Dosa terindah
Tak ku tanam rasa ini…
Tapi tumbuh saja…
Tak ku pupuk rasa ini…
Makin subur saja…

Detik berganti menit…
Masa berlalu…
Makin besar kian besar…
Rasa itu di relungku…
Kemana kau kekasih…
Setelah subur kau tanam rasa ini…
Setelah takluk daku dalam dekapmu…
Setelah pasrah ku dalam cintamu…
Tanpa kata kau tinggal aku…
Menangis…
Kini tak guna lagi bagiku…
Meratapi hari depan tanpamu…
Lembar-lembar hidup selanjutnya…
Tanpa hangat dekapmu…
Tanpa lembut belaimu…
Tanpa indah senyummu…
Tanpa mesra kecupmu…
Datanglah kasih…
Sungguh rindu ini menyiksa…
Sungguh tanpamu dunia hampa…
Tak ada lagi asa tersisa…
Untuk tetap berpijak di sana…
Biarlah semua…
Menjadi dosa terindah…
Yang pernah terjadi…
***
Aku termenung sejenak. Joe, kau hampir penuh ku isi dengan ratap cengengku. Ya, Joe. Aku membaptis jurnalku dengan nama itu, buku biru tebal ini hampir terisi penuh oleh ocehan-ocehan sedihku. Cover birunya sudah terlihat usang. Wajar saja , hampir tiga tahun buku ini ku buka-tutup, bolak-balik, bahkan sempat pula menerima tinjuan keras saat ku geram, juga sudah merasakan ku lempar kuat-kuat ke dinding kamarku. Kali ini satu puisi jelek lagi bertengger di salah satu halaman usang buku jelek ini. Dosa Terindah, yah kurasa judul ini memang cocok untukku. Mewakili sesuatu yang tak seharusnya, aku miliki.
Dosa Terindah, apa ada frasa yang lebih bodoh dari ini?
Aku tau ini dosa, tapi masih saja menganggapnya indah. Jangan tanya itu! tentu, sejuta cara telah kugunakan untuk menghilangkannya. Atau setidaknya, dengan perlahan menguranginya. Namun, nihil. Bahkan semakin kuat aku berusaha, rasa itu akan lebih kuat lagi menerjang. Hasilnya, tubuhku yang semakin hancur dengan pertempuran itu. Pertempuranku melawan rasa terlarang ini.

Rasa terlarang? Mengapa ku sebut terlarang?
Padahal… ini cinta!
Ya, tak ku pungkiri ini adalah cinta…
CINTA. Sesuatu yang suci dan diagungkan oleh milyaran umat di bumi. Suci, ya tentu saja! Cinta adalah rasa sayang yang teramat dalam dirasakan oleh seseorang pada orang-orang disekitarmu yang berharga dalam hidupmu, hingga rasa ini sanggup membuat kita mengorbankan apapun agar yang kita cintai itu akan merasa bahagia. Cinta itu suci karena diidentikan dengan ketulusan, kesungguhan kita untuk menunjukkan rasa cinta itu. Lalu, mengapa terlarang? Mengapa menjadi dosa?
Aku hanya punya beberapa orang yang paling ku cintai dalam hidup ini. Orang-orang paling berharga dalam hidupku. Mereka adalah, ayah, ibu, kakek dan nenek, dan…
Daniel…
Ya, Daniel. Ia sahabat terbaik yang pernah ku punya dalam hidup ini. Lebih tepatnya satu-satunya sahabat yang kumiliki, satu-satunya orang yang mau dan bisa menerimaku apa adanya. Selalu ada di saat susah maupun senang hidupku. Orang terakhir yang tersisa di sisiku, saat yang lain meninggalkanku dalam keterpurukan. Orang yang paling mengerti aku, setelah ayah-ibuku tentunya.
Lalu, apa yang salah?
Apa yang membuat ini terlarang?
Membuatnya menjadi dosa…
Salahkah? Seorang sahabat yang mencintai sahabatnya?
Cinta antar sahabat. Apakah itu salah? Tentu tidak.
Tentu tak salah, jika yang kurasakan adalah cinta semacam itu. Tapi tidak, ini dosa. Ini dosa karena aku merasakan yang lebih dari itu. Aku mencintainya, sangat mencintainya lebih dari seorang sahabat. Seketika rasa ini menjadi dosa saat aku mengharap lebih. Lebih dari cintanya padaku yang sebatas seorang sahabat, saja. Aku begitu ingin memilikinya, sebagai… kekasihku.
Terlalu banyak cerita yang aku dan dia lalui bersama. Awalnya biasa, rasa ini tak pernah ada. Daniel hanya sahabat terbaikku, aku mengenalnya sejak tingkat terakhir di sekolah menengah pertama. Ayah memutuskan pensiun dini dari pekerjaannya lalu memboyong kami sekeluarga ke kampung halamannya. Ia ingin mewujudkan cita-citanya yang telah lama tertunda untuk membuka usaha restoran, menyalurkan hobbynya dalam memasak. Tepat saat naiknya aku ke tingkat ke tiga di sekolah menengah pertama, kami resmi pindah dan menetap di kota itu. Di sinilah aku bertemu dia, remaja berkacamata bernama Daniel. Ia menjadi teman sebangku-ku seusai pertama kali memperkenalkan diri. Berawal dari sebuah kecanggungan kami akhirnya menjadi sahabat. Lalu, Daniel mulai mengambil porsi lebih dalam kisah hidupku. Ia menjadi penopang di saat-saat rapuhku, ia menjadi satu-satunya pribadi yang masih ada di saat-saat sukarku.
Hari naas itu.
Ibu meninggal tepat setahun setelah kami pindah kemari, tepat saat kami merayakan pesta kelulusan kami dari SMP.
Seharusnya, waktu itu ibu tak usah ikut rekreasi ke taman hiburan bersama kami…
Seharusnya, waktu itu ibu tak menyerah menolak rengekanku agar ia ikut bersama kami…
Seharusnya, hujan turun lebih cepat lagi waktu itu…
Agar, kami tak pergi di hari suram itu…
Semua tak terjadi…
Truk jahanam itu tak menghantam mobil yang kami tumpangi…
Dan…
Ibu masih di sampingku saat ini…
Membelai pelan rambutku sembari menyanyikan tembang sunda hinggaku terlelap…
Seharusnya…
Aku hancur saat itu. Hampir sebulan aku hidup tanpa jiwa terkandung di ragaku. Palu godam takdir kehidupan menghantamku, harus kehilangan ibu di saat-saat rapuhku. Aku kehilangan semangat hidupku, pijakan hidupku terasa semu. Tak ada yang bisa menghiburku, tidak ayah sekalipun. Aku mengalami tahun terberat dalam hidupku. Aku juga hampir kehilangan Daniel di hari naas itu, ia ada bersama kami di mobil itu. untungnya kami tak berada di bagian mobil yang di hantam truk besar itu. Kami masih selamat.

