Babo (Stupid, Idiot) a.k.a Miracle of Giving Fool adalah sebuah Korean movie bergenre drama, hm.. family drama kalo saya bilang. Meskipun di dalamnya nggak melulu bercerita tentang keluarga, tapi juga cinta dan persahabatan.

Sung Ryeong sebenarnya terlahir sebagai anak normal. Keracunan gas yang terjadi saat kanak-kanak menyebabkan kerusakan otak sehingga dia bertingkah layaknya anak cacat mental. Ayahnya sendiri akhirnya meninggal saat peristiwa keracunan gas itu. Sung Ryeong belia harus berjuang untuk bertahan hidup saat ibunya juga meninggal. Terlebih lagi, dia harus menjaga Ji In, adik perempuan yang merupakan satu-satunya ‘harta peninggalan’ ibunya. Untuk mencukupi kehidupan mereka, Sung Ryeong berjualan toast (sejenis sandwich), karena itulah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan.

Sung Ryeong sudah terbiasa pada seisi kampung yang memanggilnya bodoh (Babo), tapi bagaimana jika adik semata wayangnya yang telah tumbuh remaja juga memanggilnya begitu? Ji In bahkan enggan untuk mengakui bahwa lelaki idiot yang berjualan toast di depan sekolahnya sebenarnya adalah kakaknya. Maka Sung Ryeong hanya memiliki Sang Su – teman sejak kecil yang sebenarnya berteman dengannya demi menebus kesalahan di masa lalu yang tidak pernah disadari Sung Ryeong, dan Ji Ho – gadis dari masa kecil yang istimewa untuknya.

Seketus apapun Ji In, Sung Ryeong sangat menyayangi adiknya itu. Baginya Ji In adalah harta berharga seperti yang dipesankan ibunya. Bahkan jika dia hanya bisa melakukan hal-hal yang harus dihafalkan atau dicatat sebelumnya, maka melindungi Ji In adalah satu-satunya hal yang mampu diingatnya di luar kepala.

Suatu hari Sung Ryeong mendengar kabar bahwa Ji In sakit dan pingsan di dalam kelas, dia segera berlari menuju gedung sekolah sambil berteriak histeris memanggil-manggil adiknya itu, mengundang jerit ketakutan para siswi di sana. Dan tanpa mempedulikan apa-apa lagi, dia langsung menggendong Ji In untuk pergi ke rumah sakit. Saat seorang guru menghadangnya dan bertanya dia siapa, dengan wajah panik menahan tangis, Sung Ryeong mengucapkan sebuah kalimat berulang-ulang “Dia adikku.. aku kakaknya..”

Ji In baru menyadari betapa besar pengorbanan yang telah kakaknya berikan demi dirinya. Sung Ryeong yang bodoh, yang selalu terjatuh dan kehilangan sepatu saat berjalan mengelilingi kampung, tapi mampu merawatnya dengan baik hingga dia tumbuh remaja. Sung Ryeong yang bodoh, yang berpakaian itu-itu saja dan berpenampilan kumuh, tapi mampu menabung untuk membayar biaya sekolah dan kebutuhan hidupnya sehingga dia bisa hidup layak, bahkan membayar kamar rawat berkelas untuknya. Sung Ryeong yang bodoh, yang selalu dilarangnya untuk dekat-dekat dengannya, tapi dengan sabar setiap pagi selalu membuatkan sarapan untuknya, meskipun tidak pernah sekalipun dimakan.

Dan, lagi.. Seseorang akan lebih berarti saat kita sudah kehilangan. Sung Ryeong ditemukan meninggal akibat dikeroyok pada malam Ji In dioperasi. Saat datang untuk mengurus akta kematian kakaknya, Ji In disodori berbagai pertanyaan, diawali dengan “Apa hubunganmu dengan almarhum?”, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Maka Ji In menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang sama, sebuah kalimat yang diucapkan berulang-ulang dengan air mata berlinang, “Dia kakakku.. Aku adiknya..”

Saya banjir air mata dan banjir ingus setiap nonton film ini, berapa kalipun. Saya sendiri heran, kenapa rasa terharu saya nggak juga mereda bahkan setelah nonton berkali-kali. Percayakah? Saya bahkan menghabiskan 3 lembar tisu sampe basah kuyup nggak berbentuk saat nulis review ini.. Maklum ya, saya harus mengingat, membayangkan, memikirkan kalimat buat menceritakan kembali, jadi ya.. hhh..

Film drama yang bertema keluarga atau friendship memang lebih mampu menyentuh hati dan mengaduk-aduk perasaan saya dibandingkan romance. Beneran, asli, sumpah, serius, film ini sangatttt mengharukan. Seperti yang saya bilang, film ini juga bercerita tentang cinta dan persahabatan. Bagaimana Ji Ho yang ketika kecil pernah membenci Sung Ryeong dan memakinya bodoh, akhirnya menyadari kepolosan dan ketulusan Sung Ryeong. Bagaimana Sang Su yang awalnya bersedia berteman dengan Sung Ryeong karena rasa bersalah, kemudian menjadi satu-satunya sahabat yang mampu mengerti betapa sayang Sung Ryeong pada Ji In. Keberadaan si bodoh Sung Ryeong benar-benar mendatangkan kejaiban bagi semua orang di sekitarnya.

Film ini mengingatkan saya tentang beruntungnya memiliki saudara, sungguh, saudara dan orang tua, keluarga adalah orang-orang yang paling berharga.. Jadi, buat yang suka berantem sama kakak, mas, mbak, abang, uda, uni, aa’, teteh, (apalagi ya?) atau adeknya, silakan nonton film ini sebagai siraman jiwa, jangan lupa sedia tisu sebelum nangis, kekeke..

Semoga line yang saya tulis di bawah ini bener ya, haduh.. Korean is so hard listening, huhuhu.. And why do I choose this line? Of course, because I am a sister…πŸ™‚

salam-i nae oppa geu yo, nan geu salam-ui dongsaeng-ieyo..

He is my big brother, I am his little sister..