an AL GIBRAN NAYAKA story

###############################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Yep, kalian sedang membaca pengantarku lagi… kenapa sih Nay, kamu selalu bikin pengantar gak jelas untuk setiap tulisanmu??? Apa ada yang bertanya demikian? Aku punya jawabannya, sebaaab… aku punya kalimat vavorit untuk setiap cerita yang kutulis dalam paragraph pengantarku. Apa kalimat itu?

Ini dia… semoga kalian menikmati membaca KADO CINTA Mr. VALENTINE seperti aku menikmati saat menulisnya… that’s my vavorite words.

Ini adalah cerpen ke-6 dalam urutan menulisku. Sangat singkat dibandingkan cerpenku yang lain. Ini hanya 8 halaman A4 dengan margin 3333 spasi 1.5 times new roman 12. Bahkan sudah habis sebelum kalian mulai membaca. Makanya aku panjangin dikit dengan pengantarku ini, kalau gak mau baca boleh skip saja.

Sebenarnya aku ingin merombaknya agar lebih panjang dikit lagi, minimal 20 halaman lah, tapi aku terlalu lelah dan udah putus asa dengan KADO CINTA Mr. VALENTINE ini, jadi biarkan saja laah dia apa adanya. Eh, aku nulisnya pas moment valentine loh, sayang yea, momentnya gak tepat lagi saat kalian baca sekarang.

(Nay, cukup!!!)

Wassalam

n.a.g

###############################################

“JANGAN SENTUUHH…!!!”

Astaga, ini adalah suara ter-geledek yang pernah keluar dari mulut Aiman sepanjang sejarah suara sound system-nya. Teriakan Aiman kali ini sukses membuat kupingku berdenging kiri kanan. Lalu secepat kilat dia menyambar kotak kecil yang sedang kupegang, kotak berbalut kertas mengkilap warna putih berhias pita pink yang hampir saja kupreteli. Aku mengkeret dipandanginya dengan mata melotot. Andai ini film kartun, tanduk pasti akan mencuat menyeramkan dari ubun-ubunnya. Atau hidung dan telinganya akan bekerja sama mengeluarkan asap bergulung-gulung.

“Kenapa sih Zam, kamu suka benget nyentuh benda yang jelas-jelas bukan punyamu???” Ucapnya bernada marah.

“Kenapa sih Man, kamu selalu mengeluarkan guntur tanpa kilat lebih dulu. Pekak nih lama-lama…” Gigi Aiman bergemeletukan. Sepertinya dia berada di puncak geramnya. Aku nyengir kuda. “Sori… aku kan gak tahu kalau kado itu punyamu. Lagian kamu naruhnya sembarangan, bukan salahku dong!” Aku membela diri.

“Seharusnya kamu lihat dulu sebelum ngambil, kado ini gak ada tulisan MI-LIK-RI-ZAM…” Dia mengucapkan kalimat itu dengan mimik dramatis sambil bergaya dengan tangannya seperti orang mendeklamasikan puisi indah karya penyair ternama. “Jadi… INI BUKAN MILIKMU!” Suaranya kembali menggelegar di depan mukaku.

Rambut depanku nyaris terbang dihembus badai dari mulut Aiman. Tapi aku belum menyerah, masih ingin menaikkan level marahnya seperti yang biasa kulakukan. Kemudian dengan tenangnya aku berucap, “Kan gak ada tulisan MILIK AIMAN juga!”

“AARRGGHHH…”

“WAAAA… iya iya iya! Maaf deh…” Aku menghindar dari cubitannya kali ini.

Aiman sangat mahir mencubit, sepertinya itu adalah bakatnya sejak lahir. Bakat yang sangat tidak cocok berada pada cowok se-macho Aiman. Aku beberapa kali pernah jadi mangsa capit kepitingnya itu. Birunya tidak hilang selama 4 hari, parah.

Tapi, biarpun kerap mendapat cubitannya itu, aku tak pernah bosan mengusik kawan se-kost-ku ini. Aku suka detik-detik dia menarik tanganku dan menyentuh perutku, dadaku, bahuku atau kadang-kadang pahaku sebagai sasaran capitnya. Yah, walaupun berujung sakit sih. Tapi demi bisa bercengkerama dan bersentuhan dengan cowok luar biasa sempurna seperti Aiman, aku rela bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian. Senang karena bisa bersentuhan dengannya, tapi sakit setelah mendapat plintiran kulit darinya.

