an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

PENGGALAN POKET 9 :

Tuh kan benar, Bang Awi memang tidak menikah karena menunggu Kak Aira. Berarti ustadz ini sudah tidak berpegang pada syaratnya yang dulu, baguslah. Kuberanikan lagi untuk melirik mereka. Kak Aira menunduk sambil memuntir-muntir ujung jilbab –ini memang bakatnya, sedang Bang Awi tampak tegak dengan kedua tangan dalam saku baju muslimnya. Mereka berdiri bersisian, tapi tidak terlalu dekat.

“Kapan Abang akan ke rumah?” Suara Kak Aira, nadanya jelas terdengar malu-malu.

“Secepatnya, mungkin sebelum liburan Dik Aira habis. Abang akan memberi kabar pastinya nanti…”

Sebelum masa liburan selesai? Berarti benar-benar ‘secepatnya.’ Libur hari raya cuma seminggu. Aku sangat yakin kalau yang dimaksudkan mereka adalah tunangan. Bang Awi akan mengikat Kak Aira dengan pertunangan dan akan menunggu sampai kakakku itu selesai kuliah untuk kemudian menikahinya. Bang Awi sungguh sabar, itu artinya dia harus menunggu sedikitnya tiga tahun lagi. Pertanyaannya sekarang, apakah Abah akan meluluskan niat mereka? Aku berdoa untuk Kak Aira dan Bang Awi. Jika dulu alasan Abah menolak karena tidak setuju dengan syarat Bang Awi, aku berdoa kali ini Abah mengangguk karena Bang Awi tak lagi membawa syarat. Amin ya Allah…

***

POKET 10

Segelintir mereka merasa, Ramadhan terlalu singkat. Mungkin aku termasuk yang segelintir itu –mungkin lagi karena namaku sama dengan nama bulan itu (apa konektifitasnya?). Rasanya baru kemarin aku bangun sahur untuk kuat berpuasa pada paginya, tapi hari ini aku sudah berada di penghujungnya. Begitulah, sebulan itu tak lama ternyata.

Ummiku sudah punya bertoples-toples kue di rak makanan. Hanya butuh waktu tiga hari untuk menghasilkan sedikitnya sebelas macam –itu yang sempat kuhitung- nama kue kering yang sekarang tampak enak di wadahnya. Dan selama tiga hari itu pula dapur menjadi laboratorium Ummi dan Kak Aira dari pagi hingga siang untuk mengerjakan formula-formula rahasia yang hanya bisa diselesaikan tangan-tangan berujung tirus mereka –bagaimana mereka bisa tepat menakar tepung, gula, mentega, telur dan kerabat-kerabatnya hingga ketika menjadi kue semuanya terangkum dalam satu kata: pas, sungguh itu adalah misteri yang masih membingungkanku. Sementara Ummi sibuk di dapur –yang otomatis menjadi area terlarang bagi Haikal- maka akulah yang merasakan imbasnya. Efek samping dari keadaan ‘NO UMMI TODAY’ yang dialami Haikal sungguh tak baik buatku, sepanjang siang selama tiga hari aku harus menampung Haikal di kamarku. Melihatnya ‘menghancurkan’ kamarku, melompat-lompat di ranjang, membaling kelereng, menarik buku-buku dari meja belajarku, bermain dengan bantal dan selimut dan kadang-kadang bertingkah ala ultraman dengan bersalto ria di atas kasur sudah menjadi makananku selama tiga hari ini.

Bukan itu saja, aku juga dibikin puyeng dengan celoteh-celotehnya. Dibuat sengsara dengan perintah-perintahnya. Lagi, jika tidak ingat dia adik Syawal dan juga anak bungsu Abah dan Ummi, pasti dia sudah kukunci di kamar mandi. Bagaimana tidak? Lihat saja…

“Kak Idan… jadi kuda!”

Aku nungging dan dia sukses jadi cowboy.

“Kak Idan… kelerengnya masuk kolong lagi…”

Tanpa membantah aku merangkak ke bawah kolong tempat tidur berkali-kali.

“Kak Idan… Ikal Haus.”

Aku ke dapur dan membuatkannya segelas susu –sambil berhati-hati tak menyenggol perkakas Ummi dan Kak Aira.

“Kak Idan… Ikal loncat-loncat ya!”

Setelahnya aku harus merapikan kembali ranjangku.

“Kak Idan… Ikal mau nulis.”

Aku menyiapkan alat tulisnya –pulpen bagusku dan buku catatan tak kalah bagusnya.

“Kak Idan… Ikal pipis di celana.”

Aku menyeretnya ke kamar mandi sambil merepet-repet.

Dimana kakaknya yang sebenarnya, yang lebih berhak mendapatkan ‘kado’ dari Haikal? Syawal sibuk bersama mamanya di dapurnya –begitu yang kutahu. Syawal jadi penjaga oven –dia menyebutnya microwaveman dalam pesannya. Jadi menurut keterangan Syawal, tiap kali sang mama bikin kue maka dia yang akan bertugas jadi penjaga ovennya –sepertinya aku ditipu, bukankah sekarang sudah banyak oven listrik yang timing-nya bisa diatur? Entahlah, yang jelas Haikal selalu bilang kakaknya bantuin mama dan Mbak Mai bikin kue juga. Sudah tiga hari ini dia selalu menjawab begitu bila kutanya dimana Syawal. Ya sudah, akhirnya aku menerima Haikal dengan lapang dada.

Terlepas dari semua kesusahan yang disebabkan Haikal untukku, pada akhirnya aku akan merasa bahagianya jadi kakak ketika anak itu mencium pipiku dan bilang ‘selamat tidur.’ Lalu kami akan tergolek hingga menjelang ashar.

Seakan tahu, sudah tiga hari ini juga Syawal selalu datang setelah ashar –saat aku dan Haikal baru bangun tidur. Dia akan tersenyum memandangku –yang masih telentang di kasur- sambil berkata ‘Kal, Kak Idan kalau baru bangun tidur ternyata manisnya sama kayak kue ya…’ kemudian dia akan menggandeng Haikal –yang terbengong-bengong tak mengerti- dan keluar dari kamar. Entah mengapa dia selalu menggunakan Haikal untuk menyampaikannya padaku, bukankah dia bisa langsung berucap tanpa menyebut Haikal dulu di awal kalimatnya? Dan lagi, mengapa kalimatnya selalu sama, manis seperti kue. Mengapa dia tak mengganti kue dengan madu, gula atau manis seperti coklat? Aku ingin merespon kalimatnya, tapi bahagia lebih dulu membuatku bungkam. Jadi, aku akan tersenyum untuknya dan lalu guling-guling tak jelas setelah Syawal menutup pintu.

***

“Ikal mau bikin jugaaa…!” Jerit Haikal dengan nyiur muda yang membelit lengannya kiri kanan.

“Iya, bikin terus, kan Ikal sudah punya nyiurnya.” Sahut sang mama tanpa mengalihkan perhatian pada tangannya yang terus sibuk menganyam.

“Gak bisa Mammaaaa…!”

“Ya Tuhan, Kal… kamu bikin kacau aja ahh.” Syawal melotot pada Haikal, adiknya manyun.

“Sini Ummi ajarin…” Selalu, Ummi akan jadi teman terbaik Haikal.

Aku diam, melihat sekilas wajah orang-orang yang kusayang di sekelilingku lalu meneruskan pekerjaanku sendiri. Aku sedang membuang lidi dari nyiur muda. Memisahkan daun dan tulang, aku juga sama seperti Haikal, tidak pandai menganyam. Sementara Ummi, Kak Aira, Syawal dan mamanya menganyam bungkus beras –yang nanti akan direbus hingga jadi ketupat, maka aku sibuk dengan pisau dan telunjukku –yang mulai terasa perih karena terus bergesekan dengan pisau dan lidi. Masih banyak nyiur yang belum kubuang lidinya. Beginilah, Ummi selalu saja menganyam banyak-banyak tiap tahun –bahkan sebelum keluarga Syawal pindah kemari. Ummi akan membagi-bagi bungkus ketupat ini buat beberapa tetangga –tahun lalu rumah Nek Kinah dan Kakek Mansur juga kebagian. Ummi memang sangat sayang tetangga.

“Jari Didan mulai perih.” Keluhku lirih, berharap salah satu dari mereka mau menggantikanku memegang pisau.

