an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

PENGGALAN POKET 5 :

Sungguh, aku jadi ingat Kak Aira dan nasib perasaannya kepada Bang Awi. Dan sekarang malah muncul Yazir –remaja aneh. Apakah keputusanku memberikan nomer Kak Aira pada Yazir adalah salah? Tapi sandal itu sangat bagus sekali di kakiku. Tidak, aku sudah melakukan hal yang benar. Sudah melakukan hal baik. Sandal yang sekarang masih terkotak bagus di lemariku buktinya. Hal baik selalu berbuah baik bukan? Aku menamam kebaikan pada Yazir dan hasilnya aku memetik buahnya berupa sandal yang masih dalam keadaan baik. Berpikir begini, aku jadi tenang tidur.

Kutarik selimut hingga dagu dan kupejamkan mataku. Sayup suara Bang Ikhwan sangat dinikmati membrane timpani-ku. Aku selalu menikmati suara abangku itu saat mengaji. Kadang aku suka lupa kalau dia seorang polisi ketika sedang mengaji, aku lebih melihatnya sebagai kiai muda atau alumni ponpes seperti Bang Awi. Pasti aku akan terlelap sebelum giliran Bang Ikhwan selesai dan diteruskan pemuda lain.

***

POKET 6

“Dan, kamu ngasih nomorku sama temenmu yang hari itu ya?”

Aku menguap di corong hape. Ummi baru saja menggoyangkan badanku, Bang Ikhwan sedang mengenakan kausnya siap untuk menuju ke ruang makan. Terkantuk-kantuk, aku berusaha menangkap semua kalimat Kak Aira yang terdengar cukup bersemangat. Aku yakin, di sana dia baru saja menyelesaikan sahurnya.

“Yazir ya namanya… dia beneran sekelas sama kamu? Kapan dia mendapatkan nomorku? Wawasannya luas ya, nyambung aja ngobrol sama dia. Nyinggung topik apa aja pasti dia tahu, kamu harus rajin diskusi sama dia biar nular wawasannya. Di kelas Yazir rangking berapa, Dan? Aku mikirnya pasti rangking satu. Dua jam ngobrol sama dia beneran gak bikin bosan ya. Aku kayaknya masih ingat deh wajahnya, nilai sepuluh lah untuk ukuran cowok SMA. Katanya malam besok mau ngobrol lagi tuh, aku harus cari-cari topik yang mutu deh sepertinya, malu kan kalau mahasiswa kalah debat sama anak SMA.” Diam sebentar, sepertinya Kak Aira kehabisan nafas.

Aku menguap lagi.

“Dan, ada usul topik gak?”

“Cara ngerujak yang baik dan benar…” Jawabku sekenanya.

“Cara apa?”

“Cara nguras bak mandi sesuai standar internasional.” Aku makin menjawab sekenanya.

“Kamu belum makan sahur ya?”

Kau menunda makan sahurku tau? “Belum…”

“Pantes.”

“Udah telepon Yazir? Nyuruh dia bangun sahur?”

“Dia pasti udah bangun jam segini. Aku yakin dia bukan tipe manusia kayak kamu, Dan.”

“Jangan lupa save nomernya dengan ringtone khusus.”

“Udah.”

Hah? Ya ampun… Bang Awi sudah tergantikan, bahkan dengan begitu cepatnya. Hanya 2 jam saja. Yazir sungguh hebat, cukup 2 jam baginya untuk mendapat perhatian seorang gadis. Great.

“Minta kirimin pulsa juga kapan-kapan.”

“Kamu mau keluarga kita dicap keluarga materialistis?”

Kak Aira selalu tak pernah kekurangan stok kalimat yang membuatku merasa  ingin menggigit lidah sendiri.

“Aku sahur dulu, Kak.”

“Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku di awal-awal tadi.”

“Semua yang Kak Aira urutin tentang Yazir adalah benar. Tuh, udah aku jawab.” Aku mengucek mataku sambil turun dari tempat tidur.

“Hemm… terbukti aku tak pernah salah menyimpulkan.”

Langsung kupencet tombol reject.

***

Pak Sazali sedang memberikan pengajian siang ini di mushalla sekolah. Selama sekolah kembali aktif, siang hari setelah kegiatan belajar mengajar selesai –tepatnya setelah zuhur, akan diisi dengan pengajian oleh guru agama masing-masing kelas. Hari ini giliran kelasku. Mushalla penuh sesak, kami duduk melingkar.

