an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Izinkan aku berkata-kata beberapa kalimat.

Tahukah? Ternyata menulis memiliki tingkat kecanduan lebih tinggi dari semua zat adiktif yang ada di dunia. Lebih membuat ketagihan dari Napza jenis apapun. Itu yang aku rasakan. Setelah kemarin aku menelurkan sebuah tulisan sampah dalam tajuk CHOCOLATE LOVE yang tak lepas dari kritik cabe rawit, keinginan untuk menulis lagi sangat kuat merasuki-ku. Jika efek samping tidak menulis dapat membuat sakau, mungkin aku sudah sakau kemarin-kemarin. Dan kali ini, sebuah tulisan rongsokan kembali selesai aku gubah. Semoga tidak lebih jelek dari tulisan terdahulu. Terimakasih untuk semua inderaku yang terjaga dan mau berkerja sama menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik saat aku menulisnya.

Mungkin kalian akan sedikit merasa bosan membaca tulisan ini karena tak punya banyak tanda jeda (***), semuanya bersambung dalam satu plot. Tapi semoga tidak demikian.

Kalian tahu lagu Landon Pigg, Falling In Love At The Coffee Shop? Mungkin akan lebih menyenangkan bila kalian membaca sambil mendengarkannya. Karena aku juga ditemani lagu itu sepanjang aku mengetik dan selalu diputar berulang-ulang di playlist-ku.

Tentu saja aku ingin membaca mantra dan jampi-jampi kalian untuk cerita jelek ini. Jangan sungkan untuk mengataiku ya! Penulis yang baik adalah dia yang suka kritikan.

Akhirnya, sama seperti kemarin. Semoga kalian menikmati membaca ONE DAY AT THE COFFEE SHOP seperti aku menikmati saat menulisnya. Doakan aku bisa memimpikan Rpattz…*aje gile. Gak ding, doakan aku gak bosan menulis.

Wassalam

n.a.g

#####################################################

FIRST  love is never dies. Selamanya akan bertahta dalam ruang hati. Terpelihara dalam setiap kenangan yang kadang muncul saat kita bersendirian dan memori membawa kita menelusurinya kembali. Kapan untuk pertama kali kita jatuh cinta? Cinta monyet masa sekolah dasarkah? Cinta remaja masa usia belasan tahunkah? Atau pertama kalinya kita jatuh cinta justru saat kita merasa tak belia lagi. Jika first love yang kita rasakan saat kita bukan lagi remaja adalah sebuah kerugian, maka aku termasuk beruntung karena merasakan cinta untuk pertama kali saat aku usia sekolah menengah. Dulu saat usiaku 16 tahun, walaupun itu bukan cinta yang biasa. Dan ungkapan bahwa cinta pertama itu tak pernah mati ternyata benar, setidaknya bagiku. Cinta pertama itu akan selalu terkenang. Akan sering melintas saat kita duduk sendiri di taman. Kita kenang saat kita termangu menatap matahari terbit dari balik jendela kita di pagi hari. Melintas saat gelisah dalam tidur-tidur malam kita, atau saat kita menghabiskan satu senja dengan secangkir kopi di sebuah coffee shop

***

Waiter muda ini pasti sudah tahu dan hapal kebiasaan seorang pria dewasa dengan kemeja kerja kusut dan dasi longgar yang baru saja melewati pintu masuk. Si pria dewasa akan datang tiap sore dengan kondisi dan waktu yang nyaris selalu sama, hanya kemeja dan dasinya saja yang berganti. Kemudian dia akan duduk di meja yang sama seperti hari kemarin. Meja yang berada tiga meter dari pintu masuk dengan dua buah kursi yang saling berhadapan. Meja ini tepat menjadi sasaran simbahan sinar sang surya menjelang tenggelam di ufuk barat karena dinding di sisinya hanya berupa kaca putih transparan. Dari sini juga aktivitas jalanan sore hari di depan sana akan terlihat tanpa terhalang sesuatu. Yang aneh mengenai meja ini, dia akan selalu kosong saat Si Pria Dewasa tiba, seakan meja itu memang sudah menjadi miliknya pribadi.

Si Pria Dewasa akan memesan segelas besar kopi yang sama seperti hari kemarin, kopi yang sama sejak hampir setahun dulu. Hanya kopi saja sejauh ini. Kemudian dia akan duduk hingga hari gelap. Sesekali dia akan menatap kursi kosong di depannya dengan pandangan putus asa dan kadang-kadang dengan binar pengharapan. Putus asa karena sadar bahwa dia telah kehilangan sejak lama dan pengharapan suatu saat seseorang akan datang secara ajaib dan duduk di sana. Pria ini akan membunyikan lonceng kecil di atas meja dan membayar bil-nya saat malam turun lalu keluar dari sana. Pria Dewasa ini adalah aku.

“Selamat sore, kopi apa yang bisa kami bawakan, Sir?”

Selalu begitu. Kalimat yang sama, keramahan yang sama dengan nada yang sama. Bahkan aku bisa hapal jumlah langkahnya dari meja barista menuju ke mejaku untuk menanyakan kopi apa yang akan kuminum hari ini. Aku berani bertaruh, dia pasti sudah tahu apa jawabanku, tak pernah berubah dari dulu. Marocchino coffee dengan susu ekstra dan sedikit espresso. Entah saat awal-awal aku jadi pelanggan, bisa jadi dia tak hapal. Walau demikian, dia punya kewajiban untuk bertanya dan aku juga berkewajiban menjawabnya jika tak ingin disebut pelanggan kurang ajar.

“Marocchino coffee…”

 

“Dengan susu ekstra dan sedikit espresso.” Dia melanjutkan ucapanku sambil melengkungkan bibirnya memberiku sebuah senyuman. “Tentu saja…”

Aku mengangguk. “Jika tidak keberatan.” Kataku berkelakar sambil menirunya melengkungkan bibirku.

“Sama sekali tidak Sir. Mug anda akan segera tiba.” Lalu dia berbalik sopan dan melangkah kembali ke meja dimana Si Barista -peracik kopi- handal bekerja.

