an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

YES YES YES!!! Itu adalah luapan kegembiraanku ketika selesai mengetik cerpen keenamku ini pada satu malam jam 2 dini hari. Rasanya segala penat dan lelah, juga mata perih terbayarkan sudah setelah aku selesai mengetik alamat emailku di baris paling bawah tulisan ini.

Cerita ini mungkin sedikit nyeleneh dengan kalimat-kalimat tak bersensor di dalamnya, tapi aku memang dari awal berniat menjadikan tulisan ini demikian. Selain itu juga terkesan bertele-tele, dan dari awal juga aku sudah berniat menjadikan tulisan ini terkesan seperti itu…😀

So, tanpa ngomel berpanjang-panjang (karena aku yakin kalian amat tidak suka membaca pengantar penulis yang membosankan seperti ini), aku persembahkan cerpen ini untuk kalian bantai beramai-ramai. Maksudku, kalian kritik beramai-ramai di kolom komen.

Semoga kalian menikmati membaca IN HIS PANTS seperti aku menikmati saat menulisnya…

Wassalam

n.a.g

#####################################################

Banyak yang bilang tak ada cinta dalam kamus hidup kaum G. Yang ada hanyalah seks. It’s true, dan itu nyata. Lalu sebagian kecil berkoar-koar, cinta bukan hanya milik pria-wanita, pria-lelaki juga bisa memiliki cinta. Itu juga benar. Tapi kenyataannya, hanya secuil minoritas dari kaum G yang benar-benar menjalin hubungan bersama pasangannya karena cinta. Selebihnya, sebagian besar kita menjadikan seks sebagai alasan kuat bersedia menjalin sebuah relationship.

Abraham Maslow bilang; ‘Seks merupakan kebutuhan dasar manusia, sama seperti kebutuhannya akan oksigen dan makanan.’ WOW, cukup mencengangkan bukan? Mungkin semasa hidupnya Maslow adalah maniak seks, itu sebabnya dia mengeluarkan pernyataan demikian. Tapi yang ingin kutulis di sini bukan si Maslow itu dan kebutuhan seks-nya, melainkan aku dan kebutuhan seks-ku. Yah, mungkin aku tergolong dalam kaum G mayoritas yang mendewakan seks di atas cinta. Dan aku berkata jujur untuk itu. Namun kenyataannya, cinta punya jalannya sendiri untuk mengubah maniak seks menjadi maniak cinta…

***

“Aku harus segera kembali ke klinik.” Kupakai celana dalam diikuti celana kain dan kemejaku kemudian. Chandra masih berada di bawah selimut.

“Apa kamu harus selalu buru-buru seperti itu? Orang tidak akan mati hanya gara-gara sakit gigi.” Dia menyinggung profesiku sebagai dentist.

Aku tertawa. “Kamu tidak bermaksud menahanku lebih lama di sini, kan?”

Chandra bangun, membiarkan selimut jatuh untuk menampakkan tubuh telanjangnya. Dia mendekatiku. “Tinggallah beberapa saat lagi.”

Aku menyeringai padanya. “Jangan bilang kamu lupa pada perjanjian kita.”

“Ya ya ya… kita hanya partner seks, tak lebih. Aku selalu ingat itu,” ujarnya lalu mulai memakai celananya.

“Berarti kamu juga ingat kalau tak akan pernah ada perasaan yang terlibat…”

Dia mengangguk-angguk malas. “Dan jika di antara kita ada yang mulai melibatkan hati maka hubungan ini berakhir…” Dia meraih kemejanya dari lantai. “Kamu hampir selalu mengulang-ulang kalimat itu setelah kita selesai di ranjang.”

“Yah, hanya mengingatkan saja. Barangkali kamu lupa…”

“Ohh, kau baik sekali Val…” Kini dia mulai bergelut dengan dasinya.

Aku merapikan penampilanku di cermin, merapikan rambutku yang berantakan. “Aku tak punya waktu untuk sesuatu apa yang disebut dengan cinta. Sudah kuberitahu dari awal, kita bertemu kapan kita mau, having seks dan selesai…”

“Okey, aku tahu…” Dia memandangku.

Aku balik menatapnya, sedikit tatapan tajam sepertinya. “Jadi jangan pernah memintaku untuk tinggal, okey!!!” Ya, nadaku memang terdengar sedikit tinggi beberapa oktaf.

Dia tertawa. “Oh Val, kamu terlalu serius menanggapinya. Aku hanya bebasa-basi saja.” Dia ikut berdiri di depan cermin sambil merapikan kerah bajunya. “Lagipula, jika ada yang harus jatuh cinta di antara kita, aku pastikan bukan aku orangnya.”

Great. Berarti aku tak perlu khawatir kamu akan mengikatku dengan aturan-aturan ala orang berkasih-kasihan yang membosankan itu. Kita hanya akan jadi teman tidur saja selama kita mau. Karena aku juga mustahil jatuh cinta.” Aku selesai di depan cermin. “So, bisa kamu mengantarku ke tempat kamu menjemput tadi?”

Tanpa memakai jas-nya, Chandra mengambil kunci mobil di dekat lampu tidur dan segera keluar dari kamar. Aku mengekor dibelakangnya. Tak lama kemudian mobil classic Chandra keluar meninggalkan pekarangan rumah mungilnya menuju klinik tempatku bekerja.

***

Adi Chandra Firansyah, teman SMA-ku dulu. Kami bertemu lagi ketika reuni akbar lebih kurang tujuh bulan lalu. Siapa sangka dia juga ternyata sama sepertiku. Aku tidak langsung tahu hal tersebut malam itu juga, tapi jauh setelah acara reunian itu hampir terlupakan. Saat melihat badan jangkung dan tubuh atletisnya di malam reunian itu, hal pertama yang terlintas di otakku adalah seks, juga pertanyaan ‘Seberapa keras dia bisa menyodok dengan penisnya?’ yang mengiang di otakku sepanjang malam itu. Pasti nikmat sekali bila dapat bercinta dengannya. Dan kejutan, ternyata dia juga punya pekerjaan di Jakarta. Sama sepertiku yang juga bekerja di ibukota. Bedanya, aku dokter gigi dan dia manejer pemasaran di sebuah perusahaan besar di kawasan Jakarta Pusat.

Sekembalinya dari Bandung tempat di mana aku melalui masa SMA-ku, kami sepakat untuk bertemu lagi, tepatnya dua minggu setelah reunian. Aku tak percaya saat dia bilang mendapatkan nomorku dari teman reunian malam itu yang bahkan dia tak tahu siapa si teman dimaksud. Aku membayangkan dia menyapa beberapa orang sambil berkata ‘Apa di ponsel-mu ada menyimpan nomor Anval?’ sampai dia bertemu teman yang benar-benar punya nomor simcard-ku. Aneh, mengapa dia tidak langsung memintanya saat kami mengobrol? Malu? Ya, aku ingat saat SMA dia memang punya beberapa sifat aneh, tapi pemalu bukan salah satunya.

Dan dari sanalah semuanya dimulai. Pertemuan intens membuat kami saling mengakui orientasi seks masing-masing. Tahukah kalian apa yang aku lakukan begitu mendengar dia berkata ‘Penisku selalu mengeras bila bersamamu, Val.’ Yep, aku langsung naik ke pangkuannya, merusak kancing kemejanya untuk kemudian bergulingan bersama di atas karpet ruang tamunya. Lalu setelah percintaan pertama kami yang panas itu, ide gila pun muncul.

“Chan… apa pendapatmu bila kita jadi partner seks?” cetusku saat itu.

Dia menatapku. “Aku tak mengerti…”

Lalu aku duduk di depannya. “Begini, partner seks. Kita berdua hanya terikat hubungan seks. Kapan kita ingin bercinta, maka kita bercinta. Just having seks…” Aku sangat bersemangat ketika itu.

Mata Chandra berkedip-kedip, mencoba mencerna perkataanku. “Ya, jika itu maumu, aku rasa tak keberatan. Setidaknya kita terhindar dari free seks dengan gonta ganti pasangan.”

Aku mengulurkan tanganku. “Deal?

“Okey, deal!” Dia menjabat tanganku.

Lalu perjanjian-perjanjian kecil lainnya mulai diatur. Seperti, tidak ada yang boleh memaksakan—kapan kami sama-sama ingin maka baru boleh ML. Tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi masing-masing, tidak ada kalimat-kalimat mesra, tak ada pelukan perpisahan setelah bercinta, tak ada kecupan kening ala orang pacaran, tak ada dinner romantis, tak ada kartu-kartu ucapan dalam rangka apapun itu dan tak ada sms mesra. Itu semua adalah antisipasi agar jangan ada di antara aku atau Chandra yang menganggap hubungan ini lebih dari sekedar teman tidur. Pokoknya tak ada hubungan selain teman seks, tak ada cinta, tak boleh hati terlibat. Murni hanya seks. Kami bertemu, tentukan tempat, lepas pakaian atau cukup resleting saja pada beberapa kesempatan, mendapatkan satu kali orgasme, dan selesai. Begitu selalu. Jika ada yang mulai menunjukkan gejala-gejala jatuh cinta—dari pihak siapapun itu, apakah dari aku atau Chandra—maka partner seks ini harus berakhir. Itu perjanjiannya. Dan sejauh ini berjalan seperti seharusnya.

