an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

PENGGALAN POKET 2 :

Wajah Kak Aira semakin merona. “Emm… Didan harus cari tasbih dulu…” Kembali aku siap melangkah dan lagi-lagi lenganku di tahan Kak Aira. Bodoh, seharusnya dia membiarkanku pergi agar tak merasa canggung bicara dengan Bang Awi. Cengkeraman Kak Aira di lenganku mulai terasa menjepit. Aku kesal.

“Abang suka Dik Aira pakai kerudung sekarang…”

“I… iya…” Sekarang Kak Aira diserang gagap. Lenganku makin sakit.

“Sejak kapan udah hijrah pakai kerudung?” Bang Awi sungguh tertarik dengan kerudung Kak Aira rupanya.

“Se… se… sejak…” Ya ampun, Kak Aira pasti ngefans sama Azis Gagap di tivi.

Aku gerah, lenganku mulai perih. Setelah ujung kerudung, kini giliran lenganku yang mau dibikin keriting oleh Kak Aira. Aku mau balas dendam ah. “Ehem… itu kerudung Ummi Bang…” Lalu “Adooww…” Kak Aira benar-benar membuat lenganku keriting. Dia meremasnya sekuat tenaga membuatku kesakitan.

POKET 3

Sialan Kak Aira. Aku menyentakkan lenganku kuat-kuat hingga terlepas. Bang Awi mengernyit memperhatikan kami, Kak Aira jadi salah tingkah. Porsi tatapan Bang Awi lebih banyak mengarah padanya. Aku menggosok-gosok lenganku yang kena diremas Kak Aira. Di balik lengan kemejaku, aku yakin sekarang ter-cap jari-jari Kak Aira. Sungguh aneh sifatnya, kenapa dia harus sekikuk itu di depan Bang Awi? Seperti cewek kuno saja. Padahal pergaulannya sudah di kota, di luar daerah. Masa dengan laki-laki saja harus gemetaran sedemikian rupa.

“Kanapa Dek?” Bang Awi menatapku sekarang.

“Didan…” Kak Aira mendesis seperti ular betina mau kawin.

“Engg… ini Bang…” Gara-gara Kak Aira aku jadi ikutan susah berkata-kata.

“Didan memang sering teriak-teriak gak jelas Bang…” Cetus Kak Aira cepat, gagapnya hilang sudah. “Dia suka kegelian kalau kelamaan dipegang tangannya.” Kak Aira memandangku penuh permohonan, aku tahu arti tatapan itu, jangan bongkar rahasia kerudungku. Pasti begitu. “Iya kan Dan…”

Aku benci Kak Aira. “He eh… Didan suka geli sendiri Bang, apalagi kalau Kak Aira yang megang. Gelinya jadi pangkat kubik.”

Gak akan ada yang percaya, Bang Awi sangat tahu kalau kami dua bersaudara sedang mengakalinya. Tapi dia hanya tersenyum. “Sudah beli kuenya?”

“Sudah selesai Bang.” Kak Aira cepat berbalik dan mengambil kantong berisi kue di tangan Si Ibu Penjual.

“Mau langsung pulang?” Bang Awi doyan kalimat tanya ternyata.

“Iya Bang, gak lama lagi masuk waktu.”

Bang Awi melirik jam tangannya. “Masih lama kok…” Setelah itu kembali menatap Kak Aira dan aku. “Dek Didan gak jadi nengok tasbih?”

Sebenarnya aku sangat ingin menjawab iya, syukur-syukur bila nanti bisa dibelikan Bang Awi –calon abang ipar, kalau jodoh… amin. Tapi Kak Aira lebih dulu menyahut mendahuluiku.

“Dia masih punya banyak di rumah Bang, yang sudah ada pun jarang dipakainya…”

Aku makin benci Kak Aira sore ini. Jarang dipakainya, itu sama saja dengan mengatakan kalau aku jarang berzikir. Uhh, daripada lama-lama di sini nanti aku makin dibuat buruk oleh Kak Aira, lebih baik aku segera mengajaknya berambus.

“Jadi langsung pulang gak nih?” Cetusku pada Kak Aira dengan nada jauh sekali dari kesan lembut.