Sesaat aku masih memandangi punggungnya. Rasanya hari ini dia lebih ramah dari biasanya, lebih bersahabat dari hari-hari kemarin. Hari ini dia menyambung jawabanku, bukti bahwa dia memang hapal kebiasaan pelanggannya yang satu ini. Pelanggan setia coffee shop elegan yang terletak satu kilometer dari keindahan Sungai Yarra di pusat kota.

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan dari mulutku. Sinar jingga mentari senja mulai menyentuh dinding kaca di sampingku. Hangat dan nyaman. Aku menggulung lengan kemejaku sampai bawah siku lalu menopang daguku sedemikian rupa dengan siku bertumpu di atas meja, menunggu kopi-ku datang.

Saat-saat beginilah aku akan mengingatnya kembali. Mengingat masa dua belas tahun silam ketika aku masih di sana, di panti asuhan tempat aku dibesarkan. Sejak tanpa sengaja mendengar suara harmonica dari dalam sebuah toko alat musik ketika berjalan kaki menyusuri jalanan pertokoan sebulan lalu, ingatanku tentangnya sering sekali datang. Lebih intens dari biasanya.

Dia memang suka memainkan harmonica dulu. Tak kenal waktu. Dia akan tega membangunkanku yang tidur paling atas di ranjang susun kami tengah-tengah malam bila dia tiba-tiba terbangun dari lelapnya. Selanjutnya aku akan rela duduk berdingin-dingin menemaninya meniup harmonica di taman belakang gedung panti hanya agar hatinya tenang dan dapat tidur kembali. Semula aku merasa hanya sekedar solidaritas menemaninya di taman belakang itu. Namun lama-kelamaan seiring seringnya dia membangunkanku hal itu menjadi suatu kepuasan bagiku. Aku akan merasa ada yang kurang dan ada yang terlewatkan saat terjaga paginya bila dia tidak membangunkanku malam tadi.

Usianya tiga tahun lebih muda dariku. Salah satu bocah lelaki tampan di panti asuhan kami dulu. Kami suka memanggilnya Baterkap. Itu karena dia suka sekali menonton kartun Power Puff Girls hari minggu. Padahal dia laki-laki. Tokoh favoritnya di kartun itu adalah Buttercup. Alasannya, Buttercup lebih gentle dan lebih ganas daripada Blossom yang pintar dan dewasa atau Bubbles yang lucu dan menggemaskan. Dia mau saja dipanggil begitu, bahkan menyenangi nama aliasnya dan membahasakan panggilan itu buat dirinya sendiri ketika masih kecil dulu. Padahal nama aslinya cukup bagus, Kahlil Gibran. Belakangan ketika sudah lebih dewasa, aku baru tahu kalau namanya sama seperti penyair legendaris kelahiran Lebanon lebih dari seabad lalu itu.

Dia sangat dekat denganku. Kemana saja aku pergi dia akan ikut serta. Dia juga nekat merengek-rengek pada Ibu Panti untuk dapat pindah satu ranjang susun denganku. Seingatku, Ibu Panti tak pernah menyuarakan keberatannya terhadap apapun keinginan Kahlil. Ya, dia termasuk anak emas Ibu Panti waktu itu. Hal inilah yang sering membuatnya jadi objek keisengan anak-anak lainnya di panti. Diganggu, diusilin, diejek, dibuli dan tingkah iseng lainnya sering dialami Kahlil. Jika sudah begitu dia akan berlari dan meminta perlindunganku sebagai sekutunya.

“Kak Damar… Bat digangguin…!!!” Atau “Kak Damar… Bat diusilin lagi…!” Atau “Kak Damar, Bat dijitakin…!” Dan yang paling sering adalah… “Kak Damar, mereka ngerampas jatah makan siang Bat…!!!” Lalu ujung-ujungnya aku akan menjadi Buttercup, Bubbles atau Blossom untuk melindunginya. Tak jarang malah aku ikutan dikeroyok dan dicap pengkhianat oleh kawan-kawanku karena berpihak pada anak yang menyita seluruh perhatian Ibu Panti. Tapi begitulah, apapun yang terjadi aku akan selalu jadi Kak Damar buat Kahlil ketika kami masih disana.

Aku menyeringai mengingat masa kecilku dalam hiruk pikuk dan pemikiran untuk selalu berbagi apapun di panti asuhan. Masa kecil yang tidak bisa dibilang bahagia, bila tidak ingin dikatakan pahit.

Si Waiter Muda dan ramah meletakkan mug besar di atas mejaku. “Kopi anda Sir…” Ucapnya masih dengan senyumnya yang menarik.

Aku menurunkan tanganku dari menopang dagu. “Terima kasih.”

“You are welcome… emm jika ada sesuatu yang dibutuhkan lagi…”

“Mungkin kamu bisa membawakanku sekeping pancake…” Ucapku, kemudian sadar kalau ini adalah kali pertama aku memesan menu pendamping sejak setahun lalu mulai rutin kemari. Biasanya Si Waiter Muda akan segera pergi setelah berkata ‘You are welcome…’

Si Waiter Muda tersenyum lagi. Pelayan memang diharuskan selalu tersenyum. “Tidak seperti biasanya.” Ujarnya kemudian.

“Tidak seperti biasanya juga kamu bertanya.” Balasku.

Dia tertawa kecil. “Pancake, coming soon…!” Lalu mengangguk sopan dan berbalik meninggalkanku.

Aku tahu namanya. BENJI ASHRAFF, begitu yang tertera pada tag name-nya. Aku yakin kalau dia bukan asli orang Ausie. Kalaupun iya, pasti blasteran Ausie-Malay atau Ausie-Brunei. Rambutnya memang kecoklatan seperti kebanyakan mereka di sini, tapi Benji Ashraff punya mata seperti mata orang Asia, tidak biru atau hijau koral. Dia masih sangat muda, mungkin hujung sembilan belas atau awal dua puluh-an. Jika benar terkaanku, itu artinya dia delapan tahun di bawahku.

