Yuuki’s Present

.

.

BUTIRAN DEBU

.

.

.

.

.

“Ya ampun, Aditya… kamu dari mana aja sih?” Indra, teman satu kosku terlihat bercakak pinggang tepat di depan pintu kamarku. Dia memasang wajah seramnya. Sepertinya dia benar-benar kesal.

“Ini udah jam dua pagi, kamu kemana aja to? Aku wes  khawatir banget ki,” ujarnya dengan gaya bandek khas miliknya.

Aku hanya menanggapinya dengan senyum.

Lah kok mesam-mesem cah iki, Rangga juga tadi nyariin kamu. Dia nunggu di sini lama banget loh, dari sore sampai tengah malem tadi,”

Sudah kuduga Rangga pasti menungguku. Makanya aku memutuskan untuk pulang pagi.  Sesekali menghabiskan waktu di Alun-alun kota rasanya tak jelek juga.

“Maaf, aku tadi ada urusan sebentar,” kucoba mencari alasan.

“Urusan apa, mbok ya bilang. Katanya Rangga, dia udah sms kamu, tapi ga dibalas, telpon juga ga di angkat. Untung Bu Nuning lagi mudik ke rumahnya di desa, kalau ngga bisa di usir kamu kalau kelayaban ga jelas gini,”

Haduh! Sepertinya bakal ada kultum dini hari nih.

“Kita kan khawatir Dit, takut terjadi apa-apa ama kamu. Lain kali kabari dulu kalau kamu memang mau pulang larut, kalau kamu ada urusan penting. Biar kita ga was-was gini, bikin jantungan tahu?!” jelas Indra masih panjang kali lebar.

“Iya iya Ndra, aku minta maaf… tolong di maafkan ya…” bujukku.

Aku pijit-pijit bahunya biar dia luluh. Ayolah, aku ga mau sampai pagi terbit matahari dengerin ceramah Indra. Dia terlalu care atau terlalu cerewet ya?

Indra hanya manyun. Namun kemudian senyumnya mengembang.

Yes! Berhasil.

“Yo wes, bersihin diri dulu gih, Sholat Tahajud trus istirahat, besok kamu sekolah kan?”

“Ok Boss! Aku ke kamar dulu ya,” pamitku sambil melenggang menuju kamar kos ku tercinta.

Sebelum ku tutup pintu kamar kulihat Indra masih mematung di tempatnya.

“Eh, Ndra…”

“Hmmm,”

“Besok aku tolong Ijinin ga masuk sekolah ya?”

“Eh?”

“Aku mau tidur seharian, bilang aja aku pergi semedi kemana gitu… gunung kelud atau ke Himalaya, Ok?!”

“Opooo?!”

“Siiippp ya Ndra, kamu memang Sohibku yang paling ganteng deh, luv you Bro! Muuuaaacchhh!” godaku sambil menahan tawa.

Segera saja ku tutup dan ku kunci pintu kamarku sebelum Indra ‘meledak’. Dan benar saja teriakannya membahana keseluruh penjuru kos-kosan ini.

“Aditttyaaaaaaaaa~!!!”

Wew, pada bangun semua neh. Hehe…

.

.

.

Ku hempaskan tubuhku ke kasur. Nyaman, ternyata berbaring di saat badan benar-benar lelah seperti ini begitu nyaman.  Sudah kulakukan semua apa yang di perintahkan Indra tadi, mencuci badanku, sholat malam dan sekarang waktunya tidur.

Ku lirik jam weker kecil di meja belajarku. Sudah pukul tiga pagi, dan udara di kota ini mulai dingin.

Kurapatkan selimutku mencoba mencari kehangatan. Sebelum mataku terpejam sempurna masih sempat ku baca SMS terakhir dari Rangga.

“Dit, kamu dimana? Ga apa-apa kan? Cepat pulang ya, aku ingin ketemu…”

Rangga, Aku juga ingin bertemu.

Ingin seperti dulu.

Masih ku ingat jelas wajah sahabatku itu sebelum kegelapan menyambutku.

.

.

.

“Pagi banget ke sininya ‘Ga?!”

“Iya, Adit udah pulang, Ndra?”

Suara ini, suara yang begitu familiar bagiku.

“Udah, dia pulang jam dua pagi, katanya ada urusan penting,”

“Dia ga kenapa-kenapa kan? Sekarang Adit mana? Kok ga kelihatan?”