Kak Aira mendelik sebentar padaku lalu kembali menatap Bang Awi. “Aira balik ya Bang, assalamualaikum.” Kak Aira menyambar lenganku dan siap melangkah pergi kalau tidak terdengar seruan Si Ibu Penjual yang kuenya sudah di tangan kiri Kak Aira.

“NAK, KUENYA BELUM DIBAYAR…!”

Sumpah, rasanya aku ingin menghilang detik itu juga. Andai bumi terbelah, ingin saja aku nyemplung terjun bebas ke dalamnya. Malunya subhanallah. Kak Aira apalagi, mukanya langsung tertekuk merah padam. Sambil nyengir malu-malu pada Bang Awi, Kak Aira merogoh dompet dari saku roknya.

“Biar Abang saja yang bayar, sekalian Abang juga mau beli kue.” Ucap Bang Awi pada Kak Aira yang sudah membuka dompetnya. “Dik Aira sama Didan langsung balik saja.”

“Jangan Bang…” Kak Aira menolak.

“Gak apa-apa, cuma kue saja ini kok.” Bang Awi malah mendorong tangan Kak Aira saat ingin menyerahkan uang kepada ibu yang kuenya hampir sukses kami bawa kabur.

“Sudah Kak, Bang Awi mau beramal, jangan dihalangi nanti kita berdosa gara-gara mencegah orang lain beramal shalih.” Cetusku.

“Nah, Dek Didan pun tahu tuh.” Bang Awi tersenyum padaku, aku membalasnya dengan cengiran.

Kak Aira mendesah. “Makasih deh Bang kalau gitu.” Dia menyimpan dompetnya kembali. “Kapan hari nanti, Aira pula yang bayar kue Bang Awi… Insya Allah…

Insya Allah…” Balas Bang Awi.

“Kami balik Bang, assalamualaikum.”

Waalaikumsalam…” Bang Awi menjawab salam Kak Aira sambil tersenyum hangat. Lalu sebelum kami melangkah dia masih sempat berujar yang membuat Kak Aira kembali bersemu kemerahan. “Abang suka Dik Aira berkerudung, semoga besok-besok sudah tidak pinjam Ummi lagi ya…”

Benar kan? Bang Awi gak bisa diakali. Ucapanku tadinya tentang kerudung tentu saja sempat dicerna kupingnya. Kak Aira mengangguk malu-malu, kemudian memegang lenganku dan segera melangkah.

“Bang, kapan-kapan Didan mau ya nengok tasbih.” Aku masih sempat berseru pada Bang Awi saat Kak Aira menyeretku menuju tempat kami memarkir motor Abah.

Bang Awi mengangguk sambil tersenyum. Ya Allah, lancarkanlah jodoh kakakku dengan pria itu. Aku berdoa dalam hati.

Kak Aira sudah di boncenganku sekarang. Aku mencuri lihat wajahnya dari spion. Dia senyum-senyum sendiri, dapat kupastikan, kantong kue yang dibayar Bang Awi tentu sedang didekap di dadanya saat ini.

Aku berdehem nyaring. “Kak Aira cinta ya sama Bang Awi?”

Dari spion, kulihat Kak Aira berhenti tersenyum. “Ishh… kamu bocah tahu apa sih. Diam aja…”

“Aku setuju kalau Bang Awi jadi abang iparku.” Tak kugubris ocehan Kak Aira barusan.

Kak Aira diam. Sepertinya dia sedang mencerna kalimatku di kepalanya, tidak meningkahiku seperti tadi dengan mengatakan aku ingusan dan tutup mulut saja. Aku tak lagi bersuara, pandanganku fokus ke jalan.

“Keadaan gak memihak, Dan…” Kudengar Kak Aira bersuara lirih di belakangku. “Abah sepertinya gak memandang Bang Awi.”

Sepertinya Kak Aira mulai menganggap aku kawan bicara. “Aku tahu…” Jawabku. “Tapi menurutku, Abah bukannya gak memandang Bang Awi, mereka hanya berselisih pandangan.”

“Dua tahun lalu tuh kamu masih kecil, SMP. Mana ngerti sih.”

“Tapi sekarang aku udah kelas dua SMA kan? Cukup dewasa untuk mengerti masa lalu.”

