CUAP2 NAYAKA

Percayalah, selalu ada hikmah dari setiap hal tak baik yang menimpa kita. Selalu ada pembelajaran dari setiap kejadian, baikkah itu atau sebaliknya. Orang bijak bilang, pengalaman adalah guru yang sempurna. 101% aku –kalian juga– tentu setuju dengan kata bijak itu. Tiga hari lalu, seorang teman lama menghubungiku, dia punya kisah yang ingin dibagi untuk kita di sini, sepenggal kisahnya dalam waktu yang tidak begitu lama. Aku tak menyebut nama teman lama itu –meski aku sangat ingin menyebutnya– karena dia juga tak menyebut namanya dalam catatannya ini (hanya nama samaran). SEPENGGAL CATATAN SEORANG SAHABAT adalah tajuk yang kuberikan untuk catatan teman itu, dia tak memberiku judul (semoga dia tak keberatan catatannya kuberi tajuk demikian). Ini bukan fiksi, hanya sebuah catatan. Harapanku –tentu juga harapan teman lama itu– semoga ada sedikit pelajaran yang bisa kita ambil dari catatan singkatnya ini. Pada akhirnya, semua terpulang pada diri sendiri, maukah kita belajar dari pengalaman atau malah mengulang sejarah tak baik dan terpuruk dalam penyesalan berulang kali.

Last, selamat membaca. Mau kan kalian meluangkan sedikit waktu untuk membacanya, dan bila berkenan tinggalkanlah sedikit catatan di bawahnya… Setidaknya untuk saling mengingatkan.

Wassalam

n.a.g

# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #

Siapa yang tak punya naluri/insting? Setiap insan yang bernapas dan bernyawa pasti punya dan selalu merasakannya. Cerita ini aku tulis atas apa yang terjadi dalam kehidupanku. Tanpa rekayasa dan maaf untuk alasan komersial, nama/tokoh akan disamarkan.

Namaku Diaz. Aku sulung dari dua bersaudara. Usiaku menginjak 23 tahun di tahun 2012 ini. Tahun ini sebenarnya adalah tahun yang penuh warna bagiku. Ada kisah kelam, ada kisah menarik dan ada kisah gembira bahkan kisah kasih yang dipenuhi intrik-intrik.

Akhir April 2012, aku secara iseng berkenalan dengan seseorang di sebuah jejaring sosial. Terus terang, jejaring sosial sudah menjadi makanan sehari-hariku. Tanpanya, mungkin aku enggan untuk memulai aktivitas. Dan, aku selalu mempunyai cara tersendiri untuk berbuat hal-hal yang membuatku senang, iseng ataupun bahagia. Salah satunya adalah keisengan. Ya, berawal dari keisengan aku selalu “menggoda” orang-orang yang kuanggap menarik. Mulai dari berkenalan,tukar menukar nomor ponsel hingga bercerita ke ruang yang agak pribadi.

Hingga suatu saat, aku berkenalan dengan seseorang yang bernama Indra, sebut saja begitu namanya. Aku dan dia terpaut usia cukup jauh. Begitulah yang dikatakannya. Namun, aku masih tidak percaya. Karena dari foto-fotonya dia seumuran denganku.

Matrealistis mungkin menjadi sisi gelapku dan kaum pelangi lainnya. Walau tidak semuanya bersikap demikian. Singkat cerita, kami bercanda ria di sebuah jejaring sosial bahkan saling mengenal satu sama lain lebih dalam.

Hingga pada suatu hari, ia mengirimkan sebuah pesan kepadaku dan menanyakan kenapa tidak ada kabar dariku. Mungkin karena kesibukanku, aku pernah sama sekali tidak pernah mengakses akun jejaring sosial. Dia menyatakan bahwa ia rindu akankabarku. Aku hanya menganggap dia bercanda. Karena itu, aku juga memberikan respon dengan candaan.

Belakangan, ia menanggapi serius dan terjadilah awal hubunganku dengannya yang dipenuhi intrik, kebohongan dan nafsu semata.

