“Dika?!”

Mataku terbelalak mendengar seseorang meneriakan namaku. Di hadapanku berdiri  sosok yang sudah tak asing lagi. Kami hanya berdiri mematung. Saling berhadapan dan terdiam. Aku yakin raut muka kami sama-sama terkejut. Sampai akhirnya aku sadar, aku tak boleh berlama-lama di sini.

Sial!

Buru-buru ku usap lipstik yang masih menempel lekat di bibirku. Tak ku pedulikan teriakannya yang terus memanggil namaku keras. Aku terus berlari menjauh di antara hiruk pikuk lalu lintas kota ini. Aku tak ingin dia sampai menemukanku.

Dia Yudha, rivalku.

Dan kenapa aku mesti bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini?

Sial! Sial! Sial!

Aku menghempaskan tubuh lelahku di ranjang kos yang lumayan sempit ini. Masih kupakai pakaian ‘kerja’ku. Aku malas menggantinya. Sebenarnya bukan malas, aku sendiri sudah risih berlama-lama menggunakan pakaian ini. Tapi aku terlalu shock dengan kejadian tadi.

Ku hembuskan nafasku pelan sekedar untuk melepas penat..

Mungkin besok kelasku bakal heboh, bukan cuma kelasku saja kemungkinan satu sekolahan pun akan gempar. Mereka tak akan mengira bahwa siswa dengan peringkat nomor satu dan peraih beasiswa berturut-turut akan…

Arrrrgggghhhh!!!

Huft, Sudahlah…

Besok akan kuhadapi semua kemungkinan yang terjadi. Pasrah saja lah…

Perlahan, gelap menjemputku.

Biasa.

Semuanya biasa-biasa saja. Semuanya tampak begitu normal.

Tak ada yang gempar, tak ada yang heboh. Tak ada ‘gonjang-ganjing’ yang mengguncang dunia. Haish!

Teman-teman menyapaku seperti biasa, ‘merayu’ untuk dapat mencontek PR Fisika yang memang luar biasa sulitnya. Ya, semua biasa saja, tak ada yang berbeda.

Ku lihat Yudha duduk di pojokan seperti biasa. Sibuk menikmati buku tebalnya. Cowok berkacamata itu memang pandai. Dia rivalku dalam prestasi, nilai kami selalu saja hanya terpaut koma saja.

Merasa diperhatikan, Yudha  malah berpaling kearahku. Kami saling berpandangan, dia menyunggingkan senyum tipisnya padaku. Tunggu! Itu senyum atau seringai ya?

Jangan-jangan…

Kali ini Yudha menghampiriku.

“Di, bisa bicara bentar?”

“E-Eh?”

Nyaliku menciut dan hanya bisa mengangguk serta mengikutinya yang menggiringku keluar kelas. Tak kupedulikan tatapan heran dari teman-teman sekelas. Otakku dipenuhi dengan imaji tingkat tinggi yang bakal terjadi padaku nanti.

Ugh! Damn!

Padahal kami hanya terpekur terdiam di halaman belakang gedung sekolah ini. Cowok berkacamata di sampingku ini saja hanya membisu. Terang saja kedua kupingnya lagi ‘disumpelin’ earphone.

Haduh, terus ngapain coba aku di sini?

Yudha melepas earphone miliknya, dia tersenyum sambil memandangiku lekat-lekat. Duh! Bikin jengah saja.

“Ngapain kamu di perempatan kemarin?” tanyanya memecah keheningan diantara kami.

Ini dia. Ini dia! Dia pasti akan mulai mengancamku. Mem-bully dan menjadikanku budaknya. Dia mungkin bakal malak aku sebagai tanda jadi ‘uang tutup mulut’, bisa bangkrut aku, sia-sia aku kerja seperti itu. Parahnya lagi dia bakal minta aku menari Striptease di hadapannya dengan pakaian ‘kerja’ ku.

