an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

PENGGALAN POKET 6 :

Aku gak bakal menang dengan Mak Lampir ini, ilmunya lebih serem dari keahlian lidahku. “Lupa ya kalau adikmu ini gak pernah tepat waktu makan sahur?”

“Justru karena aku ingat itu makanya aku nelpon. Biasanya kan kamu masih mendengkur jam segini. Tumben pagi ini cepat, Ummi membakar petasan di kamarmu?”

“Ini sudah hampir imsak, jelaslah aku sudah bangun.”

“Kalau sudah dekat imsak ngapain masih ngobrol…”

Ya Tuhan… dia yang nelpon, trus dia yang punya kepentingan kenapa aku yang tak punya salah ini jadi bulan-bulanan? “Nanti siap subuh aja deh Kak Aira nelpon lagi…”

TUUUUUTT TUUUTT

***

POKET 7

Yazir datang lagi ke rumah. Aku sedang bersama Syawal dan Haikal di teras saat motor Yazir memasuki pekarangan. Dia tampak keren dengan kemeja dan denim belel. Apapun pakaian yang melekat di badan Yazir pasti akan terlihat bagus walau yang dipakainya adalah baju karung goni sekalipun.

“Itu kakak cakep yang Ikal ceritain hari itu…” Haikal berhenti dari kepingan puzzle-nya dan beringsut untuk berbisik pada Syawal.

“Hemm…” Gumam Syawal, kemudian dia melirikku.

Aku tahu makna lirikannya itu. Pasti begini; Kak Aira belum pulang kan? Pasti dia mau ngajak kamu pergi. Aku berdehem. “Paling dia mau ketemu Ummi.”

Kening Syawal bertaut. “Aku rasa, Kak Aira hanya alasannya saja untuk memuluskan niat utamanya bisa dekat kamu…”

Aku mendelik. “Tuduhan gak berdasar.”

“Kak Ibar sama Kak Idan kenapa?” Haikal memandangiku dan kakaknya bergantian.

“Kakakmu pengen makan sandal jepit Kak Idan…” Aku sangat tidak suka dicemburui tanpa alasan yang masuk akal.

Haikal melongo, dari menatapku kini dia menoleh pada kakaknya dengan pandangan ingin tahu.

“Apa?” Syawal sedikit ketus.

“Kak Ibar doyan sandal jepit? Makan punya Ikal juga dong, biar nanti dibeliin yang baru sama Mama…”

I love Haikal so much. Kuacak rambutnya sambil tertawa. Syawal melotot besar pada Haikal. Yazir sudah turun dari motor, sekarang dia menuju ke arah kami dengan senyum menyeruak di wajah. Yazir tidak datang sendiri, dia menjinjing sesuatu di tangan kanannya.

“Wah, sedang rame nih…”

“Cuma tiga orang aja, apanya yang rame…” Tebak siapa?

Yazir memberi cengirannya buat Syawal. “Ramelah… biasanya cuma Didan aja.” Katanya sambil naik ke teras.

Syawal langsung melirikku begitu mendengar jawaban Yazir. Lagi, aku tahu arti lirikannya. Pasti begini ; Sejak kapan makhluk sok kecakepan ini manggil kamu Didan? Aku menggeleng untuk Syawal. Bukan bermaksud ‘aku tidak tahu’ karena aku tahu kapan tepatnya Yazir memanggilku begitu, tapi lebih kepada isyarat agar Syawal tidak bertingkah sinis gak jelas kepada Yazir. Kasihan anak orang gak punya salah apa-apa malah diketusin.

Syawal kembali memandang Yazir yang sekarang sudah ikut duduk bersama kami. “Biasanya? Datang ke sini juga baru dua kali ini…”

Yazir tertawa. “Walaupun cuma dua tiga kali, tapi aku sudah mulai terbiasa kok dengan rumah Didan…”

Aku harus menghentikan percakapan tidak penting ini. “Ada apa, Zir? Trus itu apa?” Aku menunjuk kantong yang dibawanya. “Parcel lebaran buat Kak Aira ya?” Sengaja aku membawa-bawa nama Kak Aira, mungkin dapat sedikit mendinginkan hati Syawal.

“Bukan…” Jawab Yazir sambil tersipu. “Ini, mamaku tadi bikin cake. Terus saat aku bilang kalau hari ini mau buka puasa di rumah kamu dibekalin deh.”

Ya Tuhan. Apa yang baru saja dikatakannya? Buka puasa di rumahku? Kenapa dia tidak memberitahukanku lebih dulu? Aku kaget dengan jawaban Yazir, kulihat Syawal juga tak kalah kaget. Sedang Haikal terlihat kelelahan karena harus menolehkan kepalanya ke arah mulut siapa saja yang terbuka antara aku, Syawal dan Yazir sudah sedari tadi. Entah apa yang mendorongnya berbuat begitu –mungkin otak kanak-kanaknya yang sedang berada dalam fase selalu ingin tahu.

