an AL GIBRAN NAYAKA story

#######################################################

CUAP2 NAYAKA

Ini adalah cerpen isengku. selesai kutulis sudah sangat lama dulu. karena aku berniat bikin blog ini gak murni gay themed, jadi aku rasa cerpen jelek ini pantas aku publish di sini. sangat teen, dulu cerpen ini sempat kukirim ke majalah remaja ANEKA YESS!, namun karena sangat jelek jadi gak pernah dimuat. kekekekeke. Mbak Vivid cs juga gak pernah balik ngimail ngasih tahu kalau cerpenku ini gak layak muat. akhirnya ya teronggok gitu aja deh di hard disk-ku.

jadi, karena cerpen ini kutulis untuk majalah remaja, jangan kaget dengan gaya tulisanku di sini. mungkin terkesan girly banget. yah, begitulah semua cerpen di majalah itu.
harapanku sama, semoga kalian menikmati membaca HIGH HEELS KARTINI seperti aku menikmati saat menulisnya.

love u all

wassalam

-n.a.g-

#######################################################

“TINIIII…… Kartini ayo bangun, udah siang!”

Kartini mengucek-ngucek matanya sementara pintu kamarnya masih digedor kuat-kuat oleh ibunya dari luar.

“Iya….. ini juga udah bangun bu!”

Dengan malas Kartini turun dari ranjang. Sudah menjadi tradisi kayaknya kalau tiap pagi ibunya akan berteriak keras-keras membangunkannya ditambah dengan gedoran pintu seperti genderang perang yang ditabuh ksatria. Padahal tanpa menggedor pun Kartini sudah cukup melek dengan teriakan ibunya yang seperti sambaran petir di telinganya, satu RT pasti bisa mendengar suara sang ibu. Malas-malasan Kartini mandi, memakai seragam abu-abunya juga dengan setengah hati lalu turun untuk sarapan.

“Anak gadis kok slebor gitu, gak malu apa, dandan dikit kek, bebedak kek. Heran, perasaan waktu ngandung kamu ibu rajin dandan, kenapa malah gak nurun ke kamu.” Sang ibu memulai ceramah paginya.

“Itu lagi itu lagi……. Kalo udah saatnya Tini juga bakal berubah, bakalan lebih cantik dari mis yunipes. Percaya deh bu.” Ujar Kartini sambil memasukkan roti ke mulutnya, lalu mengunyahnya dengan gaya yang sama sekali jauh dari kesan anggun.

“Halah…… lagakmu, lipstik aja kamu gak tau, pensil nulis sama celak mata aja gak bisa bedain, gimana mau cantik?”

“Udah ah, Tini mau berangkat ini, kalo nunggu ibu khatam ceramahnya bisa-bisa Tini manjat pagar lagi hari ini.”

Kartini bangun mengambil ransel, mencium pipi ibunya lalu ngeloyor pergi. Sang ibu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Kartini.

Sampai di sekolah, Kartini langsung disambut sohib-sohibnya yang selalu setia menanti di depan gerbang sekolah jika bel masuk belum berbunyi. Yang anehnya, tiga orang teman Kartini itu cantik dan modis. Ada Anggia yang punya tinggi semampai, rambut panjang dan hitam tergerai indah sampai ke pinggang. Puput yang berwajah oriental mirip Shareeva Danish, dan yang paling cantik yang juga primadona sekolah adalah Leah, punya body ala bintang sinetron, hidung mancung mirip artis bollywood dan kulit putih mulus seperti kulit bayi. Komplit sudah. Kenapa tiga anggsa mau berteman dengan si itik buruk rupa? Siapa pun pasti akan bertanya demikian bila melihat persahabatan mereka berempat. Namun, Anggia, Puput dan Leah tidak ambil pusing. Orang bijak mengatakan, seribu teman mudah datang dan mudah pergi, tapi seorang sahabat akan hadir tanpa pergi sampai batas waktu memisahkan. Bagi Anggia, Puput dan Leah, semua kriteria sahabat sejati mereka temukan pada diri seorang Kartini, baik, penyayang, pengertian, supel, lucu dan nilai plus kartini juga selalu masuk tiga besar di kelasnya. Kalo Aneka Yess!, majalah wajib mereka punya simbol ‘Yess!’ untuk remaja saat ini, cuma satu S yang Kartini tidak punya, staylish. Sebenarnya Kartini bukan tidak cantik, kalo dilihat dengan seksama dia lumayan manis. Punya wajah Indonesia asli. Cuma sayang, dia sendiri tidak peduli dengan penampilannya. Dan ketiga sahabatnya menerima Kartini yang sangat apa adanya. Justru dengan adanya Kartini persahabatan mereka lebih berwarna.