Hoooowaaaaaaa~

“A-aku kerja, ngamen. Sekarang aku dah kos sendiri ga di panti lagi. Beasiswa saja masih belum cukup buat kehidupanku.” Kuharap penjelasan ini bisa meluluhkan hatinya. Hehehe…

Yudha hanya ber-Oh ria dan kembali terdiam. Loh? Gimana sih?

“Ka-kamu ga jijik?” kali ini aku yang bertanya. Lebih baik aku yang memancingnya biar tahu apa yang dia mau dariku.

“Eh? Kenapa?”

“Loh? Kamu kan… umm, lihat aku…”

‘Aduh Yud, ga usah pura-pura bego deh…’ batinku.

“Oh, crossdress?!”

“Huh? D-dress apa?!” keningku berkerut heran.

“Hahaha… Crossdress Di, itu sebutan bagi cowok yang suka pakai pakaian cewek,”

“Ta-tapi yang kaya gitu kan… Umm, banci.” aku sedikit merendahkan suaraku ketika mengucapkan kata terakhir tadi.

“Kalau kamu tahu geto, kenapa kamu mesti pakai pakaian cewek kalo ngamen?”

Astaga! Ini namanya cari penyakit. Kenapa aku mesti memancingnya begini?

Yudha menatapku tajam tampaknya dia masih menanti jawabanku.

“Umm… i-itu, aku cuma coba-coba aja kok, be-beneran! Habis kalau ngamen pakai baju geto dapetnya lebih banyak daripada pakai biasa aja, jadi yeah… terpaksa…”

Yudha hanya manggut-manggut menanggapi penjelasanku.

‘Ini anak ngerti ga seh?’ sewotku dalam hati.

“Kalau orang-orang tahu, pasti udah bilang aku ini…”

“Halah… kamu kan kerja susah-susah, ngapaen dengerin omongan yang ga jelas, emang mereka ngasih makan kamu apa?” potong Yudha sebelum sempat aku meneruskan kalimatku.

Hmmm, ada benarnya juga sih omongan Yudha tadi. Sudah setahun ini aku keluar dari panti asuhan tempat aku dibesarkan. Memilih ngekos agar tidak merepotkan Ummi yang sibuk ngurus adik-adik. Hidup dari beasiswa dan donatur tak tentu dari panti rasanya masih kurang, makanya aku nekad kerja. Karena itu untuk sementara aku ngamen, selain dapetnya banyak serta takut ketahuan guru dan teman-teman, terpaksa aku ‘menyamar’. Ternyata malah ada yang mengenaliku penyamaranku ini.

Haduh… apa kurang tebal Make-Up ku?

“Minggu depan ikut aku tampil yuk?” ajak Yudha tiba-tiba.

“Hah? Tampil?”

Tampil? Dia suruh aku tampil gimana? Jangan-jangan dia sebenarnya…

Mucikari?!

“Iya, tampil dikompetisi sama band aku, vocalisnya lagi tepar nih, kita lagi butuh ganti sementara. Suara kamu bagus loh,”

Oh, imaji ku yang keblabasan.

“Ka-kagak, aku ga bisa nyanyi!” elakku.

“Jiah, kemarin buktinya, kamu ga nyadar apa kalau suaramu bagus? Sebelumnya aku juga pernah denger  kamu nyanyi kok di ruang musik waktu sekolah sudah sepi,” pujinya.

“Ka-kamu nguntit aku ya?” selidikku. Yudha sedikit manyun.

“Enak aja, memang aku ini Stalker apa? Kamu harus mau ikut aku, kalau kamu ga mau, ntar aku bocorin rahasiamu loh…” Yudha menyengir lebar.

Tuh kan? Ternyata memang ada udang dibalik rempeyek kan?

“Hahahaha… bercanda kok, Di. Mukamu jadi pucet gitu, aku cuma minta bantuanmu kali ini saja, Ok? Nih lirik lagunya…” Tanpa menunggu jawaban dariku, Yudha merogoh kantong celananya dan memberikan secarik kertas padaku.

Aku menekuri lirik lagu itu.

