an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam.

Aku persembahkan cerita keempatku ini untuk kalian baca, harus dibaca! Bila tidak bisa memuaskan hasrat terdalam kalian, setidaknya bisa mengusiknya saja. hihihihii.

Harapanku selalu sama, semoga kalian menikmati membaca GOOD IN BED seperti aku menikmati saat menulisnya.

Ini jadi cuap2ku paling singkat sepertinya.

Wassalam

-n.a.g-

#####################################################

How do you mean a sexual relationship? Hubungan badan, hubungan kelamin, senggama? Atau bagimu seks adalah hanya jika Mr. P mu bersarang di belakang pasanganmu atau sebaliknya. Bigitukah? Bagaimana dengan ciuman? Remasan penis, isapan penis atau adu penis? Well, itu terserah kalian. Pertanyaan berikutnya, seberapa penting hubungan seks dalam sebuah jalinan percintaan? WOW, aku yakin, 75 % kalian akan menjawab ‘Tanyakan itu pada penismu’ dan jika itu yang kalian jawab, aku mengartikannya sebagai ‘penting banget.’ Tapi bagaimana bila kamu jatuh cinta matian-matian pada seorang lelaki tampan yang tidak menganggap seks itu penting? Padahal kamu sangat menginginkan tidur bersamanya tanpa dibalut pakaian, bahkan celana dalam pun tidak. Frustasi? Stress? Atau uring-uringan sendiri tentunya. Aku yakin pasti begitu. Lalu kalian akan menyalurkan dengan sabun di kamar mandi sambil menghayalkan bahwa yang kalian pegang adalah punya Si Tampan itu. Atau yang lebih parah adalah berusaha mendapatkan celana dalam dari lokernya atau dari manapun itu, lalu kalian akan menjadikannya sebagai sarana pemuas. Separah itukah? I hope not. Kemudian seorang pria tampan lainnya mendekatimu dan menegaskan siap membuka pahanya untukmu sedangkan kamu tak mencintainya sebesar cintamu pada Si Tampan Tanpa Seks. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Seks wah dengan hanya secuil cinta, atau cinta wow tanpa selapis pun seks…

***

Aku berpegangan kuat pada bahunya, kukuku seperti mau menusuk di sana. Punggungku bersandar di dinding. Kedua kakiku bergantungan di sisi pinggangnya, bergerak seirama gerakan pinggulnya yang semakin mengentak. Oh shit, dia jantan sekali, lebih jantan dari adegan panas di filem-filemnya yang pernah kutonton. Benda di depanku bergesekan dengan perut six pack-nya yang keras. Nafasnya semakin memburu bagai banteng di lapangan matador.

“Oh Jake… your penis it’s so hard!” Racauku. “I’m so oouughh…” Kalimatku terputus karena Jake menghentakkan dirinya sangat kuat ke atas.

“And your hole is so hot, dear. Ohh yeah… I love it…” Desahnya sambil melumat bibirku.

“Oh yess! Please harder and faster my Jake!” Jeritku. “Finish it…”

“Oh noo… I’m coming! Baby… ouugghhh…!” Jake menegang di dalamku dapat kurasakan itu. Amat sangat panas, sesuatu seakan siap meledak.

KRIIIIIINNGGGG

“OH YESS!!!”

Aku terduduk di atas ranjang. Selimutku telah jatuh di kaki tempat tidur. Bantal dan guling bergeletakan tak karuan rupa. Mana Jake? Jake Gyllenhaal yang tadi mem-bareback-ku. Mana dia?

Suara ribut terus terdengar. “SID… matikan weker sialanmu!” Satu teriakan membahana tidak jauh di sampingku.

Aku menoleh ke samping. Seseorang bergelung di bawah selimut di atas ranjang. Keningku mengernyit, memandang bergantian antara ranjang tempatku berada dengan ranjang lain di sebelah sana.

“Ya tuhan, Sidharta!” Orang yang bergelung di ranjang bangun dan menyibakkan selimutnya.

Kesadaranku terkumpul sudah begitu melihat wajah orang di sebelah ranjang sana. Bukan Jake Gyllenhaal aktor Hollywood seksi itu, yang membuat sesuatu di bawah pusarku mengeliat tiap melihat gambarnya. Tapi di sana adalah Syuk, rekan sekamar yang membuatku ingin meminjamkan pinset tiap kali melihatnya. Kenapa pinset? Itu karena alisnya melintas terus dari atas mata kiri ke mata kanan tanpa berhenti di tengah-tengah dimana tulang hidungnya berada. Alis lebatnya bersambung terus tanpa spasi.

“Jangan paksa aku untuk menghancurkan weker jelek itu lagi.” Ancamnya masih di atas ranjang.

Aku baru sadar kalau wekerku masih berbunyi. Gelagapan aku menjangkaunya.dari atas nakas. Huh, weker sialan. Dia menghentikan orgasme-ku bersama Jake, padahal hampir saja Jake meletup di dalamku tadi. Ingin rasanya aku sendiri membanting weker itu ke lantai. Tapi melihat lakban hitam yang melintang di bagian sampingnya aku jadi kasihan. Di pernah diperlakukan tidak manusiawi oleh Syuk beberapa minggu lalu dengan melemparnya ke lantai karena bersuara nyaring tepat jam 4 dini hari. Aku sengaja meng-set-nya pada jam itu agar terbangun untuk menemani pacarku nonton bola biarpun lewat telepon saja. Tapi gara-gara itu Syuk murka hingga membuat badannya retak dan aku harus memberinya lakban itu.

Kuletakkan weker tersebut di tempatnya. Syuk sudah bergelung kembali di bawah selimutnya. Aku menatap keadaan single bed-ku lalu tersenyum sendiri mengingat mimpiku dengan Jake tadi. Oh indahnya, begitu nyata kurasakan. Wajar aku mimpi seperti itu, semalam aku menghabiskan waktu 2 jam untuk browsing film Brockback Mountain di internet. Film koboi gay yang dibintangi Jake Gyllenhaal. Detil mimpi erotis itu terbayang lagi, bagaimana hebatnya Jake ‘menghabisiku’ di dinding. Andai Abrar yang melakukan itu padaku di alam nyata, pasti kisah cintaku dengannya bakalan lengkap. Ah, kapan sih Abrar akan menurunkan celanannya untukku?

Hey tunggu. Apakah tadi aku terbangun dengan teriakan YESS? Aku meraba ke dalam boxer-ku. WHOAA… lengket. Aku ngompol sperma lagi. Segera aku turun dari tempat tidur, menyambar handuk, keranjang alat mandi di sudut kamar dan segera keluar menuju deretan kamar mandi di ujung lorong. Aku butuh waktu mandi ekstra pagi ini, sebelum penghuni asrama lain berebutan pintu maka aku harus lebih dulu. Bisa gawat kalau sampai aku keduluan, bakalan telat jadinya. Cukup sekali aku memegang sikat WC sekolah.

***

“Namaku Salman Al Aiyubi…”

“Masih sepupunya Salman Khan ya?” Cetus seseorang.

“Huuuu…!” Sorak sorai penghuni kelas langsung membuat kelas berubah bak di pasar pagi.

Suara meja dipukul dengan penggaris kayu terdengar bertalu-talu. “Diam anak-anak!” Tegur Ibu Titi, wali kelas kami sejak dari kelas 1 sampai kelas 3 ini. Nama lengkapnya Titi Telitiyaningsih Watinemat, jika kalian ingin tahu. Setelah ibu Titi mengeluarkan jurus andalannya itu kelas kembali senyap. “Silakan dilanjutkan Nak, pengenalan dirinya.” Ucapnya ramah pada Si Anak Baru, cowok ganteng -putih bersih jangkung- dengan rambut spike-nya yang bikin ngiri.

“Kalian bisa panggil aku Sal atau Aiyub saja.”

“Status?” Seru seseorang di barisan belakang.

“Emm, baru bubaran.” Jawab Si Rambut Spike.

“Kenapa pindah sekolah kemari?” Tanya anak yang lain.

“Orang tuaku dimutasi kemari. Karena di tempatku sebelumnya aku juga sekolah di SMK jadi aku tak punya pilihan lain. Ini satu-satunya SMK di sini kan?”

Lalu gumam O panjang-panjang terdengar dari seisi kelas yang hampir seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Hanya ada beberapa cewek kekar di kelas ini.

“Masuk asrama gak?” Lagi-lagi ada yang berseru.

Si Salman Khan tersenyum sebelum menjawab. “Aku tahu tradisi asrama bagi penghuni baru. Jadi aku memilih tinggal di bawah atap rumah orang tuaku.”

“Ah… payah.” Cetus kawanku yang tadi bertanya.