****************************************************************************************

Minggu Pertama

Mungkin layaknya pasangan pengantin baru, begitu pun aku dengannya. Di awal-awal minggu kami menjalani percintaan yang bisa dibilang cukup jauh. Tapi, dia berusaha meyakinkan padaku untuk berjanji satu hal, yaitu tetap percaya padanya. Percaya dan percaya. Itu hal yang terpenting.

Naluriku kembali berbicara. Mempercayai seseorang bukan hal mudah. Terlebih di zaman serba canggih seperti sekarang. Dalam jarak dekat saja, seseorang bisa membodohi anda bukan? Namun aku tetap berusaha menyingkirkan keraguanku itu.

Hari pertama, hari kedua kami lalui dengan penuh kemesraan dan kebahagiaan. Tapi, tanpa sepengetahuannya, aku berusaha mencari tahu lebih tentang dia. Salahkah aku? Salahkah aku menginvestigasi seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku? Dosakah aku menyelidiki setiap gerak-gerik orang yang aku sayangi? Naluriku berkata tidak. Anda percaya tapi bukan berarti anda harus terlihat
bodoh bukan? Teringat pesan guruku, “Tuluslah seperti merpati tapi harus cerdik bagai ular.”

Hingga di hari ketiga, aku mengakui kalau aku berusaha mencari tahu tentang dia. Dan dia amat tersinggung! Sangat tersinggung. Bahkan dia mengancam kalau akan memutuskan hubungan kami untuk sementara waktu dan saling introspeksi. Hancur hatiku. Aku tak bisa tidur semalaman dan berusaha menelan sebuah pil penenang agar aku bisa terlelap.

Apakah ini karma bagiku? Aku memang percaya karma dan selalu mempercayai akan hukum karma. Aku pernah menyakiti seseorang, aku pun akan tersakiti. Aku berusaha untuk membangun kembali hubungan kami yang baru berumur beberapa hari. Aku memohon-mohon padanya layaknya seorang pengemis cinta.

Ia menerimaku kembali. Namun sepertinya ada keterpaksaan di dirinya. Walau tak terungkap dari bibirnya, namun tertancap jelas di benakku kalau ia sudah tidak seratus persen mencintaiku.

Hari-hari selanjutnya kami lalui bersama. Baik suka maupun duka. Keributan-keributan kecil sering terjadi namun selalu bisa kami atasi dan diakhiri dengan kata cinta dan sayang.

****************************************************************************************

Minggu Kedua, Mei 2012

Aku mendapat kabar kalau akun jejaring sosialnya terblokir. Ingin rasanya aku membantunya, namun apa daya, pihak admin-lah yang memblokir akunnya. Lalu, aku tawarkan untuk membantunya membuat sebuah akun baru dengan lebih diproteksi dan terjamin keamanannya. Dan dia setuju. Tentu saja aku tahu alamat e-mail dan passwordnya. Namun, sekali lagi, aku percaya padanya dan takkan membuka ruang privacy-nya.

Kembali keisenganku berbicara. Sesekali aku membuka akun barunya namun tak ada tanda-tanda mencurigakan darinya. Hingga kembali aku mendapat kabar lagi kalau akunnya yang lama sudah bisa diaktifkan kembali.

Beberapa hari kemudian, kembali aku diberitahukan olehnya kalau akun pertamanya terblokir (lagi). Disinilah muncul sedikit kecurigaanku padanya. Mengapa akunnya lagi-lagi terblokir? Aku tanyakan padanya kode akses tersebut dan aku coba identifikasi. Belakangan diketahui ia terlalu banyak meminta pertemanan kepada setiap orang di seluruh belahan dunia dalam satu waktu yang cukup singkat sehingga dianggap “mencurigakan” oleh pihak legal dan administrasi jejaring sosial tersebut.

Aku berusaha membantunya. Dengan cara melakukan reset password. Sebelumnya, aku telah meninggalkan nomor ponselku di akun pribadinya. Karena dengan begitu aku lebih mudah melakukan reset password tanpa mengandalkan alamat email.

