an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

PENGGALAN POKET 8 :

Syawal sontak menangkap pergelangan tanganku. Aku menoleh padanya, dia menatapku. “Aku sangat mencintaimu, Dan…” Ucapnya lirih. Aku diam. Syawal menutup kotak berisi burung kertas itu lalu disodorkannya padaku. “Semoga ini bisa jadi koleksi barumu selain kelereng jelek itu… Koleksi kita berdua, burung kertas Ramadhan dan Syawal.”

Aku menerima kotak darinya.

“Aku belum bisa memberimu kotak hati kayak yang dibawa Yazir untuk Kak Aira, tapi aku akan memberimu begitu suatu hari nanti… mungkin. Maaf jika kamu merasa aku meragukan kata-katamu, aku tidak begitu. Aku hanya…” Syawal diam sebentar, kami saling bertatapan. “Aku hanya mencintaimu…”

Aku tak bisa berkata-kata. Kucondongkan badanku ke arah Syawal dan kucium keningnya.

“Nanti puasamu batal.”

“Bukan selangkanganmu yang kucium, tenang saja.”

Syawal terkekeh.

“Aku akan menyimpan kotak ini.”

“Hemm…”

Aku bergerak untuk bangkit dari lantai, tapi Syawal malah merangkul pinggangku. Ah, mungkin kami memang perlu berpelukan untuk beberapa detik.

***

POKET 9

“Kak, Yazir kasih apa?”

Seperti biasa, aku dan Kak Aira sedang dalam perjalanan menuju pasar. Sebenarnya aku bisa pergi sendiri, tapi entah mengapa rasanya aku lebih suka bila Kak Aira sama Bang Awi. Jadi aku mengajaknya juga –seperti minggu awal puasa- untuk pergi bersama, mungkin sore ini Bang Awi juga membeli kue.

Aku tak mendengar Kak Aira menjawab. Kutolehkan kepalaku ke belakang untuk meliriknya sebentar. “Kak…”

“Aku salah gak, Dan…”

“Kenapa?”

“Menerima kado bagus darinya tapi tidak membuatnya senang…”

Aku tak merespon. Kak Aira sudah memulai, pasti dia akan bercerita sendiri. Aku hanya harus bersiap-siap menajamkan pendengaran dan menjaga kecepatan motor di angka aman agar dapat mencerna ucapan-ucapannya dengan baik.

“Yazir ngasih aku liontin hati, bagus. Tadi siang dia mengutarakan perasaannya…”

Kak Aira diam lagi. Aku sudah menduga kalau itu yang akan dilakukan Yazir di rumahku tadi siang, menembak Kak Aira. Tapi mendengar kalimat Kak Aira yang mengatakan ‘…tidak membuatnya senang’ aku yakin kalau Kak Aira memberikan gelengan buatnya. Ah, kasihan. Andai tadi aku cepat pulang dari rumah Syawal, bisa jadi aku sempat melihat wajah patah hati Yazir. Saat aku pulang, motor Yazir sudah tak ada lagi di halaman. Ternyata tidak semua hal diberkahi di bulan berkah ini. Usaha Yazir untuk mendapatkan hati Kak Aira adalah termasuk hal yang tidak diberkahi itu. Yazir ditolak Kak Aira tidak membuatku kaget, aku sudah menduganya dari awal. Yang aku rasakan justru sedikit perasaan cemas, aku mencemaskan ketua kelasku itu. Mungkin aku harus meneleponnya nanti, atau barangkali aku harus ke rumahnya. Dia pasti butuh kawan bicara. Tunggu, Syawal tidak akan suka aku melakukan salah satu dari dua hal itu, pasti.

“Aku mengembalikan kotak hati itu setelah menjawabnya, tapi Yazir gak mau nerima. Dia bilang…”

Sepertinya Kak Aira sedang doyan memenggal-menggal kalimat, aku jadi tak sabar. “Dia bilang apa?”

“Kak Aira boleh menolak hatiku, tapi tolong, jangan menolak sesuatu yang kuberikan dengan hati yang tulus. Buatlah aku sedikit senang dengan tidak membawa pulang kotak ini lagi…” Aku mendengar hembus nafas Kak Aira yang agak berat. “Begitu katanya…”

Ya Tuhan, Yazir. Rasanya aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi nelangsanya ketika berucap demikian pada Kak Aira.

“Dan, menurutmu, apa aku salah menerima hadiahnya tapi tak membuatnya senang?”

“Bukankah katanya, dia senang bila tidak membawa pulang kotak itu lagi kan? Berarti dia senang karena Kak Aira mau menerima kotaknya. Kalau Kak Aira tidak mau menerima barulah Kak Aira salah karena tak membuatnya senang.” Aku mengutarakan pemahamanku.

“Gak, Dan… Aku yakin dia sama sekali jauh dari yang namanya senang.” Aku mendengar nafas berat Kak Aira. “Bahkan aku masih ingat setiap kata-katanya itu… aku membuatnya hilang semangat.”