Daniel, ia tak letih terus berusaha menghiburku. Terus dan terus, ia selalu ada menjadi peganganku saat pijakanku terasa semu. Walau awalnya, termasuk dia tak ada yang mampu menghiburku. Namun perlahan ia berhasil, aku menemukan semangat itu lagi. Perlahan Daniel mengurangi raut sedih di wajah ini, menggantinya dengan senyuman dan tawa yang kian melebar. Ia terus hadir, memberiku semangat untuk menjalani hari. Menjadi matahari yang pertama bersinar mengawali hari, menjadi bulan yang menemani malam-malamku yang sepi. Hingga selanjutnya, perlahan ia mengambil satu tempat terindah di hati ini. Tak dapat kuhindari, atau… tak mau. Aku telah bergantung padanya. Ia semangatku, salah satu dari alasanku untuk… terus menjalani hidup. Adakah yang menyebutkan ini berlebihan? Tidak, ini sangat cukup untuknya.
Ia berhasil membuatku tak bisa melepas bayangnya dalam benakku setiap hari. Tidak, setiap detik. Membuatku gelisah jika sejam saja tak melihat wajahnya, mendengar suaranya. Membuatku memenuhi hampir seluruh lembar-lembar jurnalku dengan curhatan tentangnya. Hingga, sempat membuat remuk kembali hatiku ketika ia memperkenalkan gadis pertama yang mencuri hatinya. Delia, gadis cantik asal Jakarta yang katanya anak seorang pengusaha ternama dari sana. Aku ingat hari itu, hampir tepat tengah malam Daniel meneleponku. Seperti kesurupan ia meneriakan kabar itu, ‘lex, gua diterima Lia lex! Gua diterima!’ kalimat singkat yang sempat menghancurkan hatiku. Walau akhirnya kisah ini tak berlangsung lama, aku bergidik saat memandangi Daniel yang menangkap basah Lia yang berciuman panas dengan lelaki barunya di hadapan, kami. Mungkin aku jahat, tapi tak munafik aku senang dengan berakhirnya kisah Daniel dan Lia.
Kini aku tak memungkirinya lagi. Aku bahagia dengan rasa ini. Walau terpendam, walau terlarang. Kini, hampir genap tiga tahun aku mengenalnya, hingga hatiku tertambat padanya. Hampir tiga tahun juga rasa ini ku pendam. Sebisa mungkin di depannya aku berperan hanya sebagai sahabat yang telah mengenalnya selama tiga tahun terakhir hidupnya. Berusaha keras untuk tak menunjukkan sedikitpun sisi hatiku yang mencintainya, berusaha keras untuk tetap tersenyum mendengar celotehannya tentang gadis-gadis yang tengah menjadi sasarannya. Berusaha, sangat… keras untuk tidak menitikan airmata saat mendengar ia telah termiliki, lagi dan lagi. Untungnya, hampir tiga tahun berlalu dan aku berhasil melakukannya. Sangat berhasil malah, topeng itu telah terbentuk alami diwajahku, terbentuk sempurna dengan gurat senyum yang tak pernah hilang. Dan Daniel sangat yakin dengan senyum itu, aku berani jamin dia takkan pernah curiga sedikitpun. Biarlah, biar begini saja entah sampai kapan. Cinta tak harus memiliki kan?… kalimat bodoh? Itu yang ada di benak kalian kah? Tak apalah, aku telah berusaha keras mendoktrin hatiku dengan kalimat ini, dan cukup berhasil.

Usai menulis aku beranjak dari meja belajarku menuju ranjang. Hari ini melelahkan sekali, tak butuh waktu lama untukku terlelap. Daniel pasti datang di mimpiku malam ini.

###

Lucky i’m in love with my bestfriend…
Lucky to have been what i have been…
Lucky to be coming home again…
Aku hampir terlelap saat lagi-lagi ponselku berdering, nada pesan singkat. Dengan malas aku meraih benda itu dari meja. Lalu menatap layarnya yang menyilaukan itu.

‘lu dtg ke caffe t4 biasa skrg, gua mau ngomong. Cepat!’ pesan dari Daniel.

Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Daniel menyuruhku ke tempat itu tengah malam begini. Ku tengok jam dinding di kamarku, hampir menunjukkan pukul duabelas malam. Tak biasanya Daniel seperti ini, entah dia ada masalah atau aku yang berbuat salah padanya. Aku terus bertanya-tanya.
Entah ada apa dengan semua orang hari ini. Sikap Daniel seharian ini juga sangat aneh, terus saja mendiamiku. Aku juga dapat satu bentakan di tatap muka kami terakhir saat pulang sekolah. Aku jadi takut, pasti sudah ada kesalahan yang kulakukan hingga ia marah seperti ini. Kepalaku pun terus di buat penat saat sampai dirumah, ayah tiba-tiba marah-marah karena aku pulang terlambat, ia lalu bilang akan pergi beberapa hari di luar kota. Entah apa yang akan di urusnya di sana. Mendadak aku jadi sedih sendiri, apa ayah betul-betul lupa besok hari ulang tahun anak semata wayangnya ini. Tak adakah yang bisa menganggapku spesial walau sedikit saja di hari lahirku ini.

***
Maka di sinilah aku sekarang, sedang dalam perjalanan dengan motorku ke sebuah caffe di salah satu sudut kota ini, Daniel mengajakku bertemu. Aku bingung, malam sudah cukup larut saat aku menerima telepon darinya.. Aku agak panik, tadi nada bicara Daniel di telepon seperti menahan amarah. Aku terus berusaha mencari apa yang salah, apa yang mungkin tak aku sadari membuatnya marah. Namun hingga aku memarkir motorku di area parkir tempat yang ia masuk, tak kunjung juga ku temukan.
Ponselku bergetar tak lama setelah aku tiba di sana, dari Daniel.

“udah nyampe belum lu!” nadanya semakin meninggi.

“i..iya Dan, gua udah nyampe… lu di mana?” aku makin panik.

“yaudah kalo udah nyampe ngapain diam di luar! Cepat masuk!” bentaknya.

“i..iya Dan” aku semakin takut.

Segera aku melangkah cepat memasuki caffe itu. Begitu masuk caffe ini sangat hening, mungkin memang desain interiornya yang temaram dengan satu-satunya pencahayaan adalah lampion berukuran sedang yang ada di seluruh meja-meja di caffe ini. Disini hanya terdengar denting pelan piano dan siulan lembut suara saxophone yang mengisi keheningan. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, terlalu gelap. Aku tak bisa menemukan Daniel.

Ku rogoh ponselku lagi, “halo Dan, gua udah di dalam. Lu di mana sih, gelap banget di sini”

“…..” tak ada suara, tapi teleponnya masih tersambung.

“halo? Dan? Kok Lu diem sih? Halo?”

‘tiiiiiilt’ tiba-tiba sambungan telepon di putus Daniel.

Lalu…

SUREPRISE!!!

HAPPY BIRTHDAY ALEX!!!

Mulutku hanya bisa menganga lebar saat tiba-tiba sebuah lampu yang cukup besar di bagian tengah langit-langit caffe menyala. Seketika seisi caffe menjadi gemerlap di tambah efek kerlap-kerlip lampu disko yang memadunya dengan indah. Tanpa sadar airmataku menetes saat menatapi segala sesuatu di hadapanku. Ada ayah yang tengah menenteng kue ulang tahun dengan lilin ber-angka tujuh belas di tangannya, Daniel yang terlihat lucu dengan topi kerucut di kepalanya bergabung dengan Vino, Marco dan Windy, teman satu band kami di sekolah, meniup teropet yang memekikkan telinga sekeras-kerasnya. Juga tak lupa tante Sari-mama Daniel dan Nana-adik perempuannya turut memeriahkan kejutan menyebalkan ini. Mereka betul-betul sukses mengerjaiku hari ini. Mulai dari Daniel yang mendiamiku seharian di sekolah, ayah yang tiba-tiba ada urusan ke luar kota, hingga telepon tengah malam Daniel yang mengkhawatirkan. Semuanya hanya skenario belaka.

“err, jadi ini urusan penting dadakan di luar kota yah?” tanyaku.

“hehe, udah ah marahnya nanti aja, ayo make a wish terus tiup lilinnya” sahut ayah.

