an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

PENGGALAN POKET 1 :

Syawal terkekeh. “Kok kamu yang sewot? Ummi yang punya masakan aja gak keberatan aku makan siang di sini…” Tanpa sungkan Syawal segera menarik bangku dan mengambil piring.

“Aku kan gak serius. Lagian bukan sekali ini kamu cari rejeki di rumahku…” aku ikut menarik kursi di samping Syawal dan mengisi piringku.

“Si Didan mulutnya gak pernah dipagarin, jangan tersinggung Bar. Tau kan mulutnya…” Cetus Kak Aira.

Syawal terkekeh lagi. “Iya, bukan cuma mulutnya Kak, aku tahu semuanya tentang dia…” Syawal melirikku, sempat kutangkap kedipan matanya di balik kacamata.

“Makan yang banyak. Lusa sudah puasa, gak bisa makan siang lagi…” Ujar Ummi sambil mendekatkan mulut gelas untuk Haikal.

“Kan masih ada besok satu kali lagi.” Timpal Syawal.

“Besok Ummi gak masak kari lagi…” Tukasku lalu mulai menyendok.

Syawal terkekeh lagi.

***

POKET 2

Khutbah Jumat kali ini sangat pas. Khatibnya mengupas habis segala hal tentang puasa. Mulai dari masa menjelang masuknya bulan itu sampai fadhilat luar biasa di sepuluh yang akhir. Biarpun tiap tahun sudah pernah disampaikan khatib-khatib terdahulu, namun selalu saja hari jumat terakhir di bulan Syakban seakan sudah disepakati tanpa tertulis oleh semua khatib Jumat di seluruh dunia sebagai hari review menjelang bulan puasa. Jamaah tak ada yang terangguk-angguk hari ini, bahkan Syawal yang biasanya sering mengantuk di pilar mesjid kali ini melek gede dan antusias mengikuti khutbah hingga khatib turun mimbar.

“Dan, nanti sore kita ke pasar ya!” Ujar Syawal di tangga mesjid.

Aku sedang kebingungan, celingak-celinguk di antara jamaah lain yang juga sedang turun dari mesjid. Sandalku tidak ada berada di tempat tadi aku meletakkannya.

“Dan… dengarkah?” Syawal sudah menemukan alas kakinya, dia sedikit menjenguk ke wajahku.

“Sandalku hilang…”

“HAH?”

“Sandalku hilang, Bar…”

Syawal langsung ikut panik meneliti tiap kaki jamaah yang baru saja meninggalkan tangga. “Kamu yakin taruh di sini?”

“Yakin, kan kita sama-sama.”

“Kok ada ya yang berminat sama sandalmu, padahal jelek kan…”

“Kamu lebih tahu berapa harga sandal itu.” Aku mendelik padanya.

“Iya tau, sayang ya sekarang malah hilang…”

Aku menghembuskan nafas putus asa. “Mau masuk bulan suci bukannya banyakin amal malah nambahin dosa. Maling sialan…” Aku turun berkaki ayam dari tangga mesjid.

“Huss, gak boleh gitu. Mungkin ketukar, ada orang buru-buru. Berpikir yang baik aja deh!” Syawal kembali membuka alas kaki lalu duduk di tangga.

“Kok malah duduk, ayo pulang!”

“Tungguin dulu, mungkin ada yang datang mau balekin, ketuker tuh pasti!”

“Gak akan ada yang balik…” Aku memutar pandangan, mesjid mulai sepi. “Pulang ah, ayo!” Aku menatap kaki telanjangku. “Bakalan terlihat aneh nih aku, sepanjang jalan nyeker aja.”

“Kan gak jauh.”

“Walaupun gak jauh, kan nyeker juga namanya.”

“Ya udah, kamu boleh pake sandalku. Biar gak terlihat aneh.” Syawal turun lagi dari tangga.

“Trus kamu?”

Nyeker.”

“Gak ah, aku gak mau tampak egois.” Aku berbalik, mengangkat sarungku sedikit dan mulai melangkah. Kakiku hangat di atas kerikil halaman mesjid.

Syawal menjajari langkahku. “Gimana, mau kan nanti sore ke pasar denganku?”

Aku menoleh padanya. “Hey, apa yang kamu lakukan?” Aku terbelalak, Syawal menjinjing sandalnya.

“Apa? Mengajakmu ke pasar…?”

“Kenapa tak pakai sandal?”

