an AL GIBRAN NAYAKA story
#####################################################
PENGGALAN POKET 3 :
Saat sudah berada di pintu pagarku, aku menoleh ke teras rumah Syawal yang memang terlihat jelas dari tempatku berdiri. Dan apa yang kulihat? Sungguh sialan sekali. Syawal sedang berjingkrakan di sana, membelakangiku. Dia baru saja membuka pintu depan rumahnya. Kurang ajar, aku ditipu mentah-mentah oleh makhluk itu. Kakinya tidak terkilir, dia sehat walafiat.

“IBAR…!!!”

Aku berteriak saking marahnya, suaraku menggelegar mengerikan. Bagaimana tidak, aku sampai harus keok menggendongnya hampir satu kilometer jauhnya dan ternyata dia tidak benar-benar terkilir. Sentoloyo benar. Pantas dia tak ingin aku minta tolong pada orang-orang, dia sudah merancang skenario paling menguntungkan buatnya pagi ini. Plus bonus bisa mepet di belakangku. Bangsat.

Syawal berhenti jingkrak-jingkrak dan berbalik memandangku. Yang membuatku tambah ingin mengulitinya hidup-hidup adalah, dia melambai padaku sambil tertawa-tawa. Sangat jauh dari kesan bersalah karena telah menganiayaku sepanjang jalan pulang. Aku geram mampus padanya saat ini. Tapi apa yang bisa kulakukan? Syawal sudah menghilang di balik pintunya.

Sabar Didan, kamu lagi puasa…

Mengapa kita selalu meng-kambing-hitam-kan puasa?
***
POKET 4
“Dhan…!”

Seseorang memanggil namaku saat sedang di pasar Ramadhan sore ini. Kebanyakan teman sekelasku memanggilku begitu, pasti salah satu dari mereka. Aku menoleh ke asal suara. Yazir, sendirian. Untuk beberapa detik, aku masih juga terpesona bila melihatnya. Sudah aku beritahu kan kalau dia cakep? Dan sore ini aku menambahkan pangkat dua di belakang kata ‘cakep’ untuk Yazir. Sore ini badan jangkungnya di balut baju koko funky khas remaja baru gede, tentu saja pakaian bawahnya bukan kain sarung. Dia memakai denim. Di tangan kanannya Yazir menjinjing kantong yang tampak penuh. Dia sudah berdiri di depanku.

“Loh, Zir… beli bukaan juga?”

Yazir mengangkat kantongnya. “Es teler sama martabak manis…” Jawabnya sambil tersenyum. “Kamu?”

“Tuh…” Aku menunjuk gerobak kue. “Beli kue sama kakakku…”

“Kakakmu? Mana?”

Kutunjuk Kak Aira yang sedang memilih kue. “Kak, ada temenku nih…!” Aku memanggil Kak Aira.

Kak Aira menoleh sambil membetulkan kain jilbabnya –kali ini jilbabnya sendiri, Kak Aira langsung minta dibelikan jilbab sehari setelah bertemu Bang Awi. Dia memandangku sebentar lalu mengulurkan tangan pada Yazir. “Salam, Aira… kakaknya bocah ini… boleh panggil apa saja asal ada sapaan yang menunjukkan kalau aku lebih tua…”

Kalimat perkenalan macam apa itu? Dimana mak lampir ini mendapatkan kalimat tersebut? Maksa banget. Aku melongo tak habis pikir. “Panggil Nek Aira aja, Zir… afdol tuanya…” Semprotku kemudian.

Kak Aira melotot besar padaku. “Ingatkan aku untuk memberimu jus cabe merah saat berbuka nanti. Gak sopan sama kakaknya…”

Aku nyengir saja.

Tunggu dulu. Apa yang terjadi pada Yazirul Irham sore ini? Tangan Kak Aira sudah menggantung sejak puluhan detik lalu namun tak jua di sambutnya. Jangan bilang dia gak boleh salaman sama yang bukan muhrim, Yazir gak berpantang dengan itu. Matanya tak berkedip memandang Kak Aira, mulutnya bahkan sedikit terbuka. Gelagat apa itu? Terpesona pada pandangan pertama? Iyakah?