“Jadi Kak Aira merasa bersalah? Tapi Kak Aira gak mungkin memaksakan diri untuk menerima perasaannya kan? Cinta gak bisa dipaksakan begitu saja, Kak Aira tidak mencintainya. Jadi menurutku, Kak Aira sudah melakukan yang tepat, menolak Yazir sesegera mungkin agar dia tak terlalu lama hidup dalam angan-angan dan harapan semu yang malah akan membuatnya makin sakit ketika berdepan dengan kenyataan…” Apa yang baru saja kurepetkan?

“Andai dia lebih dulu lahir…”

Hei, apa ini? Kalimat Kak Aira, apakah itu berarti dia sebenarnya punya sedikit perasaan pada kawanku itu tapi karena Yazir lebih muda maka Kak Aira mengubur perasaannya? “Ehemm… Kak Aira suka Yazir ya?”

Nafas berat lagi. “Dia baik, Dan. Lebih dewasa dari usianya, pintar, sopan… dan kamu juga pasti setuju kalau dia adalah remaja yang tampan.”

“Dia juga kaya raya…” Sambungku.

Kak Aira mendecak. “Materi tidak masuk kriteriaku untuk mencintai seseorang.”

“Bagus. Lagipula Bang Awi juga tidak punya mobil mewah, jadi kriteria Kak Aira terpenuhi semua.”

Sunyi sebentar sebelum Kak Aira membuka mulut lagi. “Itu alasan utama kenapa aku tak bisa menerima Yazir, aku masih begitu mencintai Bang Awi…”

“Hemm… Yazir masih punya banyak waktu untuk mencari, sedang Bang Awi sudah mepet jadi harus didahulukan.”

Kak Aira memukul bahuku. “Bukan itu sebabnya aku memilih Bang Awi. Bukan karena dia sudah sangat dewasa, tapi lebih karena dia adalah cinta pertamaku. Padanyalah aku berharap untuk pertama kalinya. Selain itu, aku suka caranya memandang seorang gadis. Siapapun gadisnya, pasti dia akan merasa jadi wanita terhormat bila di depan Bang Awi. Dan soal tampang, sampai hari ini gadis-gadis di tempat kita masih suka menyebutnya ustadz tampan…” Sepertinya topik Yazir langsung tergantikan begitu nama Bang Awi mencuat.

Hemm… cinta pertama? Aku yakin itu hanya istilah Kak Aira saja untuk menyebutkan bahwa dia jatuh cinta pada Bang Awi pada pandangan pertama dulu. Mereka berdua tidak benar-benar pernah pacaran. “Yeah, I see… ngomong-ngomong, pria pujaan Kak Aira itu sekarang sudah menunggu di atas motornya.” Aku berbelok ke parkiran pasar –dimana Bang Awi kulihat baru saja memarkir motornya. Mendengar kalimatku, Kak Aira menjenguk ke depan lewat bahuku –aku yakin wajahnya pasti sumringah. “Panjang umur guru ngajiku itu…” Gumamku.

Assalamualaikum…”

Selanjutnya, aku pasti akan jadi kambing congek. Tentu mereka akan mengobrol lama sore ini, aku bisa membaca kerinduan di wajah mereka masing-masing. Bang Awi senyum terus-terusan –sehingga aku takut orang-orang akan menganggapnya gila, sementara Kak Aira tersipu-sipu gak jelas sambil nyengir malu-malu bagai perawan pingitan. Cinta memang membuat bahagia yang melewati ambang batas ya…

***

Setelah membujuk Syawal habis-habisan, sampai harus bersedia pipiku kiri kanan dicium dan keningku dikecup, akhirnya dia bersedia mengawaniku ke rumah Yazir pagi ini. Jujur, aku mengkhawatirkan keadaan ketua kelas kami itu, lebih tepatnya mengkhawatirkan keadaan hatinya. Di atas skuter, Syawal masih sempat-sempatnya mewanti-wantiku. Jangan terlalu lama di sana, jangan terlalu akrab, jangan terlalu dekat, gak boleh nyentuh-nyentuh, gak boleh pegang-pegang, gak boleh meluk-meluk (ini berlebihan menurutku), apalagi kalau sampai cium-cium (ini juga mustahil terjadi). Syawal terus mengulang-ulang kalimat itu sampai aku bisa hapal urutannya.

Sebenarnya aku tidak akan mengajak Syawal untuk ke rumah Yazir pagi ini jika saja cowok yang baru dibikin patah hati oleh Kak Aira kemarin itu menjawab teleponku malam tadi. Semalam, aku berkali-kali menghubungi nomor Yazir tapi tak sekalipun dijawab. Saat sahur, aku mencoba menghubunginya lagi tapi nomornya sudah tidak aktif. Ketika rasa khawatirku sudah sampai pada limit tak tenang duduk tak nyaman pipis, aku menyeberang ke rumah Syawal dan mati-matian membujuknya. Aku juga harus menjelaskan isi obrolanku dengan Kak Aira kemarin sore pada Syawal untuk membuatnya yakin kalau aku tidak kegatelan pergi ke rumah Yazir selain untuk mengetahui keadaannya.