Aiman urung membuat biru bagian tubuhku, dia berdiri sambil memperhatikan kotak miliknya itu. Meneliti tiap bagiannya lalu tersenyum sendiri. “Kado valentine-ku…” Lirihnya, lalu menatapku. “Untung tangan usilmu belum bertindak lebih jauh mengobok-oboknya. Sedikit saja aku telat pasti kado ini bukan kejutan lagi…”

Aku bengong dengan mulut menganga. Kado valentine? Kapan valentine-nya? Seingatku sudah 2 tahun lebih nge-kost bareng dia dan anak-anak lain di sini, Aiman belum pernah bikin kado valentine. Huhuu… pasti sekarang Aiman sudah jadian sama Theodora, cewek berdada besar yang selalu menguber-ubernya di sekolah. Kado itu pasti buat dia. Nelangsa pertamaku hari ini, Aiman tidak lagi dalam jangkauanku.

“Ohh…” Gumamku lemas. “Semoga momen valentine-mu seindah kado itu.”

“Pasti.” Jawabnya mantap. “Eh, kamu gak bikin kado valentine-kah?”

Aku menggeleng. “Belum menemukan seseorang yang tepat.”

Aiman menatapku. “Jika tiba saatnya nanti, kamu pasti akan menemukannya.”

“Yah, semoga saja.” Aku berbalik meninggalkan ruang TV tempat Aiman dan kadonya berada. Melangkah lunglai menuju kamarku di lantai atas. Hariku mendadak kelabu. Hey tunggu, Aiman bukan satu-satunya cowok cute di kost ini. Come on Zakiyul Rizam, saatnya melebarkan sayap ke kebun tetangga sebelah.

Jadi, hariku belum kelabu. Aku masih punya matahari di balik pintu lain di samping pintu kamarku. Penghuninya bernama Fata, lengkapnya Fatahul Ikram. Dan dia juga sangat hottie, cowok berpredikat Most Wanted lainnya dalam diary-ku.

“Masuk aja, gak dikunci kok!” Seru Fata dari dalam setelah aku mengetuk pintu.

Aku masuk ke kamar Fata dan segera menyadari kalau hariku benar-benar sudah kelabu. Di atas kasurnya, dengan telaten Fata sedang merekatkan pita-pita cantik di atas bungkus kadonya. Kado valentine-nya, tentu saja bukan untukku.

“Lebih kerasa aura valentine-nya kalau dibungkus sendiri.” Ucapnya sambil tersenyum. Tangannya masih terus mengatur letak pita-pita manis itu. “Punyamu pasti lebih cantik dari ini ya Zam, jiwa art-mu kan lebih tinggi.” Fata mendongak dari kotaknya yang hampir jadi. “Udah punya kan?”

Untuk kedua kalinya hari ini, aku menggeleng lemah.

“Hah! Belum punya kado?” Dia tampak terkejut. “Valentines day kan tinggal lusa, kalau gak nyiapin dari sekarang toko-toko akan kehabisan stok benda lucu untuk kado valentine tahun ini.” Fata terdengar sedikit berlebihan.

Aku mendesah. “Cabe keriting sekilo atau merica satu ember juga cukup pantas sebagai kado valentine sialan itu…” Apa yang terjadi dengan mulutku?

Aku menutup pintu Fata lebih keras dari biasanya meninggalkan dia dengan tampang terkejut dan kening berkerut. Aku tak peduli lagi, biarpun kalimatku tadi membuat Fata berpikiran kalau pacarku adalah ibu-ibu penjual bumbu dapur di pasar pagi. Fata adalah nelangsa keduaku hari ini. Cukup sudah, aku mustahil ke kamar Ilham yang berdahi lebar atau Farhan yang bergigi ambisius seperti hendak mengejar sesuatu itu, lebih-lebih ke kamar Birul yang punya peternakan jerawat di wajahnya. Aku tak ingin tahu mereka punya kado atau tidak. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah mencakar-cakar isi diary-ku lalu menyiram guling di kamar dengan air mata dan ingusku sekalian.

