an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Apa yang harus aku katakan??? Aku takut kalian sudah jengkel membaca pengantar dariku. Ini adalah cerpen ketigaku yang kuharapkan bisa menghibur kalian –para sahabatku. Lelah, tentu saja, tapi aku puas kini. Kalian yang menulis pasti setuju bila aku bilang, ‘Nikmat saat kita selesai menulis sebuah cerita sama dengan kenikmatan dan kepuasan saat kita orgasme bersama pasangan kita.’ Kekekekek… Tapi jujur yea, aku belum pernah mengalami orgasme bersama pasangan. Hahaa…

Kali ini aku mengangkat tema yang biasa dan sudah sangat sering diangkat dalam banyak tulisan bertemakan cinta begini. Aku ingin menguji diriku sendiri, mampukah aku menulis dengan tema itu? Aku beri judul tak menarik seperti di atas. Bukan cerita bagus kok, hanya cerita biasa dari orang yang biasa pula. Semoga kalian tak butuh ember saat sampe ending-nya, itu pun jika kalian sanggup memelototin hingga akhir. Oh ya, alur dan ending-nya memang sudah bakal ketebak dari awal bahkan sebelum masuk ke percakapan pertama. Kuharap tidak mengecewakan.

Last, macem biase… taulahhh. Kritik. Aku yakin tulisan ini sangat pantas dikritik. Okey, itu saja. Semoga kalian menikmati membaca LHOKNGA, WHEN LOVE TALKING seperti aku menikmati saat menulisnya. Doakan aku sehat.

Wassalam

-n.a.g-

##################################################

Ketika hatimu tersentuh cinta, kamu akan memandang dunia ini dengan pandangan sang pencinta. Pandangan dimana yang terlihat adalah kebaikan dan ketulusan. Katanya, pencinta sejati adalah dia yang selalu memberi tanpa keinginan untuk mengharap balik. Lalu muncul satu kata yang sering mengiringinya, pengorbanan. Kamu siap mencinta artinya kamu juga siap berkorban untuk cinta itu. Banyak sudah sang pencinta yang telah menunjukkan sakralnya sebuah pengorbanan dalam satu jalinan percintaan. Semua itu tertuang indah dalam roman-roman berisikan kisah cinta yang memahadaya, yang beberapa diantaranya berujung dengan kematian. Laila dan Majnun, Romeo dan Julliet, atau Samsul Bahri dan Nurbaya. Mereka adalah contoh pencinta sejati itu. Aku juga sempat punya pencinta yang demikian. Kekasihku yang rela berkorban untuk mewujudkan impian seorang remaja lelaki berhati baik, meski pada akhirnya pengorbanan itu membuatnya kehilangan cintanya sendiri. Pada akhirnya aku mengerti satu hal, perasaan cinta itu sangatlah sensitif. Sedikit saja rangsangan yang mengusiknya maka kita akan jatuh kedalamnya. Itulah yang terjadi padaku. Niat awal hanya sekedar membuatnya bahagia, nyatanya aku malah mendapatkan kebahagiaanku sendiri bersamanya. Meskipun itu tak lama…

***

“Umurnya gak lama lagi Than…” Nyak mengesat air yang hampir tumpah dari kantung matanya. “Dia sepupu terbaik yang pernah kupunya. Dan dalam masa tiga bulan ke depan kami akan kehilangannya.” Nyak bertutur penuh lara, seakan-akan dia yang mengalami itu. “Sebelum masa itu tiba aku ingin dia bahagia. Dan kebahagiaan itu hanya akan didapatnya bila dia bersamamu. Tak bisakah kamu menunjukkan perasaan sayang dan cintamu padanya?” Kembali Nyak mengulang kalimat serupa itu lagi sambil menatapku lekat. “Hanya sekedar menunjukkan saja jika memang kamu tak bisa benar-benar sayang dan cinta. Aku mohon Than, demi orang yang tak lama lagi akan meninggal…” Nyak menangis kini.

Aku masih tertegun di atas kursiku, seakan tak ingin percaya. Nyak Maneh, gadis berjilbab tetanggaku yang hampir dua tahun ini menjadi pelabuhan hatiku sanggup memintaku melakukan hal yang bagiku amat mustahil. Memintaku untuk mencintai sepupunya yang penyakitan dan kabarnya akan segera hijrah ke alam baka. Mustahil kulakukan bukan karena dia penyakitan atau karena hampir jadi arwah, tapi karena dia seorang lelaki. Sama sepertiku. Apa ini tidak gila namanya? Dunia memang mau kiamat. Banyak hal aneh yang tak masuk logika bermunculan. Bahkan di provinsi yang mendapat predikat Serambi Mekkah ini hal seperti yang diminta Nyak padaku bisa terjadi juga.

Aku menarik nafas berat. Perih rasanya mendapati Nyak sanggup memintaku melakukan hal itu. Lebih perih lagi saat melihat air mata Nyak yang menggenang. “Apa Aris tau kalau kita pacaran?”

Nyak menggeleng. “Jangan sampai dia tau…”

“Bagaimana denganmu, tidakkah itu akan membakar dirimu sendiri bila aku mau melakukannya?”

“Aku akan baik-baik saja Than.”

“Kamu tak tau peran apa yang sedang kamu mainkan sekarang Nyak.” Aku menggeleng. “Dan mengapa harus aku, tepatnya bagaimana aku melakukannya?”

“Aku sadar sepenuhnya apa yang aku lakukan sekarang Than.” Dia mengelap matanya dengan ujung kerudung yang dipakainya. “Mengapa harus kamu, karena kamulah insan pertama dan satu-satunya yang dia cintai sejak kita kanak-kanak dulu hingga sekarang.”

Aku terhenyak.

“Jika kamu tak bisa melibatkan hatimu, lakukan itu dengan sisi kemanusiaanmu. Lakukan itu karena belas kasihan untuk orang yang hampir mati.” Dia kembali mengatakan kalimat serupa entah yang ke berapa kalinya.

Aku diam, pikiranku menerawang. Kulihat Nyak membolak-balik sebuah buku bersampul hitam yang sekilas tampak seperti buku agenda.

“Ini diary-nya.” Dia menatapku. Kabut di matanya masih bersisa. “Tadi pagi aku ke kamarnya bermaksud untuk beres-beres hingga aku menemukannya di atas meja diantara novelnya yang berserakan, belum sempat disusun.” Nyak menyodorkan buku itu padaku. Aku ragu menerimanya. “Aku tau dia mencintaimu dari situ. Beberapa impiannya sebelum mati membuatku remuk redam Than…” Nyak semakin mengangsurkan buku itu padaku.

Aku meraih buku tersebut. “Apakah ini tidak melanggar privasi-nya? Rasanya aku terlalu lancang bila membacanya.”

“Baca saja halaman yang kuberi tanda. Kamu punya waktu sampai menjelang siang. Sebelum dia pulang dari rumah sakit bersama ibu, buku itu harus sudah berada bersama novel-novelnya kembali.”

“Dia ke rumah sakit?” Keningku mengernyit. “Bukankah seharusnya dia mendaftar UMPTN Unsyiah? Ini hari terakhir pendaftarannya kan?”

Nyak menggeleng. “Dia Gak mau Than. Percuma katanya. Itu yang membuatku makin terenyuh. Seharusnya dia masih menjalani hari-hari normalnya yang tak banyak lagi.”

“Apa dia akan dirawat inap?”

“Ibu menemani mengantar medical record-nya dari rumah sakit sana. Dokter di RSUZA akan melanjutkan terapinya. Walaupun fasilitasnya jauh ketinggalan, tapi itu adalah keinginannya. Toh dokter juga sudah memvonis usianya. Sementara ini Aris hanya akan menjalani rawat jalan dan beberapa terapi bila dia sendiri bersedia. Tapi katanya, semua terapi itu tak akan memperpanjang usianya…” Wajah Nyak kembali disaput awan ketika mengucapkan kalimat itu, dia bangun dari duduknya. “Bacalah, aku harus pulang menyiapkan makan siang.” Nyak turun dari terasku dan memakai sandalnya.

“Nyak…”

Dia mendongak.

“Walaupun aku mau membacanya tapi jangan terlalu berharap kalau nantinya aku mau melakukan itu.”

“Putuskanlah setelah kamu membacanya. Aku pulang.” Dia kembali hendak melangkah.

“Nyak…” Panggilku lagi.

“Ya?”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tau itu…” ucapnya lirih.