Setelah muter-muter dan sempat menghubungi Aria beberapa kali untuk membantuku menemukan rumah Yazir –karena aku hanya pernah sekali saja ke rumahnya jadi tak hapal jalan, sedang Aria adalah kawan sebangku Yazir dan kabarnya rumah mereka masih satu komplek- sekarang aku dan Syawal sudah mematung di depan gerbang gede sebuah rumah maha megah, rumah Yazir. Seingatku, dulu gerbang rumahnya tidak segede dan selebar sekarang. Seorang Satpam membukakan gerbang untuk kami begitu aku memberitahu kalau ingin bertemu Yazir.

“Gila… gede banget rumahnya. Ck ck ck… seharusnya kamu nyaranin Kak Aira untuk menerima Yazir, Dan.” Syawal bergumam saat kami mulai mendaki undakan teras rumah Yazir. “Apa Yazir punya adik cewek ya? Siapa tau aku bisa pulang kemari…”

Aku langsung mendelik pada Syawal, dia cengengesan. “Coba saja!”

“Aku hanya milikmu, Didan darling… gak akan berpaling pada siapapun!”

“Diam ah, ada yang dengar celaka dua belas kita.”

“Kebanyakan, sebelas aja!”

“Diam!”

Syawal menurut. Aku mengetuk pintu sambil memberi salam. Ternyata Satpam di sini cuma digaji untuk mengurus gerbang depan, memberi tahu kalau ada tamu pada si tuan rumah tidak termasuk wewenangnya.

“Aku di sini!”

Aku dan Syawal sama menoleh ke halaman samping rumah dimana seseorang baru saja berseru. Entah mengapa saat menuju teras kami bisa tak melihat kalau di halaman samping sana orang yang kami cari sedang duduk di kursi melingkar, di bawah kanopi tradisional dari daun entah apa. Yazir tak memandang ke arah kami, dia membelakangi arah teras rumah. Tanpa bicara aku dan Syawal segera saja menuju ke tempat Yazir berada.

Syawal duduk di samping Yazir, “What’s up, bro…” Sapanya sok asik sembari menepuk bahu kiri Yazir. Cowok itu masih bergeming tanpa sebarang reaksi. Syawal menatapku, merasa malu sendiri karena ucapannya tak mendapat perhatian dari orang yang dituju. Lagian, kenapa dia malah menyapa begitu, sangat tidak biasa. Syawal beringsut menjauh dari Yazir, memberi ruang tengah untukku. Aku masih berdiri di depan mereka.

“Kita boleh bersedih selama apapun yang kita mau, karena gak ada yang lebih membuat sedih selain hati yang tak bisa termiliki. Tapi kesedihan itu pada akhirnya akan sia-sia belaka, karena waktu bagi kita tidak berhenti pada titik dimana kita terpuruk dalam kesedihan, waktu terus bergerak. Bukankah waktu terlalu berharga hanya untuk diisi kesedihan saja?” Terus terang, aku sudah mempersiapkan kalimat ini sejak dari rumah tadi. Syawal terpana menatapku. Tapi Yazir masih saja terpekur. Aku memandang Syawal dan ruang kosong antara dirinya dengan Yazir. Ingat wanti-wantinya saat berangkat tadi, aku tak boleh dekat-dekat dengan Yazir.

Syawal bergeser memberi ruang lebih luas, dia mengizinkanku duduk. “Kalau jadi kamu aku juga bakal sedih, Zir. Tapi aku tidak akan lupa untuk mandi dan menyisir rambutku.”

Aku melotot pada Syawal. Saat ini Yazir memang tampak berantakan. Rambutnya awut-awutan, dan sepertinya dia memang belum mandi pagi ini.

“Aku sudah mandi.” Sahut Yazir, masih terpekur menatap rumput. “Aku sedang benci cermin, setiap berada di depannya… aku akan melihat seorang pecundang.”

Wah, parah nih. Kucoba mengintip ke wajah Yazir, sepertinya matanya sedang berkaca-kaca. Aku tak menduga problema hati Yazir bisa separah ini. Syawal terpegun, begitu juga aku. Kami saling pandang sesaat. Aku duduk diantara mereka, pas di tengah-tengah. “Aku pernah membaca sepenggal kalimat sarat makna tentang cinta, katanya… bukan cinta jika belum berair mata. Air mata karena sedih yang bukan kepalang atau bahagia yang tak terhingga.” Aku diam sebentar, “Kamu sedang mengalami salah satunya. Salah satu dari dua kemungkinan dalam cinta. Bagaimana kamu bisa menganggap dirimu pecundang jika kamu adalah seorang pecinta? Kamu pecinta, Zir… hanya saja, kamu belum menemukan seseorang yang tepat untuk membuatmu menangis karena bahagia tak terhingga itu.” Setelah berucap seperti ini, rasanya aku seperti baru timbul ke permukaan kolam setelah menahan napas cukup lama dalam airnya.

