“Hidup gue, cuma buat Lady Gaga. Dia yang menginspirasi gue buat nerima kalo gue Born This Way. Dia juga yang membuat gue nekat buat mengejar Bad Romance yang bener-bener liar!”

Sekali lagi aku mengucap mantra bangun tidurku itu dengan lancar. Sedikit menguap, kulirik jam weker yang menunjuk angka setengah enam. Aku nyengir. Ternyata manusia malas sepertiku bisa bangun pagi juga. Yah, meskipun jam setengah enam sudah bukan pagi lagi, tapi buatku, toh masih amat sangat pagi untuk mandi, sarapan, dan ke sekolah.

Maka tanpa basa-basi kubangkitkan tubuhku dari kasur empukku dan bergegas mencomot handuk dan perlengkapan mandi di dekat pintu. Kusempatkan memberi good morning kiss pada poster super gede yang terpajang pada pintu kamarku yang toska. Poster bergambar Lady Gaga dalam balutan sceleton berambut pink seperti dalam videoklip Born This Way. Poster yang selalu jadi sasaran ciuman pagiku.

Good morning Mo…

Brak! Brak! Brak!

“Gung! Buruan bangun! Nanti kamu telat ke sekolah!”

Belum sempat aku menyelesaikan prosesi morning kiss-ku, sudah terdengar suara memekakkan Bunda yang terselip diantara bunyi gedoran pintu.

“Ya Bund…bentar lagi! Agung udah bangun kog!” pekikku seraya bergegas memunguti shower equipment milikku dan bergegas menuju kamar mandi sebelum Bunda mengeluarkan teriakan maut yang lebih dari ini.

***

Well, just call me Agung. Agung Nugraha Atmadjaya. Aku 17 tahun dan saat ini tengah duduk di tahun kedua sebuah SMA di Jakarta. I have a normal face yang menurut teman-temanku terkesan cantik. Tinggi badan normal. Dan otak yang nggak kalah sama Processor Pentium 4. Secara keseluruhan, aku punya kehidupan yang normal. Amat sangat normal- lebih tepatnya. Karena aku begitu menikmati masa remaja dan kehidupan SMA ku.
Dan satu hal yang selalu kubanggakan dalam hidupku. I’m a Little Monster! Yea! Aku adalah pengagum artis multitalenta bin fenomenal bernama Lady Gaga. Aku adalah satu dari orang yang akan bersorak sorai kala nama Gaga disebut. Yea! Aku serius. Aku juga masih waras. Justru menurutku, orang yang tak menyukainya adalah orang tak waras. Yea! I do serious about that opinion! Lady Gaga itu terlalu keren untuk nggak digilai! Ia punya suara keren, wajah cantik, body seksi, dan bakat sebagai aktris di beberapa film Hollywood. Bukankah itu perfect? Jawabannya, tentu saja iya!

***

“Kamu nggak sarapan dulu bareng Papa sama Bunda?” tanya bunda yang tengah menata piring di meja makan begitu melihatku sedikit terburu memasang dasi pada seragamku.

“Gak ah Bund, takut telat, ntar aja Agung makan di kantin sekolah” jawabku seraya menyelesaikan sentuhan akhir dasiku.“Sekarang aja udah jam setengah tujuh.”

Kulihat Bunda menghela nafas. “Kamunya sih bandel, bangun kesiangan mulu.”

“Hehe” aku nyengir. “Iya Bundaku yang cantik, Agung janji besok pasti bangun agak pagian dikit, hehehe”

“Lah, niat bangun kog agak pagian dikit!” sambung ayah dari balik koran Kompasnya.

“Ih Papa ikut nimbrung aja kaya ibu-ibu” celos Bunda geli.

Aku ikut tertawa, sejenak menikmati harmonisme keluarga yang hangat.

“Yaudah Bund, Pap, Agung berangkat dulu ya?” pungkasku seraya mencomot selembar roti tawar dang bergegas pergi menuju garasi. Tanpa buang waktu, segera kukeluarkan motor Matic kesayanganku yang penuh dengan desain gambar Lady Gaga, menyetarnya sesaat untuk sekedar memanaskan mesin, kemudian mulai menarik gas dan melaju menerabas jalanan yang sudah mulai rame. Dari headset yang tersumpal di kedua telingaku, mengalun lagu U&I nya Lady Gaga yang membuatku semakin bersemangat.