***

KHARISMA ALFANSURI

Halaman depan buku ini diisi Aris dengan tulisan namanya yang dibuat besar-besar dan artistik, hampir memenuhi satu halaman. Sangat indah menurutku. Padahal dia membuatnya hanya dengan pensil. Arsiran terang, abu-abu sampai sangat gelap dari dawat pensil itulah yang membuat tulisan namanya ini tampak hidup. Aku ingat, dari kecil dulu dia memang sangat suka menggambar. Aku mencari-cari halaman yang ditandai Nyak dengan menyelipkan lembar buku lain di antara halaman yang dia inginkan untuk kubaca. Aku menemukan lembar bertanda pertama. Aris, maafkan kelancanganku ini.

‘Aku gak suka namaku sendiri. Sama sekali tidak terkesan Aceh-nya. Seharusnya mama memberiku nama Iskandar Muda, Banta Seudang atau Mahmud Alaiddinsyah. Seharusnya mama dulu gak usah kuliah di Jakarta, jadi gak akan pernah bertemu dan pacaran sama papa. Uhh, coba kalau papa juga sama-sama orang Aceh, mungkin aku bisa punya nama seperti Akbar Phonna misalnya. Phonna kan artinya yang pertama lahir.’

Aku tersenyum membaca halaman yang bertanggal hampir 3 tahun lalu itu. Buku ini cukup tebal untuk ditulisi selama 5 tahun, bisa lebih jika jarang ditulisi. Aku membolak-balik lembarnya mencari halaman bertanda selanjutnya. Sepertinya keseluruhan halaman dalam buku ini berisikan tulisan-tulisan singkat.

‘Aku dibohongi. Mereka bilang naik kelas tiga ini aku bisa melanjutkannya di Banda Aceh dan tinggal bersama Pakwa(1) Din. tapi nyatanya aku ditipu mentah-mentah. Lagi-lagi alasannya adalah penyakit sialan ini. Padahal kalau direnungkan, dimanapun aku berada walau itu di depan hidung mereka sendiri aku akan tetap mati muda. Seharusnya mereka lebih sadar dan toleran untuk menuruti keinginan orang yang mau almarhum kan? Padahal di Aceh aku akan lebih bahagia.’

Lama aku berhenti di halaman ini. Mencoba mengingat-ingat. Aris memang sudah tak pernah liburan kemari lagi sejak 3 tahun belakangan ini. Artinya selama di bangku SMA Aris tak pernah bertandang ke rumah Keluarga Nyak. Apa selama 3 tahun ini penyakitnya memang sudah memasuki stadium alarm?

‘Aku rindu dia. Lebih dua tahun aku tak menatap mata jernihnya. Lebih dua tahun aku tak melihat senyum lepasnya. Lebih dua tahun aku tak membaui harum segar dirinya. Lebih dua tahun sudah rindu ini menyayatku. Salah aku mencinta. Lebih salah lagi perasaan cinta ini. Syahlothan, walaupun salah, kamu adalah cinta pertama bagiku dan akan tetap jadi satu-satunya cinta sampai aku menutup mata.’

Halaman ini aku baca sampai 3 kali. Mencoba menyelami rasa yang terkandung di dalamnya, rasa yang aku yakin pasti sudah dipendamnya begitu lama. Aku membayangkan kembali masa-masa bermain kami dulu. Dia, Nyak, aku dan beberapa anak sebaya di komplek perumahan ini akan mengisi hari liburan sekolah dengan bermain Camci Bibet(2), Camci Krieng(3) ataubermain Boh Awoe(4) di lapangan komplek. Anak-anak akan senang bila Aris berlibur semester atau kenaikan kelas-nya di sini. Mereka akan berebut menjadi kawan paling akrabnya dan sok-sokan bicara mengikuti gaya bahasa Jakarta banget yang dipakai Aris. Dulu dia adalah anak kota yang dianggap WOW ketika kami kanak-kanak.

Aku menemukan halaman bertanda selanjutnya. Sedikit kaget dengan mulut menganga seperti mulut perigi tua ketika menemukan ukiran tulisan nama seperi di halaman paling depan tadi. Sama-sama diukir dengan pensil, bentuk hurufnya juga sama. Tapi kali ini yang terbaca adalah namaku sendiri.

TEUKU SYAHLOTHAN AKHENA

Terukir dengan sangat indah. Aku meraba halaman itu dengan jemariku. Mengagumi darah seni dalam diri Aris.

‘Sampai kapanpun, nama itu akan selalu di dadaku. Sebenarnya aku ingin membuat tatoo namanya di bokongku, pasti itu terlihat seksi. Tapi setelah dipikir-pikir, itu akan menimbulkan kehebohan saat jasadku disiram air jeruk purut kelak. Jadi aku melupakan keinginan itu. Teuku, artinya dia masih keturunan Uleebalang(5). Akhena, menandakan dia anak terakhir. Si Bungsu Tampan inilah yang memberiku semangat agar terus hidup selama aku bisa. Semoga semangat ini mampu memperlama waktuku di dunia meskipun hanya sehari saja. Syahlothan, aku mencintaimu lebih dari siapapun yang nanti akan mencintaimu.’

Oh tuhan, ternyata cinta sebegitu yang ada dalam diri Aris sama hebatnya dengan cinta yang sebegini yang ada di hatiku kepada Nyak Maneh. Bagaimana dia bisa teramat mencintaiku? Lembar ini juga membuatku tahu, kalau ternyata Aris sangat mengerti resam dearah asal ibunya. Aku mencari selipan lembar buku lagi dan segera menemukannya. Lembar ini tertulis agak panjang dari halaman-halaman yang telah aku baca lebih dulu.

‘Aku mau saat akhirnya nanti, aku dapat melaluinya di Aceh. Tanah tempat aku pertama kalinya membuka mata dan memperdengarkan tangisku di dunia. Impian terbesar sebelum udara terakhir yang menjadi jatahku menghembus dalam nafas penghabisanku adalah bisa merasakan indahnya cinta bersama Lothan. Hanya satu kali saja selama hidupku. Namun andai itu tak sempat… Ahh, itu bukanlah tak sempat tapi lebih tepatnya TAK MUNGKIN. Aku sudah cukup bahagia bila sebelum aku pergi aku bisa bernyanyi di malam buta di bawah sinar bulan 14 hari di Ranah Rencong tempat lahirku. Aku harus sempat mempertemukan kakiku dengan lidah ombak di pantainya, aku ingin berada di Lhoknga saat itu aku rasakan. Aku juga ingin melakukan sesuatu dengan rambutku saat aku masih punya dia di kepalaku. Aku ingin mengecatnya andai bisa. Entahlah, mungkin akan banyak helainya yang rontok sebelum aku sempat melakukan itu. Aku juga ingin merasakan nikmatnya berada di tengah-tengah bulir padi yang menguning di tengah sawah menjelang panen. Menikmati wangi kulit keemasannya yang terbakar sinar matahari dan daun tajamnya yang akan menjadi jerami setelah masa panen lewat. Mungkin selain itu semua aku masih sempat naik komidi putar untuk terakhir kalinya. Tapi adakah komidi putar di Aceh? Sempatkah aku melakukan itu semua? Tuhan, aku memelas rasa iba-Mu. Izinkan aku…’

Aku terenyuh sekarang. Kembali aku mengulang membacanya yang akhirnya malah membuat pandanganku buram karena terhalang kabut di bola mataku. Aku menengadah sebentar dan menghirup udara sebanyak yang kubisa. Kamarku sedikit pengap hari ini. Aku melirik jendela yang masih tertutup, terlalu malas untuk turun dari ranjang dan membukanya agar udara masuk. Kembali aku menekuri buku di pangkuanku. Aku menemukan halaman yang bertanggal dua minggu lalu yang ikut diberi tanda oleh Nyak Maneh.

‘Mama Papa luluh juga akhirnya. 2 kali senin lagi aku direstui pulang ke Aceh. Mungkin mulai sekarang aku sudah boleh menyebutnya ‘makam.’ Aceh akan jadi makamku lebih kurang 3 bulan dari sekarang. Dokter Suraiya menyebutkan angka 3 itu untukku saat terapiku pagi tadi. Mereka sudah angkat tangan menyerah kalah dengan sakit ini. Kadang aku merasa Dokter itu terlalu berlebihan. Memangnya dia tuhan bisa seenak udelnya menyebut saldo umur pasiennya. Huh, bagaimana kalau keadaan dibalik, aku yang jadi dokter dan dia jadi pesakitan. Aku berani bertaruh dia akan stress berat saat aku menyebut limit usianya, yang artinya sama seperti jika aku berkata ‘Sebaiknya kamu segera pulang, ambil pacul dan cangkul lalu mulailah menggali liang lahatmu sendiri agar tidak merepotkan orang kampung untuk mengurus penguburanmu.’ Bisa-bisa rambutnya akan tanggal detik itu juga saat mendengar vonis yang kubacakan untuknya bahkan sebelum palu diketuk. Tapi tak apa, aku sedang bahagia sekarang. Aceh… I come to you.’

