Harus mulai dari mana ya? Dari awal saya bisa dapetin novel ini aja ya, e-book ini, saya ralat. Saya bukannya nggak kenal Dewi “Dee” Lestari, sama seperti semua visitor blog ini, saya yakin. Saya tau Dewi dari jaman saya SD apa SMP gitu, pas dia masih gabung di trio RSD. Saya juga tau karir menulisnya yang melejit sejak Supernova, tapi jujur, saya belum pernah sekalipun membaca series Supernova yang manapun, hehehe..

Begitu juga tentang novel ini, Perahu Kertas, saya sempat mendengar sebelumnya. Kemudian, beberapa bulan yang lalu – berdasarkan date modified file ini di laptop saya, tepatnya bulan Juni – seseorang bercerita pada saya bahwa dia mendapat kiriman e-book Perahu Kertas dari seorang teman, yang belum sempat dia baca karena kesibukannya menulis. Penasaran, saya akhirnya googling dengan keyword Perahu Kertas, Dee, pdf dan tadaaaa.. muncul link dan begitu gampangnya langsung bisa didonlot. Kalo nggak salah, versi e-book ini emang lebih dulu publish daripada versi cetaknya.

Perlu saya kasih tau sebelumnya, saya punya kebiasaan jelek, yaitu numpuk file di laptop. Jadi maksudnya, saya suka sekali hunting movies, series, manga, e-book atau apalah itu yang saya mau, dan suka keukeuh, harus dapet kalo udah pengen. Tapi sekalinya udah dapet, saya diemin gitu aja di hard disk, sampe hard disknya hampir penuh, baru deh.. saya urutin date modified-nya, trus mulai dibuka dari yang tertua, mulai ditonton sebelum akhirnya dipindah ke DVD, seringnya sih movie ya.. Kebiasaan buruk kan? Banget, padahal saya nggak punya kesibukan nulis yang menyita waktu kaya pemilik blog ini, hihihi.. Bukan berarti saya suka menyia-nyiakan apa yang udah saya dapet dengan susah payah ya.. Tapi saya udah ngerasa tenang aja dengan memiliki “mereka”.. Ya udah, lupakan, jadi kaya curhat gini..😀

Jadi, apa yang membuat saya kemudian mulai membaca e-book ini, kemarin tepatnya, 14 Agustus 2012, setelah 2 bulan lebih filenya terbengkalai di laptop? Nggak lain dan nggak bukan adalah, karena saya abis nonton trailer film dengan judul yang sama. Yup, novel ini akan diangkat ke layar lebar yang tayang perdana besok, 16 Agustus 2012. Saya suka banget film yang based on novel macem gini, ya.. meskipun yang pernah saya tonton sekaligus baca masih dalam hitungan jari.. Dan kebiasaan saya lagi adalah, saya selalu compare antara versi visual dan versi tulisannya, mana yang lebih “mencuri hati”, seperti The Kite Runner waktu itu.. Berhubung saya nggak mungkin nonton dulu (nasib tinggal di kota kecil yang udah nggak punya 21.. :-(), jadi mulailah saya kencan dengan kacamata, laptop, dan hp, menghabiskan waktu kurang dari 12 jam untuk mengikuti perjalanan Perahu Kertas dalam rangkaian kata Dee sebanyak 434 halaman, horrayy..

Kugy adalah seorang cewe yang sangat suka berkhayal dan bercita-cita menjadi juru dongeng, cita-cita yang selalu ditertawakan oleh semua orang di sekelilingnya, karena dianggap terlalu konyol untuk cewe seusianya. Kugy sadar itu, sifat pengkhayalnya memang nggak realistis, nggak akan bisa menghasilkan uang, itu sebabnya Kugy berhenti bersikap idealis, berharap kelak akan menekuni profesi lain sebagai batu loncatan untuk kemudian meraih mimpinya sebagai juru dongeng.

Pandangan Kugy berubah ketika bertemu Keenan, seorang cowo blasteran Belanda yang jenius, mahasiswa Ekonomi yang sangat mencintai melukis. Keenan membuat Kugy yakin bahwa dia bisa meraih mimpinya, bahwa dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Keenan sangat menyukai dongeng-dongeng yang dibuat Kugy, bahkan dengan sukarela membuatkan ilustrasi untuk semua buku dongeng yang dibuat Kugy. Keenan sangat memahami Kugy, bahkan melebihi Joshua, pacar Kugy. Saat Kugy bercerita tentang khayalannya sebagai agen Neptunus dan kebiasaannya dari kecil mengirim surat untuk Neptunus dalam bentuk perahu kertas yang dihanyutkan untuk menuju laut, Keenan sama sekali tidak menganggapnya konyol. Keenan bahkan mengaku mereka sesama agen Neptunus, karena zodiac mereka sama-sama Aquarius, itulah sebabnya mereka saling memahami, karena sama-sama memiliki radar Neptunus.