Aku tersenyum sendiri. Sepertinya Anak Baru ini cukup pintar berbicara, dan dia juga sangat tampan. Aku langsung memberinya nilai 9, sama seperti nilai Abrar. Cowok tertampan di kelas ini sekarang ada dua menurut penilaianku, Abrar Syauqi –pacarku, dan Salman Al Aiyubi –Si Anak Baru yang tak suka asrama.

Kulirik Abrar yang duduk tiga meja berselang di sisi kiriku. Dia juga sedang menatapku. Tatapannya seolah-olah tersirat peringatan untukku yang kuartikan dengan ‘Jangan tertarik pada Anak Baru itu. Ingat, aku masih pacarmu.’ Aku memberi Abrar sebuah anggukan sebelum menekuri mejaku. Ya, Abrar, kamu memang masih pacarku.

“Baiklah, ibu rasa pengenalannya cukup, kalian bisa…”

“Masih ada Bu…” Syuk mengangkat tangan memotong kalimat Bu Titi.

Apaan sih dia, pasti mau nanya pertanyan gak mutu lagi deh. Aku berani bertaruh, seisi kelas pasti masih ingat momen dimana Syuk bertanya saat ada anak baru ketika kelas 1 dulu. Pertanyaannya ketika itu adalah ‘Semua anggota keluargamu jerawatan juga sepertimu ya, besar-besar gitu juga gak? Jerawat itu penyakit genetik kali ya?’ sungguh tak beretika. Qori yang saat itu jadi murid baru langsung merah mukanya, membuat tampang jerawatannya tambah gak enak dipandangi lama-lama. Sampai sekarang Syuk dan Qori tak pernah akrab. Kalau aku jadi Qori saat itu, aku akan membalas dengan balik nanya ‘Apa bokongmu punya bulu bersambung dari sebelah kiri ke sebelah kanan kayak di jidatmu itu? Sepertinya bakalan asik kalau punya yang seperti itu di bokong.’ Tapi sayang, Qori tak cukup pintar sepertiku untuk memuntahkan kalimat begitu untuk Syuk.

“Simpan saja pertanyaanmu itu Asyuki Ibrahim…” Bu Titi cukup paham sifat Syuk. “Nak Salman, silakan pilih tempat duduk dimana saja.”

Syuk hanya bisa manyun. Setelah Si New Comer mendapatkan tempat duduknya jauh di belakang, Bu Titi mulai berkoar memperdengarkan suaranya yang melengking-lengking menjelaskan mata ajarnya hari ini. Suaranya sukses membuat telingaku berdenging setiap jam pelajarannya, mungkin telinga anak-anak lain juga. Percaya, tak ada satu anak pun yang memilih jam tidurnya pada sesi kelas Bu Titi. Kenapa? Karena suara Bu Titi sama dengan kopi paling pahit di seluruh muka bumi.

***

Aku berdua dengan Aiyub sekarang. Aku memanggilnya Aiyub karena lebih terdengar manis ketimbang Sal atau Salman. Kami duduk di rumput di pinggir lapangan dengan baju training kotor dan wajah keringatan. Di lapangan sana kawan-kawan sekelasku termasuk Abrar masih terus mengejar benda bulat yang melesat kesana kemari terkena tendangan mereka. Abrar sangat cinta sepak bola. Football Star favoritnya adalah bintang Real Madrid, Si Playboy CR7. Yah, CR7 memang pantas difavoritkan. Aku sendiri suka gayanya ketika ingin meng-eksekusi bola. Sebelum menendang CR7 akan mengangkang indah yang dimataku tampak sangat lelaki sekali. Gila, kenapa pikiranku malah sampai ke selangkangan Cristiano Ronaldo ya. Tapi aku pernah melihat gambar telanjangnya di internet, benar-benar telanjang. Batang beruratnya menggantung indah dalam gambar itu.

“Kabarnya asrama bikin kita gak sebebas bila di rumah ya?” Aiyub bersuara di sampingku sambil melepas kaus olahraga dari badannya.

Huhuu, kenapa dia melakukan itu. Tongkatku gak kuat. Damn it. “Ehem, asrama kami bebas kok. Kami cuma diwajibkan sudah berada di asrama tepat jam sebelas malam hingga pagi. Di luar jam itu kami bebas mau berada dimana saja. Tentunya setelah jam sekolah usai.” Jelasku.

“Konsumsinya?” Lanjut Aiyub.

“Mau makan di asrama boleh, cari di luar juga gak dilarang.”

“Rokok?”

“Banyak mereka di asrama yang punya rokok, selama gak ketahuan. Tapi sejauh ini baik-baik saja.” Jawabku.

“Kamu merokok?”

Aku merasa seperti diinterogasi. “Syuk pernah mengajakku. Gara-gara itu aku hampir berhenti napas karena tersedak asap nikotin.” Jawabku sambil tertawa.

“Separah itu?” Dia ikut tertawa.

Aku mengangguk. “Sampai sekarang aku trauma merokok.”

“Masalah kunjungan?”

Huh, belum habis juga ternyata. “Siapa saja boleh berkunjung selama tidak membuat kericuhan. Asrama kami tak ubah layaknya sebuah kost-kost-an kok.”

Aiyub mengibas-ngibaskan baju ke badan bagusnya. “Gerah banget, bagaimana mereka sanggup bergerak di tengah matahari di sana…”

Aku memandang ke lapangan. Sempat kutangkap Abrar melirik padaku dan Aiyub di sela-sela larinya menggiring bola. Hampir satu bulan ini aku memang cukup dekat dengan Aiyub. Teman-teman yang lain juga. Aiyub cepat berbaur dan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang serba baru. Hal itu karena dia punya sifat menyenangkan selain juga pintar bicara sehingga membuatnya mudah akrab dengan siapa saja. Aku sendiri merasa kalau dia lebih dekat dan lebih banyak menghabiskan waktunya denganku daripada dengan kawan-kawan yang lain. Apa lirikan Abrar tadi menandakan dia tak suka dengan kedekatanku dan Aiyub?

“Kalau memang peraturan asrama tidak seketat itu, aku yakin bisa mengajakmu keluar kapan-kapan.” Ucapnya kemudian.

Aku tersenyum. “Aku rasa aku bisa.”

“Okeh, saatnya ke loker. Jam penjaskes hampir habis, ayo kita ambil seragam.” Dia bangkit dari duduknya dan menarikku ikut berdiri.

Sekali lagi aku melirik Abrar yang sekarang sedang berdiri mematung di dekat gawang sembari menatap ke arahku. Lebih tepatnya menatap tanganku yang digenggam Aiyub. Sepertinya Abrar baru saja melesakkan bola ke gawang lawan dan dia mendapati aku tak memberinya tepuk tangan atau sekedar senyum penyemangat seperti biasanya. Bahkan aku tak melihat saat dia menendang tadi. Aku hanya sempat melihat bola yang sudah mengelinding di dalam jala dan tatapannya yang menusuk dengan dada naik turun. Namun mengapa aku tak berusaha menarik tanganku dari Aiyub? Tanganku terus dipegang Aiyub yang mulai melangkah meninggalkan lapangan hingga aku berpaling dari Abrar.

***

“Kamu makin akrab saja dengan anak baru itu.” Kata Abrar saat hari ini kami berhadap-hadapan di kantin.

Aku tau yang dia bicarakan adalah Aiyub. Abrar terus menggerak-gerakkan garpunya menusuk bulatan bakso dari pertama mangkuknya datang tadi. Sedikitpun isinya belum berpindah ke perutnya, sementara mangkuk-ku hampir licin.

“Setelah satu bulan lebih, kamu masih menyebutnya anak baru?” Tanyaku sambil menyendok bakso terakhirku.

Abrar mendesah. “Kamu masih pacarku kan, Peanut?” Dia memanggilku dengan sebutan sayang itu. Sebutan sayang yang muncul saat kami bermain ke ladang kacang saat panen. Waktu itu aku sangat bersemangat membantu pekerja mencabuti batang-batang pendek kacang tanah di ladang. Sejak itulah Abrar suka memanggilku ‘Peanut.’

Aku juga punya panggilan sayang untuknya, Banana. Lucu kan? Itu karena Abrar benci pisang. Alasannya ‘Aku merasa seperti monyet bila suka pisang.’ Itu kalimat pembelaan untuk sifat anehya yang satu ini. Jarang kan ada orang yang gak suka pisang. Aku yakin kalian semua suka ‘pisang.’ Apalagi aku, suka banget. Lebih-lebih yang ukurannya gede-gede kayak Pisang Ambon, waoww, I like it.