Sekarang sudah lima bulan lebih sejak ML pertamaku dengan Chandra di ruang tamunya. Kami bertahan. Chandra akan menelepon bila dia sedang ingin, begitu juga denganku. Jika hasratku untuk merasakan penisnya datang maka aku akan meneleponnya. Kami bercinta di mana saja, di kamar hotel, di apartemenku, di rumah mungilnya, di ruang kerjanya bila sikon kundusif, di mobil, bahkan di kamar mandi pria. Jika tidak punya banyak waktu sedangkan hasrat untuk bercinta sangat kuat, kami hanya perlu membuka resleting saja dan sudah merasa cukup bila sudah bisa memasukkan tangan ke dalam celana satu sama lain. Atau cukup sekedar melibatkan mulut saja di depan selangkangan jika waktu sempit.

Seperti hari ini, Chandra sudah berada di luar pintu ruang praktekku. Aku keluar setelah mendapat teleponnya.

“Aku sedang sangat ingin,” ujarnya begitu aku muncul dari balik daun pintu. “Apa dental chair di dalam sana bisa kita manfaatkan sebagai pengganti tempat tidur?”

“Jangan gila!” desisku. “Di dalam sana ada Fahri…”

Dia memutar bola matanya. “Okey, where?” Chandra menatap ke dalam mataku. “Toilet, again???”

“Apa ada pilihan lebih baik lagi selain itu?” tanyaku.

“Kita bisa ke hotel. Aku yang bayar!” Dia siap melangkah.

“Chan, aku tak punya cukup waktu. Sebentar lagi pasienku membludak. Banyak pasien janji…” Chandra menatapku lagi. “Itu berarti, banyak gigi yang harus kuperbaiki hari ini…”

“Mengapa harus aku yang selalu mengorbankan jam kerjaku?” Dia protes.

“Koreksi… tidak selalu. Ingat? Aku juga sering keluar menuju kantormu saat di mana seharusnya aku memegang tang dan bur gigi,” jawabku tak terima dengan kata ‘selalu’ yang diucapkannya. “Lagipula pekerjaanmu hanya dengan kertas-kertas itu, sedangkan aku melayani manusia. Aku harus lebih sosial. Kamulah yang lebih mungkin meninggalkan pekerjaanmu ketimbang aku…”

Dia menarik napas dalam. “Toilet… bukan pilihan yang buruk. Lagipula sejauh ini kita berhasil juga kan di sana?” Dia mengalah.

“Tunggu aku di sana, aku harus permisi dengan Fahri dulu.”

“Cepatlah…!” Chandra bergerak meninggalkanku.

Aku kembali masuk ke dalam menemui Fahri. Dia perawat gigi, tiga tahun lebih muda dariku. Satu hal yang harus kalian tahu, Fahri—lelaki muda lumayan tampan— ini pernah secara terus terang mengakui padaku bahwa dirinya adalah biseks. Entah apa tujuannya. Tapi aku rasa dia tertarik denganku. Apakah dia tahu kalau aku gay, aku tak punya waktu untuk memikirkan itu. Responku saat dia mengakui status seksualnya hanya ‘Banyak lelaki biseks di luar sana, kamu bukan satu-satunya orang beruntung yang bisa bergairah dengan pria dan wanita sekaligus.’ Hanya itu.

“Ehemm, Ri… aku keluar lima belas menit. Jika ada pasien telepon saja!” Pamitku sambil menggantung jas putihku di sangkutan.

“Okey, Val,” sahutnya. Aku melarang Fahri berbicara formal jika tidak sedang di depan pasien. Langsung menyebut nama seperti layaknya kawan lebih terlihat akrab ketimbang panggilan atasan-bawahan. Toh aku juga tak menganggap Fahri bawahanku, dia adalah rekan kerjaku. Hanya bila sedang menangani pasien saja dia memanggilku dokter.

Aku tiba di toilet pria. Berdehem satu kali seperti biasa jika toilet menjadi pilihan kami. Salah satu pintu toilet yang letaknya berjejeran di kananku terbuka. Chandra berdiri di sana. Aku melangkah masuk lalu menutup pintu sekaligus menguncinya. And then, sebagaimana biasanya, Chandra menurunkan resletingnya lalu menuntun tanganku ke dalam celananya. Sementara aku sibuk menerapkan keahlian jari-jariku di benda paling intim dari tubuh Chandra, dia juga sibuk melumat ganas bibirku yang terbuka menerima mulut dan lidahnya.

“Turunlah Val…,” bisiknya. Aku membantunya mengeluarkan kejantanannya melalui resleting.

Aku meliriknya lalu mulai merendahkan posisiku, kepalaku merunduk. Jika tadi jari-jariku yang bekerja, maka sekarang giliran mulut, bibir dan tentu saja lidahku yang akan melanjutkan misinya.

Kemudian

SWING SWING SWIIING SWIIINGG DDRRRTTT

Hape-ku menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi canggih. Ada telepon untukku.

“Damn it!” umpat Chandra geram.

Aku menghentikan aktivitasku pada penis Chandra, menyapu mulutku dengan punggung tangan lalu merogoh hapeku. “Iya Ri… okey aku kembali sekarang.” Aku menyimpan hape kembali ke saku celanaku.

“Dia benar-benar pengganggu.”

“Siapa?”

“Fahri, kamu tahu siapa yang kumaksud,” jawabnya.

“Bukan salahnya, aku punya pasien.”

“Dia menyukaimu…”

Aku urung membuka pintu, sebaliknya memandang Chandra lekat-lekat. “Bagaimana kamu tahu?”

“Aku sangat kenal bagaimana sifat seorang gay. Cukup sekali melihat maka aku akan langsung mengenal mana pria gay dan mana bukan. Itu sebabnya aku mengajakmu ketemuan setelah reunian di Bandung.”

“Wow… it’s amazing!” Kamu punya radar gay yang luar biasa tajam.” Aku menyeringai. “Tapi maaf harus mengecewakanmu, Fahri biseks…”

“Sama saja…,” cetusnya.

“Rapikan zipper-mu.” Aku kembali hendak membuka pintu.

“Oh come on, Val! Aku bahkan belum memasukkan tanganku ke dalam celanamu.” Dia menghalangi pintu. “Fahri hanya tidak suka kamu bersamaku, dia tidak suka hubunganmu denganku. Pasien hanya akal-akalannya saja. Sudah beberapa kali seperti itu, kan?” Dia mencoba menahanku. “Ketika kamu kembali, ternyata pasien tidak benar-benar ada.”

Benar, memang kejadian seperti yang Chandra katakan pernah terjadi sedikitnya tujuh kali sejauh ini—jika aku tak salah hitung. Aku harus buru-buru pulang dari hotel atau rumah Chandra sebelum benar-benar orgasme setelah menerima telepon dari Fahri. Namun setelah tiba di klinik, Fahri beralasan pasiennya tidak sanggup menunggu dan memilih pergi. Aku memberitahu Chandra tentang hal itu di pertemuan kami selanjutnya. Dan kini dia menggunakan keteranganku itu untuk menahanku di toilet.

“Kali ini pasiennya sungguh-sungguh ada, aku harus pergi.”

“Tentu…,” ucapnya. “Tapi setelah spermaku keluar lebih dulu.” Lalu dia memelukku erat, meraih tanganku dan kembali meng-genggam-kannya di batangnya yang masih tetap sekeras tadi. “Hargailah jam kerja yang kukorbankan agar bisa kemari.” Kemudian dia melumat bibirku.

Ya, dia benar. Demi setan dalam diriku, aku harus menghargai pengorbanannya, menghargai jam kerjanya. Chandra sudah mau datang kemari, aku tak mungkin membiarkannya pulang dengan kesia-siaan dan sepanjang perjalanan harus menanggung beban orgasme-nya yang tertunda. Bisa jadi sepanjang hari sampai dia bisa mendapatkan orgasme tertunda itu di kamar mandi rumahnya. Lebih daripada itu, aku tak bisa mengecewakan diriku sendiri dengan meninggalkan Chandra yang masih tegak dengan zipper menganga seperti itu. Jadi, aku mempercepat gerakan tanganku di dalam celana Chandra sambil berusaha tetap bernafas normal di sela-sela ciumannya yang panas.