Aku masih menitikan airmata saat mengucap permohonanku dalam hati. Aku hanya berharap, kebahagiaan terus melingkupi kami semua dan aku bisa terus membanggakan ayah di masa tuanya nanti. Usai berdoa aku meniup lilin tujuh belas itu diiringi lagu ‘selamat ulang tahun’ dari semuanya. Keharuan tak lepas menyelimutiku, aku beruntung punya orang-orang ini di hidupku. Setelahnya kami makan bersama dalam suasana kekeluargaan, selanjutnya ‘De Javu’ mengambil alih kendali alat-alat musik homeband caffe ini. Aku tak diizinkan ikut bergabung karena ini ulang tahunku, mereka mempersembahkan beberapa lagu untukku. Tak terlukiskan bahagia hatiku malam ini, Daniel ada di depan sana bernyanyi untukku. Demi Tuhan, aku sangat ingin memeluknya malam ini.

“kak Al, kak Al!” terasa sentuhan kecil di lututku, ada Nana di sana. Adik perempuan Daniel ini bahkan masih terjaga di tengah malam untuk ikut merayakan hariku ini.

“eh, Nana… iya ada apa sayang” aku mengangkatnya lalu memangkunya di pahaku.

“ini, Nana punya hadiah buat kak Al, Nana buat sendiri loh” dengan wajah sumringah ia memberikan sebuah gelang dari roncean kayu dengan inisial namaku, ‘Alex.’

“wah, bagus banget dek! Makasih yah, kak Al suka banget” aku mengecup pipi Nana, ia sendiri yang memakaikan gelang itu ke tangan kiriku.

“iya kak, wah kakak tambah ganteng pake ini!” ujarnya polos, anak ini sungguh menggemaskan.

“haha, bisa aja kamu neng geulis” aku tak tahan dengan keluguan anak ini, sekali lagi ku berikan kecupan ke pipinya. Lalu kami bersama-sama menikmati alunan-alunan lagu dari ‘De Javu’ di depan.
Tak lama kemudian kurasakan Nana menyandarkan kepalanya didadaku. Aku mengerti, ini sudah sangat larut untuk anak seumurannya. Tak lama kemudian Nana terlelap, tante Sari lalu datang padaku. Ia pamit padaku dan papa untuk membawa Nana ke rumah. Papa malah berinisiatif meng-usaikan seluruh acara, karena sudah terlalu larut. Aku setuju. Ayah mengantar tante Sari dengan mobilnya. Vino cs naik mobil Vino, dan Daniel diboncenganku. Hampir tepat jam satu dinihari saat kami tiba di rumah Daniel.

“hehe, gimana akting marah-marah gua bro!” goda Daniel saat melepas helmnya.

“ah siah euy! Gua udah panik tau, gak taunya di kerjain, jahat lu”

“hehehe, maaf atuh kasep. Kan supaya meyakinkan, sekali lagi happy birthday yah ,brother”

Tiba-tiba Daniel memelukku, cukup erat. Tangannya mengelus pelan punggungku. Nafasku terhenti seketika, mimpikah aku? Kumohon tidak.

“lu tuh sahabat terbaik gua Lex, gua doain yang terbaik buat lu di tahun-tahun selanjutnya yah. Eh iya, ini… gak sempat-sempat gua kasih dari tadi” ia melepas pelukannya, aku masih mematung saat Daniel mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“hehe, maaf gua nggak sempat bungkus yah” sebuah kalung kali ini, kalung besi putih dengan buah berbentuk persegi dengan inisial namaku di dalamnya, “AJW”

“i..ini bagus banget Dan, makasih yah” ya Tuhan, jangan sampai aku menangis di depannya.

“iya, gua juga punya satu loh, nih, so selama kalung ini masih di leher kita. We’re best friend forever, right!” ujarnya seraya menunjukkan kalung dengan bentuk sama dan inisial namanya di lehernya. “DAR”, dan satu lagi yang membuatku terpaku, ia tanpa sungkan memakaikan kalung itu ke leherku. Oh Tuhan, jangan biarkan mataku basah di hadapannya.

“ma..makasih Dan, gua seneng banget hari ini. Makasih buat semuanya”

Entah keberanian dari mana, kali ini aku yang memberanikan diri memeluknya. Aku memeluknya, cukup erat. Ia pun balas memelukku, tak lama aku melepas pelukan itu.

“lu pantas dapat ini semua Dan, hehe. Yaudah, pulang sekarang deh udah larut banget”

“i..iya Dan, sekali lagi makasih yah”

“iyaaa, ayo-ayo pergi sana, dari tadi makasih muluk, hahaha”

“ngusir nih?”

“hehe, becanda Lex. Hati-hati di jalan yah! Salam buat om Dharma”

“sip”

Aku kembali menunggangi motorku dengan hati berbunga-bunga. Tentu saja, tetes bening yang sejak tadi ku tahan akhirnya keluar juga. This is the best day in my life!
Subuh ini dingin juga, aku tak sempat memakai jaket karena panik tadi. Masih lebih kurang tiga kilometer lagi ke rumahku. Aku mempercepat laju scooter matic usang ini. Pikiranku masih di penuhi kejadian-kejadian tadi. Ingin rasanya aku memeluknya lebih lama lagi. Aku merasakannya tadi! Aku merasakan itu, hangat tubuhnya, erat dekapannya. Dan, binar matanya saat ia memakaikan kalung ini ke leherku. Aku masih berpikir ini hanya mimpi, namun baru saja ku menampar pipiku dan rasanya sakit sekali. Ini nyata, sangat nyata. Senyata kalung indah yang melingkar di leherku saat ini. Aku terus mencium benda ini sejak meninggalkan halaman rumah Daniel tadi.
***

DHUAAK!!!

“Huaaaa!!!”

Aku hampir mencapai rumahku saat tiba-tiba sinar terang menyilaukan mataku. Aku lengah tak sempat menghindar saat sebuah mobil menyerempetku. Aku terjungkal beberapa meter keluar dari badan jalan. Si penabrak berhenti sejenak lalu melarikan diri.
“hey! Tanggung jawab lu sialan!” umpatku kesal.

Tubuhku nyeri di mana-mana, tak mungkin mengejarnya. Sudah terlalu larut, tak ada orang yang terbangun dan menolongku. Aku berusaha bangkit perlahan, mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku dan mencoba menegakkan sepeda motorku yang jatuh. Ku coba menghidupkannya, sekali… dua kali… mesin motor usang ini tak merespons. Aku mengumpat lagi, dasar mobil sialan. Hari bahagiaku yang sempurna ini harus berakhir dengan lengan memar dan motor rusak. Ahh, tapi tak apalah. Aku tetap bersyukur dengan semuanya hari ini. Dengan tertatih aku menggiring motor ini ke rumah, setelah bersusah payah sampai juga aku ke rumah. Segera aku memasuki rumah seusai setelah memarkir motor di garasi.

Mataku tertuju pertama pada papa yang tengah terlelap di sofa ruang tengah.

“malam pa! Kok tidur di sofa?”

Tak ada sahutan, Rautnya letih sekali, aku hanya membenarkan letak selimutnya yang tersingkap sejenak lalu mengecup pelan pipinya. Hampir setengah dua pagi saat aku tiba di ranjangku, merebahkan tubuh letihku di sana. Tuhan, terima kasih untuk hari indah ini.

***

Cahaya menyilaukan menghantamku, menarik paksaku jiwaku dari alam mimpi. Tubuhku terasa letih sekali begitu terbangun, perlu berkali-kali aku mengerjapkan mata lalu bisa melihat dengan jelas. Mataku berusaha keras membaca angka yang tertera di jam tanganku.

‘06.34’

“06.34!?” aku tersentak menatapi angka yang tertera di jam tangan ini.

16 menit lagi gerbang sekolah di tutup!

