***

Judul Buku : Trave(love)ing
Penulis : Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, Dendi Riandi
Penerbit : Gradien Mediatama
Tebal : 256 halaman
Terbit : Mei 2012
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 44.000. (Aku dapat harga Rp.26.000, hihi ^^)
Rating : 3.5/5 (goodreads), 4/5 (my rating)

“Hati Patah Kaki Melangkah.”

Apakah sahabat pernah mengalami patah hati? Merasakan sakit yang membuat kita ingin pergi. Menjauh darinya. Melupakan segalanya. Move on untuk sebuah hati yang baru. Hingga saat kembali, kenangan dengannya terbuang jauh dan tak mengusik hari selanjutnya. Sampai suatu saat, kita menemukan sosok baru yang siap tumbuh dan membungakan ladang hati kita.

Itulah yang dialami Roy, Mia, Grahita dan Dendi. Penulis, sekaligus tokoh dalam novel ini.

Buku setebal 256 halaman ini terbagi menjadi empat kisah dari empat penulis. Masing-masing memiliki cerita unik akan kisah patah hati, lalu berusaha move on. Empat sekawan ini pergi berlibur di empat tempat yang berbeda dengan satu misi yang sama; membuang sisa hati.

Dendi membuka kisah pertama pada buku ini. Dengan gaya bercerita mengalir, kocak dan kadang mendadak membuatku diam; it’s hurt. Dia berkisah tentang bagaimana cara move on. Minggat ke Singapura, menunjungi Merlion. Dendi ingin melupakan kekasih “LDR sucks!”-nya. Dibela-belain terbang dengan jarak ribuan kilometer mengunjungi wanita pujaannya. Namun pada akhirnya kandas. Padahal, Dendi sudah korban waktu dan uang. Untuk ini, aku setuju dengannya. LDR is sucks!

Entah memang takdir atau kebetulan. Saat kebingungan membaca puisi di statue Merlion, Dendi bertemu Riani. Seseorang yang akhirnya membuat Dendi berpetualang. Dengan modal pas-apasan dan ide gila, dia menembus tiga negara selama seminggu. Untuk apa? Ya, benar sekali. Mengejar Riani. Menembus jalan darat Singapura, Malaysia hingga ke Thailand. Dengan hasil, pantat lebih montok dan sixpack. Petualangan saat mengejar Riani dan kadang teringat mantan kekasih membuat kita menyelami Dendi yang rapuh dan sok tegar.

Moment paling aku suka adalah saat Dendi mengingat kenangannya dengan sang mantan. Bercakap saat hujan berinai tipis turun. Dan terbitlah segores kata.

Aku selalu bahagia saat hujan turun
Karena, aku dapat mengingatmu
Untuk diriku sendiri.

Juga penggalan narasi pendek yang cukup menghujam. Dendi yang kocak dan jayus ternyata bisa menulis seperti ini.

Aneh ya? Terkadang tubuh melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk melupakan seseorang, namun hati masih tertinggal disuatu tempat.

Tubuh bergerak, tapi hati tak ikut bergerak.

Kaki melangkah, namun hati sepertinya sudah lelah.

Grahita memulai kisahnya untuk melupakan Mr. Kopi dengan traveling ke Bali. Menenangkan hatinya. Menerima keadaan, hingga hanya tersisa senyum, senyum simpul yang juga akan mendamaikan hatinya yang terkoyak.

Pedih adalah menghapus semua hal yang berhubungan dengannya tanpa terkecuali.

Lebih pedih lagi menyadari bahwa otakmu terlalu bodoh untuk kau suruh melupakannya barang satu tarikan nafas aja.

Rencana berlibur ke Bali harus ternoda. Grahita selalu saja berada pada posisi untuk mengingat Mr. Kopi. Mantan kekasihnya yang sangat mendewakan minuman hitam, pahit dengan aroma menyengat. Saat berbelanja pun, dia menubruk tumpukan kopi hingga roboh. Pikirannya langsung melayang. Mr. Kopi selalu merong-rong dan meneror harinya.