***

“Val…” Fahri memanggil saat kami selesai membereskan peralatan kerja hari ini ke dalam oven untuk disterilkan besok pagi.

“Ya!” Aku memandangnya.

“Mmm…” Sejenak dia tampak ragu. “Aku punya dua tiket bioskop, filmnya Monte Carlo.” Dia bergerak mencabut kabel kompresor dan kabel dental chair unit dari stop kontak. Setelah itu berbalik menatapku lagi. “Keberatan jika pergi bersamaku ke sana?”

Apa ini? Fahri mengajakku kencan? Aku diam sebentar. “Well, aku rasa aku bisa menghabiskan satu atau dua jam di bioskop sambil mengunyah popcorn…”

Fahri tersenyum. “Aku akan ganti seragam dulu.”

“Aku tunggu di lobi.”

Okey, aku tak akan lama.”

Nyatanya Fahri tidak langsung membawaku ke bioskop. Dia mengajakku dinner terlebih dahulu. Aku mulai merasa sedikit jengah dengan Fahri. Kata-kata Chandra kalau Fahri sebenarnya menyukaiku kembali terngiang. Tapi jika dilihat dari cara Fahri menatapku sepanjang makan malam, aku yakin dia tak hanya sekedar suka. Tapi punya perasaan lebih dari sekedar menyukai. Fahri punya hati padaku.

Dan anggapanku dikuatkan dengan kejadian saat kami di bioskop. Dia sempat menyentuh jemariku, menggenggamnya sesaat sebelum aku menarik tanganku untuk bertindak merogoh kantong popcorn-ku. Aksi Selena Gomes berpura-pura jadi Cordellia Winthrop Scott—si gadis kaya sombong—dalam Monte Carlo tak bisa kunikmati sungguh-sungguh. Pikiranku sibuk mencerna keromantisan Fahri yang sepertinya sangat bersemangat malam ini. Aku mewanti-wanti hatiku agar tak terpengaruh dengan rangsangan Fahri, aku takut akan cinta yang dia tawarkan untukku. Dalam keremangan bioskop, Fahri hampir sukses mendaratkan bibirnya di wajahku jika aku tidak menghindarinya dengan beralasan ingin ke toilet.

Aku meninggalkannya di kursi. Di toilet aku membasuh mukaku dan berdiri lama di depan cermin. Kejadian tadi membuatku yakin kalau Fahri sudah tau aku gay. Mungkin dia menyimpulkannya dari pertemuan-pertemuanku yang intens dengan Chandra. Tapi dia salah besar jika jatuh cinta padaku. Cinta itu mengikat, aku benci terkekang. Bayangkan kamu adalah seekor burung dan cinta adalah sebuah sangkar, maukah kamu masuk ke dalam sangkar itu dan tak bisa lagi mengepakkan sayapmu sebebas dulu? Aku sama sekali tidak mau.

Fahri menarik, aku tak munafik. Dia termasuk tipe pria yang tak akan kutolak untuk ke ranjang. Tapi bila dia melibatkan cinta dalam urusan ranjang, maka aku tak akan pernah mau tidur bersamanya. Yah, mungkin aku terdengar bad, jahat, devil, demon, liar atau apalah istilahnya. Well, aku tak memungkirinya. That’s me.

“Val, kamu baik-baik saja?”

Aku menoleh ke pintu, Fahri menyusulku. “Ohh, ya aku baik-baik saja!” Jawabku sambil menarik tissue dan mengeringkan wajahku. “Apa filmnya sudah ending?”

“Hampir… tapi kalau kamu tak ingin kembali ke dalam sana kita bisa pulang sekarang.”

“Sepertinya kita memang harus pulang. Aku sedikit cepat mengantuk malam ini,” ujarku beralasan. Semoga dia tidak salah pengertian dengan diksi ‘cepat mengantuk’ dariku dan mengartikannya sebagai ‘aku ingin segera ke ranjang denganmu.’

Fahri tak berkata apa-apa lagi. Aku mengikutinya keluar dari toilet untuk selanjutnya menuju ke jalan dan menyetop taksi.

***

Aku sedang di department store saat seseorang menepuk bahuku. Sontak aku berbalik. Senyum Chandra langsung menyambutku. Dia tampak beda tanpa jas dan dasinya. Kelihatan lebih muda dua tiga tahun, kelihatan seperti remaja belasan tahun, sekilas aku hampir bisa menemukan sosok murid SMA yang kukenal dulu. Dengan jins dan oblong putih over size yang bagian lehernya melar sedemikian rupa, Chandra tampak manis dan lembut. Tidak sekaku dan seformal bila dalam balutan setelan kantornya yang sering kulihat. Apa kata yang tepat ya? Emm… friendly. Ya, dia terlihat hangat dan bersahabat.

“WOWW, ada bayi gajah yang harus kamu beri makan di apartemenmu?” Dia mengangkat dagunya ke arah troli-ku yang dipenuhi bahan makanan dan berbagai pruduk fast food tinggi toksid dalam kemasan-kemasan jumbo. Ironis, seorang dokter yang harusnya menghindari makanan kemasan justru rajin mengonsumsi makanan yang sama sekali jauh dari istilah sehat itu. “Atau kamu baru saja membuka panti asuhan anak-anak fakir di sana?” Chandra belum selesai ternyata.

“Dan sepertinya cucian kotor-mu menumpuk lagi di sudut kamar tidurmu…” Aku menyamakan skor kini. Kutunjuk kantong deterjen super gede yang menjadi satu-satunya benda yang baru ada dalam trolinya. Aku beberapa kali pernah mendapati tumpukan kain kotor di sudut kamar Chandra saat kami memilih kamarnya sebagai tempat bercinta. Aneh, kenapa dia tidak menggunakan jasa binatu saja?

Chandra tertawa kecil. “Aku tidak suka pakaianku dipegang sembarang orang, meski itu pakaian kotor. Itulah kenapa aku tak suka laundry.” Hey, apa dia bisa telepati? “Makanya aku butuh deterjen untuk mencucinya sendiri…” lanjutnya.

Aku menggeleng beberapa kali sambil berdecak-decak. Pria yang aneh. Baru kali ini aku menemukan pria metropolitan mapan yang mau mencuci bajunya sendiri. Mengherankan. Tapi saat ingat dia memang memiliki beberapa sifat aneh sejak SMA dulu, rasa heranku menguap begitu saja.

Well, aku tak menyangka bakal menemukan partner seks-ku di sini.”

Aku melotot padanya.

Chandra tertawa lagi. “Jangan keluarkan matamu, Anval… kamu membuat takut anak-anak.” Dia menunjuk segerombolan bocah usia sekolah dasar yang kebetulan lewat di samping troli kami dengan menenteng snack di tangan mereka. Anak-anak memang suka berkeliaran di swalayan bahkan hanya untuk membeli sekantong kerupuk. Bocah-bocah itu berlalu sambil mencuri-curi tengok padaku dan troli-ku yang menggunung dengan snack. Pasti mereka iri denganku yang punya banyak makanan kesukaan mereka.

Aku menatap Chandra. “Lain kali, jika kamu tak bisa menjaga ucapanmu, jangan harap aku mau lagi naik ke tempat tidur denganmu…,” cetusku dengan nada sedikit mengancam tentunya.

Sorry…,” lirihnya padaku.

Aku mendorong troli dan kembali menjejalkan benda-benda yang kubutuhkan ke dalamnya. Chandra mengekor di belakangku, ikut mengambil benda-benda yang sama seperti yang aku ambil. Cairan pencuci piring—padahal aku tahu dia tak punya satu piringpun di rumahnya, dia selalu makan di luar atau membeli menu kemasan dari resto. Telur yang sudah dipack—sementara dia tak punya peralatan apapun untuk membuat telur itu berubah menjadi telur dadar dan sebagainya. Ikut mencomot kaleng sarden juga, cendawan dalam plastik kemas, minyak goreng, botol saus bahkan botol kecap.

Aku mulai gerah menanggapi kekonyolannya lantas berbalik tepat menghadapnya. “Stop mengambil benda yang sama sepertiku!” seruku di wajahnya. “Kamu tidak memerlukannya… dan berjalanlah ke lorong yang lain. Temukan benda-benda kebutuhanmu… cotton bud misalnya.”

“Aku masih punya banyak stok cotton bud di rumah,” jawabnya yang membuat aku tambah jengkel. Dia menatap isi troli-nya. “Yah, siapa tahu besok aku akan membeli kompor dan penggorengan, kan?” Dia nyengir. “Kamu bisa masak sendiri, aku juga pasti bisa!”

Aku mendesah putus asa.

Actually… aku sedang berpikir. Apakah kita bisa mencari toilet dan masuk bersama-sama ke balik salah satu pintu di sana?”

