CUAP2 NAYAFNI

Salam…

Sahabat, semoga gak ada yang kena ayan mendadak begitu melihat tajuk postingan gak jelas ini yaa. Kekekekee, aku sama Mbak Afni punya ide gila ketika kehabisan bahan rumpian di line chat. Dari sanalah tulisan acak-adut ini berasal, kami terus saling chat dan Mbak Afni mengkopasnya dalam word, hehehehee. Setidaknya, aku tahu cara baru berkolaborasi menulis secara efektif, pergunakan jasa mesin chat kalian. Pesanku, jangan terlalu serius ketika membacanya ya, santai saja, ini cuma cuap-cuap gaje dan gaje dan gaje dan gaje. Tapi, jika kalian ternyata menemukan sedikit saja pencerahan dalam tulisan ini, aku bilang… that’s BIG MIRACLE. Tapi aku tetap berharap, semoga kalian menikmati membaca BILA NAYAKA DAN AFNI SUTRISNA BICARA CINTA seperti aku –dan Mbak Afni- menikmati ketika membicarakannya ___Nayaka

Jujur ya, saya nggak punya definisi cinta sendiri. Selama ini saya lebih suka menggunakan kata sayang karena buat saya rasanya lebih hangat dan universal. Jadi, ketika Nayaka al Gibran tiba-tiba mengajak ‘nulis bareng’ dengan tema cinta, pertama kali saya bilang “Hah?!?!” hehehe… But this is it, akhirnya saya nulis juga, dengan memeras otak dan memaksa hati, meskipun saya sadar seberapa maksimalpun saya berusaha, tulisan saya nggak akan pernah layak disandingkan dengan rangkaian kata dari seorang Nayaka al Gibran, hehehe…
Jadi, para pengunjung blog yang selama ini setia sama tulisan Nayaka, jangan kaget kalo postingan kali ini terasa aneh ya, soalnya ada tulisan saya yang ngerecokin, kekekekek
Happy reading…  ___Afni Sutrisna

Wassalam

-NAYAFNI-

###################################################

Pernahkah kamu menghitung, seberapa sering kamu merasa cinta? Samakah kadarnya untuk orang/benda/makhluk yang berbeda? Pernahkah juga kamu menghitung, berapa banyak kamu mencintai? Dan berapa sering kamu dicintai? Kemudian orang mulai berujar, katanya lebih baik mencintai daripada dicintai, padahal masing-masing orang pada akhirnya memiliki definisi cintanya sendiri-sendiri…

Mari kita lihat beberapa arti kata ‘cinta’ yang sudah dituliskan.

Menurut Nayaka (Gak Usaaaaaaaaaaaaah), pokoknya menurut Nayaka, harus! Kata Nayaka, Cinta adalah ketika kita sedang merasa bahwa dunia ternyata indah, cinta adalah saat kita melihat bunga dimana-mana, cinta adalah ketika dari hati kita keluar lope-lope warna merah hati (?) ___kayak pelem kartun yak. Lupakan kata Nayaka, dia sedang kumat <<<— Mbak Afni say.

Dalam KBBI, cinta punya beberapa arti: suka sekali; sayang benar, kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali; berharap sekali; rindu.

Wikipedia berkata Cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. (Aku pusing sama si Wiki satu ini, panjang amat ekornya…)

Menurut Dasa Darma Pramuka, cinta adalah perasaan tertarik yang disertai kesediaan untuk berkorban.

Nah, Dasa Darma tuh yang berat (makanya aku gak pernah mau ikut kegiatan Pramuka, semuanya beraaaaaaaat), apa beratnya? Nih, kesediaan untuk berkorban. Jika memang definisi cinta se’berat’ itu, mengapa kita justru begitu mudah mengumbar kata cinta? Apa iya kita benar-benar bersedia berkorban buat orang yang kita jadikan obyek dari predikat cinta dengan kita sebagai subyeknya? Kita persempit, mari sepakat bahwa yang kita bahas selanjutnya adalah cinta antara dua manusia (beda kelamin atau sama jenis).

Camelia Malik (waktu kecil, kakak-kakakku sering nyebut Camelia Maling) bilang, cinta sudah direkayasa. Lalu kita bertanya, jika cinta sudah tidak benar-benar cinta, untuk apa kita harus mengorbankan apapun itu atas nama cinta. Tak perlu. Kecuali, kamu adalah pengamal Dasa Darma Pramuka sejati (?).

Apa mungkin sebenarnya cinta sudah tak benar-benar ada? Karena selalu harus ada alasan seseorang untuk merasa mencinta. Bisakah cinta dirasa tanpa melihat, tanpa mengharap, tanpa menyentuh dan tanpa meminta? Sekedar merasa nyaman yang takut kehilangan, merasa berbunga saat dia bahagia, dan merasa lara saat dia terluka?

