Yuuki’s Present

.

.

BUTIRAN DEBU

.

.

.

.

.

“Kencan yuk, ‘Ga!”

“HAAAA??!!”

Buru-buru aku menutup mulut Rangga yang menganga lebar itu.

“Kemasukan Laler  tau rasa, kamu!” ujarku.

Rangga menyingkirkan tanganku dari mulutnya. Dia memandangiku lalu memegang dahiku seperti mencoba merasakan sesuatu.

“Kamu ga panas loh,” katanya.

Buru-buru aku menepis tangannya.  Aku menggigit pisang goreng yang kubeli tadi dengan kesal. Istirahat kedua ini, aku mengajaknya ke kantin. Setelah peristiwa kemarin, kami masih tetap jalan berdua seperti biasa. Rangga pun tampak lebih nyaman. Itu lebih baik bagiku melihatnya tanpa beban seperti ini.

“Emang aku ga lagi demam kok,” sewotku.

“Lah, ngomongmu ngelantur gitu,”

“Ngelantur gimana orang aku bilang  temenin aku kok,”

“Kamu bilang kencan,” Rangga mengkoreksiku.

“Loh, pergi berdua nemenin aku kan sama aja kencan, apa salahnya aku bilang geto?” aku tak mau kalah.

Rangga mengernyit heran. Dia tak berkata apa-apa lagi.

Lama-lama berdebat begini  aneh juga, rasanya kekanakan sekali. Apalagi para penghuni kantin sudah mulai melongok kearah kami. Aku cuek saja.

“Ya udah, emang kamu mau kemana sih?” akhirnya Rangga menyerah juga.

Aku tersenyum lebar.

“Hehehe…”

.

.

.

Rangga cemberut.

“Aku ga suka manis!” serunya.

Aku terkikik geli melihat reaksinya yang berlebihan ini. Sepulang sekolah, aku mengajaknya ke Café langgananku. Letaknya cukup strategis dan biasa dipakai untuk nongkrong ABG macam kami. Apalagi ada fasilitas Hot Spot di sini, tempat ini jadi tak pernah sepi. Hari ini pun  lumayan ramai hingga kami terpaksa  duduk di meja luar.

Rangga terlihat sibuk membolak-balik buku Menu.  Karena terlalu lama, aku beranjak kedalam untuk memesannya sendiri. Memang sih menu Café ini  full coklat, baik cake maupun minumannya. Karena itu, Rangga tak begitu suka aku ajak kemari tadi.

“Kamu makan Tiramisunya saja, di sini tiramisu nya pake cream cheese  jadi ga terlalu manis,” kataku sambil meletakkan Tiramisu untuk Rangga dan beberapa cake untukku.

Rangga tampak bengong melihat cake yang ada di hadapanku.

“Kamu sanggup ngabisin itu semua?” tanyanya tak percaya.

“Jiah, cuma tiga cake aja, kecil…”

Rangga hanya mengeleng-geleng. Dia mulai menikmati Tiramisu miliknya. Kali ini dia tak protes cake nya kemanisan. Aku pun mulai melahap cake yang aku pesan tadi. Opera Cake, Full Choco Cake dan White Forest. Beberapa pengunjung sepertinya memperhatikan kami, lebih tepatnya melihat ke arahku

Loh, apa salahnya cowok suka makanan manis sih?

“Tumben kamu ngajak aku kesini, Dit?” tanya Rangga tiba-tiba.

“Ga apa-apa sih, besok kan kamu mau tanding, nyantai dikit lah biar ga tegang,” jawabku.

Rangga mengangguk-angguk.

“Meski udah sering tanding ternyata tetep aja grogi nih, hehe… ” terang Rangga. Aku tersenyum kecil.

“Kalian pasti menang,”

“Kok kamu yakin team kita bakal menang?”

Aku memandanginya. Rangga juga menatapku.

“Aku percaya kamu bakal menang  ‘Ga,” aku kembali meyakinkannya lagi.

Kali ini Rangga tersenyum lebar.  Ada semangat dalam binar matanya.

Tanpa kuduga Rangga menggenggam tanganku.

“Thanks, Dit!”

Jantungku sedikit berdetak lebih kencang dari kecepatan normal.  Untung saja Rangga segera melepaskan genggamannya  itu. Huft~

Dia kembali menikmati cake miliknya yang tinggal separuh.  Aku masih memperhatikan sahabatku itu.