Untuk kedua kalinya aku memelototi Chandra.

Dia melongok kiri kanan. “Tidak ada anak-anak, kamu boleh melotot lebih besar lagi.”

Arrgghh. Percuma. Aku mengabaikan Chandra dan segera mendorong troli milikku ke kassa. Celakanya, dia juga ikut aku ke kassa yang sama bahkan memotong antrianku untuk mendapatkan pelayanan lebih dulu.

Wait!” Seru Chandra setelah belanjaan kami selesai dikantongin. “Ini malam Sabtu, tidak masalah kan kalau pulang lebih larut?” Dia merampas kantongku kiri kanan dan langsung berjalan ke konter penitipan barang.

Aku geram setengah mati kini. Baru kuketahui kalau dia juga punya sifat menyebalkan, suka mengusik ketentraman, tak kenal kompromi dan ingin dituruti tanpa negosiasi lebih dulu. Tatapanku semakin bengis padanya.

“Aku tak terintimidasi dengan tatapanmu itu, okey!” Dan berani sekali dia menggandengku di tempat seramai ini. “Ayo, gamezone menunggu kita.”

WHAT? Gamezone? Apa dia kira usianya masih belasan tahun? Benar-benar gila.

Tapi kenyataannya gamezone memang mengasyikkan. Banyak juga orang-orang lebih tua dariku dan Chandra di sini. Mereka ikut bertingkah bersama anak-anak mereka. Kejengkelanku langsung sirna begitu Chandra mulai mengeluarkan tindak-tanduk uniknya. Aku dan Chandra bergerak kesana-kemari. Tertawa-tawa sambil mencoba segala benda ajaib di dalamnya. Persis seperti anak SD. Namun kami mendapatkan satu kejutan, Fahri ada di sana. Dia seperti tiba-tiba keluar dari lantai dan muncul begitu saja. Jelas aku kaget.

Fahri menghampiriku dan Chandra yang sedang membogem hantu-hantu yang keluar dari sarangnya dengan menggunakan palu raksasa, game classic. Aku sempat melongo saat melihat Fahri melangkah ke arahku. Chandra sepertinya juga terkejut. Aura ke-tidak-enakan langsung terasa menyertai kemunculan Fahri. Parahnya, dia tidak menghampiri untuk sekedar say hi, tetapi ikut bergabung bersamaku dan Chandra. Selanjutnya, kami hanya bersuara sesekali. Tak ada lagi tawa cekikikan dari mulutku karena Chandra berhenti bertingkah konyol. Aku juga menangkap raut tak senang di wajah Fahri. Pasti dia tak suka Chandra ada di sini. Itu wajar, Fahri suka aku. Maka sangat wajar dia tak suka Chandra bersamaku.

“Eheem… aku akan mencari softdrink,” ujarku pada mereka berdua setelah cukup lama kami berada dalam kekakuan.

“Ya, pas sekali. Aku butuh soda…!” sahut Chandra cepat.

“Tentu, bawakan aku yang beku kalau ada. Sangat gerah di sini,” cetus Fahri sambil melempar tatapan tak sedap pada Chandra. Aku sempat berpikir kalau Fahri akan ikut aku mencari softdrink, itu kesempatannya untuk berdua denganku. Walaupun aku tak akan menikmati bila bersamanya, sangat tidak menikmati sama sekali.

Aku meninggalkan mereka berdua. Berjalan mencari letak freezer softdrink yang bisa ada di mana saja di lantai luas ini. Sepuluh menit kemudian aku kembali kepada Chandra dan Fahri. Apa yang kutemukan? Mereka sedang bersitegang urat leher.

“…kamu hanyalah pria teman tidurnya. Tak lebih. Sedangkan aku adalah pria kepada siapa Anval akan memberikan cintanya. Hanya aku yang sanggup menjaganya. Statusmu sebagai partner seksnya akan langsung berakhir begitu dia jadi milikku…”

Kalimat itu kudengar dari mulut Fahri saat aku hampir tiba di sana. Darahku serasa dihisap Barm Stoker detik itu juga.

“Oh ya? Aku tak yakin laki-laki ingusan sepertimu akan sanggup menjaganya. Bahkan aku ragu kamu bisa menjaga dirimu sendiri…”

Yang ini dari mulut Chandra. Jika tadi darahku serasa dibetot drakula mendengar kalimat Fahri, maka sekarang hatiku seperti disiram bensin lalu disulut korek api karena ucapan Chandra.

Gila. Bagaimana mereka bisa berdebat masalah itu di tempat keramaian begini? Mereka belum menyadari kehadiranku. Bergegas aku menghampiri mereka.

“Kamu kira aku tak bisa memberikan dia lebih dari yang kamu berikan kepadanya? Aku cukup sanggup membuatnya melupakan sesuatu dalam celanamu yang tak ada apa-apanya dibading denganku…,” ucap Fahri mulai naik darah, kemudian mendengus kasar dan menatap Chandra dengan tatapan meremehkan.

Fahri terdengar sengit, juga sangat tidak sopan. Aku tak menduga dia tahu sebanyak itu tentang hubunganku bersama Chandra. Aku benci kata-katanya barusan. Chandra terlihat hendak buka mulut lagi, tapi aku langsung berseru.

Guys…!” Mereka menoleh. Fahri tampak mengelam, amarah sudah menguasainya. Sedangkan Chandra? Dia malah nyengir-nyengir kegirangan melihat kehadiranku bersama kaleng-kaleng coke.

“Give me that, Sweetheart!” ujar Chandra sambil merebut satu kaleng dari tanganku. Sepertinya dia sengaja memanggilku begitu untuk menaikkan level marah Fahri. Tak ada lagi yang perlu ditutupi di depan Fahri, mungkin begitu pikirnya.

Tapi aku tak suka dipanggil begitu. Untuk kesekian kalinya, ini tempat umum. Terlebih lagi, tak ada kata-kata mesra atau panggilan sayang. Itu kesepakatannya. Chandra kembali mendapat tatapan kesalku dan Fahri semakin mencuka. Satu sisi aku senang melihat Fahri marah. Karena jujur, aku sudah kurang respect dengannya sejak yakin kalau dia memiliki perasaan khusus sekhusus cinta untukku. Apalagi dengan kalimat tak sopannya tadi yang sempat kudengar. Satu sisi lain, aku ingin menaburi bubuk lada hitam di mulut Chandra saking kesalnya.

“Apa semuanya baik-baik saja?” Aku berusaha mencairkan suasana dengan mengulum senyum terpaksa. Sudah tentu bukan senyum termanisku.

“Of course, Darling… semuanya baik-baik saja di sini,” sahut Chandra cepat di sela-sela tegukan kalengnya. Sialan, aku hanya bisa merutuk dalam hati. “Aasshh… sodamu benar-benar memuaskanku, Val!” Lanjutnya sambil mengelap mulut dengan punggung tangan. Sialan pangkat dua, tapi aku bisa apa? Tak ada merica di sini.

Keningku hanya bisa mengernyit menanggapi ucapan Chandra yang ambigu. Dia really really menyebalkan. Kuabaikan Chandra. “Obati gerahmu…,” ujarku pada Fahri sambil mengulurkan kaleng softdrink. Fahri mengambilnya tapi tak langsung minum. “Maaf, aku tak bisa menemukan yang beku.”

“Dia bisa membawanya ke rumah dan membekukan sendiri di dalam kulkasnya.” Chandra sungguh mengajak perang.

Fahri menatap tajam pada Chandra, sangat tajam sampai aku mengira ada kemungkinan Fahri punya bakat dukun dan saat ini sedang memantra-mantrai Chandra lewat tatapannya.

“Val, aku rasa kita harus pulang…,” ucap Chandra. Sepertinya dia juga mulai berpikir kalau Fahri sedang mengirimkan santet lewat matanya.

“Dia pulang denganku!” seru Fahri tegas.

Sejak kapan mereka punya hak atasku? Beberapa pasang mata mulai melirik kami. Rasanya paku mendadak muncul di kakiku, aku tak nyaman berdiri lebih lama lagi di sini.

“Oh, tentu dia akan pulang denganku Mr. Fahri Albanna…” Surprise, Chandra bahkan tau nama lengkap Fahri. Pasti dia pernah melihat badge nama Fahri di seragamnya saat berkunjung ke ruang praktikku. “Belanjaannya ada padaku.” Chandra mengeluarkan kartu dari konter penitipan barang. “Tenang saja, hari senin nanti kamu akan bertemu lagi dengan DOKTER GIGI IMRAN ANVAL SIDDIQI…” Chandra seperti sengaja memberi penekanan saat menyebut gelar dan nama lengkapku, seakan ingin menegaskan ketidak-setaraan Fahri yang hanya dentist assistant, sedangkan dentist-nya sendiri adalah aku. “atasanmu ini…” Pungkas Chandra. Aku sampai melongo.

