an AL GIBRAN NAYAKA story

#######################################################

CUAP2 NAYAKA

Assalamualaikum…

semoga sahabat sehat sejahtera.

ini juga bukan gay themed. ini fiksi pada umumnya. cerpen ini juga selesai kutulis sudah sangat lama. kalau tak salah ketika aku sekolah menengah dulu, jaman aku masih suka2nya baca majalah ANIDA. temanya islami, pas kan untuk dibaca di bulan ini. hehehee, aku cari kesempatan untuk publish nih tulisan.

sangat singkat, standar sebuah cerpen banget. singkat padat jelas. aku harapkan bisa menghibur sahabat semua.
seperti biasanya, kurang lengkap jika aku tak mengatakan ini ; semoga kalian menikmati mebaca NASYID, HIDAYAH Dan MUSLIMAH-KU seperti aku menikmati saat menulisnya.

love u all

wassalam

-n.a.g-

#######################################################

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian

Melainkan yang beriman dan beramal shaleh

Gunakan kesempatan yang masih diberi Moga kita takkan menyesal

Masa usia kita jangan disiakan Kerna dia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara

sehat sebelum sakit

Muda sebelum tua

Kaya sebelum miskin

lapang sebelum sempit

hidup sebelum mati

………”

[Demi Masa-Raihan]

 

Sayup-sayup senandung nasyid itu menggema di telingaku. sejak aku pindah kost, selalu saja setiap pagi aku mendengar lagu nasyid yang sama, walau kurang suka, tetapi aku tidak berani melarang gadis muslimah tetangga ibu kostku yang selalu memutar kaset bernafaskan religi pas jam enam pagi, waktu penghuni se-kostku masih asyik dibuai mimpi.

***

“Jun… bangun …!!! udah siang nih… loe gak pergi kuliah…?”

teriakan Fauzi dan gedoran keras di pintu membuat aku terjaga. dengan malas aku bangun dari tempat tidur dan menyeret langkah menuju pintu kamarku.

“Kenapa sih loe, pagi-pagi udah teriak depan kamar orang… huaaahh…” aku menguap panjang.

“Pagi loe bilang, sekarang tuh udah jam sembilan, gak kuliah loe!” Fauzi berkata sambil menunjukkan jam kepadaku.

Aku menebak, kalau bukan karena benar-benar ingin membangunkanku, pasti Fauzi ingin memamerkan jamnya yang baru dibeli, anak itu memang suka sekali memamerkan barang-barang yang baru dibelinya. Dan aku baru pertama kali melihat Fauzi memakai jam tersebut.

“Alaaa… bawel banget sih loe…”

“Eh, diingetin malah ngatain orang bawel, ntar kualat loe” Fauzi marah-marah sambil berkacak pinggang, gaya khasnya kalau lagi marah, persis seperti mandor yang sedang memerintah anak buahnya untuk kerja.

“Ah, brisik. Loe mending pergi aja, gue bolos hari ini” aku segera membanting daun pintu dan kembali berjalan menuju ranjang, meneruskan tidurku yang sempat terganggu oleh Fauzi. tidak kuhiraukan lagi ocehannya yang mengumpat di luar kamar.

***

Pagi ini, seperti biasanya aku lagi-lagi mendengar nasyid yang mengalun dari kamar gadis muslimah itu, kamarnya yang terletak tepat di depan jendela kamarku benar-benar memberikan kesempatan kepada suara tapenya untuk mengganggu indra pendengaranku. Dan anehnya aku selalu terbangun tepat saat lagu itu dibunyikan, selalu pada pukul enam pagi dan juga selalu dengan alunan nasyid yang sama. Seakan-akan lagu nasyid tersebut memang sengaja dikhususkan agar membangunkan aku untuk mengerjakan shalat subuh…..

Aku tersentak, mataku membuka lebar, jiwaku seakan menggigil. Sejenak aku tersadar dengan pikiranku barusan. Shalat….  ya, shalat. betapa selama ini aku telah melupakanNya, asyik dengan segala warna warni dunia. Bukankah kita tidak selamanya hidup di dunia ini? Seperti senandung nasyid gadis muslimah itu ‘ingat lima perkara sebelum lima perkara….’

