an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

  

  

PENGGALAN POKET 7 :

Jelas suasana hati wali kelas kami sedang bagus. Teman-temanku tak ada yang tidak tertawa.

“Yang gak bawa kue gimana, Bu?” Entah siapa yang bertanya.

“Silakan bawa minum sendiri kalau begitu.”

Suara tawa lagi, makin ribut dari sebelumnya.

“Boleh kue apa aja?” Juga entah dari mulut siapa.

“Boleh, asal bukan kue lebaran tahun lalu, itu sudah basi.”

Sungguh, Ibu Hamidah sedang senang hari ini. Sepertinya dia baru dibelikan baju lebaran baru oleh suaminya di rumah. Atau baru saja dapat parcel lebaran dari sekolah seperti tiap tahunnya. Bukan mustahil juga kalau beliau baru saja mendapatkan kupon berhadiah tiket jalan-jalan ke ragunan plus foto bareng dengan satwa di sana, gratis. Entah apalagi pertanyaan iseng yang terlontar dari mulut teman-temanku, semuanya dijawab tak kalah iseng oleh Ibu Hamidah hingga bel tanda pulang menjerit nyaring. Hanya selangkah setelah hak tinggi Ibu Hamidah keluar melewati ambang pintu, kursi-kursi kembali ditinggalkan bokong-bokong berbagai ukuran berbalut kain abu-abu dari pemilik mereka.

***

 

POKET 8

 

Minggu…

 

 

Aku merasa seseorang mendaki ke atasku, lalu seperti ada sesuatu yang jatuh menetes-netes di pipiku. Aku membuka mata, terjaga dari tidurku.

 

 

“Ikaaal…!”

 

 

Di atasku, Haikal sedang duduk santai sambil menggigit-gigit stik es krim. Krim coklat yang sedang dijilat-jilat Haikal hanya bersisa di pangkal stiknya saja. Perutku jadi bantalan empuk untuk diduduki Haikal. Mendengar teriakanku, anak ini tidak serta-merta enyah dari atasku, sebaliknya, bagai tidak ada sesuatu yang salah –padahal ingin saja aku melemparnya ke kolong tempat tidur saat ini juga- dia terus melahap sisa es krimnya. Lelehan cair makin banyak yang luruh ke atasku.

 

 

“Kak Ibar suruh ke rumah!” Itu ucapan Haikal, masih berleha-leha di atas perutku.

 

 

“Turun!” Aku sedikit membentak.

 

 

Haikal menurut, dia pindah posisi dari perutku dan kini bersantai di atas kasur. Aku bangun sambil menyapu tetesan es krim di pipiku. Setelahnya, aku seperti ingin mengunyah Haikal hidup-hidup. Jika tidak ingat dia adalah ‘anak bungsu’ Abah dan Ummi -sekaligus calon adik iparku, sungguh, aku ingin menggepruk Haikal pakai laci nakas.

 

 

“UMMIIIIIIII….!!!” Aku histeris.

 

 

Betapa tidak, sepreiku yang baru diganti beberapa hari lalu kini penuh noda es krim Haikal. Noda kecoklatan bertumpuk-tumpuk di banyak tempat, bahkan di baju kausku juga.

 

 

“Ada apa…” Sayup suara Ummi menyahut dari ruang jahitnya.

 

 

Aku tak menjawab. Kutatap Haikal dengan tatapan paling tajam yang kupunya, tapi anak itu hanya diam sambil menjilat ujung-ujung jarinya membersihkan sisa es di sana. Wajahnya sama sekali jauh dari kesan ketakutan, Haikal tak takut kupandang seperti itu.

 

 

“Kak Ibar suruh Kak Idan ke rumah!” Dia mengulang pesannya untukku.

 

 

Aku menjambak rambutku, depresi sendiri. Segera aku turun dari tempat tidur, kuseret tangan Haikal ikut turun dari atas sana. Tanpa bicara aku keluar kamar dan menuju kamar mandi, Haikal masih kuseret. Melewati ruang jahit Ummi, aku sempat berhenti dan menjenguk ke dalam.

 

 

“Ikal makan es krim di atas kasur, seprei Didan belepotan semua.” Ucapku.

 

 

Ummi berhenti dari pekerjaannya. “Copot sepreinya masukin ke keranjang cucian.” Begitulah Ummi, memarahi Haikal atas kenakalannya adalah sia-sia saja, toh dengan memarahinya tidak akan mengembalikan keadaan. Begitu ummiku pernah bilang saat Haikal memecahkan vas bunga di atas meja tamu suatu waktu dulu. “Ehemm… Ummi yang kasih Ikal es krim…”

 

 

Pantas. Hah, Ummi yang kasih? “Es Krim Didan yang di kulkas?” Aku melotot pada Ummi. Baru aku ingat, noda itu coklat. Haikal memakan es krim coklatku satu-satunya –sisa buka puasa kemarin.