Bagai tersengat listrik aku meloncat dari ranjangku, berlari serampangan ke kamar mandi lalu segera mempersiapkan diri. Lima menit kemudian aku sudah berseragam dan tasku sudah menunggangiku. Tak ada waktu untuk sarapan, ayah juga sudah berangkat ke restoran. Tentu saja. Aku benar-benar kesiangan hari ini, tanpa babibu lagi aku berlari menuju garasi.

“ah, sial!” aku mengumpat begitu menyadari apa yang terjadi pada motorku malam tadi.

Tak ada pilihan lain, usai mengunci gerbang secepat yang ku bisa aku berlari menuju halte bus yang letaknya dua blok dari rumahku. Ada kerumunan warga-warga menghalangi jalanku.

“permisi, permisi! Pak, bu! Maaf” susah payah aku menyelip-nyelip di antara kerumunan yang menghalangi jalan itu. Entah apa yang mereka kerumuni.

Beruntung ketika tiba di halte, sebuah bus langsung berhenti di sini. Aku dan dua orang yang sejak tadi menunggu di halte langsung masuk, tak sampai lima menit lagi gerbang sekolah akan di tutup. Oh God! Jam pertama hari ini ada ujian fisika. Bus ini hampir penuh saat aku masuk, aku duduk di samping seorang nenek tua yang tengah terlelap. Hanya aku manusia berseragam yang ada di dalam bus ini. Aku terus menatapi jam tanganku hingga bus ini berhenti tepat di gerbang sekolah. Sudah dua menit terlambat! Pak Budi satpam sekolah kami tengah berusaha menggembok gerbang.

“pak budiiiii! Pak jangan di tutup dulu dong pak, ya pak yah? Saya, saya ada ujian fisika hari ini pak” ujarku melas, pak budi tak menghiraukanku.

Pak Budi tak merespons, hanya menatapku dengan senyum sinisnya. Tak lama kemudian is selesai menggembok gerbang. Wah, benar-benar tak berbelas kasih.

“pak budi! Pak! Tolong dong pak, saya mohon!” aku terus berteriak sekeras mungkin memohon padanya. Namun nihil, ia bahkan tak menoleh. Terus melengos hingga memasuki posnya.

“udah… dia nggak bisa lihat kamu, apalagi dengar teriakan memekikkanmu itu!” sebuah suara memecah hening sekitarku.

Aku menoleh kebelakang. Seorang pemuda, cukup tampan, dan mungkin lima tahun di atasku. Berpakaian serba hitam.

“nggak bisa lihat? Maksud kamu? Dan tunggu, kamu siapa?”

“aku datang untuk menjemputmu. Dan, tentang satpam tua itu. ya, dia nggak bisa lihat kamu, karena kamu nggak kelihatan” ujarnya sambil tersenyum. Aku semakin tak mengerti.

“menjemputku? Menjemputku kemana? Aku tak mengerti! Kau membuat kepalaku makin pusing saja”

Ia diam sejenak, lalu beranjak beberapa langkah mendekatiku, “menjemputmu ke tempat yang seharusnya Alexander Jonathan William” ujarnya datar. Aku takjub dia tau detil namaku. “kau sudah meninggal Alex” kali ini dengan sedikit senyum.

“haha, orang gila.” Aku berpaling. “pak budi, tolong buka gerbangnya pak! Saya mohon, ada ujian fisika pagi ini pak” masih tak di respon.

“percuma saja, lagipula bagaimana kau akan ikut ujian dengan pakaian seperti itu” ia sudah di sampingku.

“apa sebenarnya yang kau…” kalimatku terhenti ketika menyadari perkataannya.

Tak ada satu pun taribut sekolah terpasang di tubuhku. Aku masih mengenakan pakaian semalam, celana jeans dan kaos yang ku pilih serampangan dari lemari karena panik dengan Daniel yang marah-marah.

“what! Tapi, seingatku tadi… aku… memakainya, seragam dan tasku…” perlahan pikiranku menggila.

“kau hanya menjatuhkan benda-benda itu dari tempatnya Alex, kau tak mungkin memakainya, menggenggamnya sekalipun. Kau… sudah tiada Alex”

“tidak! Mustahil! Ini tak mungkin! Kau hanya membual saja” sontak aku kalut.

Berlari menjauh dari gerbang sekolah. Aku berjalan tak tentu arah. Benakku memutar kembali semua kejadian sejak semalam. Aku yang bersenang-senang dengan orang-orang yang ku cintai di hari ulang tahunku, Aku yang mengendarai motor dengan mengantuk, lalu aku yang di serempet sebuah mobil pribadi hingga terjungkal di tepi jalan… hingga… motorku rusak. Ya Tuhan… apa mungkin? Tidak! Ini tak mungkin terjadi, pasti hanya omong kosong belaka. Semalam… semalam aku masih sempat menyelimuti tubuh papa yang tertidur di sofa, lalu… memberinya ciuman selamat malam. Ya, ini pasti hanya kesalahan. Pasti kesalahan. Tapi, pakaian ini… kenapa? Aku sangat yakin aku memakai seragam tadi, lalu menyandang tasku. Semua tadi sangat nyata.

“aargghhh!!!” aku mengumpat geram.

Langkahku terhenti di sebuah halte bus lagi. Aku harus kembali ke rumah, membuktikan kalau semua ini salah. Ini tak seperti kelihatannya. Ya, pasti salah. Akal sehatku mulai tak bekerja saat ini.
Sebuah bus melintas di depanku.

“….” tanpa suara aku mengacungkan tanganku. Bus itu melengos tanpa mempedulikanku. Hey! Kalian tak ingin uang?

Satu kali, dua kali, tiga kali… kini sudah hampir sepuluh bus tak menghiraukan cegatanku. Aku mulai takut. Apa mereka… tak melihatku? Tanpa sadar airmataku menetes.

“mereka tak mungkin melihatmu” lelaki ini, tiba-tiba sudah di sampingku lagi.

“kau! Mau apa lagi kau hah! Aku… aku tak mau mati! Aku belum mau mati, terlalu banyak… terlalu banyak yang masih ingin ku lakukan. Ayahku, aku… masih… masih belum membuatnya bangga. Aku… Ya Tuhan” seketika tangisku pecah. Airmataku tumpah ruah. Semua mulai terasa benar.

“berikan tanganmu. Ikut denganku” ia mengulurkan tanganku.

“apa? Ti..tidak, ak..aku mohon jangan sekarang, aku mohon” tapi dia terlebih dahulu menggapai tanganku. Aku ingin lari, namun entah kenapa kakiku terasa mengakar.

“….” ia hanya menatapku datar tanpa kata sedikitpun. Untuk beberapa saat keadaan hening.

“pejamkan matamu” aku semakin takut.

“aku mohon, jangan… jangan sekarang”

“pejamkan saja…” ujarnya sekali lagi.

Aku tak bisa apa-apa lagi. Aku pasrah, di sela isakanku kedua kelopak mataku perlahan mengatup. Lalu akhirnya terpejam. Aku tak merasakan apapun untuk beberapa saat hingga pemuda itu berucap lagi.
“buka matamu sekarang”

Perlahan ku buka mataku. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitarku. Aku takjub, aku tak berada di halte lagi. Apa ini surga? Tidak. Aku kenal daerah ini. kompleks rumahku? Mengapa ia membawaku kemari?

“kenapa kau bawa aku ke sini?” tanyaku bingung.

“tengoklah ke sana” ia menunjuk satu arah.

Kerumunan tadi, masih terlihat beberapa ibu dan bapak-bapak yang tengah berbincang-bincang. Kerumunan ini yang membuatku terlambat ke sekolah tadi pagi. Aku bergetar mendekati tempat itu, pemuda itu masih di sampingku.