Kak Aira diam lagi. Lama. Aku mengira obrolan kami terhenti di situ, sampai kemudian Kak Aira kembali berucap. “Abah mau aku kuliah, jadi sarjana. Sedang Bang Awi memandang seorang wanita kodratnya adalah jadi muslimah di balik dinding-dinding rumah mereka, berlindung di bawah perlindungan muhrim-muhrim mereka, jadi istri saleha kepada suami-suami mereka kelak…” Kak Aira berucap panjang. “Abah gak setuju anaknya menikah muda.”

“Tapi bukannya Bang Awi mau menunggu beberapa tahun?”

“Abah gak terima syarat Bang Awi, aku tetap harus kuliah.”

“Tapi Kak Aira memang ingin kuliah kan? Kak Aira cinta sastra kan?”

“Aku gak masalah nikah muda, Dan. Siapa wanita muslim yang tak ingin punya imam seperti Bang Awi? Ada kan yang nikah muda? Setahun atau dua tahun setelah lulus SMA. Lihat Endah atau Nurjannah, sekarang mereka malah jadi guru ngaji juga di surau kamu kan? Adakah mereka terbeban dengan nikah muda? Selama suami kita adalah laki-laki yang tahu agama, siapapun wanitanya jika dia juga tahu agama pasti gak keberatan untuk menikah di usia belia.”

Kak Aira memaparkan panjang lebar. Nama-nama yang disebutkan Kak Aira adalah teman-teman sekolahnya dulu. Mereka menikah dalam tahun yang sama, setahun setelah Kak Aira berangkat kuliah. Suami keduanya adalah teman seperjuangan Bang Awi di pondok pesantren. Kak Nurjanah sendiri adalah tetangga selorong kami, kudengar saat ini dia sedang hamil muda.

Aku mendesah, sangat jelas kalau Kak Aira sangat mengharapkan Bang Awi. “Jadi sebenarnya, Abah yang maksa Kak Aira untuk kuliah?” Aku tak tahan untuk tak menanyakan hal ini pada Kak Aira.

Kak Aira diam sebentar. “Aku memang suka sastra, tapi aku gak berambisi untuk mengejar pendidikan. Tak mengapa jika aku harus menikah belia. Dan jangan lupa, Bang Awi mau menunggu beberapa tahun asal aku tetap di rumah.”

Aku tahu sekarang. Kak Aira tidak sangat berkeinginan untuk kuliah, Abah yang mengharuskannya. Dan sebagai anak, Kak Aira tentu tak ingin menjadi durhaka dengan membangkang pada Abah dan mengatakan kalau dia ingin menikah saja. Satu kesimpulan yang kupegang, Kak Aira masih mengharapkan Bang Awi. Tapi bagaimana dengan prinsip Bang Awi yang dulu sempat diutarakan kepada Abah? Dia bersedia menunggu asalkan Kak Aira tidak kuliah ke luar daerah. Sekarang Kak Aira sudah terlanjur begitu, terlebih lagi lamarannya pernah ditolak Abah. Apakah kedua hal itu –terutama kuliahnya Kak Aira- telah menggugurkan niat Bang Awi untuk mengambil Kak Aira sebagai istri? Aku ingin bertanya pada Kak Aira, namun dia lebih dulu bersuara.

“Aku udah terlanjur meninggalkan rumah… apakah Bang Awi masih jua punya keinginan yang sama seperti dulu?” Nadanya seakan Kak Aira bertanya pada dirinya sendiri. Ternyata dia memikirkan hal yang sama denganku.

“Aku gak ngerti itu Kak. Tapi buktinya sampai saat ini bang Awi masih melajang kan. Padahal usianya udah dua puluh tujuh…”

“Dua delapan…” Ralat Kak Aira. “Delapan tahun di atasku.”

“Hemm…” Gumamku. “Gak tahu ya Kak. Kalau aku bilang sih, sepertinya Bang Awi menunggu Kak Aira selesai kuliah untuk mengantar lamaran sekali lagi.”

“Bagaimana dengan pandangannya dulu? Dia gak mau aku keluar rumah…”

“Siapa tahu saja pandangan Bang Awi sekarang sudah berubah kan.” Aku mencoba membesarkan hati Kak Aira.

