Film indie produksi tahun 2011 ini adalah sebuah film bergenre sci-fi yang dibumbui gay romance. Zachary Wells hampir putus asa karena hidupnya yang kacau setelah karirnya sebagai sutradara film meredup. Padahal belasan tahun sebelumnya, dia seakan punya masa depan cerah berkat kemenangannya memperoleh beasiswa dalam festival film kampus.

Hidup Zach berubah saat Topher Shadoe, seorang “kawan lama”, memintanya untuk kembali ke kampus Keystone University sebagai juri dalam festival film menggantikan kawannya itu. Disana, Zach tidak sengaja bertemu seorang mahasiswa dan hook up di malam pertama mereka bertemu. Zach terkejut ketika keesokan harinya mahasiswa itu memasuki ruang interview sebagai salah satu peserta festival. Lebih terkejut lagi ketika bocah itu mengaku bernama Danny Reyes, dan film yang dibuatnya berjudul Judas Kiss. “No, you can’t be Danny Reyes!”, dengan bersungut-sungut Zach meninggalkan ruang interview. Ini terlalu membuat shock, Zach bahkan mengira Topher berkomplot dengan pihak kampus untuk mengerjainya. Kenapa? Karena Danny Reyes adalah nama aslinya! Dan Judas Kiss, tentu saja itu film buatannya yang menang festival belasan tahun lalu! Zach makin bingung ketika seorang janitor tua di kampus terus-menerus mengikutinya dan berkata, “Change that kid’s past, and you’ll change your future”.

Lambat laun Zach menyadari, bahwa dia sedang diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya. Dia seharusnya tidak membuat Judas Kiss yang menceritakan pelecehan seksual yang dilakukan ayahnya ketika dia masih anak-anak. Seharusnya tidak memenangkan festival film itu. Seharusnya tidak memilih untuk bersama Shane Lyons – anak pemilik kampus dibanding Chris Wachowsky – cowo imut yang tulus mencintainya. Maka tidak perlu ada Zachary Wells, dan tidak perlu ada Topher Sadhoe. Bagaimana cara Zach meyakinkan Danny – yang notabene adalah dirinya di masa lalu, agar tidak memilih jalan hidup yang salah demi memperbaiki masa depannya?

Yang menarik dari film ini, tentu saja my baby brother Richard Harmon, kekeke..😀 Nggak ding, jelas ya.. film ini mengandung nilai moral. Apa yang kita lakukan di masa muda sangat menentukan masa depan kita, slogan “muda foya-foya, tua kaya raya” jelas nggak akan pernah berlaku, hehehe.. Waktu juga nggak akan pernah berputar mundur, apalagi berharap kalo kita bisa mendapat kesempatan kedua kaya di film ini, kekeke..

Hmm… film ini bagus kalo saya bilang. Jujur ya, awalnya saya pengen nonton karena tema cinta pelangi-nya.. tapi ternyata ada bonus nilai moral itu tadi, dan.. bisa nonton Richard Harmon, hihihi… Berhubung lumayan banyak scene cowo-cowo yang “ehhem” sampe yang “uhhuk”😀, saya sarankan kalo pengen nonton, pilih waktu pas udah nggak puasa ya…

If you had a second chance, would you grab it?