.

.

.

Kenapa di dunia ini diciptakan prasangka? Saat manusia hanya memandang dari sudut saja.  Pernahkah mereka melihat lebih jauh kedalam? Bahwa ada luka, yang sebenarnya tak perlu ada.

Semua karena prasangka…

Sebab di dunia tak ada yang sama. Sebab di dunia selalu ada yang berbeda. Dan salah satunya adalah aku.

Kenapa mesti aku?

Entahlah…

Aku sendiri  tahu.

Mungkin, Tuhan telah menciptakan begitu. Lalu, akankah Tuhan murka padaku?

Aku… yang tak tahu sejak kapan itu terjadi.

Yang kuingat saat kelas 1 SMU.

Senja yang mulai merangkak naik memaksaku mengakhiri latihan basket kesukaanku. Namun, aku tetap mendrible bola orange itu. Warna yang sama saat kulihat senja di sana.

One Hand Shoot

Aku mencoba melakukannya berkali-kali, tapi gagal.

Apa ada yang salah? Apa karena aku masih pemula?

“Itu salah!”

Ku cari sumber suara itu. Lelaki yang hampir sebaya denganku. Dia menghampiriku, merebut bola dan mempraktekan One Hand Shoot miliknya.

“Rasakan bola di tanganmu, fokus pada ring. Kumpulkan tenaga pada tumpuan tanganmu. Tak perlu keras-keras mendorong bolanya, yang penting bertenaga, ingat untuk tetap fokus dan… masuk!”

Duk! Duk! Duk!

Benar-benar masuk. Terlihat lembut tapi memiliki kekuatan.

Aneh!

Lelaki itu tersenyum bangga padaku. Kupikir sih terkesan pamer, tapi aku mengakui kehebatannya. Dia pasti sering berlatih.

“Giliranmu!” katanya sambil menyerahkan bola orange itu padaku. Aku mencoba melakukan apa yang dia katakan tadi.

Pertama gagal. Namun, dari sepuluh Shoot yang kulakukan tujuh diantaranya berhasil melewati ring. Lumayanlah.

Haruskah aku berterimakasih? Mungkin…

Tapi, laki-laki itu telah menghilang.

.

.

Esoknya, senja yang sama mempertemukan kami kembali.  Kami berdua terduduk di lapangan basket yang kesepian ini. Dia memainkan bola basket di tangannya.

“Kamu suka basket?” tanyanya.

Bukankah sudah ketara sekali ya? Namun kujawab juga pertanyaannya.

“Suka, kalau kamu?”

“Hu-uh, suka banget. Hehehe…”

Dia tersenyum. Matanya berbinar semangat. Peluh membasahi seragam sekolahnya. Membasahi kulitnya yang berwarna coklat. Bahkan rambut hitamnya yang sedikit panjang pun terlihat basah. Kami habis bermain basket tadi.

“Sepulang sekolah kulihat kamu selalu main basket di sini. Kenapa ga masuk ke ekskul basket aja?” tawarnya.

“E-Entahlah, aku…” aku masih ragu. Itu yang ingin kukatakan.

“Ikut klub saja, setiap hari kamu bisa bertemu denganku. Kamu tak perlu bermain sendiri, kita bisa berlatih bersama-sama. Kamu mau?” dia sedikit membujuk.

Ditatapnya mataku lekat-lekat. Aku tak melepaskan pandanganku darinya.

Dia tampak serius. Dia menginginkan aku.

.

.

Aku terbujuk. Aku ingin lebih sering bersama dengannya. Bermain basket yang aku suka dengannya. Entah kenapa? Entah karena alasan apa?

“Aku Reza, kelas 2-2. Tahun ajaran ini, bisa di bilang aku kapten baru di tim basket ini,”

“Panji, kelas 1-7. Kamu… orang hebat rupanya, pantas saja.”

“Ah~ biasa aja kok, hehehe…”

Reza menepuk-nepuk punggungku pelan.

