~ LACRIMOSA ~

 

.As a Result

I Even End Up Betraying You

.

.

.

Aku tertawa.

Menertawakan diriku dan terlebih menertawakan dirinya.

“Bodoh kamu! Kamu pikir dari dulu aku tuh mau bertemen ama kamu?!”

Seringaiku seringai setan. Kejam.

Mata hitamnya membulat, menatapku lekat-lekat.

“Kamu ga usah sok baik, sok perhatian, sok suci, bikin aku muak!”

Mukanya memerah, entah karena udara dingin yang membuatnya demam atau karena menahan kesal.

“Kowe ki Goblog tenan!”

(“Kamu itu Goblog sekali!”)

Bisa kulihat tangannya mengepal erat.  Dia masih tersungkur di tanah saat aku dorong tubuhnya keras tadi.

Keterkejutan masih tergambar jelas di raut wajahnya.  Mungkin dia masih tak percaya melihatku seperti ini. Melihat seseorang yang selama ini dikiranya teman berubah menikam.

Seringaiku semakin lebar. Senang rasanya melihatnya begitu terpuruk saat ini.

Karena kau selalu terlihat bahagia dan seolah tak memiliki beban. Karena itu aku benci.

Aku iri.

“Brengsek!!! Wani  Kowe, hah?! Dasar cah edan ga ngerti di untung! Setan!!!”

(“Brengsek!!!Beraninya  kamu, hah?! Dasar bocah gila ga ngerti di untung! Setan!!!”)

Hantaman itu telak mengenai rahangku. Cukup keras hingga kali ini akulah yang tersungkur ke tanah.

Perih dan sakit yang kurasakan.

Biar saja, mungkin ini tak sebanding dengan perih dan sakit yang kau rasakan sekarang.

Hah, iyakan?!

Aku menatap dingin ke arahnya. Kali ini dia dibantu berdiri oleh dua orang ‘pengikut’ setianya. Mereka adalah Antek-antek yang terkena pengaruhnya. Antek-antek setia yang mengikrarkan diri menjadi Sahabat karibnya. Sahabat selamanya.

Hah?! Persetan dengan mereka!

“Ojo ngasi aku ndeleng rai mu maneh! Cuih!”

(“Jangan sampai aku melihat mukamu lagi! Cuih!”)

Salah satu dari mereka mengancamku. Setelah tak puas karena memukulku kali ini dia meludahiku. Mereka lalu beranjak pergi meninggalkanku sendiri.

Namun dia masih saja menatapku saat dua orang itu menyeretnya menjauhiku.

Dia masih memandangiku.

Bukan.

Bukan tatapan penuh amarah. Bukan tatapan jijik karena melihatku sebagai sampah.

Dia memandangku sedih.

Dia menangis.

.

Seperti dua sisi mata uang, mungkin kau ditakdirkan jadi sisi yang baik, aku yang jahat.

Kau malaikat sedang aku setan.

Kau cahaya sedang aku kegelapan.

Bukankah kita tak pernah satu?

Salahmu sendiri kau menarikku untuk dekat denganmu.

“Namaku Bayu,” ucapnya saat pertama kali menjabat tanganku satu tahun lalu.

Bayu yang berarti angin. Angin yang selalu berhembus membawa kesegaran.

Ibunya tahu benar cara menamai sang putra tercinta.

Sebab dia selalu menebarkan kesejukan.

Membuat banyak orang begitu nyaman di dekatnya.

Sama seperti namanya. Bayu.

Dan Aku benci itu.

Aku benci karena dia mengusikku.  Selama ini aku sudah cukup dengan berteman sepi, namun dia datang mendekatiku.

Menawarkan candu manis yang bernama persahabatan.

Menarikku dari cangkangku hingga aku mulai mengenal dunia luar.

Bermain. Tertawa. Menangis. Gembira.

Dia selalu menggangguku. Menanyakan kabar atau bertanya apakah aku membutuhkan bantuannya.

Saat itu aku hanya tersenyum manis dan berkata ‘Aku baik-baik saja,’

Aku berpura-pura menjadi malaikat seperti dia.

Bahkan sebuah kloning pun tak selalu sama, bukan?

Tak mungkin aku mirip dia.

Dia adalah magnet yang membuat semua orang mendekat. Dengan tawa cerianya serta pesona yang dimilikinya. Semua menyayanginya, semua menyukainya.

Meskipun mereka ramah padaku. Itu semua karena dia bilang, aku adalah temannya. Bukan karena aku sendiri. Bukan karena aku adalah aku.

Iya kan?

Karena itu… Aku membencimu.

Aku menyimpan kebencian itu hingga sekarang.

Hingga tiba waktunya aku tak tahan lagi.

Topengku retak. Kau sudah melihat diriku yang sebenarnya bukan?

Aku benci.

Aku benci padamu, dan lebih membenci diriku sendiri.

.

Kota lama Semarang, Gereja Blenduk dini hari.

Aku hanya terpekur seperti gembel di salah sudut bangunannya.

Luka memarku semakin terasa nyeri, namun kubiarkan begitu saja.

Dari dalam gereja tua ini terdengar suara puji-pujian.

Padahal ini bukan malam natal, namun mereka sibuk memuji Tuhan.

Kalau dipikir-pikir, aku sudah lama tak ke rumahNYA.

Jalanan memang sedikit lengang. Hanya terlihat beberapa pelacur dan banci yang sedang mangkal.

Aku menghisap lagi nikotinku yang tinggal separuh. Asapnya menguap bersama dinginnya udara pagi ini.

“Sorry,” bisikku

Hanya keheningan yang membalasku.

Ini buat kebaikanmu

Buat kebaikan hatiku.

Jika hanya ada prasangka buruk tentangmu di diriku.

Aku seperti mengkhianatimu.

Ini satu-satunya cara.

Meski aku menyayangimu.

Bukankah lebih baik begini?

lebih baik aku pergi.

“Sorry,” kataku lagi.

 

END

.

.

.

And Since I Let You Go

It’s getting Easier

(Credit : Senpai Afni)

 

 

Persahabatan itu memang Rumit ya ^^

Untukmu yang pernah kecewa karena teman.

Rasanya tak ada salahnya melihat dari dua sisi yang berbeda.

Yuuki ^^

 

*LACRIMOSA is Latin for “weeping”

*Current Music : Lacrimosa – Kalafina