Tajuk kajian Pak Sazali kali ini adalah lailatul qadar. Sudah sangat sering didengar, tak ada diantara kami yang tidak tahu kalau malam itu adalah lebih baik daripada seribu bulan. Aku yakin semua teman-temanku tahu itu. Sesering apapun, jika yang menjelaskannya adalah Pak Sazali, tak ada topik yang membosankan. Apalagi jika diwarnai tanya jawab seru. Sebenarnya, jika di bulan puasa seperti ini waktu setelah zuhur adalah jam ngantuk bagi siapa saja. Namun hari ini tidak, Pak Sazali berhasil membuat aku dan teman-temanku membuka mata lebar-lebar.

“Junaidi, Bacakan surat yang menjelaskan tentang malam lailatul qadar…”

Jun yang duduk di sampingku sedikit kaget, mungkin tak menyangka Pak Sazali akan menyebutkan namanya. Dia mencolekku. “Dhan, yang mana suratnya…?” Jun berbisik padaku.

Ya Tuhan. Apa dia sungguh tak tahu? “Itu loh, yang inna anzalnahu fi lailatil qadr itu, tau kan?” Aku balas berbisik sangat pelan. Syawal yang juga mengapitku di satu sisi lagi geleng-geleng kepala.

“Oh, itu… tau, imam taraweh di tempatku sering membacanya di rakaat pertama sudah beberapa malam ini.”

“Ya udah, tunggu apa lagi. Buruan baca, dilihatin Pak Sazali tuh.”

Jun berdehem. “Semuanya Pak?” Tanyanya pada Pak Sazali.

“Iya, semuanya.”

Jun membaca bismillah lalu dilanjutkan ayat pertama yang kuberitahukan tadi. Tapi, tahukah apa yang terjadi? Dia hanya mengulang-ulang ayat pertama itu hingga peluh membanjir di dahinya dan yang hadir menatap bengong ke arahnya plus Pak Sazali yang geleng-gelang kepala. Aku yakin, teman sekelasku sedang mati-matian menahan tawa mereka.

“Kamu tidak tahu surat itu, Jun?” Pak Sazali menegur.

Jun menggeleng. “Kalau Al-Fatihah sama Al-Ikhlas saya hapal Pak.”

Kali ini teman-temanku tak bisa lagi menahan tawa. Mushalla jadi riuh hingga Pak Sazali mengangkat tangannya. Muka Jun memerah menahan malu, ah kasihan dia. Kutepuk pahanya. “Tau, dulu aku bahkan tak bisa menghapal surat Al-Ikhlas… jadi, tak bisa hapal surat Al-Qadr itu biasa. Yakin, teman-teman juga ada yang tidak tahu hapalan surat itu.”

Jun menyapu keringat di dahinya. Dia sedikit menyeringai padaku.

“Ya sudah, nanti di rumah belajar lagi. Perbanyak hapalan surat pendek, ini bukan buat Jun Saja tapi buat semua. Mungkin setelah lebaran nanti Bapak akan mengecek hapalan kalian.”

Pasti teman-temanku kesal mampus sama Jun saat ini. Pak Sazali membaca sendiri surat Al-Qadr sekaligus mengartikannya. Beliau juga menjelaskan tentang Asbabun Nuzul –sebab diturunkannya ayat 1 sampai 3 dari surat Al-Qadr, bahwa dulu ada seorang lelaki pada masa Bani Israil yang tekun melakukan ibadat pada malam hari dan meluhurkan agama Allah di pagi hari selama seribu bulan. Karena itulah Allah menurunkan ketiga ayat itu sebagai ketegasan agar umat Rasulullah dapat beramal selayaknya lelaki Bani Israil itu.

“Pak, katanya pada malam lailatul qadar itu pohon-pohon sujud ya?” Raiya mengeluarkan pertanyaannya.

“Itu benar.”

“Katanya, yang bisa melihat fenomena malam lailatul qadar itu adalah orang-orang yang alim dan taat beribadah ya Pak?” Sekarang Aria yang bersuara.

“Banyak yang mengasumsikan demikian…”

“Bapak pernah melihatnya gak?” Rohcinta sekarang, dia memotong kalimat Pak Sazali.

Guru kami itu tersenyum. “Allah memberi keistimewaan dapat melihat betapa luar biasanya malam itu kepada siapa saja yang dinginkan-Nya. Belum tentu setiap orang alim dan taat beribadah dapat mengetahui malam qadar itu. Yang harus kita yakini adalah, bahwa malam qadar itu adalah pasti adanya di bulan Ramadhan. Kemuliaan dan keutamaannya luar biasa besar, sampai terbit fajar. Alangkah beruntungnya mereka yang beribadah di malam itu.”

“Katanya, malam qadar itu berada di sepuluh yang akhir ya Pak?” Aku ikut bertanya juga.

“Trus ada juga yang bilang malam qadar itu jatuhnya pada malam-malam ganjil, benar gak Pak?” Syawal ikut-ikutan.