Ya, Reza. Laki-laki yang aku temui saat senja waktu itu. Dia yang kemudian memperkenalkanku dengan semua anggota klub basket yang ada. 5 pemain inti dan 4 cadangan termasuk aku, satu pelatih, manager dan beberapa anak yang turut membantu. Ramai.

“Walaupun masih di cadangan. Kau harus berusaha keras. Karena aku ingin bisa bermain bersamamu di pertandingan nanti, Ok?!” katanya sambil tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku. Dia kemudian berlari ke lapangan, memberikan pengarahan pada anggota lainnya.

Ada yang berbeda dari apa yang pernah kurasakan. Kata-kata, tatapan, senyum dan bahkan sentuhan itu…

Aku merasakan desiran halus memenuhi setiap ruang dalam tubuhku. Ada yang lain dan aku tak dapat menghindari itu.

.

.

Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, lalu muncul kisah-kisah baru yang lainnya. Rama dan Sinta, Romeo dan Juliet. Semua berpasangan. Semua serasi sesuai kehendak Tuhan. Lalu, haruskah aku membuat kisah yang baru? Kisah yang berbeda yang melawan Kodrat-NYA?

Mengapa aku? Mengapa mesti aku?

Akankah Tuhan murka padaku?

Sosok lelaki itu tak pernah lekang dalam ingatanku. Sejak aku mengikutinya, ada perasaan tenang berada di dekatnya. Kami sering tertawa, kami sering bergembira. Aku tak ingin ada duka, tak ingin menoreh luka di hatinya.

Aku senang berlatih dengannya.

Dunk, Alley Up, Steal, Defense…

Kami gembira. Lalu, haruskah aku menghujamnya dengan duka? Menikamnya hingga dia terluka?

Tidak!

Karena aku mencintainya.

.

.

Satu tahun aku memendam semuanya.  Gejolak yang memukul-mukul dadaku. Hasrat yang membuat murka Tuhanku.  Selama satu tahun pula aku hanya bisa diam-diam memperhatikannya.

Rambut hitamnya, alisnya, binar di matanya, hidungnya, tangannya yang lincah memainkan bola, kakinya yang berlari dengan cepat, senyumnya, sentuhan lembutnya saat mengacak rambutku hingga berantakan atau saat dia menepuk punggungku pelan ketika aku berhasil memasukan bola. Bahkan peluh yang memenuhi kulit tubuhnya saat dia tertidur di bahuku kala senja sore itu.

Senja yang mempertemukan aku dan dia. Senja yang membuatku memiliki perasaan yang berbeda.

Ah, andai senja itu tak pernah ada.

Haruskan aku mengatakan padanya?

.

.

Pagi itu aku mencarinya. Hari yang istimewa bagiku. Aku ingin bertemu dengannya, atau sekedar melihatnya saja.

Kutemukan dia di sana. Sosok yang selama ini berhasil memenuhi mimpi-mimpiku di setiap malam. Di lapangan basker itu dia berdiri. Tak sendiri.

Dia bersama seorang gadis. Mereka tampak gembira. Dia menggenggam tangannya. Wajah mereka berdua merona.

Lalu, bagaimanakah wajahku saat ini? Apakah dia mengerti?

Rupanya kehadiranku diketahui olehnya.

“Panji?!” serunya.

Dia menatapku lekat.

Aku ingin berkata, akupun tahu dia ingin berbicara. Namun, apa yang harus kami katakan?

Dia terus memandangku dan aku membalasnya. Lama kami saling memandang. Lama kami saling terdiam.

Aku tak tahan. Aku lari.

Masih kuingat jelas rona keheranan yang tergambar jelas di wajahnya tadi.

Reza, aku ingin meninggalkannya.

.

.

Ku atur nafasku yang terengah-engah. Toilet ini sepi.

Hanya aku dan diriku di cermin.

Ku amati wajahku baik-baik. Ku coba kenali diriku.

Bukannya aku tak berterimakasih. Bukannya aku tak mensyukuri.