“Buka puasa di sini?” Tanyaku masih kurang percaya.

“Iya.” Jawab Yazir cepat.

“Kok gak kasih tahu lebih dulu?”

“Gak boleh ya?” Yazir terlihat kecewa.

“Tentu saja gak boleh. Rumah Didan bukan mesjid, dimana siapa saja bebas berbuka di sana.”

Aku melotot pada Syawal, sore ini sisi devil-nya lebih dominan. “Emm… boleh kok Zir, Ummi pasti senang.” Yazir kembali ceria setelah mendengar jawabanku.

“Aku juga mau buka puasa di sini!”

Yazir memandang aneh pada Syawal. Aku sendiri sudah mulai menggigit-gigit gigiku. Sungguh, sikap Syawal memancing kecurigaan.

“Rumah kamu yang itu kan, Wal?” Kata Yazir sambil menunjuk ke arah rumah Syawal. Entah apa maksudnya. Mungkin menurutnya, Syawal terlihat berlebihan jika berbuka puasa di rumahku sementara rumahnya sendiri tepat berada di depan sana.

“Trus kenapa memangnya? Kamu mau membakar rumahku?” Syawal sedang error.

“Engga sih, cuma… rumahmu kan dekat tuh…”

“Trus kalau rumahku dekat sama rumah Didan, aku gak boleh gitu kalau mau ikut berbuka di sini?” Syawal memelototi Yazir. “Lagian kenapa juga kamu yang keberatan, Didan yang punya rumah aja gak menolak.” Kemudian Syawal memandangku. “Aku boleh berbuka puasa di sini kan, Dan…?”

Hadeh. Berasku habis deh kalau begini. Aku mengangguk pada Syawal. “Iya…”

“Tuh… gak masalah kan?” Kata Syawal pada Yazir.

“Baguslah. Makin rame makin asik kan…”

“Kak Idan, Ikal juga mau buka puasa di sini!” Cetus Haikal tiba-tiba.

“Kamu kan gak puasa, Kal…” Jawab Syawal. “Di rumah aja sama Mama!”

“Pokoknya Ikal mau buka puasa di sini!” Haikal ngotot, kepingan puzzle yang sedari tadi berada dalam tangannya kini berhamburan menyerang muka kakaknya. Syawal bernapas putus asa.

Yazir terbahak. “Eh, Ikal gak boleh gitu sama kakaknya. Berdosa loh…” Yazir berucap lembut sambil mengelus kepala Haikal. Bocah itu merunduk malu-malu dielus Yazir.

“Iya, Ikal juga boleh buka puasa di sini.” Kataku.

“Tuh, aman kan… Ikal udah dibolehin tuh sama Kak Idan, bilang apa?” Yazir masih lembut seperti tadi.

“Makasih Kak Idan…”

“He eh… jangan lupa bilang sama Mama ya?” Kupandang Syawal, wajahnya masih dongkol. “Aku bilang Ummi dulu deh kalau kalian berbuka di sini.”

“Biar aku yang bilang, Dan… sekalian ngasih ini nih…” Yazir bangun dan segera menuju pintu.

“Ummi sepertinya masih di ruang jahitnya…” Seruku.

“Belum masak?” Yazir sudah menguak daun pintu.

“Bentar lagi mungkin.”

Yazir mengangguk dan langsung masuk ke dalam. Semoga Abah dan Ummi gak keberatan aku mengizinkan mereka berbuka di rumah. Jujur, aku merasa khawatir kalau Abah tidak akan suka.

Setelah Yazir menghilang di balik pintu, Syawal memandangku. “Aku gak suka dia sering kemari…” Desisnya.

Kenapa dia tak bisa percaya juga kalau Yazir kemari karena naksir Kak Aira? “Berapa kali lagi aku harus bilang, Bar? Kamu salah tafsir tentangnya…”

“Apapun, aku gak suka kamu akrab sama dia! Biarpun bukan kamu yang diincar, tapi bisa saja kamu condong padanya dan mengikis aku dari hatimu…” Syawal memungut semua serakan puzzle Haikal dengan gerakan cepat. “Pulang, Kal. Mandi dulu!”

Haikal memandang bingung, tidak mengerti dengan percakapan kakak-kakaknya, matanya masih liar memandang antara aku dan Syawal. Aku tak menjawab lagi, kupandangi Syawal yang menyeret tangan Haikal turun dari teras. Marahkah dia? Aku khawatir.

Kalimat Syawal mengiang lagi di telingaku. Bisa saja kamu condong padanya dan mengikis aku dari hatimu. Kalimat itu… membuatku merenung. Benarkah seperti itu? Apakah aku lebih menyukai sosok Yazir ketimbang Syawal? Aku mulai merasa kalau Syawal berhak khawatir. Yazir punya kelebihan di atasnya. Sekarang, aku mulai bisa menerima kecemburuan Syawal. Aku patut berbangga diri memiliki seseorang seperti dia, seseorang yang benar-benar takut kehilangan orang yang dia cintai.

