an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

 

PENGGALAN POKET 4 :

 

Syawal mendesah lalu melanjutkan pekerjaannya. Aku masih tak nyaman. Beberapa saat kemudian aku mulai memperhatikan keadaan teman-temanku, mungkin di antara mereka ada yang bergerak bagai ulat nangka sepertiku di kursinya masing-masing.

 

 

Yang jadi sasaran utama, Yazir. Dia duduk di deret sebelah kiriku, sejajar dengan mejaku dan Syawal. Dia tenang-tenang saja, tak ada sesuatu yang janggal, perutnya tak mengganggunya. Lalu aku beralih ke Aria di sampingnya, cowok itu sedang mengelus-ngelus ujung dagunya yang lancip –entah apa maksudnya, sepertinya ketua pengurus Mading itu mulai sadar kalau dagunya terlalu runcing hingga mungkin bisa disewakan untuk dipakai sebagai alat pengupas kelapa. Kemudian aku melihat Jun yang duduk sambil menopang dagu, ya Tuhan… matanya terpejam. Tidurkah dia? Beralih ke Wardah di deret kanan, lucu… dia sedang menguap hingga aku melihat matanya berkaca-kaca. Sepertinya Wardah kurang tidur karena kebanyakan tadarus hingga larut pagi. Lalu aku beralih pada pemegang brankas kelas, Cinta a.k.a Rohcinta, tak ada kelainan padanya, tapi aksesoris rambutnya yang berbentuk tandan pisang sedikit mengusikku. Pisang. Heuhhh… pengen.

 

 

“Pak…!”

 

 

Aku kaget. Tahu-tahu kudapati Syawal sedang mengacungkan tangan. Pak Wahyudi –tua, rambut putih, kurus, item, berkacamata- berhenti dari mencoret-coret whiteboard. “Iya Syawal?”

 

 

“Ramadhan kurang sehat Pak, saya minta ijin bawa dia ke UKS?”

 

 

WHAT??? Masya Allah… apa yang dia lakukan?

 

 

POKET 5

 

Pak Wahyudi fokus ke kursiku. Syawal punya gara-gara. Dengan sebisanya aku menciptakan ekspresi meringis menahan sakit di wajahku–meski sebenarnya aku memang sedang merasa sakit, tapi untuk ke UKS? Sakit perutku tak pantas ke sana. Terlalu sepele. Aku mencoba mencari simpati dari Pak Wahyudi. Sangat tidak lucu kalau aku tidak koperatif dengan kalimat Syawal dengan mengatakan kepada Pak Wahyudi kalau Syawal bohong. Atau bangun dari kursiku untuk kemudian jungkir balik di depan kelas, menegaskan kalau aku cukup sehat -tidak sepertiyang dikatakan Syawal. Aku tak mau pacarku dapat masalah karena dianggap mempermainkan guru. Di sampingku, Syawal baru saja menurunkan tangannya lagi. Aku yakin, seisi kelas sedang memperhatikan ke meja kami sekarang.

 

 

“Apa ingin pulang saja, Ramadhan?” Ujar Pak Wahyudi.

 

 

“Boleh Pak, saya akan mengantarnya. Dia pergi dengan saya…” Syawal sangat cepat menjawab. Yang ditanya siapa yang jawab siapa?

 

 

“Engg… UKS saja Pak… mungkin saya hanya akan melewatkan jam Bapak saja…” Aku menjawab.

 

 

Pak Wahyudi mengangguk. “Silakan.”

 

 

“Makasih Pak…”

 

 

Pak Wahyudi menganguk lagi. Syawal segera bertindak menggamit lenganku –berusaha menunjukkan pada semua orang kalau aku memang sedang tidak sehat. “Apa saya bisa menunggui Ramadhan di sana Pak?” Dia kembali meminta persetujuan Pak Wahyudi begitu kami siap menuju pintu.

 

 

“Kalau itu diperlukan, kamu boleh berada di sana sampai Ramadhan merasa sehat.” Pak Wahyudi berdehem. “Kalau memang tidak tahan, tidak apa-apa kalau berhenti puasa…” Yang kedua ini lebih ditujukan untukku tentunya.

 

 

Aku mengangguk, Syawal juga begitu. Sempat kutangkap tatapan iri seluruh teman-temanku. Jelas aku melihat kalau mereka sedang bosan di kelas dan ingin segera selesai atau ingin melarikan diri dari sini untuk mengikutkan rasa malas, salah satunya dengan berbaring di ranjang UKS tentunya. Ah, semoga tak ada yang merencanakan hal serupa denganku saat jam berikutnya atau hari-hari esoknya.

 

 

Bu Muslikah –pembina UKS di sekolah kami- menerimaku dan Syawal dengan tangan terbuka. Beliau tidak banyak interogasi lagi saat Syawal mengatakan kalau aku merasa pusing dan perlu berbaring untuk beberapa lama –padahal bukan itu keluhanku. Syawal sudah mewanti-wantiku sepanjang koridor menuju UKS agar menyerahkan semua urusan padanya, aku hanya perlu mengangguk mengiyakan semua keterangannya dan tetap memasang wajah seperti tidak makan selama seminggu penuh, wajah begitu tadinya sukses membuat Pak Wahyudi percaya. Bu Muslikah segera memberi hak kepadaku untuk menggunakan salah satu tempat tidur di kamar UKS. Ruang ini sepi, sepertinya tidak ada siswa yang bertugas mendampingi Bu Muslikah hari ini. Beliau hanya sendirian di balik mejanya di ruang depan, kembali terpekur ke buku resepnya setelah kami masuk ke kamar.