“Oh…” Dia melirik kakinya sendiri lalu tersenyum buatku. “Biar kamu gak terlihat aneh sendiri.”

Ya Tuhan, aku makin cinta pada makhluk-Mu satu ini… “Ibar, Kamu gak harus begitu.” Tapi aku tersenyum juga untuknya, bahagia.

“Aku melakukan yang seharusnya kok.” Sahutnya dengan nada riang.

“Tapi sandalnya jadi mubazir.”

“Aku memintamu memakainya, tapi kamu gak mau. Ya udah, biar aja mubazir.”

“Hemm…” Kami terus berjalan, jarak dari rumah ke mesjid hanya tujuh menit jalan kaki. Pagar rumahku sudah kelihatan. “Ngapain ke pasar?” Aku ingat bahwa belum merespon ajakan Syawal yang itu.

“Ada yang mau kubeli. Ikut ya!”

Aku mengangguk. “Aku juga harus beli sandal baru. Jam berapa?”

“Agak sorean dikit.”

Kami berpisah di depan pintu pagar masing-masing, Syawal masuk rumahnya akupun demikian. Aku masuk lewat belakang, kakiku berdebu.

“Sandal Didan dibawa orang…” Aku mengabarkan seisi rumah, Ummi dan Kak Aira. Abah dan Bang Ikhwan belum pulang, mereka jarang shalat jumat di kampung karena harus balik kerja setelah jam shalat.

“Dicuri?” Kak Aira berhenti dari kerjaannya, dia sedang menata meja makan.

“Iya, dicuri.”

“Katanya, kalau sandal kita dicuri orang, tandanya kita pernah nyuri sandal orang…” Kak Aira sungguh tega.

Aku mendelik. “Kak Aira mau punya adik maling?”

Dia menggeleng.

“Bagus. Adikmu ini gak akan nyuri apapun, bahkan sandal jepit buruk sekalipun.” Aku mencari sosok Ummi di sumur. “Ummi, Didan minta duit ya, beli sandal.” Aku yakin Ummi mendengar kabar yang kubawa pulang tadi.

“Nanti Ummi kasih, ganti sarung sana terus makan.”

***

Pertama kami mencari sandalku. Tak butuh waktu lama, aku dibantu Syawal memilih-milih. Dia menyodorkan sandal yang sama persis seperti yang hilang siang tadi.

“Nomor empat satu…” Katanya.

“Nanti hilang lagi.” Ujarku.

“Kita beli gembok deh setelah ini.” Dia bercanda.

Aku tertawa. Saat browsing gambar lucu di google, aku pernah menemukan gambar sandal jepit yang dililit rantai dan digembok. Sungguh lucu, gambar itu masih ada di komputerku. Kuambil sandal yang disodorkan Syawal. “Aku masih jatuh cinta sama sandal ini…”

“Alasan yang tepat untuk beli gembok kan?”

Aku tertawa lalu menemui abang penjaga untuk menebusnya.

Selesai di toko sandal, dia membawaku ke toko baju muslim. “Kamu mau beli baju koko baru?” Tanyaku begitu turun dari skuternya.

“Peci.”

Aku melongo. Selama ini aku tak pernah melihat Syawal memakai benda itu. “Bagus untukmu, ayo!”

Syawal mulai memilah-milah peci yang disodorkan padanya sementara aku mengisi waktu dengan membelek-belek baju muslim berbagai corak dan warna di gantungan.

“Dan, menurutmu gimana? Apakah boleh yang ini?”

Aku menoleh pada Syawal. Langsung tertegun. Tidak, bukan karena peci yang dipilihnya memang sangat indah dan pas menutup kepalanya, tapi aku tertegun karena Syawal melepas kacamatanya. Aku sering melihat Syawal tanpa kacamata, sangat sering. Tapi tanpa kacamata dengan peci haji di kepala? Sungguh baru kali ini. Dia terlihat seperti… seperti bukan dirinya. Dia terlihat seperti orang suci yang membuatku malu sendiri. Malu akan fakta bahwa kami saling mencintai, sesuatu yang teramat salah dalam agamaku dan dia. Tapi aku sungguh mencintainya.

“Dan…?”

“Hemm…” Aku tersadar.

“Bagaimana?” Syawal melangkah mendekat padaku.

“Emmm… indah…” Aku masih merasakan hal yang sama.