Sedikit mengherankan, setiap aku berkunjung selalu dia yang akan menghampiri mejaku. Bukan waiter yang lain. Hal ini membuatku bertanya, apa semua waiter di sini punya pelanggan mereka masing-masing? Siapa yang melayani si tamu saat kunjungan pertamanya maka si tamu akan jadi pelanggan Si Waiter untuk kunjungan seterusnya. Benarkah demikian? Rasanya mustahil.

Yah, aku senang saja bila si Benji Ashraff ini yang selalu menanyakan apa yang akan kuminum dan kemudian membawanya ke mejaku. Dia menarik, terlalu tampan untuk menyuguhkan secangkir kopi. Terlalu menawan untuk menjinjing nampan dan berjalan dari meja ke meja. Menurutku, Benji Ashraf terlalu berkelas untuk menjadi seorang waiter coffee shop. Jika di Jakarta mungkin dia sudah bermain dalam banyak sinetron yang temanya itu-itu saja. Atau sibuk mengejar cinta di seabrek FTV selain tentunya menjadi rebutan brand deodorant pria karena Benji Ashraf punya postur sempurna untuk itu.

Lama aku memerhatikan tubuh jangkung Benji Ashraff dalam balutan hitam putihnya bergerak gesit dari meja ke meja. Dulu, Kahlil juga pernah memakai setelan hitam putih seperti itu.

Aku menyesap marocchino-ku perlahan, masih panas. Kuletakkan mug-ku kembali di meja. Sejurus kemudian aku kembali menerawang ke masa laluku.

Kahlil memakai baju hitam-putih itu saat pementasan drama di sekolahnya. Aku tidak melihat seperti apa permainan dramanya. Aku hanya diperlihatkan foto olehnya. Foto di atas pentas setelah drama selesai dipentaskan. Kahlil nampak menjulang di antara kawan-kawannya dalam foto. Katanya dia mendapat watak pengantin pria dalam drama itu. Aku sempat terpingkal saat dia berucap demikian.

“Baru kelas satu SMP aja udah main pengantin-pengantin. Ngebersihin ingus aja masih harus diingatin…” Ledekku waktu itu.

“Biarin, Bat kan cakep. Mau beringus bagaimanapun tetap disukai orang.” Balasnya mengikuti olok-olokanku, padahal dia sama sekali tidak beringus. “Kak Damar kalau dewasa nanti pengen jadi pengantin gak?” Tanyanya.

“Loh, sekarang kan Kak Damar memang udah dewasa. Emang kayak kamu, lahirnya telat…” Usikku.

“Oh, udah dewasa ya? Berarti kuat dong…”

Kalau sudah begitu, dia akan melompat ke belakangku dan kami akan bergulat saling menjatuhkan sampai Ibu Panti berteriak-teriak karena terganggu dengan tawa cekikikan kami.

Aku menghembuskan nafas berat dan menatap ke balik kaca. Dua orang pemuda berjalan bergandengan tangan melintas di depan coffee shop ini. Mereka kelihatan bahagia, bercengkerama mesra dan tertawa lepas bersama. Aku iri, di sini mereka bebas mengekspresikan rasa sayang mereka tanpa perlu takut menerima tatapan aneh merendahkan dari orang-orang yang mereka papasi. Bebas menampakkan warna asli mereka tanpa perlu berlindung di balik topeng dan mengkhianati hati dengan berpura-pura menjadi lelaki normal. Mereka tidak perlu merasa khawatir atau dihantui rasa takut bila jati dirinya diketahui orang banyak. Urus hidupmu sendiri maka aku akan mengurus hidupku sendiri, dengan begitu maka kamu tak akan mendapatkan acungan jari tengah dari siapapun. Yah mungkin demikian paradigmanya. Tidak selegal bila di negara kincir angin memang, tapi menurutku cukup leluasa juga.

Cahaya jingga mulai merangkak menyeberang ke tengah mejaku. Siluet lalu lalang pejalan kaki dalam balutan jas dan blus kerja dengan koper jinjing mereka cukup menarik untuk diperhatikan. Beragam tipe manusia yang baru saja keluar dari balik meja kerja mereka di dalam gedung-gedung menjulang. Aku mengalihkan perhatian pada mug besar di depanku, masih berasap. Dulu Kahlil juga suka minum kopi, tapi dia hanya mau minum bila itu adalah buatanku. Sifatnya memang aneh.

Salah satu sifat anehnya yang paling kuingat adalah, dia takut petir. Kahlil pasti gelisah sendiri bila cuaca mendung. Dia akan kalang kabut bila kilat sudah berkiblat dan akan sibuk mencari selamat dengan tingkah aneh yang kadang-kadang tak masuk logika. Saat petir menyambar dengan cahayanya yang terang benderang, Kahlil akan lari ke bawah meja, atau menarik tikar menutupi mukanya saja, kadang menyurukkan kepala ke wadah apa saja di sekitarnya. Tak jarang dia akan menelungkupkan mukanya ke punggungku atau orang lain di dekatnya. Dia masih tetap takut petir hingga beranjak remaja.

Satu malam yang tak akan pernah kulupakan. Malam dimana aku merasakan sebentuk perasaan sayang lain yang ganjil terhadap Kahlil. Saat itu usiaku sudah lewat enam belas sementara Kahlil sudah kelas tiga SMP. Malam itu aku terbangun karena merasa ada yang mengguncang bahuku. Kahlil, wajahnya begitu dekat dengan wajahku.

“Hemmm… harmonica lagi?” Tanyaku setelah menguasai rasa kagetku karena Kahlil berada sedekat itu.

Dia menggeleng. “Petir…”

Ketika dia berucap begitu, barulah aku menyadari kalau ternyata di luar sedang hujan. Kilat menyambar sesekali. Aku mendesah sambil mengeliat. “Masih saja takut petir…”

“Petir mengerikan.” Jawabnya.

