Aku tak tahu sebelah mana tak kau mengerti sedang aku berdiri dihadapanmu telanjang.

Aku tak tahu apa yang salah sedang semua yang kulakukan tulus padamu.

Masih saja dan selalu kita berdebat perihal kau dan aku.

Kita hilang ketika dalam kenyataannya berdua dalam kamar yang sama.

Lalu, sekarang aku tahu. mungkin memang harus ada tabir penyekat antara kita.

Mungkin memang harus ada kau dan aku agar kita bisa berjalan bersama.

Tak perlu lagi satu. karena memang kita berdua. Beda.

————————————————————————————

Tadinya aku ingin memberikan sebuah “prolog” untuk puisi diatas, namun akan lebih baik jika saya serahkan kepada kawan-kawan untuk mengapresiasinya🙂.