“Tahan, kamu bisanya cuma itu, anyam gak bisa kan? Daripada kamu berleha-leha gak ada manfaatnya, terusin!” Kak Aira meresponku sangat cepat, bahkan sebelum mulutku menutup. “Lagian, cuma kerjaan kecil gitu aja pake ngeluh.”

“Kak Ros mengamuk…” Cetus Haikal tanpa mengangkat wajahnya dari nyiur di tangan, Ummi sedang mengajarinya.

Syawal terkekeh, “Kasian yang kena sembur.”

“Diam ahh, mau aku sembur juga?”

“AAAAA… Ikal geraaaaaaaaam…” Haikal mencampakkan nyiur yang sedari tadi membelit kedua tangannya, dia menyerah. “Ikal kayak Upin-Ipin Ya Ummiiii…” Aku curiga anak ini hanya ingin mempraktekkan isi film kartun itu, tidak benar-benar ingin belajar.

“Ikal tengok Ummi bikin aja, nanti pasti bisa.” Ujar ummiku dengan lembut lalu kembali serius dengan nyiur baru setelah beberapa saat lalu disibukkan Haikal.

“Tengokin sampe mata keluar juga percuma, Kal. Kak Idan udah cape melotot selama bertahun-tahun tapi gak bisa-bisa juga.” Cetusku sambil meneruskan kerjaku.

“Itu memang dasar kamunya yang bodoh.” Kak Aira menukas, masih dengan kecepatan cahaya.

“Nanti kalau ini udah siap semua, aku ajarin deh…” Syawal tersenyum padaku, sempat kutangkap kedipan genitnya.

“Dulu si Ibar juga lama diajarin baru bisa…” Ujar mamanya Syawal.

“Si Didan bukannya gak bisa, Tante… tapi dia gampang menyerah. Kalau udah berantakan langsung dilepasnya, bukannya dirapihin, narik sana sini sikit kan bisa.” Kak Aira memang tak pernah meninggikan derajatku.

“Didan nurut abahnya, sama tuh, tidak pandai buat juga.” Sahut Ummi, sedikit lebih enak didengar. “Iwan juga tidak begitu tahu.”

Mamanya Syawal tersenyum. “Biasalah itu…”

“Tidak bisa menganyam bungkus ketupat kan bukan hal yang memalukan.” Aku meniup jari-jariku.

Semua diam, aku rasa obrolan tentang anyam-mengayam selesai sampai di situ saja. Kembali aku mengambil nyiur berlidi berikutnya.

“Nanti aku ajarin kamu, biar kesamaan kita nambah satu lagi…” Syawal belum selesai ternyata. “Sama-sama mahir menganyam bungkus ketupat…”

Aku menatap kekasihku itu sambil tersenyum.

Pekerjaan kami selesai lewat tengah hari, Syawal dan mamanya pulang membawa seikat besar anyaman nyiur sementara Haikal malah menuju kamarku. “Ikal mau tidur siang…” begitu katanya. Enak banget tuh bocah. Aku langsung shalat zuhur lalu bersiap-siap mengikuti jejak Haikal, tapi Kak Aira malah menarik tanganku ketika siap meninggalkan tempat shalat untuk menuju kamarku.

“Temani aku ke rumah Bang Awi.” Bisiknya.

“Hah?”

“Aku  mau ngantar seikat, udah janji kemarin.”

Kulirik bungkus ketupat di tangan Kak Aira. “Udah minta izin sama Ummi untuk ngantar ke tempat Bang Awi?” tanyaku.

“Kalau belum gak mungkin aku berani pergi.”

“Ummi bilang apa?” sekarang kulirik Ummi yang sedang memisah-misahkan anyaman ketupat itu dalam beberapa ikat, siap dibagikan ke tetangga.

“Aku udah ngasih tau tentang niat Bang Awi sama Ummi… aku dibolehin ngantar ini ke sana.” Kak Aira mengangkat satu ikat besar yang sudah dipegang di tangan kanannya. “Ayo!”

“Jalan kaki?” Abah masih di kantor pos dan Bang Ikhwan masih berdinas.

“Makanya aku ngajak kamu, sana pinjam skuter-nya Ibar…”

Huft… ternyata. Tanpa membantah, aku segera bergerak menuju rumah Syawal. Kak Aira mengekor di belakangku. Syawal tak banyak Tanya, dia langsung menyerahkan kunci skuter pada kami. Satu menit kemudian aku dan Kak Aira sudah melaju di jalan menuju rumah Bang Awi.

Seperti yang sudah aku beritahu, Bang Awi adalah ustadz kampungku, tentu rumahnya masih berada di kampung yang sama dimana rumah kami berada. Itu benar, tapi rumah Bang Awi berada jauh di perbatasan kampung yang menurutku terlalu luas untuk ukuran sebuah kampung –cocoknya adalah kemukiman. Rumah Bang Awi berada di bawah Kepala Lorong yang berbeda.

Ustadz tampan itu ternyata sedang  mengecat rumahnya ketika kami tiba. Dia mengecat bersama ayahnya, sementara sang ibu duduk di kursi malas sambil memperhatikan pekerjaan suami dan anak lelakinya. Aku dan Kak Aira disambut hangat, ayah dan ibu Bang Awi bahkan sampai mengelus kepalaku berkali-kali ketika bersalaman.

“Wah, sampai dibawain segala… bikin repot Nak Aira saja…” Ucap Ibu Bang Awi ketika menerima bungkus ketupat dari tangan Kak Aira.

Kak Aira –seperti biasa- tersipu malu-malu sambil menjawab, “Gak repot kok, Bu. Bang Awi katanya selalu beli bungkusnya di pasar, tiap tahun Ummi selalu buat banyak, jadi Aira bilang padanya biar nanti dibuatin sekalian.”

Aku memandang Bang Awi, dia tersenyum sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang penuh titik-titik cat. Dia keringatan, entah karena gerah bekerja atau karena canggung dengan kedatangan aku dan Kak Aira yang langsung disambut orang tuanya. “Jadi nih lebarannya, Bang. Udah cantik gini warnanya…” Selorohku sambil memperhatikan dinding yang sedang dikerjakan Bang Awi.

“Yah, gitulah Dek… udah lama juga catnya gak diganti.” Jawab Bang Awi.

“Abangmu ini yang maksa buat ganti cat, padahal cat yang lama juga masih baik. Belum kusam benar…” Ayah Bang Awi menyambung ucapan anaknya.

“Karena Bang Awi-mu yang punya mau, jadi dia sendiri yang kerja, jangan diupahin katanya, biar dikerjain sendiri. Jadi ya agak-agak kurang rapi lah.” Si ibu menambahkan.

Aku merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Bang Awi saat ini, ayah dan ibu Bang Awi membahasakan Bang Awi sebagai ‘abangmu’ dan ‘Bang Awi-mu’ padaku –sekaligus pada Kak Aira pastinya. “Bagus kok, Bu. Mungkin Bang Awi akan jadi tukang cat professional suatu saat nanti.” Candaku.

“Didan…” Aku dipelototin Kak Aira. Ternyata dia tidak suka calon suaminya didoakan jadi tukang cat –atau dia tak suka mulutku yang tak diasuransikan ya?

Tapi mereka malah tertawa, Bang Awi bahkan sampai menepuk-nepuk bahuku. “Bisa aja kamu, Dek! Abang masih betah jadi guru ngaji…”

“Celakanya, ayahnya yang tak tahu apa-apa soal ngecat malah diminta bantu. Yah, beginilah hasil kerja sama ayah dan anak yang sama-sama tidak cakap mengecat.” Ayah Bang Awi ternyata sangat ramah, aku suka beliau.

Kami tertawa. Beberapa menit kemudian kuhabiskan dengan memperhatikan Bang Awi dan ayahnya mengecat. Bang Awi juga sempat memberikan kuas padaku, “Cobain, pasti menyenangkan!” Katanya. Aku sukses membuat cat bertumpuk-tumpuk, Bang Awi tertawa sambil menerima kembali kuas dari tanganku, “Kalau mau ngecat rumah nanti panggil Abang saja!” kelakarnya padaku.

Sementara aku sibuk memperhatikan Bang Awi mengecat, Kak Aira malah tampak akrab dengan calon ibu mertuanya. Entah apa yang mereka obrolkan, ibu Bang Awi sampai rela meninggalkan kursi malasnya dan mengajak Kak Aira ngerumpi di pojokan teras. Hemm… mereka pasti akan jadi mertua-menantu yang solid nantinya, pikirku.