“Pandangannya gak akan pernah berubah, Dan…”

“Mungkin Kak Aira adalah pengecualian…”

Kak Aira terdiam. Aku pun tak bermaksud membuka percakapan lagi. Kubiarkan Kak Aira berpikir sendiri. Aku membelokkan motor Abah ke jalan menuju rumah, tak lama gerbang depan kami mulai tampak.

“Makasih ya Dan… ternyata kamu bisa juga jadi teman bicara yang baik.” Sepertinya Kak Aira tulus. “Mulai saat ini, aku gak akan nganggap kamu anak ingusan lagi…”

Aku tertawa. “Maka jangan usilin aku seperti anak ingusan lagi!” Aku memarkir motor. Kak Aira segera turun dari boncengan.

“Kalau itu aku gak janji.” Cetusnya

Aku mengelus dada.

“Jangan bilang siapa-siapa kalau kita ketemu Bang Awi ya, juga jangan bilang Ummi kalau kue ini dibayarin Bang Awi, nanti Abah tahu.” Kak Aira mewanti-wanti.

“Boleh.” Aku menadahkan tangan. “Tapi duit yang dikasih Ummi untuk beli kue tadi serahin ke aku!” Tentu saja itu uang Ummi, Kak Aira mana punya. “Sama-sama faham lah Kak…” Aku mengedipkan mata padanya.

Kak Aira mendengus. “Lima puluh lima puluh…”

“Yaelah Kak, duit seiprit gitu pun fifty-fifty. Gak ada, sini semua!”

“Enam puluh empat puluh.” Kak Aira gak mau nyerah.

“Aku bilangin sama Abah!” Ancamku.

Kak Aira mendelik.

“AIRA… Masuk cepat, bentar lagi bedug!” Itu suara Abah.

Kak Aira memasukkan uang dalam telapak tanganku. “Iya Abah…” Serunya kemudian.

Aku terkekeh senang. Lumayan, tiga puluh ribu euy…

***

Bedug maghrib

Sungguh sangat dinanti ummat sepanjang Ramadhan

Bedug  maghrib

Sungguh disambut mukmin dengan kesyukuran

Bedug maghrib

Hamdallah basahi bibir para muslimin

Bedug maghrib

Saat berbuka tiba sudah

Alhamdulillah…” Bang Ikhwan yang paling cepat menyambar es teh manis diantara kami semua. “Ahh… leganya…”

Aku tersenyum sendiri melihat ekspresi berbuka Bang Ikhwan, persis anak-anak yang baru belajar berpuasa. Ummi geleng-geleng saja melihat piring Bang Ikhwan yang menggunung. Bang Ikhwan memang punya kebiasaan harus berbuka dengan makan nasi langsung, dari dulu selalu begitu. Sedang kami yang lain selalu berbuka dengan kue atau apapun makanan selain nasi. Kolak, bubur, agar-agar dan sejenisnya. Abah dulu sempat mengutarakan ketidaksukaannya dengan cara berbuka Bang Ihkwan yang katanya seperti orang tamak, tapi aku salut sama abangku ini. Dia punya jawaban yang langsung jadi obat untuk ketidaksukaan Abah.

‘Iwan makan bukan karena menurutkan nafsu, tapi karena sudah tiba waktunya berbuka… berbuka dengan yang manis disunatkan, sepiring nasi selalu terasa manis di lidah Iwan…’

 

Aku masih sangat ingat kalimat Bang Ikhwan tersebut. Itu terjadi di bulan puasa pertama setelah Bang Ikhwan menyelesaikan pendidikan polisinya. Saat itu Abah langsung diam dan meneruskan menyendok kolak pisang (lihat, bahkan aku ingat menu berbuka yang dibikin Ummi hari itu) sementara Bang Ikhwan melanjutkan melahap isi piringnya tanpa canggung sedikitpun.

“Kuenya enak.” Ujar Abah.

Karena gratis makanya enak Bah, yang gratiskan adalah calon mantu Abah dan Ummi tuh…

“Besok Aira beli yang sama lagi kalau Abah suka.” Ujar Kak Aira.