“Aku masih memerlukan jari-jariku…”

Aku menatap bingung pada Yazir, responnya sangat tidak tepat dengan ucapanku barusan yang tumpah-ruah sangat panjang. Apa hubungan kalimatnya ini dengan keadaannya sekarang?

“Semua orang tentu memerlukan jari-jarinya, aku dan Didan juga masih memerlukannya kok.” Syawal menanggapi.

“Kamu menduduki jari-jariku, Didan…” Yazir menoleh padaku, benar, matanya sedang berkaca-kaca.

Pantas, pantatku seperti mengganjal sesuatu. Aku mengangkat badanku sedikit untuk membebaskan jari-jari Yazir. “Sorry, aku fikir itu kayu kursi.”

“Kamu terlalu banyak berfikir.” Tukas Yazir cepat.

“Oh ya? Tidakkah kamu juga sekarang begitu? Look, saking kerasnya kamu berfikir kamu jadi berantakan seperti ini.” Aku yakin, Yazir tidak akan menangis. Dia hanya akan berkaca-kaca saja, dia cukup macho untuk tidak bocor seperti anak-anak di depan teman sekelasnya.

Yazir tak menjawabku, dia kembali menekuri rumput hijau di bawah kakinya.

“Aku punya sepupu, cantik… Saat aku pindah kemari dulu, dia baru menuntut setahun di pesantren.” Aku dapat menerka kemana arah pembicaraan Syawal. “Kalau kamu mau, aku bisa memberikan nomor hapenya padamu, Zir.”

Yazir mendongak, “Apa dia secantik Kak Aira?”

“Dia cantik.”

“Secantik Kak Aira?” Yazir mengulang pertanyaannya.

Syawal diam. Aku sendiri tak bisa berkata-kata, Kak Aira sudah menjadi tolok ukur bagi Yazir untuk menilai sosok seorang gadis. Ini perkara sulit, tidak mudah menggoyangkan pandangan seseorang yang jadi korban cinta.

“Apa dia punya mata seperti mata Kak Aira?”

Syawal sudah kehilangan kata-katanya dari tadi.

“Apa dia punya senyum seperti Kak Aira? Apa dia punya suara seperti Kak Aira? Apa dia punya pribadi seindah Kak Aira? Apa dia bisa membuat gembira saat sedang berbicara seperti halnya Kak Aira? Apa tanggal lahirnya sama seperti Kak Aira? Apa gerak tubuhnya sama seperti gerak Kak Aira? Apa dia menyukai hal-hal seperti yang Kak Aira suka? Apa dia punya…”

“YAZIR, STOP!!!” Seruku. Ini gila. Bagaimana dia bisa terobsesi sehebat itu sama kakakku? Aku salah mengira kalau perasaan Yazir pada Kak Aira hanya cinta remaja yang meledak-ledak sesaat, cinta monyet yang tidak akan berefek luar biasa bila cintanya ditolak. Pegangan remaja, cinta di tolak? Emang cewek di dunia cuma elu aja? Tunggu ya, besok gue gandeng yang lebih semok dari elu. Nyatanya Yazir tidak seperti itu. Seharusnya aku sudah menduga bakal jadi begini dari awalnya.

Syawal menggeleng-gelengkan kepalanya. Sama sepertiku, pasti dia juga tak mengira kalau efek cinta tak berbalas bisa sekuat itu pada Yazir.

Ini yang tidak kuperkirakan, berbelok dari yang aku yakini tadi. Tiba-tiba saja yazir memelukku, kepalanya di bahuku sementara kedua tangannya melingkar di pinggangku. Aku kaku, Syawal melotot besar padaku saat ini. Aku membalas pelototannya itu dengan tatapan minta pengertian. Yazir sedang butuh a shoulder to cry on. Syawal menunduk, tidak jadi ngamuk-ngamuk –seperti yang kuperkirakan bakal terjadi saat melihat matanya yang melotot tadi.

“Aku cinta Kak Aira, Dan… aku cinta Kak Aira… aku cinta Kak Aira… aku cinta cinta Kak Aira…”

Yazir terus mengulang-ulang kalimat yang sama. Perlahan aku menepuk punggungnya. “Zir…” Detik berikutnya aku kehilangan kata-kataku. Yazir semakin kuat memelukku. Dia menangis. Aku menoleh pada Syawal, dia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya untukku.

“Biarkan saja bocah ingusan ini nangis…” Bisik Syawal diantara isak tangis Yazir di bahuku.