Tapi kenapa Tuhan menciptakan aku seperti ini? Mengapa Tuhan memberiku perasaan ini?

Aku cemburu.

Benarkah?

Pantaskah?

PRAAAAAKKKK!!!

Darah mengucur deras dari kedua tanganku. Ku pecahkan cermin di depanku hingga hancur berkeping-keping.

Ada lega. Ada luka…

Dua lelaki muncul dari pintu masuk. Mereka pucat melihatku.

“Da-darah! Darah!”

Salah satunya berteriak histeris, yang satunya lagi kabur entah kemana.

Sedang aku tak lagi merasa apa-apa.

.

.

“KAMU BODOH YA?!!!”

Aku terdiam.

“Pikirmu apa yang kamu lakukan, hah?!”

Aku tetap terdiam meski dia membentakku.

Lelaki itu kini ada di depanku. Lelaki yang membuatku memiliki perasaan seperti ini.

Reza membalut lukaku dengan hati-hati. Sesekali kurasakan nyeri, Namun semua itu tak kurasakan lagi kerena dia di sini.

Dia yang begitu dekat denganku.

Ruang kesehatan ini sepi. Reza yang pertama datang dan segera membawaku kemari saat tahu apa yang terjadi.

Dia begitu khawatir.

Kenapa?

“Kamu bodoh, Nji’!” ujarnya pelan.

“Maaf…” hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutku.

“Untuk apa?” tanyanya.

Aku tahu dia menatapku.  Aku hanya menunduk.

Reza mempersempit jaraknya denganku. Aku berdebar. Bisa kurasakan desah nafasnya saat ini, namun aku tak dapat bergerak.

Entah apa yang merasukinya –walaupun sebenarnya aku senang- tiba-tiba saja dia menggenggam tanganku yang telah berbalut perban.

Ada sesuatu yang meresap dan mengalir melalui darahku.

“Tanganmu ini begitu berharga, bukankah kau ingin bermain basket denganku?” tanya Reza pelan.

Aku masih tertunduk, tak berani  mengangkat kepalaku.

Aku tak mau dia melihat mataku. Sebab semua akan terbaca, dan dia akan tahu.

“Panji, aku tahu semua… “ ujarnya

Aku tak mengerti.

“Dari caramu berbicara, caramu mendengarkanku, menatapku, bahkan sikapmu hari ini, aku sudah tahu. Aku ngerti, Nji’… ”

Aku terkejut. Kali ini ku beranikan diriku menatapnya. Dia tersenyum kecil. Di ulurkan kedua tangannya untuk menyentuh pipiku.

Rasanya panas. Mungkin saat ini mukaku memerah.

“Kenapa kamu ga jujur sama aku? Kenapa kamu ga bilang kalau kamu sayang sama aku? Aku juga sayang kamu, Nji’…”

Mataku terbelalak. Aku tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Aku terus menatap matanya yang menyendu. Mencoba mencari-cari kalau ada kebohongan di sana. Tapi, aku tak menemukannya.

Dia jujur. Dia tulus. Dia tahu.

“Ma-Maaf…” lagi-lagi hanya kata itu yang bisa ku ucap.

Dan dalam hitungan detik aku tergugu. Butiran-butiran bening membentuk segaris kabut di kedua mataku.

Aku menangis. Aku menangis sambil kugenggam erat tangannya yang masih menempel di kedua pipiku.

“Aku takut, aku takut kamu terluka…” aku mencoba berkata disela isakku.

“Nji’ kamu takut aku terluka, tapi kamu justru melukai dirimu sendiri. Kita bisa tertawa bersama, kenapa ga bisa terluka bersama? Kenapa kamu simpan sendiri? Kenapa ga berbagi sama aku?”

“Maaf… Maaf…”

Tak kusangka Reza akan mendekapku. Memelukku begitu erat. Dia mencium helai rambutku. Dan aku menumpahkan segalanya. Kerinduan yang selama ini aku pendam.

Aku masih menangis, terus menangis. Hingga senja itu datang lagi.

.

.