Kami baru pamit menjelang waktu ashar. Ibu Bang Awi ingin menahan kami lebih lama lagi, bahkan sampai menawarkan untuk berbuka di rumahnya. Tapi dengan halus Kak Aira menolak. “Biar puas-puasin buka puasa di rumah, cuma dua hari lagi. Lebih dua minggu Aira selalu buka puasa sendirian di sana…” begitu kata Kak Aira.

“Salam buat umminya, Nak Aira…” Ujar ibu Bang Awi saat mereka melepas kami di pintu pagar.

“Insya Allah, Bu. Kami pamit, assalamu’alaikum…”

Wa’alaikumsalam…”

“Hati-hati di jalan…” ini suara Bang Awi.

Aku membunyikan klakson satu kali sebelum meninggalkan rumah Bang Awi. Dari spion, aku masih melihat mereka menunggu di depan pintu pagar sampai aku membelokkan skuter di ujung lorong.

***

Aku sedang di kamar Syawal. Haikal sedang tidak di rumah, dia dibawa keliling dengan motor oleh abahku sekalian beli kue. Untuk pertama kalinya selama puasa, Abah pergi membeli kue sendiri. Hemm… jatah pertemuan Kak Aira dan Bang Awi berkurang satu hari. Sudah hampir setengah jam aku belajar menganyam ketupat bawang dengan Syawal, kami menggunakan pita mengkilap warna warni. Yang kupegang warnanya hijau dan kuning sedang di tangan Syawal berwarna ungu dan putih. “Kita belajarnya pake pita, jadi sekalian buat hiasan juga, bisa dipajang di lemari saat lebaran.” Itu kata Syawal ketika mengeluarkan koleksi pita-pitanya. Sadar gak? Dia sepertinya memang mahir bikin-bikin yang gituan deh, burung kertas dia doyan bikin, hari ini ketupat pita, kapan hari dulu aku juga pernah diajarin cara mengolah kerang laut jadi aneka bentuk gantungan kunci. Syawal berbakat jadi wirausahawan ketika dewasa nanti.

“Bar, aku nyerah deh. Lihat, pitanya sampai keriting gini.” Aku mengeluh sambil menyandarkan punggungku ke rangka tempat tidur Syawal. Belum satupun pitaku terbentuk sementara Syawal sudah menyelesaikan tiga pasang pita.

“Sini… ternyata melihat saja tidak mempan denganmu.” Dia beringsut mendekat padaku. “Ikut caraku ya, kita buat sama-sama.” Syawal menyerahkan pita baru padaku. “Itu buang aja, walaupun jadi gak akan bagus, kecuali disetrika lebih dulu.”

Aku nyengir. “Dengan nyiur yang ukurannya jauh lebih gede aja aku gak bisa, konon lagi ini pake pita…”

“Kamu gak bisa karena tidak berjodoh dengan orang yang ngajarin…”

“Yang ngajarin ummiku langsung, apanya yang tidak berjodoh. Ibu dan anak tuh lebih dari sekedar jodoh tau!”

“Iya tau. Maksudku, kamu ditakdirkan untuk bisa bikin anyaman ketupat itu bukan dengan Ummi, tapi dengan pacarmu, aku yang tampan ini… gitu.”

Aku no respon deh kalau dia udah nyebut-nyebut takdir, tapi kalau dia mulai menganggap dirinya cakep entah mengapa aku merasa geli sendiri. Bukan karena Syawal jelek atau tidak menarik, sampai sekarang aku masih mendapati Syawal seperti saat pertama kupandang dulu –menggiurkan dan tidak bosan dipelototin, dia punya kharisma dan pesona yang tak cepat membuat jemu alias tahan lama. Yang membuatku geli adalah, Syawal tak pernah mengatakan –satu kalipun- kalau dia tampan, sampai hari ini dia mengatakan itu. Kupandang Syawal sambil menahan senyumku.

“Kenapa? Kamu tidak setuju ya kalau aku tampan? Yah, memang tidak setampan ketua kelas kita sih, tapi aku berani bertaruh, setidaknya tujuh dari sepuluh cewek berkacamata pasti akan melirikku ketimbang dia.”

Aku tertawa lalu menggeleng, Syawal konyol sore ini. Jelaslah tujuh orang cewek dari sepuluh akan melirik Syawal, mereka berkacamata. “Aku setuju, Bar. Kamu tampan, jika engga, tidak nanti aku mau jadi belahan jiwamu.”

“Oh ya…” Dia sumringah. “Sungguhkah kamu melihatku setampan itu di matamu?” Syawal menghadapku lebih dekat. Matanya berbinar.

“Ehemm, jangan lupa kalau aku juga berkacamata.”

Dia langsung cemberut. “Maksud kamu, aku cuma tampan kalau dilihat dari balik kacamata orang-orang yang rabun ya… Didan kok jahat sih…”

Aku tertawa. “Ya ampun, Bar… kamu kenapa sih sore ini?”

“Aku hanya ingin terlihat tampan untuk pacarku.” Syawal menunduk sambil memilin-milin pita.

Hadeh, kenapa dia jadi nanggapin serius seperti ini? Aku menyimpan pitaku lalu meraih tangannya. “Tampan atau tidak, saat ini tidak penting lagi bagiku, Bar. Yang aku pegang adalah, kamu mencintaiku dengan tulus tanpa pamrih. Itu saja cukup.”

Syawal mengangkat wajahnya dan tersenyum padaku. Jemari kami betaut, dia mengangkatnya ke mulut lalu mengecup jemariku tiga kali. “Aku tidak salah menitipkan kepingan hatiku padamu, Dan…” lagi dia mengecup jemariku. “Masih ingat ucapanku dulu ketika kita berciuman untuk pertama kali?”

Tentu saja aku masih ingat, kalimat itu tak akan pernah kulupakan.

“Aku mencita-citakan ciuman pertamaku harus dengan orang yang sungguh-sungguh kucintai dan bersungguh-sungguh mencintaiku…” Syawal juga sangat ingat kata-kata yang pernah diucapkannya ternyata. “Kini aku semakin melihat bukti itu padamu, Dan… bukti bahwa kamu sungguh-sungguh mencintaiku.”

Untuk sesaat, ingatanku melayang pada satu hari dulu ketika aku dan Syawal menemukan takdir kami, cinta. Kami berciuman untuk pertama kalinya hari itu, di kamar ini, di lantai ini. Aku ingat kalau saat itu sore hari, dan hujan sedang mengguyur kampungku dengan menggila. Kami sampai harus menyalakan lampu kamar karena keadaan di luar tak ubahnya malam hari. Syawal jatuh terkapar setelah sama-sama berkutat dengan tugas mapel kimia yang banyaknya hanya Tuhan yang tahu dan susahnya juga hanya Tuhan yang tahu. Begitu membuat depresinya tugas itu hingga satu kali Syawal pernah nyaris merobek buku paket kimia saking geramnya. Lelah, begitu tugas tersebut selesai, penuh rasa syukur Syawal lalu melepas kacamatanya dan langsung terkapar di lantai berbantal guling yang sudah ada di sana sejak aku tiba –seharusnya guling tempatnya di ranjang. Aku mengikuti Syawal, melepaskan alat bantu penglihatanku dan ikut melabuhkan kepala di gulingnya. Aku ingat kami sama-sama telentang dengan tangan saling bersilangan, lengan kananku menindih lengan kiri Syawal di pertengahan guling. Lalu tiba-tiba lampu mati, Syawal sempat mengumpat. Keadaan kamar jadi terang-terang tanah, lebih terang ketika kilat menyambar sesekali. Lalu aku merasa kalau Syawal mengganti posisinya jadi menghadapku, beberapa detik setalahnya aku ikut berbalik menghadapnya. Kami saling pandang dalam samar keadaan dan bias cahaya kilat sesekali. Aku yang terpejam pertama kali. Dan terjadilah, bibir kami bertemu. Saat itulah aku sadar kalau kebersamaan kami sebagai teman sebangku dan tetangga serta kawan boncengan dalam beberapa bulan terakhir telah menumbuhkan sesuatu yang istimewa di hatiku dan hati Syawal. Saat berciuman itulah, aku yakin seyakin-yakinnya bahwa aku sungguh-sungguh mencintai cowok ini.