It’s been a long time since I came
around
Been a long time but I’m back in town
This time I’m not leaving without you
You taste like whiskey when you kiss
me, oh
I’ll give anything again to be your baby
doll
This time I’m not leaving without you

***

Ckitt!
Motor yang kutumpangi berhasil berhenti di depan gerbang yang nyaris saja ditutup. Tanpa mengindahkan Pak Satpam yang sudah memasang wajah sangar
, segera kuarahkan motorku ke tempat parkiran yang sudah terisi penuh. Agak kesusahan, kupaksakan mencari tempat parkir meski harus menggeser motor ninja yang berat minta ampun. Dan setelah berhasil memarkirkan motor dengan benar, segera kulajukan kedua sepatu pantofel hitamku menuju ruang kelasku. Jam pelajaran pertama pagi ini akan diisi oleh Bu Qiyarottun. Aku tak mau mendapat omelan dari guru fisika yang killer naudzubillah itu cuma gara- gara telat semenit.

“Weitz! Si Raja Monster datang niech! Nyontek tugasnya Bu Qiyarottun donk! Gue belum ngerjain nich, bisa mampus gila ntar gue kalo ketauan belum ngerjain!”

Jamal, cowok tengil berambut spiky dan berpostur atlet basket itu segera menghampiriku begitu pantatku sukses mendarat di bangkuku yang letaknya di pojokan. Lagi-lagi dia nyontek tugas dariku. Untung saja dia teman sebangkuku, kalau tidak, aku takkan pernah mau memperlihatkan tugasku barang se-nomor pun. Untung saja aku juga udah ngerjain tugas itu. Kalo enggak, bisa mampus barengan dibantai sama nenek sihir berkacamata silinder yang ditakuti maha- maha itu.

Maka setengah terpaksa- ralat, nggak terpaksa- terpaksa amat sich- kukeluarkan buku diktat tebal dengan sampul bergambar mikrometer sekrup itu. Dan membiarkan Jamal membabatnya seperti ia membabat habis karedok favoritnya.

“Eh, Gung, lo udah tahu belom ketua OSIS yang kepilih kemarin? Kata anak-anak dia cakep lho. “Ucap Jamal disela kesibukannya menyalin rumus- rumus Sentripetal.

“Oya?”jawabku datar. Aku sama sekali tak pernah tertarik jika diajak membicarakan orang lain. Aku hanya hidup dalam duniaku. Dunia dimana hanya Gaga yang patut disorot dan dibicarakan.

“Iya! Orang dia jenius banget, perfect lah pokoknya! Makanya anak-anak cewek langsung pada ngefans sama dia” tambah Jamal tanpa menggebu.

“Terus? Gue musti bilang WOW gitu ?”cerocosku ngasal.

Maka seketika itu pula Jamal menghentikan aktifitas menconteknya. “Elo itu beneran gay bukan sih Gung? Kog nggak pernah excited kalo diajak ngobrolin cowok!”

Aku seketika mendelik begitu mendengar ucapan Jamal barusan. Untung saja suasana kelas cukup ramai, sehingga ucapan Jamal tadi tak kedengaran siswa lain. Bayangin aja kalau siswa-siswi lain dengar, mereka pasti akan melemparkan tatapan menghujam padaku.

“Heh! Biarpun gue gay, gue juga gak bakal gampangan interest sama cowok!” bisikku sembari menyenggol bahu Jamal.

Kulihat Jamal mencibir, “Ya gue tahu, lo kan cuma excited kalau ngomongin Gaga doang.”

“Nah itu lo tau”sanggahku.

“Please deh Gung!”pekiknya seraya menutup diktatnya karena contekannya sudah selesai. “Lagian apa sich yang lo liat dari cewek sarap macam Gaga itu?”

Aku mendengus. Apa yang Jamal bilang barusan? Gaga cewek sarap? Oh my Gaga! Ini benar-benar penghinaan!

“Lady Gaga itu bukan cewek sarap! Dia cewek terhebat dimuka bumi ini!” jeritku sebal.

“Cewek hebat mana ada yang pake kutang dari pistol! Liat kan videoklipnya Alejandro? Alejandro.. Ale Ale Jandro!” ejek Jamal menirukan lirik Alejandro yang gagal total.

“Arggh! Jamal jelek! Udah ah!”pekikku sambil memberondong tubuh Jamal dengan pukulan kecil. Kulihat Jamal terpingkal puas. Namun mendadak semua terhenti oleh kedatangan Bu Qiyarottun.

——————————————————————-

Hoaaaaa!!! Ini submisi pertamaku buat blog ini. Senang sekali rasanya bisa menjadi penulis di blog ini, hehehe. Trims buat kawan Nayaka yang telah mengijinkanku membuang coretan-coretanku disini. Sebelumnya salam kenal. Aku Tito. Ryanindra Ardika Bagustito. Penulis yang begitu tergila-gila pada Gaga. Jika kau anggap itu aneh, aku terima, tapi kuharap itu jadi keunikanku. Salam karya.