Satu hal klise yang akan terjadi jika sepasang kekasih, berbeda keyakinan. Berpisah. Atau salah satu mengalah. Pada kasus Grahita. Berpisah dengan Mr. Kopi menjadi pemenangnya.

Di Bali, Grahita juga mencoba rafting. Mecoba olahraga ekstrem untuk menguji nyalinya. Disinilah dia menemukan sebuah filosofi apik dari pemandu. “Saat jatuh, tenanglah. Ikuti saja aliran sungai. Suatu saat akan ada yang menolongmu. Jika saat jatuh kau panik, maka batu keras di sekeliling akan melukaimu.” Bisa dianalogikan untuk cinta bukan? “Biarlah hati mengalir begitu saja saat jatuh ketika bercinta. Berkutat dengan memori justru akan melukai. Lebih dalam.”

“Tenang saja, jatuh ke sungai tak sesakit jatuh karena cinta.” Celetuk Grahita pada salah satu dialog yang aku suka. Lalu bagian ini juga. “Hari gini bawa-bawa suku dan agama. Yaiyalah, namanya juga Indonesia. Mau bagaimana lagi.”

Satu kutipan dari Grahita yang juga membuatku terhenyak.

Anyway, Gue juga bersyukur jalan kita pernah bersinggungan… gue nggak tahu gimana Elo nganggep gue, tapi lo tetap lelaki yang ter-klik sama gue sejauh ini… kita bisa ngebahas apa aja, dari yang absurd sampe yang absurd banget😀

Doain Gue cepat sembuh, itu aja udah cukup kok Thanks for everything, dear.

Gue nggak minta apa-apa dari dia.
Hanya doa.
Sebuah doa.
Kepada Tuhannya.
Itu saja.
Apakah berlebihan?

Kita berlanjut kepada penulis ketiga dalam buku Trave(love)ing ini. Mia akan berbagi kisahnya saat berlibur ke Dubai. Dalam rangka kursus dari kantor dan juga move on. Membuang koper hatinya pada puncak gedung tertinggi di dunia.

Pasca berpisah, Mia masih sempat bersitegang dengan sang mantan. Terutama pada twitter. Mia merasa sangat sakit diputuskan begitu saja dengan alasan, “Maaf, aku lebih nyaman kita menjadi teman baik seperti dulu, aku tak bisa berpura-pura menyukaimu.” Ini diucapkan setelah Mia dengan rela jauh-jauh mendatanginya sebelum pergi ke Dubai. Alasan ke Dubai yang awalnya untuk kursus, bertambah tujuan; melupakan “yang bukan someone lagi.”

Mia LDR dengan kekasihnya. Sama seperti Dandi. LDR is sucks! Lebih parah lagi adalah, saat putus, Mia dan kekasihnya sudah satu gedung. Mereka bekerja pada gedung yang sama. Disaat Mia berjuang dengan hubungan jarak jauh, namun begitu sudah dekat langsung terhempas dengan kenyataan; Dendi mengkadalinya. Untuk itulah, dia memilih untuk jadi orang asing. Tak akan menyapa sama sekali. Nyatanya, cinta bisa merubah sahabat menjadi orang asing.

If were friends again. I might fall back down the same path. So, being stranger is the best fou us.

Mia berjuang. Sendirian pada negara asing. Pada padang tandus, pada puncak tertinggi gedung pencakar langit. “Sulitnya proses move on menandakan bahwa perjuangan tidak hanya ketika mencinta. Tetapi juga saat melepaskan. Sekarang gue sudah siap mengosongkan hati, agar setelahnya siap mencinta lagi.” Begitulah kata Mia.