Aku berdehem. Bahkan Kak Aira sudah mulai tidak nyaman, dia mulai melihat-lihat kemungkinan jika ada sesuatu yang salah pada dirinya, lupa pake rok atau bajunya gak terkancing misalnya. Tangannya masih menggantung di udara.

“Zir… kamu baik-baik saja?” Aku mencolek lengan Yazir.

“Hah?” Yazir menggeragap. “Eh… iya… salam kenal Kak…” Dengan kikuk Yazir menyambut tangan Kak Aira. “Kak… siapa tadi namanya…” Kening Yazir berlipat, tangan Kak Aira masih dipegangnya.

“Kak Aira.” Ujarku.

“Iya… salam kenal Kak Aira. Aku Yazir, kawan baiknya Ramadhan…”

Kak Aira tersenyum. “Hemm… sendirian?”

Sepertinya mereka terlalu lama bersalaman. Mataku tak lepas menatap tangan mereka yang tepat berada di depanku. Bukan Kak Aira yang ngebet, tapi ketua kelasku yang charming abis, Yazir.

“Iya Kak, sendirian…” Jawab Yazir.

“Ehemm…” Aku berdehem, cukup kuat untuk membuat Yazir sadar dan melepas jabatannya. Dia tersengih-sengih malu sendiri. Baru kali ini aku melihat muka Yazir yang memerah, merona yang enak dipandang.

“Kirain sama ceweknya…” Cetus Kak Aira, terbilang telat. Seharusnya dia bilang begitu dari tadi.

Yazir tertawa. “Gak ada Kak. Jelek gini mana ada cewek yang mau.”

“Kamu cakep kok.” Potong Kak Aira cepat. “Lebih cakep dari si Didan. Sayang aku gak bisa milih, kalau bisa nih… aku lebih milih kamu buat jadi adikku ketimbang dakocan ini…” Di akhir ucapannya, Kak Aira tepat menunjuk hidungku.

Ingin sekali aku menangkap telunjuk Kak Aira dan menggunakannya sebagai perkakas untuk menggali lubang hidungku kiri kanan. Tapi jarinya keburu ditarik pulang. Aku hanya bisa mendongkol dalam hati.

Yazir semakin merah. “Aku gak pernah tahu kalau Ramadhan punya kakak.”

“Aku juga gak pernah tahu kalau kamu punya nenek.” Tukasku asal-asalan.

Yazir tertawa. “Kan aku gak pernah bilang.”

“Kalian lanjut ngobrol deh, aku lanjutin milih kue ya…”

“Iya Kak.” Jawab Yazir cepat.

Kak Aira berbalik dan kembali bicara dengan ibu penjual kue. Yazir masih menatap Kak Aira. Apa yang sedang difikirkannya ya? Apakah seperti yang kusimpulkan? Jika benar seperti itu, kasihan Yazir. Lagian dia aneh, masa sukanya sama yang lebih tua? Tiga tahun lagi tuanya, dan lagi… sama kakak temannya? Parah. Kalau sama adik temannya bisa dipertimbangkan kali ya. Kecuali dibalik, aku dan Yazir adalah cewek dan Kak Aira adalah cowok, itu baru lumrah.

“Zir… kamu baik-baik saja?”

Yazir menoleh padaku. “He eh… apa aku terlihat tidak baik-baik saja?” Dia balik nanya.

Aku mengangkat bahu. “Menurutmu?”

Yazir menghela nafas. “Kak Aira kuliah ya?” Suaranya mulai pelan.

Ya Tuhan, sepertinya benar. Aku mengangguk. “Udah semester empat, mau lanjut semester lima.”