“Maaf ya angels, lagi-lagi kalian yang mesti nunggu aku.” Seru Kartini begitu turun dari angkot.

“Udah kebiasaan kali Tin, gak perlu minta maaf, masih untung belum bel. Kalo gak pasti rok loe bakalan robek lagi pagi ini.” Kata Puput.

“Dan kulit loe bakalan tambah gelap disengat matahari lapangan untuk yang gak terhitung kalinya lagi.” Sambung Anggia.

“Heran, kenapa otak encernya Enstein bisa reinkarnasi ke elo, padahal tiap hari kebanyakan datang telat!” lanjut Leah. Kartini hanya cengar cengir menanggapi omongan sahabat-sahabatnya.

“Udah… yuk masuk, bentar lagi bel tuh. Dan nanti kita bertiga punya kejutan buat loe.” Kata Anggia.

“Kejutan!!! Apa sih….? Gak usah nanti-nanti, sekarang aja. Gue nutup mata yaaa!” Kartini bersiap-siap menutup muka dengan tangannya.

“Loe pikir petak umpet apa… Udah, jangan lebay. Pokoknya nanti kita kasih tau, ayo ke kelas!” Leah menarik lengan Kartini diikuti Puput dan Anggia menuju ke kelas. Dalam hati Kartini dongkol setengah mati dengan tingkah tiga sahabatnya. Kejutan??? Seingatnya hari ini bukan tanggal lahirnya dan sampai saat ini dia juga belum berhasil menggaet Dimas sang ketua OSIS seperti perjanjian taruhan mereka berempat semester lalu. Ahh,,, apa sih kejutannya???

***

“WHAT…….??? Kalian bercanda!” seru Kartini dengan mata membeliak memandang tak percaya pada tiga cewek di depannya.

“Siapa yang bercanda, justru saat ini kita bertiga sangat serius.” Jawab Leah.

“Dan kita yakin elo pasti bisa dan dapat juara.” Timpal Anggia.

“Kartini Putria Dewita pasti keluar sebagai pemenangnya!” tambah puput menyebut nama absen Kartini.

“Kalian gila, mana mungkin!” desis Kartini. Matanya kembali membaca selebaran di tangannya. “KONTES PUTRI KECANTIKAN se-IBUKOTA” Kartini lemas. “Mimpi apa aku semalam.”

“Huss… ngaco, waktunya masih sepuluh hari lagi, kita yakin loe masih sempat diperbaiki.” Kata Puput sadis.

“Emang gue skuter butut apa, pake diperbaiki segala. Lagian kenapa gue sih? Kenapa gak Leah aja. Dia kan cantik, kalo dia yang ikut udah pasti menang.” Kartini memelas.

“Justru kontes ini jadi ajang pembuktian bahwa loe bisa juga tampil cantik, kalo kita bertiga memang udah jelas-jelas cantik, gak perlu kontes-kontes segala.” Kata Leah.

“Halloo….. look at me girls… open your eyes! Aku hitam, dekil, rambutku kayak ijuk, mukaku menyedihkan, dan lihat kukuku…. Jauh dari kata indah!” kata Kartini sambil membentangkan tangan di depan muka tiga sahabatnya.

“Stop! Berhenti ngerendah, serahkan semuanya sama kita!” ucap Leah.

“Kita akan buat kulit loe seperti mutiara ditimpa matahari….” Kata Puput yang suka banget sama mutiara.

“Akan kita buat rambut loe seperti rambut Selena Gomez…..”  Kata Anggia menyebutkan nama idolanya.

“Muka loe akan kita sulap secantik Aishwarya Rai……” Kata Leah yang suka nonton film bollywood.

“Dan kuku gue….???” Tanya Kartini sambil kembali mempentangkan tangannya tepat di depan hidung ketiga sahabatnya.

“Kuku loe jelek banget…..” Ucap Leah.

“Kayak kuku kuntilanak….” Cetus Puput.

“Ahli meni-pedi manapun nyerah sama kuku loe….” Tandas Anggia.

Kartini cemberut memasang ekspresi seperti mau menangis. Kontan ketiga sahabatnya tertawa ngakak sambil merangkulnya. Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah usai.

