Asian movie lumayan jadul ini😀 adalah sebuah film yang diproduksi berkat join project Jepang – Taiwan – China. Settingnya diambil di tiga Negara yang sama, bergenre romantic drama dan terdiri dari tiga segmen cerita dengan enam orang tokoh berbeda tapi saling berhubungan. Tiga Negara, tiga segmen cerita, gitu mungkin ya?🙂

Saya nonton film ini udah lumayan lama, mungkin sekitar setahun yang lalu. Harus bongkar-bongkar tumpukan DVD dan browsing dikit buat membuka memori saya soal film ini, meskipun sebenernya film ini adalah salah satu dari beberapa yang membekas di hati..🙂

 

Cerita pada segmen pertama bersetting di Tokyo, antara Michiko (Jepang) dan Yao (Taiwan). Michiko adalah seorang pelukis yang patah hati karena pengkhianatan pacarnya, sedangkan Yao adalah seorang mahasiswa asal Taipei yang menuntut ilmu ke Jepang demi menjadi seorang kartunis profesional. Mereka bertemu pertama kali di tengah padatnya jalan Shibuya, Yao tertegun melihat seorang gadis dengan wajah berlinang air mata yang hampir ditabraknya. Beberapa waktu kemudian, tanpa sengaja Yao melihat gadis yang sama sedang mengerjakan wall painting di sebuah gedung dengan wajah murung. Sejak saat itu, setiap hari Yao selalu menyempatkan diri secara diam-diam menempel gambar kartun wajah Michiko di tempat kerjanya. Meski penasaran, menerima gambar wajahnya dalam ekspresi yang selalu berbeda setiap hari membuat suasana hati Michiko membaik, dan itu berpengaruh pada hasil lukisannya. Sepanjang cerita, dua orang ini sangat jarang bahkan hampir tidak pernah berinteraksi. Mereka baru bertemu di akhir cerita, lagi-lagi di Shibuya, dan menurut saya, pertemuan itu adalah a happy ending for a happy beginning.. Segmen ini adalah satu-satunya cerita yang berakhir manis..

 

Segmen cerita yang kedua berlatar di Taipei, antara Tecchan (Jepang) dan A Si (Taiwan). Saya kurang suka sama segmen yang ini..😀 Ceritanya nggak jelas, meskipun sebenernya lucu, soalnya kedua tokohnya digambarkan kesulitan berkomunikasi karena perbedaan bahasa. Tecchan dalam segmen ini ada hubungannya dengan Michiko, mungkin dia bekas pacar yang diceritakan berkhianat pada segmen pertama, atau mungkin juga teman baiknya, yang jelas pada segmen ini ada adegan Tecchan sedang menelepon Michiko.

 

Cerita ketiga adalah yang paling saya suka, saya nggak bisa menahan diri buat nggak mewek waktu nonton segmen ini. Settingnya terjadi di Shanghai, antara Shuhei (Jepang) dan Yun (China). Pada segmen pertama, Shuhei diceritakan sebagai guru Bahasa Jepang di tempat Yao kursus. Kali ini, Shuhei pergi ke Shanghai untuk belajar, dia berkeinginan untuk mewujudkan impian bersama Yukiko, pacarnya yang sedang belajar di Barcelona. Yun adalah seorang gadis Shanghai yang polos dan cerdas, anak pemilik rumah dimana Shuhei tinggal sementara. Mereka akrab sebatas anak induk semang dan anak kost, tidak mengalami kesulitan berkomunikasi karena Shuhei cukup lancar berbahasa Mandarin, Yun bisa sedikit Bahasa Jepang, dan keterbatasan kemampuan dua bahasa itu mereka atasi dengan Bahasa Inggris.

Kisah mereka berawal ketika Shuhei meminta alamat rumah pada Yun untuk diberikan pada Yukiko. Selanjutnya, Shuhei yang setiap hari harus kerja part-time di sebuah Spanish Café milik lelaki China yang pernah tinggal di Jepang, menitipkan pada Yun jika sewaktu-waktu ada surat atau paket dari Yukiko. Setelah berminggu-minggu, akhirnya tiba sebuah paket. Penuh rasa ingin tahu, Yun bersemangat mengayuh sepedanya ke tempat Shuhei bekerja, sedikit heran ketika dia melihat ekspresi wajah Shuhei yang berubah murung saat membuka paket kiriman Yukiko. Paket itu hanya berisi sebuah postcard bergambar dan bola kasti.

Keesokan paginya, saat membantu ibunya membuka toko, tanpa sengaja Yun melihat serpihan kertas yang jatuh dari arah loteng, kamar yang ditempati Shuhei. Diam-diam Yun mengumpulkan serpihan kertas yang ternyata adalah postcard dari Yukiko, Yun kemudian menggabungkannya seperti puzzle. Di sela-sela waktu belajarnya, Yun menyempatkan diri untuk mencari tahu arti kata per kata yang ditulis Yukiko dalam postcard itu dengan bantuan kamus Jepang – Mandarin. Saat kesulitan, Yun akan bertanya satu kalimat pendek yang tidak dimengerti untuk diterjemahkan Shuhei, dan Shuhei dengan tololnya tidak sadar, bahwa setiap kalimat pendek yang Yun tanyakan adalah isi surat Yukiko untuknya.

Menjelang kepulangan Shuhei ke Jepang, Yun baru mampu menyelesaikan “terjemahannya”, dia masih sempat menanyakan satu kata yang diartikan Shuhei sebagai escape. Yun baru paham, ternyata isi surat Yukiko adalah meminta perpisahan pada Shuhei. Yukiko menulis, mimpi-mimpi yang selama ini dikatakan Shuhei adalah mimpi Shuhei, bukan mimpinya, karena itu dia ingin Shuhei mengerti, dia mengambil keputusan sendiri, meskipun dia menyesal dan merasa bersalah, karena ini terasa seperti melarikan diri dari Shuhei, escaping from you..

Yun melepas kepergian Shuhei ketika taksi yang akan mengantarnya ke bandara tiba. Shuhei berkata akan kembali secepatnya untuk melanjutkan belajar di Shanghai. Mereka saling berkata selamat tinggal dalam bahasa yang lain, Shuhei dalam bahasa Mandarin, dan Yun dalam bahasa Jepang. Tepat ketika Shuhei akan masuk ke dalam taksi, Yun mengucapkan satu kata, te quiero.. Shuhei menatapnya tidak mengerti. “It’s Spanish.. bye bye..” jawab Yun. Shuhei pun tersenyum dan mengucapkan kata itu berkali-kali, setengah berteriak sambil melambaikan tangan, seiring taksi yang membawanya bergerak menjauh..

Bertahun kemudian, Shuhei kembali lagi ke Shanghai. Menemui Tuan Xu, pemilik café tempatnya dulu bekerja part-time. Saat itu ada sekelompok mahasiswa Spanyol yang berkunjung dan akan kembali ke negaranya keesokan hari. Maka Shuhei menyapa mereka dengan ceria, “Te quiero!”. Shuhei melongo melihat respon para mahasiswa asing itu yang justru menertawai dirinya. Dari Tuan Xu, Shuhei baru tahu, te quiero means I love you.. Shuhei tergugu, itukah yang dikatakan Yun saat itu? Waktu telah mengubah semuanya.. ketika Shuhei mendatangi perkampungan tempat Yun tinggal, tempat itu telah rata dengan tanah, Shuhei tidak menemukan siapapun di sana..😦

 

Buat Yuuki-chan, yang meskipun udah nonton film ini tapi masih pengen baca review-nya, te quiero..🙂