“coba lihat dengan jelas semua yang di sana”

***

Aku di antara kerumunan itu sekarang. Tanpa kedipan aku menatap onggokan rangka motorku yang telah hancur tak berbentuk di sana. Dan, darah di mana-mana. Benda beroda dua itu juga hampir tak berbentuk lagi. Aku bergetar, airmata ini kembali menetes. Semua ini terlalu nyata, tak terelakkan.

“mobil itu menghantammu sangat keras semalam, kepalamu membentur pembatas jalan.” pemuda itu berujar.

Beberapa berujar di sekitarku.

“dia anak Pak Dharma satu-satunya”

“ya Allah, kasihan sekali pak Dharma. apa benar tak ada yang menolongnya? Setidaknya mendengar suara kecelakaan ini”

“sayangnya tidak bu, semua sudah terlelap saat itu. Tubuhnya di temukan pertama kali oleh mang Adi, tukang bakpao langganan warga komplek sini. Sangat terlambat, kata mang Adi saat itu sudah jam lima pagi”

Aku tak kuat mendengar lebih banyak lagi. Benakku seketika di suguhi apa yang sebenarnya terjadi malam tadi. Yang mereka tuturkan tak ada yang salah, semuanya benar. Terlalu nyata. Aku bergegas menjauh dari tempat itu, airmataku semakin menganak sungai.
Aku tak punya arah lain, selain rumah. Aku tak kaget lagi saat bisa melewati pagar tanpa membukanya, lalu menembus pintu tanpa membukanya. Benakku terlalu penuh, tak ada tempat untuk memikirkan itu. Aku memasuki ruang tengah, selimut yang ayah pakai semalam sudah terlipat rapi di sofa. Hatiku terasa di cabik-cabik sekarang. Semuanya terlalu nyata.

Aku melangkah memasuki kamarku. Rapih, sangat rapih. Ranjangku, tak ada tanda-tanda tempat itu ku pakai semalam, bantal dan selimutnya tak beranjak dari tempat terakhir aku merapihkannya kemarin pagi. Tak ada bekas sama sekali. Aku menoleh ke arah lemari, lalu ke tempatku menggantung tasku. Benar kata pemuda itu, seragam-seragam itu hanya berjatuhan di sisi pintu lemari yang terbuka. Dan tasku, benda itu masih menggantung sempurna di sana.

“tidaaaak!!! Ini tak mungkin! Aaaaargghh!!!” aku menyambar semua benda yang ada di mejaku. Komputerku, tumpukan buku-buku pelajaranku. Semua yang ada di sana.

Tapi…

Tak ada yang bergerak…

Tak ada yang bergeser…

Semua masih pada tempatnya…

“ini tak mungkin terjadi, tidak… tidaaak!”

Aku terus berusaha menyambar benda-benda itu dengan kedua tanganku. Tak berhasil, aku beralih ke benda-benda lain di sekitarku. Lalu kembali menggila dengan melakukan hal-hal yang sama. Namun nihil, tak satu benda pun dapat ku sentuh. Aku lalu tersungkur, menangis sejadi-jadinya. Aku sudah mati, jiwa ini tak lagi bersama ragaku. Aku kini terpisah, terpisah dengan semua yang ku cinta. Ayah, Daniel, dan semuanya. Aku masih ingin bersama mereka, aku masih ingin merasakan kebahagiaan seperti semalam. Ini… ini terlalu cepat, terlalu singkat. Aku baru saja merasakan kebahagiaan itu semalam. Aku masih bersama mereka semalam, bercanda-tawa, bersuka-ria merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas. Mengapa? Mengapa bahagia itu terlalu singkat. Mengapa harus terenggut secepat ini?
Mobil jahaman itu! kembalikan aku! Kembalikan kebahagiaan itu! aku tak siap dengan semua ini. Aku mungkin takkan pernah siap.
Aku terus meringkuk lemas di permukaan lantai yang dingin ini. Airmataku terus mengalir.

“berdirilah, masih ada tempat yang harus kita datangi” pemuda itu tiba-tiba sudah di sampingku.
Menggenggam tanganku, membantuku berdiri dari lantai ini.

“menangis takkan membantumu Alex, ayo, pejamkan lagi matamu” ujarnya tenang.

Aku menurut lagi, memejamkan mata hingga ia menyuruh aku membukanya lagi.

“buka mataku sekarang” setelah beberapa menit ia bersuara.

***

Aku membuka mataku perlahan. Aku kini berada di sebuah koridor serba putih, sepi, selain wanita-wanita berbaju suster, juga beberapa dokter, tak banyak orang berlalu lalang di sini. Ini koridor rumah sakit.

Aku mendengar suara tangisan. Suara itu, aku mengenalnya. Ayah. Aku seketika berlari menyusuri koridor sepi ini, mencari asal suara itu. Aku makin kalut, tangisan itu terasa mengiris-iris hatiku. Koridor ini terlalu panjang, terlalu banyak ruangan disini. Aku terus berlari dan terus berlari. Tiba-tiba dari salah satu ruangan keluar satu troly dengan jasad yang di tutup hingga kepala dengan selimut. Seorang wanita paruh bayah menangis sesenggukan di sampingnya.

“anakku! Anakku! Ya Allah! Anakku!” ibu itu hesteris, pemuda di sampingnya coba menenangkannya.

“sabar ma, istighfar! Faiz sudah tenang di sana! percaya, dia sudah tenang di alam sana… sabar ma” ujar pemuda itu di sela isakannya.

“astafirulahhh.. astafirulah ya Allah” ibu itu berusaha menuruti kata pemuda itu.
Aku bergidik menatapi pemandangan tragis di samping ku ini.

“hey! Di sini” tiba-tiba pemuda berbaju hitam itu memanggilku.

Ia berdiri di samping pintu sebuah ruangan. Di ujung koridor. Aku mematung membaca tag nama ruangan di atas pintu. ‘Kamar Mayat.’ Langkahku gontai mendekati ruangan itu, tangisan ayah semakin jelas terdengar dari sini. Semakin dekat dan semakin dekat, aku kini berada di samping pintu. Berhadapan dengan penjemputku.

“masuklah, ayahmu di dalam”

Aku melangkah melewati pintu ini. Lalu langsung mendapatkan apa yang ku cari, ayah yang tengah tersungkur menangisi satu dari dua jenazah yang tersisa di ruangan dingin ini. Aku bergetar.

“Alex, bangun nak. Ayah mohon, ayah… ayah tak sanggup tanpa kamu. Ayah tak sanggup sendiri, ayah tak punya siapa-siapa lagi nak. Hanya kamu, semangat ayah. Alasan ayah terus kuat menjalani semua hingga saat ini. Alex, anakku!”

Ayah menangis memeluk tubuh kaku membiru di sampingnya itu…

Aku berusaha tak mempercayai semua yang di hadapanku. Namun tak ada cela, semua terlalu nyata. Jasad yang ia peluk adalah aku, aku yang mulai membiru dengan luka lecet dan lebam di sekujur wajahku. Baru ku rasakan sakit yang sebenarnya kali ini, rasa sakit itu. Sakit yang harusnya ku rasa sejak kecelakaan semalam. Sakit yang mendera sekujur tubuhku, akhirnya kurasakan sekarang. Dan semuanya bertumpu di hatiku. Pedih itu seutuhnya menyerang hatiku. Meluluh lantakkan seluruh biliknya. Tangisan ayah bagai sembilu yang terus menyayat luka lebar hingga kian menganga di sana. Seperti ingin meledak, aku ingin berteriak. Namun entah kenapa semua tercekat di dadaku. Tak sepatah katapun dapat terucap. Aku pun sadar, bahkan seekor nyamuk pun takkan mendengar teriakan itu. Aku dibodohkan pedih ini.

“kamu percaya sekarang?” ujar pemuda itu.