Aku mendorong mangkuk yang telah kosong lebih ke tengah meja. Kutatap Abrar yang sedang memandangku dengan tatapan serius. “Menurutmu?” Sengaja aku ingin membuatnya bingung.

Mata Abrar membulat. “Jangan bilang kalau kamu sudah pacaran dngannya!” ucapan Abrar lebih terdengar seperti orang histeris. Beberapa pasang mata langsung menoleh ke meja kami.

“Ssstt…” Aku menempelkan jari di bibirku. “Apa kamu sudah gila? Kita di kantin saat ini.”

“Sori…” Bisiknya. “Tapi aku gak siap bila kamu jadi milik orang lain.”

“Aku masih milikmu Brar.” Sedangkan hatiku melanjutkan ‘Meskipun kamu tak pernah menyentuhku dengan sentuhan yang dalam.’

Abrar tersenyum memamerkan satu lesung indah di pipi kanannya. Senyum itu selalu bisa membuatku tetap mencintainya sampai sekarang. “Aku senang mendengarnya, Peanut.” Ucapnya. “Kamu tau kan betapa dalamnya aku telah jatuh ke dalam palung hatimu. Membayangkan saja kamu dengan orang lain membuatku tak enak makan tak nyenyak tidur. Apalagi jika itu benar-benar terjadi. Aku bisa hancur berkeping-keping.”

Ya, aku memang tahu sedalam mana cinta Abrar. Dia teramat sangat mencintai diri ini. Sering Abrar berucap demikian. “Udah, ayo makan baksomu, bentar lagi bel nih.”

“Kita makan sama-sama lagi yea!” Sahutnya manja.

“Ogah.”

“Ayolah, aku suapin nih…”

“Brar, nanti ada yang melihat…” Tapi sendok itu sudah di depan mulutku.

Aku mengerling kiri kanan untuk memastikan bahwa tak ada yang melongo ke arah kami. Lalu secepat laju kereta api express aku menyambar isi sendok itu. Mulutku penuh.

Abrar tersenyum lagi. “I love you so much my peanut.” Lirihnya lalu mulai fokus pada sendok dan garpunya.

***

Umur pacaran kami sembilan bulan sembilan hari saat ini. Aku dan Abrar sama-sama ‘mengenal’ satu sama lain saat event camping tiga hari dua malam dalam rangka pramuka. Sebelum itu, dari kelas 1 kami memang sudah berteman akrab. Abrar tidak tinggal di asrama karena dia memang berasal dari kota ini. Orang tuanya cukup berada, bukan pemilik perusahaan memang. Tapi ayahnya punya usaha resto yang sudah buka cabang di beberapa kota. Orang tuaku? Hehe, hanya guru SD di daerah asalku yang lumayan jauh dari kota tempatku sekolah. Itu ayahku, sedang ibuku? Beliau adalah spesialis panci dan wajan. Bukan… bukan, profesinya bukan sebagai penambal panci dan wajan keliling. Salah besar jika kalian pikir ibuku adalah penambal panci. Spesialis panci dan wajan, karena dengan panci dan wajanlah ibuku menemukan jiwanya. Dari sanalah ibuku menghasilkan menu-menu ajib untuk seisi keluarga. Ya, ibuku hanya seorang ibu rumah, yang dengan tangan penuh kasih telah membesarkan aku dan 3 kakakku.

Baiklah, kembali ke Abrar. Kalian tahu bagaimana bangganya aku ber-pacarkan Abrar? Okeh, biar aku sebutkan daftar kelebihan Abrar yang bisa membuat aku klepek-klepek bagai ayam kena epilepsy saat pertama memandangnya dulu. He is so handsome. Tentu saja, aku tak akan mau jadi pacarnya jika dia berwajah seperti Tessy. Abrar sangat tampan, alisnya lebat tersusun rapi, matanya bak elang, hidungnya adik kakak sama Saif Ali Khan –jangan bilang kalian tak tahu Saif Ali Khan. Bibirnya pas, tidak tipis dan tak meluber kemana-mana, dan selalu pink karena Abrar juga benci rokok. Rambutnya plontos ala Justin Timberlake di klip What Goes Arround, aku yang menyarankan dia pangkas begitu dan hasilnya memang dia terlihat lebih seksi dan lebih laki. Lesung pipi, itu yang membuatku terseret pesonanya. Dia sangat cute bila sedang tersenyum.

Kelebihan berikutnya, atletis. Wajar, karena dia suka olahraga. Abrar pernah bilang padaku sebulan tanpa mengeluarkan sperma di kamar mandi lebih baik daripada sehari tanpa olahraga. Yah, dia memang sportaholic dan kegiatan seks bukan prioritas untuknya. Lalu, Abrar tajir. Sebenarnya bonyok-nya yang tajir. Siapa sih yang tak ingin punya pacar tampan-atletis-tajir pula? Silakan iri padaku.

Namun bila aku beritahu satu hal, kalian tak akan iri lagi. Hal apakah itu? It’s seks. Seperti yang aku bilang, seks bukan prioritas buat Abrar. Tak sedikit pun dia pernah memberiku sentuhan yang bisa dikategorikan seks. Bahkan ciuman bibir pun tidak. Dia hanya pernah mencium kening dan jariku saja, lebih dari itu tak ada. sembilan bulan sembilan hari masa pacaran kami tak sekalipun aku melihatnya bugil, shirtless pun tak pernah. Entahlah, mungkin kami tak punya kesempatan untuk melakukan itu. Bukan aku tak pernah memancingnya, dulu sering malah. Apalagi jika aku sedang tak berminat pada sabun mandi. Tapi Abrar seakan tak peka pada sinyal-sinyalku itu. Akupun satu hal juga, terlalu malu dan tabu untuk minta terang-terangan langsung. Tidakkah terasa aneh bila misal aku berucap seperti ini; Abrar, aku pengen jilatin alat pipismu sekarang. Atau; Abrar… kita gede-gedean adek yuk. Atau begini; Brar, anusku gatal. Maukah kamu menggaruknya dengan pentungan di bawah pusarmu?

Gila bukan? Lidahku tak berani mengucapkan kalimat-kalimat keramat seperti itu. Uhh, mengapa tidak Abrar yang memancing lebih dulu?

Tapi sejauh ini aku tetap setia pada Abrar, meskipun kisah cinta kami tak sepanas kompor 16 sumbu karena tak ada seks. Cinta kami bergulir apa adanya. Hanya berisi momen-momen kebersamaan kami saja. Makan berdua di kantin, berboncengan berdua di motor lalu keliling kota, ke pantai berdua, ke swalayan berdua, main PS berdua, makan rujak berdua, beli sandal jepit berdua, beli kolor berdua. Yah hanya sebatas berduaan begitu saja. Padahal aku ingin sekali-kali kami bisa mandi berdua, tidur berdua, tumpang tindih berdua, jungkir balik berdua, gesek-gesekan berdua, gigit-gigitan berdua. Paling tidak bisa elus-elusan atau remas-remasan berdua. Tapi semua itu jauh panggang dari api.

***

Aiyub datang ke asrama. Aku baru saja selesai mandi dan masih berlilitkan handuk sebatas pinggang ketika membukakan pintu untuknya. Aku sedikit terkejut mendapati dia yang berada di balik pintu. Aiyub memandangiku dari atas ke bawah.

“Kamu bisa telepati ya? Tau aja kalau aku mau jemput. Sampe udah siap-siap gini.” Cetusnya langsung masuk ke kamar.

Aku menutup pintu, Syuk sedang tidak di kamar sore ini. Kupandangi Aiyub yang tampak memikat dalam balutan kemeja pas body dan jeans robek-robeknya yang terkesan manly.

“Hei, jangan bengong!” Serunya. “Yang mana tempat tidurmu?”

Tempat tidur? Untuk apa dia bertanyakan tempat tidur? Ingin meniduriku kah? “Yang dekat jendela.” Jawabku.

Aiyub melompat ke atasnya. Dia langsung rebahan telentang dengan dua tangan ditekuk ke belakang kepala. Akibat itu, kemeja pasnya tertarik ke atas memperlihatkan perutnya yang bergaris samar berkotak. Ban celana dalamnya ikut terlihat mengintip di balik pinggang jeans-nya. Aku menelan liur memperhatikan paha Aiyub yang mengangkang seakan mengundangku untuk naik ke atasnya dan bergerak naik turun di sana. Terlebih lagi saat melihat bagian meninggi tepat di tengah-tengah tubuhnya.

“Aduh, kok bengong lagi sih. Sana lekas pake baju.” Omelnya.

Aku tersadar. Segera menuju lemariku dan memilih baju yang akan kupakai. Kulirik Aiyub yang sekarang sudah berubah posisi jadi duduk di ranjang. Pandangannya tertuju padaku. Aku selesai memakai kausku, setelahnya kembali kulirik Aiyub. Dia masih memandangku.