Kembali aku ingat saat membohonginya waktu itu. Syawal percaya memang saat aku mengatakan kalau sudah jadian dengan Yazir. Dia terlihat mengikhlaskanku demi kebahagianku katanya, tapi aku jelas melihat luka di matanya waktu itu.

Sejak saat ini aku bertekad, setampan dan sesempurna apapun laki-laki yang mendekat padaku, aku tak akan condong padanya. Hanya pada Syawal, hanya Syawal satu-satunya.

***

Ummiku senang anak-anaknya ikut berbuka di rumah –Syawal dan Haikal adalah anak-anaknya juga. Ummi juga senang Yazir datang dari rumah dengan niat hendak buka puasa bersama kami. Abah juga menyambut baik Yazir, bukan karena temanku itu datang membawa cake kurma (kurma adalah makanan kesukaan Abah) tapi lebih karena Abah senang ada orang yang berbuka puasa di rumah. Memberi makan orang yang berpuasa sungguh sangat besar kebajikannya. Abah bilang begitu ketika Yazir menyalaminya saat pulang kerja dan langsung mengutarakan maksudnya bahwa ingin berbuka di rumah kami. Kak Aira benar tentang Yazir, segala obrolan pasti nyambung sama dia. Menunggu buka, dia dan abahku duduk di depan tivi sambil mengomentari siaran berita yang didominasi kasus korupsi.

Syawal datang bersama Ikal sepuluh menit menjelang buka, bertepatan dengan deru motor Bang Ikhwan. Syawal membawa sepiring penuh onde-onde. “Titipan Mama…” Begitu katanya saat menyerahkan piring penuh putih parutan kelapa muda itu pada ummiku yang diterima dengan suka cita, tentu saja. Hari ini kami tak membeli kue di Pasar Ramadhan. Abah pasti tak akan keberatan.

Sekarang kami duduk melingkar di meja. Haikal sudah ditawari bermacam-macam penganan oleh Ummi sejak tadi, tapi bocah itu terus menggeleng. “Belum bedug Ummiiii…!” Begitu seru Haikal tiap Ummi menawarinya sesuatu.

“Wah… Ikal puasa ya?” Cetus Bang Ikhwan ketika menarik kursinya. Dia baru bergabung karena harus mandi pulang dinas tadi.

Haikal mengangguk dengan bangganya. “Iya Kak Iwaaaan…!” Padahal baru tadi sore dia mengunyah sosis ketika bermain puzzle di terasku.

“Hebat anak Abah…” Abah mengelus kepala Haikal yang duduk diantaranya dan Ummi. Bocah itu memamerkan giginya buat Abah.

Aku melirik Syawal di sampingku, dia diam. Sejak tiba tadi, Syawal tidak menyapaku sepatah katapun. Aku menduga dia masih merasa marah padaku, sedikit. Atau kesal barangkali. Atau sengaja mendiamkanku untuk memberi kesan kalau dia tidak main-main dengan perkataannya tadi sore kalau dia tak suka aku akrab dengan Yazir. Ah biarlah, nanti juga pasti balik lagi sifat usilnya.

DUUGG DUUUGGG DUUGGG

“HOREEEEEE….!!!”

Haikal langsung bersorak saat bedug berbunyi dari surau dan mesjid, tangannya terangkat tinggi-tinggi kiri kanan, hampir saja menyerobot lepas kerudung Ummi jika tidak segera dipegangi.

“Ikal, berisik ahh…” Syawal menegur.

Bang Ikhwan memimpin doa, lalu seperti biasa setelah meneguk sirup dia langsung menarik piring dan mengisinya. Tak ada yang bersuara, hanya celotehan Haikal saja yang terdengar sesekali ditingkahi suara Ummi yang meladeninya. Walau sempat merasa khawatir tadi sore kalau Abah akan keberatan –ternyata tidak, buka puasa kali ini sungguh indah terasa. Memang tidak seindah itu karena Syawal masih saja memberengut tiap beradu pandang denganku. Tapi setidaknya itulah yang kulihat dirasakan keluargaku, sukacita. Abah yang sesekali mengulum senyum karena ucapan-ucapan Haikal, Ummi yang gembira walau tangannya sibuk menjangkau ini itu  yang ditunjuk si bocah dari atas meja, juga Bang Ikhwan yang sore ini bisa menghabiskan isi piringnya sebelum shalat magrib. Abah tidak buru-buru sore ini, mungkin karena ada tamu jadi Abah sedikit melonggarkan aturannya.

***

Syawal sungguh-sungguh mendiamkanku. Pagi ini, kami berangkat sekolah dalam kebisuan. Dia memang menungguku seperti biasa di depan rumah. Aku menyapa ketika siap naik ke boncengan skuternya tapi dia hanya melengos. Sepanjang perjalanan aku sengaja memeluk pinggangnya lebih rapat dari biasanya –walau aku sadar itu tak boleh, tapi dia cuma diam saja.