“Aku dengar…” Desis Yazir lalu segera disambung sedu-sedannya lagi.

Aku bingung sendiri.

SRUUUUTTT

Oh Tuhan, bajuku jadi lap ingus Yazir. Ini keterlaluan. “Zir, aku akan menggamparmu setelah ini.”

SRUUUTTT

Jahanam sudah. Aku kehabisan kalimat, Syawal kulihat seperti menahan tawanya.

“Dia sungguh bocah ingusan.” Desis Syawal sambil mendorong bingkai kacamatanya.

Lalu tak ada yang bersuara lagi, hanya deru nafas Yazir saja yang terdengar. Dia sedang berusaha meredam isakannya. Matahari semakin naik, waktu dhuha sudah jauh terlewatkan. Bahuku mulai pegal, dari tadi posisi dudukku tidak berubah. Sedang Syawal sudah beberapa kali mengganti sikap duduk. Dia mulai menatap tajam pada Yazir yang sampai saat ini masih mepet padaku meski tangisnya sudah reda. Aku bisa mendengar geraman Syawal. Agaknya pacarku itu sedang dipanasi dari dalam.

“Apa ada paku di bawahmu, Bar? Dari tadi duduknya gelisah gitu. Capek mataku mandangnya.” Ini kalimat Yazir. Kenapa dia tak segera melepaskanku? Keadaannya sudah jauh lebih baik dari tadi.

“Hatiku yang sedang ditusuk ribuan paku. Sesaat lagi mungkin aku harus menghajar seseorang untuk mengalihkan rasa sakit kecucuk paku itu…”

Yazir melongo.

“Siapa yang nyuruh manggil aku gitu? Aku gak suka dipanggil Bar sama kamu!” Syawal kembali merepet dengan muka masam sementara Yazir makin melongo bingung.

“Zir, bahuku pegal!” Cetusku cepat sebelum Yazir mencerna kalimat Syawal terlalu jauh. kudorong bahu Yazir perlahan.

“Huh, baru juga aku bersandar lima menit.” Yazir sudah kembali duduk tegak.

Lima menit apanya? Lengan bajuku sampai basah begini. Aku memandang putus asa pada bahuku yang lengket.

“Sudah baikan kan?” Tanya Syawal, “Aku dan Didan mau pulang, gerah lama-lama di sini.” Syawal makin tak bersahabat. Aku mulai khawatir.

Yazir menghela nafas, “Maaf aku merepotkanmu, Bar. Tapi aku gak akan pernah merasa baikan.”

Lagi-lagi Syawal hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi Yazir. Aku menatap pacarku itu untuk meminta pengertiannya lagi.

Kupandang Yazir, “Zir, aku pernah bilang kan? Jangan berharap terlalu banyak, jangan berharap terlalu tinggi dengan Kak Aira…”

“Ya, kamu sudah pernah bilang.” Tukas Yazir cepat. “Aku juga sudah pernah mengatakan kalau hati tak bisa…”

“Ya ya ya… kamu juga sudah pernah bilang begitu.” Aku yang memblokir kalimatnya sekarang. “Saat ini menurutku semua kata-kataku dan juga kalimat-kalimatmu rasanya tak penting lagi. Aku kemari juga bukan untuk menceramahi, menghibur atau apalah namanya…”

“Kami ke sini untuk membuatmu kembali bisa menyisir rambutmu…” Syawal sangat cepat mengambil alih omonganku.

“Tak ada yang melarang atau merasa dirugikan dengan kesedihanmu, Zir. Itu hakmu, seperti katamu… itu hatimu. Silakan kamu mengungkung dirimu sendiri dengan pemikiranmu bahwa kamu pecundang…”

“Bahwa kamu pengecut…” Tebak ini siapa? Benar sekali.

“Bahwa kamu looser.” Sambungku untuk menutup jeda ucapan Syawal.

“Bahwa kamu tak ada apa-apanya.” Syawal lagi.

“Bahwa kamu yang kalah dan Bang Awi yang menang.” Aku lagi.

“Bahwa kamu sama sekali tak kuasa memikat Kak Aira.” Syawal sekarang.

“Bahwa kamu memang tak sanggup menaklukkan hati Kak Aira.” Aku sekarang.

“Karena seperti katamu, kamu pecundang.”

“Kamu pengecut.”

The big looser.” Okey, Syawal sudah keterlaluan.

“KALIAN INGIN MEMBUATKU BUNUH DIRI???” Yazir membelalak padaku dan Syawal.

Mendapat tatapan seperti itu, pasangan paling serasi musim ini langsung terdiam. Pasangan paling serasi? Tentu saja, aku dan Syawal adalah best couple tahun ini –menurut kami sendiri.

Sorry…” Ucap Syawal.

“Maaf.” Lanjutku.

“Aku beri juga kalian berdua!” Yazir mengepalkan tinjunya.