“Tiga tahun di atas kita ya…”

“Begitulah…”

Yazir diam sebentar, tapi matanya masih setia menatap sosok Kak Aira yang berada tiga langkah di depan sana. “Kapan-kapan aku main ke rumah ya Dhan…”

Gelagat. “Boleh, gak masalah datang aja kapanpun.” Jawabku. “Tapi besok Kak Aira udah balik ke kontrakannya, kuliahnya dimulai senin lusa, barengan sama masuk sekolah.” Aku langsung ke poin pentingnya.

Yazir malah jadi salah tingkah sendiri karena kuperhatikan terus. Dia asik menggaruk-garuk kepalanya dan sesekali menarik-narik kupingnya. Kasihan.

“Pasti gak jadi main ke rumah kan?”

“Ya jadi… nanti kapan-kapan.”

“Hemm… ada pesan? Nanti aku bilangin Kak Aira.”

Yazir cengengesan, membuatku gemas ingin menarik hidungnya. Sungguh, Yazir adalah cowok tertampan di kelas.

Dia menggeleng. “Aku akan sangat berterima kasih bila dapat nomer kontaknya.”

Aku tertawa. “Aduh, apa sih yang kita obrolin ini. Gak jelas banget…” Kalau tidak ingat dengan Bang Awi, mau saja aku memberikan nomor hape Kak Aira pada Yazir. Gak ada salahnya punya abang ipar sebaya. Oh Didan, stop ngelantur.

“Aku duluan deh Dhan.” Kata Yazir akhirnya.

“Okey. Hati-hati di jalan.”

“Kak Aira, aku duluan ya!” Seru Yazir.

Kak Aira menoleh, dia tersenyum. “Jangan makan di jalan walau jumpa tempat sepi tuh…” Yah, begitulah kakakku.

Yazir terkekeh. “Gini-gini aku masih ingat Tuhan Kak…”

“Tuh Dan, liat Yazir… dia selalu ingat Tuhan.”

“Hadeh, aku lagi!”

Yazir tersenyum. “Pergi ya Kak… senang kenal Kak Aira, moga bisa jumpa lagi.”

“Insya Allah…”

“Sampai ketemu di sekolah Dhan… Assalamualaikum.”

“Iya, waalaikumsalam.”

Sepeninggal Yazir, Kak Aira mengedarkan pandanganya berkeliling. Aku tahu, dia sedang mencari sosok Bang Awi. Sudah seminggu ini kami selalu bertemu Bang Awi di sini, tepat di gerobak kue ini. Bahkan aku sudah merasa terbiasa dengan kehadiran Bang Awi, mengobrol sebentar sebelum aku dan Kak Aira pergi. Sepertinya hari ini Bang Awi terlambat. Kak Aira sudah memegang kantong kue di tangan kanannya.

“Kayaknya Bang Awi gak beli kue hari ini Kak…” Ujarku dapat membaca riak wajah Kak Aira.

“Ini hari terakhir aku Dhan, besok aku udah balik.” Kak Aira bicara tanpa memandang padaku, matanya masih menjelajah diantara pengunjung-pengunjung pasar. Mencari sosok Bang Awi.

“Kak Aira ada bilang sama Bang Awi kalau mau balik besok?”

“Dia pasti tahu. Saat jumpa hari itu udah sempat aku singgung kalau aku seminggu di sini.”

“Mungkin Bang Awi mengira kalau Kak Aira baliknya hari ini.”

Kak Aira mendesah. “Mungkin…”

“Telpon saja Kak.” Usulku.

“Gak lah Dhan, kami gak pernah bicara di telepon. Lagian mau bilang apa? Nyuruh dia kemari?

“Ya iya kan? Memang apalagi selain nyuruh Bang Awi kemari? Kak Aira mau nyuruh Bang Awi ke rumah?”

“Jangan ngawur, diam aja!” Itu tanda-tanda kalau Kak Aira mulai kalut.

“Esemes deh kalau gitu.”

“Gak pernah.”

