CUAP2 NAYAKA

Salam…

Jelas ini bukan tulisanku –meskipun hampir seluruh bagian dalam tulisan ini nyaris sukses kuobok-obok. Ini dikirim seorang sahabat muda (aku sangsi kalau dia sudah kuliah) ke akun yahoomail-ku minggu lalu. Katanya, dia minta diedit karena ini adalah tulisan pertamanya dan dia mengetiknya menggunakan hape (sumpah, aku baru tahu kalau ternyata mengedit tulisan yang diketik pake hape itu sangat melelahkan, rasanya bagai latihan angkat beban dimana bebannya lebih berat dari setengah berat badan kita). Aku menghabiskan waktu dari pagi hingga sore –dan masih mengutak-atiknya setelah magrib- untuk proses editing. Bukan hanya mengedit ketikan, ejaan, huruf besar, tanda baca dan sebagainya, tapi yang paling utama adalah aku harus memperbaiki gaya penceritaan Teman Muda ini (maaf untuk Adik Y_Sali, aku harus bilang bahwa tehnik penceritanmu sangat membantaiku… kekekekee) tapi aku sudah berjanji untuk mempostingnya, jadi mati-matian aku berkutat untuk membuat tulisan ini tampak sedikit bersahabat dengan pembaca. Jika pun masih tidak, ketahuilah… ilmuku sudah mentok. Inti kisahnya masih sama, jangan khawatir, alurnya juga kupertahankan, aku hanya menambahkan yang kurang dan mengurangi yang lebih. Itu saja (lagi-lagi aku harus minta maaf pada si Teman Muda, sangat banyak tulisannya yang aku pangkas). Semoga dia tak marah.

Bagi sahabat yang merasa aku editor yang lancang (semoga tidak ada yang menganggap begitu), aku minta maaf. Tapi bila kalian ingin tahu versi aslinya dari tulisan ini, aku masih punya arsipnya di emailku. Aku tak keberatan untuk membagikannya buat kalian, juga tak keberatan jika seandainya Adik Y_Sali –setelah membaca hasil editan ini- malah memintaku untuk memposting yang asli, bukan editan. Aku akan melakukan itu dengan senag hati.

Aku tak tahu apakah ini kisah nyata atau bukan, pengalaman pribadinya atau pengalaman sahabatnya –yang jelas tak mungkin pengalamanku apalagi pengalaman kakekku. Teman Muda ini tak memberitahuku tentang status tulisan ini –fiksi kah atau nonfiksi. Tapi seandainya pun ini nonfiksi, sepertinya akan jadi sedikit fiksi karena hasil tangan lancangku. Namun jangan salah, maksudku kalimatnya yang sedikit jadi fiksi, seperti yang aku bilang, inti cerita dan alurnya masih sama seperti yang dituturkan Si Teman Muda.

Akhirnya, semoga kalian menikmati membaca IT’S ENDING HERE seperti aku –berusaha- menikmati saat mengeditnya. Kekekekeee. Piss. Pesanku buat Dik Y_Sali, beri tanggapanmu bagi siapapun yang baca, juga buatku yang sudah sangat lancang mengobok-obok tulisanmu –tentunya jika kamu ada berkunjung kemari.

 

Wassalam

-n.a.g-

##################################################

 

Perkenalkan namaku M. Sandi Alfiqri. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Umurku saat ini 20 tahun. Aku kuliah pada salah satu universitas negeri di kotaku. Adikku bernama Aldyansyah Nugraha. Dia saat ini kelas 2 SMA. Tapi sekarang aku bukan ingin bercerita tentang adikku itu. Aku seorang cowok yang biasa saja. Tidak ada yang begitu menarik dariku. Aku kurus, wajah pas-pasan, tidak jangkung –aku menyebut begitu untuk mengganti kata pendek, tapi untung kulitku kuning langsat –bukan segelap malam, satu lagi, aku tidak begitu menyenangkan untuk dijadikan teman ngobrol. Bahkan aku cacat, ya aku cacat. kakiku pincang akibat kecelakaan yang pernah aku alami sewaktu masih bayi. Mengingat tentang kecacatan ini, that makes me hurt… always.