 

 

Syawal menarik tirai pembatas yang sekaligus berfungsi sebagai pintu kamar, tanpa bicara dia segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sana. Aku menatapnya penuh heran, bercampur geram juga sedikit.

 

 

“Bar, yang sakit siapa sih?”

 

 

“Tadi saat di kelas kamu menggeleng kan saat aku tanya kamu sakit… Trus ketika jalan kemari kamu juga maki-maki aku karena bertindak sembarangan, bahkan ngotot bilang kalau kamu gak sakit.” Semua kalimatnya itu benar. Aku nyaris membogemnya karena bertindak tanpa sepengetahuanku. “Ya udah, sekarang kamu duduk saja di situ, biar aku yang berbaring…” Dia menunjuk kursi plastik di kaki tempat tidur.

 

 

Tega sekali dia. Tunggu. Ini pasti skenarionya lagi. Dia sebenarnya sedang malas ikut mata pelajaran hari ini tapi tidak menemukan alasan yang bagus untuk keluar dari sana, lalu dia melihat peluang itu ada padaku dan dia memanfaatkannya. Ya Tuhan, kenapa dia sangat jahat? Melihat Syawal berbaring nyaman dengan mata terpejam di atas tempat tidur sungguh membuatku bagai orang bego. Bahkan dia sudah melepas kacamatanya, pertanda kalau dia memang siap untuk tidur lama. Aku merasa kalau dia sedang mengambil keuntungan dariku. Selalu. Okey, memang tidak selalu, tapi akhir-akhir ini sering begitu.

 

 

Perutku memang masih sedikit perih. Tapi hatiku sedang sangat kesal saat ini. “Bar, aku balik ke kelas aja… toh aku memang gak sakit. Selamat istirahat, aku akan bilang pada Pak Wahyudi kalau aku udah baikan dan kamu yang sekarang jadi sakit…” Aku siap berbalik meninggalkan Syawal.

 

 

“Dan…” Syawal spontan turun dari tempat tidur dan berhasil mencegahku sebelum sukses menyibak tirai. “Kamu marah ya?” Syawal menggenggam tanganku.

 

 

“Aku kecewa, Bar… kamu jahat sama aku.” Ujarku lirih tanpa memandangnya.

 

 

Aku mendengar suara nafasnya. “Hey… aku bercanda saja. Gak mungkin aku yang tidur sementara kamu pucat gini.”

 

 

Hah? Aku pucat? Apakah benar? Syawal pasti ingin mempermainkanku lagi.

 

 

“Aku kesal denganmu…” Syawal melanjutkan kalimatnya. “Kamu marah-marah sepanjang jalan kemari, bilang aku mempermainkan guru lah, suka bohong lah, suka ngambil inisiatip sendiri dan bla bla bla. Aku kesal tau gak, aku orang terdekatmu di sini, aku hanya ingin menjagamu, melakukan sesuatu yang seharusnya ketika kamu sedang sakit. Seperti saat ini, aku hanya membantu untuk meperoleh izin agar kamu bisa istirahat. Kenapa? Karena aku tahu kamu sedang tidak sehat, meski kamu menggeleng ketika aku tanya tadi. Sulitkah untuk memberitahuku? Tidak bisakah kamu menerima kebaikanku, Dan…?”

 

 

Aku melongo. Kini aku memandangnya. Apakah aku sudah terlalu berburuk sangka padanya akhir-akhir ini? Ya Tuhan, mengapa aku bisa securiga ini dengan kekasihku sendiri? Padahal semua yang dilakukannya untukku adalah semata-mata karena ingin menjagaku –kecuali insiden pura-pura terkilir itu tentunya, itu adalah pembantaian, bukan penjagaan. Aku tak dapat berkata-kata, sebaliknya aku mulai merasa perutku makin bergolak.

 

 

Syawal merogoh sakunya lalu…

 

 

CEKREKK

 

 

Sial, kenapa dia memfotoku?

 

 

“Nih… wajahmu pucat banget tau gak…!” Dia menunjukkan hasil bidikannya padaku.

 

 

Aku menatap wajah bengongku di layar hape Syawal. Benar, aku tampak pucat. Bibirku nyaris putih. Reflex aku meraba mukaku. “Kenapa ya? Aku merasa kalau aku kuat kok… hanya…”

 

 

“Hanya karena kamu merasa kuat bukan berarti kamu sehat! Kamu merasa kuat, bukan benar-benar kuat kan?” Syawal menyimpan hapenya kembali.

 

 

“Perutku hanya sedikit perih, Bar…”

 

 

“Itu juga sakit namanya!”

 

 

Syawal menarikku ke tempat tidur, tanpa sempat kucegah dia merangkul pinggangku untuk kemudian mengangkatku ke atas kasur. “Baring!”

 

 

Aku ikut perintahnya membaringkan diri di atas kasur serba putih ini. Syawal mengambil kursi di kaki ranjang dan meletakkannya di sisi tempat tidur. Dia duduk di sana dan mulai memandangku, tepat ke dalam mataku. Aku mulai jengah ditatap seperti ini olehnya, selalu… jika tanpa kacamata aku selalu merasakan debar ekstra di dadaku.