Aku ingin menyerang balik. “Kok merhatiin aku terus dari tadi?” Ucapku yang siap menarik handuk untuk memakai pakaianku bagian bawah.

Aiyub sedikit kikuk. “Ah gak kok… ini, emmm, aku lagi liatin itu.” Dia menunjuk ke bawah meja belajarku yang tepat berada di samping lemari, di depan mana aku berpakaian sekarang.

Pandanganku mengikuti arah yang ditunjuknya. Keningku mengernyit. “Kotak sepatu???” Tanyaku heran.

“I… iya, cantik ya kotak sepatunya.” Muka Aiyub merona, lalu dia berpaling ke arah jendela.

Aku geleng-geleng kepala sambil senyum lalu menarik handuk dan mengenakan celanaku. Setelah itu mematut diri di depan cermin sebentar. “Okey, aku siap. Jadi mau kemana kita?”

Aiyub turun dari ranjangku. “Ayo…!”

Aku duduk di boncengannya, lenganku melingkari pinggangnya. Jari-jariku nyaris berada tepat di selangkangan Aiyub. Tadi dia sendiri yang memposisikan tanganku demikian. Di belakangnya aku benar-benar sulit mengontrol irama jantungku. Harum Aiyub membuatku terangsang, sentuhan Aiyub di tanganku tadi membuatku terangsang, pinggang Aiyub membuatku terangsang, punggung Aiyub yang bertabrakan dengan dadaku membuatku terangsang, gaya Aiyub mengemudikan motor juga berhasil membuatku makin terangsang. Akhirnya aku hanya bisa memperketat lingkaran lenganku di pinggangnya. Dari spion aku sempat melihat Aiyub tersenyum di balik kaca helm-nya.

Dia membawaku ke kafé, memilih meja bundar kecil di pojokan, menarik kursi untuk kududuki lebih dulu baru kemudian menarik untuk dirinya sendiri. Prilakunya sangat gentleman sekali sore ini, seakan aku adalah seorang pangeran dari negeri biru. Aku tersenyum dengan wajah berseri mendapat perlakuan seperti itu darinya.

“Suka es krim?” Tanyanya padaku.

“Banget. Tak sabar untuk segera melahapnya.” Sahutku singkat.

“Okey, bawakan kami dua cup besar es krim paling andalan di sini.” Ujar Aiyub pada pelayan yang menghampiri kami.

“Itu saja Mas?” Tanya Si Mbak Pelayan.

“Ada lagi yang kamu butuhkan, Cakep?” Aiyub bertanya padaku.

Sebutannya untukku berhasil membuatku tersipu bagaikan putri malu. Ralat, putra malu. Apa aku memang secakep itu? Aku tak pernah mendengar Abrar menyebutku cakep. “Es krim saja cukup, kecuali di sini menyediakan kuping goreng mungkin aku mau itu satu porsi.” Kelakarku.

Aiyub tersenyum. “Apa di sini ada kuping goreng?” Tanya Aiyub pada Si Pelayan, sengaja ingin mengusiknya.

Si Mbak Pelayan nampak bingung, lalu menggeleng.

“Kelamin panggang?” Lanjut Aiyub. Tawaku nyaris tersembur. “Ehem, maksudnya alat kemih sapi atau kambing yang di panggang. Apakah ada?”

Muka Si Mbak memerah. “Kalau tak tertulis di buku menu berarti tak ada.” Sahutnya.

Aku tersenyum geli.

Aiyub mengambil buku menu yang tidak dibukanya dari saat Si Pelayan menyerahkannya tadi. “Jika begitu, bawakan es krim saja dulu.”

“Es krim, segera.” Si Mbak mengambil buku menu dari tangan Aiyub dan segera berlalu.

Aku terkikik sepeninggal Mbak-mbak tadi. “Benar-benar jahil.” Cetusku di sela-sela tawa.

“Aku senang melihatmu tertawa.” Ujarnya.

Aku menatap lurus Aiyub. Dia menatapku balik. Sejenak kami diam dalam kebisuan.

“Siapa pacarmu sekarang, Sid?” Tanya Aiyub tiba-tiba.

Aku kaget. Apa yang harus kujawab? Haruskah aku menyebut nama Abrar. Tapi kepalaku hanya mampu menggeleng.

“Hah? Cowok setampanmu gak punya pacar?” Mata Aiyub bagai hendak meloncat keluar tapi dibarengi senyum yang menyeruak di bibirnya.

“Gak perlu sekaget itu, biasa aja.” Jawabku. “Trus kamu, bukankah dulu pernah bilang di hari pertama pindah kemari bahwa kamu baru saja bubaran kan, siapa dia?” aku cukup cerdik untuk mengubah obyek.

Aiyub menyeringai. “Aku gak sanggup LDR. Jadi, ya aku minta putus. Percuma pun kalau tetap bertahan. Dia jauh di sana sedang aku jauh di sini.”

Aku mengangguk. Aiyub ternyata tidak menyukai hubungan jarak jauh.

Es krim kami datang, lelehan coklat di atas vanilla dan taburan kacangnya membuatku tak sabar. Seingatku Abrar belum pernah mengajakku makan es krim. Tapi Aiyub? Huwaaa… apakah memang sudah saatnya aku berpaling arah. Tapi cintaku pada Abrar juga masih begitu kuat.

“Mari kita hisap dan jilat es krim ini!” Ujar Aiyub sembari mulai menggunakan stik-nya.

Kata-kata itu, hisap dan jilat. Oh man, kenapa hari ini aku sangat mudah terangsang? Segera aku melahap, menghisap dan menjilat sendok stik-ku. Rasanya seperti… tetap seperti makan es krim kok.

“Aduh Sid, kok beringas gitu sih makannya. Es krimnya kemana-mana tuh.” Aiyub bangun, mencondongkan badannya ke arahku lalu tanpa terduga tangannya menyentuh sudut-sudut bibirku dalam gerakan mengusap. Ibu jarinya menyapu permukaan bibirku. “Okeh, bersih. Tak belepotan lagi.” Dia duduk kembali. “Cobalah menjilat dan menghisapnya dengan lebih perlahan ya!” Lalu dia kembali sibuk dengan stik-nya sendiri.

Rasanya aku mengembang, sentuhan Aiyub tadi mengapa sanggup menggetarkanku. Lagi-lagi aku katakan, Abrar belum pernah menyentuhku sebegitu lembutnya. Bagaimana rasanya sentuhan Abrar? Apakah bisa selembut Aiyub yang sanggup membuatku bergetar, atau malah lebih hebat lagi. Huhuu… Abrar segeralah jamah aku sebelum aku menguber-uber Aiyub untuk jadi selingkuhanku.

***

Jiwaku sedang tak bersamaku hari ini. Di kelas hampir sepanjang jam pelajaran aku duduk termenung menopang dagu. Di otakku timbul tenggelam antara Abrar dan Aiyub. Aku sedang menimbang-nimbang kemungkinan untuk mengucap putus dengan Abrar dan mengalihkan hatiku pada Aiyub. Aku sedikit yakin kalau Aiyub juga suka aku. Kemarin di perjalanan pulang dia sesekali menyentuh jariku yang berada di perutnya. Bukan itu saja, Aiyub seperti sengaja mengulur waktu dengan menjalankan motornya seperlahan mungkin agar tidak lekas sampai asrama. Dan yang menambah keyakinanku adalah, dia juga sering menoleh ke samping yang membuat daun telinganya bergesekan dengan puncak hidungku beberapa kali karena dia tidak memakai helm-nya selama perjalanan pulang.

Aku menyukai Aiyub, aku suka sentuhan-sentuhannya. Aku suka caranya memperlakukanku. Tapi Abrar? Dia masih memikat dengan caranya sendiri meskipun tanpa satu sentuhan pun yang setara dengan sentuhan Aiyub. Beginikah rasanya dilema? Aku memperhatikan Abrar yang asik menyalin di buku. Dari tempat dudukku yang tampak adalah sisi wajahnya. Aku masih cinta dia. Kemudian aku memutar kepala melihat ke arah tempat duduk Aiyub di diret belakang dan langsung kaget ketika mendapati dia juga sedang menatapku. Segera aku berbalik lagi dan fokus menatap white board.

Tuhan, dia memandangiku. Apakah selama ini dia sering begitu? Memandangiku sepanjang jam pelajaran. Berfikir demikian membuat keyakinanku semakin bertambah. Aku serasa digelitik, hapeku bergetar dalam saku celana. Sebuah pesan, dari Aiyub.