***

Valentines day. Aku benci hari yang kabarnya hari wajib bagi orang berkasih-kasihan untuk menunjukkan rasa sayang lebih di hari itu. Aku benci warna merah muda yang identik dengannya. Aku benci kartu bermacam corak yang memenuhi swalayan dan bookstore bahkan sejak sebulan sebelum hari itu tiba. Aku benci kotak-kotak kado bentuk hati dan persegi dalam berbagai ukuran yang juga memenuhi rak-rak market. Aku benci coklat, benci boneka-boneka lucu, benci miniatur-miniatur manis atau kalung hati yang biasa jadi kado di hari valentine. Semua itu seperti mengejekku yang tak punya seseorang spesial kepada siapa aku akan memberikan kado-ku. Tidak punya, karena aku memiliki cinta yang tak biasa. Aku menginginkan Mr. Valentine, bukan Miss atau Mrs. Valentine. Itulah masalahnya, di sini Mr. Valentine tidak memberi kado cinta kepada sesama Mr. Valentine. Kalimat jelasnya, aku bukan remaja heteroseksual yang bisa dengan mudah terangsang bila melihat cewek ber-rok mini atau ber-tank top ria. Itulah alasan mengapa aku benci hari valentine berikut pernak-perniknya.

Seperti hari ini, aku sedang di swalayan membeli beberapa barang dan camilan untuk sebulan saat remaja seumuranku cowok cewek berseliweran menenteng kotak kado termanis dalam pandangan mereka. Juga cowok cewek yang sedang memilih-milih kartu bernuansa feminim. Huh, aku gerah sendiri rasanya. Buru-buru aku segera ke kasir untuk membayar isi keranjangku.

Seorang cowok menatap kedalam keranjang yang kutenteng. Dia sedang membayar kotak dan kartunya di kasir yang sama denganku. Si Cowok menatap lama, mungkin bertanya-tanya mengapa tak ada kotak dan kartu serupa seperti yang dia beli di antara belanjaanku yang didominasi snack, perlengkapan mandi, deterjen dan 1 box kolor size M. Cowok itu menatapku dengan tatapannya yang menyebalkan. Aku melotot besar padanya. Si Cowok Bikin Kesal menyambar kantongnya dan segera berlalu dari situ. Apa aku memang se-mengerikan itu ya jika sedang melotot???

Giliranku yang dilayani. Aku menaruh keranjang di depan Si Mas Kasir dan langsung diobok-oboknya. “Tidak beli kado valentine Dik?” Si Mas mencoba berbasa-basi yang semakin membuatku panas.

“Kolor itu kado valentine-nya.” Sahutku tak ramah.

Si Mas tertawa. “Bisa aja…”

“Kenapa gak? Lebih bermanfaat malah ketimbang coklat yang sudah pasti bakal dikeluarkan esok pagi…”

Si Mas bengong. “Tapi ini kolor cowok…” Tatapannya menyelidik.

Aku semakin gerah. “GAK JADI BELI!!!”

“?????” Si Mas semakin bengong.

Aku meletakkan uang pas -mungkin yang lebih recehnya saja- lalu secepat kilat menyambar belanjaanku yang sudah dalam kantong. Tanpa menungu lagi aku segera melesat pergi meninggalkan box kolor yang belum di-scaner dalam tangan Si Mas Lemot yang masih melongo. Segerombolan cewek centil ber-rok mini dengan tangan penuh kotak dan kartu pink melintas di depanku saat hampir mencapai pintu keluar. Cekikikan mereka memuakkan. Nyaris saja mereka semua kutabrak.

“MINGGIR…!!!” Bentakku pada mereka.

Gerombolan cewek itu melongo menatapku. Tak ada lagi tawa centil. Aku mendengus dan segera berlalu dari sana. Hariku sungguh buruk.

***

Aiman masuk kamarku. Aku sedang duduk di depan jendela yang menghadap ke halaman rumah sebelah. 2 orang bocah kembar berambut keriting sedang bermain bola karet di sana. Sudah 1 jam aku menghabiskan sore sambil menikmati tingkah lucu saudara kembar itu. Kemasan jumbo potatos stick di tanganku bersisa setengahnya.

“Kok di kamar terus Zam?” Aiman ikut duduk bersamaku di lantai. Dia juga ikut-ikutan menempelkan pipinya di kaca jendela seperti yang sedang kulakukan. “Minta ya!” Katanya sambil menyambar bungkus potatos stick dari tanganku.

Sejak mengetahui kalau Aiman mungkin punya pacar -bukan mungkin tapi pasti- lewat kado dan ucapannya kemarin. Aku jadi kurang berminat pada Aiman. Untuk apa? Sia-sia saja aku menyimpan rasa suka-ku padanya jika aku tak bisa bebas lagi berfantasi seperti sebelum ini. Sekarang, pemikiran bahwa Aiman telah jadi milik seorang gadis –meskipun gadis itu adalah Miss Huru Hara Theodora– membuatku merasa tak nyaman lagi menghayalkan hal-hal indah bersama Sulaiman Al-Ghifari seperti 2 tahun terakhir ini. Terlalu enggan juga untuk bercengkerama dengannya.