 

 

“Jangan menatapku seperti itu.”

 

 

“Gak ada yang berhak ngelarang aku untuk menatap pacarku. Tidak juga pacarku sendiri. Aku akan menatapmu semauku.”

 

 

Aku langsung diam setelah mendengar kalimatnya barusan. Sungguh aku tak mampu lagi menentang tatapannya, alih-alih aku malah berpaling menatap dinding putih di sisi sebaliknya. Syawal tidak melarangku untuk tidak menatapnya, beberapa lama dia membiarkanku dalam posisi begitu. Saat ini, dinding putih polos yang sedang kutatap rasanya lebih menarik ketimbang mata Syawal tanpa kacamata. Masih ingatkah? Aku pernah menyebutkan kalau Syawal tak punya mata elang seperti kebanyakan cowok tampan pada umumnya –yang pasti tidak sempurna sebagai cowok tampan bila matanya biasa-biasa saja. Bukan jenis mata yang membuatku sanggup atau tak sanggup menatap Syawal, bukan jenis mata elang, mata kucing, mata burung hantu, mata burung unta, mata kaki atau mata pencaharian. Bukan itu, ini lebih karena di matanya –yang sedang tanpa kacamata- aku selalu melihat kenyataan bahwa aku adalah satu-satunya orang yang pernah dan akan tetap ditatapnya sedalam itu. Satu-satunya. Bagaimana bila dia sedang berkacamata? Apakah tatapanya tidak begitu? Tetap begitu, hanya saja bila dihalangi kacamata aku tak bisa langsung melihatnya sehebat yang kulihat bila dia melepas kacamatanya.

 

 

Seperti saat pertama kali kami saling menatap dimana untuk kemudian kami sama-sama sadar bahwa ada loncatan listrik di hati masing-masing, saat itu kami less glasses. Begitulah, aku selalu tewas dalam pusaran mata Syawal bila dia menatapku bukan dari balik kacamatanya.

 

 

“Sering ngerasa perih seperti sekarang?”

 

 

Aku berpaling, tapi tidak memandang matanya. Aku menatap dasi abu-abu di dadanya. “Kadang-kadang…” Jawabku. “Tapi selama puasa jadi lebih sering kadang-kadangnya.”

 

 

Syawal tertawa. “Artinya sering kan?”

 

 

Aku mengangguk.

 

 

“Pernah periksa?”

 

 

“Dulu sempat dirawat kan? Thypus itu ada hubungannya sama perut, nama bekennya aja thypus abdominalis…” Jawabku, masih memandang dadanya.

 

 

“Hemm…” Dia mengumam, kursinya ditarik lebih rapat ke tempat tidur. “Tadi sahurnya makan apa?”

 

 

“Bukan kuah kari…” Jawabku cepat, Syawal suka kuah kari ummiku. Apapun itu, daging, ikan, ayam, rebung atau nangka muda kalau dibikin kari Syawal pasti suka. Pada Ummi, suatu kali Syawal pernah mengaku kalau kuah kari bikinan mamanya tak sama seperti buatan ummiku.

 

 

Lagi dia tertawa. “Aku juga tak mengendus bau kari kok tadi pagi.” Katanya. “Minum obat lambung gak?”

 

 

Aku menggeleng. “Aku benci obat-obatan, seperti aku benci wijen. Kamu tau itu…” Benar, aku benci wijen. Aku akan berusaha mengeluarkan setiap biji halus itu bila kebetulan ada dalam makananku. Sangat sering adalah kue bikinan Kak Aira, entah apa yang membuat kakakku itu sangat tergila-gila untuk menambahkan wijen sebagai aksen pada beberapa kue bikinannya. Nasib baik sekarang Kak Aira tidak di rumah, aku tak sering lagi berhadapan dengan wijen.

 

 

“Ya aku tahu bagaimana malasnya kamu minum obat, juga gak lupa kalau kamu musuhan sama wijen. Tapi ini kamu sedang sakit loh Dan… kamu udah boleh berpikir untuk menyediakan obat maag mulai sahur nanti. Demi kebaikanmu juga kan?”

 

 

“Kamu terlalu khawatir…” Aku merasa-rasa ke perutku. “Tau? Sekarang perihku malah gak berbekas lagi.” Aku mendongak ke wajahnya.

 

 

Syawal menatapku. Rona tak percaya tergambar jalas di wajahnya. Pasti saat ini hatinya sedang berkata ‘Siapa yang mau percaya? Halo, baru beberapa saat lalu kamu mengakui kalau perutmu perih.’

 

 

“Beneran Bar, perutku gak sakit lagi. Mungkin aku hanya perlu berbaring sesaat saja.” Kembali aku meyakinkan Syawal ketika tatapannya belum juga berubah. “Emm… bisakah kita balik ke kelas?”

 

 

“Oh diamlah, Didan…” Syawal meraup mukaku. “Tidurlah sebentar atau aku akan memaksamu makan sesuatu untuk menghilangkan perih di sini…” Setelah sukses dengan wajahku, kini dia malah meletakkan tangannya di perutku. “Bu Muslikah tidak akan keberatan kita sedikit berlama-lama di markasnya.”