Huh? Bahasa apa ini?

“Lagu nya kayak gini, dengerin deh…”

Belum sempat bertanya, kali ini Yudha mencondongkan badannya kearahku. Dengan sigap dia memakaikan earphone nya di telingaku.

Wajah kami begitu dekat.

DEG!

“Kenapa, Di?”

“Ng-nggak!”

Segera saja ku palingkan wajahku darinya.

Ah, sial! Ngapain juga aku mesti malu-malu.

Hush! Hush!

Padahal aku belum mengiyakan. Tapi hari itu juga sepulang sekolah, aku diajak Yudha ke ‘Markas besarnya’, itu sih yang dia bilang buat tempat bandnya latihan. Dia lalu memperkenalkan aku dengan para member band mereka. Nama mereka sedikit aneh, Kai pada Drum sekaligus leader mereka, Shin pada Bass, dan Yuu  pada guitar. Yuu ternyata nick name dari Yudha, mereka memanggilnya begitu.

Sebenarnya ada satu lagi member mereka, Kazu namanya, sang vocalis di band mereka. Dia lah orang yang harus ku gantikan. Band beraliran Rock mereka bernama ‘Hikari’, Yudha bilang artinya cahaya.

“Biar orang yang denger musik kami bisa terus bersinar seperti cahaya,” katanya.

Errr… entahlah aku tak begitu paham filosofi rumit semacam itu.

Sungguh, sudah banyak hal yang membuatku shock hari ini.

Pertama, kenyataan pahit bahwa Yudha sudah melihatku dalam pakaian perempuan, dan dia tak mempermasalahkannya. Halooo~ ini Yudha yang sedang kita bicarakan. Dia bisa saja menjatuhkanku dengan mudah bila dia mau. Tapi dia tetap diam.

Kedua, kenyataan mengenai ‘dunia kecil’ Yudha yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Oh, ayolah dia cowok ‘normal’! Umm… maksudku dia itu cowok berkacamata tebal dengan tumpukan buku di sekelilingnya. Pintar dan berkharisma. Halah. Dan sekarang dia terlihat begitu lihai memetik gitar elektriknya. Menggerak-gerakan tubuhnya seiring dengan alunan musik Rock.

Rock saudara-saudara?! Bukan pop mendayu-dayu apalagi musik Classic. Wow, Ari’s Shock!

Dan yang ketiga, minggu depan aku harus tampil bersama band mereka. Harus. Sebab aku tak mau sampai Yudha berubah pikiran dan membocorkan rahasiaku. Setan bisa dengan mudah menggoda hatinya untuk berubah. Karena itu aku harus selalu ada di dekatnya. Yeah!

Tapi aku benar-benar asing dengan bahasa dan musik mereka. Yudha bilang ini Japanese Rock dan dalam seminggu aku mesti sudah menghapalkan lirik berbahasa Jepang itu. Seminggu?!

Ini gilaaaaaaaaaaaaaa~

“Woah, empuuukkk~”

Yudha langsung tepar di ranjang kecil milikku.

“Ya ampun, ranjangku bisa jebol tau! Minggir!”

“Ogah, aku mau tidur!”

Astaga! Ini anak… Grrrr!

Aku hanya menghela nafas pelan melihat kelakuan Yudha. Rivalku itu berbaring membelakangiku. Tampaknya dia benar-benar tertidur.

Sudah tiga hari sejak Shock Therapy yang aku alami. Kini aku dan Yudha malah seperti kawan akrab saja. Sepulang latihan sore ini saja dia minta izin secara paksa untuk diperbolehkan menginap di tempat kos ku. Katanya sih di rumah lagi ga ada orang karena Ortunya lagi ke Jawa Timur menengok perkembangan usaha mereka di sana. Rumahnya sepi karena Yudha cuma anak satu-satunya, paling hanya ada pembantu sama satpam saja. Wew… sudah kaya, pintar lagi. Sungguh, anak yang beruntung.