Pasti sambil berharap kalau Bang Awi bakal beli kue di tempat yang sama lagi kan…

“Hemm…” Abah menggumam. Setelahnya mencuci tangan dan beranjak dari kursinya. “Sembahyang magrib dulu…”

Sudah jadi kebiasaan, kami akan shalat berjamaah selama bulan puasa. “Bang Iwan, shalat…” Desisku.

Piring Bang Ikhwan belum pun habis separuhnya. Abah tak akan suka jika ada yang terlambat ikut shalat berjamaah. Puasa tahun lalu aku pernah kena marah gara-gara terlalu bernafsu memindahkan isi mangkukku ke dalam perut hingga terlambat jadi makmum. Cukup sekali, langsung jadi obat buatku agar tak mengulang sejarah lagi.

“Iya, udah siap nih.” Bang Ikhwan meninggalkan piringnya yang masih berisi setengah –sangat sering begitu. Tandanya ucapan Bang Ikhwan memang benar, dia makan bukan karena menurutkan nafsu. Jika menurutkan nafsu, pasti dia akan menghabiskan isi piringnya terlabih dahulu sebelum beranjak dari meja makan.

***

Asmara subuh. Apakah ada istilah seperti itu di tempat kalian? Di tempatku ada, yang anehya sebutan asmara subuh hanya digunakan selama bulan puasa. Jadi, sudah menjadi satu kelaziman di tempatku ketika selesai waktu subuh orang-orang akan mengisi waktu dengan berjalan kaki atau berlari-lari kecil di sepanjang jalan. Sebenarnya kebiasaan ini memang dianjurkan sih, sama halnya dengan kebiasaan jogging yang katanya menyehatkan. Lalu kenapa istilah jogging malah dibelokkan menjadi asmara subuh selama di bulan puasa? Tidak lain dan tidak bukan karena banyak muda-mudi yang berperan di dalamnya. Mereka berjalan beriringan, berdua atau berkelompok, berceloteh riang apa saja. Dan mengapa banyak muda-mudi? Bukankah di bulan lain biasanya tidak ada atau tidak banyak? Itulah istimewanya bulan puasa. Semua orang berbondong-bondong bangun subuh, bahkan muda-mudi yang biasanya malas mengerjakan shalat di awal pagi itu di bulan ini jadi rajin. Apalagi selain agar setelahya bisa keluar rumah untuk ber-asmara subuh. Sebenarnya bukan sengaja bangun untuk shalat subuh sih, tapi mereka bangun untuk sahur dan memilih tidak kembali ke tempat tidur lagi hingga waktu subuh tiba. Begitulah.

Sekarang, aku juga sedang ber-asmara subuh. Aku dan Syawal, muda-muda, sama-sama cowok. Sama-sama bercelana selutut, bersepatu, berkacamata dan berjaket tudung. Kami berlari-lari kecil sepanjang jalan, saat ini sedang kembali menuju jalan pulang. Sama-sama berkeringat. Jadi, sebutannya untuk kami mungkin bukan ber-asmara subuh, lebih tepat adalah jogging.

“Lusa udah sekolah lagi. Padahal enak banget kalau sepanjang bulan ini kita libur…” Ujar Syawal di sela-sela derap sepatunya.

“Aku gak berpikir begitu. Malah menurutku lebih enak kalau kita gak libur.”

Syawal menoleh padaku. “Alasannya?”

“Teman-teman kan? Aku mulai kangen dengan mereka.”

“Yazir?”

Aku mendelik pada Syawal, lariku melambat. Entah mengapa dia selalu mengira ada perasaan khusus yang dimiliki Yazir kepadaku. Awalnya karena Syawal pernah membaca buku yang berisi tulisan teman-temanku, buku yang dibawa mereka ketika aku sakit. Yazir menulis ‘Aku dan kelas kita merasa kesepian’ di buku itu. Jujur, saat pertama membaca kalimatnya tersebut di rumah sakit dulu, aku sangat bahagia. Ya, benar… dulu aku sempat memendam rasa kepadanya. Yazir ketua kelas yang baik, dia cakep, dia dewasa, dia bertanggung jawab, dia juara kelas, singkatnya… Yazir memesona. Dan dia satu-satunya cowok yang menjadi pusat perhatianku di kelas sebelum kedatangan Syawal sebagai murid baru di awal kelas 2. Tapi sejauh itu, Yazir tak pernah menunjukkan gelagat lain yang menegaskan kalau dia suka aku. Kami murni teman. Jelas Syawal mengada-ngada. Ketika membaca buku itu dulu –kami sudah resmi pacaran- Syawal menginterogasiku tentang Yazir habis-habisan. Sekarang pun, jika dia melihatku terlalu dekat dengan Yazir pasti dia bakal langsung komplain begitu kami punya waktu berdua. Kadang aku suka gerah juga, seperti sekarang.