“Ada juga yang menyebutkan malam qadar itu jatuhnya pada malam nuzulul quran di tujuh belas ramadhan, itu gimana Pak?” Wardah kali ini.

“Berarti kita harus banyak-banyakin ibadah di malam-malam itu saja dong!” Jun menimpali, dia sudah kembali percaya diri setelah beberapa saat tadi tertunduk malu.

Lagi Pak Sazali tersenyum. “Tidak ada yang tahu pasti kapan jatuhnya malam itu meskipun ada yang menduga-duga demikian. Intinya, kita jangan hanya memperbanyak ibadah di malam-malam yang diduga itu saja, tapi seluruh malam selama bulan puasa. Itulah hakikatnya kenapa tak ada kepastian kapan jatuhnya malam qadar, agar umat selalu beribadah sebanyak-banyaknya sepanjang Ramadhan dengan motivasi bahwa ada satu malam dimana dia beribadat sangat banyak dan jatuhnya pada malam qadar itu.”

Semua kami manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Sazali. Sesi pengajian berakhir setelah shalawat dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Pak Sazali. Kami dibubarkan setelah shalat asar berjamaah.

***

“Huh, masa takjil ginian dibilang unik sih. Payah nih gugel, dari tadi browsing dapatnya ginian terus.” Keluh Syawal ketika hari minggu ini aku berada di kamarnya untuk mengerjakan kliping ramadhan.

“Sabar, kita coba kata kunci lain.” Aku bermain di keyboard laptop Syawal, mengganti kata kunci ‘menu berbuka unik di seluruh dunia’ yang sebelumnya kami telusuri menjadi ‘takjil khas ramadhan di seluruh dunia.’

Ternyata yang keluar juga menu-menu sama seperti keyword sebelumnya. Syawal mendesah. “Menu-menu itu gak unik sama sekali, bahan-bahannya kan biasa, cara olahnya juga biasa, dan penyajiannya juga biasa. Yang bikin beda cuma waktunya saja, adanya selama bulan puasa. Judul kliping kita kan takjil unik, nah kalau menu-menu ini apa uniknya?”

Syawal mengambil alih tombol-tombol. MENU BERBUKA BERBAHAN RUMPUT. Dia mengetikkan kata kunci itu di kolom pencarian. Aku langsung tertawa membaca kalimat tersebut.

“Kamu gila, Bar.”

Syawal tak menggubris. Dia mulai mengklik sana-sini. “Hmm, rumput laut unik gak?”

“Agar-agar?” Ujarku. “Apa uniknya?”

Syawal mendecak, kembali jari-jarinya bergerak. HASIL OLAHAN PENIS ONTA SEBAGAI TAKJIL BERBUKA. Kali ini kalimat itu yang tertera di kolom pencarian. Kembali aku tertawa, bahkan sekarang kutonjok bahunya.

“Kamu benar-benar gila, mana ada menu begitu.”

“Siapa tahu di Timur Tengah sana ada makanan hasil olahan zakar onta kan…” Jawab Syawal sekenanya.

Tapi kenyataannya yang muncul di layar adalah segala hal tentang hewan berpunuk itu. Aku meghela nafas. “Gini aja deh, kita pilih menu khas saja, gak perlu unik asalkan menu-menu itu adanya cuma di bulan puasa aja. Aku rasa penilaian kliping juga gak semata-mata karena materi isinya, tapi cara kita menyajikan kliping itu. Kita bikin semenarik mungkin, kita beri gambar sebagus-bagusnya. Kita tempel seartistik mungkin, pasti nilai kita juga bakal bagus.”

Syawal langsung memeluk bahuku. “Ah, pacarku pintar ya…”

Aku langsung mencak-mencak ketika dia mencium pipiku. “Bar, jangan pancing aku untuk menendangmu.”

Syawal mesem-mesem sambil menyapu bibirnya. “Pipi kamu manis, batal gak ya puasaku…” Dia malah merespon lain.

Aku memutar bola mata. “Serius Bar, jangan main-main. Aku beneran marah kalau kamu gitu lagi.” Kupelototi dia sebagai tanda kalau aku benar-benar tidak suka. “Kalau kelakuanmu makin gak jelas, aku pulang dan kamu harus bikin kliping ini sendirian.” Ancamku kemudian.

“Iya, maaf. Ayo print terus, aku siapkan lem sama kertasnya dulu.” Syawal siap bangun untuk melakukan tugasnya.

“Liat dulu, bisa gak menu-menu ini?”

“Terserah kamu lah, Dan… Pilih aja yang mana bagusnya. Kan isinya gak mutlak menentukan nilai, yang penting cara penyajian klipingnya.” Syawal mengulang kata-kataku.

Aku angkat bahu. “Ya sudah, aku eksekusi ya…!”