‘Nanti sore aku jemput lagi ya?’

Begitu tulisnya. Nanti sore, berarti ada kemungkinan aku akan bermalam minggu dengan Aiyub. Aku kembali menoleh pada Abrar yang masih asik dengan pena dan bukunya. Abrar memang tidak rutin mengajakku jalan tiap malam minggu –biar tidak mencolok, begitu dulu dia pernah bilang. Jika tidak keluar biasanya Abrar akan menelepon untuk pacaran via hape. Tapi sudah 2 minggu ini kedua hal itu tak berlaku.

Aku mengetik ‘Akan aku tunggu kedatanganmu dengan senang hati’ dan mengirimnya ke Aiyub.

***

Sekarang aku berada di atas sebuah bukit di antara batang-batang jagung yang sedang berbunga. Bakal buahnya sudah mengintip di ketiak daun. Sejauh mata memandang yang tampak adalah jejeran hijau dengan puncak berbunga putih kekuningan dari batang jagung. Tempat yang indah untuk menghabiskan sore. Aku menghirup udara segar untuk mengisi paru-paruku. Kebohonganku pada Abrar beberapa jam lalu sedikit terlupakan. Aku menolak ajakannya untuk keluar malam ini dengan beralasan ingin menyelesaikan tugas Mapel Elektromagnetik. Abrar percaya saja dan tak memaksa. Saat Aiyub datang menjemput tadi, gelombang rasa bersalah sempat menghantamku karena telah mendustai Abrar untuk pertama kalinya selama kami pacaran.

Tapi sekarang, berada di atas bukit di antara hijau jagung dengan Aiyub yang berdiri di sampingku sedikit banyak sanggup membuatku lupa akan dosaku pada Abrar.

“Kamu suka di sini Sid?” Tanya Aiyub sangat dekat di telingaku. Begitu dekat hingga aku dapat merasakan hembus hangat udara yang keluar dari hidungnya.

Aku mengangguk. “Ini indah sekali Ayi…” Desisku.

Dia tersenyum, “Hanya batang jagung saja.”

“Aku ingin berkeliling, bolehkah?” Pintaku.

“Tentu saja. Aku akan jadi guide-mu menjelajah kebun jagung ini. Ayo!” Dia membuka telapak tangannya untukku. Senyum tersungging manis di bibirnya.

Agak ragu aku menempatkan tanganku dalam telapak tangannya. Dia langsung menggenggamku dan kemudian kami berjalan beriringan di antara banjar jagung yang tumbuh subur. Sesaat kenangan bersama Abrar di ladang kacang dahulu mengusikku.

“Sepertinya langit mendung ya?” Ucapku setelah kami berjalan jauh ke tengah.

“Tenang saja, gak bakal hujan kok.”

Tepat setelah Aiyub berkata demikian, guntur terdengar menggelegar. Anggapannya salah total.

“WAAA…!!! Mau hujan nih. Balik balik…!” Teriaknya sambil menarikku berlari menuju arah kami datang tadi.

Tapi hujan tak mau memberi kesempatan. Tak ada jalan lain, Aiyub membawaku masuk gubuk reot di tengah kebun jagung untuk berteduh. Aku menggigil kedinginan karena hujan sempat membuat lembab bajuku. Di sudut gubuk aku memeluk tubuhku sendiri. Aiyub berhenti dari mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah dan beralih menatapku. Perlahan dia bergerak mendekatiku. Matanya tak lepas dari menatap wajahku, membiusku untuk pasrah di bawah tatapan hangat penuh arti itu. Tanpa berkata dia mengulurkan tangannya di depanku.

Hatiku tergerak untuk meraih tangannya. Lalu Aiyub menarikku merapat padanya. Sekarang aku berada dalam pelukannya. Dia masih tidak bersuara. Dadanya masih berdetak normal, tidak sepertiku yang sudah berkecamuk menggenderang.

“Ayi…” Bisikku.

Dia tidak merespon. Sebaliknya mulai mendaratkan bibirnya di keningku. Perlahan terus turun hingga ke bibir. Ya tuhan, ini sungguh terjadi. Ternyata rasanya seperti ini. Abrar, jangan salahkan aku, sudah begitu lama aku mendamba hal sebegini darimu, namun tak kunjung kudapatkan. Jangan salahkan aku bila ini terjadi.

Aku membalas ciuman Aiyub. Membalas secara amatir. Tapi dia terlalu ganas. Sekarang sudah mengangkatku di depannya. Bibir dan lidahnya terus bergerak di wajah dan leherku. Aku menarik-narik ujung kaus yang dia pakai. Aiyub seakan paham. Menurunkanku dari gendongannya dan menarik lepas bajunya sendiri. Lalu dia kembali merangkulku, kembali melumat bibirku. Aiyub sukses memiliki ciuman pertamaku, mungkin sesaat lagi dia juga akan sukses merasakan hisapan dan jilatan pertamaku. Aku semakin erat merangkul tubuh hangat Aiyub, menyusurkan jemariku di punggungnya sementara dia sibuk di leherku. Aku menggigit kecil bahunya, dia menggerakkan pinggulnya menekan sesuatu di antara pahaku. Lalu pengganggu itu bersuara nyaring. Hape Aiyub berdering. Kami sontak berhenti, baru sama-sama menyadari kalau hujan juga sudah berhenti di luar sana meski cuaca masih terlihat gelap. Sekejap saja ternyata.

“Hape-ku.” Bisik Aiyub sambil merenggangkan dirinya dariku. Dia merogoh saku celananya.

Aku masih berdiri mematung, mencerna apa yang baru saja terjadi. Aiyub berbicara di hapenya. Sesaat kemudian menutup obrolan dan kembali memakai kaus yang tadi dicampakkannya.

“Mama…” Ujarnya. “Aku diminta pulang sekarang. Gak ada orang di rumah, mereka mau pergi acara di rumah relasi papa.”

Aku mengangguk saja.

“Tapi jika kamu mau ikut, aku gak keberatan membawamu ke rumah. Kamu bisa menginap. Besok minggu kan?”

“Aku balik asrama aja, Ayi. Kami tak diizinkan menginap selain di asrama kecuali dengan  izin tertulis dari pengurus.” Jawabku.

Dia menghela napas. “Kita akan ke asrama dulu, aku rasa Mama bisa menunggu beberapa saat lagi sampai kita mendapatkan surat izin itu.” Sepertinya Aiyub sangat ingin aku menginap.

Tapi aku menggeleng. “Lain kali aku akan mempersiapkan jauh hari sebelum menginap bersamamu.” Aku memberinya seulas senyum. “Malam ini aku di asrama saja.”

Aiyub tidak berkata lagi, menarik tanganku dan segera menuntunku keluar dari gubuk di tengah padang jagung. Jemariku dan jemarinya berpaut kuat, seakan saling memberitahu besarnya hasrat kepada satu sama lain. Ah, andai hape sialan itu tak berteriak, mungkin aku dan Aiyub sudah sampai entah kemana di dalam gubuk reot itu. Detil erotis tadi kembali membayang, membuatku meremas jemari Aiyub. Dia balas menggenggamku makin erat, seperti tak ingin dilepasnya lagi.

***

Malam ini aku gelisah di atas ranjangku. Sebagai efek luar biasa dari kejadian bersama Aiyub tadi, kini pikiranku berputar-putar pada statusku bersama Abrar. Aku mencari titik terang untuk hubungan kami yang hanya berupa ikatan saja. Tak ada apa-apa di dalamnya, kosong. Titik pusat cintaku sekarang telah berganti Aiyub. Aku yakin dia bisa menjadi pacar yang bukan hanya berstatus sekedar pacar. Dia bisa menjadi seorang pacar sesungguhnya dengan sentuhan sehebat yang dia berikan seperti di gubuk sore tadi. Kejadian itu adalah titik temu antara aku dan Aiyub, meskipun dia belum menyatakan cintanya padaku. Tapi aku yakin, dalam waktu dekat ini Aiyub akan bilang ‘Sid, maukah kau menjadi penjaga hatiku?’ Aiyub pasti akan memintaku menjadi pacarnya tak lama lagi.

Hapeku terus berdering menampilkan nama ‘My Sweet Banana’ di layarnya. Sengaja tidak kujawab. Aku sudah membuat keputusan, Abrar akan jadi masa lalu saja bagiku, segera. I am sorry My Banana, tapi aku butuh ‘banana’ yang sebenarnya mulai saat ini.