Oke, back to story.
Entah apa yang aku pikirkan dan kuperbuat, sejak tamat SMA aku sangat penasaran dengan dunia pelangi. Ya, aku homo (tapi bukan jenishomo sapiens dalam mata ajar IPS sejarah itu ya). Sejak tamat SMA aku baru sepenuhnya sadar dengan keganjilan yang ada pada diriku. Aku suka membuka cerita-cerita tentang dunia pelangi dan senang melihat cowok-cowok keren dan seksi, apalagi melihat Mr. P nya. Bikin penuh nih celana… (Jorok jorok jorok) saking penasarannya, aku kenalan dengan ‘mereka’ yang ada di dunia maya melalui social network-ku, mig33. Ah, ternyata sakitku sedikit parah. (mama, cabut penyakit anakmu ini) Sampai pada suatu hari, aku menerima seseorang menjadi pacarku, namanya Aldzaky Yusup. Cowok yang baru lulus SMA. Dialah cowok yang akhirnya mencuri hatiku untuk pertama kali –mungkin yang terakhir juga. Kuserahkan seluruh hati, jantung, jiwa dan ragaku(?) setelah menelusuri hatiku, kuterima dia menjadi dambaan hatiku. Meski aku sempat ragu awalnya karena aku cacat, tapi kisahku dengannya ternyata tak seindah pelangi. Entah ego atau apa, bahagia tak menjadi sesuatu yang kami miliki lama. Aku akan bercerita dari awal dia mengutarakan perasaannya hingga akhirnya aku berpindah…

***

Hari itu aku merasa sangat malas untuk melakukan apapun, tak terhitung kali mulutku membuka, menguap. “Hoammm, ngantuk banget…” Itulah yang pertama sekali keluar dari mulutku ketika masuk kamar siang itu. Tanpa membuang waktu, segera aku merebahkan diri ke kasur kesayanganku. Aku sungguh mengantuk. Hapeku bergetar lalu berdering. Ada sms dari Yusup –dia masih jadi temanku paling akrab waktu itu. Ngapain nih anak SMS sgala, gak tahu apa kalau ini waktunya orang-orang istirahat? Kuabaikan smsnya. Selanjutnya dia meng-sms berkali-kali dan masih tidak kubalas. Dan tahukah? Dia malah mengisikanku pulsa. Ternyata dia mengira pulsaku lagi kosong, padahal aku punya berkilo-kilo tuh di hp (emang ada gitu?) Karena bete dan malas dan bosen dan bodo amat dan bagiku yang penting saat ini adalah bantal dan kasur, aku me-nonaktif-kan hapeku saat itu.
*Hatimu dan hatiku berbicara*

[Aku hanya menyukainya. Bukan mencintainya. Kenapa aku harusrepot mengurus hatinya?Biarlah dia dengan perasaannya, bukanurusanku…]

Yusuf meng-sms-ku lagi di satu pagi minggu yang cerah. Saat itu aku masih di ranjangku dan masih kusut karena bertahan malas-malasan di ranjang. Kubaca smsnya dan ternyata dia bermaksud mengajakku untuk bertemu petang nanti. Aku masih ingat bunyi SMS-nya, San, sore ini kita ke pantai ya,nanti aku jemput kamu setelah ashar.’ Malaikat-ku sedang baik saat itu –aku yakin, ketika smsnya kuabaikan beberapa hari lalu tentu saat itu setan sedang menguasaiku. Aku membalas sms-nya yang isinya bahwa aku menyetujui ajakannya.

Sorenya, setelah shalat ashar di masjid yang tidak jauh dari rumahku, aku bergegas pulang dan ganti pakaian, tentu saja, aku tidak mungkin jalan ke pantai dengan koko dan sarung, orang-orang akan memandangku aneh. Tak lama setelah ganti pakaian, Yusup datang dengan motornya. Saat melihatnya sore itu, aku baru sadar satu hal, semakin hari dia semakin terlihat cakep (Padahal selama ini dia tidak cakep-cakep amat di mataku)

“Udah siap San?” Tanyanya.

“Emang kamu ga liat, udah cantik kayak gini, udah siap dong!” Jawabku sedikit tidak enak dibaca –apalagi didengar.

“Cantik???” Yusup menatapku dengan tatapan jahilnya.

“Bercanda kok, ganteng kayak gini juga…” Aku mengerucutkan bibirku mengejeknya.

“Eh, biasa aja San, gak sampe monyong gitu kali yah!”

“Ah lu, udah ah! aku timpuk lu!”