“Trus sekarang pengen apa?”

“Aku tidur sama Kak Damar ya?”

HAH, aku kaget. “Emm, tempat tidur ini kan sempit Bat…”

Tanpa merespon ucapanku, dia naik dan langsung menelungkup di atasku. Tangannya kiri kanan menelusup di bawah bahuku. Untuk beberapa saat lamanya aku tak bisa mengeluarkan suaraku. Wajah Kahlil tepat berada di leherku, dapat kurasakan bibirnya menempel lembut di sana. Nafasnya berhembus teratur di kulitku.

“Bat…” panggilku lirih sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, anak-anak yang lain terlelap damai di pembaringan mereka.

“Jangan bicara lagi, aku janji gak akan lasak atau membuat salah satu dari kita jatuh ke lantai. Aku hanya ingin berbaring bersama Kak Damar saja.”

Jadi begitulah. Aku diam saja saat dia merangkulkan lenganku ke pinggangnya, diam saat kurasakan leherku seperti dikecup. Menurut tanpa bertanya ketika dia menarik lepas kausku. Tidak menghalangi saat dia melepas pakaiannya dan celana selututku. Bahkan aku juga tetap diam ketika menindihnya yang sudah tanpa pakaian di bawahku. Tubuh remaja Kahlil melebur bersamaku malam itu. Tidak ada kata-kata yang terucap ketika itu. Hanya tubuhku dan tubuhnya yang bicara dengan bahasanya sendiri. Satu-satunya kalimat yang terucap  setelah itu adalah ‘Aku cinta Kak Damar dengan sepenuh jiwa dan ragaku’ dari bibir Kahlil sebelum menutup mata untuk terlelap dalam rengkuhanku.

Sejak malam itu aku langsung menyadari bahwa aku memiliki sebuah hati yang mencintaiku dengan sungguh. Ketika aku mencari-cari dalam hatiku sendiri, maka aku segera menemukan kalau hatiku juga telah terikat dengan begitu kuatnya pada tonggak cinta Kahlil jauh sebelum dia berkata ‘Aku mencintai Kak Damar dengan sepenuh jiwa dan ragaku’ malam itu.

Benji Ashraff datang membawakan pancake-ku. “Semoga cita rasanya tidak mengecewakan anda, Sir…” Ujarnya.

Setelah sekian lama, mengapa kami masih saja kaku seperti ini? Jujur, aku merasa tidak nyaman bila orang terlalu menghormatiku. Yah walaupun aku tahu memang sudah tugas seorang waiter untuk meninggikan tamunya. Tapi aku bukan baru satu atau dua kali ke sini. Mungkin ini saatnya aku mengakrabkan diriku sebagai pelanggan yang bersahabat.

“Damar… Damar Syailendra. Bisa kamu panggil aku Damar saja, Ashraff???” sengaja aku memberi penekanan dan melirik tag name di dadanya ketika menyebut langsung namanya.

Sejenak Benji Ashraff diam lalu menyunggingkan seulas senyuman. “Anda tidak sedang bermaksud merayu atau mengganggu pelayan yang sedang bekerja kan?” Dia diam lagi sambil menatapku lekat. “Apa yang anda pikirkan?” Lanjutnya.

Aku terkekeh. “Apa aku terlihat seperti perayu pria, Ashraf?” Tanyaku. Dia tidak menjawab. Beginilah di sini, orang tidak perlu terlalu jaim dan menjaga attitude-nya bila sedang di luar rumah. Aku sadar kalau ucapan Benji Ashraf tadi nyaris menyinggung status seksualku. Aku memutar bola mata. “Yah, katakanlah mungkin aku memang merayumu dengan mencoba mengakrabkan diri. Tapi apa yang lebih dari itu adalah…” Aku menelan ludah, tak tahu harus melanjutkan dengan kalimat yang bagaimana.

“Apa yang anda pikirkan?” Kembali dia mengulangi pertanyaannya.

“Begini…” Aku fokus menatap matanya. “Hampir sepanjang tahun aku duduk di kursi ini. Dan hampir setiap hari sepanjang tahun juga kamu meletakkan gelas di mejaku. Tempat ini bisa dibilang adalah rumah kedua bagiku. Menurutku tak ada salahnya bila aku lebih mengenal siapa saja anggota keluargaku di sini. Menurutku… mungkin sudah saatnya kita bicara lebih banyak selain dari kalimatmu menanyakan apa yang akan kuminum dan jawabanku atas pertanyaan itu.” Aku menarik napas pelan. “Yah lebih dari itu, mungkin aku memang butuh kawan bicara…” Huufft, apa yang baru saja kukatakan? Kalimatku benar-benar payah.

“Kawan bicara, hah?” Ucapnya sambil menaikkan sebelah alisnya.

Aku tidak merespon.

Dia menyeringai. “Nikmati pancake-mu…” Katanya sambil menyodorkan piring lebih ke depanku. “Pelayan tidak bisa duduk mengobrol panjang lebar dengan seorang pelanggan, kecuali dia siap menyerahkan tag name dan melepas seragamnya lebih awal. Banyak gelas dan cangkir yang harus diantar ke meja-meja bila dia ingin kembali berada di sini esoknya.”

Waooww, nice statement dari seorang Benji Ashraff. Aku sampai melongo menatapnya.

Dia menyelipkan nampan-nya di bawah lengan, khas seorang pelayan pria. “Semoga saat aku membawa bil-nya nanti, kamu sudah punya jawaban yang lebih indah dari sekedar butuh kawan bicara, Endra.”

Sekarang aku tersenyum. Dia menyebut penggalan nama belakangku dengan penekanan yang sama saat aku menyebut nama belakangnya tadi. Sepertinya si Waiter Muda sudah mulai menganggapku family.

“Emm, panggil aku dengan nama depanku saja, Ben. Ashraff bukan nama keluarga seperti di sini. Aku tidak harus dipanggil dengan nama belakangku.” Ucapnya sebelum balik badan meninggalkanku.