“WAAAAA…. Kita belum ke kantin!” seru mereka serempak.

***

Dan begitulah, sejak hari itu mereka sibuk keluar masuk salon. Luluran, creambath, facial, menikur pedikur, dan segala prosesi menuju kecantikan mereka lakukan bersama. Leah, Puput dan Anggia enjoy aja dengan segala tetek bengek itu karena mereka telah terbiasa. Lain dengan Kartini, dia tidak henti mengomel. Mengeluh perih saat facial, mengatakan rambutnya seperti ditarik-tarik saat creambath, menjerit kegelian saat luluran dan hampir sukses menendang mbak-mbak salon saat meni pedi. Benar-benar parah. Seminggu kemudian usaha mereka mulai menunjukkan hasil. Kartini jadi lebih enak dilihat. Rambutnya sudah tergerai indah seperti rambut Anggia, kukunya sudah indah seperti milik Puput, kulitnya sudah bersih halus walaupun tak seputih Leah. Secara keseluruhan Kartini menarik untuk dipelototin lama-lama. Dan orang yang paling bahagia selain tiga sahabatnya tentu saja sang ibu. Tak henti-henti memuji putri semata wayangnya. Selama lima hari berturut-turut rutin memasak makanan kesukaan Kartini dari semur jengkol sampai opor ayam. Dari lalap terasi sampai sayur lodeh semua diembat.

Kawan-kawan di sekolah mulai menyadari pesona Kartini yang sesungguhnya. Cowok-cowok keren mulai bersuit-suit, bahkan Dimas sang ketua OSIS yang biasanya adem ayem kini suka mencuri-curi pandang,

Tiga hari sebelum kontes, Leah, Puput dan Anggia membawa Kartini ke butik untuk mencari busana yang akan dipakai saat lomba dan mereka bertiga langsung histeris begitu melihat kebaya tipe modern warna soft gold dengan bawahan warna senada yang agak gelap.

“Gak…. Gue gak mau kebaya. Gaun aja lebih baik.” Tolak Kartini.

“Hei, justru dengan kebaya loe akan memancarkan aura kecantikan asli wanita Indonesia. Percaya deh.”

“Iya, gue jamin loe bakal menang dengan kebaya ini.” Anggia mendukung ucapan Leah. Dengan terpaksa Kartini ikut mau sahabat-sahabatnya

“Selanjutnya kita cari kasut buat kaki loe!” Kata Puput sambil melangkah ke bagian lain dari butik itu. Kartini kembali melolong histeris saat ketiga sahabatnya memilih high heels yang selama ini tak pernah terbayangkan olehnya.

“Jangan itu….. jangan… OH TIDAK…!!!”

Tapi apa mau dikata, Kartini tak mungkin menang melawan tiga cewek modis tersebut. Dan jadilah hari itu Kartini berlatih berjalan lenggak lenggok ala model catwalk dengan juri hakim Leah, Puput dan Anggia.

***

Hari kontes pun tiba…….

Kartini sudah dirias cantik dan sudah berada di back stage menunggu giliran dipanggil oleh Mc. Sementara tiga sahabatnya berada di depan pentas, berdesakan dengan penonton lain yang berjubel. Kawan-kawan sekolahan juga ikut datang untuk melihat penampilan Kartini. Bahkan sang ketua OSIS mereka yang hari ini nampak gagah tanpa seragam sekolah turun langsung memberikan dukungan. Sorak sorai bergemuruh ketika Mc mulai memanggil satu persatu peserta kontes yang rata-rata cantik, berjalan anggun di pentas bak model profesional.

“Selanjutnya… kita panggilkan peserta dengan nomor urut seratus dua puluh satu, Kartini Putria Dewita….!”

Tepuk tangan bergemuruh, suitan sahut menyahut. Semua mata memandang tak berkedip ke pentas saat Kartini keluar dengan anggun mengenakan kebaya, beda dengan peserta lain yang semuanya bergaun. Alangkah cantiknya. Kartini berjalan lemah gemulai sambil memasang senyum termanis yang dimilikinya. Semua orang terkesima bagaikan disuguhi slow motion dengan detail yang indah. Tapi….. apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan.