Syawal mengangkat jempolnya, kemudian mulai menyiapkan peralatan. Sementara Syawal sibuk dengan kertas dan peralatan lain, aku kembali lagi ke penelusuran sebelumnya –menu khas bulan puasa di seluruh dunia- dan mulai membuka daftarnya satu-satu. Beberapa saat kemudian, printer Syawal mulai bekerja mencetak halaman-halaman yang aku pilih.

Kami menggunting, menyunting tulisan, menempel dan mengeringakan kertas-kertas hasil tempelan kami di depan kipas angin. Lewat siang kliping kami selesai, Syawal menjilidnya sendiri dengan penjilid plastik, dia berbakat mengerjakan pekerjaan seperti itu. Hasilnya sunguh rapi.

“Selesai.” Ucapnya ketika penjilid sukses terpasang di pinggir kiri kertas. “Nih, lihat dulu.” Dia menyodorkan kliping itu padaku.

Aku menerima dan membuka tiap halamannya. Bagus. Itu kesimpulanku, bukan karena ini kami yang punya, tapi kliping ini memang bagus kok. Selain mengulas tentang makanan, kami juga ikut mencantumkan sedikit narasi mengenai situasi bulan puasa di negara-negara yang menunya kami muat di sini. Ada Negara Turki dengan menu ottoman, gullac dan roti pide-nya, Lebanon dengan menu mezza, tabbouleh (Syawal sukses memplesetkannya menjadi takboleh) dan houmous, negara Yordania dengan mansaf dan qatayef-nya, medames dan molokheya di Mesir, Hyderabad Haleem di Hyderabad India, samosa di Pakistan, rooh afza (Syawal jadi ingat Rohcinta saat membaca menu ini) di Bangladesh, juga tak ketinggalan nasi lemak dari Malaysia ikut kami masukkan dalam kliping lengkap dengan narasi dan gambarnya yang tentu saja bisa membuat air liur merembes –Syawal buktinya.

Sedang dari negara sendiri, kami memilih menu kolak dan kolang kaling. Kolak karena menu itu biasanya memang khas bulan puasa. Bermacam-macam kolak dengan isi pisang, singkong, ubi, dan beberapa campuran lainnya kami ulas tuntas. Sedangkan kolang-kaling, tentu karena menu ini unik. Dimana uniknya? Jelas dari bahan dan cara pengolahannya. Kolang-kaling berbahan dasar buah nira muda dan untuk mengeluarkan isinya buah nira itu kabarnya dipanggang terlebih dahulu, belum lagi proses unik saat menghilangkan rasa gatal dari buah nira itu sendiri. jadi, sangat layak kolang-kaling masuk menu berbuka unik di seluruh dunia.

“Aku rasa, kliping kita gak jauh-jauh dari tema deh, Dan…” Syawal duduk di sampingku. “Lihat, dari nama menunya aja udah unik dan tak biasa kan?”

Aku menganguk mengiyakan. “Pak Sazali pasti ngasih nilai banyak, tenang saja.”

“Hemm…” Syawal mengulet, merenggangkan otot-ototnya. “Udah selesai kan? Tidur siang yuk!” Desahnya sangat dekat di daun telingaku.

“Ogah.”

“Bentar aja…” Kali ini tak kalah mendesah dan lebih dekat lagi ke kupingku. Lidahnya nyaris menjilat kalau saja aku tak memiringkan kepalaku ke arah sebaliknya.

“Gak boleh.” Kataku gusar. Kenapa tidak gusar, Syawal sudah melingkarkan satu lengannya ke pinggangku. Gelagat tak baik.

“Janji, cuma tidur aja, gak bakal ngapa-ngapain. Lagipula aku masih ingat kok kalau kita sedang puasa, dan ini masih siang hari.” Syawal kian mengeluarkan jurusnya. “Mau ya… Didan, mau kan?”

“Tidur aja, Janji?” Sepertinya gak ada salahnya tidur sebentar, kan tidur di bulan puasa juga ibadah tuh. Setidaknya sampai Syawal benar-benar tertidur.

Syawal mengangguk, segera saja menarikku ke tempat tidurnya. Semenit kemudian kami sudah telentang bersisian di sana. Syawal menepati janjinya, dia tidak macam-macam. Tak lama setelah naik ke tempat tidur, aku langsung bisa mendengar nafasnya yang menghembus teratur. Dia tertidur. Aku bangun, menatapnya beberapa lama. Wajah itu damai dalam lenanya. Syawal terlelap dengan masih mengenakan kacamata. Perlahan aku melepaskan benda itu dari wajahnya dan kuletakkan di nakas. Kutatap lagi wajah Syawal beberapa saat sebelum kemudian turun perlahan dari tempat tidur. Aku harus pulang, Ummi pasti perlu bantuanku di rumah. Biarlah Syawal tidur sendiri.