***

Aku masuk kamar dan menemukan Abrar sudah duduk di atas ranjangku. Hari ini dia yang melihatku berlilitkan handuk sebatas pinggang. Aku baru saja selesai mandi di pagi minggu yang cerah. Tidak kutemukan sosok Syuk di dalam kamar, padahal sebelum pergi ke kamar mandi tadi aku meninggalkannya sedang asik mengutak-atik laptop di ranjang. Abrar memandangku lekat, pandangannya jauh dari kesan marah. Sepertinya dia tidak mempersoalkan teleponnya yang kuabaikan semalam.

“Syuk baru saja dijemput kawannya, ada pertandingan volley katanya.” Ucap Abrar seakan untuk menjawab keingintahuanku tentang keberadaan kawan sekamarku.

Aku hanya bergumam O saja, lalu menutup pintu kamar dan menyimpan keranjang alat mandiku. Aku melangkah menuju lemari bermaksud memilih penutup aurat yang akan kukenakan hari ini.

“Ada yang salah, Peanut?” Tanya Abrar setelah aku membelakanginya dan membuka pintu lemari.

Aku menarik asal salah satu baju dari dalamnya, yang keluar adalah piyama katun bergambar Monokorobo di dada, piyama jaman SMP yang ikut dimasukkan ibu saat pertama aku masuk asrama. Shit.

“Aku meneleponmu tujuh puluh tujuh kali semalam…”

Aku berbalik dengan piyama memalukan itu masih di tanganku. “YA… AKU Tahu!!!” Seruku. “Dan angka itu pasti akan terus bertambah andai hape-ku tak kehabisan batre.”

“Mengapa kamu tak menjawabnya…” Abrar berdiri. Mata elangnya sekarang menatapku tajam.

Aku tak suka tatapannya itu. Tanganku bergerak dan pintu lemari pun sukses kubanting. “AKU BOSAN!!!” Teriakku. “Bosan tiap malam Minggu hanya mengobrol saja…”

Abrar menatapku seakan tak percaya. “Tidak tiap malam Minggu, Peanut. Kadang-kadang kita juga keluar jalan-jalan. Ingat?” Nadanya tetap calm down meski ketajaman pandangannya untukku belum berubah.

“Ya, tapi tetap hanya ngobrol saja.” Aku mencampakkan piyama jelek itu ke lantai. “Aku jenuh dengan hubungan kita yang begini-begini saja. Jawab aku, berapa kali kita pernah ciuman?”

“Aku sering mengecup dahimu…”

“Tidak sesering yang kuingat. Lalu bibir? Pernahkah kita?”

Abrar diam.

“Berapa kali kita pernah pelukan? Benar-benar pelukan, bukan sekedar rangkulan pinggang ketika hanya di atas motor! Berapa kali?”

Abrar membisu.

“Berapa kali kita pernah bercinta Brar? Meletakkan jariku di resletingmu saja tidak. Bahkan melihatmu telanjang dada pun aku tak pernah.” Semuanya kutumpahkan sekarang.

“Apa itu adalah alasanmu yang sebenarnya untuk mengeluarkan aku dari dalam hatimu?” Abrar masih tetap tenang. “Bukan karena sudah ada seseorang lain?”

Aku diam. Ingin sekali berkata YA untuk kedua pertanyaan itu. Tapi aku tak ingin dia terlalu terluka menerima kata putusku. Aku ingin berpisah dengan saling pengertian dengannya, pengertian bahwa hubungan kami bukan simbiosis yang ideal. Tidak bagiku.

“Aku pikir selama ini kamu tidak menginginkan itu… seks…” Abrar mendesiskan kata terakhir itu dengan suara cukup serak.

“Apa aku terlihat selugu itu di matamu hingga kamu menganggap seks adalah pikiran terakhir bagiku???”

Lalu tanpa kuduga Abrar menerjangku hingga aku mentok di lemari. “Andai kamu memintanya dari dulu, Peanut.” Desahnya di telingaku, kedua telapak tangannya betumpu di lemari. Memagariku tepat di depannya.

Aku tak bisa bersuara. Abrar tak memberiku kesempatan bersuara. Bibirku dilahapnya dengan ganas, bagai musafir yang menemukan oasis di tengah padang pasir yang membakar. Begitu hausnya bibir Abrar merengguk nikmat di bibirku. Ya tuhan, ciuman Abrar lebih jantan dari Aiyub, tangannya lebih menuntut dari tangan Aiyub saat di pondok reot itu. Aku lupa segalanya, lupa maksud hatiku untuk menutup lembar kisahku bersama Abrar. Kini aku berusaha sebisaku untuk mengimbangi keahlian Abrar yang tak pernah kuduga bakal seliar ini.

“Peanut, sudahkah kamu mengunci pintu?” Bisiknya di telingaku di sela gerakan badannya.

“Yahh, aku lupa poin penting itu…”

Abrar bergerak cepat ke pintu dan menguncinya, setelah itu berbalik menghadapku dengan seringai di wajahnya. Abrar mulai membuka kancing kemeja luarnya sendiri. Oh, dari dulu aku sangat ingin melakukan itu, seperti adegan percintaan di drama-drama romance Hollywood. Aku segera menghambur padanya. Abrar berhenti dari kancingnya dan  menangkapku. Lengan kokohnya langsung melingkari pinggulku yang masih berbalut handuk.

Aku berhasil membuka semua kancingnya. Abrar meloloskannya dari tangan, diikuti dengan menarik lepas kaus dalamnya sendiri lewat kepala lalu kembali memeluk dan mencumbuiku. Aku meremas dada bidangnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain bergerak memegang penisnya dari luar. Oh, dia begitu hidup. Aku menggesek-gesekkan dadaku di badannya yang mulai berkeringat.

“Euhh, Handuk ini sangat menggangguku.” Bisiknya sambil membetot lepas handuk dari pinggangku. Aku telanjang sudah.

Abrar menarikku lebih merapat. “Gimme that, Baby…” Racaunya di sela aksi mulutnya yang kian intens mendominasiku.

Aku bergelung di badannya, merangkul pinggang seksinya dengan kedua tungkaiku sambil membuat gerakan naik turun menggesek-gesekkan benda alot-ku di perutnya yang keras. Sebelah tanganku bertumpu di bahunya dan yang lain berganyut di leher. Ah, persis seperti mimpiku dulu. Segala hasrat yang telah berkarat lama dalam diriku kini menyeruak keluar. Menyerbu dengan begitu liar dan ganasnya. Aku tak henti meliuk dan bergerak sibuk di depannya kini. Abrar sangat maskulin sekali. Padahal dia sama sekali belum membuka celananya. Aku terus menciumnya masih sambil bergerak-gerak erotis. Abrar masih kuat menggendongku beberapa lama.

Puas begitu, dia mendekati ranjang dan menghempaskanku di sana. Dia sendiri berdiri memandang tubuh telanjangku sambil tersenyum seribu arti. “Aku bisa adiksi jika bercinta denganmu ternyata senyaman dan semenyenangkan ini…”

Aku hanya bisa balas tersenyum sambil menekuk salah satu kakiku dan tangan menopang kepala memandang Abrar. Di kaki ranjang, Abrar mulai membuka ikat pinggangnya lalu membuka pengait dan resleting celananya. Setelah itu dia menurunkan celana dan celana dalamnya sekaligus. Dia telanjang juga kini. Aku memandang takjub sesuatu di selangkangannya, lurus dan keras selain besar dan panjang juga. Betapa sempurnanya Makhluk Mars satu ini. Aku beruntung jadi kekasihnya.

Abrar naik keranjang dan menindihku. Dia yang sekarang ganti bergerak meliuk-liuk naik turun untuk saling menggesek di atasku, saling meraba, saling menggigit dan saling meremas. Dia sangat kuat, jantan dan keras. Ternyata dia sangat menguasai tehnik bercinta, Kamasutra harus mengaku kalah untuk ini. Abrar sangat ahli di ranjang, biarpun ini yang pertama kali untuknya. Tapi tubuh, terutama mulut dan tentu saja penis-nya seperti sudah terlatih. Dia benar-benar sukses membuatku tersedak saat mencoba merasakan batang wow itu dalam mulutku. Mulutnya ternyata jauh lebih hebat ketika membuatku mendesis-desis dan nyaris melolong seperti kuda liar ketika wajahnya berada di depan selangkanganku.

Aku dibuatnya mengerang di ranjangku sendiri. Berkali-kali aku beristirahat dengan mengulurkan tanganku menggenggam penis besar panjang dan kerasnya di bawah sana agar behenti bergerak maju mundur sementara aku mengambil napas. Abrar sangat pengertian, dia sukses membuatku amat sangat menyukai gaya bercintanya yang tak egois mementingkan organ reproduksinya sendiri.