 

 

Lalu dia menelungkup di sisi tempat tidur, tangannya masih di atas perutku. Aku berusaha memindahkannya dari sana. Bisa memang, tapi belum lima detik tangannya sudah kembali lagi ke perutku. Kupindahkan lagi naik lagi. Aku mendesah, kubiarkan Syawal begitu. Mungkin ada baiknya aku mengikuti sarannya untuk tidur sebentar. Maka kemudian aku melepas kacamataku, meletakkannya bersama punya Syawal yang sudah lebih dulu bertengger di meja kecil di samping kepala tempat tidur. Lalu aku mengatupkan kelopak mataku.

 

***

 

Yazir benar-benar datang ke rumah. Ternyata dia sungguh-sungguh dengan ucapannya ketika kami berjumpa di pasar tempo hari. Aku sedang membantu ummiku di dapur ketika Yazir memberi salam. Sedikit kaget saat mendapati sosoknya sudah tegak di teras ketika aku membuka pintu. Penampilan Yazir masih sama seperti waktu aku dan Kak Aira bertemu dengannya ketika itu. Koko khas anak muda dan denim bagus –pasti mahal, tentu saja bukan koko dan denim yang sama dengan hari itu. Yazir tidak cukup kere untuk memakai pakaian yang itu-itu saja saat akan menemui orang yang itu-itu lagi. Orang tuanya tajir, termasuk donator tetap sekolah untuk program beasiswa bagi siswa berprestasi yang kurang mampu –begitu gosipnya.

 

 

“Wah… Zir… tumben sekali.” Ucapku sambil mengangakan daun pintu, mempersilakan dia masuk ke rumah.

 

 

“Kok tumben sih. Bukan sekali ini kan aku kemari?” Mukanya sedikit memberengut.

 

 

“Kali kedua ya…”

 

 

Ekspresinya masih sama. “Gak usah disebutin jumlahnya juga bisalah Dhan…”

 

 

Aku nyengir. Ini memang kali kedua Yazir ke rumah, kali pertama dulu ketika masih kelas 1, saat aku baru pulang dari rumah sakit. Dia datang bersama beberapa kawan yang lain, menjengukku untuk kedua kalinya. Jarak rumah Yazir ke rumahku lumayan jauh, lebih setengah jam perjalanan motor. Kalau SMA kami bukan sekolah favorit, yazir tak mungkin mau bersusah-susah menempuh perjalanan cukup jauh untuk bersekolah di SMA itu. Dari rumahnya, jarak pasar lebih dekat dibandingkan sekolah. Sedang dari rumahku, jarak pasar lebih kurang dua kali jarak ke sekolah.

 

 

“Masuk yuk!”

 

 

“Tuan rumah yang baik…” Gumamnya cukup jelas untuk kudengar.

 

 

“Aku bisa jadi tuan rumah yang lebih baik lagi dengan membuatkanmu segelas es teh manis. Mau?”

 

 

Yazir tertawa sambil melangkah masuk. “Sebenarnya sangat kepengen sih, tapi maaf… ini bulan yang diharuskan berpuasa bagi umat agamaku yang benar-benar beriman.”

 

 

Aku tahu dia membalas olok-olokanku tadi. “Aku juga umat beriman, tau!” Cetusku. Yazir lagi-lagi tertawa. “Ummi, ketua kelasku datang bertamu nih. Masih ingat?” Aku berseru begitu tiba di ruang tengah.

 

 

“Huss, gak sopan neriakin ibu kita gitu. Jangan dilakukan lagi ya!”

 

 

Aku bengong. Guru ngaji Yazir siapa ya? Tak ada kata dariku, aku diam memperhatikan Yazir bergerak menuju dapur –dimana ummiku sedang menyiapkan menu berbuka. Dapat kudengar dia mengobrol dengan Ummi –memperkenalkan diri sekaligus me-review ingatan Ummi akan dirinya yang sudah pernah kemari tahun lalu. Penting ya diingatkan?

 

 

Aku menunggu beberapa saat, Yazir belum balik. Apa yang dilakukannya di dapurku? Merayu Ummi agar dibolehin memacari Kak Aira? Atau sedang belajar cara menggunakan ulekan yang baik dan benar dari ummiku. Aku bangun dari kursi dan menyusulnya ke dapur.

 

 

Tepat sekali, Yazir memang sedang belajar. Tapi bukan belajar cara menggunakan ulekan –mungkin dia sudah mahir dengan benda itu, melainkan sedang mempraktekkan cara menggoreng perkedel dengan penggorengan aluminium. Dia mengambil alih posisi Ummi di depan kompor kami, sedang ummi sendiri melanjutkan membentuk keping-keping perkedel itu dalam wadah. Begitulah teknik memasak ummi, semua tahap dilakukannya sambil jalan. Seperti sekarang, sedang dibentuk juga sedang digoreng –untuk perkedel, kadang sedang dirajang juga sambil digoreng –bila musim keripik tiba, dan beberapa makanan lain yang bisa dikerjakan begitu.

 

 

“Loh, Zir… kok malah menggoreng…”

 

 

Yazir menoleh sebentar. “Kasian sama Ummi, punya anak gak mau bantuin.”

 

 

Aku memperhatikan Ummi yang masih sibuk dengan bahan perkedelnya. “Ummi bilang gitu?”