 

 

Ummi tersenyum. “Kan kamu bisa beli lain, Nak.”

 

 

Aku hanya bisa pasrah, lalu kulanjutkan langkah menuju kamar mandi dengan Haikal masih di tangan. Di sana aku membersihkan wajahku yang lengket bekas es krim –mungkin juga liur Haikal. Setelah itu kucuci bersih tangan Haikal dan kuremas-remas mulutnya dengan tanganku yang basah.

 

 

“Pergi ke dapur lalu lap tangan, mulut juga!” Perintahku pada bocah itu, Haikal keluar dari kamar mandi. Aku membuka kausku dan melemparnya ke keranjang baju kotor lalu kembali ke kamar untuk mengganti seprei.

 

 

Aku harus minta pertanggungjawaban pada seseorang, tanggung jawab untuk tidur siangku yang terganggu dan untuk es krimku yang raib masuk ke perut Haikal.

 

***

 

“Telat banget, padahal aku nyuruh Ikal sudah sejak setengah jam yang lalu.” Syawal mengeluarkan skuternya dari garasi, dia sudah rapi.

 

 

Tentu saja telat, Haikal menghabiskan sebagian waktu itu untuk menjarah es krimku terlebih dahulu sebelum membangunkanku. “Kenapa gak nelpon aja!” Aku sedikit ketus, masih kesal dengan Haikal yang saat ini pasti sedang membaling kelerengku di sarangku juga. “Tau? Gara-gara kamu nyuruh Ikal, es krimku yang kurencanakan bakal jadi dessert saat buka puasa nanti malah batal. Ikal memakannya.”

 

 

Syawal tersenyum. “Aku belikan yang lain.”

 

 

“Wajib!” Cetusku bersemangat. “Bukan itu saja, dia mengotori tempat tidurku dengan lelehan es krim, mengotori baju kausku, dan yang paling fatal… dia memutuskan kenyamanan tidur siangku.”

 

 

Lagi Syawal tersenyum. “Bawa saja seprei kotornya kemari biar dicuci Mama, baju kausmu juga.” Suaranya tenang, dia sudah naik ke atas sadel skuter, sekarang sedang mengenakan helm imutnya. “Besok aku akan jagain saat kamu tidur siang lagi untuk menebus waktu tidurmu yang terputus siang ini, itu salahku.”

 

 

Aku melongo. Tentu saja itu salahya, dia yang mengeluarkan perintah untuk Haikal.

 

 

“Ayo naik!”

 

 

Aku makin melongo. “Naik kemana?”

 

 

Syawal menggerakkan dagunya ke boncengan skuter. “Ngabuburit.”

 

 

Kupandangi Syawal dari ujung sandal hingga puncak helmnya, dia siap untuk pergi, ngabuburit katanya. Lalu kupandangi diriku sendiri, sandal jepit, celana pendek selutut yang warnanya sudah pudar, oblong longgar berleher longgar juga dan pasti rambut yang masih acak-acakan karena belum mandi.

 

 

“Ngabuburit apanya, aku belum mandi. Gak bisa, nanti aku gak sempat beli kue Abah.”

 

 

“Hari ini kan minggu, Bang Iwan ada.” Jawabnya. “Ayo naik, nanti kita beli es krimmu.” Syawal menyalakan mesin.

 

 

Aku masih mematung, enggan pergi dengan keadaanku yang berantakan begini. “Tunggu sepuluh menit deh, aku mandi dan bersiap-siap.”

 

 

“Gak perlu, nanti aja mandinya. Kita pasti balik sebelum bedug kok, kamu sempat mandi nanti.”

 

 

Aku mengalah, naik ke belakang Syawal dan memegang pinggangnya kiri kanan. Sesaat kemudian kami sudah di jalan. Seperti biasa, Syawal tak pernah nbebut –tak pernah sekalipun. Apalagi saat ini bisa dibilang kami sedang bersantai menikmati sore menjelang petang. Bersiar-siar menghabiskan waktu hingga menjelang waktu berbuka.

 

 

“Kemana, Bar?” Tanyaku di belakangnya, sekarang tanganku sudah melingkari pinggangnya –tidak erat.

 

 

“Ada usul?”

 

 

Aku diam memikirkan, kira-kira tempat apa yang cocok untuk menghabiskan sore. “Pantai?”

 

 

“Kamu tidak akan suka ke sana, pasti masih menyengat panasnya.”

 

 

Aku mendongak ke langit, memang masih sedikit panas. “Bendungan.”

 

 

“Sama aja, kan masih sekitar pantai juga. Aku yakin gak ada manusia yang mau ke sana di jam segini, kecuali agak sorean lagi nanti.”

 

 

“Kita tunggu hingga agak sore.”