“Ampun Nyai…”

Aku tersenyum melihat ekspresinya. “Berangkat yuk.”
Di pantai…

“San, duduk di batu besar di sana yuk! Asik tuh kayaknya. Anginnya pasti enak.” Yusup menunjuk pada satu batu gede –aku rasa lebih gede dari gajah lampung.

“Memangnya kamu mau makan angin apa? Ga kembung ntar tuh perut?”

“Mulai dah…”

Aku cengengesan lalu mengikutinya berjalan ke arah batu besar, sedikit terseok saat memanjat ke atasnya karena kakiku yang sedikit bermasalah. Kami duduk bersisian di atas batu itu, semilir angin sore di bibir pantai membelai lembut di kulitku. Rasanya selalu damai bila aku di pantai, Yusup tak salah memilih tempat untuk mengajakku sore ini. Kami diam beberapa lama.

“San…” Yusup memanggilku. “Aku harap kamu sudah merasa kalau aku suka kamu dari dulu…”

Aku kaget, mendekati shock atau stroke barangkali. Tak ada sebarang respon dariku untuk kalimatnya itu.

“Aku masih suka kamu hingga sekarang… Aku cinta sama kamu, San…”

Oh my gosh. Ini terjadi. Aku masih diam, masih shock dan masih merasa akan terserang stroke. Dia terlalu to the point.

“San, jawab aku!” Yusup mengguncang lenganku.

Mulutku terbuka, sesaat di sana rasanya aku ingin berteriak kaget. “Aku bingung Sup… Beri aku waktu. Aku memang menyukaimu, tapi untuk cinta… aku gak bisa menjawabnya sekarang…” Ya, aku memang tak bisa menjawab Yusup sekarang, selama ini aku memang menyukainya, cuma menyukai. Tak ada perasaan lebih spesifik melebihi dari kata suka.

Yusup menatapku. “Apa waktu satu tahun kebersamaan kita ini tidak menimbulkan rasa di hatimu buat aku San? Rasa yang lebih dari suka saja? Jujur aku sangat menyayangimu, aku mencintaimu…” Yusup menarik nafas. “Aku sudah berkali-kali meyakinkan diriku untuk memintamu menjadi bagian terpenting di dalam hatiku, tapi baru hari ini aku bisa mengutarakan keyakinan itu…”

“Please, Sup. Tidak hanya kamu saja, aku juga harus meyakinkan diriku atas perasaanku. jujur aku memang menyukaimu, menyayangimu. Tapi… Entahlah aku belum yakin tentang perasaan itu. Ini sangat mendadak…”

“Iya, aku ngerti. Tapi aku berharap kalau besok sore aku sudah mendapatkan jawabanmu, aku gak mau merasa sakit karna perasaan ini dan merasa berharap terus. Beri aku kepastian dengan segera…”

Aku menghela nafas, “Iya, aku akan memberimu jawaban besok, sepulang aku kuliah.”

“Makasih, San.”

“Hemm…”

Lalu hening membaluti, aku sibuk dengan jalan pikiranku, mungkin begitu juga Yusup. Aku memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba Yusup menggenggam jemariku. Kaget, reflex aku langsung menarik tanganku.

“Maaf…” ujarnya.

aku harus mencairkan kebekuan yang mendadak ini. “Sup, liat deh! Cantik ya sunsetnya…”

Dia mengikuti telunjukku. “Iya, adem ngeliatnya. Pasti lebih asik kalo ngeliatnya sama pacar langsung…”

“I… iya…” Aku merasa disentil dengan kalimat terakhirnya.

“Kenapa San?”

“Ga apa-apa.” Jawabku. “Pulang yuk, sudah hampir maghrib nih.” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Gak kerasa ya…” Dia bangun dari duduknya dan menuruni batu besar itu. Aku menolak saat dia ingin membantuku turun.

***

Di depan rumahku…

“Makasih ya San, udah mau nemenin aku ke pantai.”

“Seharusnya aku yang bertrima kasih, udah lama gak ke pantai dan kamu mau mengajakku ke sana.”

“Iya deh, sama-sama kalau gitu. Oh ya, besok aku tunggu jawabanmu.” Dia mengingatku.

“Iya iya, gak mampir dulu?” Tawarku.

“Gak usah deh San. Mau malam nih, aku pulang dulu ya.”

“Iya, hati-hati di jalan.” Aku masih berdiri menunggu motor Yusup melesat dan tak terlihat lagi sebelum kemudian masuk ke rumah.