Syawal tersenyum. “Coba kamu juga pakai.”

Aku tak memperhatikan kalau di tangannya Syawal memegang peci yang sama dengan yang sedang dicobanya. Dengan lembut dia menyarungkan peci haji itu ke kepalaku. Aku kaku tak bergerak. Aku sangat sering berada sedekat ini dengan Syawal, tapi dalam momen seperti ini? Dengan rasa takjub sekaligus rasa salah menggelora di hati dalam saat bersamaan seperti sekarang? Ini yang pertama kali. Dari balik lensa kacamataku, aku menatap tak berkedip ke dalam mata Syawal.

“Dia juga indah di kepalamu…”

Aku mengerjap satu kali.

Tangan Syawal bergerak, selanjutnya aku juga sudah tak berkacamata lagi. Kembali dia tersenyum. Beberapa detik kemudian dia mengembalikan kacamataku ke tempatnya semula. Aku masih diam hingga dia kembali menemui bapak penjual yang sedari tadi memperhatikan kami.

“Saya ambil dua, Pak.” Ujarnya pada Si Bapak.

“Bar, gak usah deh.” Aku melepaskan peci warna gading bercorak sulam benang emas itu dari kepalaku dan menuju pada Syawal.

“Didan, jangan tolak okey!!!” Tatapannya sangat tegas ketika menyorotku. Kacamatanya masih menggeletak di atas rak kaca di depannya. “Itu hadiah!” Lalu dia mengeluarkan dompetnya.

Aku tak bisa apa-apa. “Trims…”

Syawal mengangguk untukku. “Kami pake aja Pak, gak usah dibungkus.” Katanya sambil mengenakan kacamatanya kembali.

Selesai. Kini kami kembali berada di atas skuter. Dua laki-laki remaja, sama-sama berkacamata dengan peci yang serupa. Siapa yang menyangka kalau kami adalah sepasang kekasih? Syawal mengemudikan skuternya dengan sangat perlahan, aku tak protes.

“Bar…”

“Hemm…”

“Besok udah puasa.”

“Iya. Terus kenapa?” Syawal melirikku dari spion.

Aku mendesah. “Kita gak bisa terlalu dekat seperti sebelum-sebelumnya…”

“Takut puasanya nanti jadi batal?” Syawal tertawa. “Sedekat seperti sebelum-sebelumnya? Memangnya seperti apa? Boncengan berdua? Megang tangan? Jalan berdua?” Syawal melirikku lagi di spionnya. “Kita belum pernah melanggar garis kan? Yah, mungkin beberapa ciuman… itu yang kamu maksud?”

Aku diam. Dia benar. Kami belum pernah ‘melanggar garis’ selama ini. Hubungan kami sangat sehat. Hanya pacaran, tidak bercinta. Dan beberapa ciuman itu, mungkin memang itu yang aku maksudkan. “Iya, kita gak bisa ciuman sepanjang bulan puasa.”

Syawal tertawa besar. “Bisakah kita melakukannya di malam hari? Kan sedang gak puasa.” Dia tertawa lagi.

“Gak boleh.” Kataku tegas.

Syawal menghentikan laju skuter dengan tiba-tiba. Aku sempat menubruk punggungnya. Untung saat ini dia tak pakai helm, jika tidak pasti jidatku bakal menghajar bagian belakang helm-nya. Dan itu pasti sakit biarpun laju skuter hanya pelan saja.

“Kenapa?” Aku heran melihat Syawal memperhatikan sekeliling. Saat ini kami sedang berada di jalan masuk kampung, areal persawahan yang sudah lewat musim panen terhampar di kiri kanan jalan. Sepi, tak ada satu orang pun. Jalanan juga lengang, senja baru saja turun.

Syawal turun dari sadel skuter, langsung berdiri menghadapku. Dia lalu melepas kacamatanya.

Aku menatapnya penuh tanya. Apa yang akan dilakukannya? “Bar, kamu ingin menciumku?”

Dia mengangguk.

Aku terbelalak. “Di sini? Sekarang? Jangan gila! Ayo lanjut pulang!” Tapi dia semakin dekat.

“Kita gak bisa berciuman satu bulan penuh, jadi aku ingin menciummu sekarang sebagai ganti hingga aku bisa melakukannya lagi setelah lewat tiga puluh hari ke depan…”

“Bar, kita gak bisa…”

Tapi Syawal sudah melumat bibirku, menabrak kacamataku. Ciuman ini tak lama, aku melongo setelah Syawal menarik wajahnya dariku. Aku segera sadar dan menoleh ke segala arah.