Aku sendiri sudah beberapa hari ini absen dari rutinitasku mengamen. Herannya aku tak pernah kelaparan. Terang saja, Yudha selalu saja membawakan makanan untukku. Roti, cemilan kecil bahkan sayur dan lauk. Katanya di rumah juga mubasir karena jarang ada yang makan. Lagian aku mesti fokus latihan jadi untuk sementara aku ga mau konsentrasiku terbagi. Heheh.

“Tadi waktu latihan suaramu masih kaku, Di. Kayak orang lagi ngapalin teks aja,” komentar Yudha masih dalam posisi membelakangiku.

Loh? Belum tidur neh anak?!

“Y-ya iyalah, orang baru kali ini aku nyanyi pakai bahasa geto kok!” belaku.

“Kamu mesti banyak latihan di luar jadwal latihan kita kalau gitu,”

Hadeh, tanpa kamu bilang juga aku sudah kayak gitu kali. Bahkan di kamar mandi saja masih nyempet-nyempetin buat latihan kok. Bukan buat kamu, bukan buat band milikmu, Yud! Ini semua demi diriku sendiri juga. Aku ga mau kalau sampai kamu…

“Kamu pasti capek ya, Di?” tanyanya.

Hah?! Maksudnya?

Kali ini Yudha membalikan badannya menghadapku. Dia memandangiku. Lama.

“Dulu… Pulang sekolah kamu langsung ‘kerja’ kan?”

Aku tak menjawab dan hanya bisa berpaling dari tatapan Yudha.

Kenapa jadi topik itu lagi sih? Padahal sudah tiga hari ini dia tak pernah mengungkit-ngungkitnya.

“Aku… salut sama kamu, Di…”

Seakan tak percaya dengan pendengaranku, aku menoleh kearahnya. Namun Rivalku itu sudah memejamkan matanya. Dari nafasnya tampaknya kali ini dia benar-benar terlelap.

Dia tertidur

Aku menghampirinya. Pelan-pelan kulepas kacamata yang masih bertengger di hidungnya. Masa tidur pakai kacamata sih?!

Kuperhatikan kelopak matanya yang masih tertutup itu. Ya, untung saja tertutup kalau tiba-tiba dia terbangun. Aku pasti bakal malu banget karena ketahuan sudah mengaguminya diam-diam.

Aku tersenyum kecil. Ku usap pelan kepala Yudha.

“Thanks ya…”

Akhirnya tiba dimana hari itu menjadi hari terakhir kami latihan. Kai sang Leader memuji perkembanganku, katanya suaraku cocok sekali dengan lagu yang akan kami bawakan nanti. Shiny Tale dan Capsule dari Mix Speaker’s, dua lagu itu yang akan kami bawakan nanti. Aku sendiri tak begitu paham isi liriknya meskipun Yudha sudah memberikanku terjemahan lagu itu dalam bahasa inggris. Katanya sih biar aku lebih menghayati.

Yudha menepuk-nepuk punggungku, tampaknya dia juga puas dengan hasil kerja kerasku. Ada perasaan bangga kala itu. Aku merasa ada yang menghargaiku, menerimaku.

Aku tersenyum kecil.

Besok… aku pasti akan berusaha, Yud!

Yudha bilang acara ini biasa di sebut Bunkasai. Japanese cultural festival yang biasanya diadakan di sekolah-sekolah atau universitas sebagai event untuk memperkenalkan budaya-budaya jepang. Hari ini juga hari dimana pertama kali nya dalam sejarah hidupku aku akan tampil dihadapan banyak orang. Bukan sebagai orang lain, tapi sebagai diriku.

Semua sedang sibuk fitting costume. Namun hanya aku yang terdiam mematung di sini. Bergeming menatap sosok yang kini berdiri dihadapanku. Sosok yang begitu familiar namun sekarang tampak asing bagiku.

“K-k-kamu…”

Yudha hanya mengernyit heran memandangku.

“I-ini… Apa ini? Kok… kok…” aku terlalu shock untuk dapat meneruskan kalimatku.