Aku pamit pada mamanya Syawal yang sedang mengatur ulang isi lemari pajangnya. “Ma, pamit pulang ya…” Seperti halnya Syawal memanggil Ummi untuk umiku, aku juga memanggil Mama kepada mamanya Syawal.

“Ah iya Nak Didan, sudah selesai kah tugasnya?” Mamanya Syawal berhenti sebentar dari pekerjaannya.

Aku mengangguk. “Udah, Ma… Syawal sedang tidur tuh.”

“Suruh pulang Ikal ya! Pergi ke rumahmu dari pagi tadi malah belum pulang-pulang, ummimu dibuat repot selalu sama dia. Hampir tiap hari tuh dia makan siang di sana…”

Aku tertawa. “Biarlah, Ummi juga ada kawan di rumah dengan adanya Ikal. Paling Ikal juga asik sendiri, dia gak akan ganggu kerjaan Ummi kok.”

Mamanya Syawal tersenyum. Aku kembali berpamitan dan lalu segera beranjak pulang. Di teras, aku berpapasan dengan Mbak Mai yang sepertinya baru pulang dari membeli sayur –mungkin juga ikan. Kadang aku suka berfikir kalau kami juga punya pembantu rumah tangga di rumah seperti Mbak Mai di rumah Syawal. Pasti enak ada yang nyuciin baju dan menyiapkan makan kita. Pasti enak ada yang menyapu halaman dan menyetrika pakaian. Namun sejauh ini, punya pembantu hanya jadi pikiran selintas saja di kepalaku. Lagipula, Mbak Mai sebenarnya bukan murni sebagai pembantu, dia masih terhitung famili keluarga Syawal. Papa dan Mama Syawal menampung Mbak Mai tinggal bersama mereka, dan sudah tentu Mbak Mai tidak numpang makan tidur saja di keluarga Syawal, pastilah dia ikut membantu Mamanya Syawal mengerjakan pekerjaan rumah.

Haikal tertidur di kamarku, di lantai. Butiran kelereng berserakan ke segala penjuru. Aku mengurut dada. Saat masuk rumah tadi, Ummi bilang Haikal bermain tenang di kamarku tanpa membuat ribut. Ternyata bocah ini tidur, pantaslah Ummi tak mendengar keributan.

Aku mengangkat Haikal ke tempat tidur, dia sempat merengek-rengek sebelum kembali diam. Setelah memungut butir kelereng yang berserakan di seluruh penjuru kamar –bahkan ke bawah kolong tempat tidur, aku melepas kacamata lalu ikut merebahkan diri di samping Haikal, mengambil bagian kasur yang menjadi jatah Bang Ikhwan.

***

“Dek…”

Aku hapal, itu suara Bang Awi. Aku dan Yazir berbalik. Yap, saat ini aku sedang di Pasar Ramadhan lagi, membeli kue seperti biasanya. Aku pergi sendiri dengan motor Abah, dan beberapa saat lalu Yazir baru saja menepuk bahuku ketika sedang mengantri perhatian ibu penjual untuk dilayani.

Assalamualaikum…” Bang Awi memberi salam.

“Bang Awi, waalaikumsalam...” Jawabku sambil tersenyum. “Beli kue juga?”

Bang Awi mengangguk. “Sendirian?”

Aku tahu maksud pertanyaannya. “Kak Aira belum libur Bang, belum bisa pulang. Mungkin beberapa hari lagi…” Setelah menjawab begitu, aku baru ingat kalau Yazir sedang berada bersamaku saat ini. Kulirik dia di samping kananku, ternyata Yazir juga sedang melirik padaku. Aku punya pe-er untuk menjawab rentetan pertanyaannya setelah Bang Awi pergi nanti. Pasti.

Bang Awi tersenyum, dia menatap pada Yazir yang berdiri kaku di sebelahku. Saat ini, Yazir juga sedang memandang sosok Bang Awi di depannya. Aku berpikir dia sedang menilai laki-laki berpeci ini, apa lebihnya dia dariku? Mungkin begitu yang sekarang ada dalam pikiran Yazir.

“Ehem… Bang, ini kawanku, Yazir… kami sekelas. Dia pintar loh, selalu peringkat pertama sejak kelas satu.” Aku memperkenalkan Yazir kepada Bang Awi dengan sedikit memuji-muji biar Yazir senang, siapa tahu dengan begitu dapat mengurangi daftar pertanyaan yang harus aku jawab nanti.

“Oh, wah… hebat.” Bang Awi langsung mengulurkan tangannya pada Yazir.