 

 

“Sambil nunggu itu, kemana kita?” Padahal dia yang mengajakku, seharusnya dia sudah tahu mau kemana.

 

 

Aku berpikir sebentar. “Ke taman saja, main ayunan.”

 

 

“Bagus! Semoga masih ada ayunan kosong di sana.” Syawal sedikit menambah laju skuternya. “Seharusnya kita bawa Ikal Ya.”

 

 

Aku tak menjawab.

 

 

Dan di sinilah aku sekarang. Duduk di satu ayunan di dalam taman ini, diantara suara riuh anak-anak dan remaja. Tempat ini tidak jauh dari lokasi pasar, dari tempatku duduk aku bisa melihat puncak kubah mushalla yang ada di tengah-tengah pasar sana. Tidak begitu ramai sore ini, mungkin karena belum terlalu petang. Bukan hanya tempat bersantai, lokasi ini juga dijadikan lahan bagi pedagang mainan untuk melariskan dagangannya. Lapak-lapak buku dan majalah berjejer di satu sisi sedang payung kaki lima yang penuh mainan anak-anak bertebaran di sisi yang lain. Jika bukan bulan puasa, di dalam taman akan didapati pedagang bermacam makanan ringan, dari es krim dalam corong murahan, tukang somai, tukang sate, KFC abal-abal, rak popcorn dan kembang gula merah muda hingga gerobak bakso. Tapi selama bulan puasa pedagang-pedagang makanan itu tidak beroperasi di dalam taman –meski dagangan mereka adalah dikhususkan bagi anak-anak pengunjung taman yang tentu saja belum bisa berpuasa, itu adalah untuk menghormati bulan suci ini. Dan tentu saja pedagang-pedagang itu tidak mau digerebek Polisi Pamong Praja karena sebelum masuk bulan puasa pasti sudah ada imbauan untuk tidak berjualan makanan di dalam taman.

 

 

Aku berhempitan dengan Syawal di satu ayunan. Hanya satu yang kosong, inipun setelah menunggu dua remaja cewek yang menggunakan ayunan ini sebelumnya beranjak pergi.

 

 

“Benar deh, seharusnya kita bawa Ikal.” Syawal membuka percakapan.

 

 

“Aku kesempitan, badanmu terlalu besar.” Di samping Syawal aku duduk sambil sesekali mengeliat.

 

 

“Mainan-mainan di sana ada yang cocok gak ya buat Ikal…”

 

 

“Kita pindah aja deh, Bar… aku gak nyaman di ayunan yang ini.” Tulang pinggulku mulai sakit beradu dengan rantai ayunan.

 

 

“Atau kita cari buku mewarnai saja ya, Ikal belum pernah punya tuh.”

 

 

“Kita pindah ke bawah pohon itu aja deh… beneran, pinggulku sakit berdesakan begini.”

 

 

Syawal memalingkan muka memandangku. “Kamu masih kesal sama Ikal ya? Responmu jauh dari yang aku maksud…”

 

 

Dia sadar ternyata. Aku memang masih sedikit kesal dengan bocah itu. Sungguh, diantara semua tingkah polah menggemaskan Haikal selama ini, tadilah yang paling membuatku geram padanya. Jadi aku tak menanggapi kalimat-kalimat kakaknya barusan.

 

 

Aku diam. Syawal masih menatapku.

 

 

“Didan, tahu gak… mencintai seseorang itu tidak mutlak hanya mencintai dirinya saja, tapi juga mencintai segala sesuatu yang dia miliki. Mencintai hobinya, mencintai benda-benda koleksinya, mencintai binatang piaraannya, teman-temannya, pekerjaannya, kelebihan dan kekurangannya, juga mencintai keluarganya.”

 

 

Aku tahu arah pembicaraan Syawal. “Aku mencintai Ikal, kamu tahu itu.”

 

 

Syawal tersenyum, dia tahu kalau aku sedang kejepit tapi malah memiringkan bahunya ke bahuku. “Tapi sekarang kamu sedang tidak begitu kan? Karena Ikal mencuri es krimmu dan mengotori tempat tidurmu…”

 

 

Kenyataannya, Haikal tidak mencuri es krimku. Aku membayangkan Haikal datang ke rumah dan membuka pintu kulkas, lalu berteriak pada Ummi kalau dia melihat es krim di ruang paling atas kulkasku. Lalu Ummi datang dan mengambilkannya untuk Haikal –pasti begitu, karena aku tahu Haikal tidak cukup tinggi untuk mengambilnya sendiri.

 

 

“Aku masih mencintai Ikal, aku menyayanginya bagai adik sendiri. kamu tahu itu…” Ulangku.

 

 

“Tapi sekarang sedang tidak begitu kan?” Syawal mempertahankan dugaannya.

