Aku berjalan pelan melewati aspal yang terasa panas karena mentari yang menyengat siang ini, jarak antara kampus dan rumahku memang tak begitu jauh. Lagipula hari ini ban sepeda miniku bocor dan belum sempat aku tambal. Kurasakan ada sesuatu yang mengganjal, sepertinya langkahku ini kurang nyaman. Rupanya sepatu bututku nggak mau kompromi, mangap-mangap minta makan. Sudah harus diganti kali ya?

Sepatu berwarna coklat tua ini sudah cukup setia menemaniku selama 3 tahun terakhir, mungkin sudah saatnya dia beristirahat dan kembali ke kardusnya. Tapi itu masalah nanti, untuk hari ini dia harus dipaksa menemaniku dulu.

Namaku Bening, entah itu First, Middle atau Last Name, yang jelas hanya Bening. Tanpa embel-embel. Biasanya Ibu memanggilku dengan Ning saja, tapi kalau di kampus, teman-teman diwajibkan memanggilku Bening. Yah, biar keren gitu. Hehehe…

Aku anak semata wayang dari keluarga yang biasa-biasa saja. Semenjak ayah meninggal saat umurku 12 tahun, Ibu memulai usaha menjahitnya. Meski kecil-kecilan tapi lumayan bisa buat makan. Sedang gaji pensiunan Ayah masih bisa digunakan untuk bayar kuliah dan keperluan yang lain.

Kuseka peluh yang sempat mengalir di sudut pipiku. Matahari benar-benar ceria sekali hari ini. Begitu sampai di pintu gerbang kampus, aku langsung disambut oleh hilir mudik para mahasiswa yang masing-masing sibuk dengan urusannya. Fakultas Ekonomi siang ini tampak begitu ramai. Ada yang terburu-buru memasuki kelasnya, ada yang sibuk mengejar-ngejar dosen pembimbing untuk skripsinya, bahkan ada yang sengaja leyeh-leyeh di koridor atau di emperan depan kelas. Ngobrol ngalor ngidul, bahkan riuh suara mereka tak mau kalah dari raungan mesin sepeda motor dan mobil milik Mahasiswa yang ingin segera pulang karena sudah tak ada lagi jam kuliah.

Kampus ini memang bukan khusus orang-orang Elite saja, yang mahasiswa dan mahasiswinya bermotor atau bermobil semua. Tapi bagaimanapun juga jarak itu tetap saja ada. Sementara yang lain naik motor ataupun mobil, akupun harus puas dengan mengontel sepeda miniku. Selain bebas polusi, bersepeda juga baik buat kesehatan. Kupikir nasibku cukup baik daripada teman-teman yang terpaksa berdesak-desakan di angkot. Lalu lihat saja dari segi pakaian, ketara sekali perbedaannya. Apa karena kami tak lagi pakai seragam seperti masa dua belas tahun sekolah dulu ya? Dari TK, SD, SMP sampai SMU pun berseragam. Kalau kuliah, bukankah tak ada ketentuan untuk memakai pakaian yang berseragam? Yah, kecuali jas almamater sih. Ada yang sampai tiga hari pakai baju itu-itu saja, contohnya ya aku ini, baju yang menurutku layak pakai hanya tiga pasang saja. Lengkap, atasan dan bawahan. Masa iya sih, aku mau pergi ke kampus memakai kaos oblong? Ada pula yang tiap hari bajunya gonta-ganti. Mungkin dia punya toko baju kali ya? Hihihi…

Aku berdiri di samping pintu ruang kelas ini, akhirnya sampai juga. Yah, meskipun harus terseok-seok karena sepatu ini semakin menganga lebar. Kalau dari awal tahu bakal begini, sudah aku lem dulu sepatu ini untuk situasi darurat. Ku intip sebentar ke dalam, ternyata Sang Dosen belum datang. Syukurlah, siang bolong begini malah Praktikum Auditing. Wuuaaah, semakin panas saja nih kepala. Sambil menarik nafas lega, aku lenggangkan kakiku memasuki ruangan.

“Beniiiiiiiiinnngggg!!!”

Sapaan entah berapa oktav itu menggema ke seluruh penjuru ruangan, membuat perhatian semua mahasiswa yang hadir tertuju padaku dan si pemilik suara cempreng itu.

“Ssssstttt!”

Aku mengisyaratkan agar Ivon memelankan suaranya. Gadis berambut cepak itupun segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aku segera menghampiri Ivon dan langsung duduk di kursi kosong di sebelahnya.

“Telat benget sih, tumben. Kenopo to?” tanya Ivon dengan logat Semarangnya.

