Tuan. . . .
Bisa kah kau melihat kami disini tuan?
Kumpulan tulang2 kecil terbungkus kain
compang-camping.
Yg memburu anda tuk kami mintai receh,
belum makan tuan,lapar!
Tuan. . . .
Apakah dirimu tergerak ya tuan,
kpda raga-raga  yg teronggok di bwah jembatan!
Itu raga orang-orang  tua kami.Kemarin sudah
kerumah sakit,tapi di usir karena tak mampu
membyar administrasi.
Tuan,
tataplah mata kecil kami,
betapa kami ingin sekolah dn berpakaian
layak.
Tapi itu cuma angan,tuan.
Jngn kau tanya kami, knpa kami tak sekolah.
Karna kami sendiri bingung mau jawab
apa,permainan orang tinggi.
Tuan,hari telah malam,
apakah anda msh ingin mengikuti desah ku?
Ayo kita kerumah ku.
disana,di bwah jembatan itu.
Tapi kenapa banyak orang yang mengerubungi rumahku
tuan?
Ayo lari tuan, lebih cepat,,,
hey,kenapa kalian di sini?
Orang-orang  menyingkir tuan,memberi jalan pada
kita. ayo tuan masuk ke rumahku, emak pasti sudah menunggu kita didalam. Itu dia tuan, emak ternyata sedang tidur.
“Mak, aku pulang bawa tamu, mak!”.
Heee….
Tuan,knpa emak diam?
“Mak,emak, aku  pulang mak.!”
Tuan,emak kenapa?
Kenapa bdannya sedingin malam?
Eh, . .
tuan, kenapa orang-orang itu membawa emak? Kenapa emak nggak bangun-bangun, tuan?
“Mau kalian bawa kemana emakku???”
Kenapa mereka menjeburkan jasad emak ke
sungai?
“tanah pemakaman mahal, bocah .Gratis
kalo’di hanyutkan saja di sungai”.
Aku  hanya ternganga,
menatap tubuh emak yg timbul tenggelam
di larung sungai.. Dan orang-orang  itu,mulai pergi
setelah menjarah semua isi gubukku.
Aku  tak mampu menangis lagi.Tuan,temani
malamku, aku  tau besok kau kan pergi di ganti sang
mentari.
Tapi temani aku  sampai  menutup mata.
Aku  bergerak dari tempat ku bersimpuh ,mulai masuk ke dalam
sungai yang sedang pasang. KubiarkAn tubuh
kecilku tersapu arus sungai, aku hanya ingin  menemui
emak, bersamanya di sana.
Aku  mulai merasa dingin,
terus ,terakhir kali ku  lihat tuan bulan ku
tersenyum kepadaku .Hingga akhirnya mata ini  terpejam, menggapai lengan yang terulur kepadaku, Tangan seribu malaikat.

~[ dear rekan, ini hanyalah coretan-coretan cakar tikusku di note facebookku. Duluu sekali ketika aku masih suka blusuk-blusukan di tenda-tenda pemulung atau di bawah jembatan berkali butek.
Tulisan tak-jelas-ku ini sangat jauh sekali dari kata “BAGUS”. karna aku tipe orang yang bila nulis selalu suka njeluntrung sak karepe dewe. Itulah sebabnya tulisan aku ini sangat nggak enak banget untuk di baca. Dan aku sangat berharap rekan-rekan semua mau menambahkan “sambal cabe rawit super duper pedas” agar kedepannya tulisan-tulisanku bisa sedap di pandang dan di baca.

Spesial aku ucapkan untuk abang Anay-anay. Sang punggawa di blog ini. Atas lamarannya yang sangat GENTLE kemarin sampai membuat aku klepek-klepek. Apalagi dengan semua pujian-pujiannya yang penuh fitnah itu sempat membuat aku jatuh bangun menahan perut yang melilit.
Dan untuk mentorku yang cantik, Afni Sutrisna. Aku tiap hari digaruk-garuk agar cepat memposting sebuah tulisan.

Dan terakhir, untuk kalian semua rekan-rekan baruku. Kumohon, cabik-cabiklah coretanku ini sesuka hati kalian. Asal itu dapat membawa perbaikan untuk kelanjutan tulisan-tulisanku.
Sekalipun kalian aku sebutkan terakhir, bukan berarti kalian yang terakhir yang aku indahkan di hatiku.

Love you, All.
Salam…

#review “kisah lainnya” COMING SOON