***

Ahh, gimana ya… Aku masih bingung dengan perasaanku. Sejauh ini aku hanya menyukainya saja. Aku bingung. Kenapa aku tidak minta waktu seminggu, sebulan atau setahun? Pelajari ini, seseorang mencintaimu dan siap menjadi kekasihmu sementara kamu tidak atau belum siap untuk menerima cintanya karena kamu hanya suka, hanya suka, bukan atau belum mencintai. Apa yang  harus aku lakukan? Tidur. Aku butuh tidur, hal ini menguras pikiranku. Semoga besok aku menemukan jalanku untuk memberikan jawaban baginya.

***

Pagi yang cerah dan indah di tempatku…

Segarnya… aku menikmati mandiku dengan rasa nyaman. Saat bangun tadi, aku merasa bahwa aku siap memberikan jawaban untuk Yusup. Aku sudah bisa mengambil keputusan, semoga keputusanku tidak membawa dampak buruk baginya juga bagiku sendiri karena terus terang, aku merasa masih ragu. Setelah berpamitan dengan ibuku, kupacu motor matic-ku menuju kampus. Saat jam mata kuliah terakhir nantinya selesai, aku punya pe-er yang harus aku selesaikan.

jam pulang kampus pun tiba…

Aku menelepon Yusup. “Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalam…” Jawabnya di seberang sana.

“Sup, kamu lagi sibuk ga?” Aku berbasa-basi.

“Gak, San. Kenapa?” Ah, dia juga sok basa-basi padahal dia pasti sudah tahu dan sudah menunggu.

“Aku pengen ngomongin masalah kemarin. Kamu sedang ada dimana?”

“Oh, Iya. Aku ada di rumah nih.”

“Kita ke taman ya, aku jemput sekarang.” Kataku sebelum mengakhiri pembicaraan.

“Iya, aku tunggu.” Jawabnya.

***

Di depan rumah Yusup…

Tiiittt tiiittt…!!!

Kubunyikan klakson motorku dan Yusup pun keluar tak lama setelahnya.

“Udah lama ya? maaf…”

“Nyantai aja lah, Sup. Baru nyampe kok. Yuk brangkat.”

Aku dan Yusup melesat membelah jalan dalam kebisuan. Tak ada pembicaraan apapun dari kami saat di atas motor hingga dekat dengan taman. “Sudah  sampai nih.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutku setelah diam menyelimuti kami sedari rumah Yusup tadi. Setelah memarkirkan motor, kuajak dia untuk duduk di bangku taman yang ada di bawah sebatang pohon –entah apa namanya, yang pasti bukan pohon beringin. Di sini, lagi kami diam dalam keheningan.

Aku harus ngomong sekarang. “Sup, siap mendengarkanku?”

Dia melihatku sambil menaikkan sebelah alis matanya. “Sudah sangat lama…”

Aku mengerjap. “Sebelumnya aku ingin tahu lebih dulu, Sup. Kamu tau aku gimana. Kamu udah mengengenalku setahun lebih. Kamu lihat aku, aku bukanlah tipe cowok yang diidam-idamkan atau menjadi incaran cewek-cewek maupun cowok-cowok. Tapi kenapa kamu menyukaiku? Aku gak ada nilai plusnya sama sekali Sup.” Aku menatapnya. “Aku cacat…”

“San, aku tidak akan mencintaimu bila aku tidak siap mencintaimu. Jika kamu bertanya demikian, aku tak punya jawaban apa-apa untukmu, aku tak tau. Yang aku tau adalah aku mencintaimu. Tidak ada alasan lain. Tidak ada kalimat yang mewakili perasaan cintaku ke kamu yang akan menjawab tanyamu itu. Jika ada yang dapat mewakilinya sekaligus dapat menjawabmu, akan aku ambil itu dan kuberikan padamu.”

Aku diam dan entah mengapa, saat mendengar Yusup berkata seperti itu hatiku berteriak-teriak. Aku girang. Rasanya segala ragu yang bersarang sebelumnya hancur porak-poranda. Rasanya hatiku telah mantap. Hatiku dimantapkan hanya dengan mendengar kalimatnya itu.

“San, gimana? Kamu mau gak jadi pacar aku?”

“Aku… aku mau.” Jawabku lirih dan tersipu. Pipiku mungkin sudah sangat merah saat ini.