Skak-matt. Fahri tak berkutik. Bahkan saat Chandra menarikku turun dari lantai gamezone, dia cuma bisa berdiri mematung. Aku kasihan pada Fahri sebenarnya. Tapi salahnya sendiri, siapa suruh punya perasaan padaku. Tidak ada yang boleh memerangkapku dalam sangkar, tak ada yang boleh menaklukkanku dengan cinta mereka.

Aku ribut di mobil jadul Chandra. Benar-benar ribut. Kutumpahkan segala kesalku atas sikapnya tadi, atas segala ucapan sampahnya beberapa menit lalu. Aku bahkan merusak kotak tissue di dashboard-nya.

“Kamu sunguh-sungguh menyebalkan. Di dalam sana adalah keramaian. Bagaimana kamu bisa memanggilku begitu dan memperdebatkan status seksual kita saat dikelilingi orang banyak. Benar-benar gak tahu malu…” Kotak tissue sudah penyok dalam genggamanku.

“Dia yang mulai…,” ucap Chandra tenang.

“Seharusnya kamu tak melayaninya!” pekikku. Sempat kaget dengan lengkingan suaraku sendiri.

“Dia masih anak-anak,” lanjut Chandra masih tenang, pekikanku tidak membuatnya ciut. Dan kalimatnya tadi sama sekali tak ada hubungan dengan hal yang baru saja terjadi.

“Apa bedanya kamu dengan dia kalau begini? Kamu bahkan lebih anak-anak daripada dia…” Cabikan tissue berterbangan sudah dalam mobil Chandra.

“DIA MENYUKAIMU, VAL…!!!” Chandra berteriak keras dan memukul setir dengan tangan kanannya.

Aku terkejut, berhenti dari gerakanku melumerkan tissue box. Ini kedua kalinya dia berkata kalau Fahri suka aku. Tapi nadanya kali ini? Kutatap Chandra lekat-lekat, kemarahan jelas tergambar di wajahnya saat ini.

“Bocah ingusan itu ingin memilikimu,” lanjutnya. “Dia punya kesempatan itu, karena bertemu denganmu tiap hari.”

“Dan kamu cemburu???” cecarku.

Chandra mengerem mendadak. Mobil langsung berhenti dengan sentakan yang cukup keras. Selt belt menyelamatkan mukaku dari menghantam kaca mobil. Aku mengeluarkan sumpah serapah.

“Jangan bilang kalau kamu juga suka anak itu?” Dia menatapku tajam. “Atau malah sudah pernah tidur dengannya…”

“Jelas kamu cemburu…” Aku membanting kotak tissue yang sudah tak jelas lagi bentuknya ke bawah jok mobil. “Ada yang perlu kita luruskan di sini, okey!” Aku menantang mata Chandra. “Kita hanya partner seks. HANYA. Tak ada yang boleh melibatkan hati. Dan kamu cemburu, apa artinya itu? Hatimu mulai terlibat, Chan.” Dia terpana menatapku dengan mulut terbuka. “Ingat? Jika ada yang mulai punya perasaan lebih dari sekedar teman seks… WE DONE!!!” Aku meneriakkan kata terakhir lalu membuka selt belt dan segera keluar dari mobil Chandra.

“Val…” Chandra berusaha menangkap tanganku namun luput. Dia membuka sabuk pengamannya lalu berusaha ikut keluar dari sisi pintu yang sama sebelah mana aku keluar.

“Taksi!” Tanganku mengacung ke atas. Segera masuk begitu sebuah taksi berhenti di depanku. Chandra masih berteriak memanggil, aku tak peduli. Bahkan tak peduli pada kenyataan bahwa kantong belanjaanku masih tergeletak di dalam bagasi mobil jeleknya.

***

Saturday. Kejadian semalam masih menggayut di pikiranku begitu terjaga di pagi hari dengan hipertermia, dahiku agak panas. Berjaga hampir sepanjang malam sambil memeras otak mencerna perdebatanku dengan Chandra yang sesekali diselingi ngiang kalimat Fahri ternyata tidak cukup membuatku untuk tidak memikirkannya lagi pagi ini. Kemungkinan kalau Chandra mulai mencintaiku membuatku sakit dan kecewa, perasaan yang aneh. Itu hal yang amat sangat tak kuingini. Padahal aku sangat menikmati hubunganku dengannya sebagai teman seks selama ini. Biar aku terlihat badguy dan dianggap pria bodoh serta bedebah payah karena membenci cinta. Tapi itulah kenyataannya seorang Anval.

Sampai jam sembilan lewat, aku masih meringkuk di ranjang berantakan. Kepalaku berat, waktu tidurku banyak terpangkas semalam. ‘Jika ada yang harus jatuh cinta, aku pastikan bukan aku orangnya.’ Kalimat Chandra suatu ketika dulu kembali menggema di kepalaku. Bullshit, Chandra sialan. Dia mengacaukan segalanya. Padahal aku sudah menyematkan predikat sebagai Partner Seks Terpanas yang pernah kupunya untuknya. Lalu aku tersadar, semalam aku baru saja melanggar kesepakatan yang telah aku buat bersama Chandra. Kami menciptakan kebersamaan di luar hubungan seksual sejak berada di lorong depertment store sampai ke lantai gamezone. Oh tuhan, apakah aku juga??? No no no, never…

Kepalaku semakin berat, dan sekarang pintu apartemenku ada yang mengetuk. Huh, siapa sih yang berkunjung pagi-pagi buta begini? Tidak, ini bukan pagi buta, sekarang jam sembilan lewat, aku sudah bilang tadi. Persetan. Aku berusaha mengabaikan ketukan itu dengan membekapkan bantal ke mukaku sendiri. Namun semakin lama ketukan di pintuku semakin intens, bahkan kini dengan kurang ajar si pengetuk mulai menjadikan pintuku sebagai alat musik perkusi. Ketukan itu sedang menciptakan ritme jelek namun beraturan.

Tok tok

Tok tok tok -jeda

Tok tok

Tok tok tok tok -jeda

Tok tok

Tok tok tok -jeda

Tok tok

Tok tok tok tok….

Begitu seterusnya. (Aku tak mungkin memenuhi cerita ini dengan tulisan ‘TOK-TOK’ saja sampai ending kan? Bisa-bisa kalian malah menendangku).

Aarrghh… tamu kurang ajar. Dengan menahan berat di kepala dan amarah luar biasa di dada, aku turun dari ranjang. Sempat kutangkap rupaku pagi ini di pantulan cermin, rambutku tak karuan rupa. Apa aku migrein juga? Jingkrakan rambutku tak rata sebelah. Oh shit, aku pusing. Dan dahiku masih panas.

Aku menuju pintu utama, menarik handle-nya diikuti teriakan geram. “Menjauh dari pintuku, dasar kau assho…” Umpatanku menggantung begitu saja. Kenapa aku bisa lupa kalau dia punya sifat kurang ajar juga? Siapa yang berani mengetuk pintuku dengan kurang ajar seperti tadi selain dia?

Sosok di depanku nyengir dulu sebelum berucap. “Yah, Fahri memang asshole…” Tamu brengsek ini nyengir lagi. “Pasti kamu kira dia yang datang, kan?”

Aku mendesah kesal. “Aku tak ingin lagi bercinta denganmu Chan… kita udah selesai!” Aku bersiap-siap menutup pintu.

“Heyy… aku hanya ingin mengembalikan belanjaanmu semalam!” Serunya saat pintu hampir menutup. “Ingat? Kamu yang punya bayi gajahnya.” Dia nampak gembira, tidakkah dia menganggap serius kejadian semalam?

Aku tambah pusing dengan sikap Chandra. Dan belanjaanku? Tentu saja aku mau barang-barang yang telah kubeli mahal-mahal, aku butuh semua makanan itu. Ingat makanan, aku baru sadar kalau aku kelaparan saat ini. Aku pusing karena kelaparan, benar sekali. Pintu kembali kubuka. Chandra menaruh dua kantong belanjaanku agak ke dalam. Mungkin aku harus mengucapkan terima kasih.

“Trims…,” ucapku.

Dia tersenyum simpul. “Tadi aku lewat tempat orang jual bubur, sepertinya enak. Masih hangat, mungkin kamu mau mencicipinya…” Dia mengangkat kantong buburnya.

Lagi. Kenapa aku bisa lupa kalau Chandra tak mungkin datang hanya untuk mengantar belanjanku? Aku menggeleng padanya. “Aku tak sedang lapar…” Namun kemudian…

CRUUITT… CRRUIIIT… KRRUUUYUKK…

Perut tak tahu malu. Kenapa dia harus konser di saat tak tepat begini. Oh tuhan, tapi aku lapar sekali. Mukaku pasti bersemu sekarang.