 

 

Aku mendesah. “Aku yang bayar buku mewarnai untuk Ikal.” Tanpa menunggu respon Syawal, aku memaksa bangun dari ayunan dan melangkah menuju lapak buku yang mulai dikerubungi anak-anak dan orang tuanya.

 

 

Syawal bangun dan menyusulku. “Aku mencintaimu…” Dia berbisik dekat telingaku, sanggup membuatku tersenyum. Aku selalu suka mendengar dia mengucapkan kalimat seperti itu. Aku mencintaimu, kamu adalah kekasihku, aku kamu adalah simpul mati, kamu hanya milikku. Aku selalu suka bila Syawal mengucapkan kalimat-kalimat demikian.

 

 

“Tapi ngutang dulu ya, aku gak bawa uang. Lihat, aku masih mengenakan sandal jepit.” Aku terkekeh sambil mengangkat sebelah kakiku -dimana sandal jepit itu melekat manis.

 

 

Syawal geleng-geleng kepala. “Gak ada hubungannya gak bawa uang sama sandal jepit.”

 

 

“Itu artinya, aku belum sempat pulang untuk mengganti sandalku dan mengambil dompet sebelum berangkat tadi.”

 

 

Aku mulai memilih-milih buku mewarnai di tumpukannya, sementara Syawal sendiri sibuk membolak-balik kotak krayon yang juga ada di antara tumpukan buku mewarnai.

 

 

“Gak ada yang masih utuh ya, Bang?” Syawal mengangkat satu kotak krayon yang sekilas kulihat isinya ada yang berpatahan.

 

 

“Tinggal yang begitu saja, Dik.”

 

 

“Ini sih kayak habis dipijak kawanan Gajah.” Gumam Syawal, masih cukup jelas untuk didengar kuping-kuping di sekitarnya.

 

 

Abang penjual buku tersenyum. “Bayar setengah harga saja.”

 

 

“Apa buku mewarnai ini juga bisa bayar setengah harga?” Aku menunjukkan sebuah buku mewarnai yang sampulnya sudah sobek satu bagian.

 

 

Syawal langsung melotot padaku. “Kamu kok tega sih, Dan? Ngasih adikku buku yang udah rusak. Keliatan banget gak ikhlasnya.”

 

 

Aku baru sadar sekarang, ternyata Syawal adalah kakak yang baik. Tanpa bersuara lagi, aku segera meletakkan buku rusak itu dan mengambil yang paling mulus serta paling tebal di antara. “Nih, bayarin dulu!” Kusodorkan buku itu pada Syawal.

 

 

Dia tersenyum. “Calon kakak ipar yang baik.”

 

 

“HAH???” Abang penjual buku kaget.

 

 

Aku melotot pada Syawal.

 

 

“Ehem… dia pacaran sama kakak perempuan saya…” Ucap Syawal pada abang-abang itu.

 

 

“Ohh…”

 

 

“Sebenarnya saya kurang setuju kakak saya pacaran sama teman saya ini, lihat… beli buku beginian saja untuk adik kami dia gak punya uang.” Syawal mulai kurang ajar.

 

 

Si Abang memandangku dari ujung sandal jepit sampai wajahku, tidak diteruskan hingga ujung rambut karena aku sedang memelototinya. Segera bungkus sebelum lapak ini saya obrak-abrik. Begitu kira-kira pesan yang ditangkap oleh si abang penjual buku, dia segera membungkus barang yang kami pilih dan menerima uang dari tangan Syawal.

 

 

“Kita cari es krimmu lalu pulang.” Kata Syawal begitu aku sudah berada lagi di boncengannya.

 

 

“Gak usah, Bar…”

 

 

“Harus, aku udah janji begitu kan saat mau pergi tadi.”

 

 

“Aku bilang gak usah!”

 

 

“Atau kamu maunya diganti sama es krimku ya?”

 

 

“Maksudnya?” Aku bingung.

 

 

“Kamu pengennya es krim yang dimakan Ikal diganti sama es krim milik kakaknya, gitu. Iya?”

 

 

Aku masih bingung.

 

 

“Kalau iya, aku mau-mau saja kok. Gak masalah kamu mau makan selahap apapun, es krim kakaknya ini gak akan habis, apalagi sampai hilang.”

 

 

Sedetik kemudian, aku baru sadar maksud manusia ini. “Puasa gak?” Kutonjok bahunya.

 

 

Syawal tertawa.

 

 

Dia tidak mengindahkan penolakanku. Kami mampir sebentar ke mini market dekat pasar. Syawal membeli tiga cup es krim sama persis seperti milikku yang dimakan Ikal –aku tak memberitahukannya, selera orang yang berjodoh ternyata bisa sama ya. “Satu buat kamu, sisanya buat aku dan Ikal.” Begitu ucapnya ketika membawa es krim itu ke kasir. Tadinya aku sudah girang sendiri mengira kalau ketiga cup itu adalah untukku.