Di kelas, aku juga dikacangin olehnya. Hampir sepanjang jam belajar kami tak berkomunikasi. Tak tahan, saat jam terakhir aku mengambil langkah untuk mengajaknya bicara. Kupandangi Bu Tata yang sedang menjelaskan mengenai parafrase puisi. Tangannya sibuk menuliskan frase-frase tambahan pada puisi yang sudah disalin sebelumnya di papan tulis sambil sesekali menjelaskan dengan lisannya.

Aku membuka halaman terakhir buku catatanku. SORRY. Kutuliskan kata itu di dua baris pertama lembar bukuku lalu kusodorkan ke hadapan Syawal yang sedang menatap lurus ke papan tulis –memperhatikan bokong seksi Bu Tata mungkin. Tidak, Syawal tidak boleh memperhatikan bokong seksi siapapun selain punyaku.

Syawal menunduk ke bukuku, memandangnya sebentar lalu tangannya bergerak. Buku itu disodorkannya lagi padaku. Aku membeliak, kata SORRY yang tadi kutuliskan kini dikembalikan dalam keadaan tercoret. Kata maafku ditolaknya. KENAPA DICORET? Aku menulis begitu di bawahya lalu kusodorkan lagi.

Tak lama buku itu kembali menyeberang ke depanku. Sama, kalimat tanyaku juga dipulangkannya dalam keadaan tercoret. Aku tak mau menyerah. KENAPA DICORET LAGI??? Kali ini dengan tiga tanda tanya sekaligus. Segera kudorong buku itu ke depan Syawal. Ditatapnya beberapa lama, lebih lama dari dua kesempatan sebelumnya. Aku sudah mulai senang, pasti Syawal akan menuliskan sesuatu. Semisal, AKU TAK BISA HIDUP TANPAMU atau AKU JUGA MINTA MAAF KARENA TELAH BERSIKAP KEKANAK-KANAKAN SEJAK KEMARIN. Atau untuk menjawab pertanyaan yang kutuliskan semisal CORETAN ITU TANDA AKU CINTA.

Jari-jari Syawal bergerak lagi di atas buku, kemudian buku itu kembali menempuh perjalanan menujuku. Aku terbelalak, alih-alih mendapatkan jawaban seperti yang kupikirkan, jawaban yang tidak kupikirkan pun tak kudapatkan di buku ini. Sebaliknya, coretan Syawal meningkat jumlahnya hingga tiga kali lipat di satu kalimat, setara dengan jumlah tanda tanya yang kutuliskan di ujung kalimat tersebut.

Aku menghembuskan nafas putus asa. Saatnya aku menyerah, kurobek lembar terakhir buku catatanku itu lalu kuremas dan kugumpal penuh geram sebelum kubanting ke bawah meja.

“Ada masalah, Ramadhan?”

“Hah?”

Aku kaget, Bu Tata sedang memperhatikanku. Apakah dia melihat saat aku merobek lembar bukuku dan saat lembar buku itu kubanting ke bawah meja?

“Ada masalah dengan buku catatanmu?” Bu Tata berjalan ke mejaku sekarang.

Gawat kalau sampai Bu Tata memeriksa catatanku, aku belum menuliskan satupun puisinya yang sudah diberi frase tambahan itu. “Eng.. engga Bu…” Aku gugup. Meski masih muda dan manis –bahkan belum menikah, tapi guru Bahasa Indonesia kami ini bisa lebih mengerikan daripada ibu tiri kalau sedang bad mood.

“Kenapa bukunya dirobek? Kamu tidak suka dengan jam pelajaran Ibu?”

Mampus. Sudah merembes nih masalahnya, dari merobek buku –meski yang kurobek adalah bukuku sendiri dimana Bu Tata gak rugi seujung rambut pun karena bukan dia yang beli- menjadi vonis menyeramkan kalau aku tak suka mata ajarnya. Hari ini adalah hari naasku. Dicuekin pacar sendiri dan dituduh yang tidak benar oleh Bu Tata. Tak ada yang lebih naas dari itu sejauh ini.

“Bukan, Bu…” Aku memijit-mijit pulpen di tanganku, tak tahu kalimat lanjutan yang tepat untuk kuajukan agar Bu Tata kembali lagi ke depan papan tulis dan memberikan bokongnya untuk kami tatap kembali.

Bu Tata semakin tajam memandangku. Aku yakin, sekarang aku sedang jadi pusat perhatian seluruh kelas. Sepertinya Bu Tata hari ini sedang tidak berpuasa, terbukti dia tak berpantang terhadap rasa marah seperti seharusnya orang yang sedang berpuasa menahan amarahnya.

“Tadi buku catatan Ramadhan saya coret-coret, Bu…”

Aku menoleh pada Syawal yang berbicara tenang di sampingku, Bu Tata Juga menatapnya sekarang. “Kenapa?” Tanya Bu Tata.

“Iseng saja, Bu… Rupanya Ramadhan kesal dan merobek lembar bukunya yang saya kerjain. Begitu, Bu.”