Dengan tergesa aku bangun, berwudhu dan kemudian bersujud mengharap ampunan dariNya. Aku menangis di atas sajadah yang selama ini tidak pernah kusentuh, di atas sajadah panjang aku terpekur lama, mengingat diri yang berlumur dosa.

“Ya Allah… ampunilah dosa-dosa hamba. tunjukanlah dan tuntunlah hamba ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang engkau beri petunjuk, jalan yang engkau ridhai…” lirih doaku yang diselingi isak tangis yang kian menjadi.

***

Sore ini, tanpa sengaja aku melihat gadis muslimah itu. Nampaknya dia baru pulang kuliah, turun dari angkot dan berjalan masuk gang menuju rumahnya, rumah yang tepat di samping kost-ku. Aku terpegun sesaat, Fauzi mencolek bahuku.

“Kok bengong.. terpesona ya sama si Nurul.” goda Fauzi.

“Namanya Nurul?” tanyaku.

“Kenapa, loe naksir! biasanya loe kan gak doyan sama yang ketutup kaya’ gitu, sejak kapan selera loe berubah.” ucap Fauzi sambil menunjuk Nurul yang semakin menjauh.

“Aku duluan ya…!”

Segera kususul Nurul dengan berlari, meninggalkan Fauzi yang heran dengan sikapku. Aku mencoba menjajari langkah Nurul. Gadis berjilbab itu berhenti dan membalikkan badan menghadap ke arahku.

“Maaf, ada apa ya…?”

“Engg…anu…” aku gugup, bicaraku jadi seperti orang gagu, benar-benar salah tingkah. Aku yakin seratus persen, pasti di belakang sana Fauzi sedang tertawa melihat tingkahku. Nurul tersenyum, begitu manis, riak kerudungnya melambai gemulai ditiup angin. Untuk beberapa detik, aku seperti tersihir.

“Bang Jun kan….” ucapnya kemudian

Kali ini aku terkejut, kenapa dia bisa tahu namaku. aku mengangguk. Nurul mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya dan menyodorkan kepadaku.

“Undangan dari bapak untuk anak-anak kost. Nanti malam ada syukuran di rumah. Datang ya, amanah….”

Aku menerima undangan yang disodorkan Nurul, mulutku masih terkunci. Sulitkah mengucapkan syukran?

Nurul kembali tersenyum menampakkan deretan gigi putih dan lesung pipitnya yang indah. Aku lagi-lagi tersihir untuk kedua kalinya.

“Nurul pikir tadi mau kasih ke rumah aja, tapi nampaknya udah keburu sore, Nurul juga harus bantu-bantu di rumah. Gak apa kan ngasih di jalan gini?”

Aku menggeleng. Sungguh, tak ada suara yang bisa kukeluarkan, aku jatuh dan terkunci di bawah sinar matanya yang jernih dan pesonanya yang membekukan. Waktu seolah berhenti untukku. Nurul, Kharisma dan martabat muslimah tersemat padanya. Terlalu agung bahkan untuk sekedar disapa sekalipun.

“Udah ya, jangan lupa datang… assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…” Jawabku. Yah, aku mampu membalas salam sejahteranya. Masih bingung kenapa dia bisa tahu namaku?

***

Malam itu, bakda isya aku dan lima kawan kostku lainnya datang memenuhi undangan ayahnya Nurul, dia menyambut kami dengan ramah. Acara tersebut diadakan sebagai bentuk syukur atas kenaikan jabatan ayahnya Nurul di perusahaan tempat beliau bekerja.

Aku tidak segera pulang ketika acara selesai. Nurul mengajakku mengobrol di teras rumahnya. Fauzi dan yang lainnya pamit duluan dengan alasan ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, padahal aku tahu mereka pasti kekenyangan karena terlalu bernafsu mengembat semua jenis makanan yang disediakan tuan rumah sehingga tidak mampu menahan perut berat lama-lama, harus mencari tempat untuk meluruskan badan, dimana lagi kalau bukan di tempat tidur.