****************************************************************************************

Juni 2012

Hubungan kami berjalan terus dan semakin hangat. Dengan sedikit bumbu-bumbu intrik percintaan. Hingga pada suatu saat, karena kesibukanku, aku mulai jarang memberikan kabar padanya. Dan dia pun demikian. Jarang memberikan kabar. Aku pikir dia cukup sibuk dan lelah dengan pekerjaannya. Sehingga terkadang, aku enggan mengirimkan pesan singkat atau menelepon. Aku takut mengganggu dirinya di tengah kesibukannya yang kuketahui cukup padat.

Naluriku berbicara lagi. Apakah mungkin dia telah memiliki yang lain disana?  Apakah dia berbohong padaku? Apakah benar ia sibuk bekerja disana? Atau ia malah sibuk dengan kekasih barunya. Aku diambang kebingungan dan sedikit demi sedikit aku tepis segala bisikan-bisikan tersebut.

****************************************************************************************

Minggu kedua, Juni 2012

Ia menghubungiku. Dan tahukah kalian berita apa yang aku dapat? Bad news! Very bad news! Ia mengatakan bahwa ia divonis penyakit jantung! Hingga harus dilakukan rawat inap ataupun rawat jalan dengan terapi khusus jantung.

Bukan main shocknya aku. Hingga aku tak dapat berkata-kata. Harus bagaimana? Aku bukan Tuhan. Aku bukan manusia super yang bisa bermanuver di langit lalu terbang menuju ke tempatnya dan melihat kondisinya saat itu. Aku hanya mengandalkan kata hatiku. Dan aku percaya …

Mulai saat itu, aku lebih perhatian padanya. Aku selalu mengingatinya tentang makanan, kontrol ke dokter dan pengobatan. Aku cek ke akun jejaring sosialnya, memang jarang aktif. Namun, aku tidak serta merta atau dengan lancang membuka akunnya tanpa seizinnya.

Hingga pada akhirnya, aku merasakan ada kejanggalan. Oh ya, dari awal perkenalanku dengannya, ia memang tidak pernah makan nasi. Hanya makan roti dan daging. Ditambah dengan buah dan sayur. Sejak divonis menderita kelainan jantung, makanan sehari-harinya hanyalah salad, sayuran dan dada ayam rebus. Makanannya lebih mirip makanan binaraga atau atlet maupun finalis-finalis body contest yang di televisi itu dari pada seorang penderita kelainan jantung.

Aku sendiri memang menjaga pola makanku. Dan aku tahu pasti, makanan protein tinggi sangat dibutuhkan di kala pembentukan otot. Walau hingga kini, otot-ototku masih kendor. Hehehehe …

Kembali ke awal, kecurigaanku aku kubur dalam-dalam. Mungkin atas anjuran dokter juga. Lalu aku menyarankan, untuk selalu berganti menu agar tidak bosan. Yang jelas, hindari makanan berlemak tinggi dan kolesterol tinggi seperti gorengan, santan dan lain-lain.

****************************************************************************************

Minggu ketiga, Juni 2012

Keluargaku kembali dihadapkan pada masalah. Ingin sekali rasanya aku keluar dari rumahku dan tinggal dengan orang yang kucintai. Aku kembali menghubungi Indra, kekasih dunia mayaku. Hanya dialah yang bisa menjadi sandaran hatiku ketika dirundung masalah. Dan ia selalu menjanjikan, suatu hari nanti, ia akan datang ke rumahku dan membawaku pergi bersamanya. Ia juga berjanji akan menikahiku dan melangsungkan pernikahan dengannya di luar negeri.

Aku percaya padanya. Namun, aku tak berharap terlalu tinggi. Aku takut! Takut kalau itu tak menjadi kenyataan dan aku harus merasakan kekecewaan yang mendalam. Aku tak berani mengatakan padanya mengenai ketakutanku. Karena aku tahu, ia sensitif dan gampang tersinggung dengan sepatah kata yang keluar dari mulutku.

Aku menjelaskan padanya kondisi keluargaku. Dan ia merespon dengan baik. Namun, aku juga mendapat kabar buruk darinya. Ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dan ia juga mengatakan ia tidak seperti dulu lagi. Dalam artian, ia tidak sekaya dulu lagi. Aku tak mengerti apa maksudnya. Apakah ia berpikir aku ini hanya melihat kekayaan? Apakah ia berpikir aku serendah itu? Bahkan, ia selalu
menegaskan kalau ia tak pantas buatku, karena ia penyakitan dan tidak berguna.