“Nih, minta makan…”

Ivon mengerutkan kedua alisnya, mata hitamnya mengikuti kemana aku menunjuk. Kuangkat sepatuku sedikit, memperlihatkan alas sepatuku yang hampir lepas. Sesaat dia terdiam, namun tiba-tiba ekspresinya berubah. Dia kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha menahan tawa yang sepertinya hendak meledak.

Aku merengut kesal. Ugh!

Ku perhatikan sekelilingku, lebih tepatnya aku melihat ke tempat alas kaki mereka berada. Ku amati sepatu ataupun sepatu sandal yang mereka gunakan, ada yang begitu sederhana, ada yang tampak ‘Wah’ dan berkilauan, ber-Merk terkenal dan sering muncul di iklan TV, terbuat dari jenis kulit pilihan dan yang pasti mahal punya. Bahkan Ivon pun memakai sepatu yang cukup mahal, maklum dia anak orang kaya. Kemarin saja aku menemaninya ke ATM, mengambil kiriman dari orang tuanya. Lima ratus ribu hanya untuk tiga hari. Wow!

Kuhentikan lamunanku ketika Dosen memasuki ruangan. Setelah meminta maaf karena keterlambatannya, kuliah hari itupun segera dimulai. Hanya ada satu mata kuliah dijadwalku hari ini, setelah selesai aku akan langsung pulang saja. Padahal berjalan dengan sepatu begini susah juga, apa aku nyeker saja ya?

“Lihat Bu, Mangap lho,” ujarku sambil memperlihatkan sepatu bututku yang semakin terbuka lebar.

Ibu dan aku hanya terkikik geli melihatnya. Malam ini aku menemani Ibu yang tampak sibuk dengan mesin jahitnya. Tak ada tugas kuliah buat besok, jadi aku bisa sedikit bersantai.

“Beli aja yang baru Ning, kebetulan Ibu ada Rejeki,” kata Ibu.

“Wah, lagi banyak orderan ya, Bu?”

“Alhamdulillah,”

Ibu tersenyum, kuperlihatkan deretan gigi putihku sebagai balasannya. Menyengir lebar saat mendengar Ibu akan membelikanku sepatu yang baru.

Hening. Ibu tak lagi bermain dengan mesin jahitnya. Wajah Beliau kini tampak serius saat mengukur dan memotong pola, sedangkan aku sudah mencak-mencak mencari kardus buat ‘peristirahatan terakhir’ sepatu coklatku.

Pagi itu Ibu memberiku uang untuk membeli sepatu baru, tak banyak hanya dua puluh lima ribu rupiah saja. Tapi bagiku, jumlah itu tak sedikit. Rencananya hari ini juga aku akan mampir sebentar ke kios-kios kecil yang ada di emperan depan supermarket, di sana banyak dijual sepatu dan sandal dengan harga yang sedikit miring. Kalau belinya di supermarket ataupun toko sepatu, sudah jelas sekali uangku ini tak bakal mencukupi.

Jangankan untuk membeli sepatu bermerk seperti punya teman-temanku, apa itu namanya, New Ero atau Ahdigiles? Dapat sepatu baru yang tak mangap-mangap saja aku sudah cukup bahagia.

Aku juga tak memimpikan sepatu kaca seperti milik Cinderella, apalagi membayangkan seorang pangeran gagah dan tampan yang memakaikannya.

Setelah mondar-mandir dari kios satu ke kios yang lain, perhatianku tertuju pada salah satu sepatu yang dipajang di ujung bagian depan salah satu kios yang aku datangi. Sepatu itu berwarna hitam, ada hiasan pita di bagian depannya. Membuat sepatu ini tampak lebih manis. Bagiku tak masalah, mungkin agak kekanak-kanakan tapi aku menyukainya dan kurasa harganya tak harus membuatku merogoh uang tabungan yang selama ini susah payah aku kumpulkan, jadi cukup dengan uang yang diberikan Ibu saja.

“Berapa harganya?” tanyaku pada pedagang yang kebetulan sedang membersihkan sepatu-sepatu jualannya.

Kios kecil ini hanya berukuran 3 X 3 saja, berbagai macam bentuk sepatu dan sandal ada di sini. Namun entah kenapa perhatianku terpaku pada sepatu hitam berpita itu.

“Cuma dua puluh lima ribu kok mbak, murah,” jawabnya.

“Ini awet kok, lihat aja bahannya,”  rayunya sambil memperlihatkan sepatu itu.

Entah dari bahan apa sepatu ini dibuat, aku juga tak begitu peduli. Aku mengamati sepatu itu dengan seksama, diputar-putar, dibalik, bahkan aku coba memakainya. Nyaman dan pas sekali.