“Apa, San… bisa kamu ulangi?” Dia berpaling ke arahku dan memegang pundakku dengan dua tangannya.

“Aku mau jadi pacarmu, Sup.” Kali ini aku mantap menyebutkannya. Dia
langsung senyum lebar. Aku melihat senyumnya sangat manis kini. Matanya sedikit berkaca-kaca. “kamu kok nangis, Sup?”

“Aku bahagia San. Sangat bahagia. Makasih ya…” Yusup siap untuk memelukku.

Kutepis tangannya. “Tempat umum!” Desisku sambil nyengir. “Mulai sekarang, aku akan manggil kamu abi…”

“Eh, kok gitu? Abi, kedengarannya kayak bapak-bapak. Padahal tua-an kamu juga dariku…” Dia protes.

“Ga ngaruh…” Cetusku. “ Abi, aku sayang sama kamu…” Pasti dia suka mendengar kalimatku itu.

“Aku juga sayang sama kamu, Anis.”

“Anis?” Aku mengernyit. “Namaku Sandi kali, Bi…”

“Ada kepanjangannya loh…”

“Apa?”

“Sandi Manis.”

Aku tertawa. “Not bad. Ayo pulang!” Aku bangkit dari kursi diikuti Yusup.

***

Keesokan harinya…

Ternyata punya pacar itu menyenangkan ya. Aku bertekad akan mencintainya sepenuh hati. Hampir sepanjang jam kuliah aku senyam-senyum sendiri di dalam kelas. Tiap waktu jadi ingat dia, ngampus pun ingat Abi(Yusup). Pokoknya serba Abi dah sejak hari itu.

Seminggu pun berlalu, aku bertemu bulan Ramadhan, dan liburan pun dimulai. Lebih seminggu aku sudah jadian dengan Abi. Dia walaupun masih muda, tapi menurutku dia sudah dewasa. Bahkan, aku yang lebih tua darinya masih kekanak-kanakan. Aku semakin menyayangi dan mencintainya. Hari-hari di bulan ramadhan pun menjadi sangat indah bagiku. Dia selalu ada. Kami buka puasa bareng, telpon-telponan saat sahur dan saling mengingatkan untuk shalat. Dia orang yang rajin shalat. Dan aku tahu kalau dia juga baik budi pekertinya.

Suatu hari, masih di awal bulan Ramadhan, aku dan Abi berantem. Gara-gara hal kecil memang –tidak perlu aku sebutkan, yang jelas itu hal sepele. Dia marah dan aku memilih untuk mendiamkannya. Tapi karena kedewasaannya, dia yang meminta maaf lebih dulu padaku. Lalu, kami kembali seperti hari-hari sebelumnya, kembali bahagia berdua. Satu kalimatnya yang selalu dia ucapkan dan masih kuingat hingga sekarang, Jangan pernah tinggalin aku ya, Nis
Aku bahagia
bersamamu.

***

*15 ramadhan, kesedihanku*

Aku sering memantau FB Abi saat itu. Entah apa yang terjadi, dia mulai jarang menghubungiku. Mulai jarang meng-sms-ku. Hubungan kami mendadak dingin. Sms-ku jarang berbalas. Aku takut sesuatu terjadi padanya. Atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, sesuatu yang tidak menyenangkanku mungkin. Jadi, aku memata-matai fb-nya. Tapi aku tak menemukan apa-apa. Sejak itu aku jadi tidak konsentrasi dengan apa yang aku lakukan… Dia menyita seluruh pikiranku.

Sore hari di ranjangku, aku hanya asyik memandangi dan membelai hape tuaku. Tiba-tiba hapeku berdering menandakan ada sms masuk. Kulihat dan ternyata dari Abi. Betapa senangnya aku, akhirnya dia membalas smsku. Tapi bukan hal gembira yang aku dapatkan. Isi pesannya, dia meminta agar kami berteman saja. Bahkan dia mengabari itu melalui SMS. Seketika itu air mataku langsung berjatuhan.  Aku tidak kuat, aku rapuh. Di saat aku yakin untuk mencintai seseorang, hanya dalam waktu singkat cinta itu malah meruntuhkan keyakinanku. Aku menjawab SMSnya dan menanyakan alasannya. Dia hanya bilang mulai saat ini dia ingin bersaudara saja denganku. Aku semakin kalut, tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku menelepon namun dia tidak menjawabnya. Akal sehatku hilang, amarah menguasaiku. Bagai kayu bakar yang dilamun api membara, aku meradang. Pasti, dia telah punya seseorang lain. Dia kini telah melihatku sebagai cowok yang tak sempurna, aku anggap anggapanku itu benar. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengiriminya pesan berisi makian dan kata-kata kasar yang tak selayaknya aku keluarkan. Aku kesal, aku tertipu dan merasa dipermainkan. Aku memblokir FBnya dari list-ku, tapi aku belum mampu untuk mendelete nomor hape-nya.