Yakinlah

Cinta itu punya jalannya sendiri

Beberapa mungkin menyesatkan

Tak sedikit jalannya yang buntu

Tapi yakinlah

Ada satu jalan yang sudah tentu

Jalan yang membawa hati ke tempat yang benar

Jalan yang membawa hati ke tempat yang ditakdirkan

Saat jalan itu kau temui

Maka itulah jalan cinta yang sejati untukmu

Tak perlu ada penunjuk arah

Tak perlu ada rambu-rambu peringatan

Bahkan andai kau melewatinya dengan mata tertutup

Takkan ada lubang yang memerosokkan langkahmu

Takkan ada tameng yang menghalangi lajumu

Takkan ada persimpangan yang membuat bimbang

Karena cinta di hatimu tahu caranya menemukan

Berjalanlah

Hingga kau menyentuhnya

Lalu sadar bahwa kau tidak sedang tidak bermimpi…

“Apa yang kamu fikirkan…?” Syawal bertanya lirih.

Aku tersenyum. “Aku sedang mengingat saat pertama kali kita berciuman itu…”

Syawal terkekeh. “Aku masih belum lupa bagaimana kakunya bibirmu waktu itu, Dan…” dia masih terkekeh. “Anehnya, aku juga merasakan kelembutan di saat yang bersamaan, dan manis…”

“Tentu saja, bukankah sebelum menyelesaikan tugas itu kita masih sempat menghabiskan cake yang dibawain Mama ke kamar? Makanya manis…”

Kami tertawa. “Bagaimana rasa bibirku waktu itu, Dan?” Syawal bertanya tiba-tiba.

Aku mengernyit, mencoba mengingat-ingat. “Emmm… enak.” Cuma kata itu yang terfikirkan olehku.” Syawal terbahak kencang untuk beberapa lama. “Aku tak yakin kalau itu ciuman pertamamu…” lanjutku kemudian.

“Apa aku tampak bagai pencium profesional waktu itu?”

“Lebih kurang.”

“Aku langsung browsing cara berciuman yang baik dan benar sejak hari pertama kamu mau aku bonceng ke sekolah…”

“HAH?!” aku terbelalak.

“Beneran.” Jawabnya sungguh-sungguh.

“Kamu langsung tau aku… emm… aku… kalau aku emm…” aku gagu. Jujur, aku tidak suka menyebut kata ‘gay’ hingga sekarang, aku juga tak pernah mendengar Syawal menyebutnya. “Emm… berbeda, sejak pertama melihatku, ya?” aku menemukan kata yang pengganti yang tepat.

Syawal menggeleng. “Aku tidak punya feeling istimewa seperti itu. Entahlah, ketika merasa mulai akrab dengan kamu yang bersedia aku bonceng, tiba-tiba saja aku ingin mahir berciuman.”

Ya ampun, aku terbahak. Membayangkan Syawal hari itu gelisah sepanjang kelas dengan pikiran bahwa saat pulang nanti harus segera browsing tehnik berciuman yang baik, sungguh menggelikan. Rasa-rasanya aku seperti melihat Syawal asik memandangi bibirku saja sepanjang hari itu –entahlah, mungkin memang dia memandangi tapi aku yang tak sadar. Sungguh, membayangkan Syawal melakukannya membuatku geli.

“Kamu boleh tak percaya, tapi aku beneran melakukannya. Aku langsung buka modem begitu masuk kamar.”

“Aku percaya, dan aku senang kamu memilihku sebagai objek percobaan pembelajaranmu itu.” Aku masih merasa geli, jadi aku berucap begini sambil terus tersengih-sengih.

“Aku tak pernah coba-coba ketika menciummu, aku melakukannya dengan penuh keyakinan. Kamu bukan objek percobaan, tapi pilihan tak tergantikan.”

Jika aku balon gas, maka aku akan melayang sekarang. Jika aku bolu dalam oven, maka aku akan mengembang saat ini. Syawal membuat hatiku penuh. Kudekatkan tangan kami yang masih bertaut ke wajahku dan kusentuhkan ke pipiku. “I love you so much…”

“Itulah satu-satunya kewajibanmu untukku, Didan. Mencintaiku dengan amat sangat, sama seperti kewajibanku untukmu, mencintaimu dengan tingkat amat sangat yang sama…”

Kukecup jarinya, lebih dari tiga kali.

“Hemm… masih mau lanjut mesra-mesra atau lanjut untuk mendapatkan satu kesamaan lagi antara kita berdua?”

“Sama-sama tahu caranya menganyam ketupat, tentu saja. Ayo, ajari aku sampai bisa!” ucapku bersemangat.

Syawal tersenyum lalu mengambil pitanya kembali. Sesaat kemudian aku benar-benar berusaha untuk bisa mengikuti tiap langkah jari-jari Syawal pada pita mengkilap. Sesekali, Syawal membetulkan pitaku dan memberikan instruksinya sambil terus memandang bergantian antara wajahku dan tanganku. Mungkin sekarang dia sedang berfikir bagaimana rasanya bila bibir –yang ada di wajahku- dan jemari –yang ada di tangan-ku bekerja secara bersamaan di bawah perutnya.

***

Yazir meneleponku setelah makan sahur, katanya, dia kangen rumahku. Walau tidak yakin dia benar-benar kangen rumahku –aku mengira yang dia maksudkan adalah kangen Kak Aira- tapi aku tetap mengiyakan keinginannya untuk datang ke rumah. katanya, dia akan tiba sebelum siang.

“Siapa, Dan?” Tanya Kak Aira yang sedang menonton TV.

“Yazir.”

Kak Aira membulatkan mulut.

“Dia mau datang ke rumah.”

Kak Aira kini serius memperhatikanku. “Kapan?”

“Katanya sebelum siang.” Aku menjawab seperti yang dikatakan Yazir. “Dia gak sering telepon Kak Aira lagi ya?” aku duduk mengelesoh di ambal bersama Kak Aira.

Kak Aira menghela nafas. “Sejak hari itu, dia gak pernah telepon lagi.”

“Menurut Kak Aira, kira-kira dia kemari nanti mau ngapain? Kalau aku bilang, sebenarnya yang mau dia telepon untuk ngasih tau kalau dia mau datang adalah Kak Aira, tapi dia gak enak hati untuk telepon Kak Aira lagi berhubung masalah hari itu…”

Kak Aira mengangkat bahu. “Liat nanti. Tapi nih ya, aku gak pernah merasa canggung atau apalah itu sama dia. Aku masih nganggap dia teman, sekaligus adik mungkin, kayak kamu juga.”

Aku manggut-manggut. Jika pun nanti Yazir datang untuk bertemu Kak Aira, aku rasa mereka sama-sama bisa menempatkan diri masing-masing. Yazir pasti sudah bisa menerima kenyataan bahwa jalannya bukan Kak Aira. Begitu juga Kak Aira, walau dia pernah merasa bersalah karena tak bisa menerima Yazir namun dia pasti bisa paham seperti apa situasinya. Lagipula, Kak Aira sudah bilang kalau dia tak akan merasa canggung bila bertemu Yazir, dia akan tetap berkawan dengannya seperti sebelum Yazir bilang cinta.

“Didan, ikut ke mesjid gak? shalat subuh berjamaah…” Bang Ikhwan nongol, sudah rapi dengan baju shalatnya. Suara orang mengaji sudah terdengar dari corong mesjid beberapa saat lalu.

Aku jarang ikut jamaah shalat subuh, selama puasa –sampai ini sudah hari terakhir, hanya beberapa kali saja aku ikut shalat subuh berjamaah. Sedangkan Bang Ikhwan, dia lebih banyak ikut jamaah, hanya beberapa kali saja yang absen. Aku ingin menggeleng tapi Bang Ikhwan sudah lebih dulu buka mulut lagi.

“Bulan puasa cuma tinggal sehari aja, ini subuh terakhir di bulan ini. Ayo sana ambil sarungnya.” Bang Ikhwan melenyapkan kemungkinanku untuk menggeleng.

Aku mendengar Abah berdehem, lalu berjalan melintasi ruang TV menuju pintu depan –Abah mau ke mesjid seperti biasa. Deheman itu tandanya aku harus menggangguk. “Tungguin Didan, Bang…”

“Iya, cepetan.”

Aku bangun, “Kak Aira gak mau ikut? Ada Bang Awi loh…” desisku pada Kak Aira sebelum bergerak ke kamar untuk mengambil sarungku.

“Iya ya…?”

“Udah sana cepetan, ahh.” Bang Ikhwan memburuku, lalu dia menatap galak pada Kak Aira, “Gak ada lirik-lirikan di mesjid. Kalau mau ikut jamaah ya ikut saja, jangan karena ini karena itu.”

Kak Aira mengkeret. “Aku di rumah aja sama Ummi…”

Tidak ingin digalakin Bang Ikhwan juga, aku segera ngacir mengambil sarung dan peciku.