 

 

“Gak baik curiga sama ibu sendiri.” Lagi, siapakah guru ngaji Yazir?

 

 

Ummiku tertawa pelan. “Ummi bercanda saja, Didan…”

 

 

“Jangan bercanda sama Yazir, Ummi… dia suka salah nganggap candaan jadi serius.” Ujarku sambil merampas sudip goreng dari tangan Yazir. Ketua kelasku itu mendelik padaku.

 

 

Ummi kembali tertawa. “Enggak, Nak Yazir tahu mana becandaan dan mana yang sungguhan.” Pasti kuping Yazir naik sekarang. “Katanya dia juga kenal kakakmu loh.” Ucap Ummi tanpa menoleh dari wadahnya.

 

 

Aku memandang Yazir, dia nyengir. Benar kan? Pasti dia sedang memanfaatkan peluang untuk berbaik-baik sama keluargaku.

 

 

“Beli kue gak hari ini?” Tanya ummiku. “Abah suka sekali, gak pernah alpa tuh selama puasa kali ini. Masih sempat pergi kan, Nak?” Ummi menatapku.

 

 

“Nunggu Bang Ikhwan pulang aja deh Ummi.” Sudah dua hari ini abangku itu yang pergi membeli.

 

 

“Mana bisa, pulangnya sudah telat. Kemarin kan karena abangmu itu libur.”

 

 

Aku mendecak, cukup nyaring.

 

 

“Gak baik…”

 

 

“Iya tau!” Semburku pada Yazir tepat disaat dia siap mengoreksi tingkahku. “Gak baik membantah ibu sendiri kan?”

 

 

“Gak baik mendecak gitu, tandanya kita kesal sama ibu sendiri… bilang uffin aja gak boleh loh…”

 

 

Ya Tuhanku… siapa gerangan guru ngaji Yazir??? Aku membulatkan mataku padanya. Ummi tertawa saja mendengar kalimat Yazir.

 

 

“Ayo, aku kawani deh.” Apa ini juga bagian dari baik-baikin keluargaku agar bisa meluruskan misinya untuk jadi pacar Kak Aira suatu saat nanti? “Kami izin Ummi, gak lama, setengah jam aja.” Yazir segera menyeretku dari dapur tanpa menunggu apa-apa.

 

 

Aku bersikeres melepaskan cengkeramannya di pergelanganku, tapi dia tak mau menyerah. “Zir, bentar dulu…”

 

 

“Gak boleh nunda-nunda perintah orang tua, apalagi perintah ibu. Harus bersegera bila kita memang bisa menyegerakannya…”

 

 

“AKU BELUM MINTA UANGNYA…!!!” Teriakanku masuk seutuhnya ke kuping Yazir. Sejauh ini dia sudah berhasil menyeretku mendekati pintu depan.

 

 

Yazir cengengesan sendiri, tanganku sudah dilepasnya. “Sorry… kirain udah.”

 

 

Ingin sekali aku meremas muka tampannya itu, tapi Ummi keburu muncul menyerahkan uang lima puluh ribu-an padaku. Ummiku lebih dulu sadar kalau Yazir bergerak terlalu cepat sebelum dikomando untuk bergerak. Yazir tak cocok jadi tentara, bisa bikin runyam barisan pertahanan karena pasti akan selalu bergerak lebih dulu mendahului perintah. “Jangan ngebut-ngebut di jalan…” Ini lebih ditujukan buat Yazir. “Eh, Nak Yazir apa gak telat nantinya?”

 

 

“Gak kok Ummi, ini masih lama dari waktu maghrib.”

 

 

“Atau buka puasa di sini saja?” Ummi menawarkan.

 

 

“Ah, jangan Ummi. Beneran, ini masih keburu untuk pulang kok.”

 

 

“Udah, buka di sini aja biar lebih akrab. Bisa kenal abahnya Kak Aira, juga kakak sulungnya Kak Aira…” Aku sengaja.

 

 

Muka Yazir langsung merah. Aku ingin lompat-lompat rasanya karena berhasil menyamakan kedudukan, hanya dengan satu kalimat saja.

 

 

Ummiku senyum-senyum. “Ya sudah, tapi nanti kalau tidak keburu harus mau ya berbuka di sini.”

 

 

“Pasti Ummi…” Yazir segera menarik tanganku. “Kami pergi ya, assalamualaikum.”

 

 

“Iya, waalaikumsalam.”

 

 

Aku naik ke boncengan Yazir. Sebelumnya sempat kuperhatikan keadaan rumah Syawal lebih dulu. Dia tak terlihat, mungkin sedang tidak di rumah. Tapi Haikal sempat meneriakkan namaku ketika motor Yazir keluar dari gerbang. Aku tak tahu dimana posisi bocah itu. Sepertinya dalam paret kering di bahu jalan–lokasi favorit Haikal bila sedang asik sendiri.

 

 

“Itu tadi rumah Syawal kan?” Tanya Yazir setelah motor melaju jauh meninggalkan rumah. Teman-teman sekelas memang banyak yang tidak tahu rumah Syawal, tapi ketika mereka mendapat keterangan kalau rumah Syawal berhadapan dengan rumahku mereka langsung bisa tahu denahnya.

 

 

“Iya.” Jawabku singkat.