Satu seringai terbentuk di wajahku begitu Ben berlalu. Jawaban indah? Who are you, Ben? Jawaban indah seperti apa yang kau mau?

Jawaban indah, dulu aku sering mendapatkan kalimat-kalimat indah sebagai jawaban pertanyaanku kepada Kahlil. Mengapa kamu bisa mencintai Kak Damar? – Aku tidak menemukan satu alasan apapun itu untuk tidak mencintai Kak Damar. Yang ada justru sesal mengapa aku tidak mengatakan cinta sejak dulu. Itu jawaban indah pertama yang masih kuingat sampai sekarang. Saat itu lagi-lagi aku sedang menemaninya memainkan harmonica di taman belakang.

Andai Kak Damar tak bisa membalas cintamu itu, apakah kamu akan tetap mencintai Kak Damar? – Kata orang, cinta tak harus memiliki. Tapi aku tidak mau cinta yang seperti itu. Bagiku, cinta yang demikian adalah cinta yang sia-sia. Jika aku sudah mencintai maka aku harus memiliki. Setidaknya aku dapat memiliki dan menggenggam hati juga perasaannya untukku. Dan syukur, aku sudah menggenggam hati Kak Damar sekarang.

Andai kita tak bisa selamanya bersama, apa yang akan kamu lakukan? – Bila esok atau kapan saja raga kita tak dekat lagi, aku akan mengingat bahwa aku pernah menyentuh hati Kak Damar dan akan mengenangnya sampai aku tua nanti. Semua sejarah kita akan hadir setiap aku termenung di hari-hari depanku nanti. Pasti.

Ya, Kahlil benar. Cinta dan kepingan hati itu akan muncul saat kenangan memenuhi ruang pikir, seperti saat ini. Raga kami memang sudah tidak dekat lagi hampir dua belas tahun lamanya. Cintaku bersamanya hanya bertahan kurang dari setahun, sejak Kahlil duduk di kelas ix sementara aku di kelas xi sampai menjelang kelulusannya dan kenaikan kelasku. Selanjutnya kami kehilangan satu sama lain. Aku kehilangan seorang Kahlil Gibran. Insan yang kuanggap sebagai satu-satunya alasan kenapa orang tuaku membuangku ke panti asuhan, agar aku dipertemukan dengannya. Aku yakin, Kahlil juga kehilangan diriku, Kak Damar yang dicintainya dengan sepenuh jiwa dan raganya.

Aku mengunyah pancake. Mungkin ini akan jadi kebiasaan baruku bila datang ke coffee shop ini, memesan segelas Marocchino dan sekeping pancake. Bila kemarin-kemarin ada waiter di sini yang memberikan julukan Mr. Marocchino untukku mungkin mulai hari ini julukan itu akan berubah menjadi Mr. Marocchino dan Sekeping Pancake. Pertanyaannya, apakah Ben pernah menjulukiku demikian, minimal dalam pikirannya?

Aku mengikuti gerakan Si Waiter Muda Tampan bergerak gesit kesana kemari mengantarkan pesanan. Sekali waktu dia melirik ke arahku dan menaikkan sebelah alis tebalnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Aku memastikan dia sempat melihat senyum balasan dariku sebelum bergerak kembali bersama nampannya.

Matahari segera akan bertahta di peraduannya, membiarkan malam merajai satu bagian bumi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian membawa fajar di bagian bumi yang lain. Aku menguap lebar sampai mataku berair. Pasokan kafein untuk tubuhku hari ini memang belum maksimal. Tadi pagi aku bangun telat sehingga tidak sempat menyeduh cappuccino di apartemenku. Begitu juga saat di office, aku alpa untuk memesan segelas kopi di sela-sela pekerjaan yang seperti tak ada jeda.

Aku menatap pintu masuk coffee shop. Andai boleh aku mengharap sebuah keajaiban, aku ingin Kahlil melewati pintu itu untuk selanjutnya duduk di kursi kosong di depanku. Meraih jemariku, mengecupnya sambil berkata ‘Aku telah menemukan cintaku kembali.’ It is imposible. Seperti apa parasnya sekarang? Apakah dia tumbuh dewasa dengan ketampanan yang sama seperti ketika dia remaja dulu? Apakah dia masih suka harmonica? Apakah petir masih membuatnnya takut? Apakah dia masih mengingatku? Masihkah dia punya cinta untukku? Dan pertanyaan paling basic, apakah aku mendapat bagian dalam ingatan masa lalunya? Aku ingin mendengar jawaban-jawaban indahnya untuk semua pertanyaan itu.

Kahlil di-adopsi. Semua anak di panti asuhan memendam impian yang sama. Bahwa suatu saat mereka akan digandeng oleh ayah dan ibu adopsi yang akan mengubah hidup mereka. Orang tua angkat yang akan membawa mereka keluar dari balik dinding panti yang telah membatasi dunia kasih sayang mereka. Dinding panti yang membuat mereka harus selalu berbagi. Hal yang sangat tidak mereka senangi. Anak mana yang ingin berbagi sepanjang masa kanak-kanaknya? Sudah menjadi naluri anak-anak panti asuhan bahwa berbagi itu sangat tidak membuat bahagia. Tidak bahagia bila harus membagi mainan dengan anak lain, tidak bahagia membagi kasih sayang yang diterima kepada anak lain. Kita ingin kasih sayang itu hanya untuk kita. Kasih sayang utuh tanpa harus berbagi akan diperoleh bila kita di-adopsi. Itu stigma-nya, walau ada satu dua anak yang tidak demikian.

Aku tahu Kahlil tak ingin diadopsi bila itu membuatnya terpisah denganku. Tapi dia tidak punya pilihan untuk menolak. Andai aku yang diadopsi, aku juga tidak menemukan pilihan untuk menolak. Sebelumnya, Kahlil memang punya harapan kalau suatu saat dia akan diangkat menjadi anak. Itu sebelum cinta menyatukan hatinya dengan hatiku. Saat dia dan aku sudah terhubung secara emosi dengan formula yang sulit dijelaskan, maka dia menyatakan bahwa cinta kami lebih berharga dari pada kasih sayang orang tua angkat manapun di jagat raya.