Maka cintapun tinggal kata. Beberapa menyakralkan, ada juga yang memakainya sembarangan. Padahal cuma suka, tapi bilang cinta. Kedalaman perasaan sebagai parameter cinta jadi berbeda untuk tiap orang. Andai kita punya alat seperti di salah satu buku TERE-LIYE ___namanya CINTANOMETER, tentu kita dapat mengukur kadar cinta seseorang. Sayangnya, hingga sekarang belum ada ilmuwan sehebat Ilmuwan Tere-Liye.

Jika cinta cuma sekedar kata, dan parameternya sudah tidak benar-benar murni, cuma satu hal yang akan terjadi. Cinta akan menjadi alasan ke sekian ketika kita memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Apa alasan pertamanya? Jika kita bertanya pada pemabuk, mereka akan menjawab ‘nafsu,’ para pebisnis akan menjawab ‘harta dan pangkat,’ sedang para pelukis dan pemahat akan menjawab ‘rupa.’ Kita menjalin hubungan karena nafsu kita meledak-ledak, karena kita silau dengan kekayaan dan karena dia tampan atau jelita. Begitulah, cinta hanya akan jadi kata belaka.

Namun jangan berpatah arang wahai pecinta sejati. Biar kata cinta sudah direkayasa (Camelia Malik aja yang bilang gitu, Bang Haji Rhoma belum kan?) dan sudah sedikit orang yang setia sama Pramuka, yakinlah, cinta sejati itu ada. Aku punya loh, ga percaya? Ini buktinya, aku masih punya definisi cinta sejati milikku sendiri. Mari kita lihat apa itu…

Cinta sejati itu ibarat celana dalam. Penting untuk dimiliki tapi kita tak harus menunjukkan pada semua orang. Tapi yakinlah, suatu masa nanti akan ada satu orang yang melihat celana dalammu ___bahkan tanpa kamu tunjukkan, dan saat itulah satu dalam sejuta terjadi, kamu benar-benar menempatkan cinta di urutan pertama sebagai alasan untuk memulai sebuah hubungan.

Kata orang, cinta pertama tak pernah mati. Berapa usiamu saat mengalaminya? Masa belia saat kita bahkan tak bisa membedakan rasa, apa iya itu cinta? Dan bukankah cinta pertama, kedua, ketiga dan seterusnya memang tak akan mati selama belum ada cinta baru yang selanjutnya?

Nah, sebenarnya perjalanan cinta itu simple. Temukan dan jalani. Hilang, temukan lagi, jalani lagi. Masalahnya, ada orang yang menemukan cinta berkali-kali dan lalu kehilangannya berkali-kali jua. Disakiti, dikhianati, diselingkuhi, ditikam dari belakang, atau dicampakkan bak sepah yang habis manisnya. Untuk kalian yang seperti itu (yang dicurangi oleh cinta), satu pesanku, lihat lebih dalam pada hatimu, tanyakan apa yang kamu cari dari sebuah hubungan percintaan sebelum kamu memutuskan untuk menemukan cinta yang baru.

Dan berharaplah menemukan cinta sejati. Konon katanya, yang sejati justru bertahan ketika kita dalam keadaan bagaikan antara hidup dan mati. Kita terpuruk dalam, dia ada untuk menemani. Kita bersusah payah bangkit, dia ada untuk menyemangati. Kemudian berusahalah menjadi pecinta sejati. Bukankah cinta indah saat saling menguatkan?

Tentu, cinta sejati itu adalah suatu simbiosis paling indah antara dua makhluk hidup. Lihat contoh simbiosis ini pada kerbau dan burung jalak, mereka saling setia. Aku gak pernah melihat burung jalak disambit kerbau pake ekornya ketika si burung hinggap di punggungnya sambil memakan kutu kerbau. Atau kerbau yang kulitnya berdarah-darah karena dipatuk si burung sekuat tenaga (?), gak pernah. Begitulah cinta sejati itu, aku ada karena kau ada –kata RADJA.

Last. Banyak yang bilang gak ada cinta dalam dunia pelangi (maaf, aku harus masukin ini sedikit karena –tentu kalian sudah tahu- kebanyakan kita di sini adalah pelangi), mungkin benar bagi mereka yang memang tak tahu apa-apa tentang cinta. Tapi aku pribadi yakin, benar-benar ada diantara kita yang benar-benar tahu dan kenal apa itu cinta. Berdoalah wahai pecinta yang mengerti cinta, bahwa suatu saat kamu akan bertemu dengan dia pecinta yang juga begitu menyakralkan cinta…

Wassalam

NAYAFNI

dekdie_ishaque@yahoo.com

aph_rizqits@yahoo.co.id