“Tak perlu khawatir. Tak ada yang melihat.” Dia selalu berkata begitu. “Kamu lanjut nyetir.” Syawal bergerak duduk di belakangku.

Dadaku masih bergemuruh, rasa takut karena khawatir ada yang melihat kami masih menguasaiku. Sebuah motor bergerak di kejauhan dari arah berlawanan, lampunya menyala. Pandanganku tertuju ke sana.

“Dari jarak sejauh itu, bahkan dia tak akan melihat andai sekarang kita berciuman lagi…” Ujar Syawal. Yang dia maksudkan adalah si pengendara motor di kejauhan sana. “Ayo, menyetirlah. Bentar lagi malam.” Dia menepuk punggungku, memintaku untuk mengambil posisinya tadi.

Aku bergeser lebih ke depan. Motor itu melewati kami, pengendaranya seorang bapak-bapak. Syawal memeluk pinggangku, merapatkan dadanya ke punggungku. Tanpa bersuara aku segera menekan gas.

“Didan, setelah dipikir-pikir… rasanya aku gak sanggup puasa ciuman satu bulan penuh. Aku gak bisa untuk tidak menciummu selama itu. Emm… bagaimana kalau kita gak usah puasa pada tiap hari minggu?” Dia sungguh konyol.

Aku menyikut perutnya dengan siku kiriku sebagai jawaban atas ide kurang ajarnya. Dari spion kulihat dia tersenyum. Setelah itu Syawal diam, hanya lengannya yang semakin erat memeluk pinggangku.

***

Taraweh pertama. Mesjid penuh, shaf-shaf shalat rapat luar biasa. Semarak. Tapi aku yakin, seminggu dari sekarang, mesjid akan kembali sepi. Seperti tahun lalu, dan tahun-tahun sebelum ini, jamaah selalu ramai di minggu pertama, berkurang di minggu kedua, hanya tinggal satu shaf di minggu ketiga. Ada dua kemungkinan di minggu keempat, tinggal jamaah yang mendekati uzur saja atau kemungkinan kedua mesjid akan ramai lagi karena Ramadhan akan segera berakhir. Yah, begitulah adatnya bulan ini. Mesjid di tempatku begitu, tapi entahlah dengan mesjid di tempat lain.

Syawal membuatku kembali tertegun. Ini kali pertama aku melewati shalat taraweh bersama-sama, bulan puasa pertama kami. Seperti tadi sore, dia membuatku bergemuruh tiap menatapnya yang tepat berada di samping kiriku. Penampilannya dengan peci, baju koko dan sarung sungguh membuat perasaanku campur aduk. Salah memang, aku selalu memperhatikan sisi kanan wajahnya tiap habis memberi salam ke kiri.

Setelah mengisi agenda ramadhan, kami pulang. Satu rombongan besar, aku dan keluargaku gabung pulang jalan kaki bersama keluarga Syawal. Keakraban silaturrahim sangat terasa sepanjang jalan pulang. Celoteh Haikal di antara mamanya dan ummiku, canda Kak Aira dan Mbak Mai, obrolan para ayah dan percakapanku dengan Syawal dan Bang Ikhwan menghangatkan jalan pulang kami.

***

Ya tuhan, mataku sangat berat. Ummi baru saja menggoyang-goyangkan badanku. Kudengar gumam Bang Ikhwan di sampingku ketika giliran dia yang dibangunkan Ummi.

“Bangun Nak… makan sahur…” Suara Ummi yang lembut malah membuat mataku makin berat. “Iwan, bangun Nak… Didan ayo bangun…”

“Iya…” Aku menjawab dalam gumamku sementara Bang Ikhwan diam tak bergerak.

Suara Ummi lenyap, langkahnya menjauh. Kudengar suara pintu kamar ditutup. Aku ingin bangun tapi semua anggota tubuhku seperti dipakukan ke tempat tidur, aku meringkuk nyaman dalam selimutku. Alam bawah sadar menarikku untuk kembali takluk dalam lena. Aku siap kembali ke alam tidur sampai kurasakan sesuatu yang dingin menempel di telapak kakiku. Reflek aku menarik kakiku dalam kaget. Lalu suara tawa cekikikan membahana di kamarku dan Bang Ikhwan.