“Ga bisa ditawar mas?” tanyaku lagi.

“Pasnya dua puluh empat ribu, Mbak!”

“Dua puluh ribu ya?”

“Dua puluh tiga deh, itu udah pas!”

“Dua puluh dua ribu ya?” pintaku, kali ini aku memasang muka memelas.

“Dua dua setengah,”

“Oke!”

Akhirnya kami sepakat, alhasil sepatu itu berpindah ketanganku. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada sepatu hitam berpita ini, jadi tanpa ragu-ragu lagi aku membelinya. Dengan langkah yang pasti, aku pulang ke rumah. Kuperlihatkan sepatu ini pada Ibu dan Beliau tampak tersenyum senang. Besok akan kupakai saat kuliah.

Pagi ini kakiku mantap melenggang ke kampus. Tentu saja aku telah memakai sepatu yang baru, aku tak perlu repot karena tak lagi memakai sepatu butut yang dulu. Suara sepatu baru ini menggema pelan di koridor yang kebetulan sedang sepi. Aku melihat Ivon dan beberapa orang teman kami tampak asyik mengobrol di depan kelas. Ivon melambaikan tangannya ketika melihatku. Aku segera menghampirinya.

“Wuaaah, Bening sepatunya baru ya? Kenalan ya?!” teriak Ivon begitu menyadari keberadaan sepatu baruku.

Pandangan mereka semua kini tertuju pada sepatu baru milikku. Dan tanpa Ba-Bi-Bu lagi Ivon menginjakkan sepatunya ke sepatu hitam milikku. Beberapa teman kami juga melakukan hal yang sama.

Duh! Mentang-mentang sepatu baru, cara berkenalannya mesti begini ya? Injak sana, injak sini. Padahal inikan sepatu baruku. Lihat, pita manisnya jadi miring begitu. Hehehe…

“Lucu banget sih, sepatunya. Modelnya kok kaya anak SMP gitu?!” celetuk salah seorang teman kami.

Aku hanya menyengir lebar sembari menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah itu pujian ataupun ejekan, aku tak begitu mempedulikannya. Lagipula sang Dosen yang ditunggu sudah tampak di depan mata, kamipun buru-buru memasuki kelas.

Pada akhirnya aku kembali memakai sepatu yang dulu. Sepatu butut warna coklat yang sudah sobek di ujung-ujungnya, namun bagian yang ‘minta makan’ tentunya sudah aku perbaiki dong! Hanya bermodal ongkos jahit, lima ribu rupiah saja. Tadinya ku pikir Ibu bisa menjahitnya, ternyata…

“Lah, jahit sepatu sama jahit baju kan beda, Ning!” jelas Ibu.

Dan aku hanya ber-Oh ria. Rejeki memang sudah diatur ya? Jahit baju di tukang jahit seperti Ibuku, kalau jahit sepatu ya di tukang sol sepatu.

Akupun berjalan ke tukang sol sepatu sambil menuntun sepeda miniku, maksudnya sekalian mau ditambal karena aku baru sempat sekarang.

Sepatu coklat itu kembali kupakai. Bukan! Bukan karena aku malu oleh ejekan temanku waktu itu. Hanya saja beberapa hari yang lalu, keponakanku datang dari Tegal dan melihat sepatu baruku.

“Bagus lho Mbak, buat Nanda aja ya?” pintanya dengan mimik muka yang begitu menggemaskan.

Mata hitamnya berbinar lebar saat mengamati sepatu hitam berpita itu. Duh! Siapa sih yang tega menolak permintaannya, selama ini kulihat dia selalu setia dengan sandal yang hanya satu-satunya. Lagipula ukuran sepatu kami tak jauh berbeda, yang jelas sepatu itupun lebih tampak manis dipakai olehnya, apa karena kulit Nanda putih ya? Ibuku juga tak keberatan aku memberikan sepatu itu ke Nanda.

“Nanti kalau ada rejeki lagi, Ibu kasih Ning uang buat beli sepatu yang baru,” kata Ibu sedikit menghiburku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Aku ikut senang ketika Nanda memelukku dan berlarian memamerkan sepatu barunya ke siapa saja yang dia temui. Sepatu hitam berpita itu memang cocok sekali dipakai olehnya.

Kubuka kembali kardus penyimpanan sepatu lamaku. Setelah dijahit, sepatu itu ternyata masih bisa dipakai. Dan mulai hari itu sampai entah kapan, sepatu butut berwarna coklat kembali menemani hari-hariku.

END

Purwokerto

28 Mei 2009

Yuuki ^^