Aku mencari-cari halaman yang ditulisi setelah halaman ini, tapi tidak ada satu halaman pun yang berisi tulisan lagi. Sisa lembarnya masih putih. Itu halaman terakhir yang ditulis Aris dua minggu lalu sebelum kemarin dia tiba di sini. Ingin rasanya aku membaca semua isi buku ini. Tapi aku hanya dipercayakan membaca yang ditandai saja. Aku menutup buku bersampul hitam mengkilap ini. Pikiranku bercelaru. Semua kalimat Aris di dalam bukunya ini berputar-putar di kepalaku. Ah, haruskah aku melakukannya? Detak weker di kepala tempat tidur seirama dengan detakan jantungku. Weker? Aku melirik pada jarumnya. Shit, hampir jam 12 siang. Aku segera berlari menuruni tangga dari kamarku di lantai dua, jangan sampai aku telat mengembalikan diary ini.

Aku segera membuka pintu depan dan nyaris menggilas Nyak yang siap mengetuk pintu bila aku tidak segera berhenti dari lariku. “Oughh, hampir saja.”

“Aku menelepon ibu barusan, mereka sudah di jalan pulang.” Nyak melirik buku di tanganku. “Sudah kamu baca?”

Aku mengangguk.

“Bersediakah kamu Than?” Tanyanya langsung.

“Aku tidak mau melakukannya karena kasihan atau karena dia akan meninggal.” Kutatap Nyak yang menatapku heran. “Aku melakukan ini karena kamu yang minta. Aku mau melakukan ini demi kamu…” Keputusan sudah kubuat.

Mata Nyak membundar. “Trims Than. Aku tau kamu akan melakukannya.” Dia menarik buku itu lepas dari peganganku. “Saatnya dia dikembalikan. Aku pamit.” Dia segera putar tubuh.

“Nyak.”

Dia berbalik. “Aku tau kamu mencintaiku, Than.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku membalas senyum itu.

***

“Than, kita mau kemana sih?” Di sampingku, dia sibuk dengan pandangannya yang bergerak ke sana kemari memperhatikan keadaan luar dari balik kaca.

Aku tak segera menjawab, membuat dia menatapku sekilas. Aku memberinya sebuah seringai. “Liat pas nyampe aja nanti.” Jawabku berteka-teki sambil terus menyetir membelah lalu lintas Kota Banda Aceh.

Dia hanya mengangkat bahunya untuk merespon jawabanku barusan lalu kembali asik memandang keluar kaca mobil. “Banda Aceh makin ramai ya…” ujarnya tanpa menoleh padaku.

“Yah begitulah…” Kutatap dia sebentar. Kulitnya lebih pucat dari yang kuingat. Dia tampak ringkih dan rapuh. Kuperkirakan beratnya tak sampai 50 kilogram. Ikal rambutnya dibiarkan panjang menyentuh pertengahan lehernya. Sore ini dia memakai kaus putih dan kargo tigaperempat warna kelabu. Kardigan rajut teronggok di pangkuannya. Meski begitu, Aris masih tetap sosok remaja tampan yang baru saja menamatkan SMA-nya.

“Okeh, kita sampai.” Kataku sambil mematikan mesin. Kulihat Aris membelalak padaku.

“Hair Stylist?” Tanyanya dengan alis bertaut.

“Yah, aku pikir akan menyenangkan jika kita, emm… kau dan aku bisa mewarnai satu dua helai atau sejumput rambut di batok kepala kita.”

Dia memandangku seperti ragu. “Tapi aku tak yakin ingin melakukannya, mama pernah melarangku.” Dia diam sebentar sebelum melanjutkan. “Apakah aku boleh melakukannya?”

“Oh ayolah Ris, aku sangat ingin kita berdua melakukan itu.”

Dia diam.

“Katakan kalau kamu tak ingin mengecat rambutmu…”

Lagi-lagi diam dengan mata berkedip-kedip.

“Aku ingin mendengar kamu berkata let’s do it!!!”

Dia tertawa. “LET’S DO IT… YESS!!!” Pekiknya. “Aku mau warna abu-abu.”

“Itu dia Kharisma yang kukenal. Ayo! Kita lihat apa mereka punya warna abu-abu untukmu di dalam sana.” Aku menarik lengannya untuk sama-sama keluar lewat pintu di sebelah pengemudi.

“Keterlaluan kalau sampai mereka tak punya.” Ucapnya penuh semangat.

Tak lama kemudian prosesi peng-kutek-an rambut langsung aku lalui bersama Aris. Di sebelahku dia asik berceloteh tanpa henti meluapkan rasa gembiranya karena berkesempatan mewarnai rambutnya. Aku meningkahi ucapannya kadang-kadang sementara jari-jari mahir Hair Stylist berkutat di kepala kami.

Kini aku berdiri di depan cermin bersama Aris di sebelahku. Memerhatikan hasil pengecatan rambut kami barusan. Kulihat Aris sibuk mematut-matut rambut ikalnya yang sekarang jadi belang hitam-abuabu. Entah teknik pewarnaan apa itu, yang pasti Aris sangat menyukai rambutnya yang sekarang jadi blaster. Di antara ikal-ikal rambut hitamnya kini terselip ikal rambut abu-abu. Sedangkan aku, hanya mengecat bagian ujung rambutku yang berjingkrakan dengan sekali sapuan cat warna keemasan. Sekarang puncak kepalaku samar-samar tampak seperti warna rambut bule.

Aris tertawa bahagia. Matanya bersinar terang di pantulan cermin. Aku mengamati wajah tirusnya itu. Sebentuk rasa bahagia menyelinap masuk dalam relung hatiku. Aku turut gembira bersamanya. Dia telah berhasil melakukan sesuatu pada helai rambutnya sebelum helai-helai itu berguguran dari sana.

***

Aris lebih sering menghabiskan waktu di rumahku akhir-akhir ini. Kadang kami main catur di teras ditemani cangkir kopi saat sore hari atau main Play station di kamarku. Pengumuman UMPTN masih lama. Jadi aku punya waktu untuk menjadi kawan bagi Aris. Terlebih lagi aku sudah mulai merasa kasihan padanya. Bukan, bukan kasihan… tepatnya simpati. Sepertinya aku akan memerankan skenario yang diminta Nyak bukan lagi demi dirinya seperti yang aku katakan dulu. Tapi lebih adalah karena aku ingin melihat Aris bahagia. Ya, dia sangat patut untuk dibahagiakan. Meskipun untuk ukuran orang yang akan mati Aris terlihat terlalu gembira. Wajahnya selalu ceria sejak dia tiba lebih dari tiga minggu lalu. Aku belum pernah menemukan rona murung di raut wajahnya. Kemudian aku ingat isi diary-nya, apakah salah jika aku menerka bahwa sumber keceriaannya itu adalah aku?

“Than, kamu tau kan kalau tak lama lagi aku bakal mati?” Tanyanya ketika sore ini aku menemaninya memburu buku di bookstore di kawasan Darussalam.

“Huss… ngomong apa sih.” Cetusku tak suka.

“Tapi kamu tau kan?”

“Iya aku tau. Makanya sebelum itu terjadi kamu sudah harus menulis surat wasiat.” Ujarku bercanda. “Awas aja kalau sampai namaku gak ada dalam daftar ahli waris yang akan menerima warisanmu…”

“Tenang saja, akan aku wariskan buku hutangku untukmu.” Timpalnya.

“Huh, ogah…” Sengaja aku memajukan bibirku hingga mengerucut runcing.

Aris tertawa. “Menurutmu, buku ini pantas aku baca gak?” Dia menunjukkan satu buku padaku. SAKARATUL MAUT. Itu judul yang tertera di kovernya. Sontak bulu kudukku meremang melihat gambar keranda di bawah tulisan judul itu. “Pantas gak?” Ulangnya ketika aku belum juga menjawab.

“Jangan deh Ris.” Aku menarik buku itu dari genggaman Aris dan meletakkannya kembali ke rak. “Cari buku lain yang lebih menghibur aja. Si Botak Jambak-jambakan misalnya, atau Setumpuk Tahi Di Atas Bukit…”

“Emang ada???” Sahutnya dengan kening mengerut. Lalu dia membawa pandangan menghala ke luar bangunan toko buku. sepertinya Ada yang menarik perhatiannya di sana. “Eh, tunggu sebentar ya!” Dia segera berlari keluar menuju ke jalan.

“Ris, kemana?” Seruku, bingung dengan tingkahnya.