 

***

 

Kak Aira tiba di rumah menjelang buka puasa, dia naik bus pagi. Hal pertama yang aku ingat begitu melihat dia muncul –berdesakan dengan koper ukuran sedang bersama Bang Ikhwan di atas motor- adalah janjinya dulu. Bayangan baju koko baru menari-nari di pelupuk mataku.

 

 

“Ambil koperku, Dan…” Ujar Kak Aira masih di atas motor Bang Ikhwan, dia tidak bisa turun sebelum koper itu turun lebih dulu.

 

 

Aku menurut mengingat sebentar lagi bakal dapat hadiah. Kuangkat koper itu dari pangkuan Kak Aira lalu kuturunkan. Lumayan berat, entah apa saja isinya.

 

 

“Bawa masuk ke dalam.” Kak Aira turun sambil membetulkan jilbabnya yang awut-awutan dihempas angin di atas motor.

 

 

Aku menurut, mengingat kalau dalam koper inilah baju koko-ku bersemayam. Kuseret koper Kak Aira menuju pintu depan.

 

 

“Jangan diseret gitu, kotor tuh!” Kak Aira mengekor di belakangku.

 

 

Aku menurut saja, masih mengingat ini demi baju koko baru yang akan kudapat sebentar lagi. Kuangkat sedikit koper itu –sekarang jadi menjinjing dan tentu saja makin terasa berat.

 

 

“Dan, aku lupa membeli baju koko-mu…” Sangat mulus kalimat itu meluncur dari mulut Kak Aira.

 

 

GUBRAAKK

 

 

“DIDAAAN…!!!”

 

 

Aku melenggang kangkung masuk rumah meninggalkan Kak Aira dan kopernya yang baru saja kubanting ke tanah. Suara tawa Bang Ikhwan ikut membahana setelah gelegar suara Kak Aira menjeritkan namaku tadi.

 

 

“Angkat koperku, Bang!” Kudengar Suara Kak Aira.

 

 

“Makanya, jangan suka ngibulin adik sendiri.”

 

 

Aku menoleh, langsung terpingkal saat kulihat Bang Ikhwan juga terus berjalan menyusulku naik ke teras tanpa menjinjing apa-apa. Di belakang sana, Kak Aira mendumel sambil menyeret-nyeret kopernya di tanah. Tuhan memang Maha Adil.

 

***

 

Cinta adalah pembawa revolusi. Pembawa perubahan. Jika revolusi itu positif, maka cinta akan mengubah si kikir jadi dermawan, mengubah si sombong jadi ramah, mengubah pemurung jadi periang, mengubah pemalas jadi rajin, mengubah pemalu jadi percaya diri. Bahkan, kadang cinta mengubah iblis jadi malaikat, mengubah bandit jadi orang bijak, mengubah penjahat jadi baik. Dan dalam kasus Yazir, cinta mengubah penakut jadi pemberani.

 

 

Itulah yang terjadi. Dulu, dari kelas satu aku –bahkan seluruh teman kelasku- tahu bahwa Yazir adalah sosok penakut. Tak terhitung banyak kali dia melarikan diri dari cewek-cewek yang berusaha mendekat padanya. Tak terhitung banyak kali dia menolak surat cinta dari gadis-gadis satu sekolahan, tak terhitung banyak kali dia meninggalkan mangkuk baksonya -dalam keadaan utuh- di meja kantin bila sekelompok cewek datang ke mejanya. Juga tak terhitung banyak kali dia pindah dari kursi taman sekolah saat ada gadis yang ikut duduk satu kursi bersamanya.

 

 

Yazir memang bukan kapten basket –yang pesonanya megah hingga ke kolong toilet sekolah, bukan pula Ketua OSIS –yang bakatnya masyhur hingga ke sudut laci meja seluruh kelas. Yazir bukan pengurus OSIS, Yazir bukan anak band sekolah, bukan anak Wakepsek apalagi anak Kepsek. Yazir hanyalah ketua kelas kami, dengan bangga aku bilang, Yazir adalah ketua kelas tercakep dari seluruh ketua kelas paling cakep di sekolah. Predikat itulah yang membuat dia jadi incaran banyak siswi –aku juga, dulunya.

 

 

Meski punya tampang kaliber bintang sinetron, sayangnya di kelas satu dulu dia cewefobia –yang membuat aku mengharapkan sesuatu yang menguntungkanku darinya. Entahlah, mungkin saat di kelas satu dulu imej anak-anak masih kental terasa. Karena keanehan itulah, lalu perlahan-lahan para cewek melupakan pesona ketua kelasku itu. Mereka berhenti mengejar, berhenti mendekat dan berhenti mengincar seorang Yazirul Irham .