“Lucu banget ya mereka, kalau besar nanti pasti ganteng.” Ucapnya mengomentari tingkah anak kembar di halaman sana sambil mengunyah potatos-ku.

“Anak kembar itu cewek…” Aku menukas. “Gak mungkin bisa ganteng.”

“Hah?” Dia berhenti mengunyah. “Kok gak mirip ya, lebih cocok disebut ganteng daripada cantik.” Aiman memelototi anak kembar itu lebih seksama.

Aku tersenyum juga mendengar ucapannya. “Yang rambutnya lebih keriting itu namanya Caca.” Jelasku. “Cici yang sekarang sedang membaling bola.”

“Ooo… tapi baju mereka kayak baju anak laki ya!” Aiman masih tidak terima.

“Mereka kan baru dua tahun lebih, wajar pake baju kaus sama celana selempang gituan. Aku sering kok liat anak kembar berpakaian gitu, gak kira cewek atau cowok.”

Aiman manggut-manggut. “Kok bisa tau nama mereka?” Tanyanya lagi.

“NENG CACA, NENG CICI… mandi  dulu ya… udah sore!” Seorang mbak-mbak –pengasuh anak kembar itu– muncul menggandeng Caca dan Cici masuk rumah.

“Udah tahu kan jawabannya.” Ujarku pada Aiman. “Kita tuh tetanggaan sama mereka, kelewatan banget kalau tetangga sendiri aja gak kenal.”

“Jendelaku kan gak menghadap ke halaman mereka.” Aiman membela diri.

Aku mendesah. “Ada apa?”

Keningnya berkerut. “Apanya?” Dia balik tanya dengan mimik bingung.

“Kamu gak nyelonong kemari hanya untuk mastiin jenis kelamin Caca Cici, kan?”

Aiman terbahak. “Setelah dari kemarin kamu jadi lebih diam, ternyata sekarang sifat lucu-mu balik lagi. Aku senang…”

Apaan sih dia, bikin nelangsaku balik lagi gara-gara kembali ingat sama kado itu. Tapi tunggu, dia senang dengan sifat lucu-ku? Sepertinya masih ada harapan untuk jadi yang kedua nih. Oh Rizam, sadarlah.

“Gak cuma mau ngecek kelamin mereka kok. Nih…” Dia menyodorkan bungkusan potatos yang sepertinya sudah kosong itu ke depanku. “Aku juga mau nguras stok camilan-mu, hihiii…” Aiman nyengir.

“Jahat.” Cetusku sambil meremas kantong yang sekarang berisi angin itu.

“Aku juga mau minta pendapatmu, tepatnya penilaian kali ya…” Dia merogoh kargo selututnya yang bersaku lebar di kiri kanan. “Menurutmu, mana yang lebih manis?” Aiman mempentangkan 2 kartu bentuk hati di depanku. “Ehemm, seandainya kamu pacarku, seandainya ini ya… kamu lebih suka kartu yang mana?”

Aku pengen nangis saja. Orang yang aku gilai memintaku memilihkan kartu romantis untuk diserahkannya kepada pacarnya. Sedih, benci dan mengasihani diriku sendiri. Aiman sungguh tega. Tak tahukah dia hatiku retak-retak saat ini? Dan yang lebih bikin broken heart, tanpa perasaan dia memintaku memposisikan diri sebagai pacarnya, cewek huru hara itu. Huwaaa… aku benar-benar ingin meraung. Tapi aku tetap memilih 1 kartu untuk Aiman walau sebenarnya jika menurutkan hati ingin sekali aku merobek-robek kartu itu hingga menjadi bagian paling kecil dan tak bisa dipegang lagi.

Aku benci warna pink. “Yang coklat lebih manis.” Ujarku akhirnya.

Aiman tersenyum. “Trims ya… kamu sangat membantu.” Dia bangkit dari duduknya. “Mandi sana, kamu bau banget tau gak!”

“Sialan, kamu tuh yang bikin bulu idungku rontok…!” Teriakku padanya.

Aiman tertawa-tawa lalu keluar dari kamarku. Sepeninggalnya, aku kembali menempelkan pipi di jendela dan merenungi nasib cintaku yang mustahil terwujud.