“Bangun pemalas…” Kak Aira. Kini tangannya yang basah dingin malah menempel di pipiku. Sepertinya tangannya sengaja dibasahi air es.

“Ya Allah… ampunilah dosa kakakku karena mengganggu kenyamanan hamba-Mu ini…” Ucapku. Aku sudah terbangun sepenuhnya.

“Huss… asal aja. Mana ada doa kayak gitu.” Kak Aira menarik selimutku. “Imsak setengah jam lagi, lekas bangun…”

“Iyaaa…” Aku terduduk di tempat tidur. Kutoleh ke samping, Bang Ikhwan sudah tak ada. Kapan dia bangunnya? Kenapa aku tak sadar saat dia bangun? Lamakah waktu sejak Ummi meninggalkan kamar hingga aku benar-benar terlelap kembali dan tak sadar apapun?

“Ya Tuhan, masih bengong aja. Mau aku siram pake air?” Kak Aira kembali bersuara.

“Iya, ini juga udah bangun… ribut aja pagi-pagi buta. Heboh sendiri…” Aku memberengut

Kak Aira memonyongkan bibirnya untukku lalu keluar dari kamar tanpa menutup pintu, lampu kamar juga menyala seterang-terangnya. Aku mengucek mata. Kakakku itu memang pengacau. Tahun lalu caranya membangunkanku lebih ekstrem lagi. Dia pernah meletakkan es batu langsung di leherku, sekali waktu nyaris membuat kasur basah ketika membasahi mukaku dengan air. Dan yang sangat kurang ajar dan tidak manusiawi, dia pernah membakar petasan di kamarku, langsung di dekat kupingku. Jika ingat itu, ingin rasanya aku membenturkan kepalanya ke tembok. Bayangkan saja, saat itu aku gelagapan terjaga dan malangnya langsung terguling ke lantai saking kagetnya. Sementara Kak Aira tetap dengan ciri khasnya, tertawa cekikikan di atas penderitaanku. Sejak malam itu aku selalu niat untuk balas dendam, tapi tak pernah kesampaian. Penyakit susah bangun sahur-ku sangat menguntungkan Kak Aira. Heran bukan, mengapa gadis seayu Kak Aira punya kegilaan kurang ajar seperti itu.

Hapeku menjerit di atas nakas. Dengan malas aku menjangkaunya. “Iya Bar, aku udah bangun kok.”

“Iya tau, kalau gak bangun gak mungkin bisa jawab telponku.”

Dia membuatku bodoh, aku mendesah. “Ada apa?”

“Udah makan?”

“Kamu borosin pulsa aja Bar…”

“Aku menelepon kekasihku. Itu bukan pemborosan.”

“Menyeberanglah kemari, bisa ngobrol sepuasnya tanpa membazirkan biaya.”

“DIDAN, UDAH MAU IMSAK…!!!”

Syawal tertawa di seberang. “Makan dulu sana, salut sama suara Kak Aira.”

“Untung dia hanya seminggu di sini…” Ujarku.

“Jangan gitu…”

Ummi kembali menjenguk ke kamar. “Didan, sahur dulu Nak, waktu sempit, nanti malah buru-buru.”

“Iya…” Ummi meninggalkan pintuku. “Bar, aku tutup ya…”

“Iya, love you…”

Aku melirik ke pintu, memperhatikan kalau tak ada orang di sana. “Hemm… love you too…” Aku yakin, di sana Syawal sedang tersenyum.

***

Aku sudah melihatnya dari jauh tapi sengaja tak mau memberitahu Kak Aira. Kakakku masih terus memilih-milih kue di pasar ramadhan. Bukan, yang kumaksudkan bukan lokasi pasar khusus bulan puasa. Pasar Ramadhan hanya istilah saja. Ini adalah lokasi pasar yang sama yang kukunjungi dengan Syawal kemarin. Disebut pasar ramadhan karena di bulan puasa seperti ini, lokasi pasar ini benar-benar luar biasa. Bermacam-macam penganan dijajakan di sepanjang jalan di rak-rak gerobak. Bermacam jenis minuman segar, bermacam olahan buah, bermacam lauk, bahkan ada deretan kaki lima khusus yang menjual pernak-pernik bernuansa islami. Dan keadaan pasar yang seperti ini hanya terjadi setahun sekali yaitu di bulan ini. Jadi, selama bulan puasa, orang-orang menyebut pasar dengan sebutan pasar ramadhan. Keramaian pasar ramadhan biasanya sudah tampak sejak pukul tiga sore.

