AL GIBRAN NAYAKA’S words

###################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Minggu lalu aku menemukan buku corat-coretku, tepatnya, buku catatan masa kuliahku dulu. Aku menemukannya dalam kardus buku-buku lamaku ketika membersihkan ‘harta warisan’ kampusku itu dari sarang laba-laba di bawah kolong meja kuno di kamarku. Kardus-kardus itu terlalu berat untuk kunaikkan ke atas meja tua tersebut -karena aku yakin meja itu akan berderak patah jika kunaikkan, jadi aku membiarkan mereka teronggok menyedihkan di bawahnya berteman debu dan pengerat kadang-kadang. Ditemani laba-laba dan mungkin ngengat kesasar. Membuka kardus-kardus itu rasanya seperti menyusuri lagi masa-masa yang telah lewat, seperti melihat potret diriku. Aku menemukan koleksi serial Wiro Sableng-ku di salah satu kardus. Saat SD, aku sangat menggilai Pendekar Sableng itu hingga tak ada waktu luang tanpa dia di depan mataku. Di kardus lain aku menemukan edisi usang beberapa nama tabloid remaja, itu kegilaanku ketika sekolah lanjutan dan menengah. Koleksi novel-novel jamanku juga masih utuh di salah satu kardus itu –adikku sudah membaca semua novel jaman itu, aku sangat berterima kasih karena dia menghargai novel-novelku dengan tidak membuatnya tercecer selain di dalam kardusnya. Dan di satu kardus, aku menemukan buku corat-coret masa kuliahku ini, berdesakan tumpang tindih bersama buku catatan lainnya.

Ketika menemukannya, aku masih ingat kalau didalamnya aku pernah menuliskan beberapa bait bodoh yang saat itu aku fikir adalah yang paling wah (maklum, batok kepalaku masih berisi balon tika itu, jadi wajar berfikir punya sendiri paling wah). Aku menyusuri lembarnya lagi, dan tahu… ternyata baris-baris yang kutuliskan di awal cerita Love Actually-ku dulu juga ada di buku usang ini. Aku sempat kaget sendiri. Itu salah satu bait yang kuanggap paling baik yang pernah kutuliskan hingga setelahnya aku langsung mengetiknya di computer kawan kost dan menyimpannya pada arsipku –yang berhasil kuselamatkan ketika aku mandapatkan ijazahku hingga kini.

Tapi yang ingin kubagi bersama kalian pada kolom ini bukanlah bait yang jadi pembuka cerita Si Aidil –anak kampung super beruntung- itu, kalian sudah tahu bait-bait tersebut. Melainkan, aku ingin menuliskan bait yang lain di sini. Hanya tiga tajuk saja yang baru bisa kupindahkan ke harddisk, insyaallah kapan aku sempat akan kupindahkan sisanya.

Sebenarnya aku tak berniat mempostingnya di sini sampai aku membaca postingan Kawan Faid, aku fikir, dia yang bukan pemegang kunci rumah bisa dengan mudah memasukkan jenis tulisan seperi itu –yang kata Kawan Javas adalah Satir, kenapa aku yang memegang kunci gak bisa? (hehehee, jangan ada yang tersinggung, ini cuma cuap2 Nayaka, dan cuap2nya tidak pernah terlihat begitu penting) jadi, baca saja ya…

Terakhir, buat semua authorku… Nayaka mencintai kalian semua (apalagi yang pakai underwear semisal Calvin Klein dan kerabat-kerabatnya) kekekekekeee… Aku tak serius, jangan ambil berat yak! Aku mencintai kalian tanpa memandang jenis underwear kalian kok. Sumpah, beneran.

Semoga kalian menikmati membaca KATA-KATA YANG DIPERKATAKAN seperti aku menikmati saat menulisnya, dulu…

Wassalam

-n.a.g-

###################################################

*BUKAN SAHABAT  SEJATI*

Melalui hari ceria bersamamu

Memaknai perjalanan hidupku

Banyak peristiwa terlewati

Berpegangan dalam tangis dan tawa

 

Menangis bersama

Gembira bersama

Duka untuk kita

Suka untuk kita

Jujur…. Aku rindu saat itu

 

Namun…..

Aku bukan yang sempurna

Aku bukan kawan sesungguhnya

Aku bukan sahabat sejati

 

Aku…..

Seorang pecundang

Seorang pengecut

Seorang penakut

 

Sekarang bukan lagi waktu itu

Bukankah…?

Salah itu untuk aku

Dan benar itu untuk dirimu?

 

Aku pembuat masalah…

Aku pembawa rasa sakit…

Aku bukan pemaaf

Dan aku bukan peminta maaf

 

Biarlah tetap begini

Biarlah tetap seperti ini

Usah bersedih kawan

Temukan sahabat sejati yang lain

Jika bagimu

Aku bukan sahabat sejati…

________________________________________________

*MEREKA*

Mereka datang waktu itu

Saat semua masih rapuh kurasakan

Dengan warna yang indah

Dengan senyum yang menawan

Dengan rupa yang menyihir mata

 

Ketika masa beranjak melangkah

Saat aku bukan lagi kerapuhan

Aku tahu siapa mereka

Terpampang jelas di penglihatanku

Warna yang indah berubah pekat kotor

Menjijikkan kurasa

Senyum menawan berubah menjadi seringai

Menghadirkan kecut di hatiku

Dan rupa yang menyihir mata

Menjelma buruk di hadapanku

 

Aku tahu siapa mereka

Dan kamu juga tahu siapa mereka

Mereka iblis

Mereka setan

Mereka dajjal

 

Iblis itu… setan itu… dajjal itu…

Mereka itu…

Manusia-manusia bermuka manis

Padahal hatinya culas

Manusia-manusia berhias kebaikan

Padahal niatnya busuk

Berpura baik menawarkan penawar

Padahal menjerumuskan dengan racun

 

Manusia-manusia laknat

Pengadu domba

Penghasut

Pendusta

 

Itulah mereka

Wujud nyata mereka

Aku mengenalnya

Kalian kenal siapa mereka

________________________________________________

*ARRRRGGHH……!!!*

Aku lari tunggang langgang

Dalam gerak lintang pukang

Aku lari laksana terbang

Merasa bak burung melayang

 

Aku lari

Terbirit-birit menjauh pergi

Sandal jepit yang kupakai

Tak mampu bertahan

Leher jenjangnya putus

Dijepit jempol kakiku yang bau

 

Ah… aku tak mau tahu

Yang aku tahu dan kupahami

Aku harus mempercepat langkahku

Dari seribu menjadi sejuta

Dari sejuta menjadi semilyar

 

Di belakangku…

Lidah jeleknya terjulur

Antara gigi jahanamnya

Dengan muka bangsat monsternya

Dapat kulihat liurnya menetes

Bernafsu…

Dengan tubuh kerempeng mana kerenku

 

Aku lelah termegap-megap

Dayaku habis menguap

Udara menyungkupku dalam pengap

Aku siap terperangkap

 

Sementara itu

Dia semakin mendekat

Tiga meter…

Dua meter…

Satu meter…

Dan…

Arrrrggghh…!!!

Alamak…

Aku digigit anjing!

Selesai ditulis entah kapan di kamar kost sempit

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com