 

 

Naik kelas dua, dia masih jadi ketua kelas. Sifat penakutnya mulai dilupakan penghuni sekolahan. Kenapa? Karena Yazir memang gak takut lagi. Setidaknya, dia sudah mulai akrab dengan cewek-cewek di kelas –mungkin seiring waktu berjalan membuatnya terbiasa. Tapi, sekarang aku benar-benar melihat keberanian yang sungguh lelaki padanya. Keberanian yang aku yakin diperolehnya setelah bertemu Kak Aira –gadis paling cantik yang pernah ditatap matanya. Apa bukti keberanian itu?

 

 

Aku beritahu.

 

 

Sekarang aku sedang membukakan pintu rumahku. Yazir sudah berdiri tegak di ambangnya. Sial, aku jujur mengakui kalau saat ini dia sepuluh kali lebih menawan dari biasanya. Rambutnya ditata sedikit berbeda –tampak lebih dewasa, celana denimnya jauh dari kesan remaja –lebih khas anak kuliahan, baju kokonya juga punya aksen beda dari yang pernah kulihat dipakainya. Singkat kata, Yazir kelihatan lebih dewasa dari usianya. Dan yang membuatku terbelalak adalah… kotak putih bentuk hati berpita coklat yang sedang dipegangnya dengan dua tangan. Yazir tak pernah memberi kado apapun buat gadis manapun –aku yakin itu. Ini pasti yang pertama baginya. Tidakkah dia cukup berani? Cinta membuatnya berani.

 

 

“Aku udah kasih tau Kak Aira kalau mau datang.”

 

 

Dan kalimatnya… itu bukan kalimat anak SMA yang masih malu-malu dan penakut saat berkunjung ke rumah pacar ceweknya –yang selalu mengetik pesan singkat dengan tulisan bikin mual. Itu adalah kalimat pria dewasa yang akan membawa gadis pujaannya untuk kencan malam minggu. Penuh percaya diri. Tidakkah dia cukup berani? Jelas dia sangat berani.

 

 

Aku masih bengong, seakan tersihir dan tak sadar, terhipnotis. Mataku tak berkedip memandang kotak bentuk hati di tangan Yazir.

 

 

“Didan, halo…?” Yazir melambaikan tangannya di depan wajahku.

 

 

“Ohh…” Aku tersadar. “Kak Aira… ada Yazir nih!” Aku berseru ke dalam rumah.

 

 

“Sebentar…” Terdengar suara Kak Aira menyahut dari arah kamarnya. “Suruh tunggu dulu.”

 

 

Aku berpindah dari ambang pintu untuk mempersilakan Yazir masuk. Ekor mataku mengikuti langkah Yazir hingga ke sofa.

 

 

“Kak Idan…!”

 

 

Aku menoleh. Haikal sedang berdiri di seberang jalan, buku mewarnai yang aku beli kemarin berada dalam genggamannya. “Apa?” Aku berteriak untuk Haikal.

 

 

Anak itu melambai padaku. “Kak Ibar bilang… SEGERA KE RUMAH!!!”

 

 

Teriakan Haikal lebih kuat dariku. Hemm, sungguh enak sekali jadi Syawal, punya kurir untuk menyampaikan pesannya tiap saat kapan dia mau.

 

 

“SEKARANG..!!!” Lanjutnya.

 

 

Haikal pasti baru selesai minum susu, energinya macan banget. “Iya iya… Kak Idan ke situ sekarang.” Setelah mendengar jawabanku, Haikal langsung berbalik masuk ke rumahnya kembali.

 

 

Aku memandang Yazir yang duduk tenang di sofa. Pasti dia mendengar dialogku barusan dengan Haikal. “Ibar itu Syawal ya?” Tanyanya.

 

 

Aku mengangguk.

 

 

“Kalian akrab sekali ya…”

 

 

“Banyak hal yang membuat kami akrab.”

 

 

Yazir yang sekarang mengangguk-angguk. “Tentu, kalian sebangku, tetanggaan, pulang pergi sekolah selalu berdua. Kalian juga punya banyak kesamaan…” Yazir menunjuk wajahku, “Kacamata salah satunya.”

 

 

Aku tersenyum. “Begitulah…” Sebenarnya aku sangat ingin berada di sini dan menguping obrolan Yazir dengan Kak Aira sebentar lagi. Aku sungguh ingin tahu, apa isi kotak yang sampai saat ini masih menyita sebagian besar pandangan mataku. Tapi Syawal malah menyuruhku ke tempatnya.

 

 

“KAK IDAAAN…!!! CEPETAN, MAU IKAL SERET YA!!!”

 

 

Ya ampun anak itu, lancang sekali. Pasti kakaknya yang mengajari. Haikal sudah nongol lagi di depan gerbang, kini dengan mata melotot garang padaku. Huh, mau menyeretku, coba saja kalau dia berani. Akan aku betot udelnya.