Rasanya aku ingin memeluk Syawal detik ini juga.

Bu Tata menghela nafas, kemudian dia menyerahkan spidol di tangannya pada Syawal. “Tuliskan frase-frase yang tepat untuk puisi di papan tulis sana!”

Gara-gara aku, Syawal yang harus menerima hukuman, meskipun bukan hukuman berat. Aku tahu betapa cintanya Syawal pada pelajaran ini. Menuliskan frase penyambung pada puisi pasti bukan perkara sulit baginya. Syawal mendorong bingkai kacamatanya lalu segera bangun menuju papan tulis.

“Ramadhan, lain kali jangan izinkan buku catatanmu jadi korban keisengan siapapun!” Ujar Bu Tata lembut sebelum berjalan ke mejanya. Sepertinya Bu Tata sudah kembali berpuasa.

Aku mengangguk pada Bu Tata. Kupandangi punggung Syawal yang sedang menulis di depan sana. I love him so much. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Syawal untuk mengerjakan bait-bait puisi yang sudah diberi space oleh Bu Tata sebelumnya. Setelah mengembalikan spidol pada Bu Tata, Syawal kembali ke bangku.

“Trims…” Bisikku sangat pelan saat dia sudah kembali duduk tegak.

“Aku hanya melaksanakan fungsiku untuk menjagamu…” Bisiknya tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Itu saja sudah cukup. Meski dia tak memandangku setidaknya dia meresponku. Dan responnya itu sungguh membuatku makin terharu. Aku hanya melaksanakan fungsiku untuk menjagamu. Fungsiku. Ya Tuhan, fungsi seorang kekasih adalah untuk menjaga kekasihnya. Saling menjaga satu sama lain, begitulah layaknya mereka yang berkasih-kasihan. Syawal adalah kekasih terhebat bagiku.

***

“Bar, masih kesal denganku ya?” Aku memeluk pinggang Syawal seperti saat berangkat tadi pagi.

Syawal tak menjawab, skuternya melaju perlahan di jalanan. Kami sudah menempuh setengah perjalanan pulang.

“Aku sangat berterima kasih untuk yang tadi, sungguh aku sangat tertolong.”

Masih diam. Apapun, pusat permasalahan Syawal adalah satu, Yazir.

“Aku gak tahu bagaimana caranya membuatmu yakin bahwa aku sama-sekali tidak merasa tertarik dengan Yazir.”

“Maka kamu gak perlu membuatku yakin…”

Aku tersenyum di belakangnya. Kueratkan lenganku di pinggang Syawal. “Tapi aku harus! Sebutkan saja bagaimana caranya…”

Syawal diam.

“Aku mencintaimu, Bar. Sangat. Gak ada satu orang pun yang bisa membuatku tertarik seperti aku tertarik padamu. Lalu Yazir… yakinlah, dia menyukai Kak Aira, bukan aku.”

“Aku tau dia suka Kak Aira…” Syawal Diam sebentar, aku menunggunya bersuara lagi. “Entahlah… mungkin aku terlalu bersikap kekanak-kanakan dalam pandanganmu…”

Aku menggeleng di belakang Syawal, walau aku tahu dia tak melihatnya.

“Aku hanya takut kehilanganmu, Dan. Aku takut jika kamu sering bersama dia, akan timbul rasa suka di hatimu padanya. Itu yang aku takutkan, hatimu mendua… Walau kamu meyakinkanku bahwa dia tidak mungkin memiliki perasaan lebih padamu. Tapi perasaanmu padanyalah yang aku cemaskan…”

Kusandarkan daguku di bahu Syawal. Meski kata-katanya terdengar berbelit, tapi aku mengerti. Dia hanya tak mau ada orang lain di hatiku, walau hanya sebatas suka.

“Bisakah, Dan… hanya aku saja?”

“Hemm…”

“Bisakah kamu menjaga perasaanmu hanya untukku saja?”

“Aku janji.”

“Walau suatu saat nanti Yazir bilang cinta padamu.”

“Dia tidak akan melakukannya.”

“Berjanji saja!” Syawal sedikit mengeraskan suaranya.

“Aku berjanji gak akan punya perasaan suka apalagi cinta kepada Yazir walau suatu saat entah kapanpun itu dia mengatakan cinta padaku.” Lengkap sudah.

Tanganku dikecup Syawal. Kubiarkan saja, toh jalanan sepi. Kami sudah memasuki jalan yang melintas di areal persawahan, tempat dimana dulu Syawal pernah menciumku ketika pulang dari membeli peci. Sekarang satu tangan Syawal ikut bertumpu bersama tanganku di perutnya.

“Jadi… kita damai?” Bisikku kemudian

“Kita tidak pernah berseteru.”

“Tapi kamu mendiamkanku dari kemarin.”

“Tidak, aku tidak mendiamkanmu.”

“Kau melakukannya.” Tukasku cepat.

“Aku hanya tidak menyapamu, itu saja.”

