AL GIBRAN NAYAKA’S words

###################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ingat janjiku? Aku bilang, jika sempat maka aku akan memindahkan coretan lamaku lagi ke harddisk, ini aku tunaikan. Sangat biasa dan jauh dari kata bagus. Karena aku memang pujangga tak jadi, kekekekee… aku suka tajuk postinganku kali ini (gejala narsis), ada yang sependapat?

Ehemm… jangan kaget dengan judul bait-bait terakhir ya, itu benar-benar gak jelas dan gak nyambung. Tapi disambung-sambungin deh. Kuharap tak ada yang mengernyit saat membacanya.

Lalu, untuk dua judul bait-bait pertamaku, aku jadi ingat komentar Kawan Javas di kolomnya Rekan Olief… semoga aku tidak terlalu banyak menggunakan kata ganti di sana… hihiiii…

Last, semoga kalian menikmati membaca BAIT KATA PUJANGGA TAK JADI seperti aku menikmati saat menulisnya, dulu…

Wassalam

-n.a.g-

###################################################

 

CAHAYA DALAM GELAP

Hari itu kau pergi

Membawa segala dendam dan bencimu

Mengoyak sebuah asa yang kau pendam

Kebebasanmu

Kedikjayaanmu

Dan segala puja yang kau dengar

Telah membuatmu berkilau dalam murka

 

Kau yang dulu indah

Kau yang dulu jernih

Akhirnya membara dalam bara

Lena dalam megah singgahsanamu

Asyik dalam gelimang pundi permatamu

 

Hari itu kau pergi

Kau tinggalkan singgahsanamu

Kau campakkan pundi permatamu

Mencari cahaya dalam kegelapan

Yang semakin jauh dari dirimu

 

Kau mencari

Mencoba menggapainya

Namun ia seakan berlari

Takut akan dendam yang masih kau pendam

Dan tak mungkin padam

 

Cahaya itu tak bisa kau jangkau

Hatimu belum putih yang berkilau

Semua yang dulu kau banggakan

Ternyata tak cukup gemerlap

Semua suram dan memudar di dekatnya

 

Gelap hatimu membuatmu jauh dari sinaran

Biasnya pun tak dapat kau kejar

Dan dendammu tetap kau pendam

Lalu gelap pun memamahmu kembali

Hingga tiba masa bagimu untuk padam

________________________________________________

 

SANG NAVIGATOR

Terbayangkah olehmu bagaimana hidup?

Terfikirkah olehmu seperti apa dunia?

Tanpa lisan mereka

Tanpa tangan mereka

Tanpa telunjuk mereka

Yang membuka jalan selamat bagimu

 

Dengan kesabaran selayaknya ibu

Dengan ketegasan selaiknya ayah

Mereka merobek gelap yang membutakan mata

Mengenalkan hitam putih dunia yang sebelumnya sewarna

Menuliskan tinta yang mencerahkan pandangan

 

Bukankah kebodohan itu terlalu mengerikan?

Seperti mimpi buruk

Tidak tahu adalah kematian paling menyakitkan

Tidak tahu adalah kehidupan paling sia-sia

Tidak tahu adalah sebuah jalan buntu

 

Tidakkah ilmu begitu berharga?

Bernilai dari seluruh isi dunia

Andai harus merangkak mencarinya

Maka merangkakalah

Andai harus berkorban untuknya

Maka berkorbanlah

 

Belajarlah hingga ke hari matimu

Menuntutlah hingga ke negeri yang asing bagimu

Melangkahlah pada mereka yang memiliki permata itu

Berjalanlah menuju mereka yang punya harta berharga itu

 

Ilmu

Permata dan harta berharga yang mereka punya

Hanya lewat mereka kau dapatkan

Lewat kapur-kapur mereka

Lewat khutbah-khutbah mereka

Dan lewat telunjuk-telunjuk mereka

Perhatikanlah kawan

Itu adalah penunjuk arahmu

 

Sesempurnanya insan adalah guru

Benarlah mereka pahlawan tanpa tanda jasa

Pahlawan di hati para penimba ilmu

Pahlawan di sanubari para pelajar

Sang navigator penunjuk arah

Mereka ada di tiap hela nafas para penjelajah kehidupan

________________________________________________

 

RETAK TAK PATAH

Berderak ranting dalam belukar

Ranting dipijak bukanlah akar

Bertuah anak bak bunga mekar

Bunda bertandang hadiahkan tembikar

 

Sungguh retak bukanlah patah

Retaklah guci hampir terbelah

Menanti pujaan usahlah resah

Tibalah petang kekasih melangkah

 

Bila patah jadi ukuran

Maka tak patah rotan di hutan

Bila sengsara jadi harapan

Buatlah nista semau badan

 

Bulan sabit di malam pekat

Gelaplah warna kain belikat

Jangan mengata diri selurus tongkat

Bila perangai tak seperti pukat

 

Pukat dihela ke bibir pantai

Dihelalah ia beramai-ramai

Pukat bertuah membawa damai

Negeri nelayan dibuat permai

 

Note :

Katanya, pukat adalah pemersatu para nelayan. Lihatlah, semua orang di kampung nelayan akan berbondong-bondong bahu-membahu menarik pukat saat tiba waktunya setelah ditambat. Padahal, yang menambat pukat itu hanya dua orang –atau beberapa orang saja. Tapi ketika tiba waktunya untuk dipanen, mereka –para nelayan- akan menariknya bersama-sama, maka dua penggal bait terakhirku itu aku analogikan dengan pukat. Jadilah seperti pukat, pemersatu bagi orang-orang di sekelilingmu (Nayaka sok bijak)😛

________________________________________________

 

APAKAH DIRIMU?

Apa dirimu bila putih tak menjadi warnamu?

Hitamlah dirimu

Apa dirimu bila jernih tak menjadi keadaanmu?

Keruhlah dirimu

Apa dirimu bila jujur tak menjadi sifatmu?

Pendustalah dirimu

Apa dirimu bila ikhlas tak menjadi jiwamu?

Pamrihlah dirimu

Apa dirimu bila bijak tak menjadi lakumu?

Tiranlah dirimu

Sesungguhnya seburuk-buruk insan adalah dia yang tak tahu siapa dirinya…

 

 

Selesai ditulis entah kapan di kamar kost sempit

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com