Hindi movie berdurasi 105 menit ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karangan Kunal Basu. Sampai saat ini, saya merasa film ini adalah satu-satunya drama “luar biasa” yang pernah saya tonton. India dan Jepang. Seumur-umur saya nggak pernah membayangkan dua Negara itu akan bertemu dalam satu film, sungguh. Bukan sekedar setting tempat sementara sebagai persinggahan, tapi dua tokoh sentralnya diceritakan berasal dari dua Negara tersebut. Dua Negara yang jauh berbeda.

Snehamoy Chaterjee adalah lelaki India, seorang Bengali. Dia berprofesi sebagai guru sekolah menengah di desanya. Saat masih menuntut ilmu di perguruan tinggi, Snehamoy menemukan seorang gadis Jepang, Miyage, pecinta koresponden yang mencantumkan alamat pada sebuah majalah. Sejak surat pertamanya berbalas, sejak itulah mereka menjadi pen friend

Tiga tahun berlalu. Setiap minggu keduanya saling berkirim surat, bertukar cerita. Mereka mengaku tidak pernah merasa dekat dengan orang lain seperti itu sebelumnya. Meski hanya saling ucap melalui tulisan, mereka menemukan kenyamanan satu sama lain. Snehamoy hanya bisa melihat wajah Miyage melalui sebuah album foto yang dia terima. Sebagai gantinya, Miyage mengirimkan sebuah kamera Polaroid agar Snehamoy bisa mengambil foto dirinya dan mashi (bibi) untuk kemudian dikirim ke Jepang.

Pada surat yang ke sekian, Snehamoy menulis pada Miyage, bahwa mashi-nya memintanya untuk menikahi Sandhya, seorang gadis yang masih terhitung kerabat jauh. Seperti halnya gadis India yang dibesarkan di pedesaan, Sandhya belia sangat pemalu, dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk dilihat Snehamoy. Suatu hal yang mengejutkan, Miyage membalas dan berkata bahwa dia bersedia menjadi mempelai wanita untuk Snehamoy. Lamaran itu tidak segera diiyakan begitu saja oleh Snehamoy. Dia berpikir keras, bagaimana pernikahan itu bisa berlangsung? Haruskah dia pergi ke Jepang? Tapi gajinya sebagai guru sama sekali jauh dari mencukupi. Atau Miyage saja yang datang ke India? Oh tidak, desanya terletak di pelosok, belum lagi kondisi rumah yang pasti tidak akan membuat Miyage merasa nyaman. Ketika mengutarakan pikirannya dalam surat, Miyage justru menertawakan Snehamoy. Itu semua tidak perlu dilakukan, tulis Miyage, mereka cukup saling berikrar untuk menikah, meski hanya melalui surat.

Maka pernikahan jarak jauh itu berlangsunglah. Miyage mengenakan shiromuku (kimono putih pakaian tradisional pengantin wanita Jepang) dan menjalankan upacara Shinto-nya sendirian di kuil. Dia mengirimkan cincin perak berukirkan namanya pada Snehamoy, dan sebagai balasannya, dia mendapat gelang tangan dan bubuk merah untuk mengisi belahan rambut, benda-benda yang wajib dikenakan oleh wanita India yang telah bersuami. Miyage kemudian mengganti nama keluarganya menjadi Chaterjee. Sejak itu, Snehamoy terkenal di seluruh desa karena istrinya yang seorang Jepang.

Waktu berlalu, pernikahan mereka telah berjalan selama 15 tahun. Komunikasi mereka tetap terjalin baik melalui surat. Pada anniversary mereka yang ke 15, Miyage mengirimkan belasan layang-layang tradisional Jepang peninggalan ayahnya pada Snehamoy. Snehamoy berusaha menghubungi Miyage melalui telepon untuk mengucapkan happy anniversary melalui kios telepon di pasar, satu-satunya yang ada di desanya. Tapi koneksi yang buruk dan tarif SLI yang mahal membuat pesannya tidak tersampaikan dengan baik.

Suatu hari, Snehamoy dikejutkan dengan kedatangan Sandhya – wanita yang dulu nyaris dinikahinya – bersama putranya yang berusia 8 tahun, Paltu. Sandhya telah menjadi seorang janda sejak kematian suaminya, dan diterima dengan tangan terbuka oleh mashi untuk tinggal bersama mereka. Sementara itu, Miyage mulai merasa kesepian sejak kematian ibunya. Dia ingin sekali pergi ke India supaya bisa bersama-sama Snehamoy seperti seharusnya sebuah keluarga, tapi kemudian kesehatannya memburuk. Sebagai seorang yatim piatu, Snehamoy sangat memahami perasaan istrinya, dia berharap kelak mereka benar-benar bisa bersama dalam arti yang sebenarnya.