Sekali lagi, aku bingung! Benar-benar bingung! Hatiku hancur dan aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa menulis isi hatiku di sebuah jejaring sosial dan menghilangkan kepenatan dengan iringan lagu. Saat itulah, aku mulai jarang untuk menghunginya. Begitu juga dengannya. Hanya sesekali kami berkomunikasi singkat. Hubungan kami mulai dingin!

****************************************************************************************

Minggu keempat, Juni 2012

Aku kembali ke rutinitas harianku. Iseng menggoda orang-orang di dunia maya. Semua aku lakukan untuk menghilangkan kepenatan di kepalaku. Ia juga mulai jarang menghubungiku. Aku pikir dia sudah mempunyai penggantiku.

Beberapa hari lagi, aku merencanakan akan berlibur ke sebuah kota di pulau Jawa. Menemui sebagian temanku disana. Aku juga memberitahukan rencanaku ini pada Indra. Dan ia hanya merespon secara datar. Konflik percintaanku mulai berdatangan lagi. Dia sering memperhatikan akun jejaring sosialku yang lain. Ikon jejaring khas “kicauan burung”. Aku memang sering mengaksesnya karena banyak selebriti dan public figure disana.

Rupanya, ia jarang menghubungiku karena itu. Ia selalu membaca semua timelineku dan satu hal yang membuatnya marah adalah aku sempat bercakap-cakap dengan salah seorang finalis kontes pemilihan pria bertubuh atletis. Padahal, secara logika, mustahil aku menjalin hubungan khusus dengan salah satu dari mereka. Bahkan tidak mungkin! Aku hanya sekadar meminta tips dari mereka dan mengikuti info seputar kesehatan darinya.

Tapi, ternyata hal itu membuatnya marah besar. Kecemburuannya mulai tak beralasan. Ia melarangku berolahraga dan melatih tubuhku. Ia melarangku memakai suplemen-suplemen apapun itu. Aku tak mengerti keputusannya itu. Bahkan ia mengancam akan memutuskan hubungannya denganku.

****************************************************************************************

Awal Juli 2012, Prahara

Hubunganku dengannya mungkin bisa dibilang sudah beku. Bagai es  terkubur dalam salju. Semua kontaknya tak bisa aku hubungi. Bahkan, akun jejaring sosialnya dia tutup. Aku berusaha meminta maaf dan di tengah liburanku, sedikit terganggu akan hal itu.

Beberapa hari kemudian, ia menghubungiku. Namun, aku tak mengangkatnya. Karena ada keluargaku. Aku takut, keluargaku tahu hubungan terlarang ini. Dan kembali lagi, aku dituduh melakukan perselingkuhan ketika liburan di luar kota. Aku sudah berusaha menjelaskan, namun tampaknya sia-sia. Ia terlanjur menilaiku
sedemikian buruknya.

Hingga akhirnya, ketika aku kembali dari masa liburanku, hubungan kami benar-benar pecah. Komunikasi tidak lancar. Malah terkesan jauh dari pacaran. Aku berusaha menelepon namun ia selalu berdalih sedang menjalani terapi pengobatan. Apa aku harus percaya padanya? Ya, aku masih percaya.

****************************************************************************************

Pertengahan Juli 2012

Ia menanyakan kondisi hubungan kami. Aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua ini padanya. Namun, ia seakan mendesakku untuk mengakhiri hubungan ini. Dengan berat hati, aku menerima keputusannya. Namun, aku mengajukan beberapa permintaan.

Pertama, aku ingin tahu kondisi terakhirnya lewat foto terbarunya. Kedua, aku ingin pastikan dimana dia sekarang berada. Ketiga, aku tanyakan dimana dia dilahirkan dan dimana kedua orang tuanya. Semua jawaban aku terima. Hanya satu, foto nya semakin memperkuat kecurigaanku bahwa ia sama sekali tak mengidap penyakit jantung atau apapun itu. Fotonya tampak bugar. Bahkan jauh lebih bugar dan berisi
dari sebelumnya. Aku ragu, apakah itu dia?