“Makasih ya udah mau datang.” Nurul membuka pembicaraan.

“Sebenarnya kan aku yang harus berterima kasih, karena Nurul sudah mau mengundang kami.” Bahkan aku merasakan lidahku terlalu segan berbicara dengannya, kalimatku menegang di ujung lidah.

Nurul mengangguk, tangannya asyik mempermainkan ujung kerudung biru muda yang dikenakannya. lama kami hanya diam. Beberapa tamu yang hendak pulang berpamitan pada Nurul. Gadis itu tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia hadir di rumahnya.

“Bang Jun kok gak pernah keliatan di mesjid.” ucapnya setelah tamu-tamu itu pulang.

Deggg… pertanyaan itu menohok hatiku. Walaupun terkesan hanya basa-basi dan sambil lalu, tapi bagiku itu bukan sekedar pertanyaan sambil lalu. Sejak aku insaf dan sadar dari kelalaianku, aku memang belum pernah shalat berjamaah di mesjid, padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kostku. Aku lebih suka shalat sendiri di kamar. Aku gugup untuk beberapa saat, tidak tahu harus menjawab apa. Mataku tak lepas memandangi lantai teras rumah Nurul, entah apa yang menarik di sana.

“Bentar ya.” Nurul bangkit Dari duduknya dan masuk ke dalam rumahnya. tidak berapa lama kemudian dia kembali, tangannya menenteng sebuah buku dan menyodorkannya kepadaku. “Nih…” katanya.

Aku menerima dan membaca judul buku yang diberikan Nurul. ‘FADHILAT SHALAT BERJAMAH’

“Bang Jun bawa pulang saja, baca-baca di kost, asal jangan dibuang, mungkin bisa buat nambah wawasan tentang shalat berjamaah.”

Ah, aku semakin takjub dengan gadis berjilbab ini, di sisi lain aku malu pada diriku sendiri, betapa naifnya aku selama ini. Nurul benar-benar membuat aku mengerti, bahwa hidup itu bukan kekal, hanya sementara. Selagi kita masih kuat untuk beribadah yang lebih sempurna kenapa kita harus bangga dengan hanya melakukan yang secuilnya saja. Dengan caranya yang halus dan tidak menyingung sedikitpun, Nurul menuntunku dalam islam hakiki, buku ini salah satu caranya.

“Kalo gitu aku pulang dulu ya, makasih bukunya.” Kataku setelah diam cukup lama, aku bangkit pulang setelah sebelumnya berpamitan pada ayah Nurul

***

Sejak malam itu aku mulai akrab dengan Nurul dan sudah sering main ke rumahnya, berdiskusi tentang kuliah kami berdua, tentang islam, jihad, atau mazhab, mengenai kabar-kabar yang sedang hangat dibicarakan orang dan masalah-masalah lain yang menurut kami asyik untuk diperbincangkan. Berkat Nurul aku kini telah tahu banyak hal mengenai tata cara ibadah menurut sunnah dan kalam Allah. sejak malam itu juga aku sudah rutin shalat berjamaah di mesjid. Kami sering pergi dan pulang kuliah sama-sama. Nurul tipe gadis yang lugu, polos dan sederhana, kepintarannya selalu membuat aku kagum. Sifatnya itulah yang selalu membuat aku merasa tenang bila ada di dekatnya. Kadang-kadang dari bibirnya mengalir lirik-lirik nasyid yang selalu diputarnya bakda subuh itu. Dia gadis muslimah yang baik, tau batasan pergaulan menurut agama, walaupun kami sering berdua tapi tak pernah Nurul berlebihan, begitu pula aku, selalu menghormati Nurul, sebagai wanita dan sebagai seorang muslimah yang taat. Wanita islam terpancar dari tingkah dan lakunya, muslimah menjadi identitasnya.