“Kenapa sih selalu Yazir…” Nadaku sedikit sewot.

“Bukan ya?”

Wajah imut tanpa rasa bersalahnya tambah bikin aku jengkel. Tidak tahukah dia kalau aku kesal dengan kecurigaannya? Apalagi kalimatnya setelah itu, sukses bikin aku panas baran.

“Atau kamu kangennya sama Jun?”

Aku menghirup nafas dalam-dalam untuk meredam kesal yang makin menjadi. Sifat Syawal yang aku tak suka –semua kekasih tak suka sifat ini, pencemburu. Yah, meskipun kata pepatah, cemburu tandanya cinta. Tapi aku tak butuh cemburu dari kekasihku untuk menandakan kalau dia benar-benar cinta, aku lebih butuh kepercayaannya padaku. Semua kekasih tentu senang jika kekasihnya sangat memercayainya, pasti begitu kan?

Dan dengan Jun? Hanya karena dia kerap duduk denganku untuk menyalin pe-er fisika, bukan berarti dia suka aku kan? Syawal sungguh mengada-ngada. Jun memang sering mengajakku ke kantin. Hitung-hitung balas budi, begitu Jun pernah bilang. Aku tak pernah menolak. Tapi sejak Syawal mengutarakan keberatannya dengan itu, aku jadi jarang dapat gratisan dari Jun lagi karena aku selalu menolaknya.

“Bar, jangan pancing amarahku. Puasa nih…”

Syawal terkekeh. Selalu seperti ini, setelah membuatku jengkel setengah mampus dia pasti akan tertawa sendiri. Dan jika sudah begitu aku pasti akan dipeluknya.

“Gak ada peluk-peluk…!” Cetusku ketika kulihat Syawal hendak merapatkan dirinya padaku.

Bibirnya mengerucut. “Peluk aja gak bakal bikin puasa batal.”

“Trus orang-orang itu mau diapakan? Kamu mau nutup mata mereka satu-satu?” Aku mengangkat dagu ke arah orang-orang yang kami papasi di jalan.

“Mereka gak akan mikir macam-macam yang merugikan kita.”

“Kamu bisa telepati? Enggak kan? Lupain meluk-meluk…” Aku menambah laju lariku.

Syawal mendumel entah apa di belakangku, aku tak memperdulikannya lagi. Biar saja dia jengkel sendiri. Tapi kasihan juga sih, sudah hampir seminggu kami gak bisa mesra-mesraan, walau hanya sekedar pegangan tangan sekalipun. Ah, lusa juga pasti kami sudah mepet lagi di atas skuter. Kalau bukan tanganku yang melingkari pinggangnya maka pasti lengannya yang memeluk pinggangku.

“Aduhh…”

Aku berhenti berlari dan sontak menoleh ke belakang saat kudengar suara Syawal mengaduh. Kutemukan dia sudah terjerembab di jalan. Segera aku berbalik menghampirinya. Syawal tampak meringis kesakitan sambil memegang pergelangan kaki kanannya.

“Bar, kenapa kakinya?” Aku bertanya cemas sambil ikut menyentuh pergelangan kaki kanannya.

“Kayaknya terkilir Dan… duh sakit banget ini…”

“Kok bisa?”

“Ya bisa aja, kecelakaan…”

“Yah gimana… Aku gak bisa ngurut nih.” Kupandang Syawal dengan tatapan iba.

“Ah masa sih? Beneran kamu gak bisa ngurut? Duh, malang benar nasibku kalau kamu gak bisa ngurut…”

Aku tahu maksudnya sudah lain, apalagi saat melihat matanya yang mengedip-ngedip gak jelas. Aku mendengus kesal. “Aku serius, jangan konyol!” Kuedarkan pandanganku pada orang-orang di jalan. “Aku minta tolong mereka ya…” Aku siap berteriak.