 

 

“Kok dia gak nampak.”

 

 

Enak aja bilang gak nampak, kamu kira pacarku itu sebangsa makhluk halus, hah?

 

 

“Dia gak sering di rumah ya?”

 

 

Pacarku bukan tipe anak badung yang suka keluyuran macammu.

 

 

“Kamu gak sering ngabuburit bareng dia?”

 

 

Tentu saja sering, sangat sering malah. Tau? Dia pacarku. Tentu saja kami sering pergi berdua.

 

 

“Dhan, lidahmu mendadak copot ya?”

 

 

“Diam ah, banyak nanya. Gak penting juga.”

 

 

Yazir diam sebentar. Tidak lama. “Dhan, aku boleh minta nomer hapenya Kak Aira kan?”

 

 

Hadeh, mulai. Aku tak menjawab.

 

 

“Dhan, boleh ya… aku gak niat jahil kok… benaran. Hatiku putih pengen temenan sama Kak Aira. Boleh ya?”

 

 

Temenan? Mustahil.

 

 

“Dhan, kok gak jawab sih?”

 

 

“Aduh, Zir… diam deh. Fokus ke jalan, nanti kita masuk longkang.”

 

 

“Aku mintanya tuluuus… banget.” Suara Yazir mulai mendayu-dayu. “Mau kasih kan Dhan?”

 

 

Aku mendesah. “Iya, nanti…” Kak Aira maafkan aku. Misiku utama adalah membuat Bang Awi yang seharusnya dapat nomer-mu, tapi sekarang malah jadi yazir yang lebih maju satu langkah.

 

 

“Makasih Dhan, lebaran nanti aku kasih angpao ya.” Yazir mulai mengebut.

 

 

“Kelamaan nunggu lebaran…” Aku mengetatkan lenganku di pinggangnya.

 

 

“Kamu boleh beli sesuatu deh di pasar nanti, aku yang yang bayar.”

 

 

Hmm… setidaknya yazir juga cukup royal dengan adik calon pacarnya, tak kalah dengan Bang Awi. Mind setting-ku sedang error.

 

***

 

“Kata Ikal tadi sore kamu keluar sama seseorang ya? Laki-laki? Siapa? Kok gak ngasih tau aku?”

 

 

Syawal sudah berada di kamarku malam ini. Pasti setelah menyimpan sarung dan pecinya saat pulang taraweh tadi dia langsung menyeberang ke sini. Aku sedang menyiapkan buku-bukuku untuk besok. Aku yakin, Haikal sudah memberitahu Syawal sejak sebelum maghrib, atau paling telat setelah berbuka. Tapi Syawal memilih tidak menanyakan padaku saat  sama-sama pulang pergi mesjid, dia menanyakannya sekarang.

 

 

“Ikal juga bilang, laki-laki itu cakep… sebaya kita, bawa motor gede. Siapa sih Dhan?”

 

 

Haikal sungguh adik yang berbakti. Informasinya sangat akurat. Aku melirik ke pintu, berjaga-jaga kemungkinan Bang Ikhwan nyelonong masuk kamar dengan tiba-tiba. Bisa gawat kalau Syawal bicara macam-macam. Aku tak melihat Bang Ikhwan ketika masuk rumah tadi, dari mesjid tadi kami tidak sama-sama, sepertinya Bang Ikhwan mau ikut tadarus.

 

 

“Dan, aku gak menarik lagi ya di matamu?” Setidaknya Syawal masih ingat untuk memelankan suara saat mengucapkan kalimat-kalimat begini.

 

 

Aku menutup zipper tas selempangku lalu berbalik memandang Syawal yang sedang menjuntai di tempat tidur. “Yang dilihat Ikal tadi sore itu Yazir…” Dapat kutangkap perubahan raut wajah Syawal begitu nama Yazir kusebutkan. Sudah kuperkirakan. Sepertinya gak ada salahnya aku menjahili Syawal kadang-kadang, jangan aku yang selalu jadi korban ulahnya. “Kami ngabuburit, aku gak ingin membohongimu dengan mengatakan kalau gak ada apa-apa diantara aku dan Yazir. Kenyataannya, tadi Yazir memintaku jadi pacar pertamanya…”

 

 

Sukses. Syawal mengelam. “Dan kamu mau?”

 

 

Aku mengangguk mantap. “Gak ada alasan untuk tidak menerimanya sebagai kekasih…”

 

 

Syawal jelas sudah terluka. Bahkan dia sudah langsung terluka begitu nama Yazir kusebutkan pertama kali tadi. Aku dapat melihat itu dari riak wajahnya, dari matanya, juga dari bahasa tubuhnya. Tapi aku senang. Senang dapat mengerjainya sekaligus senang mengetahui kalau dia teramat mencintaiku, terbukti dia sangat terluka sekarang.

 

 

“Lalu apa artinya aku bagimu, Dhan…” Syawal berucap lemah. “Apa artinya perasaanku ini bagimu? Apa artinya kebersamaan kita hampir setahun ini?”

 

 

Kasihan Syawal, dia sungguh terluka. Bahkan aku mulai menangkap kaca lagi di balik kacamatanya. Mata Syawal siap basah. Aku segera bangun dan menuju pintu, memutar kuncinya lalu berbalik lagi menuju Syawal. Tanpa bicara aku langsung duduk di sisinya lalu memeluknya, Syawal bingung dalam dekapanku. Dia tak balas memeluk.