Ada kekhawatiran di nada suara itu meski hanya sayup-sayup ku dengar.

“Adit ga apa-apa ‘Ga, dia masih tidur… hari ini dia ijin ga masuk, tolong titip surat izin ini ya…”

Indra memang Sohib terbaikku. Mau repot-repot buatku. Mungkin aku perlu memberikan hadiah special buatnya? Hmmm… ciuman di pipi misalnya?! Hehehe…

“Loh, kenapa Adit ga masuk Ndra?”

“Kasihan ‘Ga, dia pasti masih cape banget  tu, dari pada di sekolah malah molor, tolong di sampaikan suratnya ya, bilang aja Adit lagi ada urusan keluarga,”

“Hmmm… ya udah deh Ndra, aku pamit dulu… ntar aku ke sini lagi,”

Kamu bener-bener pingin ketemu aku ya, ‘Ga?!

“Ok, hati-hati dan sukses buat pertandingannya ya?!”

Eh, pertandingan? Benar juga tiga hari lagi sudah pertandingan basket ya? Cepat sekali…

“Makasih Ndra, nonton ya,”

“Siap Bro’!”

Sura deru motor Rangga. Semakin lama kian menjauh. Kemudian hening.

Perlahan, mataku pun kembali terpejam.

Rangga, maaf ya…

.

.

.

“Adit?!”

Aku hanya menyengir lebar begitu melihat raut wajah Rangga. Begitu kaget seperti melihat hantu saja.

“Yo!” sapaku.

Kami berdiri saling berhadapan, tak peduli tatapan heran dari siswa-siswa lain yang melewati kami.

Siang ini sengaja aku datang ke sekolahan.  Menunggui Rangga di parkiran motor khusus siswa hingga jam pelajaran terakhir selesai. Untung saja aku tak berpapasan dengan guru sejak tadi. Ah, selamat.

Lagipula ‘Sleeping Handsome’ ku sudah cukup tadi, rasanya badan dan pikiran kembali segar. Aku sudah pulih dari Shock terapi yang ku alami kemarin.

Dan kali ini kubulatkan tekadku untuk menemuinya.

Ya, Aku sudah memutuskannya.

“Ka-kamu dari mana aja sih kemarin? Aku nyariin kamu, kenapa ga bales SMS aku? Kenapa ga angkat Telepon ku? Kamu kenapa sih, Dit?”

Ya ampun, semoga bukan kultum lagi, please…

“Di kos kamu ga ada, aku juga udah muter-muter kota nyariin kamu, kamu dimana sih? ngapain? Kamu baik-baik aja kan? Aku…”

“Rangga, aku nggak apa-apa… “ kupotong kata-kata Rangga sebelum omongan ini menjadi lebih lebar.

“Tapi…“

“Maaf ya udah buat kamu khawatir,” ujarku lagi sambil tersenyum menenangkannya.

Kali ini Rangga terdiam dan menghela nafas pelan.

“Trus kemarin kenapa tu?” tanyanya.

Sepertinya Rangga tidak bakal mempan dengan kata ‘Tidak apa-apa’ dariku. Daripada susah-susah menjelaskan, lebih baik…

“Ayo, main basket!” ajakku.

“Eh?”

“Udah, ayo cepet!”

Kali ini aku menarik lengannya. Menyeretnya menuju lapangan basket yang kebetulan sepi.

“Dit, ta-tapi kamu kan…”

Tanpa mempedulikan Rangga yang tampak protes, segera saja ku ambil bola basket di gudang penyimpanan.

“One on One!” tantangku sembari mengoper  bola orange itu padanya.

“Tapi, Dit…”

“Aku ingin main basket, ‘Ga…” ucapku pelan.

Mata Rangga membulat sempurna sebelum terlihat menyendu.

Dengan berat hati dia kembali mengoper bola itu padaku. Segera saja aku membuat gerakan Defense.

Ku drible bola basket di tanganku. Namun belum nampak tanda-tanda Rangga ingin merebut bola ini. Dia hanya terpaku dan tampak enggan menatapku.

“Saat ini, sebagai seorang Defender mestinya kamu harus memberikan tekanan padaku agar aku tidak bisa melakukan Shooting, ‘Ga…”

Rangga terdiam. Kali ini dia menatapku.

