Saya membaca novel ini sekitar 2 bulan yang lalu, ‘menemukannya’ diantara sekian banyak buku pas bazaar buku Gramedia, penerbit Mizan, kalo saya boleh tambahkan. Sebelumnya, saya kurang tertarik untuk membeli novel saat bazaar, tau sendiri, novel-novel itu pasti terbitan lama atau nggak menarik isinya, pendek kata afkiran gitu.. Saya lebih tertarik untuk beli majalah komik macem Nakayoshi, Hanalala dan sebangsanya.

Lalu apa yang membuat saya tertarik mengambil novel karya Khaled Hosseini ini? (dobel ini.. ^^), tentu saja karena tulisan ‘#1 New York Times Best Seller’ dan stamp Terjual di seluruh dunia +8juta kopi yang ada di covernya. Ambil aja deh, pikir saya waktu itu, toh harganya cuman 20ribu, huhuhu.. Belakangan saya berpikir, harga itu terlalu murah untuk novel ini, bahkan untuk harga bazaar, karena isi ceritanya sungguh luar biasa..

Amir dan Hassan adalah dua bocah Afghanistan yang dibesarkan di bawah satu atap rumah yang sama. Bedanya, Amir anak majikan, seorang Pashtun. Hassan anak pembantu, seorang Hazara (penduduk Afghanistan keturunan Mongoloid yang sering dianggap rendah). Tumbuh bersama membuat dua orang bocah itu akrab, seperti saudara, seperti sahabat, tapi tetap anak majikan dan pembantu. Amir menyayangi Hassan, tapi di sisi lain dia iri karena Baba, ayahnya, kadang terlihat lebih menyayangi Hassan. Amir kagum akan kecerdasan Hassan, tapi di sisi lain dia juga merendahkan Hassan dan suka membodohinya karena bocah itu buta huruf. Sebaliknya, Hassan menyayangi, menghormati, dan sangat loyal pada Amir. Dia akan melakukan apa saja demi Amir agha-nya.

Festival layang-layang adalah tradisi yang berlangsung setiap musim dingin di Kabul. Semua anak lelaki akan berjajar di sepanjang jalan, bertarung untuk saling memutuskan layang-layang lawan, dan berusaha bertahan untuk menjadi satu-satunya yang tetap melayang di langit hingga festival berakhir. Setiap kali ada layang-layang putus, para bocah lelaki itu akan berlari, berusaha untuk mendapatkan layang-layang yang hampir selalu berukuran besar itu untuk dibawa pulang. Merekalah para pengejar layang-layang, dan Hassan adalah yang terbaik.

Setiap tahun Hassan tak pernah gagal mendapatkan layang-layang putus yang diinginkan Amir. Begitupun tahun itu, tahun dimana Amir untuk pertama kalinya mendapat tatapan bangga dari Babanya karena berhasil memenangkan festival layang-layang. Tahun dimana Amir merasa dirinya pengecut besar karena tidak mampu melindungi Hassan yang dilecehkan Assef –seorang bocah jahat penggemar Hitler– saat saudara sesusuannya itu mempertahankan layang-layang putus yang dia inginkan. Sejak itu Amir menderita insomnia akibat perasaan bersalah yang tak berkesudahan. Bahkan setelah dia merekayasa kebohongan yang membuat Hassan dan ayahnya pergi dari rumah. Setelah dia dan Baba terpaksa pergi ke Amerika karena kondisi Afghanistan yang tak lagi kondusif akibat kedatangan Rusia. Setelah semua kehidupan susah yang dijalaninya bersama Baba karena keadaan yang jauh berbeda dengan di tanah air mereka. Setelah dia bertemu Soraya yang kemudian menjadi istrinya. Setelah dia berhasil menjadi penulis besar seperti cita-citanya. Setelah Baba meninggal.. Amir terus hidup selama belasan tahun dengan perasaan bersalahnya terhadap Hassan. Hingga suatu hari, Rahim Khan, sahabat Baba sekaligus orang yang mendorongnya bercita-cita sebagai penulis, meneleponnya, memintanya untuk pulang ke Afghanistan dan berkata, “There is a way to be good again..

Kepulangan Amir ke Afghanistan mengubah hidupnya. Mendengar Rahim Khan mengungkap rahasia besar yang selama ini tidak pernah terbayangkan. Menerima kenyataan tentang kematian Hassan yang dibunuh Taliban. Perjalanan menegangkan di daerah kekuasaan Taliban, dan akhirnya menemukan Sohrab, putra semata wayang Hassan…

Seminggu setelah membaca novel ini, saya ‘menemukan’ filmnya. Kemudian saya baru tau, ternyata novel yang saya beli ini adalah cetakan ke-sekian dengan cover yang sama persis seperti poster filmnya. The movie and the book, both are recommended, but I love the book more!! Kekeke.. Buat yang suka baca, silakan baca novelnya. Buat yang suka nonton, silakan nonton filmnya. Syukur-syukur kalo ada waktu, bisa dua-duanya..

Saya jamin, nggak akan nyesel. Beneran, buku ini luar biasa. Sudut pandang orang pertama-nya membuat kita ngerasa ngeliat semua kejadian di depan mata, ngerasa larut dengan semua emosi dalam cerita. Susah digambarkan dengan kalimat, saya berkali-kali mewek waktu membacanya, hehehe.. Bagaimana tokoh Amir ini menceritakan kisahnya sebagai seorang putra dari Babanya, sebagai seorang lelaki yang mencintai wanita ketika bertemu hingga menjalani pernikahan dengan Soraya, sebagai seorang sahabat dan saudara bagi Hassan, sebagai pribadi ayah ketika bertemu Sohrab, dan sebagai hamba yang sempat melupakan Tuhannya selama belasan tahun. AMAZING… Last, saya ngerasa beruntung bisa membaca buku ini, lebih beruntung karena bisa memilikinya dengan harga 20ribu, kekekeke..

For you, a thousand times over…