 

 

“Gak apa-apa, Dan… aku baik-baik saja. Kalau kamu lebih bahagia dengannya, aku akan turut bahagia. Kamu gak perlu merasa bersalah, aku baik-baik saja.”

 

 

Syawal lebih sakit dari yang kuperkirakan ternyata. Dia mengira aku memeluknya begini sebagai pelukan minta maaf atau karena aku merasa bersalah telah mencintai orang lain. Dia mengira ini pelukanku terakhir karena setelah ini aku akan minta putus dengannya. Itukah mengapa dia tak balas memelukku?

 

 

Aku semakin mengencangkan lenganku di punggungnya. Aku juga mulai merasa sedih. Tidak, bukan sedih, lebih tepatnya terharu. Aku terharu dengan cinta Syawal buatku, sungguh begitu besarnya. “Peluk aku, Bar…”

 

 

Syawal mendesah. “Entahlah, mungkin aku tak akan pernah bisa memelukmu lagi seperti ini… tak pantas lagi.” Syawal mulai menjalin lengannya di belakang pinggangku. “Tidak juga setelah bulan Ramadhan selesai…” Aku merasakan dagunya di bahuku. “Setelah ini, akan ada orang lain yang lebih pantas memelukmu selain aku…”

 

 

“Hemm…” Aku menggumam, belum ingin mengakhiri sandiwaraku terlalu cepat. “Maafkan aku…”

 

 

“Shhh… aku gak mau dengar kamu minta maaf… bahkan merasa bersalah pun jangan. Kamu gak salah, Dan. Cinta gak pernah berdosa…”

 

 

“Hemm…”

 

 

Sekarang aku menaikkan sebelah tungkaiku ke atas pahanya, satu kakiku sekarang berada di tengah-tengah Syawal dan satu kaki Syawal tepat berada di antaraku. Jika tak ingat diri dan keadaan, ingin saja aku mendorongnya telentang. Bang Ikhwan tak akan pulang cepat, suaranya sudah terdengar dari corong mesjid beberapa menit lalu. Seperti yang aku kira, dia ikut tadarus malam ini.

 

 

“Kita masih bisa jadi teman kan? Aku juga masih bisa boncengin kamu saat ke sekolah kan? Yazir gak akan jemput kamu tiap hari kan? Kita masih bisa duduk sebangku di kelas kan?” Syawal memburu dalam kalimat tanya berakhiran –kan.

 

 

“Hemm…”

 

 

Diam beberapa lama dengan masih saling memeluk. “Aku harus pulang…” Syawal berusaha melepas pelukannya setelah cukup lama posisi kami tak berubah. Tapi aku semakin mengetatkan diri padanya. “Didan…”

 

 

“Hemm…”

 

 

“Aku mulai bosan dengan suara dari hidungmu itu…”

 

 

Aku menggumam lirih. Kurenggangkan diriku dari Syawal. Saatnya tertawa sekarang. “Aku gak nyangka kamu bisa begitu saja menyerahkanku untuk Yazir…”

 

 

Kening Syawal berkerut.

 

 

“Seharusnya kamu mempertahankanku…”

 

 

Kerutan di keningnya bertambah.

 

 

“Jika baru pura-pura begini saja kamu dengan mudah bilang ‘aku baik-baik saja aku baik-baik saja…’” Kutiru kalimatnya dengan aksen mengolok-olok yang berlebihan. “Huh… gimana kalau sungguhan… pasti kamu bakal langsung mendorongku ke tangan Yazir tanpa merasa keberatan sedikit pun.”

 

 

“Kampret…” Syawal mulai menyadari kebohonganku, dia meremas perutku dengan geram.

 

 

“Adoww sakit, Bar… Sumpah!”

 

 

“Hah??? Didan… duh, perutmu perih lagi ya?” Syawal panik, dari meremas sekarang jadi mengusap-usap perutku.

 

 

“He eh…”

 

 

“Yah… maaf… aku lupa. Aku ambil obat deh, ada kan?”

 

 

“Gak usah…” Aku meringis.

 

 

“Trus apa yang harus aku lakukan? Aku panggil Ummi ya…”

 

 

“Gak usah…”

 

 

Syawal hilang kata-kata.

 

 

“Sepertinya aku bisa sembuh dengan segelas coklat hangat. Maukah kamu turun ke dapur dan membuatkannya untukku?”

 

 

“Sialan, kamu menipuku lagi.”

 

 

Aku tertawa.

 

 

“Sekarang, gak ada ampun lagi bagimu.”

 

 

Syawal menerjangku hingga aku jatuh ke tempat tidur. Sambil terus merepet dia mendaki ke atasku. Tanpa bisa kucegah Syawal sudah merapatkan mulutnya ke mulutku, kami sukses berciuman. Singkat memang, tapi aku rasa cukup impas setelah tidak melakukannya lumayan lama. Merasa telah cukup berada di atasku, Syawal kini berbaring menelentang di sampingku.

 

 

“Jadi, tadi sore itu siapa?” Ternyata topik ini tidak serta merta terlupakan, meski kami baru saja berciuman.

 

 

“Yazir, kan aku udah bilang.”

 

 

Syawal menggeragap bangun. “Jadi yang tadi itu bukan akal-akalanmu?”