Chandra tersenyum lagi. “Hanya bubur. Aku tak akan mengganggu waktumu lebih lama.” Dia mengangkat dua jarinya. “Terlambat sarapan bisa bikin maag kan? Kamu dokter, pasti lebih tahu…”

Aku memberengut padanya. “Just ten minutes…!” Aku mempentangkan pintu, Chandra masuk bersama kantong buburnya.

“Val, aku ingin menanyakannya dari tadi, apakah kamu sakit? Wajahmu sangat pucat.” Dan tanpa permisi dia sukses menyentuh dahiku. “Whoaa… kamu sepanas panci di atas kompor.” Hiperbola sekali.

“Aku baik-baik saja!” Cetusku gusar. “Berikan saja buburnya dan kamu boleh pulang!” Aku berusaha menjangkau kantong di tangan Chandra. Sia-sia.

“No no no…” Dia menjauhkan lengannya dari jangkauanku. “Pergi ke kamarmu dan duduk manis di sana, akau akan mengambil mangkuk,” ujarnya. “Now!”

Siapa dia berani meng-ultimatumku di sarangku sendiri? Sangat tak beretika, tamu memerintah tuan rumah. Oh, ya, aku lupa, tamu adalah raja.

“Anval… I said now! Itu artinya SEKARANG!”

Perutku menjawab dengan bunyinya lagi, lebih keras dari yang tadi. “Kamu menyebalkan,” rutukku.

“Of course…”

Aku mendengus dan berbalik ke kamarku sementara Chandra menuju dapur. Aku tidak segera duduk di ranjang seperti yang dia suruh, sebaliknya pergi ke kamar mandi mencuci mukaku, gosok gigi dan pipis tentunya. Baru kemudian merangkak bersandar di ranjang.

Sesaat kemudian, Chandra masuk ke kamarku menatang nampan berisi mangkuk besar berasap dan juga segelas gede kopi susu. Pasti dia sudah mengobok-obok belanjaanku. Persedian kopi dan susuku habis, baru semalam aku membelinya lagi. Chandra duduk di tepi ranjang.

“Tidak tidak… aku cukup sehat untuk makan sendiri,” rungutku saat dia menyendok untuk mulai menyuapiku. Sama sekali tak terfikirkan olehku kalau dia akan bertindak seperti ini.

“Aku akan menyuapimu,” tukasnya.

Aku melotot besar.

“Ini buburku, ingat? Aku bilang, aku akan menyuapimu!” Dia mendekatkan sendok ke bibirku. “Apph… open…!”

“Kamu sangat sangat menyebalkan.”

“Ya, aku memang meyebalkan. Kamu sudah mengatakannya dua kali pagi ini.”

Aku sudah menelan sembilan sendokan dan meneguk seperempat isi gelas. Sendokan berikutnya Chandra masukkan ke mulutnya sendiri. “Hmmm… pantesan kamu mangap terus. Buburnya benar-benar enak.” Lalu dia kembali menyendok buatnya sendiri.

“Chan, aku tak suka cara makan begini, seharusnya kamu membagi itu dalam dua mangkuk jika kamu juga ingin makan. Bubur dan peralatan itu bekasku. Seharusnya aku yang makan semuanya…”

“Aku juga ingin makan, udah cape-cape juga. Masa gak boleh nyicipin.” Potongnya cepat.

“Tapi itu bubur untukku.”

“Gak kok, bubur ini sengaja aku bawa untuk kita makan berdua.”

“Tapi yang sedang sakit kan aku.”

“Katamu tadi kan tidak! Lupa?” Lalu dia mulai menyebalkan lagi. “Oh, Chan… aku baik-baik saja.” Dia menirukan kalimatku saat menolak kehadirannya tadi dengan aksen kurang ajar sementara mulutnya masih terus mengunyah bubur itu.

“Ak…” Dan sendok itu meluncur ke mulutku, membuat mulutku langsung penuh berisi bubur dalam sendokan luar biasa besar dan cepat. Kalimatku tertelan bersamanya.

“Tinggal makan aja ribut,” cetus Chandra.

Susah payah aku menelan bubur itu sebelum meluapkan kekesalanku pada Chandra. “Aku tak suka berbagi sendok…” seruku.

“Kenapa? Jijik? Lupa kalau lidahku bahkan pernah masuk ke dalam mulutmu? Jangan bilang kamu gak ingat kalau penisku juga sangat sering masuk ke sana…”

“Kamu merusak selera makanku,” ucapku pelan.

Chandra mendesah. “Sorry…. Aku memang keterlaluan.” Lalu dia mengambil serbet dari nampan dan menggunakannya untuk mengelap sendok itu. Kemudian dia mulai meyendok kembali. “Maukah kamu menghabiskan bubur ini untukku?”

Aku menatapnya, sedikit sayu. “Aku lapar sekali, Chan…”

“Aku tahu.”

Lalu aku benar-benar menghabiskannya.

Chandra tidak segera pulang. Setelah mengembalikan nampan ke dapur, dia kembali lagi ke kamarku. Sekarang malah merangkak ke sampingku di atas ranjang. sepelum menitnya sudah lama berlalu.

“Aku punya beberapa musik klasik di sini.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Musik klasik menenangkan. Bisa membantumu beristirahat.” Lalu melodi indah melenakan mulai memenuhi dinding dengarku. “Tidurlah…” Chandra membawa kepalaku bersandar di bahunya. Aku tak kuasa menolak.

Aku kurang tidur. Tak butuh waktu lama bagi mataku untuk terpejam. Musik klasik dari hape Chandra benar-benar aspirin dan obat tidur yang ampuh. Pusing dan sakit kepalaku hilang seiring kelopak mataku yang terus memberat. Sepertinya aku sukses terlelap dalam rengkuhan bahu Chandra.

***

Entah berapa lama aku tertidur. Saat matahari menyorot tajam wajahku dari tirai yang sedikit tersibak, aku membuka mata. Silau hingga mataku nyeri, hari hampir sore. Jendelaku berada di jurusan matahari terbenam. Aku mengeliat dan menyadari sepenuhnya kalau ada lengan yang melingkari pinggangku, lengan Chandra. Dia tertidur sambil memelukku, badannya sangan rapat denganku. Aku mendesah sambil melepaskan lengan Chandra dari pinggangku, lalu mendorong pahanya yang menindihku, Chandra mengeliat dan membuka matanya.

“Chan, bangun. Kamu tertidur di ranjangku.”

Chandra mengucek matanya lalu bangkit duduk. “Benarkah?” ujarnya seraya menatapku.

Aku turun dari ranjang. “Ya! Dan kita bepelukan saat masih berpakaian…”

Chandra bengong.

“Itu seratus kali lebih buruk, Chan…”

Chandra masih bengong.

“Kita tidur berpelukan dengan pakaian lengkap seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta. Kita tak pernah berpelukan sebelumnya tanpa melepas pakaian.”

Chandra bergerak turun berselonjor di tepian ranjang, tidak merespon kalimat-kalimatku.

Aku membelakangi Chandra di sisi lain ranjang. Jari-jariku mengacak-acak kepalaku sendiri, rasa pusing itu sepertinya mampir lagi. “Kita punya kesepakatan Chan, nothing love. Nothing else selain seks.” Aku berbalik menghadapnya. “Kamu cemburu karena Fahri suka padaku, kamu menguntitku ke swalayan agar bisa membawaku ke gamezone kemudian, kamu membawakanku bubur, kamu bahkan menyuapiku, kita makan satu mangkuk berdua dengan sendok yang sama…” Aku mulai menguraikan semuanya, semua kecendrungan yang mengacu pada hal yang tak aku sukai. “Dan baru saja kita tidur berpelukan…”

“A… aku…” Chandra terbata.

“Aku rasa ini adalah titik di mana kita harus berhenti, Chan. Kita tak bisa meneruskannya lagi. Ini harus berakhir di sini.” Sebenarnya aku sangat berat mengatakan kalimat ini, bagaimanapun juga, Chandra adalah pria terhebat yang telah memberiku seks hampir enam bulan ini. “Carilah orang lain, okey!”

“Kita tak bisa berhenti, Val…”

“Ya, kita harus!!!” Aku menukas cepat. “Aku tak bisa lagi…”

“Aku jatuh…”

Stop!” Aku bangun dan mengibaskan tanganku di depan Chandra. “Aku tak punya apa-apa untukmu, Chan. Sama sekali tak punya. Jadi pergilah. Temukan orang lain, aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang seribu kali lebih baik dariku, yang akan menerima semua rasa yang kamu miliki…” Aku membuka pintu kamarku, mempersilakannya untuk keluar.