Dia tak menjawab. Aku beranjak dari deretan rak dan berdiri di pintu masuk toko buku ini. Apa yang aku saksikan di depan sana sungguh membuatku kagum. Membuatku menilik kedalam diriku sendiri, apakah aku sanggup berbuat seperti itu? Di jalan sana kulihat Aris sedang menuntun seorang perempuan tua. Membawanya menyeberang kepadatan lalu lintas jalanan Darussalam yang notabene-nya adalah kota pelajar dan mahasiswa. Lalu lintasnya nyaris tak pernah sepi di sini. Yang lebih membuatku kagum, Aris mencium takzim tangan nenek itu setelah berhasil membawanya ke seberang jalan.

Dia melempar senyum saat berbalik menujuku. “Apa yang kamu lakukan di ambang pintu? Menyambut tamu, hah?” Katanya saat sampai di depanku.

“Gak banyak mereka di sini yang mau melakukan hal kecil remeh-temeh tapi besar kemuliaan seperti yang barusan kamu lakukan.” Ucapku tanpa peduli kalimat candaannya untukku tadi.

“Siapapun akan melakukan itu Than. Hari ini kebetulan aku yang lebih duluan. Jika aku tak berbuat begitu pasti bakal ada orang lain yang melakukan.” Dia menoleh sebentar ke arah jalanan. “Ayo. Aku belum dapat satu buku pun.” Dia menarik tanganku kembali masuk ke dalam.

Bagaimana dia bisa selincah itu. Aris bergerak cepat dari rak ke rak. Membuatku berpikir kalau dia cukup sehat untuk mengeluarkan semua buku dari dalam sini sendirian. Tak lama kedua tangannya sudah memeluk banyak buku di dadanya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Apa semua toko buku di Jakarta tidak buka lagi sehingga Si Kutu Buku seperti ingin memborong semua stok buku di Aceh?” Ucapku berlebihan.

Aris terbahak. “Aku bahkan tak ingat lagi kapan terakhir kali aku memeluk buku seperti ini.”

“Sini kubantu.” Aku mengambil beberapa buku dari dadanya. Salah satunya adalah buku yang membuat bulu kudukku merinding tadi. “Yah, aku rasa kamu memang pantas membaca buku ini…” Ujarku sambil menunjukkan buku itu padanya.

“Tentu saja. Lebih dari pantas malah.”

“Semoga kamu dapat diskon terbaik di kasir karena nyaris mengosongkan toko mereka.”

“Berlebihan dah…”

***

Aku dan Nyak lulus UMPTN Syiah Kuala. Beruntungnya kami. Nyak jebol di Fakultas Ekonomi sedangkan aku di Tehnik Sipil. Kami berjingkrakan gembira ketika menemukan nama kami tercantum bersama nama-nama lain yang lulus tes dan dipublish di HARIAN SERAMBI pagi ini. Aku hampir saja merangkul Nyak Maneh di depan Aris yang sedang duduk di kursi teras rumah Nyak. Memandang kami dengan tatapan hampa. Aku ingat Nyak pernah bilang ‘Aris gak boleh tau kalau kita pacaran.’ Dan satu ketika pernah juga mengatakan ‘Jangan tunjukan kedekatan kita lebih dari sekedar teman dan tetangga bila sedang bersama Aris.’ Ya, itu akan menyakiti hati dan perasaanya.

“Ris, kok keruh gitu sih mukanya. Gak senang ya kami lulus?” Tanyaku.

Ujung bibirnya tertarik. “Aku turut gembira. Itu pasti.” Dia menarik napas dalam. “Sementara kalian akan memulai hari-hari baru sebagai mahasiswa nantinya, maka aku akan bertemankan kesepian bersama pil-pil itu.” Yang dimaksud adalah obatnya yang harus dimakan pada waktu tertentu. Pil-pil penambah umurnya. “Kalian tak bisa lagi sepanjang hari bersamaku karena sudah harus pergi saat pagi dan pulang jauh sore…” Ucapnya lirih.

Entah mengapa aku merasa kalau kalimat itu lebih ditujukan untuku. Ternyata yang membuat Aris menatap hampa adalah bayangan sisa-sisa hari yang akan dilaluinya tanpa ada aku lagi sepanjang hari dengannya seperti sebelum ini karena aku akan sibuk kuliah tak lama lagi. Pemikiran ini membuatku miris.

Nyak duduk di samping Aris dan merangkul bahunya. “Kita akan tetap ada Ris. Percayalah. Kita akan berusaha membuatmu berada jauh dari sepi itu. Iya kan, Than?” Nyak mengangkat alisnya memandangku.

“Ehemm.” Aku ikut duduk di samping Aris. Merangkul bahunya yang sebelah lagi. “Tentu saja. Kita akan membuatmu tak pernah merasa sepi. Bahkan kamu tak akan tau bagaimana arti sepi itu.”

Sekarang Aris tertawa. “Beruntungnya seorang Kharisma Alfansuri jika demikian.” Aku dan Nyak ikut tertawa. “Omong-omong, tulang bahuku akan tanggal jika kalian tidak segera membebaskannya dari ganyutan lengan berat kalian.” Lanjutnya.

“Hihii… maaf deh.” Ujar Nyak sambil memindahkan lengannya. Sementara aku masih belum bergerak.

“Apa yang kamu tunggu? Bogemku?” Ancamnya sambil menatap galak padaku karena aku belum juga menarik lenganku.

Aku nyengir. “Copot satu tulang bahu kan gak apa-apa ya.”

“Sialan.” Gerutunya.

***

Malam ini aku dan Aris masih asik main Winning Eleven di kamarku. Setelah isya tadi dia datang ke rumah, aku langsung menawarkannya main PS.

Yess! Dua nol.” Teriaknya begitu berhasil membobol gawangku untuk kedua kalinya.

Heyy… ini benar-benar main PS okey, dia membobol gawang dalam arti yang sebenarnya bukan konotasi. Salah besar jika kalian pikir dia benar-benar ‘membobolku.’ Lagipula, bagaimana mungkin dia bisa ‘membobol’ tukang ‘bobol’ sepertiku? Mustahil.

“Tumben aku pintar. Atau kamunya yang gak semangat malam ini ya?”

Aku merilekskan lenganku. “Ternyata masa-masa awal kuliah sangat melelahkan.”

“Loh kok gak bilang sih. Udahan aja yuk. Kamu perlu istirahat.” Dia menyarankan.

“Gak apalah, belum ngantuk juga.”

Aku merenggangkan otot leherku, memutar kepalaku kiri kanan. Sempat terlihat olehku rembulan bulat terpampang di balik jendela kamar yang gordennya masih tersibak. Tiba-tiba aku ingat buku bersampul hitam itu. Kulirik Aris yang masih memegang stik. “Ris, liat bulan yuk! Penuh banget tuh.” Aku menunjuk ke jendela.

Aris mengikuti arah telunjukku. “Wah… bulatnya!” Dia berseru. “Ayo!” Dia siap-siap hendak turun.

“Liat dari balkon aja. Gak usah turun.” Aku beranjak membuka jendela untuk mempersilakannya keluar ke balkon. Aris segera melewatiku.

Aku mengambil gitar usang di sudut kamar lalu menyusulnya sambil jari-jariku menyetel kekencangan senarnya. Lumayan lama juga gitar ini tak pernah kusentuh. Debu menutupi permukaannya.

“Loh, kok ada gitar segala.” Ujar Aris sambil menatapku.

“Tiba-tiba aja pengen gejreng-gejreng. Udah lama gak kesentuh sampe berabu gini.” Aku mengelap badan gitar itu dengan ujung kausku.

“Boleh juga. Aku pengen tau semerdu apa sih suaramu kalau nyanyi. Apakah semerdu lolongan serigala saat melihat bulan.” Dia terbahak lucu.

“Huss, enak aja. Aku Cuma mau metik gitar. Yang nyanyi tuh kamu. Gak adil dong kalau yang main gitar aku trus yang melolong-lolong seperti kuda liar sedang napsu berat juga aku…”

“Apaan sih. Jorok mulutnya.” Arif menukas.

“Beneran. Kalau yang nyanyi aku juga, nah… kamu ngapain di sini. Mau jadi Putra Keraton yang gak boleh ngapa-ngapain. Sori lah mas bro… han tém loen béh(6). Aturan Putra Keraton gak berlaku di sini.” Cerocosku.

“Ya ya ya.”

“Ayo, mau lagu apa?” Tanyaku sambil duduk di lantai. Jari-jariku sudah mulai memetik-metik senar.

“Emm… lagu Aceh?”

“Kuncinya susah. Lebih-lebih aku gak tau lagu Aceh mana yang pas di-gitar-in. lagian emang kamu pinter nyanyi Aceh?”

