Sore itu, ketika senja mulai membuat bayangan pada sebuah bangku taman dipinggir kota kecil tempatku tinggal, datanglah seseorang menghampiri. Aku menatapnya dari kejauhan langkah wanita tomboy itu mendekat, kusandarkan bahuku pada sandaran kayu bangku itu. Angin menyapa dahiku, menerbangkan kenangan beberapa tahun silam semenjak sang kata menghilang, bangku ini satu-satunya teman yang selalu menemaniku tiap sore.

“Hei, sudah lama menunggu?” Sapa wanita itu dengan lesung dipipinya.

“Hm, waktu tak mengikatku dibangku ini.” Jawabku dengan sedikit senyum.

“Ah aku mengerti.” Dia membalasnya, kemudian tanpa kuminta dia duduk disampingku.”Nah, seperti janjiku, aku akan menunjukkan dimana sang kata selama ini.” Dia meneruskan.

Ada rasa antusias yang semakin membuncah dihatiku. Sang kata, telah lama kutunggu hingga habis empat kalender masehi. “Yah, aku menunggu tentang hal itu.” Hanya kalimat itu dan sebuah senyum simpul kuberikan. Kau tahu aku pandai menyembunyikan hatiku. Sesaat aku ingat dua tahun yang lalu ketika dipemakaman orangtuaku aku tak menangis, aku tetap tersenyum didepan orang-orang, meski deras air mata kukeluarkan hingga mataku bengkak rasanya.

“Sepertinya kau tak begitu gembira seperti dugaanku.” Tanyanya menyelidik.

“Ah. aku akan sangat berterima kasih kalau kau segera mengatakannya.” Ya, aku ingin segera tahu, sangat. Jadi tak ingin membuang waktuku dengan banyak basa-basi.

“Ya ya ya. Oke, kau selalu seperti itu suka terus terang.” Dia mengerti, kemudian dikeluarkannya sebuah buku bersampul hijau dari tas ranselnya. “Ini, bacalah. Baca ini hingga habis dan kau akan tahu kemana sang kata pergi.”

Aku menerima buku bersampul hijau itu dengan cover bergambar pena didepannya. Agak sedikit binggung tapi aku memutuskan untuk tidak protes pada temanku itu. Setelah memberikan buku itu dia pamit meninggalkan aku dibangku taman. Awalnya aku tak yakin dengan apa yang ada didalam buku itu bisa mengembalikan sang kata, rasa penasaran membungkam mulutku dan mulai membuka halaman buku itu. Aku tak menyangka, buku itu bisa memukul hatiku, membisikkan berjuta kerinduan untuk bisa menatap lagi dengan sang kata. Dapat menggoncangkan pikiranku, bahwa selama ini aku hanya melakukan hal yang sia-sia, penantian pada bangku dikala senja, penantian dan kediaman, pengharapan, tanpa usaha.  Dan memutar semua kenangan tentang aku dan dia, bagaimana kacaunya aku tanpa dia, bagaimana sakaunya ketika ceritaku dengannya berhenti ditengah suara. Lalu yang lebih penting buku itu bisa menjadi petunjuk awal pertemuanku kembali dengan sang kata.

Buku hijau itu berjudul Dunia Kata Nayaka.

Semarang, 21 Agustus 2012

——————————————————————————————————————————————

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pertama-tama saya ucapkan terimakasih buat yuuki yang mengenalkan halaman hijau ini, yang tealah membuatku tertarik untuk mengublek-ublek tulisan Nayaka dan yang lainnya. Kedua terima kasih buat Nayaka yang dengan tulisannya banyak menampar aku. Ehem, kayak pidato aja nih ^_^. Yah intinya saya akan kembali berusaha menemukan kata-kataku yang telah lama hilang. Buat Nay makasih ya…postingan ini sebagai ganti puisi yang kujanjikan deh..serius aku setres harus gimana ini mau posting @.@. Mbak afniii tolonginnn akuuu yaaa….T___T. Nah yang terakhir silakan tinggalkan komen yaaaa….Salam kenal buat semua kawan-kawan disniiiii…. (_ _)
Wa’alaikum salam wr. wb

Olief.