Aku mendesah.

“Buktinya sekarang kita sedang bicara, aku tidak mendiamkanmu.”

“Kemarin sampai tadi kamu mendiamkanku!” Aku mulai jengkel.

Syawal tertawa. “Hanya mulutku yang diam, tapi hatiku terus menjawabmu. Hatiku terus berbicara padamu… percayalah sayang!”

“Gombal.”

Yes, I am…” Tanganku dikecupnya lagi.

***

Aku melihat Abah berbincang dengan Bang Awi di mesjid. Momen langka. Ini yang pertama kalinya. Entah apa yang diperbincangkan mereka, tapi sepertinya bukan perihal serius. Bang Awi bicara sambil sesekali tersenyum simpul sementara abahku malah beberapa kali kulihat terbahak. Mereka tidak berdua, ada beberapa orang lain yang duduk bersama mereka di satu pojokan mesjid.

Masih banyak jamaah yang memilih duduk berkelompok di dalam mesjid setelah ceramah agama selesai. Ini adalah ceramah Ramadhan ke sembilan kali di mesjid kami menjelang masuk sepuluh akhir puasa. Banyak mesjid yang tiap malamnya setelah shalat taraweh pasti akan diisi dengan ceramah agama, tapi sejauh ini mesjid di kawasan tempat tinggalku baru mencatat sembilan nama penceramah. Sembilan nama itulah yang mengisi agenda Ramadhanku dan Syawal.

“Abahmu mulai akrab sama Bang Awi, ya.” Ucap Syawal di sampingku.

Aku mengangkat bahu.

“Kamu mau menunggu abahmu atau kita ikut rombongan Bang Iwan saja?”

Aku mengalihkan perhatianku dari pojokan mesjid dimana Abah sedang berbual dengan Bang Awi dan beberapa jamaah lain, sekarang memandang wajah Syawal. “Bang Iwan tadarus.” Sudah beberapa malam ini aku selalu mendengar suara abang sulungku itu dari corong mesjid.

“Sepertinya tidak malam ini, aku melihat Bang Iwan keluar dengan beberapa orang barusan saja.”

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru mesjid, meneliti tiap kelompok orang untuk mencari sosok Bang Ikhwan. “Ayo pulang!” Aku bangun diikuti Syawal kemudian.

Aku melihat Bang Ikhwan, sudah jauh berjalan di depan sana. Dia tidak sendirian. Seseorang –bertelekung- terlihat juga berjalan di satu sisi jalan, sejajar dengan langkah Bang Ikhwan di sisi jalan yang lain. Jalan mereka perlahan. Aku mengernyit memandang sosok bertelekung itu. Siapa dia? Yang pasti bukan ummiku, malam ini ummi tidak ke mesjid. Bukan pula mamanya Syawal, jika iya, pasti Haikal ikut serta.

“Bang Iwan asik pacaran tuh!” Cetus Syawal di sampingku.

“Huss… asal aja.” Tapi tak urung aku juga memikirkan seperti yang dikatakan Syawal. Bang Ikhwan punya pacar, gadis dekat-dekat sini. Tapi siapa? Kutoleh Syawal, “Kamu tahu gak, kira-kira siapa ya yang jalan sama Bang Iwan?”

Syawal diam, tapi aku tahu dia sedang memperhatikan sosok bertelekung di depan sana. Samar-samar aku bisa menangkap suara obrolan mereka, tak jelas. Hanya berupa gumaman saja.

“Mbak Mai taraweh gak malam ini?”

“Itu bukan Mbak Mai, yang di sana itu lebih langsing lagi.” Tunjuk Syawal pada sosok di sisi jalan Bang Ikhwan. “Lagipula, sudah beberapa hari ini Mbak Mai gak bisa puasa.”

“Ohh…”

Syawal tertawa pelan. “Gak mungkinlah Bang Iwan sukanya sama Mbak Mai. Aneh kamu, Dan. Bang Iwan masih muda, ganteng, polisi lagi. Lah Mbak Mai… kamu tau sendiri kan kayak apa.”

“Yah mungkin saja mereka pulang sama-sama, bukan pacaran.”

Syawal tertawa. “Lupakan, Mbak Mai sedang ngorok di rumah.”

“Kamu yang mulai.”

“Kamu yang nanyain Mbak Mai lebih dulu.”

Aku mendecak pada Syawal, sesaat kemudian aku mulai mempercepat langkahku, bermaksud menyusul Bang Ikhwan.

“Hei…” Syawal menangkap lenganku. “Kemana?”

Langkahku melambat lagi. “Nyusul mereka.”

“Ngapain ganggu kesenangan orang, abang sendiri lagi. Udah, biarin aja. Mending kita jalan pelan-pelan di sini, menikmati suasana kita sendiri.” Syawal mulai kumat. Tanganku dielus-elusnya sambil jalan.