 

 

“Iya, Kal… ini juga mau pergi!” Kutoleh pada Yazir. “Zir, tungguin aja ya. Kak Aira mungkin sedang dandan.” Ucapku yang disambut Yazir dengan senyuman. “Aku ke rumah Syawal dulu.”

 

 

“Ibar…”

 

 

Dia mulai memanggil Syawal dengan nama rumahnya juga –seperti memanggilku. “Iya, aku ke rumah Ibar dulu.”

 

 

Kutinggalkan Yazir bersama kotaknya, aku akan menginterogasi Kak Aira nanti. Haikal sudah lebih dulu masuk sebelum aku melintas di pekarangan rumah. Ada apa Syawal menyuruhku menemuinya? Padahal ada agenda penting yang sayang untuk kulewatkan di rumahku –Yazir akan mengatakan cintanya pada Kak Aira, di bulan penuh berkah ini. Apa akan benar-benar jadi berkah buat Yazir?

 

 

Haikal terpekur pada gambar yang sedang diwarnainya, dia bahkan tidak mengangkat kepala saat aku masuk ke kamar kakaknya. Syawal sedang duduk di depan jendela kamar sambil melipat-lipat kertas entah apa –sepertinya origami. Aku langsung duduk bersandar dinding di sampingnya.

 

 

“Ada apa?” Tanyaku.

 

 

“Tidak ada, aku hanya memudahkanmu untuk melaksanakan janjimu hari itu.” Jawab Syawal tanpa mengalihkan perhatian dari kertas yang sedang dilipatnya.

 

 

Aku tidak mengerti. Apa yang dia maksudkan? Janji mana?

 

 

“Yazir masih menarik perhatianmu ya ternyata…”

 

 

Oh, I see. Yang dia maksud adalah ucapanku hari itu bahwa aku gak akan suka dan tertarik pada Yazir. Karena itulah dia memanggilku kemari? Agar tidak melihat Yazir. Bagus. Berarti dia sama sekali tak percaya janjiku sedikitpun bahkan sejak janji itu kuucapkan.

 

 

“Susahkah untuk memberiku sedikit kepercayaan, Bar.”

 

 

Syawal diam.

 

 

“Aku sudah berjanji, maka begitulah yang akan aku pegang. Yang akan aku buktikan.” Kutarik nafas, “Adakalanya aku merasa kalau kamu terlalu jahat. Setidaknya aku merasa begitu sekarang.”

 

 

Syawal bangun menuju meja belajarnya, kertas yang sudah dilipatnya dimasukkan kedalam sebuah kotak. Kemudian kotak itu dibawanya ke tempat duduknya semula. Sekarang sudah ada setumpuk kertas origami berbagai warna di depan kami. Aku menjenguk ke dalam kotak yang dibawa Syawal, ternyata dia membuat burung kertas. Kotak itu sudah berisi setengahnya dengan burung kertas bermacam warna.

 

 

“Kak, ini Ikal cat pake warna apa?” Haikal menunjukkan buku mewarnainya pada Syawal.

 

 

Kakaknya melirik sebentar, “Kulit semangka biasanya warna apa?” Syawal balik bertanya lalu kembali mencurahkan perhatiannya pada kertas yang baru diambilnya.

 

 

Aku ikut melihat ke buku Haikal, ternyata dia sedang mewarnai buah semangka utuh ditambah satu irisan panjang di samping buah utuh itu. Yang baru diwarnainya adalah daging irisan semangka, warnanya kuning. Aku mengernyit. Bukankah seharusnya merah?

 

 

“Kulitnya loreng.” Haikal menjawab pertanyaan Syawal.

 

 

“Loreng bagaimana?” Lanjut Syawal tanpa melihat pada Haikal.

 

 

Haikal diam sebentar. “Loreng aja Kak Ibaaar…!” Haikal sepertinya tak suka ditanya-tanya lebih jauh.

 

 

Aku berdehem. “Kulitnya, di sini pake warna ijo gelap.” Aku menunjuk ke gambar Haikal. “Trus, yang ini pakai ijo muda. Nah, itu namanya loreng. Catnya diselang-seling.”

 

 

Haikal menganggukkan kepalanya. Dia mengubek-ubek kotak krayonnya.

 

 

“Ikal, daging semangka-nya kenapa warna kuning? Siapa yang suruh cat gitu?” Aku mengira, warna kuning bukan pilihan Haikal sendiri. buktinya, dia bertanya untuk warna kulit semangka. Pasti sebelumnya dia juga bertanya saat akan mewarnai isinya. Mungkin pada Mbak Mai, pada mamanya atau pada…

 

 

“Aku tidak begitu bodoh menyuruh Ikal pake warna kuning.” Cetus Syawal.

 

 

Aku meliriknya sebentar, masih fokus pada kertasnya.

 

 

“Semangkanya belum masak Kak Idaaan…!” Haikal tak suka diusik.