***

*Aku linglung*

Beberapa hari setelahnya aku –entahlah- seperti kehilangan jiwaku. Aku tidak
fokus dengan apa yang kukerjakan. Teman-teman sering menanyakan masalahku, aku hanya tersenyum untuk mereka, senyum yang kupaksakan. Aku sudah tidak menghubungi Abi sejak hari dia memutuskanku. Aku masih marah dan masih kesal. Tapi satu sisi naluriku merasa… bersalah. Aku merasa kalau ucapanku –maksudku makianku- kemarin sangat tidak pantas kutujukan pada Abi. Kuambil hape di atas meja, kucari nomor kontaknya, aku bermaksud meneleponnya. Tapi ketika nomornya kutemukan, aku hanya bisa menatap hampa pada layar hapeku, aku tak bisa bicara dengannya. Aku tak bisa untuk mendengar suaranya lagi, jika itu terjadi, bisa dipastikan kalau aku akan semakin terpuruk. Akhirnya hanya beberapa kata yang bisa kutuliskan. Kata maaf dan penyesalanku atas kata-kataku sebelumnya. Dia menjawab pesanku, katanya dia memaafkanku dan tidak mempermasalahkan kekasaranku. Sungguh
aku menangis, lagi. Dia baik, tapi mengapa aku disakiti? Jika alasannya bukan karena  orang lain, apakah karena dia merasa aku tak pantas dijadikan sebagai kekasih? Selama ini dia hanya mencoba-coba denganku, mungkin…

***

*Kita perlu bicara lagi*

Pagi itu aku masih tergolek lemas di kasurku. Aku masih mengantuk. Dan sampai saat itu aku masih memikiran dirinya. Jujur, tak ada hari yang kulewati tanpa pikiranku tertuju padanya. Dan hari itu aku merasa kalau ingatanku tentangnya lebih kuat dari hari-hari terdahulu. Aku sudah mantap untuk meneleponnya, bicara sebentar saja, mungkin hanya menyapa.

Bagai telepati, baru saja ingin kuraih hapeku, benda itu telah lebih dulu berdering. Panggilan dari Abi. Dia meneleponku, ada apakah? Dengan sedikit gugup kupencet tombol hijau.

“Assalamu’alaikum…” Dia memberi salam, suaranya masih seperti yang kuingat.

“Wa’alaikumussalam…” Jawabku, sadar dengan suaraku yang sedikit kaku.

“Sedang apa, bagaimana kabarmu?” sungguhkah dia ingin tahu kabarku?

“Hemm… aku sedang bermalas-malasan di kasur.” Sedetik tadi ingin rasanya aku menjawab kalau aku sedang memikirkannya, sepanjang waktu. “Kabarku alhamdulillah baik.” Tidak, aku tidak baik-baik saja dengan pikiran yang tak pernah tenang ini. “Ka… kamu bagaimana?” Aku bertanya balik.

“Alhamdulillah, aku juga baik-baik saja.” Hening sejenak. “San… nanti sore selesai ashar aku pengen ketemu kamu, bisakah? Aku jemput.” Suaranya terdengar begitu lembut di telingaku.

Aku ingin bertanya mengapa dia hendak menemuiku lagi, tapi lidahku sudah lebih dulu mendahului dengan pasrah. “Iya, aku tunggu…”

“Oke. Mandi sana jangan malas-malasan mulu!” mendengar kalimatnya ini seperti tak ada sesuatu buruk yang menimpa hubungan kami sebelumnya.

“Iya…” Jawabku.

Abi memutuskan sambungan telepon. Setelah itu, aku menghabiskan banyak waktu untuk meladeni pikranku yang terus menduga-duga maksud Abi mengajakku untuk ketemu. Aku baru menuju kamar mandi saat matahari nyaris berada di titik paling panasnya.