***

Sudah tiga hari ini aku tidak melihat Nurul. Dia tidak ada di kampus, juga di mesjid bila tiba waktu shalat. Pagi setelah subuh pun aku tidak lagi mendengar senandung nasyid dari kamarnya. Jujur, sekarang aku merasa sangat merinduinya, rindu melihat senyumnya yang berlesung pipi, rindu mendengar argumennya saat kami berdebat, rindu melihat wajah teduhnya yang dibalut kerudung, dan aku rindu mendengar senandung nasyid dari bibirnya. Padahal baru tiga hari kami tidak berjumpa. aku cemas dan batinku berfirasat, telah terjadi sesuatu pada Nurul.

***

Sore esoknya, sepulang kuliah aku memutuskan untuk mampir ke rumah Nurul. Rumah itu terlihat sepi.

“Tok…tok…tok” kuketuk pintu perlahan sambil mengucap salam. Tidak lama kemudian terdengar ucapan orang menjawabnya dari dalam, pintu dibuka. Sesosok tubuh jangkung milik ayahnya Nurul menyembul di pintu.

“Oh, nak Jun, mari masuk, kok belakangan ini tidak sering ke rumah lagi ?”

“Banyak tugas di kampus pak, jadi gak sempat kemana-mana.” jawabku beralasan. Lelaki paruh baya itu manggut-manggut dan tersenyum penuh wibawa.

“Nurulnya ada pak…?” tanyaku langsung ke tujuan aku datang kesitu, ingin menemui Nurul dan ingin tahu  kenapa dalam empat hari ini dia tidak pernah nampak.

“Oh…nak Nurul…! dia kan sudah pulang ke Aceh, beberapa hari yang lalu dia menerima telegram dari kakaknya, ayahnya sakit keras…”

Aku kaget, dahiku berkerut. “Loh… bukannya bapak ini ayahnya Nurul…?”

“Nak Jun ini bicara apa toh, saya bukan ayahnya Nurul! dua tahun yang lalu orang tuanya menitipkan Nurul pada saya karena kuliah di sini, kebetulan almarhumah istri saya adalah sahabat ibunya Nurul.”

“Tapi…” ucapanku menggantung.

“Tapi apa Nak Jun?”

“Ah, gak apa-apa pak, kapan Nurul pulang ke Aceh?”

“Empat hari yang lalu, begitu menerima telegram dari kakaknya dia langsung bersiap-siap pulang, Nurul sangat terpukul menerima kabar tersebut, semoga Allah memberikan yang terbaik baginya.”

Beberapa saat lamanya aku tak bisa berkata apa-apa, hanya tegak di depan into. Kenapa Nurul tidak mengabari aku, apakah dia tidak menganggap aku ada, padahal selama ini bisa dikatakan aku selalu ada dimanapun dia ada.

“Kalo begitu saya pamit dulu ya pak…!”

“Eh, tunggu nak Jun! bapak hampir lupa…”

tergopoh-gopoh lelaki paruh baya yang kusangka ayah Nurul itu masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian dia keluar membawa bungkusan kecil segi empat yang bersampul ungu.

“Sebelum pergi, Nurul nitip ini sama bapak untuk diserahkan kepada nak Jun bila ke sini, ini ambillah!” lelaki itu menyerahkan bungkusan ungu tersebut kepadaku.

“Apa ini pak?”

“Bapak juga tidak tahu nak.” ucapnya sambil menggeleng.

“Kalo begitu terimakasih banyak pak, saya pamit, assalamualaikum

“Waalaikumsalam…”

***

Sesampainya di kost, aku segera menuju ke kamarku. Hatiku galau, ada kesedihan yang menyergap batinku, aku merasa sangat kehilangan dengan kepulangan Nurul ke kampung halamannya. tak kuperdulikan teriakan Fauzi dan anak-anak lain yang memintaku membantu mereka memperbaiki genteng yang rusak. Mereka bersungut-sungut.

“Kenapa tuh anak…” oceh Fauzi.