Paling akhir dari cerita ini, seorang pemuda bernama Roy akan berkisah. Diawali dengan pepatah-pepatah. Dia mulai bercerita tentang perjalanannya ke Malaysia, dengan modal pas-pasan; aku lebih suka menyebutnya dengan modal nekat. Demi melupakan sang mantan, dia rela bepergian ribuan kilometer tanpa persiapan matang. Aku menyebutnya lagi; gila.

Nyaris mirip dengan Dendi. Gaya bercerita penulis cowok ini kocak. Tapi ada beberapa bagian yang langsung #jleep.

“Diputusin itu sakit, Bung! Tapi, diputusin agar dia bisa mendapatkan cinta yang baru itu lebih sakit. Tersisihkan. Tertepikan. Itu yang selama ini gue definisikan sebagai penyebab putus gue dan dia. Gue dibuang, agar cinta yang baru mendapat ruang.”

“Dendi pergi jauh untuk move on. Gue juga pergi jauh untuk itu. Karena jika diam, kami akan kalah. Remuk oleh hati, yang tak mau pergi.”

Aku tidak akan berbicara panjang lebar. Bagian Roy ini dominan kocak. Meski tak meninggalkan esensi patah hati dan mencoba move on. Kejadian dia nyasar hingga nyaris ketinggalan bus. Kejadian melihat sekumpulan pria india gay yang bermesuman di depan mereka saat berkereta. Juga, perjuangan yang akhirnya mengantarkan dia melihat team MU yang bertanding di Kuala Lumpur. Sukses membuat perutku kembung.

Berikut penutup dari Roy yang manis-manis getir saat aku sesap maknanya.

Gue takut move on. Melepas masa lalu akan membuatku sepi…

Gue takut move on. Gue takut… dia yang move on.

Tapi pada kenyataannya, dia sudah enggak di sini. Dia sudah pergi dengan cintanya yang baru. Cinta yang ia dapatkan, bahkan saat kita masih bersama….

Epilog novel ini adalah pertemuan mereka berempat untuk mengisahkan cerita move on nya ini menjadi sebuah buku; novel yang aku baca ini: Trave(love)ing.

Aku mulai bernafas dengan normal, sebelumnya tak berhenti membaca, hingga khatam.

Komentar terhadap novel:

Dengan gaya penulisan slengekan dan nyantai berat, novel ini mampu membuatku terhanyut. Jujur, ini novel pertama dengan banyak ‘lo’ dan ‘gue’ di dalamnya. Tak masalah. Yang jelas maksud dan ide pembuatan novel gotong royong ini mampu tertampil.

Satu lagi, hal yang belum aku tampilkan pada uraian di atas. Yaitu dominannya rhyme atau pantun dalam bahasa inggris. Keempat manusia yang menulis ini dipersatukan pada twitter dengan sama-sama hobi nge-rhyme. Sosial media sangat merajai. Pantun mereka menambah daya tarik. Aku kalap membaca rhyme mereka.

Sisipan kata-kata sederhana tapi menghujam sukses membuatku meringis, bahkan menangis. Namun, kata-kata slengekan juga sukses membuatku ketawa lepas. Yah, novel campur sari yang layak dibaca.

Aku memberi rating 4 dari 5.

Selamat membaca.

***

#rhyme

[Dendi] @dendiriandi
I put my clothes in the bag, it’s time for me to pack.
No, this time I want beg, for you to come back.

[Grahita] @gelaph
I love chocolate jelly, you love beef wagyu.
I’m traveling to Bali, just to forget you.

[Mia] @myaharyono
I love traveling to the beach, while you love the mountain.
You’re now out off my reach, only time can heal my pain.

[Roy] @saputraroy
Across the sea, we go abroad.
Oh, you cheat on me? Anjrot.

***
Salam Karya!
Javas Nugroho (@ADjavas)

PS: Review buku pertamaku! Mohon maaf jika ada salah kata dan agak geje. Juga, saya sedang mencoba buat ngelamar jadi Freelancer Editor di penerbit buku ini. Semoga lolos seleksi. Doakan ya temans. Hehehe. Sankyuu, Gomawo!