“Didan jangan…!” Syawal menahanku. Aku memandangnya heran. “Gak usah, merepotkan saja. Kita lanjut pulang deh, sampai rumah nanti aku taruh balsam, pasti sembuh sendiri.”

“Sekarang memang kamu bisa jalan?” Aku menatap kakinya tak yakin.

“Ya dicoba dulu, kamu bantu papah aku hingga sampe rumah ya?”

Aku mengernyit. Sedikit curiga kalau dia tidak benar-benar terkilir. “Bar…”

“Heemm…” Syawal sedang berusaha berdiri.

“Kaki kamu beneran terkilir kan?”

Dia menatapku lekat, posisi berdirinya miring kanan. “Ya Tuhan Dan… kamu gak percaya sama aku?”

“Maaf, aku percaya. Mari kupapah…” Aku segera memposisikan diriku merapat di sebelahnya. Satu lengannya kusampirkan di tengkukku dan tetap kupegang dengan tanganku, sementara tanganku yang lain memeluk pinggangnya. Kami mulai bergerak, jarak rumah kurang dari satu kilo-an lagi.

“Uhh… sakit banget Dan…” Syawal meringis. Dia terlihat sangat kesakitan.

Aku berhenti bergerak. Gimana mau jalan, Syawal sungguh terpincang-pincang. Itu membuatku kepayahan sendiri, badanku asik terdorong-dorong saja. Langkahku tak nyaman. Hanya menunggu waktu saja sampai kami akan terjerembab lagi mencium aspal.

“Aku gendong saja deh…” Ucapku akhirnya. “Jalan gini cape.”

“Tapi jarak rumah masih jauh Dan. Kamu sanggup?”

“Ya kita coba. Kalau aku gak sanggup lagi berarti kamu harus menggunakan bokongmu, ngesot sepanjang jalan menuju rumah.”

Syawal tertawa. “Itulah mengapa aku suka kamu, lucu dan ngegemesin…” Bisiknya lirih.

Aku bersemu juga. “Udah, mau pulang gak nih?” Aku sedikit jongkok di depannya.

“Pasti…” Syawal memeluk leherku, tungkainya langsung merapat di pinggangku.

“Banyak dosa kamu Bar, berat…” Aku mulai berjalan.

Syawal kembali tertawa. Dia semakin mengeratkan dirinya di punggungku. “Jangan jatuhkan aku ya!”

“Berdoa saja…”

Begitulah, sambil ngos-ngosan aku melangkah dengan Syawal di belakangku. Setiap orang yang kami papasi menatap dengan pandangan ingin tahu. Entah sudah berapa ratus kali aku mengatakan “Kakinya terkilir” pada setiap orang yang kami papasi itu. Mereka akan membulatkan mulut dan meneruskan jalan atau lari mereka. Hari sudah mulai terang.

Makin lama Syawal makin terasa berat. Keringatku membanjir dan membuat basah di beberapa bagian. Yang bikin menyiksa, makin menuju rumah, aku makin merasakan sesuatu menekan di punggungku, sedikit di atas pinggang. Aku tak berani menegur Syawal yang beberapa saat lalu sudah melabuhkan kepalanya di salah satu pundakku. Di belakangku, Syawal sedang menegang. Selain itu, aku merasakan lengan dan kakinya kian lekat denganku.

Saat aku merasa mulai ikut terpengaruh, aku tak tahan lagi. Kutegur Syawal dengan gusar. “Bar…” Panggilku.

“Heemm…” Dia hanya menggumam di bahuku.

“Kita sedang puasa loh… gak lupa kan?” Ucapku. “Kalau kamu gak balik normal, aku turunin nih, dan kamu boleh siap-siap ngesot.” Aku yakin dia tahu yang kumaksudkan.

Syawal mengeliat yang malah semakin memengaruhiku. “Iya…!”

“Iya apa?”

“Iya kita sedang puasa.” Dia mengangkat kepalanya. “Tapi kalau sebatas ereksi tanpa mengeluarkan sperma secara sengaja kan katanya gak batal ya?” Dia sungguh kurang ajar dengan bicara blak-blakan seperti ini.