Kahlil memang membuktikan ucapannya itu, aku dapat merasakan kebenaran ucapannya ketika aku di sana. Namun itu tak dapat membuatnya untuk tetap tinggal. Pada akhirnya, aku menganggap bahwa itu adalah garis hidup yang mau tidak mau harus dilakoni.

Masih kuingat malam sebelum dia akan dijemput esoknya. Aku tau kalau malam itu dia tak akan pernah terlelap seperti malam-malam yang lewat. Di bawah ranjangku dia masih terjaga, menunggu larut malam saat anak-anak lain dibuai mimpi untuk naik ke atas tingkat tempat tidurku. Aku membiarkan dia menangis tanpa suara sambil memelukku. Jika ingatanku benar, dia baru tertidur menjelang subuh. Kalimat pertama yang diucapkannya saat terjaga di awal pagi adalah ‘Andai aku punya satu permintaan untuk dikabulkan, aku akan meminta agar cinta yang ada dalam hatiku untuk Kak Damar tak pernah pupus biar zaman berganti…’

Aku menangis pagi itu. Tak ada kalimat yang bisa kulontarkan. Sehebat itukah rasa cintanya untukku?

“Baterkap pergi bukan karena ingkar atau menyalahi cinta yang telah kita bangun berbulan yang lalu. Kak Damar lebih tahu bagaimana cinta Baterkap. Aku mencintai Kak damar dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Jika suatu saat raga kita tak pernah dekat lagi, maka cinta itu akan hadir dalam kenangan…percayalah.”

Itu adalah kalimat terakhir dari Kahlil yang kudengar sebelum dia melangkah masuk ke dalam mobil. Kalimat yang amat sering diucapkannya. Dan bodohnya, aku tak bisa membalas ucapannya waktu itu walau hanya dengan satu kata saja. Lidahku kelu, hanya mata yang terus basah berkabut memandangi mobil yang bergerak perlahan membawa kepingan hatiku pergi. Itulah kali terakhir aku melihatnya.

Ahh… mataku benar-benar berkabut sekarang. Cengeng. Gelas kopiku masih bersisa setengahnya. Masih cukup hangat di kerongkongan. Aku menyesapnya, menikmati rasanya yang mengalir sampai ke perut. Ku lirik meja Si Barista dengan mesin kopinya yang terus aktif. Ben sedang menunggu nampannya selesai diisi. Aku kembali mengamati bagian belakangnya. Atletis. Aku juga pernah melewati usia muda sepertinya. Usia persiapanku untuk menuju kemandirian saat aku dewasa.

Aku tetap di panti asuhan sampai SMA-ku selesai. Tak ada yang mengadopsiku. Mungkin usiaku sudah terlampau tua untuk diangkat menjadi anak. Aku menamatkan sekolah menengah atas-ku dengan sangat brilliant dan berhak kuliah dengan beasiswa penuh. Saat itulah aku lepas dari panti. Terus terang, lumayan berat bagiku meninggalkan tempat yang telah membesarkanku itu. Tempat kenangan manis berujung pahitnya perpisahan tertoreh dalam lembar hidupku. Namun aku bukan orang pertama yang keluar dari panti saat dia dianggap sudah mandiri. Banyak mereka yang sudah mendahuluiku.

Dan begitulah, selanjutnya aku kuliah dan tinggal di asrama selama empat tahun. Setelah itu melanjutkan study-ku dua tahun lagi. Selama masa itu pula aku terus berusaha menemukan Kahlil. Melacaknya di situs pertemanan, friendster, bloger, facebook, twitter, yahoo dan jejaring sosial lainnya namun nihil. Aku tak pernah menemukan Kahlil Gibran-ku kembali. Hingga akhirnya aku berhenti mencari dan menghidupkannya dalam kenanganku.

Selesai kuliah, aku langsung mendapat panggilan kerja di perusahaan yang sangat berpengaruh di Jakarta. Itulah awal kemandirian dan ke-mapan-anku hingga sekarang. Dua tahun aku bekerja di tanah air sampai setahun lalu aku diutus ke negeri kanguru ini. Tepatnya di Melbourne, kota indah dengan kemajuan tekhnologi. Aku senang di sini, rasanya seperti seorang petualang yang memulai lembaran hidup baru. Meskipun kenangan itu masih muncul sesekali saat aku sendirian berjalan kaki menyusuri tepian Sungai Yarra di hari libur, pun demikian ketika menikmati panorama Melbourne dari dalam Sky Deck di lantai delapan puluh delapan Eureka Tower di kawasan Southbank. Selain di coffee shop ini, Kahlil juga masih sering muncul saat aku berangkat kerja di dalam Trams -angkutan listrik kota Melbourne.

Ayolah Damar, berhenti menjadi pemuja kenangan. Yakinlah bahwa Kahlil-mu sekarang bahagia entah dimana. Dia mungkin memang akan mengingatmu dalam kenangannya seperti ucapannya dulu, tapi kalian tak akan bercinta dengan kenangan selamanya kan? Usiamu dua puluh delapan sekarang, berapa kali kamu telah jatuh cinta? Satu kali dulu, selebihnya kamu hanya jatuh cinta pada ingatanmu. Usiamu dua puluh delapan sekarang, berapa kali kamu sudah memeluk wanita seperti kamu memeluk Kahlil di tempat tidurmu dulu? Tidak ada, bahkan pria selain dirinya pun tidak. Mencintai tanpa memiliki adalah kesia-siaan kan? Ingat, Kahlil pernah mengatakannya dulu. Apa artinya sekarang? Artinya, kamu sudah menyia-nyiakan cintamu selama hampir dua belas tahun lamanya. Sadarkah kamu? Ayolah Damar, jujurlah pada dirimu sendiri. Tidakkah kamu menginginkan kebahagian nyata bukan semu seperti selama ini? Mindaku bergejolak. Ya, aku inginkan kebahagiaan itu.