“Rangga, aku boleh nanya?”

“Jiah kayak apa aja, ya tanya aja lah,”

Aku terdiam sejenak.

“’Ga… kalau aku nggak ada, kamu gimana?”

“Hah?!”

“Kalau dulu ternyata aku ga selamat, kamu gimana?”

Raut muka Rangga sedikit berubah. Seperti ada ketakutan dan perasaan sedih bercampur di sana.

“Nggak usah ngomong macem-macem lah,” ujarnya. Sepertinya dia sedikit marah.

“Maaf,” pintaku.

Ugh! Sebaiknya aku tak usah mengorek-ngorek masalah ini lagi.

Kali ini kami sama-sama terdiam.

“Mungkin… aku bakal nangis, mungkin…” bisiknya pelan.

“Eh?”

“Aku mungkin bakal nangis kalau kamu ga ada,” katanya.

Dia sedikit menunduk, tak  memandangku kali ini. Ku pikir dia sudah tak terbebani lagi, ternyata masih susah juga ya menghilangkan rasa bersalah itu.

Alunan Adolescence milik duo virtual vocaloid dari ponselku sedikit mengejutkan kami. Aku sedikit kaget ketika  melihat layar handphone milikku.

“Sorry ‘Ga, aku terima telepon dulu ya,” pamitku seraya beranjak dari meja kami.

Rangga hanya memandangiku heran.

Setelah kurasa agak jauh jarak kami segera saja aku mengangkatnya.

“Moshi-moshi, Niichan?”

(“Halo, Kak?”)

“Yo! Ototou…”

(“Yo! Adikku…”)

“Nanda? Doushita no?”

(“Apa? Ada apa sih?”)

“Loh? Kok kayaknya panik gitu? Emang salah aku telepon?”

Aku menghela nafas pelan.

‘ Ya ngga sih, momentumnya rada kurang pas aja’  batinku.

“Ga sih, lagian juga biasanya Kak Panji cuma sms aja,”

“Hehehe… cuma mau memastikan aja kok, besok jadi aku jemput?”

Aku terdiam sejenak.  Aku melihat kearah Rangga, sahabatku itu sepertinya sedang melamun . Aku tersenyum kecil.

“Jadi Kak, jemput aku di stasiun seperti biasa ya?”

“Ryokai! Sore ja, Mata!”

(“Roger! Sampai jumpa ya!”)

Kak Panji memutuskan line teleponnya. Sedang aku masih tak juga beranjak dari tempatku berdiri, aku masih memandangi  Rangga dari kejauhan.

‘Aku harap kamu ga benar-benar nangis kalau aku ga ada, ‘Ga…’ batinku.

.

.

.

Kami tiba di kos-kos’an ku sekitar jam tujuh malam. Aku segera turun dari motor milik Rangga. Dua bungkusan plastik besar ada di tangan kanan dan kiriku.

Satu plastik berisi beberapa cake yang aku beli di café tadi, satu plastik lagi berisi nasi ayam dan lalapan buat makan malamku nanti.

Rangga hanya geleng-geleng melihat barang belanjaanku. Hehe…

“Makasih ya,” kataku.

Rangga ikut turun dari motor dan melepas helm nya.

“Tadi waktu di café yang telepon siapa? Pacarmu ya?” tanya tiba-tiba.

Aku mengernyit heran. Kok mendadak tanya begitu sih?

Rangga sepertinya masih menunggu jawabanku.

Seringai nakal menghiasi wajahku. Ada pikiran jahil yang terlintas dalam benakku kali ini, lebih baik aku mengerjainya sedikit.

“Hehe…  iya pacarku,” jawabku kemudian.

Rangga sedikit cemberut.

“Kok ga pernah kasih tahu aku kalau kamu punya pacar?” tuntutnya.

“Eh? Harus ya?”

Aku pura-pura bego saja, kali ini Rangga mendengus kesal. Ini anak jadi gampang ngambek ya? Duh!

Hampir saja aku aku terjatuh ketika Rangga menarik lenganku. Untung saja dia menarikku kearahnya, kedalam pelukannya.

Aku termangu untuk beberapa lama.

Mataku mengerjap-ngerjap tak percaya. Begitu sadar aku ternyata masih ada dalam dekapannya.