“Loh, gimana sih kalian? Telponan enggak, esemes juga enggak. Surat menyurat?”

“Aku gak punya nomor hapenya goblok!”

Ini yang goblok siapa ya? “Ya ampun… jadi dari tadi kita ngobrolin yang gak guna sama sekali…”

“Aku kira kamu punya, kan dia guru ngajimu.”

“Kapan jumpa nanti aku minta deh sama Bang Awi, trus aku kirim ke Kak Aira.”

“Jangan bikin malu. Nanti Bang Awi mikirnya aku gadis gatal.”

“Kan aku yang minta, bukan Kak Aira. Bang Awi gak perlu tahu kalau nomornya mau aku kasih ke Kakak.”

“Sama aja… duh, gobloknya kamu Didan. Nanti yang nelpon aku kan?” Kak Aira membuang nafas berat. “Dan aku gak akan nelpon duluan, Bang Awi pasti gak suka gadis agresif. Penilaiannya pasti buruk untuk gadis seperti itu. Dia suka gadis yang tahu diri dan sadar kodratnya.”

Aku manggut-manggut juga meski sebenarnya cukup kesal disebut goblok. Yah, ternyata aku masih belum mengerti seperti apa hubungan mereka. Tidak ada komunikasi, hubungan seperti apa itu? Hanya pertemuan-pertemuan kebetulan seperti seminggu belakangan ini saja –walaupun sudah tak pantas disebut kebetulan juga sih. Sungguh hubungan yang sangat kuno. Apa memang begitu ya gaya pacaran orang alim seperti Bang Awi? Pacaran? Pasti kata itu gak ada dalam kamus hidup Bang Awi. Ah, mungkin aku terlalu cepat menyimpulkan kalau hubungannya dengan Kak Aira adalah hubungan percintaan. Tidak ada bukti yang mengarah ke sana, kalau saling mencintai mungkin benar.

Kulirik jam karetku, Bang Awi tak akan datang hari ini. Ini sudah sangat terlambat dari biasanya. “Kak, kalau gak pulang sekarang kita bisa maghrib di jalan loh…”

Kak Aira mendecak nyaring lalu melangkah lebih dulu. Kasihan kakakku itu. Aku mengikuti di belakangnya. “Kalau jumpa nanti kapan-kapan, Aku kasih nomor Kak Aira sama Bang Awi ya.”

Pengajian diliburkan selama puasa, kalau tidak pasti nanti malam langsung aku laksanakan niatku itu. Saat taraweh pun mustahil bisa, Bang Awi tak akan suka. Lagipula kami tak pernah punya waktu di mesjid, aku akan langsung pulang setelahnya sementara Bang Awi akan langsung mengkoordinir pemuda-pemuda yang akan bertadarus. Tunggu, atau aku juga ikut tadarus? Tidak, aku gak sanggup melek hingga larut. Ngaji sendiri di rumah saja aku sering tewas sebelum selesai satu ain.

“Itu tambah bikin malu, kamu kenapa goblok banget sih Dan…” Sahut Kak Aira. “Jangan kasih!”

Dua kali disebut begitu aku masih tahan karena mikir sedang puasa. Tiga kali disebut goblok aku gak lupa kalau sedang puasa. Namun kali ini ternyata tak tertahankan. Cukup tiga kali. “Terserahlah, aku cuma nyari jalan. Kalau gak berkenan mampus situ, gantung tuh perasaan. Gigit jari kalau Bang Awi meminang gadis lain.”

“Ya Allah, mulutmu…” Kak Aira berbalik dan memandang tajam padaku.

Aku tak menjawab. Dengan muka memberengut aku berlalu di depan hidungnya langsung menuju tempat parkir. Sampai di sana, aku segera menunggangi motor. Hatiku dongkol sekali dengan Kak Aira. Kata-katanya untukku sudah lewat takaran. Kumasukkan kunci, susah. Sialan, ada apa dengan motor ini?

“Itu motor orang goblok!”