“Kamu harus menjaga lawanmu, tanpa melakukan Foul yang tak perlu,”

Segera saja aku berlari melewati Rangga. Reflek dia mem-block gerakanku. Aku berhasil  menghindarinya, tapi…

NYUT!

“Ugh!”

Kurasakan sakit di kaki kananku. Gerakanku terhenti.

“Adit?!!”

Rangga menghampiriku wajahnya terlihat khawatir. Aku hanya tersenyum menatapnya.

“Aku ingin kamu serius ‘Ga, aku ingin bermain basket sama kamu…”

Rangga bergeming. Lama kami hanya saling memandang saja.

Namun ternyata aku lengah, bola berhasil di rebut Rangga. Dia mencoba berkelit namun aku masih bisa melakukan block. Aku terus menghalanginya agar dia tak bisa melakukan Shoot.

Meskipun aku sedikit kesulitan, gerakanku tak secepat dan selincah dia.

Aku tak peduli meskipun kali ini kaki kananku terasa sakit sekali.

Hanya ada suara decitan sepatu dan suara deru nafas kami yang terdengar memenuhi lapangan ini.

Rangga berhasil mendekati ring dan memasukkan bola itu dengan sempurna.

Sementara itu aku tampak kepayahan menahan sakit. Rangga menyadari itu dan langsung berlari kembali kearahku.

“Adit?!”

“Hehehe… aku ga apa-apa kok, ayo main lagi,” aku mencoba berdiri namun Rangga mencegahku.

Dia menggenggam  kencang lenganku hingga terasa nyeri. Matanya lebih menyendu.

“Aku ga ap-“

Belum sempat ku selesaikan kalimatku, aku sudah di dekapnya erat.

“Udah Dit, udah cukup… maafin aku… maafin aku…” katanya pelan.

Aku hanya menghela nafas pelan. Masih belum juga kubalas pelukannya.

“Ternyata aku masih bisa main basket sama kamu kan, Ga?”

Rangga mengangguk lemah.

“Iya, iya… maafin aku… maafin aku…” bisiknya.

“Kenapa minta maaf? Kamu ga  salah kok,”

“Maaf… Maafin aku yang udah buat kamu kaya gini, aku…”

“Rangga, sungguh aku ga apa-apa…”

Rangga terdiam, kutepuk-tepuk punggungnya pelan.

“Jangan jadiin aku ini beban buat kamu,”

“Aku seneng bisa sahabatan ama kamu, aku tulus. Karena itu aku mohon jangan terus merasa bersalah dan ngebuat aku beban buatmu ‘Ga,”

“…”

Rangga masih tak menjawabku. Dia malah semakin kencang memelukku. Kurasakan cairan hangat menyentuh bahuku.

“Rangga, kamu nangis?” tanyaku.

“E-Enggak!” kelitnya.

Aku tersenyum geli.

“Ya ampun, ingusmu pasti nempel di bajuku… basah tau, lepasin ga?!”

“Nggak!”

“Rangga!”

Masih tak dilepaskan juga pelukannya padaku. Kali ini Rangga malah mengelus rambutku.

“Aku sayang kamu, Dit,”

Hoo?!

Howaaaaahhhh~

pipiku langsung menghangat. Entahlah, mungkin sekarang sudah seperti tomat kematangan saja.

“Y-ya ampun, Rangga. kamu tahu… kata-katamu barusan itu menjurus sekali,”

“Maksudmu?”

“Bisa-bisa kita dikira pacaran lo,”

“Hmmm… kali ini aku ga akan protes,”

“Lah? Kita kan sama-sama cowok?”

“Terus? Ga boleh gitu?”

“Eh?”

‘Mabuk kali ya ini anak?’ Batinku.

“Biarin lah orang bilang apa, aku ga peduli!”

“Kamu…”

“Aku cuma peluk kamu kok dikira pacaran? aneh banget tu orang-orang,”

Bukannya yang aneh itu kamu ‘Ga?!

“Lepasin nggak!”

“Ogah!”

Rangga malah semakin mempererat pelukannya. Tubuhnya menempel lekat dengan tubuhku. Dari atas hingga bawah.

Ugh! Gawat…

“Ge-gerah nih,”

“Biarin!”

“Lepasin!”

Aku meronta berusaha melepaskan diri. Namun, sia-sia karena tenaga Rangga lebih kuat dariku.

“Suka-suka aku lah,” ujarnya cuek.

