Suara lainnya,

 

(review)

 

        Sebelumnya saya tidak begitu tertarik untuk membaca buku ini. Berawal dari rapat internal yang membahas buku-buku yang akan segera rilis saya mengetahui bahwa akan ada sebuah buku yang di karang langsung oleh Ariel Peterpan dan kawan-kawan. Itupun saya hanya sekedar ber “ooohh” saja. Ntahlah, mungkin karna saya nggak begitu tertarik dengan buku-buku semacam itu. Sampai buku itu masuk ke toko tempat saya kerja, saya hanya memperhatikan sampul depannya saja. Sebuah buku bersampul merah polos dengan gambar sehelai bulu “Kisah lainnya- Catatan 2010-2012” , begitu judul yang tertulis. Sangat bersahaja dan cukup elegan. Tapi keinginan untuk mengetahui isi buku masih belum ada. Justru yang saya pikirkan kala itu adalah  “kira- kira apa ya makna filosofi dari gambar BULU itu?”.

 

 

 

Sampai suatu ketika saya terus di kejar-kejar oleh salah satu author blog ini , tante Afni Sutrisna. yang dengan penuh kegigihan (semoga ini bukan fitnah) terus mengejar dan menagih tulisan dari saya seperti orang yang menagih hutang (ampuni anak didikmu ini ea ntee…). Hingga saya memutuskan untuk membuat review buku saja untuk postingan perdana di blog ini. Dan kenapa saya mereview “Kisah lainnya”? dikarenakan hanya buku ini saja yang ada di otak saya untuk saat ini, buku baru, dan cukup booming di pasaran.

 

 

 

Sungguh, saya setengah hati ketika pertama membuka sampul buku ini. Tidak seantusias ketika saya membuka novel fantasi untuk pertama kalinya. Hingga saya menemukan sebuah kalimat di halaman ke-3

 

 

 

jadi, hidup telah memilih, menurunkan aku kebumi.”

 

 

 

Dan itulah awal ketertarikan saya pada buku ini. Cover yang elegan, serta kata-kata yang sangat nyastra. Di tambah kepenasaran saya karna ini di tulis oleh Ariel dkk. Menjadikan saya mulai lanjut membuka helai demi helai lembar buku ini( aizzz,,, mulai lebaynya).

 

 

 

Buku ini berisi 7 bab yang kesemuanya di tulis oleh Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David (personel Peterpan). Akan tetapi, setelah semua sudah tuntas terbaca ternyata komposisi Ariel lebih besar dalam penulisannya. Sekitar 70% dari isi buku ini ditulis oleh Ariel. Dan sisanya oleh personel lainnya. Sekalipun begitu, kesemuanya memiliki kisah latar belakang yang unik dan penuh inspirasi. Terlepas dari skandal yang menerpa Ariel tempo hari.

 

 

 

Bab pertama, “suatu hari dibulan Mei” menceritakan tentang awal mula penangkapan Ariel atas kasus yang menimpanya. Hari-hari Ariel ketika menjadi tahanan Bareskrim. Serta upaya Ariel untuk “merasa” nyaman walaupun tak nyaman di dalam bui. Di bab ini pula di ceritakan bagaimana Ariel mendapatkan bagaimana pendewasaan diri itu, Serta pengalaman-pengalaman spiritual yang didapatnya dari para penghuni “kampong atas”(sebutan untuk blok-blok sel di Rutan bareskrim). Akan tetapi ada yang sedikit mengganggu menurut saya, gambar-gambar dan coretan-coretan Ariel yang berserakan di bab ini membuat acara membaca saya agak tertanggu. Namun bisa terobati dengan gaya penulisannya yang “bernyanyi”. Enak dan menyejukan mata (lebay).

 

 

 

Tiga bab selanjutnya , “musik bagian dari hidup kami”, “ketika bintang terang menyinari peterpan”, serta “yang lepas dan terhempas” menceritakan kisah hidup semua personel Peterpan. Masing-masing dari mereka bercerita suka duka ketika awal mereka ber-musik. Susahnya latihan karna orang tua yang tidak mengizinkan (hanya David yang punya latar belakang musik, dan sangat didukung oleh orang tuanya), awal pertemuan mereka hingga tenar seperti sekarang. Sampai masalah terbesar mereka pasca kasus yang menimpa Ariel, sang frontman mereka. Semuanya ditulis dari sudut pandang masing-masing personel. Sangat nampak sekali pasang surut band ini bila dilihat dari judul bab-bab ini.

 

 

 

“jiwa-jiwa baru”, “menyongsong hari yang cerah”, “tentang takdir dan kehidupan” adalah tiga bab terakhir yang menutup kisah dari buku ini. Menceritakan titik balik dari semua masalah yang menimpa Band Peterpan. Upaya-upaya anak peterpan untuk bangkit dari keterpurukan. Serta kisah mereka yang menuju pendewasaan diri. Disini juga diceritakan usaha Uki, Lukman, Reza, dan David ketika mereka menggarap album Instrumental “Suara Lainnya”. Sampai persiapan konser “suara lainnya” untuk promo album. Dan kesemuanya di lakukan dengan absennya Ariel yang kala itu masih didalam penjara.

 

 

 

Sebagai penutup, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh mereka-mereka yang berkecimpung di dunia infotainment. Untuk orang-orang yang sedang dirundung banyak masalah. Dan mereka yang mengaku sebagai “anak band” agar mereka bisa belajar untuk menjadi kelompok band yang solid. Oh iyya, hamper saya lupa. Didalam buku ini telah di sisipi bonus CD Album “Suara lainnya”.  Ada sepuluh lagu plus banus lagu “Dara” didalamnya. Tapi perlu diingat, kesemua lagu yang ada di album Suara lainnya ini (kecuali lagu cobalah mengerti dan Dara) adalah seri Instrumental. Dan bersiaplah untuk berpetualang dirimba musik dengan aransemen nada yang sangat kaya. Ketika saya membaca buku ini, telinga saya juga ikut membaca dengan mendengarkan album ini. Sangat nikmat rasanya.

 

 

 

Pada saaat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati

 

Itu adalah pasangan hidupmu

 

Itu adalah takdirmu

 

Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu, sebelum kau dilahirkan

 

Itu adalah pelengkapmu

 

Itu adalah gurumu, maka cintailah dia.

 

 

 

(tentang takdir dan kehidupan_Ariel)

 

 

 

 

 

—-________—-

 

 

 

Love you, all. Jangan pernah kapok untuk mencakar-cakar semua tulisanku. Pastikan kalian menambahkan “sambal extra pedas” agar kelanjutan dari tulisanku bisa sedap kalian nikmati.

 

 

 

Untuk Abang nay, Kak Afni, Yuuki-chan dan seluruh keluarga besar DUNIA KATA NAYAKA saya ucapkan ……..

 

 

SEMANGAT BER-SASTRAA!!!