“STOP NYEBUT AKU GOBLOK!” Tentu saja aku berteriak. Dan tentu saja ada orang yang memperhatikan kami.

Kak Aira diam. Mungkin dia tak menyangka aku akan berteriak sekeras barusan. Tanpa menoleh padanya aku turun dari motor salah kaprah yang sama persis seperti motor Abah. Entah apa yang mendasari si empunya motor untuk ikut memarkirkan hartanya ini tepat di samping motor kami. Sialan.

Aku menstarter motor, menunggu Kak Aira naik ke boncengan. Tapi hingga satu menit berlalu dia belum naik juga. Aku menoleh. “Jangan kira aku gak berani ninggalin ya!”

Kak Aira mendekat. “Kamu gak boleh bentak-bentak kakakmu di depan orang banyak.”

“Oh tentu saja tidak boleh. Tapi sang kakak boleh ngatain adiknya sekurang ajar yang diingini kapan saja dimana saja walau di tengah keramaian sekalipun!”

Kak Aira diam, tanpa bersuara dia naik ke boncengan.

“Jangan hanya gara-gara kesal karena gak jumpa pacar trus adiknya dikatain macam-macam.” Aku masih mendumel.

“Kan cuma satu macam Dan.”

“Satu macam tapi berkali-kali. Sami mawon…!” Aku mulai menjalankan motor.

“Maaf…” Ujar Kak Aira. Lalu tanpa kuduga dia merangkul pinggangku dengan tangan kanannya. “Kamu adikku paling baik…” Ucapnya sambil menyandar di punggungku. Huh, memangnya dia punya adik lain selain aku?

“Gak usah muji. Terlanjur sakit hati…” Semburku.

“Pulang libur lebaran nanti aku bawain baju koko baru. Janji!”

Aku diam.
***
Ini tentang seorang kakak. Kakak perempuan. Seusil apapun sang kakak, pasti kita merasa sedih juga bila hendak berpisah dengannya. Pagi ini Kak Aira balik ke kontrakannya lagi, besok dia harus kuliah. Bang Ikhwan yang mengantarnya ke stasiun.

“Ingat janjinya.”

“Iya.”

“Apa gak ada titipan buat Bang Awi…” Aku berbisik untuk kalimat ini.

“Gak.”

“Kalau dia nanya-nanya?”

“Ya jawab aja. Gak susah kan?”

“Kalau nanya-nya banyak dan pribadi? Misal kayak… apa Aira masih sendiri?”

“Kamu lebih tahu cara menjawabnya.”

“Kalau dia minta nomor Kak Aira?”

“Kasih. Wajib!”

Aku manggut-manggut. “Kalau aku tawarin… Bang, mau nyimpan nomor Kak Aira gak? Gimana, boleh?”

“Aku cabut kukumu satu-satu.”

Aku manggut-manggut tanda mengerti. Kak Aira naik ke boncengan motor gede Bang Ikhwan setelah sebelumnya menyalami Abah dan Ummi. Mereka hilang di balik pagar.

Aku menghembuskan nafas berat, memandang pekarangan rumah yang masih belum tersapu. Kembali, menyapu halaman akan jadi tugasku setelah diambil alih Kak Aira selama seminggu kemarin. Aku bergegas ke belakang mengambil sapu lidi.

“Kak Idan…”

Itu suara Haikal. Aku berhenti mengayunkan sapuku dan menoleh ke jalan. Haikal sedang menyeberang dengan mangkuk di tangan. Pasti dia mau sarapan dengan ummiku. Anak itu memang aneh, dia punya mama di rumah tapi masih saja suka mengambil mama orang. Tapi ummiku juga satu hal, Ummi akan langsung ke rumah Bu Leli –mamanya Syawal dan Haikal- jika si kecil yang sudah dianggap anak sendiri itu tak datang ke rumah. Hampir tiap hari Haikal menghabiskan paginya di rumahku, menemani Ummi yang ditinggal semua penghuni rumah. Abah kerja, Bang Ikhwan dinas, aku ke sekolah, Kak Aira jangan tanya. Bahkan seminggu kemarin ini Haikal tak pernah alpa meski aku dan Kak Aira ada di rumah sebagai teman Ummi.