***

14 Februari, hari sayang-sayangan ini datang juga. Kawan-kawan sekelasku sudah heboh sejak pagi. Yang cewek kompakan pakai aksesoris serba pink. Mulai dari tas, kaus kaki, bando, pita rambut, gelang juga jam tangan. Aku berani bertaruh, hari ini bra dan celana dalam mereka juga berwarna pink. Para cowok –kecuali aku tentunya– datang dengan wajah sumringah karena membayangkan bisa mesra-mesraan dengan pacarnya yang gak keberatan ngijinin bibirnya dikunyah-kunyah khusus hari ini. Membayangkan momen paling romantis yang akan mereka nikmati bersama sang pacar sepanjang perjalanan cinta mereka. Siapa yang tak bahagia? Aku tak bahagia.

Kelasku mulai riuh dengan ucapan-ucapan ‘happy velentine’ dan kalimat-kalimat narsis membanggakan kado sendiri. Benar-benar gak penting, aku dongkol setengah mati dengan suasana kelas hari ini. Dan yang lebih membuat jengkel adalah Fata, dia sekelas denganku. Hatiku bagai ditusuk-tusuk gagang pel melihat dia tertawa gembira bersama para ladies. Jam istirahat nanti dia pasti akan bermesraan dengan pacarnya sambil tukeran kado. Membayangkan jam istirahat membuatku teringat Aiman. Di kelasnya, dia juga pasti sedang menikmati aura hari kasih sayang yang sama. Dan saat istirahat nanti dia juga akan memberikan kartu hati yang sore kemarin kupilihkan buat Theodora. Aku yakin Theodora adalah gadis beruntung itu.

***

Malam ini aku merenung menatapi bintang-bintang dari balik jendela. Kaleng coke dan bungkusan snack bertebaran di sekitarku. Sudah hampir jam sebelas. Keadaan kost-an sunyi, mereka pasti sedang menghabiskan malam dengan sang kekasih, atau sedang melibatkan diri dalam agenda ujung malam valentine yang telah mereka rancang jauh-jauh hari. Lagu lama Backstreet Boys, Show Me The Meaning Of Being Lonely mengalun pelan dari radio mini di atas meja belajarku. Hatiku tambah mellow jadinya. Aku sangat lonely di sini. Rasanya seperti mau menangis saja, meratapi nasibku yang tak beruntung.

Aku terlalu banyak minum. Sudah 4 kaleng coke yang kukosongkan. Buru-buru aku keluar dan berlari ke arah kamar mandi di sebelah kamar Fata. Nyaris pipis di celana karena kelamaan meraba-raba sakelar lampu yang berada di dalamnya. Lega rasanya setelah mengosongkan kandung kemihku. Aku kembali ke kamar, sempat kulirik ruang TV yang malam ini tidak dinyalakan sama sekali sejak jam tujuh tadi.

Aku membuka pintu kamar dan langsung terbelalak besar mendapati sebuah kotak putih mengkilap tergeletak di antara kaleng coke dan bungkus snack-ku. Lebih melotot lagi saat melihat selembar kartu coklat bentuk hati yang bersandar manis di kotak yang juga berpita coklat. Rasanya aku pernah melihat kartu itu.

Aku bergegas ke jendela, meninggalkan pintu yang terpentang lebar. Kuhampiri kejutan manis yang membuat irama jantungku bak gendang yang ditabuh. MILIK RIZAM, itu tulisan pembuka di kartu itu. Aku segera membaca serangkaian kalimat yang ditulis rapi di bawahnya.

‘Happy Valentines Day. Maaf membuatmu kaget di penghujung hari indah ini. Maaf juga karena telah membuatmu menunggu selama ini, mungkin selama 2 valentine yang telah lalu. Tapi sesuatu seindah cinta memang sangat pantas ditunggu kan? Selama apapun penantian itu, bila yang dinanti adalah cinta, maka 1000 musim dalam penantian takkan berarti apa-apa. Rizam, aku ingin memberitahumu sesuatu yang telah lama ada di hatiku, LOVE. Setelah 2 valentine aku simpan sendirian sambil mencari kepastian dan meyakinkan diriku  bahwa cinta ini bisa kamu terima nantinya, dan sekarang… aku dengan mantap ingin menyimpan cinta ini besamamu. Karena aku telah yakin, kamulah insan itu…’

My Gosh! Aku klepek-klepek sudah dengan paragraf itu. Belum lagi kalimat penutup di bawahnya yang serasa menerbangkanku ke langit ketujuh.