“DEN YAYANG, AIR HANGATNYA SUDAH BIBIK SIAPKAN DI KAMAR MANDI…!!!”

Sekonyong-konyong seseorang berteriak dari arah teras. Seorang perempuan paruh baya dengan kain lap di bahu, pengurus rumah keluarga Yazir.

What??? Den Yayang???” Aku dan Syawal berteriak sama-sama.

Muka Yazir memerah. Panggilan manjanya di rumah terkuak sudah. Setauku, Yazir memang putra semata wayang. Tunggu, air hangat di kamar mandi? Ya Tuhan…

“Jadi beneran kamu belum mandi pagi ini?” Syawal mendelik.

Yazir cengengesan.

“Bangsat bener. Aku dipeluk kambing dari tadi…” Aku misuh-misuh, sibuk mengibas-ngibaskan baju kausku ke segala arah.

“Huh, batal puasamu karena udah bicara dusta.”

“Aku memang udah mandi kok!” Yazir membela diri.

“Kemaren sore???” Semburku.

Ketua kelas kami nan cakep itu cuma nyengir. Hemm… setidaknya dia sudah tak murung lagi saat ini. Entah nanti. Semoga waktu mempertemukannya dengan kebahagiaan suatu saat nanti, mungkin dalam waktu dekat ini.

***

“Bang Iwan mau cari baju lebaran, kamu iku gak, Dan?”

Aku baru saja terjaga dari tidur siangku ketika Bang Ikhwan masuk kamar dengan pakaian dinasnya. Tumben hari ini dia pulang cepat.

“Kok hari ini cepet?” Tanyaku masih bergelung di atas tempat tidur.

“Ada yang gantikan.” Jawab Bang Ikhwan singkat sambil membuka kancing pakaian seragamnya. Dia menoleh padaku. “Ikut gak?”

“Iya iya… ikut. Dibelikan kan?” Aku bangun dan duduk di atas kasur.

“Memangnya kamu punya uang sendiri?” Bang Ikhwan balik nanya.

Aku nyengir. “Baju muslim juga ya!”

“Hemm…” Gumam Bang Ikhwan pendek sambil meneruskan melepas seragamnya. “Cepetan mandi sana!”

Ini namanya berkah. Tahun yang sudah-sudah, baju baru selalu menjadi urusan Abah dan Ummi. Seperti tahun lalu aku dikasih sejumlah uang oleh Ummi untuk membeli baju lebaranku sendiri. Tahun ini, akan jadi tahun pertama baju lebaranku dibelikan Bang Ikhwan. Semoga jatah dari Abah masih ada Ya Allah… ini doaku dalam hati saat menuju kamar mandi.

Kenapa lebaran selalu identik dengan baju baru? Pernahkah kalian menanyakan pertanyaan begini dalam hati masing-masing? Atau… adakah yang mencoba berselancar di internet untuk mendapatkan jawabannya? Atau bahkan ada yang mencolek Yahoo! Answer barangkali? Satu pertanyaan lagi, bisakah kita berlebaran tanpa baju baru? Okey, aku tahu pasti pertanyaan kedua ini kita semua pasti sepakat untuk menjawab; why not? Bisa saja. Tanpa baju baru kita tentu masih bisa berlebaran, karena lebaran bukan dilihat dari bajunya tapi dari manusianya. Karena lebaran bukan dipandang dari betapa baru dan indahnya pakaian melainkan dari jiwa si pemakai pakaian.

Baju baru, itu hanya identitas sekunder saja. Baju baru saat lebaran sama statusnya seperti selendang yang memayungi kepala mempelai pria dan wanita saat ijab Kabul ketika prosesi pernikahan. Akad nikah tetap sah meski tanpa selendang itu, karena selendang tidak termasuk dalam syarat dan rukun nikah. Begitu juga lebaran, tidak disebutkan kan kalau baju baru adalah syarat untuk bisa berlebaran? Jadi, baju baru hanyalah adat, kelaziman, tradisi, identitas semata. Itu jawabannya. Kenapa identik? Pemikiranku begini, karena kebanyakan orang pasti akan membuat suasana lebaran di tempatnya itu serba baru. Lihatlah, orang-orang akan berlomba-lomba memperbarui cat rumahnya, menjahit gorden baru –ummiku melakukannya, taplak meja baru, ambal baru, yang lebih mampu kadang mengganti seluruh perabotan dengan keluaran terbaru, dan tentu saja baju juga harus baru. Padahal, hakikat sebenarnya adalah, kita berlebaran dengan hati dan jiwa yang baru. Dengan pribadi yang baru setelah ditempa sebelumnya. Itu arti dasar berlebaran, merayakan jiwa dan hati yang kembali bersih.

