Best Friend

Dua tetes.

Aku sempat melihatmu mengusapnya. Lalu kau menggeleng. “Aku baik-baik saja.” Setelah itu celotehmu kembali. Berkisah apa saja, hingga mataku meremang dan lelap. Tidur di pangkuanmu.

Kau tak baik-baik saja. Aku tahu, sejak bayi kita sudah bergandengan tangan. Bagaimana mungkin dasar hatimu tak bisa ku tengok.

“Apa kali ini sama?” Kau akhirnya mau mengangguk. Ini bukan kali satu, dua atau lima. Tak perlu kau malu. Ah tidak, tak perlu berkamuflase di depanku.

“Aku lelah.” Bergantian. Kini kau bersandar di bahuku. Kepalamu terasa lebih berat. Apa seberat itu yang kau pikirkan kawan?

“Pasti ada ganti yang terbaik.”

Senyummu terkembang separuh. “Entahlah. Mungkin aku belum mampu menjadi imam buat mereka.”

Kau selalu jadi imamku, kawan.

“Aku tak punya daya menafkahi mereka.”

Hanya di dekatmu aku hangat, lebih dari materi.

“Mungkin wajahku tak setampan yang merebut mereka dariku.”

Kau sudah merebut hatiku sejak lama. Sejak pertama kali kau memanggilku, kawan!

“Bimo…”

“Hmm, apa lagi? Apa masih kurang sampah yang keluar dari mulutmu?” Aku geser kepala beratmu. “Rasakan!” aku pukul cukup keras.

“Aduh sakit Bim. Hmm, Kira-kira apa ada jodoh untuku?

Aku diam. Kau menatapku sekilas.

Jika saat ini juga Tuhan mengubahku jadi wanita, Aku akan berdiri dan memintamu jadi Imamku. Jodohku.

“Suatu saat pasti ada, percayalah.”

Kau mengangguk lalu bangkit menuju pintu. “Makasih untuk curhat hari ini.” Jempolmu terangkat tanpa menoleh lagi.

“Santai saja bro! Kalau ada masalah datang saja ke sini.”

Deva, Bolehkah aku memelukmu sebagai ganti lelah mendengarmu bercerita?

Juga berharap.

 

Javas (@ADjavas)

 

***

 

Salam Karya!

Iseng buat fiksi sehabis dengerin lagu judulnya Tomodachi yang dinyanyikan AZU. Daripada lama nggak posting terus digetok Nay, jadi kupersembahkan cerita di atas. Sedikit klise, tapi aku yakin banyak yang mengalami.