Ranjangku tak karuan lagi. Centang prenang bagai baru dilanda puting beliung. Abrar masih belum berhenti. Setelah tadi mengambil jeda untuk saling bercumbu seluruh badan bahkan sempat mengulang saling mengulum. Kini aku kembali mengangkangi pinggulnya sementara kejantanannya menjalankan fungsinya dengan baik sekali. Aku meraih leher Abrar dan menekannya padaku. Kami berciuman lagi. Dia memelukku erat seakan ingin membenamkanku di dalamnya, sedangkan aku mencoba melengkungkan punggungku agar benar-benar rapat dengan badannya. Pinggul Abrar masih terus bergerak, menghentak keras dan semakin cepat hingga pada akhirnya dia melenguh tinggi.

“AARRRGGHH…”

Kurasakan kejantanan Abrar berdenyut dan menyemprot panas di dalamku. Lalu aku pun merasakan nikmat itu. Dada dan perut keras Abrar yang terus menggesekku sekarang basah dan lengket. Kami tersenyum lalu terkapar lemas di ranjang tak berbentuk lagi.

Seks is over.

Aku harus mandi lagi. Badanku lengket. Setelah memberinya kecupan bibir, aku turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Kuhabiskan 15 menit di sana untuk membasuh semuanya sambil mengingat kembali setiap detil indah dan panas yang baru saja kudapatkan bersama Abrar. Siap di sana aku kembali lagi ke kamar, dan petaka itupun datang…

Aku membuka pintu kamar dan mendapati Abrar sudah memakai celana serta kaus dalamnya. Hape-ku berada dalam tangannya. Firasatku langsung sakit.

“Bisa kamu jelaskan ini?” Dia melempar hape itu ke arahku yang masih mematung di pintu.

Aku berhasil menangkapnya sebelum benda melesat keluar melewati ambang pintu yang selanjutnya pasti akan menghantam dinding di belakangku. Segera kulihat layarnya, modus pesan pada kotak masuk.

‘Aku gak bisa melupakan bagaimana nyamannya kamu dalam pelukanku sore kemarin, Sid. Rasanya bagai memeluk hatiku sendiri. Andai hujan turun lebih awal lagi, mungkin aku akan bisa lebih lama lagi memelukmu di gubuk itu. Atau andai guruh terus membahana sehingga dering itu tak terdengar, mungkin aku akan jadi orang paling bahagia kemarin karena bisa merasakan lembut dirimu. Sid, sepertinya aku telah jatuh cinta lagi. Maukah kamu menjadi cupidku? Plis, terimalah cinta ini. Ahh, aku benar-benar pengecut. Seharusnya aku datang langsung dan mengetuk pintumu. Tidak dengan sms ini…’

Pesan panjang dari Aiyub. Rasanya aku baru saja dihantam palu godam. Kutatap Abrar. Tuhan, di sana dia mulai berair mata. Aku telah menghiris hatinya dengan begitu dalamnya, sayatan dalam dan berbisa. Di sana, keperihan jelas tergambar pada setiap senti sosoknya. Aku melangkah ingin menyentuhnya.

“Brar…” Panggilku.

Abrar bangun dari ranjang. “Trims, Peanut…” Dia mengambil kemejanya di lantai. “Kamu baru saja mengajarkan aku bagaimana rasanya sakit itu.” Bahkan ketika aku sudah mengkhianatinya, dia masih memanggilku dengan panggilan manis itu. “Damn, aku tak mengira rasanya bisa seperih ini…” Dia meninju dinding kamarku.

“Brar…” Aku mencoba menangkap tangan Abrar. Tapi dia sudah melewati pintuku dan berjalan cepat. Aku berteriak kembali memanggilnya.

Abrar berhenti melangkah lalu membalikkan badannya menghadapku. “Aku ingin kamu tahu satu hal, Peanut. Aku tak sedikitpun menyesal telah pernah menjadi Banana-mu lebih sembilan bulan ini. Karena aku mengerti apa itu cinta…” Matanya masih berkaca.

Aku benci diriku sendiri. Amat sangat benci. Air mata Abrar membuatku merasa menjadi orang paling jahat buatnya. Pernyataan yang baru saja dia katakan menegaskan bahwa aku sama sekali buta tentang apa itu cinta. Mengapa tiba-tiba seks tak penting lagi kini? Ternyata cinta jauh lebih berharga.

“Kuharap, aku yang terakhir terluka. Goodbye, Peanut…” Lalu dia melangkah meninggalkanku.

“Brar…” Aku ingin mengejarnya tapi handuk ini membatasi gerakku di luar kamar.

***

Aiyub melihatku menangis. Dia tiba setengah jam setelah Abrar pergi. Aku masih duduk di atas ranjang berantakan dengan piyama Monokorobo kesempitan itu di badanku. Aku tahu Aiyub tak salah dalam hal ini. Aku yang 100 % salah. Segalanya kututurkan pada Aiyub. Berkali-kali aku meminta maaf padanya, dan dia adalah orang baik. Aiyub mendengar semua keluh kesahku dengan sabar dan menerima maafku dengan jiwa kstaria-nya. Padaha aku telah mempermainkan hatinya.

Aiyub tersenyum meskipun getir ketika aku selesai bercerita. Dia mendekat dan menghapus air mataku dengan jarinya. “Berhentilah menangis. Aku yakin Abrar mau memafkan dosa kecilmu ini. Dia akan jadi orang paling bodoh bila tak memaafkan seorang kekasih sepertimu.”

Bagaimana Aiyub bisa memiliki jiwa sebesar ini? Maksudku, dia sangat pantas menganggapku rendah sebenarnya. Tapi dia tetap menganggapku baik dan mau membesarkan hatiku.

“Ah, seharusnya aku tak megirimmu sms itu…” Lanjutnya.

“Seharusnya aku tak memberimu kesempatan, Ayi… aku yang salah.”

“Waktu tak dapat diundur kan? Jadi jangan lihat lagi ke belakang. Yang harus kamu lakukan adalah merebut kembali cintamu.”

“Aku tak yakin bisa meraih hati Abrar lagi…” Ujarku putus asa.

“Heyy, kesalahanmu tak sebesar itu okey. Kamu hanya sedikit nakal.” Dia mengacak rambutku. “Apa perlu aku turun tangan menjelaskan padanya?”

“Tidak tidak… aku gak mau kamu kebawa-bawa. Biar aku sendiri yang menjelaskan pada Abrar.”

Aiyub tesenyum. “Itu baru Popcorn-ku…”

“Apa itu???”

“Hehehe… Popcorn. Sebenarnya aku ingin memanggilmu begitu bila kita jadi pacaran.”

“Ohh, sorry…” Ucapku lemah. “Aku mengacaukan segalanya.”

Aiyub tersenyum lagi. “So, bisakah aku dapat pelukan terakhir dari cowok cute yang nyaris jadi Popcorn-ku?” Dia melebarkan lengannya.

Aku terbahak, menonjok bahunya sebelum masuk dalam rangkulan lengannya. “Jadilah sahabatku…” Aku berbisik di dadanya.

“Pasti.” Balasnya.

***

Aku belum baikan dengan Abrar. Sama sekali tak punya kesempatan untuk bicara dengannya. Dia sengaja menghindariku dengan tidak masuk sekolah sudah 3 hari. Hapenya dipakai operator simcard-nya sekarang sehingga tiap aku dail yang bicara adalah cewek sok kecentilan itu selalu.

Mendadak hariku sepi. Di kelas aku lesu hingga membuat Aiyub susah dan berkali-kali meminta persetujuanku untuk langsung mencari dan berbicara dengan Abrar, tapi kutolak. Biarlah ini menjadi masalahku sendiri. Di asrama aku kebanyakan bengong dengan raut sedih hingga membuat Syuk mendadak berubah jadi Mr. Sok Perhatian dengan menanyakan ‘What’s your problem my boy?’ Tapi aku hanya bisa menangis di bahunya. Aneh, dia gak marah meski ujung kausnya kupakai untuk mengelap leleran ingusku. Syuk hanya bilang ‘Aku juga pernah gak dapat kiriman uang jajan sepertimu, dua bulan malah. Jadi aku ngerti kok kalau kamu bisa sesedih ini. Nanti aku kasih pinjaman tanpa bunga untukmu. Plis, jangan nangis lagi ya!’ Ciri khas Syuk, Si Perusuh Suasana.

***

Ini hari keempat aku tak melihat Abrar. Cukup sudah, aku tak sanggup menunggu lagi. Aku sangat merindukan dia. Aku akan memaksa bertemu untuk memperbaiki apa yang telah aku rusak. Aku harus mencoba, biar Abrar harus menendangku seperti menendang bola ke gawang, aku ikhlas. Jadilah aku bolos hari ini dan naik becak menuju rumah Abrar dengan seragam sekolah sekaligus. Aku bertekad harus bisa mendapatkan maafnya hari ini. Jika harus ketebus dengan muka babak belur sekalipun, aku mau asal dia kembali jadi banana-ku. Kalian tak tau bagaimana aku merindukan ‘pisang’ itu.