***

*Berkecamuk*

Setelah shalat ashar, aku langsung ganti pakaian dan menuju teras, menunggu. Aku duduk di salah satu kursi. Banyak hal yang ada di pikiranku saat ini, tapi semua hal itu hanya tertuju pada satu nama, Abi. Apa yang dia inginkan? Mengapa dengan tiba-tiba dia ingin menemuiku? Apa ada hal penting, hal penting semisal alasan logis mengapa dia mengakhiri hubungan kami dulu yang masih seumur jagung?

Abi menepati janjinya. Dia datang tak lama sejak aku mulai menunggu. Setelah  memarkirkan motornya di halaman rumah, dia melangkah menujuku. Sosoknya masih sama seperti yang aku rekam. Ah, kami bukan tidak bertemu bertahun-tahun, tentu saja sosoknya tak berubah. Aku menyuruhnya duduk.

“Kita langsung berangkat aja ya.” Pintanya.

Mengapa dia terburu-buru? “Aku pamit sama ibuku dulu.”

Dia mengangguk untukku.

Aku masuk ke rumah. Setelah pamit aku dan Abi langsung meninggalkan rumah
menuju tempat yang tak dia sebutkan, berkali aku bertanya tapi dia tetap kukuh tak mau memberitahuku.

“Kita mau kemana?” Entah sudah berapa kali pertanyaan yang begiti-begitu saja melesat dari mulutku.

“Ada deh, kamu tau kok.” Jawabannya juga selalu begitu.

Setelah menempuh 20 menit perjalanan, aku baru sadar kalau dia membawaku ke pantai. Tempat favoritku. Waktu itu suasana begitu sepi. Hanya aku dan dia. Setelah memarkirkan motornya dia mengajakku ke tempat dimana dulu dia pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Di atas batu besar di bibir pantai  itu. Aku terdiam mengekor dibelakangnya dengan bermacam dugaan berkecamuk di kepala.

Abi duduk dan memintaku untuk ikut duduk disampingnya. “Sini…” Sambil menepuk-nepuk permukaan batu yang akan aku tempati.

Sungguhromantis,  batinku saat itu. Aku tersenyum dan duduk disampingnya.
Beberapa saat lamanya kami hanya membisu. Hembusan angin mempermainkan rambut kami, mengibarkan kemejaku dan ujung jaketnya.

Akhirnya abi mengeluarkan suaranya. “San…”

“Iya.” Jawabku.

“Hemm…” Dia menggumam dan dengan tiba-tiba langsung memelukku.

Aku kaget, sangat kaget. Untunglah pantai lagi sepi, kubiarkan dia memelukku.

“Maafin aku… maafin aku… maafin aku…” Kata-kata itu keluar lirih dari mulutnya.

Memaafkannya? Aku merasa, saat dia memutuskanku… hatinya sempat berpaling. Untuk itulah dia minta maaf. Aku masih saja kaku dan tidak percaya. Perlahan aku balas memeluknya. Samar-samar kudengar isakan kecil dari mulutnya. Dia menangis. “Abi, kamu kenapa?”

“Aku sayang kamu, aku cinta kamu, San. Maafin aku…” Dia kian terisak dalam tangisnya.

“Aku juga sayang kamu, Bi. Aku cinta sama kamu, sangat!” Aku juga mulai menangis dalam pelukannya.

“Dulu aku selalu bilang jangan tinggalin aku, tapi nyatanya aku yang malah
ninggalin kamu.” Apakah maksudnya dia meninggalkanku untuk seseorang lain?

“Gak apa-apa, Bi. Aku ngerti…” Kenyataannya, aku sama sekali belum mengerti.

“Maafin aku, San…”

“Aku udah maafin kamu, Bi…”

“Makasih…” Pelukan kami terlerai. “Aku ingin kita balikan…” Ucapnya mantap.

Aku diam, masih tak mengerti.

“San, aku ingin kita balikan, aku ingin menebus kesalahanku…” Ucapnya lagi.

“Kamu gak salah Bi, kamu gak salah…” Aku tak bisa meresponnya dengan kalimat lain selain mengatakan kalau dia tak salah. Aku tak tahu siapa yang salah. Dia yang mencurangi hubungan kami atau aku yang memang tak pantas baginya.

“Kita balikan ya?!” Dia bertanya, sekaligus meminta dengan tegas.