Jelas saja aku terkejut. Bisa-bisa mataku sudah melotot keluar sekarang. Bagaimana tidak, aku di hadapkan pada pemandangan yang luar biasa begini.

“Oh, Crossdress, aku memang biasa perform pake ini,” ucap Yudha enteng sambil memainkan gaun berenda-renda berwarna hitam yang dikenakannya.

Mulutku ternganga. Aku benar-benar tak percaya ini.

Yudha yang sepertinya menyadari keterkejutanku cuma tersenyum geli.

Shin juga tampak menahan tawanya. Kai menepuk bahuku pelan.

“Jiah ga usah kaget gitu kali, band kita memang band visual kei, Di. Jadi ga heran, kalau kita pake rmake up bahkan memakai pakaian yang dapat dianggap sebagai feminin atau androgynous gini.” Jelas Kai.

Aku hanya mengangguk-angguk saja. Memang sih kalau di perhatikan penampilanku, Kai dan Shin sekarang agak aneh juga. Ada kesan feminim dari baju serba hitam ini, ada rumbai-rumbai kain panjang yang jatuh menjuntai seperti rok, cuma masih tampak kalau kami laki-laki karena kami memakai celana panjang ketat berwarna senada.

Tapi, Yudha?! Dia… Dia…

Berbeda.

Yudha memakai gaun berenda berwarna hitam, ada dua pita kecil yang bertengger manis menghiasi rambutnya. Bibirnya di poles dengan lipstik, bahkan kali ini dia tak memakai kacamatanya, digantikan dengan contact lens berwarna biru langit.

Sungguh, dia…

“Kok kayaknya bagian ini kurang tebal ya? Sini aku benerin, pensil alisnya mana?”

Yudha beringsut mendekatiku. Dengan cekatan dia membetulkan make-up ku. Aku masih memperhatikannya dari ujung mataku.

“Kamu… cantik,” bisikku pelan.

“Hah?!” Yudha memandangku heran.

Blush!

Spontan aku menjauhkan diriku darinya. Memalingkan wajahku karena takut dia melihat mukaku yang sudah seperti tomat kematangan.

Yudha tertawa lebar.

Sial! Ngapain juga aku keceplosan kayak gitu. Ugh!

“Hehe… Thanks ya atas pujiannya,” katanya sambil masih tersenyum.

Aku hanya menggumam tak jelas.

Argh! Sial!

Nervous.

Terang saja, baru kali ini aku tampil di depan umum seperti ini. Pastilah bakal demam panggung. Bisa gawat kalau suaraku tidak mau keluar nanti. Kai, Shin bahkan Yudha tampak tenang-tenang saja. Mereka terlihat sibuk mengecek instrument masing-masing.

Keringat dingin membasahi keningku. Tanganku sedikit bergetar.

Yudha sepertinya menyadarinya, dia lalu menghampiriku.

Tiba-tiba dia menggenggam tanganku erat.

Astaga!

Yudha tersenyum manis memandangiku. Dengan penampilannya sekarang, dia benar-benar seperti perempuan. Hal itu membuat jantungku berdetak lebih kencang.

“Nggak usah grogi, santai saja… ada aku.” ucapnya.

Aku seperti terhipnotis dan hanya mengangguk saja.

“Saatnya bersinar, kawan…” kata Kai.

Kami tersenyum menanggapinya.

Ada keyakinan yang besar dalam diriku saat itu, ada rasa percaya diri yang membuatku yakin bahwa aku bisa.

Ya, aku mampu.

Aku tampil sebaik mungkin. Memberikan seluruh kemampuanku, bernyanyi seperti ini baru pertama kali bagiku. Biasanya aku mengeluarkan suaraku demi recehan seratus atau dua ratus perak. Tapi kali ini, aku bernyanyi karena aku ingin, karena aku suka.

Penonton begitu padat dan tampak antusias menyambut kami. Mereka ikut bergerak seirama dengan musik yang kami mainkan.