***

Yazir benaran datang setelah zuhur –melenceng dari katanya di telepon tadi, dia bilang akan datang sebelum siang. Yazir tidak sendiri, Aria duduk manis di boncengannya. Aku tak mengira Yazir bakal datang bersama ketua pengurus mading sekolah –sekaligus bos-ku- itu. Kusambut mereka sambil tersenyum.

“Aku datang lagi nih, Dhan…” Seru Aria begitu turun dari motor lalu langsung berjalan menuju teras.

“Iya, selamat datang kembali ke habitatku. Jika aku tau lebih awal kalau Yazir datang bareng kamu pasti aku suruh Ummi bikin puding kelapa muda.” Selorohku. Aku ingat, dulu ketika datang menjengukku kembali sepulang RS, Aria menghabiskan dua mangkuk puding bikinan Ummi sementara temanku yang lain hanya mampu mengosongkan satu saja. Jadi aku berkesimpulan kalau dia adalah penyuka puding kelapa muda.

“Yee… masih puasa kali, Dhan.” Jawab Aria. “Ya kecuali boleh bawa pulang bisa sih…”

“Bawa pulang kelapanya saja, bikin sendiri di rumah.” Tandasku.

“Boleh ya? gak dibikin puding juga kelapa muda selalu enak. Aku mau jugalah…” Sambut Yazir.

“Wah, ada tamu nih…” tiba-tiba Kak Aira nongol di pintu.

Aku melirik Yazir, tak kutemukan perubahan pada wajahnya. Dia biasa-biasa saja, sepertinya Yazir sudah bisa mengerti dan menerima keadaaan. Sedang Aria…

“Wah bener kata Yazir, kakaknya Ramadhan sungguh cantik…” tanpa sungkan dia langsung bergerak menyalami Kak Aira di pintu. Kakakku itu senyum-senyum sendiri menyambut tangan Aria. “Saya Aria Kamandanu, Kak, pimpinan Ramadhan di mading sekolah…”

Huh, mesti ya nyebut-nyebut jabatan segala, aku mendumel dalam hati. Bukannya tidak suka Aria memperkenalkan dirinya seperti itu, tapi Kak Aira selalu punya kecenderungan untuk membanding-bandingkan kehebatan teman adiknya dengan kemampuan adiknya sendiri yang selalu dianggap tak hebat olehnya. Satu lagi, sejak kapan nama absen Aria berubah? Bukankah terakhir kali guru meng-absen namanya masih Aria Kamaruzzaman?

“Hebat, pimpinan pengurus. Lihat tuh, Dan… semua temanmu punya peran penting di sekolahan, kamu gak ada apa-apanya.” Benar kan, aku mengerucutkan bibirku pada Kak Aira. “Eh, nama kita kok kayak mirip ya.” Lanjut Kak Aira setelah bersalaman dengan Aria.

“Ah iya, Aria sama Aira…” pasti dia tahu nama Kak Aira dari cerita Yazir. “Hurufnya dibolak-balik saja. Mungkin kita berjodoh kali ya, Kak…” Aria lumayan sedeng ternyata.

Yazir batuk-batuk. Semua mata tertuju padanya. “Kamu baik-baik aja, Zir?” Tanya Kak Aira. Yazir langsung memerah ketika bertatapan dengan kakakku itu.

“Iya, gak apa-apa kak…” jawabnya.

“Hemm… lanjut ngobrol deh, aku permisi ke dalam dulu, bantu-bantu Ummi di dapur ngerebus ketupat. Besok jangan gak ke rumah ya, Zir… Aria juga. Dijamin, kalian bakal suka ketupat lebaran di rumah ini…” ujar Kak Aira sedikit membanggakan diri.

Yazir mengangguk tersenyum, sementara Aria mengangkat jempol kanannya pada Kak Aira, “Pasti, kami bakal jadi tamu pertama besok yang akan duduk di meja makan Kak Aira…” katanya.

“Aku pegang tuh kata-katanya, awas aja kalau mangkir! Tanya Didan, bagaimana beratnya hukuman dariku buat orang yang gak menepati omongannya…” Kak Aira mengangkat dagu padaku.

“Ehem, aku pernah digepruknya pake gagang pel tuh…” kataku.

“Kasih tau juga sama mereka bagaimana sakitnya kalau cambangnya ditarik.” Cetus Kak Aira lagi.

Aku melirik Yazir dan Aria. “Yah, aku juga pernah ngalamin yang itu…” Jawabku jujur. Wajah mereka langsung pias, kaget.

Aria berdecak lirih. “Ck…ck…ck… cantik-cantik tapi sadis, tipe srikandi banget!”

Kak Aira tertawa, “Maka dari itu, datang besok. Ditungguin pokoknya.”

“Kami pasti datang.” Yazir yang menyahut.

“Oke sip, aku ke dalam ya. Kalau ada yang mau ikut bantu aku sama Ummi silakan nyusul…” Kak Aira berbalik pergi.

“Gila… kakakmu asik banget, Dhan. Jarang loh ada gadis se-welcome itu sama temen-temen adiknya.” Ujar Aria setelah Kak Aira menghilang di balik pintu. “Trus… Kak Aira cantik bangeeeeeeeet…” Aria kumat, “Coba kalau kakakku berjilbab juga kayak Kak Aira, aku rasa pasti dia jadi lebih cantik sepuluh kali lagi dan makin disayang cowoknya yang polisi itu.” Entah apa yang direpetkan Aria.

“Udah ah.” Aku menghentikan cuap-cuap Aria. “Ada apa nih, aku kirain kamu trauma datang ke rumahku.” Kupandang Yazir. Aria –aku yakin dia pasti sudah dapat cerita lengkapnya dari teman sebangku sekaligus tetangganya ini- juga ikut menatap Yazir.

“Yah, siapa yang trauma… engga lah. Aku suntuk, pas sahur tadi tiba-tiba aja pengen main kemari, jadi aku telepon deh. Biar ada kawan, aku juga ajak Aria sekalian.” Jawabnya.

“Hemm…”

“Sebenarnya aku udah mau pergi sebelum siang, tapi mamanya Aria minta tolong ke pasar, nunggu dia siap berbakti sama ortu lebih dulu baru berangkat.” Yazir mengutarakan alasannya.

“Anak baik…” Aku mengulurkan tangan siap untuk mengusap-ngusap kepala Aria, maksudku untuk bercanda saja. Tapi gelegar suara itu menghentikan gerak tanganku sekaligus membatalkan maksudku.

“KAK IDAAAAAAAAAAAAN…!!!”

Aku bagai disambangi dejavu. Haikal berdiri sambil berkacak pinggang di depan gerbang rumahnya. Oh god, not anymore.

“Ikaaaaaaal…” Yazir langsung melambaikan tangannya pada Haikal. “Sini sayang…!” serunya.

Haikal tersenyum sambil melenggak-lenggokan kepalanya –entah apa maksudnya, bisa jadi karena senang dipanggil ‘sayang’ oleh Yazir. Lalu tanpa bersuara, Haikal langsung berlari menuju kami. Kebiasaan buruk, Haikal tak pernah lihat kiri kanan terlebih dahulu sebelum nyebrang. Aku sering membayangkan dia diserobot motor tetangga hingga masuk parit kering di bahu jalan atau diserempet becak yang ditumpangi ibu-ibu tetanggaku saat pulang dari pasar hingga berkaparan di jalan. Hiihh, ngeri. Walau sering nyusahin, aku gak mau Haikal disentuh sepeda ontel, becak, apalagi bajaj atau gerobak sate, sangat tidak elite. Entahlah kalau mobil mewah semisal Ferrari, itu lebih berkelas insidennya. Hush, jangan. Gak ada yang boleh mencelakakan adik pacarku, meski mobil paling mentereng sejagat raya sekalipun.

“Wah, gemesnya…” Aria berucap. “Siapa anak itu, Dhan? Dia manggil kamu kan tadi? Manis ya nama panggilanmu kalau di rumah.” Aria memang suka bicara, itulah salah satu pertimbangan OSIS dulunya untuk mempercayakan jabatan ketua pengurus mading pada Aria –meski menurutku gak ada hubungannya sama sekali.

“Adiknya Syawal, udah aku anggap adik sendiri. Abah sama ummiku juga bagai udah jadi orang tua Ikal sendiri selain papa-mamanya.” Aku menjawab Aria.