Chemistry antara Keenan dan Kugy menumbuhkan perasaan lain di hati mereka. Tapi semua tertahan dalam lingkaran persahabatan, karena masih ada Joshua, karena kemunculan Wanda. Dan semua mulai porak poranda, berusaha kabur dari perasaannya terhadap Keenan mengubah Kugy yang ceria dan lepas menjadi murung dan menutup diri. Keenan tidak lebih baik, kehadiran Wanda sang kurator muda yang cantik jelita telah membuatnya mengambil keputusan besar dalam hidup yang justru mengacaukan semuanya, lepas dari sokongan papanya dan berhenti kuliah.

Perpisahan dalam kurun waktu bertahun-tahun tidak lantas membuat perasaan keduanya mereda, bahkan setelah Keenan bertemu Luhde, gadis Bali yang ayu, yang mengademkan jiwanya hingga bisa kembali melukis. Keenan bangkit lagi, melukis indah dengan dongeng ciptaan Kugy sebagai inspirasinya, tapi bagaimana jika dongeng itu akhirnya habis? Keenan kembali hilang arah.. Sementara Kugy bertemu Remi, bos besar di tempat dia magang kerja, cowo dewasa teman baik kakaknya yang mampu membuat hatinya memilih lagi, meski belum sepenuhnya menghapus Keenan. Keenan dan Kugy akhirnya bertemu lagi, dalam situasi yang tidak lebih mudah dari sebelumnya..

Novel ini bagus banget, saya nggak bisa berhenti membaca halaman selanjutnya.. selanjutnya.. selanjutnya lagi, sampai akhirnya habis. Saya sempat berkaca-kaca di beberapa bagian. Ceritanya sangat remaja sekaligus dewasa, karena setting waktunya terjadi selama usia akhir belasan hingga awal dua puluhan. Cerita tentang persahabatan, keluarga, cinta, harapan, mimpi dan cita-cita. Lucu, manis, konyol, indah, dan mengharukan, semua ada di novel ini. Nyesek rasanya mengetahui kalo cinta bisa berdampak sebegitu dahsyatnya pada seseorang. Saya sempat iri pada tokoh Kugy, dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri yang lepas dan cenderung acak-acakan untuk disayangi cowo-cowo baik, hehehe.. Sekilas, dengan cara berbeda, novel ini mengingatkan saya pada teenlit Cintapuccino yang pernah diangkat ke layar lebar juga, betapa dua tokoh utamanya harus melewati jalan berliku, susah payah, sebelum akhirnya bisa bersama..

Apakah ada line bagus dalam novel ini? Hohoho.. buanyak buanget.. bahkan isi surat Kugy dalam perahu kertasnya selalu membuat saya menahan nafas menahan haru. Saya tulis yang saya paling suka deh ya..

Ini line dari surat ucapan ulang tahun Kugy untuk Keenan yang diselipkan dalam buku dongengnya, tertunda untuk diberikan selama bertahun-tahun :

 

Hari ini aku bermimpi.

Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.

Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini,

aku merasa mimpiku semakin dekat.

Belum pernah sedekat ini.

Hari ini aku juga bermimpi.

Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.

Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.

Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.

Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini.

Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat,

segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar.

Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

Selamat Ulang Tahun.

Dan line yang ini, kalimat Remi ketika merelakan Kugy :

“Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.”

Huhuhu.. panjang ya, review saya kali ini.. semoga nggak menyakiti mata karena ke-nggak penting-annya.. Dan ini belum selesai, kekeke.. Soal filmnya, diarahkan oleh sutradara Hanung Bramantyo, diperankan oleh artis-artis muda yang beberapa terbilang baru (atau saya yang nggak ngeh sama mereka ya?) Kugy diperankan oleh Maudy Ayunda, Keenan oleh Adipati Dolken (ketemu lagi ni berdua, habis film.. Malaikat Tanpa Sayap kan ya??), Remi oleh Reza Rahadian (I love his voice, I love the way he speaks!! :lol:). Ada yang belum nonton trailernya? Disini ya.. Sebenernya menurut saya, berdasarkan panggilan sayang Keenan untuk Kugy, si Maudy nih kurang mungil buat memerankan Kugy, hehehe.. Tapi nggak papa, saya tetep excited buat nonton, tapi kapaaaannnn yaaaa..😦 Semoga scene-scenenya nggak jauh-jauh dari novelnya..

Dan… (lagi), hehehe.. Ada yang udah tau Soundtrack film ini? Performed by Maudy Ayunda. Karena saya sedang syndrome Perahu Kertas, maka seandainya Maudy nyanyi live, bibirnya pasti jontor dan tenggorokannya kering karena lagu ini saya play berulang-ulang di laptop dan di hp, hihihi.. Berasa Malaikat Juga Tahu banget, karena Dee yang nyiptain lagu ini.. sebenernya saya suka lagu ini karena easy listening. Lirik yang manis, itu bonus..🙂 Dengerin disini ya.. And check this one out..

Perahu kertasku kan melaju, membawa surat cinta bagimu..

Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya..

Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaib hidup ini..

Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri..

Hidupkan lagi mimpi-mimpi.. cita-cita..

Yang lama kupendam sendiri..

Berdua, ku bisa percaya..

 

Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia..

Dan kau ada di antara milyaran manusia..

Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu..

 

Tiada lagi yang mampu berdiri..

Halangi rasaku, cintaku padamu..

Selesaiii.. yang besok nonton perdananya, bagi-bagi cerita ya..😦