“K-Ke-kenapa?” tanyaku terbata. Aku terlalu Speachless sekarang.

“Kalau kamu sudah punya pacar aku ga bakal bisa peluk-peluk gini dong  ya?!” ucap Rangga dengan entengnya.

Untung saja  sekitaran kos sepi, kalau ada orang lain yang melihat kami seperti ini kan bahaya. Dua laki-laki berpelukan seperti ini kan bisa mengundang kecurigaan? Apa Rangga benar-benar tak sadar dengan aksinya ini?

Ya, ini bahaya buat ‘kesehatan’ jantungku tentunya.

“Hahaha… apaan sih kamu,”

Wajahku sedikit menghangat. Aku berusaha melepaskan diri darinya. Namun Rangga malah menarik tubuhku lebih erat.

“Anggap aja ini Charge buatku, besok kan aku mau tanding,”

“Hehehe… iya-iya, yang semangat ya,”

Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan tanganku yang masih kerepotan memegang plastik. Setelah dirasa cukup dia lalu melepaskan aku.  Aku menghela nafas lega.

“Besok  harus datang loh ya, sorry aku ga bisa njemput kamu karena mesti siap-siap, tapi aku mau kamu ada di sana besok, Oke?”

“Iya, udah sana pulang, langsung istirahat ya,”

“Oke, Boss!”

Rangga lalu melenggang menuju motornya.

“Rangga!”

“Hmm?”

Dia menoleh lagi kearahku.  Kali ini aku memberikan senyum terbaikku untuknya.

“Makasih…” ucapku pelan.

“Buat?”

Buat kamu yang udah mau berteman sama aku, buat kamu yang udah mau repot-repot untukku, buat kamu yang selalu jagain aku.

“Buat semuanya…”

“Jiah, apaan sih… ya udah sampai jumpa besok ya,” pamit Rangga. Dengan kecepatan penuh, dia berlalu pergi.

Aku masih memandanginya meskipun dia sudah tak nampak lagi.

Tanganku mengepal erat.

Maafin aku ‘Ga… Maaf…

Aku tertunduk.

Air mataku jatuh.

.

.

.

08.50 Pagi.

Kereta Logawa yang kutumpangi ini masih saja melaju cepat. Kota itu semakin jauh.  Kurang lebih sekitar setengah jam lagi aku akan sampai di kota kelahiranku. Aku juga sudah menghubungi  Kak Panji untuk segera menjemputku di  stasiun.

Barang bawaanku cukup banyak. Terang saja, ini seperti pidahan saja. Mungkin lebih nyaman pakai Travel tapi aku lebih suka perjalanan dengan transportasi umum seperti kereta api.

Handphone tuaku bergetar. Sebuah nama tertera jelas di sana.

Rangga.

Aku segikit ragu untuk mengangkat panggilannya. Namun pada akhirnya ku tekan juga tombol hijau.

“Adit, kamu dimana sih? Pertandingan finalku tinggal 10 menit lagi nih,” seru Rangga keras.

Di belakang tampaknya begitu ramai. Suara berisik terdengar jelas di line telepon. Pantas saja Rangga sedikit berteriak.

“Iya ‘Ga, kamu yang semangat ya, Kamu harus menang…”

“Kamu di mana sih? Kamu lihat pertandinganku kan?” Rangga terdengar panik sekarang.

“Rangga, dengerin aku ya… Jangan pernah kamu merasa bersalah lagi sama aku, aku udah ga apa-apa sekarang, kamu harus fokus pada dirimu sendiri mulai saat ini,”

Ada sedikit getar ditiap kata yang aku ucap.

“Dit…”

“Aku seneng banget bisa ketemu dan kenal sama kamu ‘Ga. Kamu harus menang ya,”

“Kamu kenapa sih ‘Dit? Kamu di mana? Aku pengen ketemu…”

“Rangga… Boku to isshouni shitai, Arigato. Boku ni hanasudarou,  Arigato. Boku ni sakebu shitai, Arigato. Bokuto Isshouni waraitai, Arigato.”

“Adit… kamu ngomong apa? A-aku nggak ngerti,”

Aku hanya tersenyum lirih.

‘Aku juga ga berharap kamu tahu apa yang aku katakan, ‘Ga…’ bisikku dalam hati.