 

 

Aku tertawa. “Ya Tuhan, Bar… itu gak akan terjadi… Tau? Yazir suka sama Kak Aira…”

 

 

“HAH?” Yap, big hah. Syawal sangat pantas kaget besar.

 

 

“Iya, makanya dia main ke rumah…”

 

 

“Kamu serius?”

 

 

Aku mengangguk. “Tapi Ikal bilang kalian keluar berdua.” Syawal mulai menatapku seperti tadi lagi. “Karena Kak Aira gak ada jadi dia ngajak kamu jalan. Gitu?” Nadanya mulai ketus kali ini.

 

 

“Dia ngawani aku beli kue doang.”

 

 

Syawal menatapku tak percaya. “Yakin cuma beli kue?”

 

 

“He eh… suer!” Aku mengangkat jariku, bukan jari tengah tentunya. Aku tak mau memberitahu tentang sandal yang dibayar Yazir untukku sore tadi, bisa-bisa Syawal menyuruhku menghibahkannya buat fakir miskin.

 

 

“Hemm… okey! I believe…”

 

 

Aku tersenyum buatnya.

 

 

Syawal turun. “Didan, aku pulang deh, larut nih udahan.” Ucapnya sambil memperbaiki letak kacamatnya. “Gud nait…” Syawal melangkah ke pintu.

 

 

“Minggu besok kita mulai buat kliping ya!” Ujarku tanpa beranjak dari tempatku, malah sekarang sudah menarik selimut yang teronggok di kaki tempat tidur.

 

 

“Insya Allah…”

 

 

 

Syawalmemutar kunci lalu lenyap di balik pintu. Samar-samar dapat kudengar dia berbasa-basi dengan abahku. Pasti Abah masih terjaga di depan tivi, mengikuti shalat taraweh langsung dari mekah atau ceramah-ceramah tengah malam.

 

 

Menyinggung Abah, aku jadi ingat Kak Aira. Pertanyaan ini kembali mengema di kepalaku. Apa Abah beneran tak suka jika Kak Aira diambil istri oleh Bang Awi? Aku sulit percaya jika Abah menolak Bang Awi dikarenakan ketidaksukaannya pada ustadz itu, bukan semata-mata karena ingin Kak Aira kuliah. Tapi kenyataan bahwa selama ini –setahuku- Abah tak pernah sekalipun bertutur sapa dengan Bang Awi, meskipun hampir tiap malam akhir-akhir ini selalu berpapasan di mesjid sedikit banyak membuatku menduga seperti itu. Abah tak suka pada Bang Awi. Kak Aira juga sepertinya takut jika Abah tahu kalau dia dekat dengan Bang Awi, terbukti saat kami selalu berjumpa dengannya di Pasar Ramadhan di minggu awal puasa. Kak Aira tak lupa mewanti-wantiku untuk tidak memberitahu siapapun. Sedang Bang Awi, mungkin dia terlalu segan untuk mulai menyapa Abah. Atau takut? Tidak, pasti segan. Aku tahu prinsip hidup para alim sepertinya, takut itu hanya kepada-Nya saja. Jadi, Bang Awi pasti segan untuk menyapa Abah.

 

 

Sungguh, aku jadi ingat Kak Aira dan nasib perasaannya kepada Bang Awi. Dan sekarang malah muncul Yazir –remaja aneh. Apakah keputusanku memberikan nomer Kak Aira pada Yazir adalah salah? Tapi sandal itu sangat bagus sekali di kakiku. Tidak, aku sudah melakukan hal yang benar. Sudah melakukan hal baik. Sandal yang sekarang masih terkotak bagus di lemariku buktinya. Hal baik selalu berbuah baik bukan? Aku menamam kebaikan pada Yazir dan hasilnya aku memetik buahnya berupa sandal yang masih dalam keadaan baik. Berpikir begini, aku jadi tenang tidur.

 

 

Kutarik selimut hingga dagu dan kupejamkan mataku. Sayup suara Bang Ikhwan sangat dinikmati membrane timpani-ku. Aku selalu menikmati suara abangku itu saat mengaji. Kadang aku suka lupa kalau dia seorang polisi ketika sedang mengaji, aku lebih melihatnya sebagai kiai muda atau alumni ponpes seperti Bang Awi. Pasti aku akan terlelap sebelum giliran Bang Ikhwan selesai dan diteruskan pemuda lain.

 

***

 

 

 

 

 

 

-POKET 6 SEDANG DIRACIK DI DAPUR NAYAKA-

 

-N.A.G-

 

dekdie_ishaque@yahoo.com

 

nay.algibran@gmail.com

 

p.s :

Hehehee, ternyata semakin jauh, menulis itu memang bikin ketagihan. Tapi… lelahnya itu loh. Sungguh membantai. Para sahabat, doakan aku sehat ya, doakan aku dapat inspirasi, jariku baik2 saja dan lappie-ku fit untuk beberapa hari ke depan. Aku ada pe-er penting yang harus kuselesaikan… pe-er penting semisal menggodok tulisan untuk Antologi Cerpen BF (baca keterangannya di bawah postingan ini). Mari para sahabat, kita ramaikan literature negeri ini dengan tulisan yang controversial (zaman sekarang, gak kontroversi gak asik!) heheheheee…