Dia menggeleng sambil nyengir. Aku memutar bola mataku kesal.

“Tau lagu Gigi?” Tanyanya.

“Jangankan gigi. Lidah, bibir, gusi, langit-langit bahkan sariawan aku tau.” Kelakarku yang membuat dia mendaratkan tepukan di pahaku.

“Serius nih.”

“Iya tau. Maunya yang mana. Sebelas Januari?”

“Cinta Terakhir…” Ucapnya lirih.

Aku menatapnya. Sesaat kami saling bertatapan. Kudapati mata Aris sejernih telaga di hutan belantara saat ini. “Hmm… mari kita lihat apakah jari-jariku masih tau kuncinya.” Lalu aku mulai memetik senar gitar di kunci C untuk masuk ke intro-nya. Sesaat kemudian suara mengagumkan Aris mulai mengisi indera dengarku.

“Tak semestinya ku merasa sepi

Kau dan aku di tempat berbeda

Seribu satu alasan

Melemahkan tubuh ini

Aku di sini mengingat dirimu

Kumenangis tanpa air mata

Bagai bintang tak bersinar

Redup hati ini

Dan kumengerti sekarang

Ternyata kita menyatu

Di dalam kasih yang suci

Kuakui kamulah cintaku

Kuakui kamulah cinta terakhir…

……

……”(7)

 

Aku hanyut. Entah apa yang aku rasakan sekarang. Aku tak tau nama perasaan itu. Lebih tepatnya aku tak berani menamakan perasaan itu. Melihat dan mendengar Aris bernyanyi seperti ini sungguh membuatku seakan lebih bernyawa dari sebelumnya. Dia menyanyi sambil memejamkan matanya. Sangat menghayati tiap lirik yang mengalir lewat bibirnya sendiri. Cahaya bulan tepat jatuh di kulit wajahnya yang pucat. Aku tak dapat memastikan apakah ini bulan 14 hari atau bukan. Yang pasti aku hampir tak berkedip menatapi wajahnya. Dia seperti menyatu dengan sinar bulan, seakan-akan dia adalah sinar bulan itu sendiri. Aris, kamu baru saja bernyanyi di malam buta di bawah sinar bulan 14 hari di Ranah Rencong tempat lahirmu. Semoga ini memang malam bulan 14 hari itu.

***

Hari ini minggu. Setengah harian tadi kuhabiskan dengan menyusuri jalan-jalan di beberapa daerah Aceh Besar dengan motor untuk mencari areal persawahan yang akan segera panen. Sawah dimana bulir-bulir padinya berwarna kuning keemasan. Benar, aku akan membawa Aris nantinya agar dia bisa menghirup wangi bulir padi dan jerami menjelang masa panen.

Aku berputar-putar di daerah Lambaro setelah sebelumnya melalui jalan menuju Lam Ateuk lewat Ulee Kareng. Terakhir aku melewati jalan daerah Lampeunurut. Dari sekian areal persawahan yang kutemui hanya daerah Lampeunurut saja yang padinya nyaris panen. Beberapa petani bahkan sudah mulai menyabit di sawah-sawah mereka. Aku mengingat-ingat bagaimana persisnya kalimat dalam buku diary Aris. Dia ingin berada di sawah menjelang panen kalau tak salah. Tapi di daerah ini sudah memasuki masa panen. Kawasan Lam Ateuk dan Lambaro malah kebanyakan sawah hanya tinggal batangnya saja. Ah, apakah aku harus ke Indrapuri? Mengecek keadaan sawahnya di sana? Tapi jaraknya lumayan jauh juga dari Banda Aceh.

Rasanya sawah di Lampeunurut memang pilihan satu-satunya. Aku akan membawa Aris nanti sore. Dia sudah hampir dua bulan di sini, sudah beberapa kali dia bolak-balik Rumah Sakit Zainoel Abidin. Aku takut jika tabung pasir waktu tidak berpihak padaku dan Aris. Aku belum mewujudkan semua impinya itu. Oh tuhan, ternyata aku benar-benar melakukannya. Apakah sekarang hatiku malah sudah terlibat? Bukan lagi hanya simpati saja. Entahlah. Mungkin saja benar.

***

Aris tertawa gembira begitu turun dari motorku sore ini. Aku beralasan suntuk dan ingin jalan-jalan saat mengajaknya di rumah Nyak. Tentu saja Aris mau ikut dengan senang hati. Dia langsung merangkul pinggangku begitu duduk di boncengan. Sengaja aku tak pakai mobil. Setelah memutari jalanan kota –untuk membuktikan ucapanku bahwa aku ingin jalan-jalan karena suntuk- aku melajukan motor menuju daerah Lampeunurut.

Maka disinilah dia sekarang. Dengan wajah sumringah berjalan mendahuluiku menapak di atas pematang sawah dengan kaki telanjangnya. Angin sore mengibarkan baju dan rambut ikalnya yang masih ada sisa blaster-nya. Di mataku malah tampak sedikit lebih terang dari saat awal-awal dulu, warnanya nyaris berubah jadi putih. Aku masih memperhatikannya.

Ya tuhan, mengapa dia terlihat begitu indah di tengah-tengah warna kuning keemasan di sana. Sekarang dia menengadah dengan tangan terentang menghirup wangi padi seperti yang diinginkannya. Aku memarkir motor di tepi jalan lalu menyusulnya ke tengah sawah.

“Cocok sekali untuk mengobati suntukku…” Ujarku ketika sudah berada di belakangnya.

Bibir Aris tertarik menciptakan seulas senyum di wajahnya. “Juga sangat ampuh untuk mengusir rasa muakku dengan dokter-dokter di rumah sakit. Kapan mereka akan berhenti mendikteku ini itu?”

Tawaku tersembur. “Lupakan saja mereka untuk saat ini. Ayo!” Aku menariknya untuk duduk di sebuah rangkang(8) di dekat situ. Kaki kami duduk berjuntaian. “Sudah lama juga aku gak upload foto baru di facebook.” Lalu…

CEKREKK CEKREKK

Aku mengabadikan momen ini dengan kamera ponselku. Aris tertawa bahagia. “Lagi.” Pintanya.

Aku turun dari sana dan mulai membidiknya dari segala angle.

Aris tertawa. “Berasa Daniel Radcliffe deh sore ini.” Cetusnya  lalu turun dan berdiri di dekatku. “Daniel Radcliffe berpose dengan Alex Pettyfer sekarang.” Dia merangkul bahuku.

“Bukan… aku lebih ganteng dari Si Pettyfer itu.”

CEKREKK

***

Keluarga Aris tiba dua minggu kemudian, Om Dikan -papanya, Tante Nurmalia -ibunya dan adik satu-satunya –Alfarisi yang baru duduk di kelas VI sekolah dasar. Aku tahu kalau keputus-asa-an dan kesedihan sedang menyelimuti keluarga itu sekarang, bahkan juga menyelimutiku. Namun melihat Aris yang selalu ceria, tertawa, berceloteh riang tanpa beban dan sangat bersahaja setiap hari membuat rona putus asa dan sedih itu menguar. Keceriaan Aris tertular pada mereka yang ada di sekelilingnya. Tawanya membuat kami ikut tertawa bersamanya. Aris sudah memenuhi mindaku sekarang ini. Dan Nyak? Mengapa rasanya aku nyaris tak menemukan dia lagi dalam diriku?

***

“Boleh saya bawa Aris jalan-jalan, tante?” Aku meminta izin pada Tante Lia -mamanya Aris. Saat ini aku sedang berada di teras rumah Nyak.

Tante Lia nampak berpikir. “Sebenarnya dia harus di rumah sakit saat ini Nak Lothan. Tapi dia bersikeras untuk tetap di rumah. Dia memang lebih ceria di sini ketimbang di Jakarta. Tapi tetap dia harus banyak berada di rumah. Dia tak boleh terlalu lelah…”

“Biar saja dia keluar, Ma…”

Aku dan Tante Lia sama-sama menoleh ke pintu. Om Dikan tegak berdiri di sana, di belakangnya menyusul Nyak. “Apapun yang dapat membuat Aris tertawa. Itu yang menjadi prioritas kita sekarang.” Sambung Om Dikan.

Tante Lia memalingkan mukanya. Aku sempat menangkap matanya yang berkaca sebelum berkata padaku. “Buatlah dia tertawa Nak Lothan…” Lalu Tante Lia melangkah masuk ke dalam, Om Dikan menyusul di belakangnya.

“Aku akan memanggilnya di kamar…” Ucap Nyak.

Aku mengangguk.