 

 

Aku berhenti dengan Haikal, terserah dia mau mewarnai seperti apa gambarnya itu. Kuambil kertas di depan Syawal lalu mulai melipat. Tak ada lagi yang bersuara diantara kami. Haikal larut bersama krayonnya sambil sesekali berganti posisi duduk –sekarang sudah tengkurap. Syawal ligat melipat origami hingga tak punya waktu untuk sekedar melirikku –sejak aku tiba tadi dia tak melakukan itu. Akupun memilih diam dan larut dengan kertas di tanganku.

 

 

“Ikal, makan siang dulu Nak!” Haikal dipanggil mamanya dari arah dapur.

 

 

Haikal tak menjawab, mengangkat kepalanya pun tidak. Dia masih betah tengkurap di lantai. Hening lagi beberapa saat sampai mamanya memanggil kembali.

 

 

“Ikal…!”

 

 

“Kal, dipanggil Mama tuh!” Syawal menegur, tentu saja masih tanpa menoleh dari kertasnya.

 

 

“Ikal sedang puasa Mammaaa…!” Haikal mengangkat kepalanya saat pintu kamar terbuka. Mbak Mai muncul dari balik pintu.

 

 

“Ikal pu…”

 

 

“Apa puasa-puasa… ayo makan dulu!” Mbak Mai langsung memangkas kalimat Haikal. “Jangan nanti orang lagi enak-enak istirahat malah diganggu suruh kasi makan. Ayo!” Haikal mengkeret, dia bangun dan memberikan tangannya untuk digandeng Mbak Mai menuju piring makan siangnya.

 

 

Kertas di depan Syawal hampir habis, kotak di depannya juga nyaris penuh. Aku tahu suasana hati kami sedang tidak baik. Syawal yang tak percaya padaku dan aku yang merasa tak pernah bisa membuatnya percaya. Syawal yang masih mencurigaiku dan aku yang tak suka dicurigai. Kumasukkan burung kertas terakhir yang sudah selesai kulipat ke dalam kotak. Tanpa bicara aku bangun, bermaksud keluar kamar dan pulang ke rumahku.

 

 

Syawal sontak menangkap pergelangan tanganku. Aku menoleh padanya, dia menatapku. “Aku sangat mencintaimu, Dan…” Ucapnya lirih. Aku diam. Syawal menutup kotak berisi burung kertas itu lalu disodorkannya padaku. “Semoga ini bisa jadi koleksi barumu selain kelereng jelek itu… Koleksi kita berdua, burung kertas Ramadhan dan Syawal.”

 

 

Aku menerima kotak darinya.

 

 

“Aku belum bisa memberimu kotak hati kayak yang dibawa Yazir untuk Kak Aira, tapi aku akan memberimu begitu suatu hari nanti… mungkin. Maaf jika kamu merasa aku meragukan kata-katamu, aku tidak begitu. Aku hanya…” Syawal diam sebentar, kami saling bertatapan. “Aku hanya mencintaimu…”

 

 

Aku tak bisa berkata-kata. Kucondongkan badanku ke arah Syawal dan kucium keningnya.

 

 

“Nanti puasamu batal.”

 

 

“Bukan selangkanganmu yang kucium, tenang saja.”

 

 

Syawal terkekeh.

 

 

“Aku akan menyimpan kotak ini.”

 

 

“Hemm…”

 

 

Aku bergerak untuk bangkit dari lantai, tapi Syawal malah merangkul pinggangku. Ah, mungkin kami memang perlu berpelukan untuk beberapa detik.

 

***

 

 

-POKET 9, SETELAH LEBARAN BISA KAN???-

 

-N.A.G-

 

dekdie_ishaque@yahoo.com

 

nay.algibran@gmail.com

 

p.s :

 

sebenarnya niat pertamaku adalah menyelesaikan cerbung gak mutu ini tepat di hari terakhir puasa. namun apa daya, aku tak kuasa… T___T

 

maukah kalian membaca poket sisanya setelah lebaran nanti? meskipun suasananya tak tepat lagi. aku sangat berharap kalian mau, mau ya! ya ya ya!

eh, ada yang merasa terkejut gak di poket kali ini? Itu tuh, gambarnyaaaah! bagus kan? Aku bikin sendiri lohh (digampar Andy pake saringan kopi) kekekekekee… special thanks buat Andystar yang sudah membuat fanart secantik itu untuk tulisanku. jujur, pertama melihatnya hatiku rasanya campur aduk. semoga Tuhan membalas kebaikan hatimu ya Nak #ngelus-ngelus paha Andy (kok paha ya? biarlah, siapa tahu Andy senang pahanya aku elus dan mau bikin fanart lagi untukku). yang mau melihat gambar keren Andy lainnya (aku yakin kalian gak akan kecewa) silakan naik becak ke rumahnya di http://www.colorfuldystar.wordpress.com