Aku tak menatapnya, tak di katakanpun semua sudah terlalu jelas. Pandanganku masih terpaku pada ayah yang terus terisak di sana. Aku sangat ingin memeluknya, ingin menyeka airmatanya.

“aku belum siap… sungguh, semua terlalu cepat…” desisku lirih. Aku tertunduk meratapi semuanya.

“ini takdir Alex, tak ada yang bisa menghindari itu” ujarnya tenang.

Tak lama setelahnya pintu tiba-tiba terbuka. Mataku kembali membelalak melihat siapa lagi yang datang. Daniel, tante Sari dan Nana. Daniel langsung masuk dan tersungkur di depan jenasahku…
Matanya tak berkedip menatapi jasad di hadapannya itu. Dalam diam airmatanya menetes. Tangannya perlahan mendekati wajahku. Membelainya pelan…

“nggak… ini nggak mungkin, hey, lu jangan gini lex. Bangun!” ia seperti kehilangan akal sehatnya. “ayo dong, lex… ini, i..ini, gua… gua bawa soal ujian fisika buat lu. gua… gu..gua u..udah bikin surat izin sakit tadi buat lu, seperti biasa kan lex…, kali ini gantian gua yang bikin, u..udah ditanda-tanganin lex, gua hafal kok tanda-tangan lu. Dan pak Anton percaya, dia bilang lu bisa isi soalnya di rumah lex, nih… ini soalnya lex”

Ia berusaha tersenyum, namun aliran bening itu terus membasahi matanya. Tangan kanannya menyingkap sedikit kain yang menutupiku. Menggenggamkan lembar putih itu ke jemari-jemariku yang pucat membiru. Namun sia-sia, jemari itu sudah terlalu kaku. Lembar putih itu makin kusut namun tak kunjung pula tergenggam jemariku. Lalu perlahan pertahanannya runtuh, isak tangis mulai keluar dari mulutnya.

“Alex! Ayo lex, ini… i..ini soalnya lex, pegang… bangun lex, jangan… jangan tidur, jangan gini Aleeeex! Lu bilang kita sahabat selamanya lex! Tapi kenapa gini? Kenapa lu tinggalin gua duluan, dan secepat ini! bangun lex, Alex!” ia tak terkontrol lagi. Ia mendekapku kini. Terus terisak di sana.

“Alex bangun… jangan tinggalin gua lex…”

“ikhlasin Alex nak, ikhlasin anak om… biar dia tenang di sana” kali ini ayah yang bersuara. Aku bergetar mendengar ucapannya.

“Alex sahabat terbaik Dani om, ini… Alex udah janji kita akan jadi sahabat selamanya om, tapi kenapa gini om… semalam… semalam dia baik-baik aja om”

“sabar nak, ikhlasin dia” ayah mendekap Daniel.

Aku hanya bisa mematung di sini. Airmataku sudah mengering, hanya bisa menatap pasrah sosok-sosok yang tengah berkabung atasku. Di sampingku, tante Sari pun hanya mampu terisak sembari memeluk erat Nana. Bocah perempuan itu belum mengerti apa-apa, hanya menatap datar ke arah jenasah di hadapannya. Aku termenung kini, mendadak suara-suara di sekitarku hanya terdengar bagai dengungan tak jelas. Semua jelas untukku sekarang, godam takdir menghantamku. Duniaku dan mereka telah terpisah. Aku tak bisa lagi memeluk mereka, ayah, Daniel, tante Sari, Nana… semuanya. Sungguh tak satu insanpun mampu membaca jalan pikiran sang Kuasa.

Satu detik.

Cukup satu detik waktu yang dibutuhkan-Nya untuk memutar balikkan nasib manusia. Satu detik saja yang Ia butuhkan untuk mengubah bahagia menjadi duka. Derai tawa menjadi ratap tangis pilu. Satu detik saja.
Aku tengah menikmati saat-saat paling bahagia dalam perjalanan hidupku. Menggenggam erat kalung pemberian Daniel di leherku sambil terus menciuminya. Semalam hari terindah dalam hidupku, sungguh.

Lalu sedetik kemudian, mobil jahanam itu melesat menghantamku. Menghempaskan tubuhku hingga menghantam pembatas jalan.Kepalaku retak di sana. Sedetik kemudian semua bahagia itu musnah. Tak bersisa, lenyap beriring hayatku yang terlepas dari tempatnya. Tak terelakkan.

***

Dan di sinilah aku sekarang, di hadapan gundukan tanah basah yang masih merah, kelopak-kelopak segar beraneka warna berserakan di atasnya, beberapa karangan bunga utuh pun terlihat di sini. Papan putih tertancap di puncaknya. “Alexander J. William” nama itu terukir jelas di sana.

Para pelayat satu persatu mulai beranjak meninggalkan areal makam. Satu demi satu hingga tersisa ayahku yang masih terisak menggenggam papan putih di sampingnya itu, dan Daniel yang hanya membisu berdiri di sisi makam yang lain.

“nak, kenapa kamu tinggalin ayah… ayah tak punya siapa-siapa lagi sekarang, ayah sendirian nak” ia tertunduk, jemarinya meremas gundukan bertabur bunga di hadapannya.

Aku kalut, beranjak mendekatinya berusaha merangkulkan lenganku ke punggungnya. Terus, terus dan terus. Namun nihil, angin bahkan bisa membelainya jauh lebih kuat dariku. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini, ia begitu hancur. Karenaku. Aku tak kuat melihatnya begini.

“nggak nangis lagi yah, Al mohon, jangan nangis lagi” ujarku lirih.

Daniel mendekat pada ayah, “sabar om, iklasin Alex om… dia udah tenang di sana” ia mengusap punggung ayah.

“om nggak siap kehilangan dia Dan, dia satu-satunya yang om miliki saat ini”

“kita berdoa aja sekarang buat Al om”

Ayah menurut, Daniel lalu bersimpuh di sampingnya lalu masing-masing berdoa untukku. Aku tak sanggup menahan airmataku, mendengar senandung doa ayahku di sela isakannya. Mendengar isakan ayah yang terus terselip di sela-sela doanya.
Lalu pemuda itu muncul di hadapanku. “Alex, sudah saatnya”

“aku… aku belum siap, masih terlalu banyak yang ingin ku lakukan” aku tertunduk pasrah.

“marilah…” pemuda itu menggenggam tanganku, aku pasrah kini.

Tak ada yang bisa ku lakukan sekarang. Semuanya akan berakhir disini, segera, aku akan pergi ke alam di mana aku seharusnya berada sekarang. Meninggalkan semua ini, meneninggalkan mereka yang mencintaiku. Menyisakan luka hati dan tangis pilu yang akan terus terdengar dari bibir mereka. Alex akhirnya hanya akan menjadi penggalan kecil dari kisah hidup mereka yang mencintaiku. Lalu perlahan tergusur kenangan-kenangan baru yang lebih indah, lebih berkesan, lebih sempurna. Hingga akhirnya terlupa.

Maafkan Al Ayah…

Aku lalu memejamkan mataku.

***
Entah setelah berapa lama. Aku membuka mataku, sebuah ruangan lagi. Ruangan sempit, dan temaram. Ini kamarku? Ku edarkan lagi pandanganku menyapu sekelilingku. Ini benar kamarku, lalu pemuda itu? Ia menghilang. Lalu aku? Aku tengah tertidur berselimut di ranjangku. Ada apa ini? pandanganku tertuju pada jam dinding yang langsung tertangkap tatapanku. Hampir genap pukul lima sore, dari jendela kamarku langit diluar pun sudah mulai temaram. Ada apa ini?
Ada sesuatu menindih tanganku. Daniel? Dia tertidur di sana… tertidur sembari mengenggam tanganku. Ada apa ini? aku coba berdiri.

“arghh..” tubuhku terasa nyeri begitu beranjak bangun. Aku berbaring lagi.