“Yah, Ikal… bawa sarapan apa?” Aku menunggunya mendekat.

“Nasi goreng, telur juga ada.”

Aku memperhatikan isi mangkuk Ikal. Kayaknya enak. “Siapa yang bikin?”

“Mama.”

Aku manggut-manggut. Huh, enak banget jadi balita.

“Mau ngerebut sarapan adikku ya?” Syawal tegak berdiri di gerbang. Celana pendeknya tampak basah, baju kausnya juga.

“Abis nyebur got?” Tanyaku tanpa merespon kalimatnya. Aku mengacak rambut Haikal. “Ikal masuk gih, Ummi ada di dapur, mungkin lagi nyuci piring.” Kataku padanya, anak itu mengangguk.

“Jangan minta suapin Ummi tuh, lagi ada kerja!” Seru Syawal ketika Haikal mulai mendaki undakan teras rumahku. Haikal tak menjawab.

“Kenapa basah? Nyebur sumur?” Kali ini dugaanku sedikit halus.

Syawal melangkah menghampiriku. “Nyuci skuter, biar besok tampak mengkilap.”

Aku membulatkan mulut, lalu mulai menyapu lagi. Syawal melangkah duduk di undakan teras sambil mengibas-ngibaskan kausnya. Sepertinya kaus itu bukan basah karena air, tapi keringatnya. “Cape banget ya?” Tanyaku tanpa berhenti dari kerjaku.

“Banget, iya. Aku harus nimba. Air keran gak mau jalan, minta diganti mesinnya. Entah apa yang ditunggu Papa, sudah sebulan ini sangat sering macet masih saja dibiarkan. Mbak Mai yang paling menderita, harus nimba banyak saat nyuci.” Syawal mengeliatkan badannya. “Huft… kejang semua nih ototku.”

“Trus, ada hubungannya denganku?”

“Siap nyapu tolong pijatin ya!”

Aku mulai curiga kalau itu akal-akalannya saja. Maaf pacarku, kali ini aku sudah lebih pintar. Gak mempan lagi dikibulin. “Gak sempat.” Jawabku singkat sambil semakin kencang menggerakkan gagang sapuku, debu mulai berterbangan.

“Petugas fogging beraksi nih.” Cetus Syawal sambil mengibaskan lengan di depan mukanya.

Aku diam saja.

“Beneran gak sempat? Atau gak mau nolongin?”

“Taruh balsam saja, nanti sembuh sendiri kaku sama kejangnya.” Ujarku, berharap dia menangkap nada sindiran dalam ucapanku. Ingat, saat pura-pura terkilir pagi lalu dia pernah berkata seperti itu.

“Kalau gak sembuh?”

“Bukan urusanku.” Daun-daun kering sudah memenuhi keranjang sampah.

“Padahal kali ini aku gak bohong loh, Dan…”

Ternyata dia mengerti maksudku. “Yang bilang bohong siapa?” Tanyaku sambil menjinjing keranjang sampah.

“Pasti kamu mikirnya aku bohong lagi dan nyari kesempatan biar bisa dipegang-pegang kan?”

“Ssstt… apaan sih! Kalau ada yang dengar bisa mikir lain tau…”

Syawal tersenyum. “Aku pulang deh, kamu pun gak mau dimintai tolong.” Syawal bangkit dari duduknya dan meninggalkan terasku.

“Aku takutnya nanti kamu minta dipijat yang lain… batal puasaku.” Ucapku cukup pelan ketika Syawal berlalu di depan hidungku.

Dia sontak berhenti, setengah langkah setelah lewat di depanku. “Kamu juga kepengen ya?” Kali ini dia yang berkata pelan sambil mendekatkan muka padaku.

