Kita tak hanya terikat pada kata “teman” saja. Lebih dari itu ada nafasmu mengalir pada tiap gores kata yang kukirim di depan pintu rumahmu sebagai puisi. Aku bahkan tahu, kau angin. Sejak dulu. Tak terikat tak tersentuh. Namun aku simpan mantra terampuh yang akan kau bawa pada tiap hembusmu.
Semarang, 6 September 2012

——————————————————————————————————–

Sebenarnya ingin kubuat sebagai prologe sebuah cerita, namun aku belum sanggup menemukan nafas yang panjang untuk memulainya, jadi inilah. Buat Nay.. maaf sebesar-besarnya.. aku benar-benar “nyampah” (kuharap ini bukan sampah, karena inilah karyaku) ditempatmu. Terkadang aku merasa malu atau segan posting disini karena merasa tulisanku….. T_______T. Jadi.. silakan kalau mau dicaci ini tulisan.