***

Kami tiba di Pantai Lhoknga. Sunset akan segera membuat permukaan laut menjadi keemasan. Aris turun dari mobil. Seperti dugaanku, dia segera membuka sepatunya, menggulung denimnya sampai tengah betis lalu segera berlari di atas pasir putih. Jejak kakinya bebekas indah di atas pasir itu. Aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya. Pantai Lhoknga tidak seramai biasanya sore ini.

Aku duduk di atas pasir. Mengikuti Aris yang sudah lebih dulu menghempaskan dirinya di sana. Dia menatap bola jingga yang akan segera menyatu dengan laut. Ombak berkejaran menghempas di tepian pantai. Anginnya membuat rambut dan baju kami melambai.

“Ayo Ris. Penuhi impianmu seperti yang telah kamu tulis. Lidah ombak Pantai Lhoknga tak sabar untuk segera bersentuhan dengan ujung kakimu.” Kataku.

Lama Aris tak menjawab. Aku menunggu. Sesaat kemudian aku menoleh ke arahnya. Kutemukan rona yang tak biasa di gurat-gurat wajahnya.

“Apa Maksudmu?” Suaranya bergetar saat bertanya demikian.

Aku ternganga. Apa yang salah di sini? Mengapa Aris seperti tersulut amarah. Dia terlihat sangat ingin menamparku.

PLAKK

Dia benar-benar melakukannya. Melayangkan tangannya dengan begitu keras. Pipi kiriku langsung memanas. “ARIS!!!” Bentakku emosi. “Apa-apaan sih kamu.” Aku menatapnya tajam.

“Lancang sekali kamu membaca Diary-ku.” Dia mendengus. “Lancang sekali kamu melanggar privasi orang yang mau mati.”

Pandanganku langsung beku, sadar sepenuhnya kini. Perasaanku tersayat perih dengan kalimatnya. Aku sangat berharap tak akan pernah mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Aku tak mau mendengar lagi dia menyebut dirinya akan mati. Cukup satu kali saat di toko buku dulu dia menyatakan demikian. Tapi sekarang, aku membuatnya mengatakan itu lagi.

Lalu air mata itu menetes juga. Setelah berhari-hari dia selalu tertawa, akhirnya hari ini aku menjadi orang paling terkutuk yang membuat air mata mengaliri pipinya. Kenapa aku tak bisa mengontrol ucapanku tadi? Sekarang aku remuk sudah. Air mata itu membuat rasa bersalah menghantamku hingga hancur berderai. Bagaikan kaca yang dihempas ke batu, begitu hatiku sekarang. Tapi hati Aris pasti lebih parah. Bagaimana aku bisa begitu bodoh mengacaukan segalanya?

“Aku benci kamu Than. Teramat membenci.” Dia mulai terisak. “Hair Stylist, gitar sialan itu, hape jelekmu… semua hanya skenariomu. Tidakkah kamu merasa iba padaku?” Aris meradang. “Aku hanya butuh sedikit privasi di sisa-sisa usiaku. Tapi nyatanya kamu adalah manusia otak udang tak berperasaan sehingga kamu merasa bebas untuk tahu isi diary-ku. Kamu tak pernah mengerti posisiku.” Dia menyeka air matanya, hanya untuk membuatnya kembali basah setelah itu. “Tanpa sedikitpun memahami rasa malu diriku, kamu tak pernah paham…” Dia terbatuk, sepertinya dia sulit bernafas sekarang.

Aku mendekat bermaksud menopangnya tapi dia mengangkat tangan mencegahku mendekatinya.

“Aku tak perlu belas kasihan siapapun. Aku tak perlu pembohong besar untuk mewujudkan impianku.”

Rasanya aku ingin membawa kepalanya ke dadaku saat ini. Tapi jangankan untuk berbuat demikian, menggerakkan bibirku saja aku tak bisa. Aku tak menemukan kata-kata yang pantas kuucapkan untuk saat ini.

“Aku memang akan mati nanti, tak lama lagi… Tapi apa bedanya nanti dengan sekarang bagiku? Andai sekarang pun malaikat maut menarik lepas nyawaku, pasti itu akan lebih baik bagiku…” Dia berbalik pergi. Melangkahkan kakinya meninggalkanku yang masih termangu dengan rasa perih di pipiku, tidak… dadaku lebih perih kini. Aris membuka pintu mobil di jok belakang dan menghilang di dalam sana. Dia kini menghindariku.

Apa yang sudah aku perbuat? Aku telah merampas paksa senyum, tawa bahkan semangat hidupnya. Sadarkah betapa jahatnya kamu Syahlothan Akhena?

Aku membawa Aris pulang, sepanjang perjalanan dia tak bicara. Pandangannya hanya tertuju ke luar mobil. Aku bolak-balik mengamati wajahnya lewat spion. Wajah murung tak bercahaya lagi akibat ketololanku. Aku ingin menyentuhnya, tapi dia tak berada dalam jangkauanku seperti saat pergi tadi. Dia menjauh dariku dengan duduk di jok paling belakang.

Aris segera turun begitu tiba di rumah, geraknya begitu lesu. Aku menurunkan kaca mobil dan melihatnya melewati Nyak yang berdiri di ambang pintu. Aris tak menegur sepupunya, dia terus berjalan masuk. Nyak menatapku seakan meminta penjelasan. Aku hanya mampu menyatukan dua tapak tangan di depan wajahku sebagai tanpa permohonan maaf. Kulihat Nyak menggeleng lemah sebelum masuk dan menutup pintu di belakangnya.

***

Sudah lebih seminggu ini aku tak melihat Aris. Tiap aku ke rumah, yang aku dapatkan adalah ucapan minta maaf penghuni rumah itu, Aris berpesan tak mau menemuiku. Kehilangan, itu yang aku rasakan. Aku kehilangan seorang Kharisma Alfansuri yang dengan caranya sendiri telah berhasil memerangkapku dalam jerat yang kubuat sendiri. Jerat perasaan yang tak bisa kupahami hingga detik ini, tapi entah bagaimana sanggup membuat hatiku disambangi dilemma.

Nyak menghubungiku. Memintaku untuk segera ke rumah sakit. Aris pingsan 3 jam yang lalu. Aku segera melajukan motor menuju RSUZA. Butuh waktu 30 menit dari Lamtemen –daerah tempat tinggalku menuju Lampriek dimana RS itu berada.

Aku menemukan Nyak bersama ibunya dan Alfarisi di depan ruang rawatan Aris. Nyak segera menghampiriku.

“Dia sadar sepuluh menit lalu. Papa Mamanya sedang di dalam.” Bisiknya padaku.

“Oh syukurlah.” Aku bernafas lega.

Nyak mengajakku duduk. “Aku tetap berharap kamu bisa membuat dia tersenyum lagi Than.” Ucapnya. “Yang ajaib, ini sudah lebih sembilan hari dari tiga bulan itu.”

Aku menatap Nyak. “Semua kita berdoa agar tuhan menambah umurnya…”

Pintu kamar Aris terbuka. Om Dikan dan Tante Lia keluar dengan wajah sembab. Keduanya langsung menoleh padaku. “Ada baiknya kalau kamu melihatnya Nak Lothan…” Ucap Tante Lia dalam suara serak.

Nyak menepuk bahuku. “Pergilah…”

Aku bangun dan melangkah masuk ke dalam kamar Aris. Kututup pintu di belakangku. Aku mendekati ranjang dimana dia terbaring dengan mata terpejam. Tangannya diinfus. Wajahnya lebih pucat dari terakhir kali aku melihatnya lebih seminggu lalu. Aku menyentuh punggung tangannya yang diinfus. Aris membuka matanya dan langsung menatapku.

“Maafkan aku Ris… aku amat menyesal.”

Aris tersenyum. Aku tau maaf itu telah aku dapatkan bahkan sebelum aku memintanya. Aris tak pernah benar-benar membenciku seperti yang dikatakannya di Lhoknga hari itu.

“Seharusnya kamu menendangku waktu itu.”

Dia tersenyum lagi.

“Bahkan rasanya cukup pantas jika kamu menyumpal mulutku dengan kaus kaki bau-mu…”

Kini dia tertawa. “Kaus kakiku tak bau…”

“Seharusnya kamu tidak mencucinya dalam jangka lama agar menjadi bau dan bisa kamu gunakan untuk membuatku sesak nafas saat aku menyulut marah dan kecewamu.”

Aris kembali terkekeh. “Kamu tidak datang kemari hanya untuk membicarakan kaus kaki bau kan?”

“Memang tidak.” Aku duduk di tepi ranjang. “Aku ingin melihat senyum di wajahmu kembali. Dan itu baru saja kudapatkan. Ayo, buat aku yakin kalau kamu benar-benar telah memaafkanku. Tersenyumlah lagi.”