‘Terimalah kado cinta ini, dan izinkan aku menjadi Mr. Valentine pertama dalam lembar hidupmu. Aku janji akan jadi Mr. Valentine terbaik dalam kisah cinta yang akan kita tulis bersama mulai saat ini…’

 

Huwaaa… aku ingin jungkir balik saking bahagianya. Tak sabar aku segera membuka kotak berpita coklat itu dan untuk kedua kalinya mataku nyaris meloncat melihat isinya. Sebuah music box dengan bola kristal penuh salju dan snowman imut yang memegang hati bertulis LOVE di dalamnya. Kado valentine termanis dari Mr. Valentine-ku. Aiman, pasti dia. Kartu coklat ini yang kemarin dimintanya untuk kupilih sendiri, juga kotak putih yang sama dengan hari itu. Dia sukses mempermainkan hatiku selama 3 hari ini, sukses mempermainkan suasana hatiku yang remuk redam sejak menemukan dia dan kadonya. Tapi sekarang semua remuk redam itu terbayar sudah. Tunggu, tapi pita kado Aiman hari itu kan berwarna pink sedangkaninicoklat. Aku mulai ragu.

“Ehemm, aku mengganti pita pink-nya karena kamu memilih kartu coklat….” Seseorang bersuara di belakangku.

Aku berbalik. Aiman tegak di pintuku sambil tersenyum. Dia terlihat sangat memabukkan malam ini. Betapa tidak, dia shirtless, hanya memakai celana kargo selutut favoritnya seakan mengundangku untuk lari ke dada indahnya. Sekilas Aiman sangat mirip Taylor Lautner yang jadi Jacob Blake di Twilight Saga.

“Tidak lagi benci hari valentine kan?” Ucapnya sambil menatapku lembut. Aku meleleh di bawah tatapannya itu.

Aku menggeleng. “Pantaskah aku membenci hari dimana pada hari itu aku mendapatkan kado cinta dari Mr. Valentine terbaik sepanjang sejarah?”

Aiman tertawa. “Jadi, mengapa kamu masih berdiri di sana, tidakkah kamu ingin memeluk Tuan Valentine-mu ini?” Tangannya terbuka untukku.

Dan aku menubruknya. Memeluknya sepenuh hati, membenamkan wajahku di lekuk bahunya. Merasakan hangat dirinya yang selalu kuhayalkan dulu. “Tidak pernah aku merasa sebahagia ini. Aku mencintai semua yang ada di dirimu…” Ucapku lirih.

Aiman tertawa lagi. “Termasuk mencintai capit kepitingku?”

Giliranku terbahak di dadanya. “Justru itulah yang paling kucintai, juga ‘capitmu’ yang satu lagi ini.” Aku menekankan diriku padanya.

“Nakal…” Ujarnya sambil mengecup puncak kepalaku. “So, mana kado valentine untuk kekasih hebatmu ini, sweetheart?”

Aku mendongak dan mencium bibir hangatnya. “Itu kado kecil dariku…”

“Kado kecil???” Sebelah alisnya terangkat. “Mana kado besarnya?”

“Bawa aku ke ranjang dan kamu akan mendapatkan kado besar itu…”

Aiman tersenyum. “Kamu benar-benar membuatku jatuh cinta, Zam.” Lalu dia menutup pintu dan membawaku ke ranjang.

***

Sekarang aku suka Hari Valentine. Mulai suka warna pink-nya, suka kotak bentuk hati dan persegi, suka miniatur-miniatur lucu dan benda manis lainnya seperti kotak musik dengan boneka salju di dalamnya sebagai kado di hari itu. Aku juga mulai suka kartu-kartu bernuansa feminim di rak-rak swalayan. Aiman telah membuatku memandang hari valentine dari kaca mata kasih sayang. Berkat kado cinta darinya, kini aku menghabiskan hari-hari indah berkualitas bersamanya. Menulis kisah cinta kami berdua yang bermula di Hari Valentine. Untuk tahun-tahun ke depan, aku pasti akan menikmati saat-saat menyiapkan kado dan kartu manis untuk Aiman, Mr. Valentine-ku yang mencintai tanpa cela. Dan kisah cinta yang kami tulis, sampulnya bertuliskan KADO CINTA Mr. VALENTINE.

 

Di bawah kolong langit, 14 Februari 2012

Yang belum punya Mr. Valentine

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com