Di lapangan basket ini kami terduduk sambil menatap senja. Reza bersandar pada pagar besi yang mengelilingi lapangan ini dan aku bersandar di bahunya. Dia menggenggam tanganku. Erat.

Bisa kurasakan itu…

Hembusan angin menemani kami, membawa suara gesekan daun yang sedang menari. Bangunan-bangunan sekolah yang sudah tua dan lapuk tampak ikut terdiam. Semua menjadi saksi bisu kami.

Aku mendesah pelan.

“Ada apa?” tanya Reza.

“Harii ni hari yang istimewa buatku,”

“Oh ya, kenapa? Apa karena sekarang aku pacar kamu ya?”

“Bukaaannn~, huft!  sudah kuduga kamu bakalan lupa…”

“Hahahaha, jelek sekali  mukamu kalau di tekuk gitu,”

“Hmmmppp!”

Aku masih pura-pura cemberut. Reza benar-benar lupa ya? Apa memang aku belum pernah memberitahu dia ya?

Reza menyentuh daguku. Membuatku terpaksa menatap matanya yang kini tampak serius.

“Terimakasih mau bicara denganku, terimakasih mau tertawa bersamaku, terimakasih mau memarahiku, terimakasih mau bermain bersamaku,”

“Terimakasih karena telah terlahir di dunia ini. Selamat Ulang Tahun…”

Ucapannya membuatku merona, kali ini Reza mengecup pelan keningku.

Kemudian dia menatapku, tersenyum menggodaku. Aku balas menatapnya dan kuberikan dia senyum terbaikku.

Dia menyibak rambutku yang acak-acakan di permainkan angin. Dengan lembut dia menarikku dan memelukku lagi. Dan kini aku telah terhampar dalam ketenangan di dadanya.

Aku tahu ini salah… apa yang kami lakukan ini salah. Adam dan Hawa, Rama dan Sinta, Romeo dan Juliet. Itu rumus dunia. Namun rumus ini kami ciptakan sendiri.

Kami sama-sama laki-laki.

Dan kami hanya saling mencintai.

.

.

END

.

.

 

Dariku Untukmu,

Aku tak bisa mengungkapkannya dengan baik

Aku tak pandai memilih kata-kata

Terimakasih mau tertawa bersamaku

Terimakasih mau memarahiku

Terimakasih mau bermain bersamaku

Terimakasih mau berbicara denganku

Dariku Untukmu, sahabatku…

 

(Surat Natsuki Oumi untuk sahabatnya Hiromu Takizawa, Dari Manga milik Marimo Ragawa)

.

.

Yuuki’s  Mail :

Otanjoubi Omedetto Senpai-Afni tte ba~

Umarette kitta kurette… Arigato ^^ (Thank you for being born ^^)

Iro-iro Arigato mo… gomen selalu merepotkan *Bows*

List Make a Wish nya isi sendiri ya… Hehehehehe XDD

Kore de Purezento for you, One-shot special buat senpai,

karena sementara aku mau ‘kabur’ dulu #PLak XP

Aku sudah hampir ‘mati’ karena Fanfic ku belum ku selesaikan.

“Nee~ kapan publish Fic nya? Mau di Rasengan ya?!”

“Pilih Chidori apa Amaterasu, Nee~ kok belum di lanjut juga sih Fic nya?”

Huweeeeee~  kejem kan?! TT__TT << Lebay XP

Jadi untuk beberapa waktu kedepan, tolong jangan tanyakan “Ceritanya kapan di Lanjut?”

Aku mau menjenguk ‘rumah’ku dulu ya… ga lama kok, hanya membagi waktu saja

Mwahahahahahaw XDD~

Sore ja, Mata Ne~ *wave-wave*

.

Oh iya, adakah pembaca yang menyadari ‘sesuatu’ setelah membaca One Shootku di atas?

Fufufufufu  o(>_<)o

*Sok Misterius*

.

Current Music : Kalafina – Kagayaku Sora no Shinjima ni wa (In The Stillness Of The Shining Sky)