“Tuh, di belakang ramai orang. Jangan asal ngomong dan bertingkah macam-macam!” Kataku sambil menunjuk kearah jalan yang baru saja kami tinggalkan. Bermeter di belakang sana, beberapa jamaah mulai menyusul keluar dari pintu pagar mesjid.

“Iya. Tapi gak usah nyusul Bang Iwan juga, biarkan saja. Kalau pengen tau siapa gadis yang di sana itu, nanti tanya saja sama Bang Iwan begitu sampai di rumah.” Syawal melepaskan pegangannya pada tanganku.

Syawal benar. Aku yang terlalu mau tahu. Bang Ikhwan sudah cukup dewasa untuk hal seperti itu. Aku yang masih ababil saja sudah menjalaninya –bahkan yang terbilang extraordinary dengan Syawal.

“Ya Tuhan… Nek Kinah ya?”

Syawal langsung terpingkal begitu mendengar suaraku yang lebih berupa seruan. Bagaimana tidak, ternyata sosok bertelekung yang kami kira adalah gadis pacar Bang Ikhwan ternyata adalah nenek-nenek usia tiga perempat abad. Aku tahu itu Nek Kinah ketika sang nenek membelok masuk ke pintu pagar rumahnya, rumah yang ditinggalinya bersama sang suami tercinta tentunya –Kakek Mansur. Pantas mereka jalannya pelan, bahkan menurut Syawal, sosok bertelekung itu lebih langsing dari Mbak Mai yang memang bertubuh langsing itu. Ya iyalah, sudah nenek-nenek pasti langsing dan jalannya pelan. Yang aneh adalah, mengapa aku dan Syawal tadinya tidak memperhatikan kalau sosok yang berjalan di samping Bang Ikhwan agak sedikit bungkuk? Hemm… kami sama-sama berkaca mata, harap maklum.

Di depan sana, Bang Ikhwan sepertinya mendengar tawa bekakan Syawal. Dia berhenti dan menoleh ke belakang. Nek Kinah sudah masuk ke pekarangan rumahnya.

“Apa yang kalian tertawakan?” Seru Bang Ikhwan sambil melambaikan tangannya padaku dan Syawal, meminta kami segera ke sana.

Syawal masih tertawa hingga sampai di depan Bang Ikhwan. “Aduh Bang… ini sungguh lucu.” Syawal kesulitan mengatur nafasnya karena kelamaan buka mulut untuk tertawa sepanjang jalan tadi.

Bang Ikhwan mengernyit. “Apanya?”

“Didan mengira Bang Iwan Pacaran sama Nek Kinah.” Kembali Syawal terpingkal-pingkal. Lebih parah dari sebelumnya.

Kini Bang Ikhwan ikut tertawa. “Ada-ada saja!”

“Dari belakang Nek Kinah ternyata masih mirip gadis belia ya…” Syawal masih betah melucu.

“Diam ah, nanti kedengaran orangnya dikejar Kakek Mansur pake parang gara-gara ngomongin istrinya.” Cetusku.

Bang Ikhwan tertawa lagi, dia mulai berjalan meninggalkan pintu pagar rumah Nek Kinah. Kami mengikuti di sampingnya.

“Tadi Abang berpapasan, gak enak kalau mendahului. Orang tua kan? Dulu Saidina Ali gitu, beliau pernah berpapasan dengan seorang tua ketika hendak ke mesjid dan beliau memilih untuk berjalan di belakang si orang tua padahal Saidina Ali bisa mendahulinya, tapi tidak dilakukan, meski ternyata orang tua itu adalah seorang yahudi.”

Aku dan Syawal diam mendengarkan. Pernah kuberitahu kalau aku kagum dengan sosok kakak laki-lakiku ini? Pasti pernah, sekarang, aku makin kagum padanya.

“Itu teladan yang baik. Kalau kita punya kesempatan untuk berbuat seperti itu, misalnya tidak sedang terburu-buru, gak ada salahnya kita begitu kan?” Lanjut Bang Ikhwan.

Aku dan Syawal manggut-manggut. “Semoga malam besok Nek Kinah pergi taraweh lagi ya, aku mau coba juga kayak Bang Iwan.” Konyol memang nama tengah Syawal.

Aku dan Bang Ikhwan kembali terpingkal. “Besok Nek Kinah perginya sama Kakek Mansur, jangan coba-coba nyelip diantara mereka kalau tak mau kena sepak Kakek Mansur.” Bang Ikhwan sepertinya serius.

“Hemm… Nek Kinah, kita tidak berjodoh.” Ucap Syawal sambil geleng-geleng kepala.

Kembali kami terpingkal.

“Tadi Bang Iwan ngobrol juga kan sama Nek Kinah?” Tanyaku.

Bang Ikhwan mengangguk. “Asam urat Kakek Mansur kambuh, gak sanggup jalan ke mesjid, jadinya Nek Kinah pergi sendiri. Biasalah orang tua, senang kalau ada yang mendengarkan ceritanya, katanya lebaran ini anak-anaknya pulang kampung semua.”