Akan halnya tentang baju baru bagi masyarakat yang kurang mampu, mereka hanya sanggup mengganti baju mereka dengan yang baru setahun sekali –saat lebaran tiba. Percayalah, itu benar. Ayah-ayah atau ibu-ibu yang hidupnya kais sehari untuk sehari, mereka hanya mampu mengganti pakaian anak-anaknya setahun sekali. Itulah mengapa lebaran identik dengan baju baru menurutku.

Bersyukurlah kita yang masih bisa membeli baju baru tidak hanya ketika akan lebaran. Aku bersyukur karena orang tuaku mampu membelikan anak-anaknya baju baru, lebih bersyukur lagi karena punya kakak yang mau membelikanku baju baru. Kalau kalian punya kakak juga seperti kakakku, berarti bahagia kalian sama sepertiku sekarang ini.

Sekarang, Bang Ikhwan baru saja memarkirkan motornya di emperan toko baju anak muda paling prestisius (ada ya?) di pasar daerah kami. Coba kalau kami tinggal di kota besar, pasti kami ada di mall sekarang, di distro elit, atau plaza beken. Tapi toko baju ini juga tidak kolot-kolot amat kok. Bisa dikatakan, ini adalah toko baju paling besar dan paling tenar di kalangan anak-anak muda daerahku. Aku jamin, 75% dari mereka pasti menebus baju barunya di sini –termasuk aku dan Bang Ikhwan kalau jadi beli. Nilai plusnya, di sini juga kita bisa berbelanja perlengkapan shalat ied. Aku bilang shalat ied karena bila menjelang hari raya yang punya toko pasti punya stok baju muslim dan sarung serta sajadah. Hanya saat akan lebaran saja. Jika kamu mencari baju koko dan sarung atau sajadah di toko ini setelah bulan Syawal –atau Zulhijjah- berlalu, maka kamu akan disambut gelengan pramuniaganya.

Tidak butuh waktu lama, Bang Ikhwan sudah menenteng dua jeans, dua kemeja, satu baju muslim dan satu sarung –itu yang ditangkap mataku dengan bantuan cermin tentunya. Bang Ikhwan memang bukan tipe rumit dalam urusan memilih baju. Sangat cepat baginya untuk segera merasa cocok. Sekarang abangku itu siap menuju bilik pas.

“Didan, apa yang kamu lakukan dari tadi? Ambil letak ambil letak saja?” Bang Ikhwan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Seperti cewek, selalu lama kalau milih sesuatu.” Kemudian dia menghilang bersama isi tangannya di balik tirai.

Ambil-letak. Itulah yang aku lakukan dari tadi. Mengambil baju dari hangernya lalu meletakkan kembali. Menarik denim dari tumpukannya lalu mencampakkannya kembali. Aku belum menemukan sepotong pun yang kurasa berjodoh dengan badanku, atau berjodoh dengan isi dompet Bang Ikhwan. Seperti cewek? Huh, enak saja. Memangnya yang perlu tampil sempurna cuma cewek, laki-laki juga kudu pinter milih. Aku terus melanjutkan kegiatan ambil-letakku seperti tadi, masih terus begitu sampai satu tangan menyodorkan sepasang kemeja berikut denim belel ke depanku.

“Ini pasti cocok di badanmu…”

Aku mengangkat pandanganku. Senyum Syawal langsung menyambutku. “Bar…”

“Yep, aku. Dan aku juga mulai bosan melihatmu mengambil dan meletakkan balik, seperti yang Bang Iwan katakan. Jadi aku membantumu memilih.”

Aku memandang ke tangannya yang masih menggantung di udara. Tidak buruk, sepertinya aku akan menyukai pilihan Syawal.

“Loh, Ikal di sini juga? Sama siapa?” Itu suara Bang Ikhwan.

Aku dan Syawal sama memandang ke arah bilik pas dimana barusan suara Bang Ikhwan terdengar. Ternyata Haikal sukses menyelinap masuk ke sana.

“Sama Kak Ibar, Kak Iwaaann…!” Suara Haikal melengking. Ujungnya selalu mendayu-dayu seperti itu.

Kepala Bang Ikhwan menjenguk dari balik tirai, agaknya dia belum berpakaian lengkap. Begitu melihat aku dan Syawal dia tersenyum.

Syawal mengangkat tangannya pada Bang Ikhwan. “Tendang aja si Ikal keluar Bang, asal nyungsep aja tuh anak.”

Bang Ikhwan tersenyum sebelum kembali menghilang. Haikal masih di dalam sana. Aku menatap Syawal setelah memindahkan semua baju dan celana dari tangannya ke tanganku. “Kamu gak beli?”

Syawal menunjuk satu tumpukan di kaki manekin bercelana kargo. “Aku titipkan padanya sementara membantu pacarku memilih-milih…”

Aku tersenyum. “Apa aku harus berterima kasih padanya?” Aku menunjuk pada manekin gaul itu. “Karena telah bersedia menjaga barangmu…”

Syawal tertawa. “Jangan gila, bentar lagi mau lebaran.” Dia menarik tanganku, “Ayo kita masuk bilik pas sama-sama!”

