Teng! Teng! Teng!
Terdengar suara bel istirahat bersamaan dengan teriakan dari siswa-siswi yang memekakkan telinga. Beberapa diantara mereka segera beranjak menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah kelaparan. Beberapa juga tampak masih asyik dengan buku di bangkunya. Sementara aku, masih terpekur dibangkuku sedangkan Jamal masih saja sibuk meminta maaf padaku.

“Ayolah Gung, maafin gue! Kalo lo ngambek gini, gue mau nyontek PR sama siapa dong! Ayolah..”rajuk Jamal setengah menarik-narik kemejaku. Rautnya yang sangar nampak nggak matching dengan ekspresi merajuk.

“Nggak mau! Pokoknya nggak mau!”balasku singkat.

“Ya elah Gung! Gue kan cuma becanda!”

“Becanda juga ada batasnya Mal! Gue nggak bakal terima kalo idola gue dikatain cewek sarap!” celosku. Berusaha membuat wajahku sejutek mungkin. Padahal dalam hati, aku pengen ngakak melihat ekspresi Jamal.

“Gue kan nggak sungguh-sungguh ngebilang Lady Gaga cewek sarap!”

“Berhenti mengucap kata ‘Cewek Sarap’ atau gue bakal ngebunuh elo disini!”pungkasku gemas yang membuat Jamal kontan terdiam. Ia makin tampak lucu dengan ekspresi itu. Ingin rasanya aku segera tertawa lantang dan mengatakan pada Jamal kalau aku nggak benar-benar marah padanya. Tapi biarlah, aku ingin sedikit mengerjainya. Salah sendiri, siapa suruh ngejelek-jelekkin The Mother of Monster.

Tepat ketika aku hendak memasukkan diktat ke laci meja, handphoneku berbunyi, melantunkan lagu The Edge of Glory yang membuat semangat. Sekilas kulirik nama yang tertera di layar. Andity. Cewek kelas sepuluh yang merupakan anggota klub Little Monster yang kudirikan di sekolah ini.

“Halo Dit, ada apa?”sapaku.

“Gawat kak! Gawat!”sembur Andity dari kejauhan. Suaranya terdengar panik.

“Gawat kenapa?”tanyaku penasaran.

“Ketua OSIS mau menggusur klub Little Monster!
“Apa?!”sentakku.

“Iya Kak! Bahkan basecamp kita di obrak-abrik sama anak OSIS! Mereka nempelin surat peringatan di pintu basecamp kita!”jelas Andity dengan nada pilu.

Aku menghela napas, benar-benar tak bisa mempercayai apa yang kudengar barusan. “Yaudah aku kesana sekarang!”

Tanpa banyak basa-basi kututup telepon dan bergegas bangkit dari bangkuku.

“Mau kemana?”tanya Jamal yang mendadak menunjukkan ekspresi ala investigator dadakan.
“Bukan urusan lo!”

“Gue udah dimaafin kan?”

“Gue punya urusan yang lebih penting!” ucapku tegas sebelum setengah berlari meninggalkan Jamal yang masih terbengong.

***

Basecamp Little Monster terletak pada bagian belakang sekolah. Dekat dengan perpustakaan yang tepat berada di belakang lapangan badminton. Begitu sampai disana, aku disambut dengan ekspresi lesu dari Andity, Kevin, Argra, Desty dan beberapa anak-anak klub Little Monster lain. Setengah ragu, kulangkahkan kakiku mendekat. Dan mataku langsung tertuju pada pintu ruang klub yang sedikit terbuka. Dari balik pintu, bisa kulihat barang-barang dan aksesori yang tampak hancur berantakan. Bahkan, mading yang berisi foto-foto kegiatan dan foto-foto Gaga tampak hancur lebur tak bersisa. Semuanya hancur, sehancur perasaanku saat ini.

“Aku benar-benar nggak nyangka kalau Stevan si ketua OSIS baru itu akan sejahat ini pada kita”desah Andity putus asa.

“Darimana kamu yakin kalau anak-anak OSIS yang ngelakuin ini?”tanyaku sangsi.

Namun Andity tak langsung menjawab, diulurkannya selembar kertas yang penuh selotip di keempat ujungnya. Sepertinya itu kertas yang dibicarakan Andity tadi.“Coba Kak Agung baca ini!”

Maka dengan rasa penasaran, kuraih kertas yang diserahkan Andity itu. Bisa kulihat lambang OSIS di atasnya. Dan mataku sontak membeliak begitu membaca isinya.

[Karena klub Little Monster hanyalah sekumpulan orang-orang dungu dan tak punya kerjaan, maka kami dari pengurus OSIS bermaksud mengganti klub sampah itu dengan Klub Siaran yang tentunya akan lebih bermanfaat. Dimohon dengan hormat buat kalian para Bayi Monster untuk segera membereskan barang-barang kalian. Tertanda, Stevan Augustino-Ketua OSIS]

Aku sontak menelan ludah begitu selesai membaca tulisan dalam kertas itu. What the hell! Apa maksud si cecunguk Stevan Whatever itu. Berani-beraninya dia menggusur klub yang susah payah kudirikan setengah tahun yang lalu ini. Guru-guru dan pengurus lama saja tidak keberatan dengan klub kreatif ini, kenapa dia yang baru seminggu diangkat menjadi ketua OSIS berani membuat keputusan seenak jidatnya. Aku takkan pernah terima kalau klub ini diganti dengan klub siaran. Meskipun cuma beranggota dua puluh lima orang, tapi klub ini adalah second home kami. Tempat kami bebas mengekspresikan kecintaan kami pada Lady Gaga.

“Ini nggak bisa dibiarkan! Aku sudah dapat ijin atas klub ini! Aku takkan membiarkan si Setan Sekolah itu menggusur klub ini!”pekikku berapi-api seraya meremas gulungan kertas ditanganku dengan gemas.

“Tapi Kak, apa yang bisa kita lakukan? Mana bisa kita melawan OSIS yang notabene merupakan organisasi intra tertinggi di sekolah ini?”Argra yang sedari tadi diam ikut berkomentar.

“Iya Kak, aku takut kalo anak-anak OSIS semakin beringas kalau kita tetap mempertahankan klub ini”imbuh Andity.

“Hei!Apa aku tak salah dengar? Mana dedikasi yang pernah kalian janjikan dulu buat klub ini! Apapun yang terjadi, kita harus tetap mempertahankan klub Little Monster meski harus mati sekalipun!”

Seketika itu kulihat Andity dan yang lainnya sontak terdiam. Mereka menunduk, menyembunyikan perasaan yang sulit dideskripsikan.Pokoknya aku minta bantuan kalian agar klub ini nggak digusur. Kalian pasti juga nggak bakal rela kan kalau klub ini digusur?”

Mereka pun mengangguk pelan. Aku tahu bagaimana perasaan mereka.

“Oke, aku hanya ingin kita tetap mempertahankan klub ini. Untuk masalah dengan si Ketua OSIS sialan itu, biar aku yang mengurusnya!” ucapku sebelum bel masuk berbunyi yang menandakan aku, Andity dan anak-anak lain harus kembali ke kelas masing-masing.