Aku berusaha mengingat anak-anak Nek Kinah dan Kakek Mansur. Yang paling kuingat cuma Pak Danu, anak bungsunya. Beliau sempat jadi guru SD-ku sebelum dipindahtugaskan ke luar daerah. Tak ada yang lebih mengembirakan orang tua di hari tua mereka selain dikunjungi anak-anaknya. Aku merenung tentang Abah dan Ummi kelak, akankah aku bisa melihat mereka hidup hingga setua Nek Kinah dan Kakek Mansur?

“Didan kenapa?” Bang Ikhwan menegurku. “Kok sendu gitu wajahnya?”

“Sedih kali dia karena gak punya kesempatan jalan bareng Nek Kinah malam besok.” Yang punya rencana untuk jalan dengan Nek Kinah malam besok padahal dia sendiri.

Tak kugubris ucapan Syawal. “Apa kita bisa liat Ummi sama Abah hingga usia mereka setua Nek Kinah dan Kakek Mansur ya Bang…”

Syawal berhenti melucu, dia diam. Bang Ikhwan merangkul bahuku, “Insyaallah…” ucapnya.

***

Hari terakhir sekolah…

Kelasku hiruk-pikuk ketika pengumuman libur ditempelkan di papan pengumuman kelas oleh ketua kelas kami –masih ingat kan siapa? Hiruk-pikuk itu tak bertahan lama, cuma hitungan menit. Selanjutnya suasana sehening perkuburan paling angker di muka bumi menyelimuti ruang kelasku begitu derap sepatu hak tinggi Ibu Hamidah terdengar mendekati ambang pintu –bahkan dari bunyi hak sepatunya saja kami langsung tahu bahwa itu Ibu Hamidah, bayangkan.

Kursi-kursi yang tadi ditinggalkan bokong pemiliknya untuk berlari ke papan pengumuman segera terisi lagi, tangan-tangan kembali terlipat di meja, dan yang paling utama, mulut-mulut kembali mengatup diam.

Assalamualaikum anak-anak…”

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…” Tentu saja, koor panjang begini masih bisa membuatku seperti memakai seragam putih-merah lagi.

“Tanpa memperpanjang mukaddimah, ibu mengucapkan selamat menyambut Hari Raya Aidilfitri, ibu mohon dimaafkan lahir dan batin…”

“Kami jugaaa Buuuuu….!” Koor lagi.

Ibu Hamidah mengulum senyum. “Pengumuman libur dapat dilihat di papan pengumuman kelas…”

“Sudaaah Buuuu…!” Sangat jelas ini juga koor panjang.

“Ya ya ya… memang itu yang paling kalian jaga.” Repet Ibu Hamidah. Suara tawa muncul di beberapa sudut kelas. “Baiklah, selamat libur. Ingat, lebaran nanti jangan lupa berkunjung ke rumah Ibu, yang tidak berkunjung… hati-hati sama nilai fisikanya nanti.”

“Huuuuuu…” Baiklah, ini sedikit sarkas. Tapi tiap kelas pasti ada anak badungnya, anggap saja itu keluar dari mulut-mulut mereka.

Tapi Ibu Hamidah tersenyum saja. “Intinya, Ibu mau kalian jangan sungkan bertamu. Tidak perlu bawa sirup sama gula atau keranjang buah, cukup datang bawa setoples kue saja pasti Ibu suguhi minum… kan kuenya sudah kalian bawa sendiri.”

Jelas suasana hati wali kelas kami sedang bagus. Teman-temanku tak ada yang tidak tertawa.

“Yang gak bawa kue gimana, Bu?” Entah siapa yang bertanya.

“Silakan bawa minum sendiri kalau begitu.”

Suara tawa lagi, makin ribut dari sebelumnya.

“Boleh kue apa aja?” Juga entah dari mulut siapa.

“Boleh, asal bukan kue lebaran tahun lalu, itu sudah basi.”

Sungguh, Ibu Hamidah sedang senang hari ini. Sepertinya dia baru dibelikan baju lebaran baru oleh suaminya di rumah. Atau baru saja dapat parcel lebaran dari sekolah seperti tiap tahunnya. Bukan mustahil juga kalau beliau baru saja mendapatkan kupon berhadiah tiket jalan-jalan ke ragunan plus foto bareng dengan satwa di sana, gratis. Entah apalagi pertanyaan iseng yang terlontar dari mulut teman-temanku, semuanya dijawab tak kalah iseng oleh Ibu Hamidah hingga bel tanda pulang menjerit nyaring. Hanya selangkah setelah hak tinggi Ibu Hamidah keluar melewati ambang pintu, kursi-kursi kembali ditinggalkan bokong-bokong berbagai ukuran berbalut kain abu-abu dari pemilik mereka.

*** 

-SAMBUNGANNYA SILAKAN BERSABAR HINGGA POKET 8 RILIS-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

semoga sahabat semua tetap setia denganku hingga Ramadhan bertemu Syawal dalam kisah ini.