“Ini Bang Awi, Zir…” Aku berdehem dulu. “Guru ngajiku loh, aku jamin Bang Awi gak kalah pintar dari guru ngajimu yang mengajarkan segalanya tentang gak boleh membantah ibu padamu itu…”

Bang Awi tertawa, Yazir menyeringai. Mereka berjabatan sebentar. “Salam buat guru ngajinya…” Ujar Bang Awi ketika melepaskan jabatannya dengan Yazir.

Kulihat Yazir mengangguk. Beberapa lama kemudian dia masih saja menatap Bang Awi yang sekarang sudah mendekat ke gerobak kue, menjenguk isinya.

“Dek Didan sudah beli?” Bang Awi menoleh padaku.

“Gak apa-apa, Bang Awi duluan saja. Didan sebentar lagi.”

“Mau beli berapa?”

Alamat bakal dapat gratis lagi nih.

“Punya Didan nanti sekalian sama punyaku saja…” Cetus Yazir tiba-tiba, ikut memangilku dengan nama rumahku, padahal biasa Dhan saja.

Kembali aku melirik cowok itu, ekspresinya masih sedatar lantai kamar mandi. “Iya Bang, gak apa-apa… Yazir punya hutang sama Didan, biar dia bayar kue saja untuk melunasi hutangnya.” Aku tahu Yazir pasti dongkol dengan kalimatku ini. Biar saja, salah dia sendiri, kenapa harus sinis begitu mukanya.

Bang Awi tersenyum, lalu kembali fokus memilih kuenya. Aku dan Yazir menunggu Bang Awi selesai, sama-sama diam. Bang Awi pamit setelah mendapatkan kantongnya.

“Abang duluan, Dek…” Ujarnya.

“Iya Bang, hati-hati di jalan.” Bang Awi mengangguk tapi tidak segera berlalu. Sepertinya ada yang masih ingin diucapkannya. “Emm… Kapan Kak Aira ada nelpon nanti Didan kasih tau deh kalau ada jumpa Bang Awi lagi.” Yakin sekali, Yazir gak akan suka kalimatku ini. Tapi aku tak tau kalimat lain yang bisa kukatakan pada Bang Awi.

Ujung bibir Bang Awi tertarik. “Tahu kapan tepatnya Kak Aira pulang?”

“Kurang tau Bang, tapi mungkin beberapa hari sebelum lebaran.” Aku semakin merasa tak enak dengan Yazir. Ingin saja rasanya aku menawarkan nomor Kak Aira pada Bang Awi sekarang, ini kesempatan yang bagus. Tapi rasanya kurang etis saat ini. Selain karena ada Yazir, aku juga ingat pesan Kak Aira yang tidak membolehkanku memberikan nomornya pada Bang Awi tanpa diminta terlebih dahulu.

“Hemm… Abang pulang ya. Mari Yazir…” Ujar Bang Awi padaku dan Yazir. “Assalamualaikum…”

“Iya Bang, waalaikumsalam…”

Sepeninggal Bang Awi, aku segera hendak merapat ke gerobak tapi tanganku dicekal Yazir. Hhh… saatnya menjawab pertanyaannya. Aku berbalik menghadap Yazir, kubetulkan letak kacamataku yang melorot. “Aku siap menjawab.” Kataku langsung.

“Okey, sepertinya kamu sudah lebih dulu tau pertanyaannya.”

“Kamu ingin tahu apa hubungan Bang Awi sama Kak Aira kan?”

“Itu salah satunya.”

Aku menghela nafas. Haruskah aku mengatakan kalau Kak Aira dan Bang Awi saling punya perasaan khusus satu sama lain? Haruskah aku mengatakan kalau Bang Awi pernah melamar Kak Aira dulu? Aku memang belum tahu pastinya seperti apa perasan Yazir ke Kak Aira, tapi apapun nama perasaan itu, aku yakin Yazir berharap banyak.

“Kamu punya perasaan kepada Kak Aira?” Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya pada Yazir. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu seperti apa persisnya hati Yazir.

“Kamu bukan anak-anak lagi, Didan…” Sepertinya panggilanku itu mulai terasa lezat di lidah Yazir.

Kuanggap jawabannya sebagai ‘ya.’

“Aku langsung suka Kak Aira sejak hari itu.” Yazir melanjutkan. “Jujur, aku gak pernah ngerasa setertarik ini dengan seseorang sampai aku melihat Kak Aira.”

“Tapi dia kakakku.”

“Aku akan tetap tertarik seandainya itu kakaknya Syawal atau kakaknya siapapun.” Kenapa dia pakai nama Syawal sebagai contoh ya?

“Tapi dia lebih tua tiga tahun darimu…”

“Cuma tiga tahu. Bahkan jika usianya dua kali usiaku pun aku akan tetap tertarik.”