Chandra melangkah gontai melewatiku yang berdiri di pintu kamar, tanpa menoleh lagi dia berjalan ke pintu utama dan menarik handle-nya. “Sorry, aku merusak segalanya, Val.” Dia terpekur di pintu yang terbuka. Aku menunduk, terlalu jengah untuk menatapnya. “Semoga kamu baik-baik saja. Bye…”

Dan Chandra menghilang di balik pintuku.

Berakhir sudah. Aku dan Chandra telah selesai. Aku telah me-loeh-gueh-end-kan-nya semenjak hari ini. Tak ada lagi seks instant seperti selama ini. Jariku tak akan lagi berada dalam celananya seperti saat kami bercinta di toilet, atau di mobil ketika perjalanan menuju hotel atau rumahnya. Jariku tak akan lagi berada dalam pants-nya. Dan pastinya aku tak akan lagi bisa menikmati seks panas bersamanya, partner seks terbaikku.

***

Seminggu sudah aku melewati hari tanpa Chandra. Tak ada lagi telepon-telepon mengajak bercinta darinya. Tak ada lagi kunjungan-kunjungan singkatnya ke tempat praktikku. Entah kenapa, aku merasa malas untuk bercinta dengan lelaki manapun saat ini. Percayalah, tujuh hari sudah aku berpisah dengan Chandra maka tujuh hari pula aku tak mengeluarkan spermaku.

Dan Fahri? Tentu saja dia menjadi orang paling gembira sekarang. Dia semakin gencar mendekatiku begitu menyadari aku tak lagi menerima telepon dari Chandra di jam-jam kerjaku. Fahri mulai sering membawakan aku coklat di pagi hari atau es krim setelah jam makan siang. Dia persis seperti remaja yang sedang dimabuk first love-nya. Dia juga mulai berani menggandeng tanganku saat nonton di bioskop lagi. Dan yang paling aku tak suka adalah sms-sms sok romantisnya yang masuk ke inbox-ku setiap malam akhir-akhir ini. Tapi aku tak bisa bertindak menolak perhatiannya itu walaupun aku sangat tak menginginkan Fahri saat ini. Mngkin aku harus membiasakan diriku untuk menerima semua perhatiannya. Mungkin juga sudah harus membiasakan diri membalas pesan-pesan romantisnya tiap malam.

***

Kini telah sembilan belas hari. Yah, aku mengakui kalau aku melingkari kalenderku sejak berpisah dengan Chandra, dan aku baru saja menghitung jumlah lingkaran itu. Menjelang siang, aku mendapati diriku sedang menatap nomor hape Chandra di daftar kontak-ku. Tak ada yang kulakukan sejak dua jam sudah berlalu setelah waktu istirahat siang selain menatap susunan nomer itu dan nama Chandra di atasnya. Sebentuk kehampaan kini bersarang di benakku. Oh tuhan, betapa aku sangat merindukan bercinta dengannya.

Lalu bayangan Chandra memenuhi inderaku. Chandra yang mendorong troli di belakangku sambil mengcopy belanjaanku, Chandra yang sedang menarikku ke lantai gamezone, Chandra dengan palu raksasa dan tingkah konyolnya di sana, Chandra yang sedang berdebat dengan Fahri, Chandra yang berteriak di mobil, Chandra dengan kantong belanjaanku, Chandra dengan bubur dan suapan-suapannya, dan Chandra yang memelukku saat tidur. Chandra memenuhi semua inderaku.

Perasaan hampa yang sudah kualami selama 19 hari adalah hampa tanpa adanya sosok Chandra. Aku tak sempurna lagi tanpa kehadiran Chandra. Dan kemudian aku sadar satu hal, perasaan hampa itu telah menghadirkan sebentuk rindu yang aneh di hatiku. Aku rindu sifat menyebalkannya, rindu kata-kata usilnya, rindu kalimat-kalimat joroknya, rindu sifat pantang menyerahnya padaku, rindu sendok bekas mulutnya. Hasilnya? Aku menggigil ditikam rindu teramat sangat pada Chandra. Lalu formula aneh yang tak bisa kujabarkan dengan kata-kata menyelinap dalam dadaku, menyelusup ke hatiku dan bermuara di sana. Tuhan, sepertinya… sepertinya aku telah jatuh cinta padanya. Chandra telah membuatku jatuh cinta… ya, dia telah meruntuhkan pendirianku tentang cinta. Karma menghukumku. Andaipun ini karma, sepertinya ini akan menjadi karma yang indah.

Lalu dengan mantap aku memencet tombol panggil di ponselku. Aku harus segera bicara dengan Chandra. Gagal. Aku dail lagi, gagal lagi. Aku bangun dari kursi dan mulai mondar mandir di ruang praktikku dengan ponsel di kuping. Panggilanku terus gagal. Apa dia mengganti nomornya?

“Oh, come on…” Umpatku penuh geram.

‘Hi… this is Chan…’

“Chandra… aku…” Kalimatku terputus saat menyadari kalimat yang keluar dari corong hape-ku barusan bukan benar-benar dari dari Chandra.

‘I am busy now, leave a message, okey… bye…!’

Itu sapaan mailbox Chandra. Oh, aku putus asa.

“Kamu meneleponnya lagi???”

Aku tersentak dan menoleh ke pintu. Entah sejak kapan Fahri sudah berdiri di situ.

“Kenapa kamu masih ingin dia, Val? Lihat aku. Aku bisa lebih hebat dari dia.” Fahri memandangku lekat.

Aku menelan ludah, mulutku kering mendadak setelahnya.

“Aku mampu bercinta lebih hebat dari dia. Untuk apa kamu masih menelepon pria sialan itu jika aku bisa memberikanmu lebih daripada dia…” Fahri melangkah masuk.

Hatiku panas mendengar dia menyebut Chandra sebagai ‘pria sialan.’ Dan benar-benar seperti terbakar saat Fahri melanjutkan ucapannya.

“Aku yakin penisku lebih bisa membuatmu mendesah puas ketimbang dia. Kamu pasti akan sangat menikmati bercinta denganku nanti. Jadi jangan pernah mengingat Si Chandra sialan itu lagi…”

Dua kali ‘sialan’ cukup. Aku menggebrak meja. “TUTUP MULUT BESARMU INGUSAN!!!” Bentakku. “Chandra adalah seks terbaik tak tergantikan dalam hidupku…”

Fahri ternganga. Mungkin tak menyangka aku bisa semurka ini.

“Jangan pernah berpikir aku mau tidur denganmu. Itu adalah hal tebodoh dan pilihan terburuk dalam hidupku.” Aku membelalak pada Fahri yang masih tampak shock dengan spontanitasku. Aku belum puas sampai di situ. “Asal tahu saja, kamu berada jauh di bawah Chandra. Jadi lupakan pemikiran bahwa dirimu lebih hebat.” Aku melempar jas putihku ke lantai setelah lebih dulu mencopot badge-ku. Lalu berjalan ke pintu.

Fahri masih tak berkata-kata.

“I quit…” Fahri tersentak. “Aku berhenti jadi atasanmu mulai hari ini…,” ujarku sambil melempar badge nama-ku ke meja di hadapannya.

“Kamu gak bisa berhenti begitu saja, Val! Kita berdua sama-sama terikat kontrak…” Sepertinya Fahri takut kehilangan pekerjaannya sebagai imbas pengunduran diriku nantinya.

“Tentu aku bisa!” jawabku tegas. “Aku punya alasan bagus untuk berhenti, bahwa aku illfeel dengan dentist assistant sialan yang bekerja bersamaku dan mengemis-ngemis ingin tidur denganku seperti bayi…” Aku sadar telah mengembalikan satu ‘sialan’ padanya.

Ucapanku berhasil membungkam lidah Fahri. Aku menyentakkan daun pintu dan siap melesat keluar. Tapi kemudian aku ingat sesuatu, kembali aku berbalik menghadap Fahri.

“Oh, aku lupa…,” kataku. “Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak dulu.” Aku berdehem satu kali terlebih dahulu untuk menambah kesan dramatis pada ucapanku nantinya. “Kamu tak akan pernah bisa memberikan kepuasan bercinta kepadaku seperti yang kudapat dari Chandra. Kenapa? Karena kamu gak mungkin punya penis sebesar, sepanjang dan sekeras yang Chandra miliki di dalam celananya…!” Dan surprise, aku berhasil membanting pintu hingga membuat Fahri kaget setengah mampus di dalam sana.

Time to love.

Dan sekarang, di sinilah aku. Di lobi kantor Chandra dengan hape yang terus kupakai untuk menghubungi nomornya sejak dalam taksi tadi. Dan sejak tadi juga selalu mailbox. ‘Hi… this is Chan… I am busy now, leave a message, okey… bye…!’ Selalu begitu sejak tadi. Aku berlari cepat melintasi lobi dan masuk ke lift. Aku harus segera bertemu Chandra dan memeluknya erat untuk tidak kulepaskan. Hasratku menggebu-gebu kepadanya.