Seiring kesehatan Miyage yang tak kunjung membaik, Snehamoy memutuskan untuk cuti mengajar, guna mengusahakan pengobatan untuk istrinya. Setiap hari dia berpindah dari tabib dan herbalist satu ke yang lain, menanyakan setiap gejala yang dikeluhkan Miyage dalam suratnya. Pada akhirnya kesemuanya tidak menghasilkan diagnosa yang sama. Meskipun begitu, Miyage dengan patuh meminum semua ramuan rempah yang dikirimkan Snehamoy, tapi tidak juga menunjukkan perubahan positif. Di tengah kecemasan memikirkan kesehatan istrinya, Snehamoy dihadapkan pada tanggung jawab atas si yatim Paltu. Kebersamaan dengan Sandhya lambat laun mencairkan kekakuan di antara mereka. Meskipun samar, Snehamoy dapat melihat bahwa sesungguhnya Sandhya memiliki perasaan yang istimewa untuknya, bahkan mungkin sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi Snehamoy tetap kukuh untuk setia pada Miyage, istri yang tidak pernah ditemuinya.

Miyage ternyata divonis mengidap kanker. Dia meminta Snehamoy tidak cemas ketika mengirimkan hasil pemeriksaan dokter bersama suratnya. Snehamoy kemudian susah payah pergi menemui dokter di kota terdekat untuk berkonsultasi tentang hasil pemeriksaan tersebut. Untuk itu dia harus menempuh perjalanan air dan darat. Namun setibanya di kota, Snehamoy tidak mendapatkan hasil yang melegakan, karena dokter tidak bisa membantu jika pasien yang dimaksud tidak ada di sana. Dengan putus asa, Snehamoy kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, hujan deras mengguyur, dan berubah menjadi badai dahsyat yang melanda desa selama berhari-hari. Snehamoy menderita pneumonia, tapi dia tidak bisa mendapatkan pengobatan yang layak karena badai telah mengisolir desanya. Surat dari Miyage juga tidak kunjung tiba karena transportasi air tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Beberapa hari kemudian, Snehamoy akhirnya mati… Film ini diakhiri dengan “kepulangan” Miyage ke rumah Snehamoy, dengan kepala yang botak dan tubuh kurus berbalut kain sari putih khas seorang wanita India yang telah menjanda.

Waktu pertama kali nonton, saya pikir kepala botak Miyage di akhir cerita adalah akibat terapi kanker yang dijalaninya. Tapi kemudian, setelah saya re-watch, dan mulai menulis review ini, saya baru sadar, bahwa bukan itu penyebab botaknya Miyage. Ketika kedatangan Sandhya dan putranya, Snehamoy menulis pada Miyage, dia sama sekali tidak pernah melihat wajah Sandhya, karena itu dia ingin Miyage percaya padanya. Yang dia lihat, setiap hari Sandhya mengenakan kain sari putih polos dan menutupi wajahnya, tanda bahwa dia seorang janda. Snehamoy juga bercerita, seorang janda India harus menghapus bubuk merah pada belahan rambutnya, beberapa bahkan ada yang mencukur rambutnya, tergantung pada seberapa besar pengabdiannya pada mendiang suaminya. Jadi, hal yang baru saya sadari adalah, Miyage sengaja mencukur habis rambutnya untuk menunjukkan pengabdiannya yang begitu besar pada Snehamoy, mendiang suami yang sekalipun tidak pernah dia temui…

Dari yang saya baca, film ini awalnya akan diberi judul The Kite. Tepat di pertengahan film, ada adegan yang menunjukkan Snehamoy dan Paltu mengikuti festival layang-layang dengan menerbangkan layang-layang Jepang yang dikirim Miyage. Saya jadi inget The Kite Runner

Film ini lebih dramatis dari semua drama yang pernah saya tonton. Cerita fiktif yang pada akhirnya tetap membuat saya bertanya-tanya, bisakah hal seperti ini terjadi di kehidupan nyata? Long Distance Relationship, saya rasa semua setuju kalo LDR adalah tema dari film ini, hm… mungkin harus ditambah V di depannya, untuk Very… Diawali perasaan nyaman yang diperoleh justru ketika “bersama” seseorang yang mukanya nggak bisa kita gampar, lengannya nggak bisa kita tonjok, dan kakinya nggak bisa kita tendang.😆 Intinya, seseorang yang jauh dari jangkauan kita dalam arti sebenarnya. Pernahkah? Saya rasa semua orang pasti pernah, coba aja ganti surat-surat di film ini dengan internet, atau lebih spesifik, social networking.😀 Kok bisa ya? Mungkin karena apa yang “sekedar” dirasa hati ternyata lebih mendominasi daripada apa yang bisa dilihat mata. Kenapa bisa bertahan selama itu? Karena saling jujur, saling tulus, dan saling percaya. Pada akhirnya saya menjawab sendiri semua pertanyaan saya…

Jadi semua orang pasti punya long distance relationship kan? Apapun bentuknya, friend, brotherhood and sisterhood, or even lover… Bagaimana hubungan itu berjalan dan berakhir, itu tergantung pada pihak yang menjalani saling bersikap. Hm… lupakan, paragraf ini dan satu paragraf di atasnya bukan bagian dari review…😆

Buat semua teman dan saudara terbaik yang saya temui di dunia maya, tapi saya percaya kalian nyata. I could be here, you might be there, but we always have something to share… Thank you so much for this meaningful-long distance relationship…🙂

Nayaka al Gibran, review ini buat kamu dek… love you pangkat berpangkat…😆