Apa pemikiran remaja yang sedang mabuk cinta memang gila seperti ini? Aku geleng-geleng kepala. “Kamu udah bilang ke Kak Aira?”

Yazir diam.

“Menurutmu, apa Kak Aira juga merasakan hal yang sama denganmu?”

Yazir masih diam.

“Zir, aku bukannya tak suka atau melarang kamu menyukai Kak Aira. Suka itu hak setiap orang. Tapi masalahnya adalah, bagaimana jika kamu hanya suka Kak Aira satu pihak saja? Aku gak mau kamu mengharap terlalu banyak hanya untuk sakit pada akhirnya…”

“Bang Awi itu pacarnya Kak Aira?” Yazir memotong kalimatku dengan pertanyaan yang aku rasa jadi tanda tanya paling besar di kepalanya saat ini.

“Bang Awi pernah hampir menikahi Kak Aira…” Akhirnya aku mengatakannya.

Yazir melongo. Pasti dia kaget besar. “Gila, kapan? Usia Kak Aira baru dua puluh kan?”

Aku mengangguk. “Tapi abahku tak setuju, Bang Awi bahkan mau menunggu untuk Kak Aira…” Aku rasa aku tak perlu menjelaskan detilnya pada Yazir, cukup begitu saja.

Yazir diam sebentar sebelum bersuara lagi. “Jadi, sekarang Bang Awi masih menunggu Kak Aira?”

Kutatap Yazir. Ah kasihan, matanya putus asa. “Entahlah Zir… sepertinya iya.”

“Bagaimana dengan Kak Aira sendiri?”

“Zir, aku hanya ingin kamu tidak terlalu berharap.”

“Kak Aira mencintai Bang Awi…” Itu bukan pertanyaan, Yazir seperti menyimpulkan itu buat dirinya sendiri.

Aku tak merespon. Segera saja menuju gerobak dan memilih kueku. Beberapa saat kemudian baru Yazir mengikutiku dan ikut memilih kuenya.

“Apa ada kemungkinan aku bisa menarik perhatian Kak Aira? Saat sudah dewasa nanti dan mapan, aku akan melamarnya…” Ya ampun… ini cinta monyet bukan sih?

Aku ingin tertawa sebenarnya. Tapi melihat wajah Yazir yang sangat serius kuurungkan niatku untuk mengikik. “Ehem… Kak Aira suka tuh ngobrol sama kamu di telepon…”

Wajah Yazir langsung sumringah. “Benarkah? Kak Aira bilang gitu sama kamu? Kapan?”

Ah, biarlah Yazir senang dengan caranya sendiri. “Iya, beneran. Dia bilang gitu saat meneleponku tiga hari lalu.”

“Aku sudah menelepon Kak Aira sebanyak enam kali beberapa hari ini.”

“Hemm… Kak Aira bisa jadi teman yang baik buatmu, kenapa kamu gak berpikir begitu saja dulu. Jangan berharap untuk menjadi lebih khusus, karena takutnya nanti gak sejalan seperti yang diharapkan…”

Sepertinya aku baru saja mematahkan semangatnya lagi. Yazir langsung muram kembali. Aku mendesah, malanjutkan membeli sambil sesekali berbicara dengan ibu yang punya dagangan.

“Bagaimana denganmu, Dan… kamu lebih suka siapa untuk jadi pacar Kak Aira, aku atau Bang Awi itu…”

Hadeh… belum selesai juga. Aku suka siapa saja yang lebih sering membelikanku benda-benda. Sebenarnya itu jawabanku paling jujur untuk pertanyaan Yazir, tapi aku tak ingin membuat kosong dompet anak orang karena Yazir pasti akan membelikanku banyak benda karena mengacu pada jawabanku tersebut sementara belum tentu dia bisa mendapatkan hati kakakku.

“Aku suka siapapun yang jadi pilihan Kak Aira.” Itu jawaban paling masuk akal dan paling baik.

“Berarti tugasku hanya membuat Kak Aira tertarik kan?”

Pasti dia bakal sering menelepon Kak Aira mulai nanti malam. Aku mengangkat bahu untuknya. “Semoga berhasil. Tapi jangan masuk perigi ya bila usahamu gak membuahkan hasil. Ingat, aku sudah memberitahumu untuk jangan terlalu berharap.”

Yazir mendesah. “Tahukah, Didan… kita tak bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta kepada siapa… tak ada yang bisa. Kamu akan merasakan begitu saat hatimu memilih seseorang nanti…”

Aku diam. Hatiku sudah memilih, Zir… Syawal. Aku tahu seperti apa rasanya. Tapi aku lebih beruntung darimu, orang yang dipilih oleh hatiku, hantinya juga memilihku… berpikir begini, membuatku mulai mengerti seperti apa persisnya hati Yazir. Ah, mungkin aku salah telah mematahkan semangatnya dengan menyuruhnya jangan terlalu berharap. Tak ada salahnya berharap untuk sesuatu yang menakjubkan. Sesuatu yang membuat hidup terasa indah, sesuatu seperti cinta.