Dia sudah melihatku dari jauh, berjalan menghampiri sambil tersenyum teduh. Wajahnya bersih seperti kebanyakan ustadz muda. Aku tak pernah melihatnya tanpa peci. “Assalamualaikum… jumpa kamu Dek… sama siapa?” Ciri khasnya, tak pernah tidak memberi salam.

Aku tersenyum pada Bang Awi, suka dia masih memanggilku ‘Dek’ bila berjumpa selain di surau. Kalau di surau dia langsung memangil Ramadhan atau Dhan saja, Bang Awi jadi guru ngajiku di sana.

Waalaikumsalam… Iya bang, beli kue nih sama Kak Aira.” Saat aku menjawab ini, Kak Aira masih sibuk berbincang dengan ibu-ibu penjual, dia tak menyadari kedatangan bang Awi. Ditambah lagi keadaan pasar yang memang hiruk pikuk.

Bang Awi sepertinya juga tidak tahu kalau aku bersama Kak Aira. Mungkin dia tak mengenali Kak Aira -yang sore ini entah atas dorongan apa memakai kerudung ummi. Aku menangkap perubahan riak wajah Bang Awi saat nama Kak Aira kusebutkan.

“Kak, ada Bang Awi nih…” Aku mencolek bahu Kak Aira.

Kak Aira berbalik dan langsung terdiam. Sepertinya kaget melihat Bang Awi yang mematung di depannya. Aku melihat wajah Kak Aira merona. Tuh kan benar, kakakku itu memang punya rasa juga sama Bang Awi.

“Ehem… Kak, Didan ke sana dulu ya.” Aku menunjuk deretan kaki lima. “Mau lihat tasbih, sepertinya bagus-bagus…” Aku ingin memberi kesempatan kepada mereka berdua. Mungkin ada yang ingin dibicarakan.

Aku siap beranjak ketika Kak Aira menarik lenganku. “Jangan pergi kemana-mana…” Desisnya padaku.

“Iya, jangan pergi kemana-mana Dek, temani kakakmu…” Bang Awi ikut berucap padaku, lalu dia memandang Kak Aira. “Kapan pulang Dik Aira?”

“Dua hari lalu Bang… emm… seminggu di sini, hari sabtu nanti Aira balik.” Kak Aira terlihat canggung, ujung kerudungnya jadi sasaran plintiran jari-jarinya. Aku yakin Kak Aira sedang salah tingkah level tinggi.

Pandangan Bang Awi tertuju pada plintiran ujung kerudung Kak Aira yang sudah tak karuan rupa, nyaris keriting. Sumpah, aku ingin meledek Kak Aira detik itu juga. Tapi sebagai adik, aku tak mau membuatnya semakin tak menentu di depan lelaki pujaan hatinya.

Wajah Kak Aira semakin merona. “Emm… Didan harus cari tasbih dulu…” Kembali aku siap melangkah dan lagi-lagi lenganku di tahan Kak Aira. Bodoh, seharusnya dia membiarkanku pergi agar tak merasa canggung bicara dengan Bang Awi. Cengkeraman Kak Aira di lenganku mulai terasa menjepit. Aku kesal.

“Abang suka Dik Aira pakai kerudung sekarang…”

“I… iya…” Sekarang Kak Aira diserang gagap. Lenganku makin sakit.

“Sejak kapan udah hijrah pakai kerudung?” Bang Awi sungguh tertarik dengan kerudung Kak Aira rupanya.

“Se… se… sejak…” Ya ampun, Kak Aira pasti ngefans sama Azis Gagap di tivi.

Aku gerah, lenganku mulai perih. Setelah ujung kerudung, kini giliran lenganku yang mau dibikin keriting oleh Kak Aira. Aku mau balas dendam ah. “Ehem… itu kerudung Ummi Bang…” Lalu “Adooww…” Kak Aira benar-benar membuat lenganku keriting. Dia meremasnya sekuat tenaga membuatku kesakitan.

 

-SEGERA BERLANJUT KE POKET 3-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

maaf sahabat, poket ini pendek. aku kewalahan ternyata, menulis di bulan puasa tidak semudah yang aku rencanakan… doakan semoga selanjutnya bisa rutin upload seminggu dua kali. Love u all…