Aku menarik wajahku menjauh. “Udah ah, bisa kapiran kalau aku ngikutin omonganmu.”

“Lah… yang nyinggung duluan kan kamu Dan…”

“Siapa yang lebih dulu minta dipijat.” Aku tak mau disalahkan.

“Tapi yang kumaksudkan adalah pijit yang sebenarnya. Kamu tuh yang mikir kejauhan.” Dia mengedipkan mata menggodaku. “Kamu juga kepengen kan?”

Syawal mulai kurang ajar dengan semakin mendekatkan dirinya padaku. Dapat kucium samar aroma keringatnya. Aku tak mau ambil resiko, kami di tempat terbuka. Siapa saja punya kesempatan melihat kedekatan kami. “Bar, jangan berani macam-macam. Ada yang lihat mampus kita!” Aku menaikkan keranjang sampah sehingga tepat berada di depan kami, perannya sudah jelas sekali sebagai tameng pelindung.

Syawal mundur sambil nyengir. “Hemm… gak sabar nunggu lebaran…”

Mau tak mau aku tersenyum juga. Andai boleh jujur, aku juga ingin lebaran segera tiba. Yah, I am a bad Ramadhan. “Udah, pulang sana lalu segera mandi. Kamu bau…”

“Jangan bilang kamu mulai benci bau keringatku. Hampir tiap hari kamu membauiku di boncengan. Ingat?”

Tidak, aku tak akan pernah benci itu. Dan aku juga ingat kalau akan selalu merapat di punggungnya –bila dia yang menyetir- untuk dapat mengendusnya dari dekat. “Sudah sana pergi. Banyak pekerjaan yang menantiku di dalam rumah…”

“Seperti?” Syawal belum juga mau pergi.

“Mengambil alih peran Ummi sebagai teman main Ikal, banyak pesanan jahitan yang masih terbengkalai…” Yap, ummiku punya mesin jahit. Dan tentu saja beliau seorang penjahit, kabarnya penjahit solo terbaik di RT-ku. Kalian pikir hanya penyanyi saja yang bisa ber-solo karir? Hei, penjahit juga bisa. Tuh, ummiku buktinya. Tapi Ummi sering mengesampingkan kain-kainnya bila Haikal sedang ingin bermanja.

“Kamu lebih cinta Ikal deh kayaknya, ketimbang aku.”

“Ikal lebih imut dari kakaknya yang sangat sering kegatelan.”

“Ya kah?”

“Dan tentu saja dia gak bakal bikin kesal dengan pura-pura terkilir atau patah tulang hanya untuk agar bisa digendong. Kalaupun iya, aku lebih senang menggendong Ikal yang imut itu ketimbang kakaknya…”

“Meskipun Ikal belum punya tongkat baseball segede punya kakaknya?”

Aku mendelik pada Syawal.

“Kamu masih menyimpan kesal gara-gara aku tipu kemarin?” Syawal meniup ikal rambut yang menempel di dahinya. “Kan itu semata-mata aku lakukan karena pengen dekat sama kamu aja, harusnya kamu senang dong punya pacar kayak aku yang selalu ingin berada dekat di sisimu.” Syawal mulai berlebihan dan terdengar sangat norak. Entah dari mana dia mengutip kata-kata terakhir dalam kalimatnya.

“KAK IDAN…!!! Ikal mau main gundu…”

Haikal berteriak dari dalam rumah, dia pasti menemukan botol berisi kelerengku, atau Ummi yang mengambilnya dari kamarku untuk dipakai Haikal. Padahal aku tak pernah mau memperlihatkan botol itu pada Haikal, itu kelereng koleksiku, semuanya berwarna putih susu. Ummi pasti sedang dikejar deadline jahitannya.

Syawal tertawa. “Koleksimu tak terselamatkan lagi…” Ya, Syawal tahu tentang botolku itu. “Adikku bikin repot ya…”

“Tapi tidak se-merepotkan kakaknya.” Cetusku.