Ketika Kartini hampir sampai di ujung pentas, tiba-tiba high heels sebelah kirinya patah. Beberapa saat tubuh Kartini oleng ke kiri dan ke kanan hilang keseimbangan, ditambah lagi dengan kain sempit yang melilit tubuh bagian bawahnya. Tak ampun lagi Kartini jatuh. Wajahnya merah menahan malu dan tangis yang akan meledak. Di bawah sana Leah membekap mulutnya dengan kedua tangan sekaligus. Puput berpura-pura buta mendadak dengan mata terpejam dan tangan meraba-raba. Dan yang lebih parah, Anggia jatuh pingsan. Kartini berlari kepayahan sambil menangis dan menenteng sepatunya ke belakang pentas. Leah bergegas menyusul ke back stage, sementara Puput sibuk mengipasi Anggia yang sudah sama rata dengan lantai..

Kartini menangis sesengukan di bahu Leah. “Semuanya percuma, gue menghancurkan segalanya, dasar high heels sialan!” Kartini menyesali diri dan melempar high heels-nya entah kemana.

“Udah, loe gak salah. Yang penting kan kita udah berusaha. Di lain kesempatan pasti akan lebih baik lagi.” Leah berusaha menghibur.

Mc mulai mengumumkan juara harapan satu dan dua, diikuti juara tiga, lalu runner up dan kemudian juara satu. Tak ada nama Kartini di sana. “Kita telah mendapatkan sang juara kita hari ini, dan masih ada satu gelar juara lagi yang belum kita dapatkan, yaitu juara favorit pilihan dewan juri, dan juara ini diberikan kepada….. peserta dengan nomor urut…… satu dua satu, Kartini Putria Dewita….” Seru sang Mc.

“Kayaknya ada yang neriakin nama gue deh.” Kata Kartini sambil menyusut air matanya.

“Tin… Loe menang Tin….. kita menang!” seru Leah girang sambil loncat-loncat.

Gue menang, kita dapat juara, oh tuhan…. Thank you….!”

Kartini berlari ke pentas tanpa alas kaki. Di bawah sana, begitu mendengar nama Kartini disebut sebagai salah satu juara, Anggia yang tadinya pingsan kontan bangun dan berlari naik ke pentas.

“WOOIII….. neng… loe pingsan… tunggu gue!” seru puput sambil tancap gas mengejar Anggia naik ke pentas.

Kartini menerima piala juara vavorit dewan juri dengan suka cita bersama tiga sahabatnya diiringi tepuk tangan penonton. Tiba-tiba Dimas naik ke pentas. Penonton yang tadi ribut meneriakkan nama Kartini serentak membisu. Semua mata sekarang tertuju ke Dimas.

“Mohon maaf bila aku menyabotase acara ini!” kata Dimas memulai bicaranya lewat mikrofon. “Hari ini, di depan kalian semua aku ingin menyatakan perasaanku terhadap seseorang yang istimewa di hatiku.” Dimas diam beberapa saat, lalu berbalik menghadap Leah cs yang menatap keheranan.

“Kartini Putria Dewita…. Do you want to be my princess…?” ucap Dimas menatap penuh harap pada Kartini.

“Oh my Gosh…. Loe ditembak Tin….!” Seru Anggia

“Aku gak percaya ini, seseorang bangunkan aku dari mimpi.” Nyerocos Puput

“Finally…. You get your love Tin, ayo katakan iya!” kata Leah sambil mendorong Kartini mendekat ke arah Dimas. Kartini mendekat ragu-ragu, dia masih tak percaya.

“Ehhmm… loe serius suka sama gue…???” tanya Kartini begitu dekat di depan Dimas.

“Iya.. gue suka loe dari kelas satu, sejak liat loe ngupil di kelas. Loe lucu banget!” jawab Dimas. Semua orang tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Dimas.

“Loe siap nerima semua kekurangan gue ?” tanya Kartini lagi.

“Gue udah siap lahir batin.” Ucap Dimas mantap.

Kartini diam beberapa saat, menoleh ke sahabat-sahabatnya sebentar lalu berkata, “ Dimas Ardian Pahlevi…. Gue mau jadi pacar loe…” kata kartini akhirnya yang langsung disambut pelukan oleh dimas. Penonton kembali riuh.

“Ohh… so sweet….” Anggia klepek-klepek, padahal bukan dia yang ditembak Dimas.

Di depan sana Kartini tertawa bahagia dalam dekapan sang pujaan hati. Hari ini dua kemenangan didapatnya, kemenangan bersama sahabat-sahabatnya dan sekaligus memenangi hati Dimas. What a lucky girl?

 

sebuah tulisan minus

selesai ditulis entah kapan dan dimana

n.a.g

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com