“Lah, aku lupa kalau rumah Syawal kan depan rumahmu ya…” Aria menepuk jidatnya. “Bikin gemes ya adiknya itu…”

Haikal tiba di terasku, dia langsung disambut pangkuan Yazir. “Kak Ibar-nya mana, Kal?”

“Kak Ibar bantu Mamaaa…” Haikal menjawab Yazir.

Who is Kak Ibar?” Cetus Aria.

“Itu panggilan buat Syawal.” Jawabku.

“Ohh, aku kirain kecengan Yazir yang lain selain Kak Aira. Kuat juga bisa naksir dua orang sekaligus, kakakmu sama kakak bocah ini, ternyata bukan…” Apa aku sudah menyebutkan kalau Aria itu sedeng? Yazir langsung melotot pada Aria.

“Ikal tadi manggil Kak Idan buat apa?” tanyaku meski sudah dapat menerka kalau itu ulah Syawal.

“Kan Ikal memang suka gitu Kak Idaaaann…”

Yazir dan Aria terbahak.

“Kak Ibar gak pesan apa-apa sama Ikal?” aku masih ingin memastikan.

Haikal mengangguk. “Kak Ibar bilang… jangan nakal…” tuh kan benar.

“Iya, Kak Ibar bener, Ikal gak boleh nakal.” Ucap Yazir, dia mengira kalau Syawal mengatakan ‘jangan nakal’ itu buat Haikal, padahal aku tahu banget kalau pesan Syawal itu untukku. Aku jangan ‘nakal’ dengan Yazir, atau… apa sekarang dia gak suka Aria juga? Hadeh, iya sih Aria lumayan, tapi dia tidak di atas Yazir. Syawal kebangetan kalau sekarang malah gak suka Aria juga. Masa teman-teman sekelas kami yang cowok dicemburui semua, dulu dia juga gak suka Jun.

“Duh… Dhan, aku kebelet pipis nih.” Ucap Aria tiba-tiba.

“Masuk aja, kamar mandinya dekat dapur. Kalau gak tau tanya sama Kak Aira di dalam.”

Aria langsung melesat masuk. Tinggal bertiga di teras, aku dan Yazir sibuk menanyai Haikal macam-macam lalu terbahak-bahak bila Haikal mulai berceloteh ini dan itu. Dari haikal, aku tahu kalau Syawal ‘ditahan’ mamanya untuk beres-beres rumah sementara sang mama dan Mbak Mai sibuk di dapur, itulah mengapa dia tidak bisa ikut ke terasku. Sebenarnya aku ingin menemui Syawal, menemaninya menata rumah atau bila mungkin ikut bekerja dengannya. Itu pasti menyenangkan, melakukan tugas rumah bareng pacar, so sweet menurutku. Namun aku sedang ditahan di sini. Beberapa lama setelahnya, Syawal sempat muncul di pintu depan dan berseru pada kami sambil melambai, gagang pel di tangan kirinya. Aku dan Yazir balas melambai.

“Yang bersih Ya, Bar…!!!” Yazir berseru pada Syawal yang ditanggapi pacarku itu dengan acungan jempol –aku sempat mengira itu jari tengah.

“Nanti aku ke situ.” Teriakku padanya. Syawal tersenyum lalu kembali menghilang.

“Ibar rajin ya…”

“Ikal juga rajin.” Serobot Haikal.

“Rajin bikin runyam.” Sampukku yang langsung dihadiahi cakaran Haikal di lengan. Tidak sakit memang, tapi tetap saja berbekas merah.

Yazir tertawa. “Suntukku ilang deh kalau di sini.” Dia memeluk Haikal yang tidak turun-turun dari pahanya sejak nyangkut pertama kali tadi.

Aria muncul dengan tampang kaget. Entah apa yang terjadi padanya di dalam sana. “Bang Ikhwan itu kakakmu, Dhan?” tanyanya buru-buru dan tampak bersemangat.

Aku mengangguk bingung, dimana anak ini kenal Bang Ikhwan? Aku yakin, saat teman-temanku datang menjengukku dulu –di rumah sakit atau ketika sudah di rumah- Bang Ikhwan sedang berdinas.

“Ya Tuhan, aku baru sadar kalau kalian memang mirip banget. Bedanya kamu berkacamata…”

Aduh, ini maksudnya apa sih? Kulihat, Yazir juga menatap Aria dengan pandangan yang sama denganku, bingung bercampur heran.

“Kenapa sih, Ri? Kamu udah kenal Bang Iwan juga?” Tanya Yazir yang memang sudah sempat akrab sama kakak laki-lakiku itu ketika berbuka puasa di rumah tempo hari.

Aria tersenyum. “Senangnya… tadi aku liat foto Bang Ikhwan di ruang tengah.”

Aku tahu foto yang mana, itu adalah foto keluarga dalam ukuran luar biasa besar. Bang Ikhwan memakai seragam lengkap di frame itu. Aku dan Yazir masih memandang Aria dengan alis nyaris bertemu. Aria mengulurkan tangannya padaku mengajak bersalaman. Masih heran, kusambut tangannya. Kami berjabatan.

“Kita bakal jadi saudara ipar, insya Allah.” Ucap Aria sambil menjabatku erat.“Bang Ikhwan adalah pacar Kak Asyura, kakakku…”

Ini kejutan.

“Setauku, mereka udah pacaran dua tahun lebih.”

Ini kejutan besar. Aku ingat kalau tadi Aria sempat menyatakan dalam kalimatnya kalau kakaknya punya pacar seorang polisi. Dan Bang Ikhwan adalah polisi.

“Entah mengapa, aku yakin banget bahwa mereka bakal langgeng saat pertama kali Kak Asyura mengenalkan Bang Ikhwan sama Papa Mama…” Dia memanggil abangku dengan nama penuhnya, Ikhwan.

Aku tak bisa berucap. Di kepalaku cuma ada satu hal sekarang, Bang Ikhwan sudah punya pacar dan sudah menjalin hubungan cukup lama dengan kakak teman sekelasku dan selama itu pula tak ada seorang pun di rumahku yang tahu. Hebat. Kenapa dia tak pernah mengenalkan Kak Asyura pada kami? Takut sama Abah kah? Atau Bang Ikhwan belum yakin dengan Kak Asyura? Tidak, aku sangat mengenal bagaimana sifat abangku itu. Aku tahu Bang Ikhwan bukan tipe pria yang suka umbar diri dimana-mana. Dia tak mungkin main-main dengan anak gadis orang selama dua tahun lebih, tentu bila sudah menjalin hubungan selama itu maka Bang Ikhwan sudah mantap dengan pilihannya. Bukankah kata Aria, kakaknya sudah memperkenalkan Bang Ikhwan pada papa mamanya? Berarti sah, Bang Ikhwan tidak main-main. Jadi aku menganggap, Bang Ikhwan hanya belum siap membawa pilihan hatinya itu untuk bertemu Abah. Itu saja.

“Dhan, kamu baik-baik saja?” Aria menepuk pipiku. Jabatan kami sudah terlepas.

“Heehh… iya.” Kulirik Yazir di sampingku, dia tersenyum. “Aku baru tahu kalau Bang Iwan punya pacar… dan ternyata sekalinya tau, langsung dapat dua kejutan begini…” ucapku pada mereka.

Aria tertawa. “Aku yakin dengan lelaki kayak abangmu itu. Dhan… mudah-mudahan beneran berjodoh ya.”

“Amin…” Yazir yang menjawab. Haikal bersandar diam di dadanya, dia tidak mengerti.

“Ri, kalau besok jadi datang… ajak Kak Asyura sekalian ya!” Entah darimana aku punya pikiran itu.

Aria menatapku serius.

“Jangan bilang-bilang sama kakakmu tapi ya…” Lanjutku. “Bilang aja kamu minta ditemani ke rumah temen, gitu. Bisa ya! plisss…” Aku menyatukan tanganku, memohon.

Aria mendesah, dia mengerti maksudku. Pasti dia paham kalau Bang Ikhwan memang tidak memberitahu apapun pada kami keluarganya. “Semoga aku gak dikuliti Kak Asyura deh besok, dan yang paling penting… semoga aku tidak membuat keluargamu heboh atau membuat Bang Ikhwan berniat menembakku.” Yah, Aria memang pintar ngomong.

“Itu gak akan terjadi…” jawabku meyakinkannya. “Zir, kamu bawa motor sendiri besok, gak mungkin kalian narik tiga sama Kak Asyura.” Yazir ikut mendapatkan perintahku.