“Uangnya, Bu… sekalian sama punya adikku ini…” Yazir menyerahkan uangnya pada ibu penjual kue.

Sempat terkejut juga ketika dia menyebutku adiknya. Yazir benar-benar sudah mabuk. Saat kutatap, dia cuma mengedipkan sebelah matanya padaku sambil tersenyum.

“Makasih…” Ucapnya sambil menerima uang kembalian. “Yuk pulang…” Dia menangkap pergelangan tanganku dan dibawa berjalan menuju tempat parkir motor.

Aku geleng-geleng kepala dengan tingkah Yazir. Jadi ingat betapa dulunya aku sangat menyukai sosoknya dan berangan-angan bisa seakrab ini dengannya. Sekarang, itu terjadi. Tapi dia menganggapku adiknya kerena bercita-cita ingin jadi suami kakakku. Lucu ya… cinta memang gila. Cintaku dengan Syawal adalah bukti bahwa cinta itu gila. Cinta Yazir buat Kak Aira juga gila, tepatnya… Yazir yang gila. Betapa tidak, sudah tahu tak sebaya, kakak temannya lagi, dan sudah punya tambatan hati sendiri namun masih saja bertekad untuk mendapatkannya. Hemm… tabahkan hatinya ya Allah…

***

“Didan, Yazir sempat ketemu Bang Awi ya?”

Lagi-lagi sahur ini terlebih dulu aku harus meladeni Kak Aira di corong hape sebelum mengunyah isi piringku. Saat ini aku terkantuk-kantuk di meja makan bersama Bang Ikhwan, Abah dan Ummi sudah selesai makan dari tadi.

“Kak, aku sedang makan…”

“Jawab itu saja gak akan bikin makanmu raib dari piringmu.”

Rasanya aku baru saja menggigit lidahku lagi. “Iya…”

“Iya apa?”

“Iya, kami jumpa Bang Awi kemarin sore saat beli kue.”

Bang Ikhwan menatapku. “Gak usah gede-gede ngomongnya, kedengaran Abah dipalu tuh hapemu…” Lalu Bang Ikhwan meneruskan makannya.

Sudahkah kuberitahu kalau abahku tak suka ada yang bicara gak penting saat makan? Jika belum, berarti sekarang sudah. Abah bilang, saat makan itu ya makan jangan ngobrol yang tidak penting, ada waktunya nanti. Nah begitu, bagus sih sebenarnya. Sudah banyak kan kasus orang keselek gara-gara makan sambil mengobrol, itu dari segi kesehatan dan logika. Dari segi agama dan kesopanan juga dilarang ngobrol sambil makan, katanya cara makan begitu sangat disukai syaithonirrajim. Entahlah. Dan sekarang, aku malah mengobrol lewat hape, Abah tak akan suka. Nasib baik Abah sudah tidak di meja makan lagi saat ini.

“Kak, nanti aku dimarah Abah…” Aku memelankan suaraku.

“Huh, lagian kamu ngapain bawa-bawa hape ke meja makan… cari penyakit.”

Ya Allah, sabarkan aku. “Yang nelpon gak kenal waktu siapa? Baik-baik aku mau jawab.” Hapeku di kamar ketika berbunyi tadi, seharusnya kubiarkan saja di situ tanpa membawanya kemari. Aku berani begitu karena Abah sudah tak berada di meja makan lagi.

“Yang telat makan sahur siapa? Aku mana tahu kalau kamu sedang makan.”

Aku gak bakal menang dengan Mak Lampir ini, ilmunya lebih serem dari keahlian lidahku. “Lupa ya kalau adikmu ini gak pernah tepat waktu makan sahur?”

“Justru karena aku ingat itu makanya aku nelpon. Biasanya kan kamu masih mendengkur jam segini. Tumben pagi ini cepat, Ummi membakar petasan di kamarmu?”

“Ini sudah hampir imsak, jelaslah aku sudah bangun.”

“Kalau sudah dekat imsak ngapain masih ngobrol…”

Ya Tuhan… dia yang nelpon, trus dia yang punya kepentingan kenapa aku yang tak punya salah ini jadi bulan-bulanan? “Nanti siap subuh aja deh Kak Aira nelpon lagi…”

TUUUUUTT TUUUTT

***

-POKET 7, SOON-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

aku sangat terlambat dari yang kujanjikan, harap maklum ya sahabat. Silakan menulis komentar. karena blog ini masih baru, aku belum terlalu suka sama silent reader… so… komen yah…! Nayaka love u all…