“Daisuki yo Rangga, Sayonara…”

“Hallo Aditya, Dit… Hallo… Di……..”

Segera saja aku memutuskan line teleponku.

Ku pandang keluar jendela. Ada sedikit rasa perih yang kurasa. Mungkin itu karena aku terbiasa bersama Rangga dan sekarang aku harus mulai membiasakan diri tanpanya. Tanpa sahabatku dalam hari-hariku berikutnya.

Sebentar lagi Kereta akan memasuki Stasiun Lempuyangan.

Tempat pemberhentianku selanjutnya.

RANGGA POV

Aku terduduk lemas di bangku di salah satu sisi lapangan ini. Semangatku menguap entah kemana. Duniaku mendadak hening bahkan suara ribut penontonpun tak dapat tertangkap telingaku.

Aditya baru saja memutuskan teleponnya.

Ngomong apa dia tadi?

Harusnya dia paling tahu kalau aku selalu tidur di kelas bahasa jepang.

Hanya satu kata yang aku ingat betul. Itu juga gara-gara aku kebanyakan nonton film-film cengeng.

Sayonara? Bukannya itu artinya selamat tinggal.

Memang dia mau kemana? Dia ada di mana sekarang?

Aaaaarrrrggghhhh!!!

Seenaknya saja dia bilang aku harus fokus kalau nyatanya gara-gara dia tak di sini aku justru kehilangan konsentrasiku. Ugh!

“Kita udah mau main,’Ga!” suara berat milik Kak Ferdi sedikit mengagetkanku.

“Kapten, a-aku…”

Aku tak melanjutkan kata-kataku. Rasanya aku ingin kabur dari pertandingan ini dan mencari Aditya. Menyeretnya dan kalau perlu mengikatnya agar dia tetap dalam jangkauan penglihatanku.

“Kenapa? Adit lagi?” tanya Kak Ferdi.

Sepupu sekaligus kapten basket  team sekolah kami itu kini menatapku tajam. Terkadang aku merasa dia itu punya ‘kemampuan khusus’ yang bisa membaca pikiran lawan.

Aku hanya terdiam dan balas menatapnya saja.

Berdebat juga percuma. Dia tak gampang di lawan, lagipula di sisi lain aku tak mau mengecewakan team. Aditya juga bakal marah-marah kalau aku seenaknya meninggalkan pertandingan.

“Kalau kita bisa menang, aku bakal kasih tahu dimana Aditya sekarang, ”

Mataku membelalak terkejut.  Segera saja aku beranjak dan berhadapan dengan Kak Ferdi.

“Kakak tahu, Adit…”

“Kalau kita menang, aku bakal kasih tahu.” potong Kak Ferdi dengan penekanan kata ‘menang’ di kalimatnya. Raut mukanya masih terlihat dingin dan datar.

Tanganku mengepal  erat.

“Siap, Kapten!” seruku dan segera berlari menuju ke lapangan. Seketika sorak-sorai penonton membahana memenuhi lapangan ini.

4 quarter masing-masing 10 menit. Belum lagi  Time Out.

Huft~ Aku tinggal bersabar menunggu waktu-waktu itu berlalu.

Dan tentu saja aku harus menyelesaikan pertandingan ini dengan baik.

Ya, aku harus menang.

 

Tunggu aku, Aditya!

 

.

.

.

Tsuzuku ^^

Jangan bilang kalau kelamaan dan Jangan bilang kalau Part ini cuma sedikt! (_’’_)

*ngancem duluan* Fufufufu =3

“… Boku to isshouni shitai, Arigato. Boku ni hanasudarou, Arigato. Boku ni sakebu shitai, Arigato. Bokuto Isshouni waraitai, Arigato.”

Kalimat ini memang sengaja ga saya kasih translate nya, kalau baca One Shot In The Stillness Of The Shining Sky, pasti tahu dech… (kurang lebih kalau di translate ke Japanese ya kayak gitu bunyinya…) XDD

Part selanjutnya mohon ditunggu dengan penuh kesabaran dan lapang dada ya… #PLAK XP

Yang sabar saya kasih Cake dech, Hehehehe XDD

~ Opera Cake, Full Choco Cake, Tiramisu, White Forest ~

 

Sa~ dozo yoroshiku onegaishimasu ^^