-gambar kita ketika di tugu itu. Yang paling aku suka adalah foto kita yang saling berpegangan tangan, entah mengapa aku paling suka foto itu. Padahal hari-hari setelahnya kita sempat mengabadikan gambar kita dengan kontak fisik yang lebih banyak. Aku rindu genggamanmu di tanganku, tak dapat kupungkiri… aku rindu. Aku merasa rindu dan merasa salah karena telah begitu pada saat yang bersamaan.

Sembilan tahun… usiaku tak lagi belia, Lelakiku. Aku yakin kamu sepakat jika aku mengatakan bahwa kita semakin dekat dengan mati. Akhir-akhir ini aku mulai takut. Aku takut waktu yang aku habiskan bersamamu sembilan tahun lalu tak pernah bisa termaafkan, aku takut apa yang telah aku lakukan bersamamu dengan perasaan suka cita dulu tak akan bisa tertebus. Dan sekarang aku takut, suratku ini menambah baris baru pada buku burukku.

Lelakiku… lihat, aku masih menyebutmu Lelakiku. Maafkan aku tak bisa menunaikan janji kita, hutangku untuk mengunjungimu dan mengabadikan gambar kita di kaki Jam Gadang rasanya terlalu muluk sekarang. Maafkan aku tak bisa menyambangimu seperti janjiku dulu. Atas nama cinta, meski teramat sangat ingin aku untuk dapat lagi merengkuh hangatmu seperti masa Sembilan tahun dulu, namun aku harus melupakan itu. Atas nama cinta, meski setiap kali mendapat suratmu yang kubaca dengan penuh rindu seperti menarikku padamu, namun aku harus menahan diriku. Dan atas nama cinta… betapapun aku ingin agar tetap bisa mencintaimu, namun aku harus melepasmu. Tidak, bukan aku saja, aku ingin kita sama-sama bisa melepaskan.

Besok aku akan menempuh hidupku yang baru. Gadis itu mendapat restu ayah-ibuku. Meski aku sangat sadar bahwa aku tak akan bisa memberinya cinta seperti yang aku berikan padamu sembilan tahun ini, tapi aku harus mangambilnya sebagai teman sisa hayatku. Di sini, cinta seperti yang kita punya tak pernah ada. Pada akhirnya, pria harus menikah. Begitulah adanya serambiku ini…

Lelakiku, untuk yang terakhir kalinya… aku mencintaimu atas nama cinta. Ikhlaskan aku, ikhlaskan langkah yang telah aku pilih. Seperti yang kutulis, kita semakin dekat dengan mati… aku takut. Jika kamu berkunjung, aku tak mampu lagi menuntunmu… bukan, aku tak pantas lagi menuntunmu.

Demi kebaikan, demi cinta kita… ini akan jadi surat terakhirku untukmu, begitupun harapku padamu, kuatkan hatimu untuk tidak mengirimiku rindu seperti biasanya… meski pada kenyataannya, aku sangat ingin membaca rindumu lagi seperti yang sudah-sudah…

Lelakimu

Bukit Tinggi, pada waktu yang sama…

Lelaki itu menatap kosong pada layar di depannya. Matanya basah. Ini kesembilan kalinya dia membaca surat dari orang paling berarti dalam hidupnya. Seperih inikah melepaskan cinta itu? Matanya mengerjap, kejernihan kembali bergulir melewati sudut matanya untuk kemudian gugur menyisakan basah di sisi wajahnya yang tak lagi cerah. Jika dia sehelai daun, maka kini dia adalah daun kering. Andai dia sebatang pohon, tak ada yang bersisa padanya selain ranting-ranting rapuh dan mati. Jalan hidup baru saja menjauhkan lelakinya darinya. Kodrat alam baru saja memupus cinta lelakinya padanya, tidak, cinta itu tak pupus, lelakinya masih mencintainya. Hanya saja, cinta itu mati. Apa arti diriku dengan cinta yang mati? Apa yang bisa mencerahkanku jika lelakiku kini tak lagi milikku? Atas nama cinta, ya… aku ikhlas. Dan atas nama cinta pula, aku kehilangan arti merindukanmu…

Kini dia menatap tiket perjalanan yang telah dipesannya. Dia menatap koper yang telah dipersiapkannya siang tadi. Kejutannya tak akan pernah terwujud. Meski dia meneruskan niatnya besok, Sabang tak lagi menyambutnya sehangat dulu…

September 2012

Coretan singkat tentang cinta tak biasa

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com