Aku tiba di depan ruangan Chandra dan sekretarisnya menunjuk ruangan ujung saat aku menanyakan keberadaan Chandra. Seperti kesetanan, aku berlari ke ruang yang ditunjuk.

“PAK DI SANA SEDANG ADA MEETING!!!” Teriak Si Sekretaris sambil keluar dari balik mejanya untuk kemudian berlari mengejarku.

Tapi terlambat, aku sudah lebih dulu mendobrak pintu dan berseru “CHANDRA… AKU JAT…” Untunglah hanya sampai di situ. Kalimatku langsung berhenti begitu mendapati banyak kepala yang menoleh ke satu arah, pada si pria aneh yang tidak tahu tata karma yang kini sedang melongo bego di pintu, padaku. Chandra termasuk salah satu dari kepala-kepala yang menoleh serentak itu. Dan seorang bapak-bapak yang berkepala botak mengkilap yang kuduga sebagai Mr. Tak Bernama—si pemilik perusahaan-—berdiri di tengah-tengah sambil menatapku dengan tatapan tak bersahabat.

“Ohh…” Hanya suara pendek itu yang bisa kukeluarkan dari mulutku.  Aku merasa jadi keledai. Memalukan.

Tapi kulihat Chandra malah tersenyum, manis. Dia menatapku dengan binar kerinduan dan kebahagiaan yang memenuhi kedua matanya. Chandra menyentuh dasinya lalu berdiri dari kursi. “Ehemm… permisi. Saya akan mengurus masalah ini…” Katanya pada si Mr. Tak Bernama.

“Ya, pergilah. Dan ajarkan sedikit tata karma pada ‘masalahmu’ itu!” Sial. Si Botak Mengkilap menyebutku sebagai ‘masalah.’ Dasar kepala ubin.

Tapi Chandra malah tersenyum lebar menanggapi ucapan Boss-nya itu. “Pasti…” Lalu dia berjalan ke arahku. Orang-orang kembali menarik kepalanya ke letak semula saat Chandra menutup pintu.

“Maaf pak… saya sudah mencoba menghalangi tadi.” Si Sekretaris berucap takut-takut di belakangku.

“Bukan masalah Nadine, kembalilah ke mejamu,” ujar Chandra lalu menarik lengan bajuku. “Katakan pada Boss, aku absen meeting sampai akhir hari ini. Ada sesuatu lebih penting yang harus kulakukan kembali setelah tidak melakukannya selama sembilan belas hari ini…” Aku tahu ucapan itu lebih ditujukan untukku ketimbang si Nadine yang sekarang sedang menuju ke alamnya. Chandra menarikku berjalan menuju lift.

Ternyata aku salah. Chandra tidak membawaku ke lift. Tapi menuntunku menaiki tangga menuju bagian atas gedung kantornya. Kakiku nyaris copot sebelum benar-benar sampai ke atas. Dan di sana, tanpa membuang-buang waktu, aku langsung memeluk Chandra seerat yang kubisa dan terus mencumbu bibirnya secara membabi buta. Chandra balas merangkulku dan membalas perlakuan bibirku padanya lebih ganas. Lama setelah itu baru kami saling menatap.

So, apa yang membuatmu hingga sangat bernapsu untuk ikut meeting bersamaku hari ini? Bukankah waktu kerjamu lebih berharga? Kamu bekerja manangani manusia, sedangkan aku dengan kertas-kertas itu…” Dia mengusik hal lama dulu.

Lalu kata-kata menyembur cepat dari mulutku. “Aku rindu kamu, rindu ke gamezone bersamamu, rindu sifat menyebalkanmu, rindu suapan bubur itu, rindu sendok bekas mulutmu, rindu kalimat-kalimat jorok itu, aku rindu panggilan sayangmu, aku rindu pelukanmu saat kita tertidur hari itu, aku….”

“Ssshhh…” Dia menyentuh bibirku yang membuat aku langsung bungkam. Kemudian dia menciumku lagi, satu kali. “Aku hanya ingin tahu satu hal…,” katanya setelah menarik bibirnya dariku.

“Apa…,” bisikku.

“Apakah kamu juga rindu sesuatu liat yang biasanya memenuhi mulutmu dan sekarang sedang mengeras dalam celanaku?”

Ya ampun, aku suka kalimatnya itu. “Teramat sangat, Chan…”

Great…” serunya. “Jadi, apa yang ingin kamu teriakkan pada rekan-rekan meetingku tadi?” Chandra meremas bokongku yang sukses membuatku terlonjak menabrak kuat selangkangannya. Dia tertawa.

“Aku jatuh cinta, Chan… aku ingin jadi milikmu. Pliss… katakan kalau kamu juga mencintaiku… kamu mencintaiku, kan??? Kamu harus mencintaiku!!!”

Chandra menatapku lembut, selembut jemarinya yang bergerak perlahan di leherku. “Bagaimana aku tak bisa jatuh cinta pada makhluk termanis yang pernah hadir dalam hidupku, Val??? Tentu saja aku mencintaimu… kalau kamu ingin tahu, aku sudah jatuh cinta sejak melihatmu di malam reunian itu…” Dia menciumku lagi. “Semakin jatuh cinta saat kamu menghabiskan bubur buatanku hari itu.” Aku kaget dengan kalimatnya barusan. “Dan setiap kita melakukan seks, aku melakukannya dengan cinta,” lanjutnya.

Ohh, karena itulah Chandra adalah seks terbaik yang pernah kumiliki? Ternyata dia melakukannya dengan cinta. Tapi… “Bubur buatanmu?” Aku melongo, apa maksudnya?

Dia nyengir. “Malam itu juga aku memaksa membeli gas dan segala benda agar bisa membuatkanmu bubur esok pagi. Andai kamu tahu bagaimana rasa hatiku saat bergelut di dapur. Aku sangat bersemangat membayangkan kamu akan makan bubur buatanku…” ucapnya berbinar.

Itulah sebabnya saat itu dia berkata ‘Aku udah cape-cape. Masa gak boleh nyicipin’. Jadi itu maksudnya. “Kamu menipuku…,” ujarku padanya. “Kalau bukan karena lapar aku gak akan mau makan buburmu itu.”

“Dasar tukang tipu, padahal kamu sangat menikmati buburku…” Dia membawa kepalaku ke dadanya. “Oh, Val… betapa aku telah jatuh begitu dalamnya ke telaga hatimu.”

Aku tertawa bahagia dalam rengkuhan Chandra, melumat kembali bibirnya sementara dia menuntun tanganku ke dalam celananya. Kini aku kembali bisa menggenggam lagi kejantanannya yang menakjubkan. Aku dan Chandra sama-sama tersenyum. Sesuatu dalam genggamanku memberontak ganas, menyentak keras dan panas.

“Val, sepertinya kita harus mencari toilet,” ujarnya. “Tahukah, aku merasa prostatku penuh sejak sembilan belas hari lalu…”

Lagi, aku suka kalimat itu. “Katakan lagi, Chan…”

“Aku ingin mendengarmu mendesah-desah seperti dulu lagi, Val. Mendesah saat penisku memberikanmu orgasme yang tak terlupakan…”

Tanganku semakin liar di dalam celananya. “Bawa aku pulang, Chan. Bawa aku ke kamarmu.”

“Gak… aku gak mungkin tahan selama itu. Aku ingin saat ini juga!”

Lalu Chandra memasang pengait pintu menuju ke atas sini. Sesaat kemudian dia sudah menindihku tanpa sehelaipun pakaian di atas lantai kasar puncak gedung yang beratapkan langit sore.

***

Seketul epilogue…

Ternyata seks tak selalu menjadi satu-satunya alasan untuk terlibat dalam sebuah hubungan. Ada alasan yang lebih kuat selainnya, alasan yang membuat segalanya seindah warna-warna pelangi setelah gerimis, itu cinta. Saat kamu bercinta dengan pasanganmu dan memposisikan diri sebagai orang yang mencintainya, maka sadarilah setelahnya, kamu baru saja mendapatkan seks terhebat sepanjang sejarah percintaanmu. Seperti aku dan Adi Chandra Firansyah, dulu sebelum cintaku hadir untuknya aku memang menikmati seks hebat bersamanya. Tapi yang dinikmati Chandra justru lebih hebat lagi, karena dia lebih dulu punya cinta. Dan sekarang? Aku dan Chandra sama-sama menikmati seks luar biasa karena cinta membuat kami menjadi maniaknya. Seks without love adalah hebat, tapi… seks because of love??? Buktikan sendiri seperti apa nikmatnya!

Akhir Februari 2012

Dari hati dan pikiranku

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com