“Aku yakin bisa pinjam mobil Papa, tenang saja…” Sahut Yazir, ternyata dia solider banget, mau ikut menyukseskan misi sahabatnya.

“Ikal juga punya mobil loh…” Cetus Haikal tiba-tiba. “Mobil Ikal satu keranjang…”

“Wah, Ikal kaya banget ya…” Aria mencubit pipi Haikal kiri kanan sekaligus, alhasil, cowok itu ditendang Haikal.

“Ikal, gak boleh gitu.” Aku menatap tajam pada haikal.

“Pipi Ikal sakit Kak Idaaann…” Haikal balas melotot padaku.

“Maaf.” Ucap Aria pada Haikal. “Abisnya, Ikal ngegemesin sih, kayak model cilik di tivi…” cukup itu saja, leher Haikal langsung lenggak-lenggok tersipu malu.

Aku jadi membayangkan masa kecil Syawal, apa dia juga menggemaskan seperti Haikal? Ah, seharusnya aku dan Syawal sudah berpacaran sejak balita. Kupandangi Yazir dan Aria yang terus mengusik Haikal, hingga saat ini anak itu masih duduk manis dalam rengkuhan Yazir. Entahlah, rasanya tak ada orang jahat dalam hidupku. Aku bersyukur mempunyai teman-teman seperti Yazir atau Aria. Lebih bersyukur lagi karena keluarga Haikal yang menempati rumah di depan rumahku sehingga aku mendapatkan hadiah terindah dalam hidupku, Syawal -kakaknya.

***

“Ini Hadiah…” ucap Syawal sambil menatapku penuh damba. Di luar sana, jerit pekik Haikal dan beberapa anak sebayanya terus bersahutan ditingkahi suara takbir yang sudah berkumandang sejak magrib tadi. Ya, ini malam lebaran, dan Syawal baru saja menyodorkan kotak hati padaku.

“Bar… ini…”

“Hadiah.” Ucap Syawal. “Ingat? Aku pernah bilang suatu saat bakal ngasih kamu kotak hati seperti yang dikasih Yazir buat Kak Aira hari itu kan? Nah, sekarang aku menunaikannya.” Kotak itu masih di tangan Syawal, aku masih terlalu kaget – tepatnya luapan perasaan bahagia – untuk mengulurkan tangan mengambil kotak di tangannya. “Yah, memang tak sebagus kotak Yazir sih, tapi gedenya sama kok…” Syawal menimang-nimang kotak itu.

“Bar, kamu gak perlu…”

“Memang gak perlu… tapi aku harus. Aku harus memberimu hadiah, toh cuma kotak saja, apa sulitnya menghadiahkan kotak?”

“Ini kotak kosong?” kutunjuk kotak di tangan Syawal dengan alis yang bertaut.

Syawal nyengir. “Menurutmu? Apakah aku tega ngasih kotak kosong untuk orang paling berarti di duniaku?”

Aku tersenyum, “Siapa tau kan, kali ini kamu tega…” aku mengulurkan tangan untuk menjangkau kotak putih bercorak abstrak itu, tapi Syawal malah menariknya menjauh.

Syawal meletakkan jari di bibirnya. “Udah lama aku tidak mencium bibir orang…”

Aku mendelik.

“Kan udah lebaran…” lanjutnya.

“Awas kalau isi kotak itu tidak setimpal dengan harga bibirku.” Ya, asal tahu saja, aku juga sangat ingin mencium Syawal sejak masuk kamarnya tadi.

Syawal menyeringai, tanpa membuang waktu segera menarik pinggangku untuk merapat padanya. Aku memeluk pinggang Syawal dengan dua lenganku sekaligus. Puncak hidungku menyentuh hidungnya, bingkai kacamata kami beradu. Udara dari hidung Syawal menghembus hangat di kulit wajahku. Kotak yang masih berada di tangan Syawal mengganjal di belakang punggungku.

“Apa kita tidak perlu mengunci pintu kamar?” bisikku ketika Syawal siap menempelkan bibirnya.

“Tidak perlu.” Jawabnya. “Kecuali kamu bermaksud untuk buka baju dan naik ke tempat tidurku, bukan hanya pintu yang harus dikunci, mulutmu juga harus di lakban agar tidak melolong-lolong karena aku bisa sangat gila pada kesempatan pertama.”

Dia mulai kurang ajar. Kuremas pinggangnya, tapi Syawal hanya tersenyum. Dengan berani, dia menekanku lebih kuat padanya. Aku menyerang bibir Syawal, memberinya kecupan ringan dan singkat. Di luar sana, suara petasan yang dibakar Haikal dan anak-anak tetangga masih bergema. Celoteh mereka terdengar hingga ke kamar. Aku dan syawal saling menatap sesaat lalu kembali mangap. Ciuman kami putus-putus. Kacamata kami juga bertabrakan berkali-kali –hingga aku khawatir salah satunya akan retak dan pecah.

“Kalau kamu terus mencium begini, aku khawatir isi kotakku tidak sepadan lagi…”

Aku tertawa sambil merenggangkan diri darinya. “Baru ciuman aja udah gak setimpal, bagaimana kalau aku beneran naik ke tempat tidurmu?”

“Aku akan mengganti isinya, ayo naik…” Syawal seperti hendak menarikku menuju tempat tidurnya.

“Bar, jangan gila.” Aku bertahan, “Ingat, kita udah sepakat untuk tidak seperti itu…”

Dia cengengesan, “Iya, aku kan cuma berlagak saja.” Tangannya kembali terulur. “Nih, kotaknya…”

Aku menerima kotak itu, “Aku buka ya.”

“Hemm…”

So sweet. Isinya pen mug, dua buah, ukurannya tidak begitu besar. Warnanya coklat pudar, yang membuatnya manis adalah, masing-masing pen mug itu bertuliskan Ramadhan dan Syawal. Aku menatap mug itu dengan mata berbinar.

“Aku nemu gak sengaja, koleksi bulannya masih lengkap saat kutemukan, dari Muharram hingga Dzulhijjah. Tapi aku cuma butuh Ramadhan dan Syawal aja. Pramuniaganya gak mau kasih, selusin mug itu satu paket katanya… yah, mungkin sebagai hiasan di lemari pajang aja…”

Aku ternganga, jadi yang kupegang ini mug hiasan? “Ini bukan wadah pensil ya?” tanyaku.

“Ceritaku belum habis.” Protes Syawal.

“Lanjut…”

“Nah, karena gak dikasih beli dua biji saja, aku nekat jumpa yang punya toko. Aku bilang, ‘kalau bapak gak mau ngasih saya beli dua aja, saya bakar tokonya…’”

Aku terbelalak. “Beneran???”

Syawal mengangguk mantap. “Aku gak bohong. Lalu bapak itu tersenyum, dia bilang, ‘Saya salut sama keberanianmu, Nak.’” Syawal tersenyum. “Dia lalu nyuruh pramuniaganya bungkusin tuh guci…”

Wah, aku bangga punya pacar kayak Syawal. “Ini mug ah, bukan guci…”

“Yah, pokoknya benda itu lah. Kamu bisa pajang di meja belajar, yang ada namamu aku simpan sendiri.” Syawal mengambil mug bertuliskan namaku.

“Kalau aku pajang di sana pasti jadi mainan Ikal.”

“Terserah kamu mau diapain, yang penting namaku masuk kamarmu.” Syawal bergerak ke meja belajarnya, mug itu diletakkan dibagian paling atas, namaku menghadap ke depan.

Aku tersenyum lalu melangkah menuju Syawal, kupeluk dia dari belakang. “I love you so much…”

I know, kamu sudah sering mengatakannya.” Syawal berpaling untuk menyentuhkan sisi wajahnya dengan hidungku. “Ayo kita ke jalan, malam lebaran baru dimulai…”

***

Sepenggal Syair untuk Syawal setelah Ramadhan…

Dan Ramadhan pun melambai

Ketiadaannya selalu menyisakan hampa

Akankah bisa bersua lagi di musim selanjutnya?