“Aku turunin ya…” Aku siap-siap menurunkannya.

“Tuh rumah udah nampak, masa kamu tega nurunin aku di sini. Tinggal jalan dikit lagi pun…”

Aku mendesah. “Iya, sedikit lagi… enak di kamu. Sedikit lagi kamu pasti basah…” Aku terus berjalan.

Syawal terbahak keras, badannya bergoncang. Sepertinya dia sengaja.

“JANGAN TERTAWA!!!” Bentakku saat kurasakan Syawal seperti menggesek di belakangku. “Puasamu batal, mau?”

“Enggak mau…”

“Kalau begitu diam!”

Okey.” Dan Syawal benar-benar diam.

Sumpah, aku ngos-ngosan begitu sampai di gerbang rumahnya. Kuturunkan Syawal di sana. Setelah membuka pintu pagar, aku memapahnya menuju teras.

“Di sini aja dulu deh… masih gerah.” Syawal minta didudukkan di bangku teras.

“Baiklah, aku pulang ya Bar… mau mandi. Lihat, aku basah banget.” Ujarku setelah mendudukkannya di salah satu bangku.

“Iya.”

“Jangan lupain ini! Ingat… kamu hutang budi besar padaku karena ini.”

“Iya.”

“Gak ada orang sebaik aku yang mau gendong kamu sejauh satu kilometer…”

“Iyaaa…”

“Aku pulang!” Setelah berkata demikian, aku tak segera berlalu dari sana.

“Gak jadi pulang? Mau ikut mandi denganku?” Cetusnya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Sulitkah bilang, makasih Didan…?”

Syawal nyengir. “Maaf, aku lupa… iya deh… makasih Didan…”

“Hemm… aku pulang.” Aku segera berbalik menuju gerbang.

“Besok lagi ya!” Syawal berseru saat aku sudah berada di sisi jalan, siap menyeberang.

Tanpa menoleh aku balas berseru. “Jika kakimu sudah tidak terkilir!” Aku menyeberang jalan. Rumahku masih sepi, halamannya masih penuh daun menguning yang gugur semalam. Kak Aira belum menyapu pagi ini. Pasti masih tidur.

Saat sudah berada di pintu pagarku, aku menoleh ke teras rumah Syawal yang memang terlihat jelas dari tempatku berdiri. Dan apa yang kulihat? Sungguh sialan sekali. Syawal sedang berjingkrakan di sana, membelakangiku. Dia baru saja membuka pintu depan rumahnya. Kurang ajar, aku ditipu mentah-mentah oleh makhluk itu. Kakinya tidak terkilir, dia sehat walafiat.

“IBAR…!!!”

Aku berteriak saking marahnya, suaraku menggelegar mengerikan. Bagaimana tidak, aku sampai harus keok menggendongnya hampir satu kilometer jauhnya dan ternyata dia tidak benar-benar terkilir. Sentoloyo benar. Pantas dia tak ingin aku minta tolong pada orang-orang, dia sudah merancang skenario paling menguntungkan buatnya pagi ini. Plus bonus bisa mepet di belakangku. Bangsat.

Syawal berhenti jingkrak-jingkrak dan berbalik memandangku. Yang membuatku tambah ingin mengulitinya hidup-hidup adalah, dia melambai padaku sambil tertawa-tawa. Sangat jauh dari kesan bersalah karena telah menganiayaku sepanjang jalan pulang. Aku geram mampus padanya saat ini. Tapi apa yang bisa kulakukan? Syawal sudah menghilang di balik pintunya.

Sabar Didan, kamu lagi puasa…

Mengapa kita selalu meng-kambing-hitam-kan puasa?

***

-POKET 4 SEDANG DALAM ANTRIAN-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

arigato guzaimasu udah baca cakar ayamku. Terima kasih banyak udah mlototin poket 3-ku. Thank you so much udah nyantap menu gak enak Nayaka. Syukran katsiran ya akhi ya ukhti sekalian udah bersedia ngikutin cerita ana… semoga antum-antum sekalian menikmati membacanya seperti ana menikmati saat menulisnya. Kekekekekekeeg.