 

Hari sudah gelap. Lampu-lampu kota Melbourne mulai berpendar. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Ben. ‘… Saat aku membawa bil-nya nanti, kamu sudah punya jawaban yang lebih indah…’ Thanks Kahlil, tidak seperti biasanya. Hari ini ingatanku tentangmu menyadarkanku dari selusin tahun kesia-siaanku.

Aku meneguk habis sisa gelasku lalu meletakkan kembali mug besar itu ke meja dan setelah itu mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Aku siap sekarang. Apapun efeknya nanti, kita tak akan pernah tahu bila tidak mencoba kan?

Ben tertawa melihatku berlaku demikian. Aku tahu, pasti saat ini hatinya berkata ‘Kebiasaan baru Mr. Marocchino dan Pancake saat meminta bil, tidak seperti biasanya dengan membunyikan lonceng kecil di meja seperti pelanggan lainnya.’ Kulihat dia saling lirik dan bicara sebentar dengan Si barista, wanita kulit hitam dengan mata bulat berjauhan. Aku tahu namanya Monique. Ben mengambil nampan dan kertas bil lalu berjalan tegap menuju mejaku.

“Bil anda Sir, Endra…!” Ujarnya sambil meletakkan kertas bil di depanku lalu kembali menyelipkan nampan ke balik lengannya.

“Aku sudah punya jawaban indah yang kau minta…” Cetusku tanpa merespon bil yang diletakkannya di depanku.

Dia mengulum senyum. “Ya kah… tell me ‘bout it!”

“I LOVE YOU…” Jawabku mantap dengan suara yang cukup jelas didengar dari jarak lima meter. Dua orang pria tua yang duduk tiga meja di belakangku menoleh sesaat lalu kembali asik dengan cangkir mereka.

Ben terdiam menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Aku berjaga-jaga kalau dia sampai mengayunkan nampannya ke mukaku, atau melayangkan tinjunya secara tiba-tiba untuk mematahkan hidungku. Atau kemungkinan terburuk, meja berat ini akan berpindah menindihku secara tak terduga. Wajah Ben sama sekali jauh dari kesan gembira, membuat aku semakin waspada dengan segala kemungkinan tadi. Aku tidak ingin keluar dari coffee shop ini melalui dinding kaca di sampingku.

“Ehemm, you know what, Endra…” Dia menggantung ucapannya. Jika ini di film action dimana aku adalah bastard sedangkan Ben adalah hero-nya, saat ini pasti adalah adegan dimana Si Hero mengepalkan jari-jarinya hingga berbunyi kreeek kreekk krekk. Tapi ini bukan film action, ini adalah saat penentuan masa depan cintaku di negeri orang.

Aku merasa sedikit menciut, lalu menggelengkan kepalaku satu kali, lalu satu kali lagi.

“Aku mengira kalau kalimat itu tak akan pernah keluar dari bibirmu sampai kapanpun…”

Oh tuhan.

“Mengapa kamu harus menunggu hampir satu tahun untuk mengatakannya?”

Rasanya aku tersengat aliran listrik sekarang. “Mengapa kamu baru membuatku memesan pancake sekarang?” Kalimat konyolku.

“My god. Jadi kamu menunggu signal dariku yang lebih muda? Seharusnya kamu yang lebih tua lebih jeli melihat…!”

“Hey, aku tidak setua itu. I am twenty eight years old. Okey!” Protesku tak mau terima.

“Dua delapan? Aku mengira kau dua lima?” Ucapnya.

“Aku yakin kamu dua puluh tahun sekarang.” Tebakku.

“Dua dua!” Jawabnya cepat.

Aku tertawa kecil.

“Aku bahkan sudah mulai yakin kalau kamu bukan G…” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, meniru gerakanku tadi. “Dan aku sudah hampir berputus asa, tidak ingin mengantarkan gelasmu lagi sampai kapanpun.”

Tawaku melebar. “Sorry…!” ujarku kemudian. “Jadi, jawaban apa yang akan kuperoleh, Ben???”

“Of course, i love you too..! Memangnya jawaban apa yang kau pikirkan bisa kuberikan selain itu?” jawabnya cepat dan tersenyum lepas.

Ben membalikkan badannya ke arah meja Monique. Membulatkan ibu jari dan telunjuknya pada Si Barista berkulit sehitam kopi itu. Kulihat Monique melakukan hal yang sama untuk Ben dan tersenyum ramah kepadaku. Aku membalasnya dengan sebuah anggukan. Ternyata Monique seorang kawan yang cukup mengerti.

Ben berbalik kembali menghadapku. “Sif-ku selesai sepuluh menit lagi.”

“Aku akan menunggu di luar, emm di sana…” Tunjukku pada tiang lampu tunggal di luar coffee shop. Tiang lampu model klasik.

“Aku tak akan lama.” Ben mengambil kertas bil-ku lalu hampir tak terlihat mendaratkan ciuman kilatnya di pipi kiriku sebelum bergegas pergi. Marocchino dan pancake pertama-ku hari ini free.

Aku tak menunggu lama. Sepuluh menit sejak aku keluar dari coffee shop dan berdiri di bawah tiang lampu klasik ini, Ben sudah berada di sampingku. Seragam hitam putihnya sudah berganti dengan celana denim biru tua dan kemeja putih ketat dengan dua kancing atas terbuka menampakkan garis dadanya. Dia terlihat berkali-kali lebih tampan dari waiter yang biasanya mengantar pesananku di dalam sana. Aku memandanginya lama dari ujung sepatu sampai ujung rambut coklatnya.

“Kenapa melihatku seperti itu? Menyesal telah mengatakan cinta pada seorang pelayan coffee shop?” Dia membuka suara.

Aku menggeleng. “Masih tak percaya kalau aku bisa punya pacar bule Ausie…”

Dia terkekeh. “Ayahku Singapore asli. Ibu campuran Ausie-Filipine. Jadi kamu gagal mendapatkan pacar bule Ausie asli.”