“KAK IDAAAANNN…!!!”

“IYA…! Buang sampah dulu nih.” Teriakku.

“Selamat jagain adik iparmu ya.” Syawal terkekeh. “Kalau masih kepengen, bila sempat datang aja ke kamar, tawaranku untuk dipijat masih berlaku kok.” Dia tertawa kencang lalu beranjak pergi.

Aku geram sendiri di tempatku berdiri sambil menatap punggung Syawal. Besok pagi aku akan memeluk punggung itu lagi.

“KAK IDAAAAAAAANNNN…!!!”

Budeg kupingku. “IYA…!”

Sebenarnya Haikal itu adiknya siapa sih?
***
Tampang-tampang sarat kemalasan
Mata-mata merah cekung
Mulut-mulut yang menguap
Dan dagu-dagu yang tertopang lengan
Ah, mengapa tak ada gairah pada sosok-sosok itu?
Tidak tahukah mereka?
Bahwa keadaan mereka membuatku sakit perut?

Jujur, aku merasakan perutku perih hari ini. Di bangkuku, aku duduk tak tenang. Asik berganti posisi, bungkuk, tegak, lengkung kiri, lengkung kanan, dan sesekali meliuk-liuk tak jelas. Tapi perih perutku tetap saja belum enyah. Bukan, ini bukan gelagat ingin mengeluarkan sesuatu. Bukan pula gejala sembelit paling kronis yang sukar diobati. Aku hanya merasa perih yang tak nyaman.

“Didan, kenapa? Kamu sakit…?” Syawal berbisik sangat pelan. Dia berhenti sejenak dari pekerjaannya menggambar skeleton manusia di buku catatan biologinya. “Mau ke UKS?”

Aku menggeleng.

Syawal mendesah lalu melanjutkan pekerjaannya. Aku masih tak nyaman. Beberapa saat kemudian aku mulai memperhatikan keadaan teman-temanku, mungkin di antara mereka ada yang bergerak bagai ulat nangka sepertiku di kursinya masing-masing.

Yang jadi sasaran utama, Yazir. Dia duduk di deret sebelah kiriku, sejajar dengan mejaku dan Syawal. Dia tenang-tenang saja, tak ada sesuatu yang janggal, perutnya tak mengganggunya. Lalu aku beralih ke Aria di sampingnya, cowok itu sedang mengelus-ngelus ujung dagunya yang lancip –entah apa maksudnya, sepertinya ketua pengurus Mading itu mulai sadar kalau dagunya terlalu runcing hingga mungkin bisa disewakan untuk dipakai sebagai alat pengupas kelapa. Kemudian aku melihat Jun yang duduk sambil menopang dagu, ya Tuhan… matanya terpejam. Tidurkah dia? Beralih ke Wardah di deret kanan, lucu… dia sedang menguap hingga aku melihat matanya berkaca-kaca. Sepertinya Wardah kurang tidur karena kebanyakan tadarus hingga larut pagi. Lalu aku beralih pada pemegang brankas kelas, Cinta a.k.a Rohcinta, tak ada kelainan padanya, tapi aksesoris rambutnya yang berbentuk tandan pisang sedikit mengusikku. Pisang. Heuhhh… pengen.

“Pak…!”

Aku kaget. Tahu-tahu kudapati Syawal sedang mengacungkan tangan. Pak Wahyudi –tua, rambut putih, kurus, item, berkacamata- berhenti dari mencoret-coret whiteboard. “Iya Syawal?”

“Ramadhan kurang sehat Pak, saya minta ijin bawa dia ke UKS?”

WHAT??? Masya Allah… apa yang dia lakukan?

-SILAKAN MENUNGGU POKET 5 DENGAN BERLAPANG DADA-
-N.A.G-
dekdie_ishaque@yahoo.com
nay.algibran@gmail.com
p.s :
OH…!!! deadline… deadline…