Gerakanku ternyata membangunkan Daniel, “emhh… Alex! Kamu udah udah bangun lex, syukurlah” tiba-tiba ia memelukku. Erat, erat sekali.

Ada apa ini?

Kenapa aku di sini?

Dan Daniel melihatku?

Aku kan sudah… mati?

“ka..kamu bikin aku khawatir lex, seharian kamu nggak muncul di sekolah. Aku datang ke rumah dan om Dharma bilang kamu kecelakaan kecil semalam, sampe memar-memar gini… kamu… kamu baik-baik aja kan? Nggak ada luka yang parah kan? Nggak ada luka dalam kan?” raut khawatir terlihat jelas di wajahnya, aku seperti tak mengenalnya.

“i..iya, Dan. Gu… gua baik-baik aja”

“maafin aku Dan, aku… aku udah jahat sama kamu”

”maaf buat apa Dan? Lu nggak salah apa-apa sama gua”

Ia lalu mengambil sesuatu dari lantai. Mataku membelalak melihat apa yang ada di tangannya. Jurnalku.

“lu… udah… baca?”

“maafin aku Lex, tadi aku nggak sengaja, sungguh… tapi… ahhh”

Selanjutnya yang ia lakukan seketika membungkamku. Tiba-tiba ia mencondongkan wajahnya ke arahku, lalu langsung saja dengan lembut mendaratkan sebuah ciuman ke bibirku. Waktu serasa berhenti, aku tak percaya dengan apa yang ku alami kini. Tapi, kembali… semua terasa sangat nyata. Tak terbantahkan. Bibir kami bertemu. Daniel melumat lembut bibirku dengan mesra. Dapat kurasakan tetes airmatanya jatuh ke pipiku. Aku masih tak berkedip. Tak mampu berbuat apa-apa disini. Lalu sesaat kemudian, ia melepas ciuman itu. lalu menatap lurus penuh arti padaku.

“aku juga cinta sama kamu Lex, lebih dari siapapun di hidupku kini. Memang nggak sejak awal kita ketemu, tapi setelah apa yang kita alami selama ini. Persahabatan kita, perhatian kamu… rasa itu tumbuh. Kamu yang selalu berdiri terakhir di sisiku saat semuanya pergi, kamu yang selalu ada di saat-saat aku terpuruk Lex. Aku sadar akhirnya, aku cinta kamu. Tapi tak pernah ada keberanian, sampai aku baca ini… please… lex, setelah jeda lama kamu nunggu, rasa itu belum pudar…” ia menggenggam tanganku, tatapannya penuh harap.

Pikiranku masih terus berusaha mencerna semuanya. Semua yang terjadi, acara ulang tahunku, perjalananku pulang kerumah, kecelakaan itu, lalu… aku mati. Lalu pagi harinya aku terbangun seakan masih hidup, lalu terlambat datang ke sekolahku, lalu bertemu pemuda itu. Lalu aku melihat ayah dan semuanya menangisi jenasahku di kamar mayat, lalu pemakamanku, lalu…
Aku terbangun lagi…

Dan berada di kamar ini lagi, atau…

Aku memang tak kemana-mana…?

Aku memang tak beranjak dari tempat ini sejak malam tadi…?

Dan semua itu hanya mimpi?

Tapi semua terasa nyata. Terlalu nyata untuk ukuran sebuah mimpi. Peristiwa-peristiwa di sana, suara tangisan itu, pemuda itu, lalu mayatku, dan pemakamanku. Semua itu terlalu nyata. Sungguhkah semua itu hanya mimpi? Adakah mimpiku bisa sehebat itu?
Namun yang ku hadapi sekarang? Ini pun terlalu nyata, genggaman tangan Daniel ini. Erat, lembut, dan… nyata. Ya, ini tak lagi mimpi!

Ini nyata! Sangat nyata! Ya, aku tak mau kehilangan ini lagi. Tak akan…

Dengan sisa tenagaku aku bangkit lalu meraih tubuh Daniel. Memeluknya, mendekap erat tubuh itu. membenamkan wajahku di dadanya. Ia balas mendekapku, membelai pelan rambutku.

“nggak pernah Dan, rasa itu nggak akan pudar, sampai kapanpun itu, aku cinta kamu”

Kami bertatapan lagi, Daniel menyeka sisa airmataku. Lalu mengecup lembut dahiku. Sungguh tak terkatakan haru dan bahagia yang menyelimutiku saat ini. Ini terlalu nyata untuk tak ku percaya. Daniel juga mencintaiku.

Cklek…

Daniel melepas perlahan pelukannya ketika terdengar dencit suara pintu dibuka. Ia membaringkan tubuhku kembali. Pintu terbuka, yang masuk pun membuat wajahku sumringah. Ayah dengan topi kokinya, masuk membawa baik berisi semangkuk bubur dan segelas besar susu putih.

“udah bangun nak, duh… kamu bikin ayah panik tau nggak…” ayah meletakkan baki itu di meja.

“a…ayah… ayah?” aku tak kuasa menahan haru. Ini benar-benar nyata.

Aku berusaha bangkit lagi, Daniel refleks membantuku berdiri lagi. Langsung saja ku peluk tubuh ayah seerat eratnya. Sesuatu yang mustahil ku lakukan dalam mimpi buruk tadi. Semua bingung melihat tingkahku. Aku memeluknya sepuasku, seerat yang ku bisa.

“kenapa nak? Kamu baik-baik aja kan?” tanya ayah

“nggak apa-apa yah… al hanya… kangen sama ayah…” aku tersenyum canggung, hanya kalimat ini yang mampu keluar dari mulutku.

“kangen…? well… ok, ayah nggak kemana-mana kok, yaudah sekarang makan dulu… ini bubur ayam, pokoknya harus abis yah?” ayah mengacak pelan rambutku. Aku tersenyum haru.

“sip yah!” sahutku mantap.

“eehh… biar Dani aja yang suapin om!” Daniel mengambil alih.

“well, ok”

“ah, bilang aja lu juga lapar Dan, motif banget” godaku, ayah terbahak.

“eh… eng…nggak kok”

“hahaha, wes lah… di dapur masih banyak kok, Daniel bener mau?” tanya ayah.

“duh… ngerepotin nih om, tapi boleh deh… hehe”

“huuuu dasar”

“hahaha, yaudah om ambilin yah”

Ayah pun keluar. “hey… senyam-senyum sendiri! Kenapa sih? Ayo makan beib, nih” ia menyodorkan sesendok bubur padaku.

“mmhh, beib… haha, norak ah.” Sahutku seusai menelan.

“halahh, itu keren tau, muachh…” ia mengecup pipiku tiba-tiba.

“heh! Cari kesempatan yah!”

“hahaha” kamu tergelak bersama.
***

Mimpi. Tahukah kalian bahwa mimpi bisa terasa lebih nyata dari kejadian nyata yang notabene benar-benar terjadi? Aku mengalaminya. Yang terjadi dalam mimpi bisa ribuan kali lebih nyata dari kenyataannya.
Dan di sinilah aku sekarang, berbaring berbantalkan pangkuan Daniel. Kekasihku. Kami berdua saja di tepi pantai yang sepi ini, menatap detik-detik terbenamnya sang raja kelana. Daniel membelai rambutku penuh kasih, sesekali mengecup punggung tanganku. Permata, seperti itulah ia memperlakukanku kini. Aku ada di setiap detik hidupnya, setiap desah nafasnya. Aku bersanding dengan ibu dan adiknya menjadi sosok-sosok paling berharga untuknya saat ini. Pun juga aku, Daniel nafasku saat ini. Esok, dan selamanya.

“i love you…” ujarnya mesra sambil tak henti membelai rambutku.