Saat di panggung, Yudha berkali-kali memandang kearahku. Dia begitu fasih memainkan gitarnya. Perlahan dia menghampiriku, begitu dekat hingga bahu kami saling bersentuhan. Saat itu tiba-tiba dia mencium bibirku. Singkat, tapi sensasinya luar biasa.

Aku sampai mematung beberapa saat.

Hingga teriakan penonton menyadarkanku. Mukaku langsung panas. Herannya para perempuan itu tidak jiik malah berteriak-teriak kegirangan.

Ck ck ck, aneh bukan?

Dengan muka merah aku kembali melanjutkan laguku. Saat aku melirik kearah Yudha, pemuda itu tampak menyeringai kerahku.

Sial! Aku dikerjai ya?

Huft!

Kalah.

Ngedrop juga sih waktu kata itu muncul. Padahal dua lagu sudah berhasil kita tampilkan sebaik mungkin.

Aku jadi merasa bersalah, apa mungkin karena vocalku yang tidak pas dengan aliran musik mereka ya.

Aku sempat meminta maaf pada mereka, namun Kai bilang itu bukan salahku. Justru mereka berterimakasih karena aku mau membantu mereka.

Acara Bunkasai sudah usai sekitar setengah jam yang lalu. Malam juga semakin larut,  Kai dan Shin sedang berganti costume.

Aku sendiri masih terduduk di back stage dengan sebotol soft drink di tanganku. Yudha yang kini sudah memakai pakaian laki-lakinya menghampiriku. Dia duduk tepat di sebelahku.

“Kamu kok masih manyun gitu? Ga apa-apa lagi, kalah menang kan sudah biasa,” hiburnya.

Aku meliriknya sebentar. Entah kenapa kalau melihatnya ingatan itu tiba-tiba muncul.

Aku berpaling. Mukaku sedikit menghangat.

“Bu-bukan itu…”

“Terus?”

Aku terdiam sejenak.

“I-itu tadi… Ci-ciuman pertamaku…”

“Astaga, jadi hanya karena itu…” Yudha menepuk jidatnya sendiri.

‘Hanya’ dia bilang? Dia ga mikir apa kalau kita sama-sama cowok? Memangnya sudah seberapa sering dia melakukannya? Sama siapa saja? Jadi… aku bukan yang pertama, geto?

Loh? Kok aku sewot sih?

“Ya udah, aku bakal tanggug jawab kok,”

“Hah?!”

Aku memandangnya heran. Yudha tersenyum kecil.

“Karena aku udah merenggut ciuman pertamamu, aku bakal nikahin kamu deh,”

“Gila kamu!” sontak aku berteriak.

“Hahahahahahaha…” Yudha tertawa lebar dan menepuk-nepuk punggungku keras.

Sial! Dia cuma menggodaku.

Kubiarkan saja dia tertawa sepuasnya.

“Eh,Yud!  Kita masih rival kan?” tanyaku sedikit kesal.

“Loh, memangnya sejak kapan kita jadi teman?”

Aku cemberut. Sialan ini anak, jadi selama ini dia memang ga menganggap aku teman begitu? Dia cuma memanfaatkanku untuk kepentingan band miliknya.

“Bukannya kita udah jadi pacar? Kan tadi ciuman pertamamu sudah kurenggut,”

“Dasaaarrrr~!!!”

Aku tak tahan untuk meninju bahunya. Yudha kembali tertawa keras. Mukaku sudah merah padam menahan kesal dan malu.

Tawanya mereda kali ini dia memandangiku tajam. aku jadi salah tingkah dilihatin seperti itu.

Ugh!

“Ini sebabnya aku ga terlalu kaget kamu pakai pakaian cewek, soalnya aku juga sering pakai gaun kaya tadi. Bedanya kamu pakai geto buat kerja, kalau aku karena style musik kami saja,” kata Yudha.

“Orang tua bahkan temen-temen sekolah kita saja belum tahu kalau aku ngeBand dan sering crossdress geto. Aku juga ga tahu reaksi macam apa yang bakal aku terima kalau sampai mereka tahu, apalagi orang tuaku. Mereka pasti nganggep aku aneh.”

Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasannya.

“Makanya kamu ga usah khawatir, kalaupun sampai ketahuan dan kamu di jauhi. Kamu ga perlu sendiri lagi, ada aku…” ujarnya lagi.

Aku tersenyum lirih.

“Hmm, makasih ya…”

Kali ini aku memberanikan diri untuk memeluk rivalku itu. Salah sendiri kata-katanya itu terlalu manis. Hehehe…

Tubuh Yudha sedikit menegang ketika aku mendekapnya namun pada akhirnya dia balas memelukku.

Setelah dirasa cukup aku lalu melepaskan pelukanku.

Bukannya menjauh, Yudha malah kembali mendekatiku. Aku sedikit beringsut menjauh namun dia semakin mendekatiku. Begitu dekat hingga pipi kita bersentuhan.

Pelan dia membisikan sesuatu padaku.

.

“Kalau kamu mangkal lagi di perempatan, ajak-ajak kita ya?”

“Sialan!” aku langsung mendorong tubuhnya jauh-jauh.

“Hahahaha…” tawa Yudha kembali membahana.

Mukaku memerah. Masih bisa kurasakan jantungku yang berdebar keras. Kubiarkan saja dia mengacak-ngacak rambutku hingga berantakan.

Aku tersenyum kecil.

Ya, aku tak sendiri.

Sekarang, ada dia di sisiku.

Rivalku, sekaligus sahabatku.

END

Dongeng yang kita tulis di ruangan kecil ini

Akan menjadi sebuah prolog dari Novel yang akan kita buat

Kita akan mulai bermain dalam sebuah Orchestra petualangan dari mimpi kita,

Kemudian membuka halaman baru.

Halaman baru yang kita cari, yang akan menjadi kisah kita selanjutnya.

Yuuki’s Mail :

Masih dalam suasana lebaran kan?

Buat teman-teman semua, Yuuki ucapin :

Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Tolong dimaafin ya kalau Yuuki suka telat Update ^^, kalian baik dech Hehehe… XP

Jujur aja kalau ada ‘Mba-Mba’ transgender yang ngamen di depan kantor, saya biasanya sedikit geli. Tapi habis ntu jadi mikir, kalau sudah di rumah dia masih pakai kayak gitu ga ya?  Mungkin dia dandan gitu biar hasil ngamennya lebih banyak kali ya? Hohoho…

Saya sih nggak terlalu kaget kalau ada cowok pake pakaian cewe, secara Crossdress itukan lumayan populer di kalangan Cosplayer (Seseorang yang memakai kostum mirip dengan karakter Manga/komik, Anime/Film Kartun, Movie atau Video Game)

Bahkan Cowok yang Crossdress itu biasanya lebih manis dan cantik ketimbang cewek asli.

*Pundung di pojokan* LOL XDD~

Saya sendiri pernah Crossplay (Ber-Cosplay tetapi sebagai karakter yang berlawanan gender) Hahaha XDD… Waktu di event Bunkasai itu saya memainkan karakter Cowok dan teman cewek saya sebagai Couple saya, kami di minta oleh member grup lainnya untuk berfoto dengan pose EhemmHampirCiumanEhemm, Hahahaha XDD~ parah banget dah ntu anak-anak ^///^

Biasanya Band-band Visual Kei dari jepang kebanyakan membernya juga Crossdress. Musik mereka kebanyakan Rock atau Hard Rock, bahkan ke cadas sepertinya.

Crossdress bukan berarti ‘Mba-mba’ transgender loh ya, hehehe… itu memang style mereka. Jadi, jangan disamakan.

Oh ya, kalau mau lihat Cowok Crossdress coba lihat pv YOHIO dech,  Penyanyi  yang membawakan lagu Japanese Rock ini justru bukan orang jepang loh, Fufufufu =3

Current Music :

Mix Speaker’s – Shiny Tale

Mix Speaker’s – Capsule