Jangan gundah gulana wahai muslimin

Lepaslah Ramadhan tanpa berduka

Karena Syawal datang membawa suka cita

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Begitu Syawal berseru

Rasakan betapa megahnya hari kemenangannya itu

Rasakan betapa hebatnya fitrah itu

Bak saujana membentang

Gaung takbir seakan kasat mata

Bak embun di pucuk daun saat fajar

Begitu suci dan jernihnya jiwa ummat

Lihatlah kerinduan berseri di wajah para mereka

Rindu menyambung semula silaturrahim

Tangan-tangan berjabat di pagi ied

Senyum-senyum mengembang menyeri diri

Andaipun ada air mata di pagi hari

Itu bukan kesedihan dan nestapa

Itu tanda keharuan luar biasa

Begitulah Syawal itu

Dia selalu mengikuti Ramadhan

Tak terpisahkan

Ramadhan menguji

Lalu Syawal datang membawa gembira

Ramadhan membawa maghfirah

Syawal bertandang membawa fitrah

Pandanglah dengan mata

Rasakan dengan hati

Alangkah tak terperinya kasih Tuhan

Ramadhan dan Syawal adalah secuil bukti

Dari kasih-Nya yang Maha Luas

Ramadhan raib membawa pergi sekeratnya

Tapi Syawal tiba dengan kebaikan melimpah ruah

Berbahagialah para mukminin

Ini Syawal yang penuh anugerah

Ini Aidilfitri yang dinanti…

***

Rumahku penuh sesak. Kak Asyura terus-terusan tersipu karena kugoda habis-habisan bersama Syawal, Haikal turut membantu kakak-kakaknya ini, tanpa henti dia menyebutkan “Mata Mba Ura kayak mata Ikal…’ sambil mencolek dagu wanita yang memangkunya itu –mata kakaknya Aria ini memang bulat bundar, manis. Dan tubuhnya begitu mungil, aku yakin dia akan menghilang bila dipeluk Bang Ikhwan. Hemm, Haikal bisa genit juga ternyata. Karena digoda terus-terusan, alhasil Kak Asyura terus tersipu-sipu.

Kak Asyura memang jadi sasaranku bersama Syawal dan bocah berambut ikal se-ikal namanya –Haikal, sedang Bang Ikhwan tampak tak bisa bersuara karena terus-terusan dikerjai Kak Aira cs. Yazir dan Aria kompakan membantu Kak Aira untuk menggoda abangku itu.

“Ternyata Pak Polisi satu ini suka main diam-diam yah…” Cetus Yazir.

Bang Ikhwan mesem-mesem.

“Guru TK kita yang ini juga pasrah-pasrah aja, gak pernah nuntut untuk dipertemukan sama keluarga calon bapak dari anak-anaknya kelak…” Syawal tak tanggung-tanggung menggoda Kak Asyura.

Kak Asyura memerah, Haikal baru saja mencolek dagunya lagi.

Kakaknya Aria memang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak –itu hasil interogasi habis-habisan yang kulakukan bersama Kak Aira ketika rombongan Yazir masuk rumah. Bang Ikhwan dan Kak Asyura sama-sama kaget ketika berhadapan tadinya. Aku langsung berseru ke dalam pada Abah dan Ummi, memberitahu kalau calonnya Bang Ikwan datang bertamu –nyaris saja aku kena bogem Bang Ikhwan karenanya. Saat awal-awal tadi, Abah dan Ummi juga ikut nimbrung bersama kami, mengobrol santai. Baru beberapa saat lalu orang tuaku itu pamit ke dapur –sepertinya hari ini Abah mau membantu Ummi menata meja makan. Lalu menjadilah, Bang Ikhwan dan Kak Asyura langsung jadi target keisengan kami.

“Ikal, jangan colek-colek gitu ahh, dipukul Bang Iwan kamu nanti gara-gara mesrain pacarnya.” Seru Kak Aira.

“Diam ahh…” Tukas Bang Ikhwan cepat.

“Tapi Ikal suka loh Mba Iraaa…” Jerit Haikal pada Kak Aira.

“Colek aja gak apa-apa, kalau udah jadi istri Bang Ikhwan kalian gak bisa colek lagi, kecuali mau kepala bocor ditodong pistol…” Sampuk Aria, bukannya membela kakak dan calon abang iparnya, dia malah jadi sekutu yang baik bagi kami.

“Boleh ya???” Dengan berani Syawal malah ikutan mencolek lengan Kak Asyura.

Aku melotot pada Syawal, pacarku itu nyengir saja.

“Aku mau juga ahh…” Yazir siap beraksi.

“Hei, Kak Aira liat tuh, kamu gak suka Kak Aira lagi ya?” Aria memang super jahil.

Yazir langsung merah, dia batal mencolek Kak Asyura. Jelas Yazir masih punya rasa buat Kak Aira, tapi aku yakin itu hanya sekedar rasa saja, tak mungkin diturutkan lagi. Yazir pasti sudah memahami kalau dia dan Kak Aira tidak berjodoh.

“Mau bulu idung-mu aku cabut paksa?” Ancam Kak Aira pada Aria, cowok itu langsung mingkem sambil memegang hidungnya –seakan takut Kak Aira akan menjangkau dan menarik paksa semua bulu dalam hidungnya detik itu juga. Yah, Kak Aira memang gak gampang diganggu.

“Rasain…” Cetusku, Aria melet-melet.

“Anak-anak, mari makan ketupat dulu… sudah Ummi siapkan…” Ummi menjenguk kami di ruang tamu.

“Ummi, Ikal disuapin kaaan?” padahal dia juga punya ketupat sendiri di rumah. Tapi Haikal memang selalu manja dengan Ummi. Segera, dia turun dan melesat menuju ummiku itu.

“Iya, anak Ummi pastilah harus Ummi yang suapin…” Ujar ummiku yang hampir tumbang karena ditabrak Haikal.

“Ikal, jangan bikin repot ahh…” Tegur Syawal. “Pulang sana minta Mama yang suapin…”

Ummiku tersenyum, “Gak apa, Nak Ibar… sudah biasa nih Ummi.” Lalu ummiku melirik Kak Asyura, “Ayo, Nak Asyura… jangan sungkan, ini juga rumah kita…” hemm, Ummi memang calon mertua yang baik, pasti Kak Asyura berpikir begitu saat ini.

“Iya, Ummi… kami jadi merepotkan…” Jawab Kak Asyura.

“Ah, kan yang direpotin adalah mertua sendiri, biasa itu…” Kalimat Yazir langsung disambut derai tawa. Tak pelak, Bang Ikhwan dan Kak Asyura salah tingkah dan semakin menunduk dalam.

“Sudah, mari makan dulu!” Itu suara Abah.

Satu persatu, kami bangun dari kursi dan mengekor di belakang Ummi menuju meja makan. Lebaran tanpa nyicip ketupat memang tak afdhol ya… Lebaran dan ketupat memang sejoli, seperti Ramadhan dan Syawal –Didan dan Ibar, kami juga adalah sejoli. Sama seperti Bang Ikhwan dan Kak Asyura, Kak Aira dan Bang Awi, mereka juga sejoli. Tak lama lagi, menantu-menantu akan melangkah di dalam rumah ini. Abah tentu akan melamar Kak Asyura untuk Bang Ikhwan, dan Bang Awi juga pasti akan segera mengantar cincin tunangan buat Kak Aira. Yazir dan Aria –meski belum punya jodoh- pasti akan selamanya jadi sahabat, dan Status Haikal tak akan pernah berubah, dia tetap ‘anak bungsu’ Ummi sampai kapanpun. Sedang aku dan Syawal? kami punya mug cantik loh… hehehe…

***

EPILOGUE

Musim bedug terlewati, aku sudah menulis kisahku ini. Namun bukan berarti kalau kisah Ramadhan dan Syawal selesai, aku akan terus menulis kisah kami ini di musim-musim yang lain. Selama Ramadhan masih bertandang, dan selama Syawal selalu mengikuti setelahnya, Didan dan Ibar akan terus berpegangan tangan melewati musim demi musim. Andai bisa, aku ingin musim tak kunjung habis, agar kisahku juga tak pernah tamat. Tapi bukankah musim memang tak pernah berhenti? Satu musim terlewati maka musim yang lain sudah menunggu. Jadi, apa yang perlu kurisaukan? Aku tak perlu takut kisahku dan Syawal akan berakhir suatu saat nanti, karena selama musim terus bergulir, selama itu pula aku tak akan menuliskan kata TAMAT.

-POKETNYA ABIS, JANGAN MINTA LAGI!-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

satu kata saja… LEGANYAAAAAAAAAAAA…!!!

oh ya, untuk sepuluh pengkomen pertama, aku kasih selusin ciuman. kekekekekeeg. maaf jika endingnya gak pantas disebut ending, hanya itu kemampuanku. love you all, terima kasih untuk sahabat yang sudah mengikuti tulisan ini hingga selesai, tanpa kecuali, aku sayang kalian semua.