Kemudian dia tersenyum lebar sambil menonjok pinggangku. “Aku tak pernah marah denganmu Than. Apapun yang kamu lakukan, aku tak akan bisa marah…” Aris membawa lenganku ke dadanya, mendekapnya disana. “Mungkin diary itu memang sudah ditakdirkan untuk kamu baca…”

Dadaku sesak melihat bagaimana tabahnya dia melewati takdirnya. Aku nyaris gagal membendung arus yang siap merembes dari kedua bola mataku.

***

Ini malam ketiga Aris di rumah sakit. Aku bersikeras pada Om Dikan dan Tante Lia agar diijinkan untuk menungguinya. Izin itu tak sulit kudapat. Setelah mereka pulang pukul 10 malam tadi kini aku hanya berdua dengan Aris. Setelah tadi memaksanya makan buah yang kukupas, kini aku duduk di sisi ranjangnya antara tidur dan terjaga.

“Than…” Panggilnya sambil menyentuh kepalaku yang menelungkup di sisi ranjang.

“Hemm..” Aku mendongak. “Mau pipis?”

Aris menggeleng.

“Terus? Mau buah lagi?” Tanyaku.

“Aku belum sempat bertemu ombak Pantai Lhoknga…”

Jantungku seakan mencelos. Aku memandangnya.

“Aku cukup kuat untuk kesana, Than…”

Aku menghela nafas. “Kita akan minta ijin untuk kesana besok pagi.

“Aku ingin sekarang…”

Mataku melotot. “Mana bisa Ris.” Kulirik jam di tangan. “Ini hampir pukul satu dini hari.”

“Pliiisss…” Dia memelas. “Aku cukup kuat. Lihat.” Secepat kilat dia bangun dan duduk menjuntai di tepi ranjang. Aku refleks merangkulnya. “Beneran Than, aku baik-baik saja…” Ucapnya lagi.

Hrrgghh, aku kehabisan akal sudah. “Tunggu di sini. Aku akan meminta ijin sama dokter piket dulu.” Aku siap bergerak.

Heydon’t be stupid. Walau kamu nangis darah dan aku nangis nanah mereka gak bakal ijinin.” Dia menahan lenganku.

“Apaan sih, nangis darah nanah segala. Berlebihan sekali.”

“Loh, memang iya kan. Ingat aku udah hampir gak berdarah merah lagi. Nah biasanya yang putih kan nanah.” Katanya.

Stop.” Aku membekap mulutnya. Aris berkedip-kedip. “Daripada kamu bicara ngawur lebih baik mikirin alasan agar kita diijinin.” Semprotku lalu memindahkan tanganku dari mulutnya.

Tiba-tiba Aris membetot lepas selang infus dari tangannya.

Aku kelabakan. “Gila…!” Seruku sambil menarik tisu dan menekan bekas tusukan jarum infus di tangannya.

“Satu-satunya cara adalah kita pergi diam-diam…” Aris turun dari ranjang, kemudian menyusun bantal sedmikian rupa dan menutupnya dengan selimut. “Semoga mereka tidak sadar telah kehilangan satu pasienya sampai kita kembali…” Dia menepuk-nepuk bantal berselimut itu.

Aku hanya bisa geleng-geleng. “Nakalnya.” Desisku. “Aku akan decekik untuk ini, Ris.”

“Jangan kuatir. Kalau mereka berani mencekikmu aku akan jadi hantu untuk meneror mereka begitu udah mati nanti.”

Aku geram. “Kalau kamu terus berkata-kata seperti itu, aku akan panggil dokter sekarang dan kamu akan kembali berbaring di tempatmu dengan infus baru.” Ancamku. “Aku gak ingin dengar kalimat seperti itu lagi Ris…”

“Iya iya iya…” Dia menggandeng tanganku. “Ayo!”

“Tunggu, kamu gak akan sanggup berjalan.”

“Aku sanggup…”

Aku tak mau percaya ucapannya. Segera saja aku membopongnya di depanku. Lengan kananku menopang punggungnya sementara lengan kiri menahan pahanya. “Astaga, kamu ringan sekali Ris…” Dia tak merespon, hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mulai berjalan keluar.

“Kita turun pake lift saja.” Katanya.

“Dengan beratmu seringan ini aku sanggup membawamu turun pake tangga walau dari lantai keseratus.”

“Masalahnya bukan beratku yang bak kapas ini. Tapi kita pakai lift biar gak mencolok dan biar cepat.” Ujarnya sedikit ketus.

Aku tak berkata-kata lagi. Segera mengendap-endap masuk lift dan turun ke lantai dasar lalu menuju area parkir mobil.

Aris meringkuk berselimutkan jaketku. Aku berusaha menyetir senyaman mungkin dengan kecepatan prima. Lhoknga amat sangat jauh dari Lampriek. Aku sedikit menyesali keputusanku untuk menuruti kemauannya saat ini.

Kembali aku menggendong Aris begitu kami tiba di Lhoknga. Aku melangkah perlahan membawanya ke bibir pantai. Lampu-lampu kapal mengedip-ngedip di tengah kepekatan laut sana. Bulan sabit timbul tenggelam disaput awan malam. Aku terus berjalan hingga kakiku menyentuh lidah ombak. Aris kuturunkan di depanku.

Dia terkikik sambil menggenggam manja ujung kemejaku. “Kita benar-benar melakukannya.”

Aku menarik tubuhnya merapat padaku saat angin dingin menghembus pantai. Kupeluk dia dari belakang. Lidah ombak tak henti menyapu kaki kami di bawah sana. Aku mempererat rangkulanku di pinggang dan dadanya, sambil perlahan menundukkan kepalaku menyusup di sisi wajahnya. “Aku mencintaimu, Ris… Sungguh aku mencintaimu.” Bisikku di telinganya.

Aris mendesah. “Jangan bikin aku marah lagi Than.” Ucapnya. “Aku lebih baik menerima ungkapan cinta dari dari kakek-kakek ompong ketimbang ditembak orang gagah yang sudah tau isi hatiku jika niatnya hanya untuk membuat aku melambung sesaat. Padahal hatinya tak sejalan dengan ucapannya.” Dia berbalik menghadapku. “Kamu tidak benar-benar cinta, Than. Kamu hanya kasihan padaku karena aku…”

“Ssshhh…” Aku menempelkan telunjuk di bibirnya. “Aku gak ingin mendengar kalimat itu lagi. Ingat???” Bisikku.

Dia mengangguk.

Lalu aku menempelkan bibirku di bibirnya. Dia sedikit kaget. Dapat kurasakan tubuhnya menegang dalam pelukanku. Dengan amat pelan aku melumat bibirnya. Aris tidak membalas hingga saat aku melepaskan bibirku dari sana.

“Aku tak pandai berpuitis dengan kata-kata untuk membuatmu yakin kalau aku benar-benar cinta. Aku hanya dapat meyakinkanmu dengan itu…” bisikku sambil menyusurkan jariku di atas bibirnya yang pucat.

Aris menatapku terkesima. Matanya membundar jernih dan berbinar.

“Aku mau tau bagaimana gaya berciuman seorang Kharisma Alfansuri yang kabarnya sudah jatuh cinta padaku bahkan sebelum aku belum lahir.” Andai ini siang, maka aku akan dapat melihat muka Aris yang memerah kini. “Jadi, jangan biarkan aku seperti mencium patung lilin lagi seperti tadi, kali ini kumohon balaslah.”

Tepat saat mulut Aris terbuka hendak tertawa karena ucapanku, tak menunggu lama aku segera mendaratkan ciumanku lagi. Kali ini dia membalas. Lama. Dia bahkan bergerak melingkarkan tungkainya di pinggangku. Lengannya merangkul leherku. Aku mengunci jari-jariku di bawah pahanya, menahan bobot tubuhnya agar tetap merapat padaku. Aris benar-benar mencumbuiku, melumat habis bibirku, menyapu dengan lidahnya. Sementara jemarinya menyusuri leher dan bagian sisi wajahku. Kemudian kami berhenti dengan nafas memburu. Puncak hidung dan dahiku bertemu dengan puncak hidung dan dahinya. Cinta telah berbicara diantara aku dan dia. Berbicara sejelas-jelasnya tentang perasaan yang telah berkarang dalam hati Aris sejak dulu dan perasaan yang muncul dengan sendirinya dalam hatiku.

“Bagaimana?” Bisiknya.

“Apa?”

“Gaya berciumanku.”

“Ohh… tidak terlalu buruk.”

Aris memegang bibir bawahku dengan ibu jari dan agak menariknya lebih ke bawah. “Hanya seperti itu saja penilaiannya?” Dia sedikit cemberut.