Komunikasi kami benar-benar putus hari itu juga. Dan aku semakin jarang bahkan hampir tak pernah menghubunginya lagi. Begitupun dengan dirinya.

****************************************************************************************

Akhir Juli 2012, Karma atau Tuhan?

Setelah sama-sama introspeksi, tapi tak ada hasilnya bagi kami. Aku pikir hubungan kami sudah diujung tanduk dan tak bisa diperjuangkan apalagi dipertahankan. Maka, aku serahkan semua padanya. Dan keputusannya tetap sama. Ia ingin mengakhirinya. Karena menurutnya, aku telah banyak berubah. Aku tak seperti dulu, sewaktu pertama kali berkenalan dengannya. Dan aku mulai bosan dengannya. Ia juga menuduhku bahwa aku hanya kasihan padanya karena telah jatuh miskin dan penyakitan.

Berbagai tuduhan aku terima. Ya, aku anggap ini karma bagiku. Karma dari keisenganku selama ini. Karena berawal dari keisengan-lah aku kenal dengannya.

Dia menegaskan kalau ia TAKKAN berpacaran atau menjalani hubungan dengan siapapun. Kembali naluriku berbicara. Apakah mungkin dia setegar itu? Aku berusaha mengecek status jejaring sosialnya, namun hasilnya nihil. Sisi baikku lenyap. Anggap saja, Tuhan tak berpihak padaku. Lalu, dengan membuang semua sisi baikku, aku mengerahkan segala kebencianku dan segala amarahku dari tuduhan-tuduhannya selama ini. Aku mengumpulkan semua emosi yang ada dan setan mulai memperkuat naluriku!

Aku teringat kalau aku pernah meninggalkan nomor ponselku di akun jejaring sosialnya. Dan aku melakukan hacking atas akun pribadinya itu. Aku menerobos ruang privasinya. Dan wow! Aku menemukan sebuah kenyataan yang mengejutkan!

Tak berapa lama sejak dia memutuskan hubungan kami, ia menjalani hubungan dengan seorang pria dari negeri Jiran. Secepat itukah dia jatuh cinta? Bahkan kalimat-kalimatnya semua menjijikkan! Penuh nafsu bukan cinta. Bahkan penuh dengan kata-kata manja. Denganku ia tak pernah berkata-kata seperti itu. Bahkan terasa enggan. Membahas masalah sex saja denganku, harus aku yang memulai. Tapi, ini tidak! Dengan pria yang mungkin lebih tua darinya itu, ia MANJA, KEKANAKAN, NAFSU dan KALIMAT JOROK yang bertubi-tubi.

Mata hatiku terbuka sudah. Ia tak sesuci yang aku bayangkan. Ia tak sesempurna yang aku bayangkan. Selama ini, aku menganggap dialah yang paling sempurna dari mantan-mantanku atau orang yang pernah hinggap di hatiku. Apa ini karma buatku? Apa ini tamparan bagiku?

Aku putuskan untuk mengganti kode aksesnya dan mulai menjalankan aksi jahatku. Aku mencaci pria asing itu. Aneh memang, padahal Indra bukan kekasihku lagi. Namun, amarahku tak bisa dibendung. Hingga akhirnya, aku memberikan peringatan kepada orang itu agar berhati-hati dengan setiap perkataan Indra. Karena dia bukan orang baik-baik dan setiap perkataannya tidak sepenuhnya jujur. Bahkan tentang penyakitnya, tentang terapinya di sebuah kota, itu semua BOHONG!

Akhirnya, aku non-aktifkan akun pribadinya Indra. Keduanya sekaligus! Dan seumur hidup aku takkan melupakan kebohongannya yang begitu menyakitkan itu.

Begitulah hubungan jarak jauh. Kita tak pernah tahu apa, siapa dan bagaimana pasangan kita. Satu kalimat untuk anda, ikuti kata hati dan naluri anda. Karena itulah yang paling benar.

Dan aku yakin, ketika dia membaca tulisan ini, ia akan meyakinkan kepada semua orang kalau ia benar dan aku yang salah. Tapi, setidaknya aku masih percaya Tuhan dan berani bersumpah. Dan mungkin dia tidak.