“kamu sudah mengatakannya puluhan kali hari ini, i love you too my prince.” Aku kian menggenggam erat tangannya yang lain.

“aku gak akan bosan mengatakannya.” Ia mengecup punggung tanganku.

Kami kembali terhanyut menikmati pesona pemandangan di hadapan kami. Deru ombak menghempas pantai bagai alunan musik yang memanjakan telinga kami. Mentari sudah separuh tertelan lautan luas, binar yang masih terlihat terbias indah di permukaan laut. Warnanya hitam keemasan, mata kami menangkap sekelompok burung gereja yang berlalu lalang di langit sana. Menambah teduh suasana. Aku memejamkan mata meresapi semuanya lebih dalam lagi.

“bagus yah, ibu mengajar kamu tidur. Tuan Alexander!”

“what? Apaan sih lex?” kenapa lagi sih ini.

“Tuan Alexander William!”

“sayang ganggu ah! HUAAA”

CTARRR!!!

Gubrakkk… aku tersentak bangun. Mataku mengerjap-ngerjap beberapa kali. Lalu, pandanganku menyapu sekitarku. Aku membelalak.
Kelas?

Aku di ruang kelas? Ah, mana pantainya. Aku tadi bersama Daniel di pantai! Menikmati senja bersamanya, kenapa? Aku berada di kelas, dengan puluhan temanku dan bu Frida guru matematika yang melotot di depanku. Oh God! Jangan bilang ini mimpi… aku mohon jangan.

Aku mengucek-ngucek mataku lagi…

Kelas, teman-teman, bu Frida, papan tulis…

Lagi…

Teman-teman, bu Frida, papan tulis, kelas…

Lagi…!

Bu Frida, papan tulis, kelas, teman-teman…

Lagi…!!

Papan tulis, kelas, teman-teman, bu Frida…

Aku tertunduk lemas, ini mimpi lagi. Semuanya tadi mimpi, semua keindahan itu mimpi. Juga… kebersamaanku dengan Daniel tadi hanya mimpi, tak nyata. Daniel bukan kekasihku. Kembali, mimpi dan kenyataan mempermainkanku. Rasanya ingin menangis saja saat ini.

“sudah terkumpul semua nyawamu tuan Alex?” bu Frida makin geram.

“ma..maaf bu.” Aku tertunduk.

“….” tanpa suara ia menyodorkan spidolnya padaku. “kau buat soal di papan sana?” ujarnya datar.

“apa bu?” aku melongo.

“LEKAS SANA!” bentaknya.

“i…iya bu.” Aku beranjak dari bangku. Melangkah ke depan diiringi cekikikan tertahan teman-temanku.

Argghh… sial kau mimpi!

Aku tiba di depan. Sebuah soal matematika menanti untukku selesaikan.

‘jika (sin x – cos x)= 2p, maka sin 2x=?’

Oh Tuhan, aku tak bisa berpikir apa-apa. Terlanjur lemas usai terbangun dari mimpi tadi.

“ayo… fighting! Gampang soalnya kok…” bisik seseorang dari luar. Aku menoleh. Daniel!

Ia tersenyum melihatku, aku bahagia melihat senyum itu.

“ayo, bikin pelan-pelan aja. ‘einstein’ masa kalah sama soal begituan.”

Aku menghadap papan tulis ini lagi.

(sin x – cos x) = 2p, jadi…

(sin x – cos x)2 = 4p2

(sin2x – sin x.cos x – cos x. Sin x + cos2x) = 4p2

(1 – 2.sinx.cosx) = 4p2

(1 – sin2x) = 4p2, so…
Sin2x = 1 – 4p2

Yeah, special thanks for the founder of rumus trigonometri.

Kali ini aku menghadap bu Frida dengan mantap. Ia hanya menatapku datar lalu jemarinya menyambut spidol yang ku berikan.

Beberapa detik kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Ia tak bisa berbuat banyak. Aku melangkah dengan santai menuju mejaku kembali. Lalu membereskan semua ke dalam tasku, sahabatku sudah menunggu di depan.

Daniel langsung menyambutku begitu aku keluar dari kelas. Aku kembali harus di buat senam jantung saat ia merangkulkan lengannya ke pundakku. Aku hanya bisa tersenyum kaku. Biarlah, aku tak mau bermimpi yang berlebihan lagi. Cukup seperti ini saja, aku disisinya sebagai sahabatnya. Aku tak mau dipermainkan mimpi-mimpi tak jelas lagi. Sudah cukup. Cinta tak harus memiliki! Kembali kalimat ini harus ku pegang teguh. Toh tak jauh berbeda memilikinya sebagai sahabat ataupun kekasih. Daniel juga punya dunianya sendiri, aku tak berhak mengekangnya.

“kok cepat sekali kamu keluar kelas? Memang gurunya gak ada?” tanyaku saat kami tiba di tempat parkir sekolah.

“pak Anton ijin pulang lebih awal, istrinya mau melahirkan… lagi, ckckck.” Kami terbahak bersama. Jeda beberapa detik. “aku juga tak mau pangeranku menunggu terlalu lama.”

Aku melongo, mencerna sejenak kalimat terakhir Daniel. Kelucuan tentang kehebatan pak Anton yang mendapat anak ke tiga juga di tahun ketiga pernikahan mereka tak penting lagi.

“pa..pangeran?”

“iya sayang, kenapa? Apa pangeran terlalu menggelikan untukmu? Hehehe.” Ia tertawa.

Aku segera berhambur ke pelukannya, airmataku menetes. Nyaris terisak keras di dadanya. Batinku masih bertanya-tanya. Namun…

“a..ada apa lex? kamu.. kamu gak apa-apa kan?” tanyanya cemas.

“gak Dan… aku… aku hanya… aku masih takut kalau ini hanya mimpi. Aku benci mimpi.” Aku terbata. Daniel merenggangkan pelukannya. Lalu menatapku dengan senyuman termanisnya.

“kamu gak sedang bermimpi my prince.” Ujarnya singkat lalu tanpa bisa ku cegah mendaratkan ciuman lembut ke bibirku.

Aku mematung, mataku tak berkedip. Bibirnya menyapu lembut permukaan bibirku dengan mesranya. Aku terhanyut dalam buaian cintanya. Dan satu yang paling membuatku ingin menangis saat ini adalah… nyata. Lumatan lembut Daniel di bibirku, dekapannya yang erat di pinggangku. Semua begitu nyata.

“apa ciuman ini terasa cukup nyata untukmu, my prince?” ujarnya usai ciuman singkat itu terlepas. Aku tak menjawab, menunduk.

Yakin sekali wajahku merona merah.

“hmm, mau yang lebih nyata lagi? Kita butuh ranjang untuk itu sayang, ayo naik!” ia menyeringai nakal. Aku melotot.

Aku pun naik ke boncengannya. Kami melesat cepat meninggalkan area sekolah. Aku mendekap erat pinggang Daniel, tubuhku bersandar nyaman di punggungnya yang kokoh. Selalu, aku merasakan bahagia tak terkira berada di sampingnya. Sedekat ini. Aku tak peduli apapun lagi.

Aku tak tau ini mimpi atau bukan…

Lagi…

Jika pun ini mimpi…

Aku tak ingin terbangun selamanya…

Mati saja bersama mimpi ini, aku rela…

Jika bukan…

Aku takkan mau bermimpi lagi selamanya…

FIN

Dari atas ranjang membosankan sebuah rumah sakit
Manado, Pertengahan Juli 2012
Dengan jarum infus masih menancap di tangan
With love
R.Y.R

ps : thanks master n.a.g udh bolehin aq ikut nulis di sini, as beggining aq coba post Real Dream dulu deh… semoga teman2 lain pada suka… mohon kritiknya yah ^^