Aku tersenyum dan menyentuhkan lidahku di ibu jarinya yang masih menekan bibirku. “Gaya ciumanmu sungguh luar biasa, mengalahkan gaya ciuman Brad Pitt ketika bersama Jolie. Lihat saja, kakimu bahkan tak berpijak lagi.”

Aris tertawa lebar lalu memelukku semakin erat. “ini adalah impian terbesarku, Than. Kamu mewujudkannya untukku.”

“Ya ya ya…” Aku berbalik arah menuju mobil. “Sekarang kita harus kembali, aku gak mau dituduh membawa kabur anak jejaka orang di pagi-pagi buta…”

“Kamu tidak membawa kabur anak jejaka orang, sekarang kamu sedang membawa kekasihmu meraih kebahagiaannya… kekasihmu.”

“Benar, kekasihku yang keras kepala.”

Dia tertawa lebih keras sembari menyurukkan wajahnya lebih rapat lagi di leherku. Aku mengecup puncak kepalanya lalu berbalik pulang.

***

Ini hari kedelapan Aris di rumah sakit. Hari ini adalah hari istimewa baginya. Mungkin akan menjadi hari istimewa terakhir yang akan diperolehnya.

Kue tart itu warnanya coklat. Lilin angka 18 bertengger cantik di atasnya. Tante Lia membawa kue itu ke ranjangnya, tempat dia duduk menanti dengan wajah ceria.

“Happy birth day to you

Happy birth day to you

Happy birth day

Happy birth day

Happy birth day to Ariiis….”

“Selamat ulang tahun Sayang…. Mama sayang kamu!” Ucap mamanya penuh haru.

“Ayo tiup lilinnya, Sayang.” Ujar Sang Papa berusaha tampak setegar mungkin.

“Aris sempat berpikir gak akan pernah melihat kue tart lagi…” Katanya sambil tertawa. “ Huuufffhh…” Lilin itu padam sudah.

Tepuk tangan bergemuruh di kamar ini. Aris bergantian diciumi oleh orang-orang yang amat menyayanginya. Termasuk aku. Balon-balon gas yang aku bawa kini mentok di plavon kamar rawatnya, tak bisa terbang bebas lagi. Perjalanannya menembus udara sudah tamat, kecuali ada orang yang mengeluarkannya dari kamar ini dan melepaskannya di udara luar. Jika tidak, balon itu akan jatuh sendiri bila kadar gas yang menjadi nyawanya untuk melesat telah habis.

Mata Aris berkaca-kaca meski senyum tak pernah pupus dari wajahnya sejak kami beramai-ramai masuk tadi. Lalu Tante Lia Menangis, diikuti Nyak dan ibunya kemudian. Om Dikan merangkul bahu Aris. Alfarisi sesengukan sambil membenamkan kepalanya di pangkuan Sang Kakak. Aris merangkul papa mamanya dengan tangannya kiri kanan. Tante Lia tak bisa bertahan lagi. Tangisnya pecah menjadi isakan. Mata Aris kini basah.

“Aris sayang kalian semua. Jangan pernah lupakan Aris bila Aris udah gak ada lagi nanti. Biarkan Aris tetap ada di hati kalian. Kenang-kenanglah Aris ya…” Suara itu sarat kepiluan dan nestapa mendalam. “Maafkan segala salah Aris… Ma, Pa, Dik Paris. Kakak sayang kamu… jaga Mama sama Papa buat Kakak ya.” Dia membelai kepala Alfarisi yang terus saja mengisak di pangkuannya.

Air mataku meleleh. Segalanya pupus sudah. Leukemia jahanam itu akan segera merampasnya dari kami. Akan segera membawanya pergi ke keabadian. Aku menggigit bibirku, perih rasanya mendapati bahwa perpisahan adalah kepastian yang tak bisa ditawar lagi. Lebih perih lagi mendapati bahwa aku tak bisa lama memberinya cinta… tuhan, kuatkan aku.

Kue tart itu warnanya coklat, sekarang terongok sendiri di sudut meja. Kue tart pelambang hari jadinya yang ke 18. Dia masih sangat belia…

“Aris sayang kalian…” Kembali dia mengulang kalimatnya.

“Kami tau anakku… kami tau…” Desis mamanya sambil menciumi pipi dan dahinya bertubi-tubi.

“Jangan lupakan Aris ya… Ma, Pa.” Dia tampak kepayahan berucap disela isaknya, namun seakan begitu banyak kata yang masih ingin disuarakanya saat ini. “Paris… ingat pesan kakak ya!” Aris terus saja mengulang kalimat itu. “Aris gak ingin kalian lupa, Aris mau selalu diingat… Ma…” Nafasnya tersengal.

“Segalanya akan baik-baik saja Nak… akan baik-baik saja…” Suara papanya parau.

Tidak. Segalanya tidak akan baik-baik saja. Itu adalah kalimat paling tidak benar yang tak ingin dipercayai oleh satu orang pun di sini. Segalanya tidak akan pernah baik-baik saja seperti saat Aris masih tersenyum.

***

Ayunan ini bergerak perlahan. Kepala Aris bersandar di bahuku. Satu tangannya berada dalam genggamanku.

“Maaf aku gak bisa menemukan komidi putar itu untukmu.” Kataku sembari mengeratkan rangkulanku di pinggangnya. “Hanya ayunan ini yang kutemukan sebagai penggantinya.”

“Aku tak butuh itu lagi Than. Cintamu telah melengkapi semua impianku… aku tak butuh apapun lagi….”

Aku mengecup dahinya. Kepala Aris semakin terkulai di bahuku.

“Segalanya telah di sempurnakan bagiku, Than. Rasanya aku sudah siap sekarang…”

“Sssshh…” Aku menyentuh bibirnya. Aku tahu dia akan segera terenggut dariku, tapi aku tak ingin mendengar kepastian itu dibahasakannya.

“Masih ingat lirik Cinta Terakhir?”

“Hemm…”

“Senandungkan itu untukku, Than…” Suaranya seakan jauh, aku nyaris tak mendengarnya.

“Heemm…”

Lalu aku mulai berbisik.

Tak semestinya kumerasa sepi

Kau dan aku di tempat berbeda

Seribu satu alasan

Melemahkan tubuh ini

Aku di sini menunggu dirimu

Kumenangis tanpa air mata

Bagai bintang tak bersinar

Redup hati ini

Dan kumengerti sekarang

Ternyata kita menyatu

Di dalam kasih yang suci

Kuakui kamulah cintaku

Kuakui kamulah cinta terakhirku…

……

Daun-daun yang menguning berguguran ditiup angin sore di taman ini. Kicauan burung mengalunkan simfony kehilangan untukku. Sore yang damai untuk pergi. Perlahan kepalanya terkulai di dadaku. Jemarinya melemah dalam tanganku dan selanjutnya jatuh di pangkuan. Aku memejamkan mata. Butiran bening itu meluncur bergulir melewati wajahku untuk kemudian menitik di wajahnya.

Kembali aku mengecup dahinya. “Selamat jalan cinta… lelaplah disana dalam damaimu…”

***

Tak ada epilog yang dapat aku tulis untuk kalian. Aku kehabisan kata-kata. Seakan semuanya terenggut setelah kepergiannya. Dia telah membawa seluruh cinta yang kupunya. Tapi aku tak menyesal telah pernah mencintainya. Nyak juga tak pernah menyesal dengan pengorbanannya. Walau pada akhirnya dia juga telah kehilangan cintanya, aku. Aku tak bisa lagi memberinya cinta yang utuh seperti dulu, karena memang cintaku tak utuh lagi. Kharisma telah membawanya pergi, ‘Jangan pernah lupakan Aris…’ Ya, aku tak akan melupakannya. Semoga suatu saat nanti aku mampu mengumpulkan cintaku lagi entah dari mana saja dan mendatangi pintu Nyak. Mencoba mengetuknya sekali lagi andai sempat, karena jujur, aku merasa tak bernyawa lagi setelah Kharisma Alfansuri pergi…

Pertengahan Januari 2012

Dari gaung hati yang terdalam

Love

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

————————————————————————————–

FOOT NOTE:

(1)Istilah Aceh; sebutan untuk kakak laki-laki dari orang tua kita.

(2)Sejenis dengan permainan petak umpet.

(3)Permainan kejar-kejaran.

(4)Permainan kejar-kejaran dengan bola yang dibuat dari daun nyiur.

(5)Hulubalang, kaum bangsawan Aceh dulu.

(6)Logat Aceh; “Saya tidak mau…”

(7)Lirik Cinta Terakhir – Gigi

(8)Dangau, sawung. Bale-bale kecil di tengah sawah tempat petani melepas lelah.