Pasti dia sedang merencanakan sesuatu. Aku mengira, dia sengaja membantuku memilih-milih agar punya kesempatan memakai bilik cermin itu berbarengan. Bagus. Aku tak akan membiarkannya menguasaiku kali ini.

“Bar, kamu duluan deh! Aku harus milih baju koko dulu.”

Syawal berhenti bergerak seperti menyadari sesuatu. Dia melepaskan tanganku lalu melihat pada tumpukan baju yang dipegangnya. “Aku lupa bilang kalau aku juga sudah memilih dua baju koko begitu melihatmu tadi. Coraknya sama, tapi warnanya beda. Kamu yang milih lebih dulu nanti. Ayo!” Syawal kembali menarikku.

Plan B.

“Bar, aku harus cari sarung dulu!”

“Aku juga belum mencari sarung, nanti kita cari belakangan. Lagipula, semua ukuran sarung sama, tak perlu dibawa masuk bilik pas. Ayo!”

Ternyata Syawal sudah mengantisipasi semua langkahku. Sekarang aku mengikuti langkahnya dengan patuh –karena kehabisan jurus- menuju bilik pas paling pojok.

***

“Abang akan menemui Abah dalam waktu dekat ini.” Aku mendengar Bang Awi berucap begitu di sela-sela kesibukanku memilih kue. Jangan bosan, pertemuan Kak Aira dan Bang Awi memang tak pernah terjadi selain di sini, pasar Ramadhan.

Aku mencuri lirik pada mereka berdua –yang tidak mau tahu lagi segala urusan pilih-pilih kue, itu sudah menjadi tugasku sendiri sejak beberapa hari terakhir ini. Kak Aira menangkap lirikanku membuat aku kembali fokus ke isi nampan ibu yang sedang mengajakku bicara. “Berapa potong, Nak?” Aku memberinya jawaban paling singkat agar tak tumpang tindih dengan ucapan Kak Aira untuk Bang Awi, jadi aku masih bisa mencuri dengar obrolan mereka empat langkah di belakangku.

“Apa Bang Awi berniat seperti dulu?” Itu suara Kak Aira.

Jeda sebentar, aku menunjuk kue selanjutnya pada si ibu.

“Tidak begitu persisnya. Abang berharap, Abah menerima kali ini…”

Hemm… sepertinya Bang Awi akan datang melamar lagi. Tidak begitu persisnya… Apa maksud kalimatnya itu? Aku menerka-nerka kalau Bang Awi akan meminta pertunangan dengan Kak Aira.

Insya Allah, Bang…”

“Dik Aira bisa menyelesaikan pendidikan, Abang akan menunggu.”

Tuh kan benar, Bang Awi memang tidak menikah karena menunggu Kak Aira. Berarti ustadz ini sudah tidak berpegang pada syaratnya yang dulu, baguslah. Kuberanikan lagi untuk melirik mereka. Kak Aira menunduk sambil memuntir-muntir ujung jilbab –ini memang bakatnya, sedang Bang Awi tampak tegak dengan kedua tangan dalam saku baju muslimnya. Mereka berdiri bersisian, tapi tidak terlalu dekat.

“Kapan Abang akan ke rumah?” Suara Kak Aira, nadanya jelas terdengar malu-malu.

“Secepatnya, mungkin sebelum liburan Dik Aira habis. Abang akan memberi kabar pastinya nanti…”

Sebelum masa liburan selesai? Berarti benar-benar ‘secepatya.’ Libur hari raya cuma seminggu. Aku sangat yakin kalau yang dimaksudkan mereka adalah tunangan. Bang Awi akan mengikat Kak Aira dengan pertunangan dan akan menunggu sampai kakakku itu selesai kuliah untuk kemudian menikahinya. Bang Awi sungguh sabar, itu artinya dia harus menunggu sedikitnya tiga tahun lagi. Pertanyaannya sekarang, apakah Abah akan meluluskan niat mereka? Aku berdoa untuk Kak Aira dan Bang Awi. Jika dulu alasan Abah menolak karena tidak setuju dengan syarat Bang Awi, aku berdoa kali ini Abah mengangguk karena Bang Awi tak lagi membawa syarat. Amin ya Allah…

***

-POKET 10, COOMING SOON-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

poket ini kuselesaikan dengan perasaan tak menentu. aku sedang kacau, aku yakin kekacauan itu sangat berpengaruh terhadap tulisanku di poket ini, jangan sungkan menuliskan daftar kekurangannya di kolom balasan ya! aku rasa kali ini kekuranganku bertebaran di tiap paragraf… Nayaka love you all, doakan kegembiraanku ya. janjiku untuk upload kamis pada beberapa sahabat dengan ini aku anggap terpenuhi. see you on comments-box.