“Aku… Aku…” Teringat olehku bagaimana terpuruknya aku setelah dia mengucapkan kata putus.

“San…”

Terbayang olehku bagaimana aku gembira saat memilih untuk menjadi orang yang penting baginya, padahal sebelumnya aku sama sekali tak memiliki rasa apa-apa padanya –selain menyukai saja. Lalu aku disakiti, tanpa kuketahui sebabnya, disakiti dalam kebingungan karena tak tahu punca salahnya. Aku, dibuat terpuruk setelah menjalin hubungan hanya dalam tempo yang teramat singkat. Akankah sejarah akan berulang kembali jika aku memilih mengatakan ‘iya’ sekarang? Atau seharusnya dari semula aku memang mengatakan ‘tidak’ untuknya dan aku tak akan tahu seperti apa rasanya terdepak.

“Aku…” Kupandang dia. “Maaf, Bi. Balikan… aku gak bisa.” Aku tak dapat mengolah kata-kataku agar terdengar lebih baik lagi. “Mungkin ini yang terbaik buat kita, Bi…” Aku menangis, rasanya dadaku sesak dan berat. Dalam hati kecilku berkata ‘aku ingin kita balikan dan memperbaiki semuanya’ tapi di satu sudut dari hatiku juga mengatakan hal sebaliknya. Hari-hari yang lalu aku masih menginginkannya, tapi ternyata hari ini aku malah telah memupus keinginanku. Aku yakin, seharusnya aku memang berkata ‘tidak’ waktu itu. Egoiskah aku karena tidak memberinya kesempatan kedua? Tidakkah aku ingin mendengar penjelasannya untuk pertanyaan ‘mengapa’ yang terus menggaung dalam benakku berhari yang lalu? Aku rasa aku telah mengambil keputusan yang tepat. Aku tak perlu tahu ‘mengapa’ karena aku sudah tahu ‘bagaimana’ tidak enaknya terpuruk itu.

Abi tersenyum getir mendengar ucapanku. “Apa kamu tidak mencintaiku lagi?”

“Aku mencintaimu, Bi… tapi inilah keputusanku. Ini yang terbaik menurutku, semoga menurutmu juga…”

Diam yang lama.

“Baiklah jika kamu memutuskan begitu.” Dia bangkit dari duduknya. “Waktunya untuk pulang…” Dia menuntun tanganku untuk ikut bangun.

Aku bangkit berdiri, kupeluk dia dari belakang. Mungkin pelukan terakhir sebelum benar-benar berpisah, sebelum keputusanku membuat kami menempuh jalan masing-masing. Air mataku membasahi bahu jaketnya. Kami diam dalam posisi demikian cukup lama, aku merasa nyaman.

Kulepaskan pelukanku dan memintanya mengantarku pulang. Dalam perjalanan aku dan Abi tak mengeluarkan sepatah katapun. Saat dia menurunkanku di depan rumah, tak ada senyum yang terlihat darinya. Wajahnya tanpa ekspresi. Dadaku masih teramat sangat sesak, perih. Tapi aku yakin kalau tindakanku adalah benar. Motornya bergerak meninggalkanku.

***

Setelah pertemuan di pantai itu, aku selalu menghindar darinya. Nomor hapenya aku hapus -sebenarnya aku yang mengganti nomorku, fb dan twitter-nya aku blokir dari daftarku. Sampai saat inipun, sejak aku sudah tidak tinggal satu kota
dengannya, aku tak pernah menghubunginya. Lebih sebulan setelahnya, aku pindah ke Pontianak. Melupakan kotaku, Bogor dan kenangan bersamanya. Sepertinya aku tak akan membuka lagi hatiku untuk cowok-cowok lain di tempat baruku ini. Aku rasa cukup satu saja sejarahku yang tercatat bersama seorang Aldzaky Yusup , Abi-ku, dahulu. Akan kusimpan kisahku ini sebagai pengalamanku satu-satunya, entah sampai kapan. Dan sekarang, aku sudah sepenuhnya berhenti mencintainya, berhenti mencintai Abi….

END

Notes sang empunya tulisan :

Akhirnya selesai juga ceritaku, ini tulisan pertamaku. Jadi, maaf kalo coretanku ini teramat sangat jelek. Silakan kalau mau membombardir coretan ini semau teman-teman semua. Akhir kata, terima kasih.

Ttd
Y_Sali.