“Disambar gledek kali.” celutuk yang lain.

“Kalo kaya’ gitu mah bukan disambar gledek aja, tapi habis disambar gledek langsung dicium petir, wusss….” ujar Ihsan yang memang suka membanyol sambil memonyongkan bibirnya sampai beberapa sentimeter ke depan. kontan semua anak-anak tertawa.

Aku terus melangkah masuk ke kamar, kubiarkan suara-suara ribut mereka untukku. Kulempar tas ranselku ke atas tempat tidur. Perlahan-lahan kubuka bungkusan segi empat kecil bersampul ungu itu. “Kaset…” bisikku begitu sampul terbuka. ‘RAIHAN, KUMPULAN NASYID TERBAIK…’ aku membaca judul kaset itu dalam hati. Tanganku membalikkan kaset tersebut, ternyata di balik kaset itu ada sepucuk surat. Kubuka lipatan lembar surat itu dan perlahan kubaca isinya.

Assalamuailaikum wr. wb

Bang Jun… sebelumnya Nurul minta maaf karena telah berani memberikan surat buat Bang Jun, Nurul juga minta maaf karena pergi tanpa memberitahukan kepada Bang Jun. Kalau boleh jujur, Nurul merasa bahagia selama bersama Bang Jun. Nurul tidak tahu apakah perasaan ini benar, Nurul takut bilaperasaan ini menimbulkan zina di hati, membuat Nurul dibenci olehNya, sang pencipta cinta. Maafkan  Nurul karena tanpa setahu Bang Jun diam-diam Nurul mencintai, mengagumi dan Nurul menginginkan Bang Jun sebagai pendamping hidup Nurul, sebagai imam Nurul.

Semenjak Bang Jun pindah ke kost itu, diam-diam Nurul suka memperhatikan Bang Jun, nurul berusaha mencari tahu tentang Bang Jun, tapi Nurul sedikit kecewa saat tahu kalau Bang Jun ternyata belum menjadi muslim yang baik, karena itulah Nurul selalu mengusik ketenangan pagi Bang Jun dengan sengaja menghidupkan lagu nasyid dengan harapan agar Bang Jun menyadari akan makna lirik dalam nasyid itu, ternyata usaha Nurul tidak sia-sia, Bang Jun mulai berubah, dan perubahan itu membuat Nurul semakin mengagumi Bang Jun.

Nurul tahu itu dosa, tapi hati ini tak dapat menyangkal bahwa perasaan cinta itu ada, sekali lagi maafkan bila Nurul terlalu lancang

Sekarang Nurul lega dapat meluahkan rasa ini kepada Bang Jun, terlepas dari Bang Jun mencintai atau tidak, yang pasti Bang Jun telah tahu bahwa ada seorang gadis yang mencintai dengan setulus hati, segenap jiwa raga tapi tetap tanpa melebihi cinta Nurul kepada Allah. Nurul tidak dapat memberikan apa-apa selain kaset ini, tolong dijaga, karena mungkin suatu saat nanti Nurul akan mengambilnya, entah kapan itu masanya. Harapan Nurul semoga Bang Jun tetap dalam hidayahNya. Terakhir… tolong doakan kesembuhan ayah Nurul….

wassalam

                Nurul Zahra Afifah

Aku terdiam, mataku basah. Kugenggam kaset itu erat. Aku tidak dapat mendustakan diriku sendiri bahwa di hatiku pun ada cinta buat Nurul, sama besar dengan cinta Nurul kepadaku, sama kuatnya dengan cinta Nurul kepadaku, walaupun dia tidak pernah mengatakan secara langsung padaku, itu karena dia sadar posisinya sebagai gadis muslimah. Aku menyesal kenapa terlambat menyadari bahwa ada cinta yang begitu besar di hati Nurul untukku. Saat ini aku merasakan kalau Nurul sedang bersedih. Semoga jalan takdir mempertemukan kami kembali dalam pertautan dua insan yang diridhaiNya. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai imam dan yang diimami.n

END

dekdie_ishaque@yahoo.com