Sial! Bener-bener gila ini anak, biisa gawat kalau ketahuan aku…

Ehemmm~!

.

.

.

Pagi berikutnya, aku sengaja tak menemani Rangga latihan seperti biasa. Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan dengan Kepsek. Beliau termasuk contoh pendidik yang rajin dan patut di tiru. Selalu berangkat tidak lebih dari jam enam. Benar-benar tepat waktu atau mungkin Beliau malah menginap di sekolahan ini ya?

“Kamu sudah yakin, Dit?” suara bass milik Pak Suherman terdengar berat.

Kepala sekolahku ini tampak memandangiku tajam. Hiii~ ngeri, apalagi kumisnya yang lebat itu. Kesannya sangar sekali.

“Sudah pak,” kataku mantap.

Beliau terdiam sejenak.  Dihelanya nafas pelan.

“Hhhh, ya sudah… saya tak bisa memaksa kamu. Rajinlah belajar di manapun kamu menimba ilmu,”

“Terimakasih pak, terimakasih buat semuanya,” aku tersenyum dan mengulurkan tanganku untuk menyalaminya. Beliau  menyambutnya cepat.

“Iya iya, kamu sudah bilang sama teman-temanmu?” tanyanya.

“Saya rasa itu tak perlu pak,”

Pak Suherman mengerutkan keningnya namun tampaknya beliau mengerti.

“Ya sudah, sukses buat kamu,”

“Sekali lagi terimakasih Pak, saya pamit dulu,”

Segera saja aku keluar dari ruang kepala sekolah. Urusanku sudah beres.

Aku tersenyum tipis.

.

.

.

Koridor-koridor sepanjang kelas masih sepi. Tak sengaja kudapati sosok Kak Ferdi yang begitu familiar. Ingin menghindar tapi keburu Kak Ferdi menyadari keberadaanku. Dia menatapku tajam.

Ayolah, aku tak mungkin terus berkelit dari masalah kan? Itu malah tak menyelesaikan apa-apa.

“Pagi, kak…” sapaku ramah.

Kak Ferdi hanya menganggukan kepalanya.

“Kata Rangga kemarin kamu menghilang, kemana aja kamu?”

Wew, to the point sekali ini orang.

“Eh? Sa-saya ada urusan dikit, Kak,”

“Penting banget ya? Ampe Rangga bela-belain nunggu kamu?”

Ya ampun ini orang sinis banget ya? Ini mah lebih parah ketimbang ketemu Calon mertua. Hehehe…

“Ga juga kok, Kak! Maaf udah bikin khawatir,”

Kak Ferdi tak menanggapiku, dia hendak berbalik pergi namun aku mencegahnya.

“Kak!”

Kak Ferdi menoleh dan menatapku datar.

“Aku… Aku seneng bisa sahabatan sama Rangga, mungkin aku memang selalu ngerepotin dia, tapi aku tulus kok sahabatan sama dia,” jelasku.

Kak Ferdi tak menjawab. Keningnya berkerut heran.

“Kak… titip Rangga ya,”

Kuberikan senyum terbaikku sebelum aku pamit pergi dari hadapannya. Maninggalkan Kak Ferdi yang masih terdiam mematung di tempatnya.

Satu lagi urusanku beres.

.

.

.

Tempat ini memang sudah tua.

Bangunan-bangunan kelasnya  sudah  termakan usia.

Namun di sinilah tempat aku membuat semua kenangan  tentang persahabatan.

Di gedung-gedung yang lapuk.

Di kantin sekolah yang selalu ramai.

Di lapangan basket dimana aku selalu melihatmu latihan.

Aku akan merindukannya.

Aku juga akan merindukanmu, Rangga.

.

.

.

Tsuzuku ^^

.

.

.

Yuuki’s Mail :

Honto ni Gomen nasai~

Maaf sekali kalau Update Butiran Debu nya kelamaan.

Huft~ mencari ‘sesuap nasi dan segenggam berlian’ itu tak mudah, Hehehehehe…

Waktu menjadi hal yang begitu berharga buatku ^^

Saya bukannya tidak bertanggung jawab loh ya, cuma memang belum ada waktu saja, mohon pengertiannya *Bows*

Kritik dan sarannya di tunggu.

Yang punya Kripik tolong segera di paketin ke saya

*Lumayan buat cemilan* XP

At  Last… Read and Review, Please!

#Ditimpuk

#Ini bukan fanfic woy! XP