“Waow, kompleks. Itu sebabnya matamu gelap?”

“Aku lebih banyak gen ayahku.”

“Your family?” Tanyaku.

“Perth.” Jawab Ben. “Aku ingin mandiri. Menurutku Melbourne kota yang tepat untuk itu.”

Aku manggut-manggut. “Bagaimana kamu…”

“Endra, kapan kau akan menciumku kalau bertanya terus?” potongnya.Aku tertawa. “Sorry.”

“Untuk satu ciuman, maafmu diterima.”

Lalu kami berciuman. Menyapukan bibir kami satu sama lain. Tidak lama, ciuman singkat untuk pasangan kekasih yang baru resmi lebih sepuluh menit yang lalu.

Kulihat Ben tertawa. Menciumku sekali lagi sebelum menggandeng sikuku berjalan menyusuri jalanan kota Melbourne. “Ceritakan padaku, bagaimana orang Indonesia tampan sepertimu bisa terdampar di coffee shop itu?” Dia mempererat rangkulannya di lenganku.

“Darimana kamu dapat memastikan aku orang Indonesia?” Tanyaku sambil meremas jemarinya. “Hey tunggu. Itu tidak penting. Bagaimana kamu dapat berkesimpulan bahwa aku G? kamu menduga begitu kan selama ini?” Aku balik bertanya.

Dia terbahak lalu menggesekkan puncak hidungnya di sisi wajahku sebelum menjawab. “Aku dapat membaui semua G Indonesia dari jarak seratus meter…”

“Sialan.” Gerutuku yang membuat tawanya semakin kencang. “Oh come on Ben, darimana kamu dapat menyimpulkan.”

“Seorang pria dewasa, tampan, mapan dengan fisik sempurna menghabiskan sore sepanjang tahun di coffee shop sendirian tanpa sekali pun ditemani oleh seorang gadis cantik. Menurutmu, tidakkah itu menunjukkan sebuah indikasi?” Jawabnya sangat meyakinkan.

“Damn it.” Sangat mencolok memang.

Dia tertawa. “Aku pria beruntung bisa mendapatkanmu Endra.”

“Kamu beruntung karena bekerja di coffee shop itu.” Balasku sambil menariknya merapat ke dinding toko yang sudah tutup.

Di sini di bawah remang lampu jalan aku memeluknya erat. Melumat bibirnya yang berkarakter. Merasakan tekstur tubuhnya tercetak di tubuhku. Ben menekanku kepadanya, nyatanya dia lebih jantan dari yang kukira sebelumnya. Dia membimbing tanganku ke tengah tubuhnya. Sambil tersenyum dia berkata “Tidak pernah dia sekeras dan sekaku ini Ndra…”

Aku tertawa. “Kita punya banyak waktu untuk membuktikan kekerasan dan kekakuannya Ben, juga punya cukup waktu untuk tahu kekuatan dan daya tahannya.” Lalu aku menggandeng tangannya kembali.

Ben tertawa pelan. “Perkataanmu hanya membuat aku semakin sesak di dalam sini…” Lalu dia mengecup jemariku. “Melbourne, I find love tonight…”

Kami berjalan bersama dalam cahaya temaram Kota Melbourne, meninggalkan coffee shop yang semakin jauh di belakang. Jika aku kesana lagi besok, lusa atau kapanpun, maka aku akan dilayani oleh kekasihku sendiri. Ben, Waiter Coffee Shop paling hottie yang dengan senang hati kusebut kekasih. Itu artinya aku akan sering mendapatkan marocchino dan pancake free… hihihiii…

***

Jika harus ada sebait epilog, maka inilah yang dapat aku tulis…

I think that possibly maybe I’m falling for you

Yes theres a chance that I’ve fallen quite hard over you

I’ve seen the paths that your eyes wander down

I wanna come too

I think that possibly maybe I’m falling for you

No one understands me quite like you do

Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was

About this old coffee shop I love so much

All of the while I never knew

I never knew just what it was

About this old coffee shop I love so much

All of the while I never knew

I think that possibly maybe I’m falling for you

Yes theres a chance that I’ve fallen quite hard over you

I’ve seen the waters that make your eyes shine

Now I’m shining too

Because oh because  I’ve fallen quite hard over you

If I didn’t know you I’d rather not know

If I couldn’t have you I’d rather be alone

I never knew just what it was

About this old coffee shop I love so much

All of the while I never knew

I never knew just what it was

About this old coffee shop I love so much

All of the while I never knew

All of the while

All of the while it was you

[Landon Pigg, Falling In Love At The Coffee Shop Lyrics]

 

Cinta yang agung adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya. Adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia. Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘aku turut berbahagia untukmu.’

Apabila cinta tidak berhasil, bebaskan dirimu. Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi. Ingatlah, bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya. Tapi, ketika cinta itu mati kamu tidak perlu mati bersamanya…

(Kahlil Gibran (1883-1931))

Lucu memang, dua belas tahun aku tak bisa melupakan Baterkap sebagai cinta terlarang pertamaku dan punya keyakinan bahwa aku akan terus seperti itu. First love never dies, itu benar. Tapi ketika kamu sadar bahwa cinta pertamamu bukanlah masa kini dan masa depanmu, maka itu adalah saat dimana kamu harus berkata ‘Second love is my life now.’ Atau ‘Love is the third time ahead of me.’ Cintai dia yang bukan cinta pertamamu itu dengan sepenuh jiwa dan ragamu. Ben memang bukan cinta pertamaku, tapi dia adalah orang pertama yang sabar menunggu kalimat I love you dari bibirku hampir satu tahun lamanya. Dan kalian tahu? Aku tak pernah merasa hidupku seutuh ini sebelum bertemu dengannya. I love you like crazy, Ben… Most beautiful man who I ever had

Awal Januari 2012

Sebuah catatan kecil dari orang kecil pula

Peace, love and pee

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

                nay.algibran@gmail.com