Aku disambut pembantunya di pintu gerbang. Tanpa banyak kesulitan aku segera diantarnya ke tempat Abrar sedang menyendiri, duduk di bangku panjang di bawah jejeran cemara rumah di kebun belakang. Posisinya membelakangi arah kemunculanku dengan Si Bibik.

“Sudah empat hari Den Brar begitu, jadi pendiam. Sebenarnya Bibik mau ngabarin Papa Mamanya yang sedang di Medan, tapi malah takut bikin Den Brar marah nantinya.” Bisik Si Bibik padaku.

Kami masih berdiri di pintu menuju kebun belakang, cukup jauh dari tempat Abrar duduk termenung.

“Coba Nak Sidharta ajak Den Brar bicara, mungkin dia mau cerita apa masalahnya. Nak Sidharta kan kawan rapatnya.” Si Bibik melanjutkan.

Masalahnya adalah diriku sendiri Bik, jawab hatiku.

“Bibik tinggal ke dalam dulu, mau nyuci sama masak.”

“Makasih ya Bik…”

“Iya Nak.” Si Bibik nyelonong kembali ke dalam.

Perlahan aku melangkah hati-hati mendekati tempat Abrar berada. Aku berhenti ketika jarak bersisa kira-kira 1 meter di belakangnya. Kukeluarkan secarik kertas yang sudah kusiapkan saat dalam becak tadi. Lalu…

“Ehemm..”

Abrar terlonjak dari duduknya dan langsung berbalik. Mulutnya menganga mendapati aku di belakangnya.

Ini saatnya. “Please forgive me, I know not what I do… Please forgive me, I can’t stop loving you… Don’t deny me, this pain I’m going through… Please forgive me, if I need you like I do… Please forgive me, I can’t stop loving you…”

 

Lagu Bryan Adams –Please Forgive Me– keluar ancur-ancuran dari mulutku. Padahal aku hanya mencatat reffrein-nya saja, itu pun tak lengkap. Suara jelekku sukses mengobrak-abrik nada yang seharusnya untuk lagu legendaries Bryan Adams. Aku menelan ludah setelah selesai merusak lagu itu. Bahu dan lenganku lemas di samping tubuh, menunggu respon dari Abrar yang masih shock membelalak melihatku muncul di depannya.

Setelah diam dan saling pandang cukup lama hingga kakiku pegal, Abrar buka mulut. “Ehem.. maaf Dik, jangan ngamen di sini…!”

Aku senang dengan responnya. “Aku akan terus ngamen sampai kamu mau maafin aku…” Lalu aku menarik napas siap-siap untuk konser tunggal lagi. “Please…”

Stop.” Abrar mengangkat tangannya. “Kamu bisa dibejek-bejek fans Bryan Adams jika nekad nyanyi lagi. Asal tau aja, tetangga sekelilingku tiap sore selalu berlomba mutarin lagu itu. Jangan sampai mereka keluar dan menyambitmu dengan sandal jepit karena dianggap menjual VCD bajakan…”

“Aku gak peduli…” Kembali aku siap-siap dan kemudian tarik suara lagi. “Please…”

“Dibilangin…” Abrar sukses membekap mulutku. Entah kapan dia bergerak melompati kursi. Aku tak sempat melihatnya. “Aku yang gak sanggup dengar. Nyanyimu parah banget, Peanut. Nyadar gak???”

Panggilan sayang itu, aku rindu mendengarnya. Abrar melepaskan bekapannya di mulutku. Kami kembali saling menatap lama. Jarakku dan dia hanya satu langkah saja lagi. Ingin rasanya aku segera memeluknya, tapi takut dia akan melakukan tendangan eksekusi di tulang keringku.

“Kamu bolos lagi?” Tanyanya kemudian.

“Heyy, ini kali pertama aku bolos.” Seruku tak terima dengan pernyataan ‘lagi’ dari pertanyaan Abrar. “Bolos pertamaku untuk mendapatkan maafmu.” Lanjutku. “Tolong maafkan aku yang tak tau diri ini Brar, kumohon… jadilah Banana-ku kembali.”

Aku menunggu respon darinya, tapi tak kunjung kudapat. “Brar, aku mengemis kesempatan kedua darimu. Kumohon dengan amat sangat, cintai aku lagi Brar.” Aku memelas dengan menyatukan telapak tanganku di depan wajahku.

Abrar menatapku lekat. “AKU GA BISA…”

“HAH???” Rasanya langit runtuh menimpaku. Aku melongo, ingin rasanya meraung menyesali diri dan kebodohanku. Mendadak tubuhku lemas, usahaku sia-sia. Kesalahanku tak termaafkan. Tak ada kesempatan kedua bagiku.

Abrar menatapku lama. Tatapan serius, seakan menegaskan bahwa dia tidak sedang bergurau. Aku semakin lunglai saja. Abrar tak akan bisa kumiliki lagi. Apa yang aku tunggu? Inilah masanya bagiku untuk berbalik dan mengatur langkah membawa penyesalan dan kebodohanku pergi menjauh darinya. Mataku mengerjap, tuhan… aku akan menangis sekarang.

“Brar…” Aku meratap menyebut lirih namanya. “Ka… kamu ga… gak bisa…?” Aku terbata.

“Ya…” Jawabnya. “Aku gak bisa hidup tanpa Peanut-ku lebih lama lagi…” Dia tersenyum memberiku lesung pipinya yang amat kurindukan. “Rindu ini hampir membunuhku. Padahal baru empat hari.” Dia langsung menarikku ke dadanya. “Berjanjilah gak akan pernah mengeluarkanku dari hatimu. Aku gak sanggup bila harus melepaskan cinta ini…”

Oh god. Sungguh, tak ada yang lebih mengembirakan selain memperoleh kesempatan kedua dari orang yang amat kita cintai –meski kita sadar itu setelah kita membuat suatu kebodohan. Aku merasakan teramat bahagia, teramat beruntung dan teramat dicintai. Abrar, dia kekasih sejatiku.

Kurangkul badannya begitu erat. Aku tak ingin lagi kehilangan dia, tidak dengan melakukan ketololan lagi. Aku mengangguk dalam dekapannya. Berjanji bahwa aku tidak akan pernah mengeluarkannya dari hatiku. Tak akan pernah. Mataku berkaca mendapati begitu besarnya cinta Abrar untukku.

“Aku akan jadi kekasih terbaik untukmu, Peanut. Tak akan kubiarkan seorang cowok pun lagi memikatmu. Aku akan jadi satu-satunya orang yang akan menjadi penjagamu, satu-satunya tempat kamu berlabuh. Hanya di pelukanku. Aku akan bersaing dengan siapapun itu. Tak akan kubiarkan siapapun berusaha merebutmu dari dekapku, andai Jake Gyllenhaal sekalipun lawanku.” Ucapnya lagi.

Aku semakin kuat memeluknya, membenamkan diriku sepenuhnya dalam dirinya. Cinta Abrar benar-benar sejati hanya untukku. Cukup satu kesalahan untuk membuatku belajar bahwa cinta sejati itu hanya sekali seumur hidup.

“Brar…” Panggilku.

“Hmmm.”

“Aku rindu ranjangku hari itu.” Aku mengecup lehernya.

Abrar tertawa. “Aku ragu kalau kamu hanya rindu ranjangmu saja…” Dia menurunkan telapak tangannya ke bokongku.

“Baiklah, aku rindu pisang yang hari itu cukup jantan membuatku harus mandi pagi hingga dua kali. Rindu juga cowok telanjang yang berhasil mengobrak-abrik ranjangku…”

“Apa aku sehebat itu di ranjang???” Abrar mencium kepalaku.

Aku mengangguk. “Lebih dari yang kamu sadari, My Sweet Banana.”

Lalu kami berciuman.

***

Sorry guys… aku tak sanggup menulis epilog lagi. Terlalu lelah dan terlalu lemas untuk sekedar memegang pena dan mencoret epilog buat kalian. Abrar baru saja menjungkirbalikan-ku di atas ranjangnya. Lagi. Dia sempurna. Andai aku tahu gaya bercintanya sehebat ini, sudah dari dulu aku berusaha lebih giat lagi untuk membuat dia menurunkan resleting dan menggerakkan pinggulnya untukku. Asshhh, dia benar-benar good in room, good in bed, and good in my AUOOGGHH… YESSS, I am coming…!!!

Masih di Januari 2012

From devil inside me

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com