an AL GIBRAN NAYAKA words

#####################################################

BUKAN CUAP2 BIASA

Salam…

Aku masih ingat, ketika kecil dulu saat balon-balon warna warni menjadi kesukaan yang tak boleh disepelekan. Ketika kembang api mungil sangat biasa dan ketinggalan jaman menjadi favorit yang tak boleh ditiadakan, pun ketika lilin-lilin kecil warna warni yang harus ada saat malam takbir. Aku dan adik-adikku –juga kakakku- akan bersuka ria di halaman rumah dengan kembang api jelek tadi di tangan sementara lilin warna-warni menyala di sekitar kami, di atas cabang pohon, di atas pot bunga, di tembok pagar, di teras rumah dan beberapa di dalam tempurung kelapa. Lilin-lilin itu, kembang api itu, seakan menjadi simbol malam Hari Raya bagi masa kanak-kanakku. Itu adalah momen malam Hari Raya yang sama sekali tak boleh terlewatkan ketika aku kanak-kanak. Adakah sahabat yang mengalami momen yang sama? Mungkin tidak, itu ciri khas anak kampung banget –beruntung aku tinggal di kampung, jadi tak ada orang yang menganggap itu kampungan di tempatku.

Sekarang aku berpikir untuk pertanyaan begini; bagaimana kita –ketika masih kanak-kanak- memaknai Hari Raya? Baju baru, angpao hari raya dari ayah ibu, makan kue sepuasnya di rumah tetangga dan berkunjung ke rumah family. Point terakhir masuk dalam makna hari raya ketika kita dewasa. Memaafkan. Aku sendiri memaknai hari raya ketika aku dewasa salah satunya adalah hari saling memaafkan. Lihat saja, orang-orang akan bersalaman dan saling meminta maaf lahir batin pada siapa saja yang mereka kenal dan mereka jumpai. Mereka sudah saling bersalaman sejak khutbah hari raya selesai, bersalaman dengan banyak jamaah ketika sama-sama keluar dari mesjid. Mengulurkan tangan pada siapa saja yang berpapasan di jalan saat pulang. Saling bersalaman untuk saling memaafkan. Itu salah satunya.

Dulu –ketika masih kanak-kanak, bersalaman dengan orang-orang di Hari Raya terasa seperti sebuah kejadian sambil lalu. Kau menyalami tangan yang terulur padamu, menciumnya jika kebetulan usianya jauh diatasmu lalu melepaskannya. Begitu saja. Tapi sekarang, rasanya beda. Saat bersalaman dengan seseorang, hati akan sadar sepenuhnya bahwa kita sedang ikhlas. Ikhlas memberi dan meminta maaf. Seperti itulah.

Begitu agung makna satu hari yang disebut Hari Raya. Aku yakin, kalian para sahabat lebih tahu dariku…

Anggaplah postingan ini adalah BINGKISAN TERMANIS dariku untuk sahabat semua di Hari Raya tahun ini. Terimalah CARD LEBARAN-ku ini dengan tulus ya, jangan menolak, jangan dibuang ke tong sampah karena jelek. Hanya dengan ini saja hati tulusku dan hati tulus kalian dapat berbicara. Kita tak bisa saling mengulurkan tangan untuk saling berjabat erat. Kita tak bisa saling menatap muka untuk saling memberi senyum. Tapi kita masih saling terhubung, di sini, lewat tulisan ini.

Izinkan aku mengutip beberapa syair milik Pak Ngah yang disenandungkan Dato’ Siti Nurhaliza…

Di sini hari ini

Lebaran yang dinanti

Sanubari bernyanyi suci murni

Amalan dirahmati pekerti lahir batin

Sesuci sebersih lebaran ini

Bersalam bermaafan

Keampunan keberkatan

Berdendang sehalaman

Bersaudara berpanjangan

Yang malang jangan lupa

Kusyukuri-Mu Rabbani

Anugerah Aidilfitri indahnya hari ini…

Jika Pak Ngah menulis syair sedemikian, maka aku akan menuliskan kata-kata seperti ini…

Jika mereka bertanya padaku

Hari apa yang paling kamu suka?

Aku akan menjawab

HARI RAYA

Dengarkan gema takbirnya

Rasakan khidmat suasananya

Shalat ied adalah tonggak kemenangan

Khutbahnya adalah piala agung

Menang dan dapat piala

Itulah hari itu

Satu hari di bulan Syawal

Satu kemenangan besar setelah pertempuran hebat

Kau berpuasa maka kau berhak berhari raya

Kau bertarung  dengan perkasa

Maka kau berhak mendapat penghargaan

Kembali fitrah

Itulah penghargaanmu

Itulah lencana yang diperoleh

Sebuah persembahan berupa kembali suci

Dari Sang Khalik

Itu jawabanku pada mereka…

Dengan penuh keikhlasan hati, serta rasa syukur yang menggelegak di dalam dada. Izinkan Nayaka mengucapkan…

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

1 Syawal 1433 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga kita semua mendapat anugerah di Hari Raya ini seperti yang ditulis Pak Ngah dalam syairnya dan mendapat persembahan seperti yang aku repetkan dalam jawabanku saat ditanya orang.🙂

Wassalam

Nayaka Al Gibran